Posts Tagged ‘jogjakarta’

Social enterprise, terdengar seperti terminologi yang baru. Akan tetapi bagi masyarakat Inggris, sebuah usaha untuk ikut menyelesaikan permasalahan sosial atau lingkungan tersebut sudah ada sejak 1840. Ketika itu, di daerah Rochdale, Manchester, buruh membentuk koperasi untuk menjual makanan berkualitas namun terjangkau bagi buruh-buruh yang lain. Koperasi itu dibentuk sebagai respon terhadap pabrik yang cenderung eksploitatif.

Lalu, gerakan social enterprise ini kembali berkembang pada pertengahan tahun 1990-an. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya beragam institusi termasuk koperasi, usaha komunitas, pengelolaan donasi, dan bentuk bisnis sosial yang lain. Kemunculan itu ditujukan untuk menggunakan bisnis sebagai cara untuk membuat perubahan sosial. Bahkan untuk memberikan dampak yang lebih besar, pemerintah Inggris membentuk badan tersendiri yang khusus menangani bisnis-bisnis sosial tersebut. Social Enterprise UK memberikan pelatihan, sarana untuk berbagi informasi diantara bisnis sosial, konsultansi, dan beberapa hal lain guna mendorong pertumbuhan social enterprise.

Saat ini, di London, sudah muncul beberapa jenis bisnis sosial yang cukup ternama. Seperti Fifteen, restoran yang dibangun oleh Jamie Oliver, celebrity chef dari Inggris. Pada awal tahun 1990-an, koki tersohor itu merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu anak-anak muda pengangguran atau mereka yang putus sekolah untuk mendapatkan kesempatan membuat hidup mereka lebih baik. Dia percaya bahwa melalui kemampuan memasak, anak-anak muda ini bisa memiliki peluang untuk meraih masa depannya. Membutuhkan waktu 10 tahun untuk benar-benar bisa melihat upaya Jamie dan Fifteen memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak muda di Inggris.

Cara yang sama juga dilakukan oleh Hackney City Farm, sebuah perkebunan yang berada di sisi timur kota London. Mereka mempekerjakan manula, mantan narapidana, atau anak-anak muda bermasalah. Disana, orang-orang itu tidak hanya diajarkan berkebun atau memperkirakan musim tanam, tetapi bagi anak-anak yang seharusnya masih dalam umur sekolah, diajarkan juga beberapa pelajaran dasar seperti matematika, bahasa, dan pengetahuan umum. Melalui cara ini, mereka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa diterima kembali oleh masyarakat, sekaligus memiliki kemampuan untuk mandiri.

keramahtamahan pedagang angkringan melayani pelanggannya

keramahtamahan pedagang angkringan melayani pelanggannya

Berbicara tentang social enterprise sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke London, di Indonesia atau khususnya di Solo dan Jogja kita sudah bisa melihat bagaimana sebuah usaha mampu memberikan solusi terhadap permasalahan sosial. Bagi yang sudah berkunjung ke dua kota satu rumpun itu, pasti mengenal usaha kaki lima bernama angkringan (sebutan di wilayah Jogja), hik, atau wedangan (sebutan di wilayah Solo). Berdasarkan catatan sejarah yang masih ada, di Jogja, angkringan berawal dari perjuangan seorang bapak asal Klaten yang menjajakan makanan kecil, minuman, dengan cara dipikul sambil berkeliling. Pada perkembangannya, angkringan yang awalnya nomaden justru menjadi menetap. Salah satu spot angkringan yang cukup terkenal adalah di sekitaran Stasiun Tugu. Angkringan juga bisa ditemukan tersebar di banyak tempat di Jogja.

Di Solo, hik atau wedangan juga tersebar. Bahkan, kalau ingin menghitung, penyebarannya jauh lebih besar dari angkringan di Jogja. Hanya dalam jarak beberapa meter saja, kita sudah bisa menemukan hik atau wedangan lain. Makanan dan minuman yang dijajakan cenderung sama, sebut saja nasi kucing (nasi bungkus dalam porsi kecil), sate usus, sate ampela ati, sate bakso, sate telur puyuh, aneka sate yang lain, aneka gorengan, dan beragam minuman hangat atau dingin.

Hampir 80% makanan yang dijajakan berasal dari masyarakat sekitar

Hampir 80% makanan yang dijajakan berasal dari masyarakat sekitar

Lalu dimana letak bisnis sosialnya? jawabannya terletak pada makanan yang dijajakan. Angkringan, hik atau wedangan, dapat dikatakan sebagai sebuah usaha yang melakukan pemberdayaan masyarakat. Secara sosial usaha informal tersebut mencoba menjadi solusi bagi masyarakat sekitarnya untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Sudah sangat lazim bagi usaha macam angkringan, hik atau wedangan ini untuk menerima titipan-titipan makanan. Bahkan menurut pengakuan salah satu pedagang hik di kawasan Sriwedari, Kota Surakarta, 80% makanan yang dijajakan adalah titipan dari masyarakat sekitar.

Para pedagang angkringan menjadi semacam outlet serba ada yang menerima sate dari ibu A, gorengan dari ibu B, nasi teri dari ibu C, dan beragam makanan lain. Profit yang didapatkan juga dibagi secara adil tanpa memberatkan salah satu pihak. Karena hal inilah, keberadaan angkringan, hik atau wedangan masih ada hingga saat ini, masyarakat ikut mendukung eksistensinya karena mendapatkan manfaat darinya.

