Ketika sedang mencari-cari bahan untuk membuat proposal disertasi, diantara deretan informasi yang muncul ketika tempe diketik di mesin pencari google, muncul judul artikel ‘tempe bukan berasal dari Indonesia’ (seingat saya judulnya seperti ini). Kemudian pernah juga, teman dari seorang teman berkata bahwa tempe sebenarnya bukan berasal dari Indonesia.

Dua hal tersebut membuat saya bertanya-tanya sendiri, apa benar tempe bukan dari Indonesia. Kalau benar, kenapa kita tersinggung ketika ada negara lain yang mengaku bahwa tempe dari negaranya?

Demi mencari jawaban yang menurut akal sehat saya benar, saya kemudian berselancar ria menjelajah dunia internet dan berusaha membuka diskusi dengan beberapa orang tentang tempe ini. Dari pencarian itu, saya menemukan buku lawas berjudul History of Tempeh yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi (ini link bukuny : History of Tempeh). Saya juga bertemu dengan salah seorang pemerhati tempe yang ternyata adalah orang Inggris (seharusnya, orang Indonesia yang jadi ahli tempe ya hehehehe intermezzo).

Dari dua sumber tersebut itulah (plus sumber-sumber lain tentunya) saya kemudian yakin bahwa tempe adalah benar-benar makanan asli Indonesia. Jika ada yang mengatakan bahwa tempe berasal dari China atau Jepang, saya bisa mengatakan itu kurang tepat.

Kenapa?

Alasan pertama, sangat wajar jika kemudian orang mengasosiasikan tempe dengan China atau Jepang. Tradisi dua negara itu dalam mengolah kedelai bisa dikatakan jauh lebih lama dari Indonesia. Bahkan variasi pengolahan dan fermentasi tempe mereka sangat beragam. Seperti misalnya tahu, miso, natto, soy sauce dan banyak yang lain. Dari sejarahnya (mohon saya dikoreksi jika salah) saya bisa katakan, kedua negara inilah yang mengenalkan kedelai kepada masyarakat Indonesia berabad-abad yang lalu, ketika perdagangan internasional terjadi di masa-masa kerjaan. Saat itu banyak pedagang China atau bahkan Jepang yang datang ke wilayah Indonesia dan berdagang. Kedelai mungkin menjadi salah satu barang dagangan yang diperjualbelikan. Oleh karena itulah dalam buku History of Tempeh itu disebutkan bahwa ada masa kacang kedelai itu disebut Kacang Jepun (karena berasal dari Jepang).

Ketika bangsa China berdagang di Indonesia, tidak hanya kedelai saja yang diperdagangkan. Akan tetapi pada saat itu terjadi ‘transfer’ pengetahuan tentang teknik pengolahan kacang kedelai, termasuk teknik fermentasi kedelai. Pengetahuan tersebut kemudian diadaptasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan cara masyarakat Jawa, hingga akhirnya mereka menemukan tempe dengan mengambil ragi dari daun waru. Jadi menurut saya China atau Jepang merupakan negara yang mengenalkan teknik fermentasi kedelai, sedangkan produk tempe sendiri adalah asli Indonesia.

Alasan kedua, untuk menjelaskan alasan saya yang ini, tentunya mereka yang mengerti bioteknologi pangan dan para peneliti yang sebenarnya bisa memberikan penjelasan lebih detail. Namun, dari perspektif saya, tempe menjadi makanan asli Indonesia karena ragi atau jamur rizhopus yang mengikat rebusan kedelai hingga kemudian menjadi satu bagian utuh yang disebut tempe itu hanya bisa tumbuh di Indonesia. Rizhopus Oligosporus, nama lengkap fungi itu, hanya bisa aktif dan membentuk tempe pada suhu ideal 30 atau 31 derajat celcius. Suhu tersebut merupakan suhu tipikal Indonesia. Tempe bisa terbentuk secara alami di Indonesia tanpa harus menggunakan alat khusus. Rebusan kedelai yang sudah dibalur dengan fungi tersebut, dibiarkan saja dalam beberapa hari maka akan terbentuk tempe. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar saya bahwa tempe adalah makanan asli Indonesia, karena jika dikatakan tempe berasal dari China atau Jepang, dua negara tersebut bukan beriklim tropis yang tentunya sulit untuk bisa mendapatkan suhu ideal pembuatan tempe.

Dari pengalaman rekan pemerhati tempe dari Inggris yang saya temui, dia harus membuat alat inkubasi khusus yang memungkikan suhu tetap pada sekitar 30 sampai 31 derajat celcius untuk membuat tempe di Inggris. Perlu usaha lebih untuk membuat tempe di luar Indonesia. Meski memang faktanya sejak Belanda masih menjajah Indonesia, sudah muncul pabrik tempe disana, yang bahkan kemudian menginspirasi negara-negara Eropa yang lain untuk memproduksi tempe. Sampai saat ini masyarakat Indonesia di Inggris kebanyakan membeli tempe yang diimpor dari Belanda itu.

Nah, sampai saat ini dua alasan inilah yang menjadi dasar saya untuk mengatakan bahwa tempe adalah makanan ASLI Indonesia. Pendapat saya ini bisa benar bisa juga salah, tetapi paling tidak jika ada yang mengatakan tempe bukan dari Indonesia, dua hal inilah yang akan saya utarakan.

Jika menurut teman-teman pendapat saya salah, monggo kerso silahkan diluruskan. Terima kasih

Salam Tempe….

Respon yang paling sering muncul ketika saya mengatakan bahwa akan membuat disertasi tentang tempe adalah senyum manis atau tertawa kecil.

“Kenapa tempe?” tanya mereka selanjutnya. Nah tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan itu.

Kata ‘tempe’ bagi mereka mungkin menjadi hal yang menggelitik. Bukan hal yang salah memang, karena selama ini tempe menjadi menjadi makanan yang ‘taken for granted’ (maaf jika menggunakan istilah asing, karena menurut saya idiom inilah yang paling tepat).

Saya yakin sebagian besar masyarakat Indonesia tentu mengenal makanan yang satu ini. Makanan dari fermentasi kedelai ini bukan barang yang mahal (jika dibandingkan daging), dan bagi banyak orang, tempe harus selalu terhidang di meja makan. Warung-warung Tegal pun pasti menyediakan tempe disela-sela deretan lauk-lauk menggoda yang lain. Karena terlalu terbiasa masyarakat Indonesia dengan tempe (terutama yang berada di Pulau Jawa) mereka sepertinya melihat tempe menjadi sesuatu yang sudah biasa, sesuatu yang kecil, sesuatu yang remeh.

Masih segar diingatan saya, semasa SMA dulu, berada di bawah sengatan matahari, bersama 29 teman yang lain, berbaris rapi menunggu perintah dari komandan.

“Mental tempe!!!!,” teriak lantang kakak kelas kepada kami yang tampak sudah mulai kelelahan.

Ya, dulu saya tergabung di dalam pasukan baris berbaris sekolah. Bagi mereka yang masuk di ekstrakurikuler tersebut, saya rasa mereka familiar dengan bentakkan itu. Ketika dulu Soekarno masih memimpin Indonesia, Bapak Pendiri Bangsa itu juga pernah berkata “Jangan jadi negara tempe”. Nah, kesan apa yang muncul dari si tempe? Tempe dalam konteks ini menjadi makanan yang memiliki konotasi negatif. Yak, jika anda menebak sebagai makanan yang remeh, loyo, lembek, kurang membanggakan, kurang bernilai, dan konotasi negatif lainnya, anda mungkin saja benar.

Tapi bagi saya, tempe bukan hal yang kecil dan tidak berharga. Menurut saya tempe adalah bagian dari sejarah Indonesia dan menjadi bagian dari budaya Indonesia, terutama masyarakat Jawa tempat tempe mulai dikembangkan. Masyarakat Indonesia dan tempe sebenarnya memiliki romansa yang unik. Di satu sisi, mereka menganggap tempe sebagai hal yang remeh tetapi disisi lain mereka marah ketika bangsa lain mengaku-aku bahwa tempe berasal dari negaranya. Romansa inilah yang kemudian memberikan ide bagi saya untuk membuat disertasi tentang tempe yang sebenarnya mampu menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Saya selalu percaya bahwa hal kecil juga memiliki kemampuan untuk bisa mengungkap hal yang lebih besar. Seperti halnya tempe. Jika melihat Indonesia dengan kacamata tempe, kita akan bisa melihat secara panjang tentang bioteknologi tradisional yang sudah mengakar di masyarakat Jawa.

Dalam sebuah percakapan telepon dengan ibu di Jogja ketika saya mengungkapkan niat untuk membuat disertasi tentang tempe, beliau dengan semangat menceritakan bahwa fermentasi kedelai itu dulu dibuat sangat tradisional di kampungnya.

“Kacang kedelai bersihkan kulitnya, direbus, lalu sebagian diusap-usapkan ke punggung daun waru,” beliau mulai bercerita dengan suaranya yang selalu membuat kangen.

“Lalu kedelai yang ada di daun waru itu ditumpuk dan dibiarkan sehari. Keesokan harinya akan muncul benang-benang putih yang menjadi ragi untuk kedelai-kedelai yang lain,” lanjutnya.

“Ragi tersebut dicampurkan ke rebusan kedelai lain dan kemudian dibiarkan dalam jangka waktu tertentu, maka jadilah tempe,” ungkapnya dalam percakapan telepon tersebut. Inilah bioteknologi sederhana yang sudah diaplikasikan masyarakat Indonesia sejak dulu.

Tradisi membuat tempe ini sudah turun temurun sejak zaman Sultan Agung masih memerintah Kerajaan Mataram, yang saat ini salah satu daerahnya menjadi Jogjakarta. Menurut catatan sejarah, dalam Serat Centini, tempe memang sudah ada berabad-abad yang lalu di tanah Jawa. Mereka sudah mengenal dan memakan tempe sejak negara yang bernama Indonesia ini belum ada.

Abad demi abad berlalu, tempe masih tetap terhidang di meja makan atau warung-warung Tegal. Hal ini membuktikan bahwa tempe telah berkembang bersama dengan masyarakat Indonesia hingga saat ini. Makanan yang bisa diolah menjadi beragam masakan ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama yang berada di Pulau Jawa.

Mungkin beberapa dari teman-teman masih ingat tentang demonstrasi ribuan petani kedelai dan pengrajin tahu tempe di depan Istana Negara tahun 2008 silam. Ketika itu, tempe menghilang dari pasaran, yang saya alami ketika itu di Jakarta tidak ada tempe, karena pengrajin tempe mogok membuat tempe. Saat itu beberapa warga masyarakat sempat bertanya-tanya, mereka sangat tergantung pada tempe sebagai sumber protein yang murah.

Harga kedelai yang mahal membuat mereka tidak sanggup lagi membeli bahan baku tempe tersebut. Pemerintah Indonesia yang masih mengandalkan impor kedelai terjebak dengan kenaikan harga bea masuk kedelai yang berakibat pada kenaikan harga kedelai di pasaran.

Kondisi itu yang kemudian mendorong para petani kedelai dan pengrajin tahu tempe melakukan demonstrasi menuntut penurun harga kedelai atau tempe akan benar-benar hilang dari pasaran. Tidak disangka, pemerintah memberikan respon yang cepat dari teriakan ribuan demonstran tersebut. Pemerintah berusaha menstabilkan harga kedelai, selain itu mereka mencoba memberikan subsidi pembelian kedelai bagi pengrajin tahu tempe. Setahu saya, sepanjang masa reformasi hanya ada dua hal yang mendapatkan subsidi yaitu, BBM dan kedelai.

Harga kedelai masih tetap tinggi setelah demonstrasi, meskipun kadang stabil tapi cenderung merangkak naik. Para pengrajin tempe masih mencoba bertahan dengan subsidi dari pemerintah tersebut. Harga kedelai yang tinggi ini kemudian juga mempengaruhi harga tempe. Efeknya, warung-warung Tegal yang sebelumnya sangat royal ketika menyuguhkan tempe (tempe digoreng dengan irisan yang tebal dan besar), berubah menjadi irisan-irisan tipis. Itulah cara mereka bertahan demi tetap menyediakan tempe sebagai pilihan lauk di warung mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tempe memiliki ikatan yang kuat di masyarakat.

Selain cerita-cerita di atas, tempe sebenarnya juga bisa menjadi jalan untuk melihat lebih jauh tentang perpolitikan dagang kedelai di Indonesia. Menurut salah seorang pemerhati tempe yang saya temui di Inggris, kedelai lokal sebenarnya memiliki kualitas yang jauh lebih bagus dari kedelai impor. Namun, pertanyaannya sekarang, kenapa Indonesia selalu mengandalkan impor kedelai dari Amerika? Ada yang berkomentar bahwa kondisi iklim Indonesia tidak cocok untuk kedelai sehingga produksinya tidak akan pernah mencukupi konsumsi nasional. Tapi menurut sang pemerhati tempe itu, kedelai lokal bisa tumbuh subur dan kualitasnya tidak kalah. Lalu sebenarnya apa yang terjadi?

Konspirasi teori sempat muncul tentang bagaimana dulu ketika Indonesia sedang masa krisis ekonomi melakukan kesepakatan dengan IMF. Tentu masih ingat donk dengan lembaga keungan internasional ini, namanya sangat tenar pada akhir-akhir tahun 90an. Ketika itu, Amerika melihat Indonesia adalah pasar kedelai yang sangat potensial. Wajar saja karena hampir 70 persen kedelai diubah menjadi tempe dan tempe dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Lalu kesepakatan pun dibuat agar Indonesia selalu mengimpor tempe dari Amerika dan uang untuk rekonstrusi ekonomi pun dikucurkan. Konspirasi teori ini memang perlu dibuktikan, akan tetap dari hal ini kita bisa melihat bagaimana tempe bisa menceritakan hal-hal yang penting.

Oleh karena itu, pesan dari tulisan ini, marilah kita jangan meremehkan hal yang kecil. Karena siapa yang tahu ternyata hal kecil tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang besar, dan kita bisa belajar darinya.

Semoga saat ini tempe tidak mendapatkan konotasi negatif dan bisa menjadi makanan dunia seperti kimchi dari Korea, sushi dari Jepang, atau Baquette dari Perancis. Indonesia sudah ditunjuk sebagai negara yang menetapkan standardisasi untuk tempe secara internasional. Semoga hal ini bisa membawa perubahan.

Hidup tempe, semoga disertasi saya sukses…amin amin amin

Merindu Edinburgh

Posted: February 19, 2012 in Kim's Journey

pojokan cafe The Elephant House

Seolah menjadi sebuah kebiasaan, wanita itu selalu datang ke cafe yang sama dan memilih tempat duduk dengan posisi yang nyaris tidak pernah berubah. Dia selalu memilih meja yang terletak di sudut bagian belakang cafe, tepat disamping jendela besar dengan pemandangan Edinburgh Castle yang megah. Wanita pirang itu selalu tampak menatap istana sekaligus benteng yang telah menjadi saksi sejarah perkembangan kota Edinburgh tersebut.

Malam berganti siang, hari berganti hari, wanita itu selalu datang menghabiskan beberapa jam dari hidupnya untuk duduk di posisi yang sudah menjadi kesukaannya. Pengunjung lain tidak banyak yang memperhatikan sampai kemudian seri-seri awal Harry Potter menjadi best seller di seluruh dunia. Orang-orang kemudian mengenal wanita itu sebagai J.K Rowling, sang pengarang master piece kisah penyihir muda dengan luka di dahinya.

Saat ini, salah satu alasan begitu banyak wisatawan mengunjungi cafe The Elephant House di Jalan George IV Bridge nomor 21, Edinburgh itu adalah untuk mencoba menapak tilas sang pengarang ketika memulai awal-awal goresan kisah para penyihir Hogwarts. Bukti yang paling nyata dari begitu banyaknya penggemar yang mendedikasikan diri untuk datang ke cafe yang dibuka sejak tahun 1995 itu adalah mamento yang mereka tinggalkan di toilet. Tulisan tangan para penggemar yang menyatakan apresiasi dan komentar tentang J.K Rowling dan Harry Potternya tampak menghiasi dinding kuning gading cafe tersebut.

Ungkapan penggemar Harry Potter

Meskipun The Elephant House banyak menarik minat wisatawan untuk datang ke Edinburgh, tapi keindahan ibukota Scotlandia tersebut ternyata tidak berhenti pada cafe itu saja. Begitu banyak landmark lain yang bisa menggambarkan sejarah tua Edinburgh. Arthur seat, jalan Royal Mile, Holyrood Palace (Istana tempat peristirahatan Ratu Inggris jika berkunjung ke kota asal suaminya, Edinburgh), dan masih banyak lagi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Edinburgh adalah kota indah yang tidak cukup satu hari untuk menjelajahi sejarah dan keeleganannya.

Untuk mengunjungi Edinburgh dari London, transportasi yang paling cocok adalah kereta. Perjalanan selama 5 jam itu akan ditemani dengan pemandangan pantai timur dan alam pedesaan Inggris. Jika memesan tiket melalui http://www.thetrainline.com sejak jauh-jauh hari, tiket perjalanan pulang pergi London – Edinburgh bisa dibeli dengan harga sekitar £60 – £70. Kisaran harga yang tidak sedikit memang. Oleh karena itu, sebaiknya tentukan waktu-waktu yang tepat untuk datang ke Edinburgh. Disarankan untuk datang pada saat festival-festival besar diselenggarakan, seperti Hogmanny yang merupakan pesta tutup tahun di kota itu.

Setelah sampai di Edinburgh, jangan hanya terpesona pada keindahan dan keramahan kota Adam Smith itu. Tapi cobalah jelajahi sisi lain dari Scotlandia, yaitu wisata alamnya yang bakal mampu menguras file kamera. Mengunjungi Highland adalah alternatif terbaik untuk menikmati alam Scotlandia. Setidaknya, jika tidak ada salju di London, maka Highland merupakan tempat yang sesuai untuk merasakan pengalaman bermain es putih itu.

Highland, sesuai dengan namanya merupakan daerah-daerah dataran tinggi yang ada di sekeliling Scotlandia. Salah satunya adalah Fort Williams kota tempat gunung Ben Navis menjulang tinggi. Bagi mereka yang menyukai olahraga musim dingin, maka tempat itu cocok untuk masuk dalam buku referensi wisata alam yang patut dikunjungi. Untuk mencapai For Williams, dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan kereta dari Edinburgh, tiket on the spotnya sekitar £44. Tiket cenderung lebih murah jika dibeli jauh-jauh hari. Tapi, selain dengan kereta, bus sebenarnya jauh lebih disarankan. Karena rute yang diambil justru menawarkan pemandangan alam yang menawan. Tiket dari Glasgow ke Fort Williams bisa dibeli dengan harga sekitar £23 dengan waktu tempuh 3 sampai 4 jam. Tiket bus Edinburgh ke Glasgow hanya sekitar £7 dengan lama perjalanan sekitar 1 jam saja.

Jika sudah sampai di Fort Williams, jangan khawatir tentang penginapan. Sebagai kota yang sepertinya didedikasikan untuk para wisatawan yang hendak pergi ke gunung Ben Navis, ada banyak level penginapan yang dipilih. Level paling murah adalah hostel (hotel untuk para backpacker) dengan harga sekitar £15 sampai £20 per orang. Dalam satu kamar kita bisa berbagi dengan orang lain yang mungkin bisa menjadi teman-teman baru.

hamparan salju puncak Ben Navis

Selesai melepas lelah di hostel, saatnya untuk pergi menuju Ben Navis. Taksi yang banyak tersedia di sekitar pusat perbelanjaan di Fort Williams bisa disewa dengan harga £15 untuk mengantarkan menuju gunung tersebut. Waktu tempuhnya hanya 15 menit saja. Sesampainya di Ben Navis, kita bisa menikmati berbagai macam fasilitas yang disediakan, tentunya dengan harga-harga yang sudah ditetapkan. Mulai dari menyewa sepeda, alat ski, alat snowboarding, les singkat olahraga salju, atau menaiki gondola menuju puncak Ben Navis untuk menikmati hamparan salju yang luas. Tapi sebelum merencanakan untuk pergi ke Ben Navis, sangat disarankan untuk melihat ramalan cuaca. Karena jika angin terlalu kencang, maka gondola tidak akan beroperasi. Selebihnya, jika cuaca mendukung, maka nikmatilah segala daya tarik yang ada.

Cheers

Jakarta adalah kota serba ada. Hampir segala sesuatu yang dibutuhkan bisa didapatkan di ibukota Indonesia itu, mulai dari sesuatu yang legal hingga ilegal. Jika memang serba ada, mengapa harus menggunakan kata ‘hampir’? yak, memang ada yang kurang dari kota tempat bertemua berbagai etnik nusantara tersebut.

Di Jakarta, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berbau alam. Taman kota dapat dihitung jari, fungsinya pun tidak maksimal. Bukan sebagai paru-paru kota tapi sebagai ruang gratis untuk bermesum ria di malam hari. Rencana pemerintah DKI Jakarta untuk mengeruk sungai yang melintas di kawasan Manggarai dan Setiabudi, hanya tinggal buah bibir saja. Kapal-kapal yang tadinya digunakan untuk wisata sungai terpaksa harus diangkat dan dipindahkan karena kedalam sungai sudah tidak memadai lagi untuk perahu. Sungai-sungai menjadi dangkal karena tumpukan sampah yang mengendap di dasarnya. Perlu waktu bertahun-tahun dan kesabaran untuk mengeruk sungai itu dan memperbaiki mental masyarakatnya untuk tidak membuang sampah di sungai. Bahkan, saat kalian membaca tulisan ini, seseorang di sudut kota Jakarta sana sedangkan membuang sekantung plastik sampah keluarga mereka. Silahkan buktikan.

Tidak hanya sungai saja, tetapi Jakarta juga kekurangan ruang terbuka hijau. Tanah menjadi hal yang paling diincar dan diburu di Jakarta. Entah sudah berapa banyak konflik dan sengketa tentang tanah yang terjadi di Jakarta. Orang bisa kaya dengan memiliki tanah. Tetapi, hanya sedikit yang kemudian merelakan sepetak tanahnya untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang menjurus pada pembautan ruang terbuka hijau. Tanah bagi sebagian besar pengeruk untung di Jakarta justru berubah menjadi gedung-gedung megah, yang entah mereka masih memperhatikan perlunya ruang terbuka hijau atau tidak.

Hal yang berbeda dapat dilihat di Uxbridge, sebuah kota kecil di ujung sebelah barat kota London. Memang Jakarta dan Uxbridge tidak bisa dibandingkan secara langsung. Uxbridge sudah menjadi kota sejak berabad-abad yang lalu. Akan tetapi yang perlu di contoh adalah bagaimana pada zaman dahulu pemerintah kota tempat Brunel University itu mendesain kotanya.

Tempat mall dan pusat perbelanjaan di Uxbridge

Hampir seperti kota-kota kecil lain di Inggris, segala hal yang berhubungan dengan bisnis dan perbelanjaan dipusatkan di area-area tertentu. Tidak akan banyak ditemukan mall atau shoping centre yang bertebaran. Semua terpusat di High Street, sebuah jalanan tua yang sengaja di desain untuk tempat berdirinya 2 mall yang cukup besar di Uxbridge, The Chimes dan Pavillions. Selain itu berjejer pula toko-toko yang lain, serta Tesco dan Sainsbury yang bisa disamakan dengan Hypermart atau Carrefour di Indonesia. Hal yang sangat berbeda diterapkan di Jakarta, entah benar atau tidak tetapi sepertinya mall dan pusat perbelanjaan berdiri dan beroperasi sesuka hati. Dimana ada peluang pasar dan lahan maka mall pun berdiri. Akhirnya titik-titik kemacetan pun tidak terkendali, selain itu tingkat konsumerisme semakin tinggi. Kita bisa berbicara panjang tentang Jakarta dan tata kotanya, akan tetapi poin dari tulisan ini sebenarnya lebih mengarah pada konservasi alam yang masih dipertahankan Uxbridge, yang seharusnya di contoh oleh Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah Little Britain Lake, sebuah danau kecil yang sampai saat ini justru masih menjadi habitat dari beberapa jenis burung. Di sekitar danau itu mengalir kanal kecil yang digunakan kapal-kapal kecil untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Beberapa kapal juga tampak tertambat di pinggir kanal, berubah fungsi sebagai tempat tinggal dari sang pemilik.

Little Britain Lake, habitat para burung

Dari sisi keindangan sebenarnya tidak ada yang spesial dari danau ini. Akan tetapi konsistensi pemerintah kota Uxbridge yang mencoba tetap mempertahankan ruang-ruang alam untuk bisa seperti apa adanya dan tidak kemudian di eksploitasi hingga tetes terakhir untuk kepentingan ekonomi. Tidak dipungut biaya apapun untuk menikmati danau dan puluhan jenis burung yang wira-wiri disana. Disekitarnya dapat dilihat lahan-lahan hijau masih dibiarkan apa adanya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang sekali di dapatkan di Jakarta.

Angsa berenang bebas di Little Britain Lake

Kita mungkin bisa berdalih bahwa Jakarta juga punya hal yang serupa jika menyempatkan diri mengunjungi setu. Tapi tunggu dulu, berapa banyak burung yang menjadikan setu itu sebagai habitatnya? seberapa bersih pinggiran setu itu dari sampah-sampah bungkusan snack dan minuman ringan? Seberapa mudah akses untuk menuju ke setu itu? seberapa banyak tumbuhan yang masih hidup disekitaran setu itu? seberapa besar lahan hijau yang mengelilinginya?

Bukan ingin mengajukan pertanyaan yang menyudutkan, akan tetapi kita masih punya peluang untuk punya ruang terbuka hijau yang indah jika kita sebagai masyarakat ikut berpartisaspi untuk menjaganya.

Cheers

pic 1Internet is an evolution made by human. It plays important role to shape the interaction and communication among humans. Nowadays, Internet merges into our daily life activity. The evolution begins from a system which had been built for academic purpose in 1962 and after that internet evolved into a net that connecting every computer in the world. As Leiner et al (2011) state that ‘the Internet is at once a world-wide broadcasting capability, a mechanism for information dissemination, and a medium for collaboration and interaction between individuals and their computers without regard for geographic location’.

Today, human and internet no longer having distance, we always have internet connection in our pocket through our mobile phone. Due to the invention of web, the use of internet is become massive.  We have to distinguish between web and internet. ‘Web is not the same as internet. Think of the internet as the tracks and signalling, the infrastructure on which everything runs. In a railway network, different kinds of traffic run on the infrastructure — high-speed express trains, slow stopping trains, commuter trains, freight trains and (sometimes) specialist maintenance and repair trains. On the internet, web pages are only one of the many kinds of traffic that run on its virtual tracks’ (John Naughton, 2010).

Because of the birth of web 2.0, the latest type of web, social media are now mushrooming. Facebook, my spaces, twitter, you tube on the one hand is fun and entertaining, it also help people to keep in touch one and another. On the other hand, it has negative potential which need which need to be solved. Based on my interview with some friend, I found interesting case related to identity in social media. A friend told me that she had bad experience with social media, her account on Yahoo Messenger, Google Talk, Twitter, and Facebook had been hijack by someone. The hijacker used her account to chat with my friend’s colleges. The hijacker acted in digital world as if he/she was my friend. For my friend, the identity on digital life is important as if it is her real life identity. She afraid that what the hijacker did in her social media could ruin her image among her colleges.


Nowadays, in my perspective, the boundaries between digital life and real life is become blur. This two world is seems to become one world.  Based on the research of Facebook conducted by Zhao et al (2008), it is wrong to treat online world and offline world as separate world. What the people do in online world can give consequence on the actual world.  So according to that, do we need control or regulation towards digital life? Who will do that? What the parameters? Because in my other observation, social media especially facebook can become the source of harmful activity. For example, in Indonesia, there is news about groups of teenagers who fight each other after teasing each other in facebook.

Reference

Naughton, J. (2010) The internet: Everything you ever need to know. Available from: http://www.guardian.co.uk/technology/2010/jun/20/internet-everything-need-to-know (Accessed 28/12/2011)

Leiner, B. et al. (2011) Brief History of the Internet. Available from: http://www.internetsociety.org/internet/internet-51/history-internet/brief-history-internet (Accessed 28/12/2011)

Zhao, S. et al (2008) Identity construction on Facebook: Digital empowerment in anchored relationships. Computers in Human Behavior, 24, pp. 1816–1836.

Pic 1 can be found at http://cfcedge.exbdblogs.com/files/2011/06/internet.jpg

Video can be found at http://www.youtube.com/watch?v=-e98hxHZiTg&feature=related

Pic 1

Since our first group meeting, we were agreed to do research on twitter and it is my first contribution is to describe why twitter is important to be the subject of our research. Based on my research on internet, according to Akshay Java et al (2007), micro-blogging like Twitter is becomes faster mode of communication. ‘By encouraging shorter posts, it lowers users’ requirement of time and thought investment for content generation. This is also one of its main differentiating factors from blogging in general. The second important difference is the frequency of update. On average, a prolific bloger may update her blog once every few days; on the other hand a microblogger may post several updates in a single day’ (Java, A. et al, 2007).

Pic 2

Nowadays, millions of people are using Twitter as new way to share information, communicate, or doing business. In our research, Group 1 tries to focus the research on how celebrity and politician using twitter as responds to some natural disaster which occurred around the world. My second contribution is to give reason why celebrity and politician become our focus. According to Shaomei Wu et al (2011), celebrity uses Twitter to communicate directly to the fans which is become their followers on that micro-blogging website. The link of communication between celebrity and fans are no longer mediated by traditional mass media. The politicians also share the same situation. Through Twitter they can constantly communicate with their constituents and get the feedback directly. Celebrity or politician know that what they are doing can be the headline of newspaper, forming lifestyle or trend, and shaping the regulation of a government.

To conduct our research, we use world cloud as tools to generate the most often used word from our subject’s tweets. My contribution task is to categorize those words. I make table to distinguish the tweets from politician and the tweets from celebrity. From that table, on one hand, we found that politician tend to use supportive and realistic word towards the disaster. On the other hand, celebrity tends to use emotive words which only show their feeling about the disaster. Lastly, my fourth contribution is to search journals or books which can support our findings and arguments. In academic style writing, reference play important role as grounding for our research.

Apart from my contribution, this project group actually give an insight of how we should use the grace of internet to make our work easier. Through Wikispaces every group member can edit the result of our essay and keep it updated according to their specific contribution. Even though we still have to meet every week, but by doing that way (using Wikispaces) we actually reducing our time consumption. However, the challenge is there must be one person who in charge to compile and arrange all the data which being posted on Wikispaces.

Reference

Java, A. et al (2007) ‘Why We Twitter: Understanding Micro-blogging Usage and Communities’, Journal of Computer Mediated Communication, 3( 3).

Wu, S. et al (2011) Who Says What to Whom on Twitter, International World Wide Web Conference 2011, India: International World Wide Web Conference Committee (IW3C2)

Pic 1 can be found at http://www.w3mag.com/wp-content/uploads/2011/06/twitter-art.jpg

Pic 2 can be found at http://www.adrants.com/images/celebtwtiter.jpg

Post 2: Using the Blog

Posted: December 15, 2011 in Web Culture

image 1

As a journalist, writing is part of my job. I was working for Republika, one of Indonesian newspaper, for 4 years. I tackled various issues, start to criminal, politic, economy, until lifestyle. In 2008 my friend introduced me to WordPress blog. He said that a blog with articles in it can be used as portfolio. If someone is interested to some of my article, maybe he/she can over me a job. So come up with that idea, I made my blog, www.rosyidhakiim.wordpress.com.

For the first time, to make my blog looks active, I posted my articles which were published in the newspaper. Surprisingly, I got some feedback for some of my articles. I did not expect a feedback, because in my experiences, if you write on newspaper you do not know what the readers think about your article, but in the blog the readers can directly give their comment. In my blog, the most comment I got is from my health article. The readers sometime asked me more detail about the topic I had wrote or they asked for contact information of medical institution which can help their health problem. That interaction has been encouraging me to keep writing on my blog. ‘Blogging offers a way for individuals to publicly express their own opinions and to affiliate with like-minded individuals’ (Kaye, 2005: 90).

image 2

It has been 3 years for me to maintain my blog and I notice that actually we can post any content we want to our blog. ‘Blog content was equally diverse, ranging from journals of daily activities to serious commentaries on important issues. Blogging is an unusually versatile medium, employed for everything from spontaneous release of emotion to archivable support of group collaboration and community’ (Nardi et al, 2004: 46). So the content of the blog is depends on the users. It can show how the user point of view. As Kaye (2005) argues that the content of the blog is a combination between news, information and self-expression.

From Kaye point of view, I can say that being blogger is almost the same as being journalist. As a blogger we gather information and write it down on our post, so do the journalist. But I said ‘almost’ means that there are differences between those two activities. If one actual event are happened, as a journalist the information you gathered must be based on real fact, while as blogger, it over us freedom to construct our writing. We can be as rigid as journalist in term of journalism code of conduct or we can just write our opinion about the event without worrying whether it based on fact or not. Another issue is as journalist we have newspaper behind us, so when our writing are being published, we don’t have to worry, whether people read it or not, but as a blogger you need to attract people to read your blog post. It’s not an easy task, because in the internet world, people can easily change from one website to another. So as a blogger, it is important to think about the content of the blog post and the design of the web blog.
Reference

Kaye, B. (2005) It’s a Blog, Blog, Blog World: Users and Uses of Weblogs. Atlantic Journal of Communication, 13 (2), pp 73-95.

Nardi, B. et al (2004) Why we blog. Communication of the ACM, 47 (12).

Image 1 was retrieved from http://jasonrenshaw.typepad.com/.a/6a00d83452d45869e2015438246251970c-800wi

Image 2 was retrieved from in http://itc.blogs.com/photos/uncategorized/blogging_by_eddie.jpg