Posts Tagged ‘traveling’

dsc04022

Pagi di Pekanbaru berbeda dengan di Jakarta. Hiruk pikuk kendaran absen di Ibukota Provinsi Riau ini. Mungkin karena jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika kami memasuki kota itu setelah menempuh perjalanan 5 jam dari Kota Duri. Tetapi di waktu yang sama, di Jakarta, mobil dan motor sudah saling beradu, berebut jalanan.

Berada tidak jauh dari Masjid Agung Pekanbaru, di seberangnya lebih tepatnya, terpampang spanduk panjang bertuliskan ‘Onen’ dengan jejeran mobil di depannya. Saat itu baru sekitar pukul 07.00 pagi, namun warung yang menjajakan ketupat sayur ini sudah penuh dengan pengunjung. Pak Nova, supir kami yang berdarah Minang, mengantarkan kami ke salah satu kuliner favorit di Pekanbaru.
Memasuki bangunan yang berdinding kayu itu, aroma kari khas masakan Padang langsung tercium. Di sudut lain, beberapa orang wanita sibuk menyiapkan piring-piring pesanan yang sudah penuh dengan ketupat. Dalam satu dua gerakan, seorang wanita menyiramkan dua jenis kuah atau sayur ke atas irisan ketupat itu. Pertama, kuahnya berwarna kuning sedikit oranye dengan beberapa potong nangka dan kacang panjang. Inilah sayur gulai. Kedua, kuahnya kuning sedikit hijau, ciri khas dari sayur paku atau gulai paku. Warna hijau yang muncul berasal dari tanaman paku atau pakis.

Ketupat sayur dengan gulai nangka atau gulai pakis akan dilengkapi dengandsc04018
sebutir telur, kerupuk merah, dan keripik singkong pedas. Agar menambah tonjokan dari hidangan yang sering menjadi sarapan masyarakat Pekanbaru ini, dis
edikan sate kerang dan Sala lauak. Panganan yang disebutkan terakhir bentuknya sekilas seperti perkedel kecil. Akan tetapi, ada yang beda dari teman makan ketupat sayur itu. Dia dibuat dari singkong dan teri, sehingga ketika dimakan langsung atau dicampurkan ke dalam kuah sayur rasa gurihnya akan memberikan rasa laut yang tipis namun tetap terasa.

dsc04016

Sepiring ketupat sayur dengan gulai pakis mungkin biasa bagi sebagian orang. Namun, makanan yang dekat dengan rasa kari dan cubitan pedas pada setiap suapannya ini dapat menjadi petunjuk menjelaskan tentang Pekanbaru.

Daerah yang dahulu bernama “Senapelan” yang sejarahnya tidak lepas dari perdagangan yang jalurnya menggunakan Sungai Siak hingga ke Selat Malaka. Kawasan yang perkembangannya berbagi cerita dengan berdirinya Kerajaan Siak Sri Indra Pura ini memang sudah erat kaitannya dengan perdagangan dan pasar. Namanya berubah menjadi Pekanbaru diawali ketika salah satu garis keturunan Sultan Siak, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah berinisiatif membuat pekan atau pasar di Senapelan. Pekan tersebut kurang berkembang lalu digeser oleh anaknya Raja Muda Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah ke sekitar pelabuhan. Hasilnya pasar tersebut mulai berkembang dan pada tahun 1784 Sultan tersebut menetapkan bahwa daerah Senapelan menjadi Pekanbaru. Nama yang mungkin muncul dari istilah pasar atau pekan.

Sebagai sebuah kesultanan, rumpun melayu adalah yang menjadi mayoritas. Namun, dalam perkembangannya suku melayu ini jumlahnya semakin sedikit. Pekanbaru sebagai lokasi perdagangan menjadi pusat dari banyak etnis. Suku yang kemudian menjadi berkembang lebih banyak adalah mereka yang berasal dari Sumatera Barat. Masyarakat Minang kental dengan tradisi merantaunya. Tradisi yang banyak dilakukan oleh anak laki-laki inilah yang membuat orang-orang Minang berdiaspora di seluruh Indonesia. Karena lokasinya yang berdekatan, banyak orang Minang yang kemudian merantau ke Pekanbaru.

dsc04014

Hal ini tampak dari sepiring ketupat sayur gulai paku yang dihidangkan pagi itu. Khasanah rempah dan rasanya lebih condong pada keterampilan tangan orang Minang daripada mereka yang dari Melayu. Perbedaannya mungkin tidak banyak, akan tetapi kecapan rasa pedas dan hangat dari pilihan rempah yang dipakai pada gulai paku menunjukkan asal makanan tersebut.

Makanan sebagai sebuah identitas kultural mampu menunjukkan migrasi dari sebuah kelompok masyarakat. Biasanya mereka yang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan berusaha mempertahankan tradisi atau rasa yang sudah dikenal lidahnya. Banyaknya masakan Minang yang tersebar di Pekanbaru menunjukan bahwa entitas kelompok tersebut ada dan kuat. Data dari Bappeda Riau tahun 2008 menunjukkan bahwa populasi masyarakat Minangkabau di Pekanbaru mencapai 37% diatas etnis yang lain.

“You are what you eat” adalah istilah yang sangat umum untuk menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi penanda identitas pribadi atau kelompok. Perpindahan kelompok masyarakat yang disebabkan oleh banyak hal, salah satunya tradisi, akan melibatkan kuliner di dalamnya. Kumpulan memori yang tersimpan di sensor-sensor rasa di lidahlah yang membuat makanan khas tidak akan lepas dari seseorang. Rasa rindu terhadap satu jenis makanan tertentu adalah salah satu contoh bahwa bagian dari identitas kita bisa dibangkitkan melalui makanan.

dsc04020Pak Nova yang berdarah Minang ketika merekomendasikan ketupat sayur Onen ini bukan tanpa sengaja. Ikatan yang kuat dengan tradisinya yang kemudian ditunjukan dengan pilihan kuliner sudah membuktikan. Bahkan ketika kami menikmati gurihnya kuah kental dari ketupat sayur itu, pelanggan-pelanggan lain yang kita temui juga sebagian besar dari Sumatera Barat. “Disini tempat orang-orang Padang berkumpul,” kata Nova menjelaskan. (kim)

Advertisements