Belajar dari bisnis sosial tersebut, Dapoer Bistik Solo, sebuah restoran kecil yang menjajakan menu bistik di kawasan Jl. Kebangkitan Nasional No.62, Penumping, Solo, ikut mencoba mendorong usahanya agar lebih memberikan dampak secara sosial. Dapoer Bistik Solo mengajak anak-anak muda yang ingin belajar memasak atau membangun usaha restoran untuk belajar disini. Dengan tagline food for peace, Dapoer Bistik Solo ingin menjadikan makanan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah sosial yang akhirnya bisa menciptakan perdamaian.

Salam Food for Peace. 

Orang bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membuka kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Siapa sangka, dari pertemuan itu akan ada kisah menarik yang diceritakan. Seperti yang terjadi di malam itu.

Pada kunjungan keduanya, dua mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi ternama di Solo itu kembali berdiskusi soal kegiatan yang akan dilakukannya di akhir bulan. Menjelang akhir pembicaraan terungkap bahwa salah satunya adalah keturunan dari pedagang sate daging sapi di Lapangan Karang, Kotagede, Jogjakarta. Warga Jogja mengenalnya sebagai Sate Karang. Disebut Sate Karang karena lokasinya di Lapangan Karang, sebenarnya ada nama yang terbubuh di spanduk warung tenda sederhana itu. Tapi sayangnya, saya lupa.

Kenapa pertemuan tersebut menjadi spesial? karena Sate Karang adalah salah satu makanan penuh memori bagi saya dan hal menarik lainnya adalah penyajiannya yang unik tetap dipertahankan.

Masa SMA saya tidak jauh dari menu Sate Karang. Menu spesial yang bisa saya icipi setelah menabung beberapa saat. Wajar, ketika itu masih anak sekolah dan hanya bergantung pada uang jajan.

Dahulu, sekitar 15 tahun yang lalu, Lapangan Karang masih semarak. Pada saat matahari masih bersinar, lapangan tersebut tampak seperti lapangan pada umumnya, digunakan sebagai sarana olahraga oleh sekolah atau masyarakat setempat. Ketika matahari berganti bulan, tempat itu seakan disulap menjadi salah satu sentra kuliner di sudut daerah Kotagede. Deretan pecel lele, pedagang minuman hangat, serta Sate Karang tentunya. Bersama dua sahabat saya, kuliner Lapangan Karang sering menjadi saksi cerita-cerita kami soal gadis yang sedang ditaksir, masa depan, dan mimpi-mimpi kami yang lain.

Selepas SMA, Lapangan Karang menjadi semakin jarang saya kunjungi. Namun, memori itu masih tetap ada, hingga belasan tahun kemudian setelah merantau di Jakarta cukup lama, saya kembali kesana. Usulan sahabat saya yang lain untuk kembali ke tempat itu.

Ketika mobil sudah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, saya kemudian melihat sekeliling. “Lapangan Karang sudah berubah”, gumamku dalam hati. Entah karena hari itu hujan atau alasan lain, lokasi yang pada awalnya ramai dengan penjaja makanan, sudah berkurang cukup signifikan. Hanya tersisa pedagang Sate Karang yang masih konsisten melayani pelanggannya.

Konsisten, kata ini juga yang terbersit saat kami disuguhkan menu pesanan kami. Sate daging yang disajikan masih menggunakan cara yang sama sejak belasan tahun lalu, sejak terakhir saya mampir kesana. Daging sapi yang tampaknya telah diungkep dengan bumbu tertentu, kalau dugaan saya ada sedikit buah asam dan gula Jawa. Hasilnya, daging yang telah dibakar memberikan efek karamel yang khas dan rasa manis yang cukup dominan.

salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti 'cuko'

Salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti ‘cuko’

Sate yang telah dibakar matang disajikan dengan tiga cara, yaitu dengan bumbu kacang, bumbu kecap, dan bumbu kuah. Untuk yang terakhir inilah yang memberikan nuansa unik pada Sate Karang. Daging dilepaskan dari tusukannya, lalu kemudian disiram dengan kuah pedas manis yang hampir mirip dengan ‘cuko’ pada pempek. Kombinasi ini selain memberikan rasa yang berbeda, juga mampu mengembalikan memori saya ketika SMA. Rasa memang menurut saya adalah satu saklar memori yang efektif. Kita tumbuh dengan rasa yang melekat di lidah, ada beberapa jenis rasa yang kemudian mampu membangkitkan momen tertentu. Oleh karena itulah, orang bisa saja tumbuh besar di negara lain, tetapi pada satu titik mereka akan kangen dengan rasa dari negaranya.

Kembali ke Sate Karang. Keunikan tidak berhenti pada penyajian dagingnya. Karbohidrat yang menemani sate, sebut saja lontong, disajikan dengan sayur tempe yang berkuah santan. Sekilas tampak seperti opor atau ketupat sayur, akan tetapi dari sisi rasa justru lebih dekat pada opor. Sate berkuah seperti ini jarang kita temui. Hal itulah yang menjadikan Sate Karang tetap istimewa di hati.

lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor