Archive for the ‘Uncategorized’ Category

dsc04022

Pagi di Pekanbaru berbeda dengan di Jakarta. Hiruk pikuk kendaran absen di Ibukota Provinsi Riau ini. Mungkin karena jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika kami memasuki kota itu setelah menempuh perjalanan 5 jam dari Kota Duri. Tetapi di waktu yang sama, di Jakarta, mobil dan motor sudah saling beradu, berebut jalanan.

Berada tidak jauh dari Masjid Agung Pekanbaru, di seberangnya lebih tepatnya, terpampang spanduk panjang bertuliskan ‘Onen’ dengan jejeran mobil di depannya. Saat itu baru sekitar pukul 07.00 pagi, namun warung yang menjajakan ketupat sayur ini sudah penuh dengan pengunjung. Pak Nova, supir kami yang berdarah Minang, mengantarkan kami ke salah satu kuliner favorit di Pekanbaru.
Memasuki bangunan yang berdinding kayu itu, aroma kari khas masakan Padang langsung tercium. Di sudut lain, beberapa orang wanita sibuk menyiapkan piring-piring pesanan yang sudah penuh dengan ketupat. Dalam satu dua gerakan, seorang wanita menyiramkan dua jenis kuah atau sayur ke atas irisan ketupat itu. Pertama, kuahnya berwarna kuning sedikit oranye dengan beberapa potong nangka dan kacang panjang. Inilah sayur gulai. Kedua, kuahnya kuning sedikit hijau, ciri khas dari sayur paku atau gulai paku. Warna hijau yang muncul berasal dari tanaman paku atau pakis.

Ketupat sayur dengan gulai nangka atau gulai pakis akan dilengkapi dengandsc04018
sebutir telur, kerupuk merah, dan keripik singkong pedas. Agar menambah tonjokan dari hidangan yang sering menjadi sarapan masyarakat Pekanbaru ini, dis
edikan sate kerang dan Sala lauak. Panganan yang disebutkan terakhir bentuknya sekilas seperti perkedel kecil. Akan tetapi, ada yang beda dari teman makan ketupat sayur itu. Dia dibuat dari singkong dan teri, sehingga ketika dimakan langsung atau dicampurkan ke dalam kuah sayur rasa gurihnya akan memberikan rasa laut yang tipis namun tetap terasa.

dsc04016

Sepiring ketupat sayur dengan gulai pakis mungkin biasa bagi sebagian orang. Namun, makanan yang dekat dengan rasa kari dan cubitan pedas pada setiap suapannya ini dapat menjadi petunjuk menjelaskan tentang Pekanbaru.

Daerah yang dahulu bernama “Senapelan” yang sejarahnya tidak lepas dari perdagangan yang jalurnya menggunakan Sungai Siak hingga ke Selat Malaka. Kawasan yang perkembangannya berbagi cerita dengan berdirinya Kerajaan Siak Sri Indra Pura ini memang sudah erat kaitannya dengan perdagangan dan pasar. Namanya berubah menjadi Pekanbaru diawali ketika salah satu garis keturunan Sultan Siak, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah berinisiatif membuat pekan atau pasar di Senapelan. Pekan tersebut kurang berkembang lalu digeser oleh anaknya Raja Muda Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah ke sekitar pelabuhan. Hasilnya pasar tersebut mulai berkembang dan pada tahun 1784 Sultan tersebut menetapkan bahwa daerah Senapelan menjadi Pekanbaru. Nama yang mungkin muncul dari istilah pasar atau pekan.

Sebagai sebuah kesultanan, rumpun melayu adalah yang menjadi mayoritas. Namun, dalam perkembangannya suku melayu ini jumlahnya semakin sedikit. Pekanbaru sebagai lokasi perdagangan menjadi pusat dari banyak etnis. Suku yang kemudian menjadi berkembang lebih banyak adalah mereka yang berasal dari Sumatera Barat. Masyarakat Minang kental dengan tradisi merantaunya. Tradisi yang banyak dilakukan oleh anak laki-laki inilah yang membuat orang-orang Minang berdiaspora di seluruh Indonesia. Karena lokasinya yang berdekatan, banyak orang Minang yang kemudian merantau ke Pekanbaru.

dsc04014

Hal ini tampak dari sepiring ketupat sayur gulai paku yang dihidangkan pagi itu. Khasanah rempah dan rasanya lebih condong pada keterampilan tangan orang Minang daripada mereka yang dari Melayu. Perbedaannya mungkin tidak banyak, akan tetapi kecapan rasa pedas dan hangat dari pilihan rempah yang dipakai pada gulai paku menunjukkan asal makanan tersebut.

Makanan sebagai sebuah identitas kultural mampu menunjukkan migrasi dari sebuah kelompok masyarakat. Biasanya mereka yang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan berusaha mempertahankan tradisi atau rasa yang sudah dikenal lidahnya. Banyaknya masakan Minang yang tersebar di Pekanbaru menunjukan bahwa entitas kelompok tersebut ada dan kuat. Data dari Bappeda Riau tahun 2008 menunjukkan bahwa populasi masyarakat Minangkabau di Pekanbaru mencapai 37% diatas etnis yang lain.

“You are what you eat” adalah istilah yang sangat umum untuk menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi penanda identitas pribadi atau kelompok. Perpindahan kelompok masyarakat yang disebabkan oleh banyak hal, salah satunya tradisi, akan melibatkan kuliner di dalamnya. Kumpulan memori yang tersimpan di sensor-sensor rasa di lidahlah yang membuat makanan khas tidak akan lepas dari seseorang. Rasa rindu terhadap satu jenis makanan tertentu adalah salah satu contoh bahwa bagian dari identitas kita bisa dibangkitkan melalui makanan.

dsc04020Pak Nova yang berdarah Minang ketika merekomendasikan ketupat sayur Onen ini bukan tanpa sengaja. Ikatan yang kuat dengan tradisinya yang kemudian ditunjukan dengan pilihan kuliner sudah membuktikan. Bahkan ketika kami menikmati gurihnya kuah kental dari ketupat sayur itu, pelanggan-pelanggan lain yang kita temui juga sebagian besar dari Sumatera Barat. “Disini tempat orang-orang Padang berkumpul,” kata Nova menjelaskan. (kim)

Nasib Tempe di Negeri Tempe

Posted: October 29, 2014 in Uncategorized

Terbit di Koran Seputar Indonesia (SINDO), 11 September 2013

tempe

Untuk ke sekian kalinya, nasib pengusaha tempe berada di ujung tanduk. Kebangkrutan. Sejak impor besarbesaran kedelai sebagai bahan baku tempe, kabar kebangkrutan ini seolah menjadi trauma tersendiri bagi para pengusaha tempe.

Tahun 2008 silam, ratusan bahkan ribuan pengusaha tempe melakukan demonstrasi di depan Istana Negara. Hasil dari aksi tersebut dikeluarkannya skema subsidi kedelai. Langkah ini bagaikan angin segar dari Pemerintah yang berpihak kepada pengusaha tempe. Empat tahun kemudian (tahun 2012), harga kedelai impor kembali mengalami kenaikan. Para pengusaha tempe kembali mengancam menggeruduk Istana. Nasib serupa terulang lagi di tahun ini. Lemahnya nilai rupiah terhadap dolar, tentunya membuat para pengusaha tempe ketarketir.

Harga dolar beranjak naik, bahkan sempat menembus angka Rp11.000 untuk USD1, berimbas melonjaknya harga kedelai. Miris rasanya berulang kali mengetahui tempe terombang-ambing oleh kondisi ekonomi negara kita. Kebangkrutan para pengusaha tempe tentunya akan mengakibatkan hilangnya produk olahan kedelai di pasaran. Padahal sejak negara ini belum bernama Indonesia, tempe sudah menjadi menu masyarakat sehari-hari, setidaknya di Pulau Jawa. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harusnya berani bersikap. Menggunakan skema subsidi untuk membantu menurunkan harga kedelai impor, rasanya menjadi balsam saja.

Terlihat efektif pada mulanya, namun hilang efeknya pada jangka panjang. Kebergantungan Indonesia terhadap impor kedelai harus dikurangi agar gejolak harga tempe tidak terkait dengan kondisi ekonomi. Selain itu, pemerintah harus mulai mengembangkan kemampuan produksi kedelai lokal. Potensinya sudah ada di depan mata, namun perlu keberanian dari pemerintah untuk melakukannya. Mungkin rasanya aneh jika pemerintah harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah tempe ini.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa panganan fermentasi kedelai ini memiliki peranan penting dalam konteks sosial masyarakat Indonesia. Tempe bisa dikatakan sebagai produk asli Indonesia dan secara tidak langsung menjadi salah satu identitas bagi Indonesia. Mengapa tempe harus tetap ada di pasaran? Pertama, tempe sudah ada sejak zaman pemerintahan Sultan Agung, sang penguasa Kerajaan Mataram, hal ini dibuktikan dengan munculnya kata tempe pada Serat Centini.

Seperti yang diungkapkan dalam buku History of Tempeh yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, tradisi membuat tempe di Indonesia sudah ada sejak abad ke-16 di Pulau Jawa. Jadi tidak mengherankan jika tempe menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Tempe merupakan salah satu bukti kecanggihan bioteknologi yang ditunjukkan oleh orangorang Jawa di masa lalu. Dahulu untuk mendapatkan jamur pengikat tempe, mereka menggunakan punggung daun waru.

Kedelai-kedelai yang telah dibersihkan dan direbus diletakkan di punggung daun waru untuk beberapa lama hingga kedelai-kedelai tersebut saling terikat. Jamur-jamur pengikat yang serupa kapas tersebut kemudian diambil dan digunakan pada kedelai dengan kuantitas yang lebih banyak. Kedua, tempe menjadi sangat Indonesia karena ragi atau jamur Rizhopus oligosporus hanya bisa aktif mengikat kedelai-kedelai menjadi tempe pada suhu sekitar 30 sampai 31 derajat Celsius. Suhu tersebut adalah suhu normal di Indonesia.

Negara lain seperti Jepang dan China (sering dianggap sebagai tempat asal-muasal tempe) akan sulit untuk mencapai suhu tersebut. Di tempat lain, diperlukan inkubator khusus untuk membuat tempe. Sedangkan di Indonesia, tempe bisa dibuat secara alami. Wajar jika China dan Jepang sering diasumsikan sebagai negara asal tempe, karena di dua negara itulah tradisi pengolahan kedelai sangat kental, seperti tahu, miso, dan kecap.

Akan tetapi, tempe sebagai sebuah produk adalah asli Indonesia yang berasal dari local wisdom masyarakat Jawa. Ketiga, seperti diungkapkan oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, tempe sudah menarik perhatian dunia sejak Belanda menguasai tanah Nusantara. Ketika itu, peneliti dari Belanda datang ke Indonesia untuk meneliti tentang tempe. Karena pada masa itu banyak orang Indonesia pergi dan menetap di Belanda, dibangunlah pabrik tempe pertama di sana.

Dari pabrik itulah, tempe kemudian menjadi dikenal di Eropa dengan nama tempeh (mereka menambahkan ‘h’ agar tetap terbaca tempe). Di Inggris sempat dibangun pabrik tempe pada 1970-an, begitu pula di Jerman dan di beberapa wilayah lain. Selanjutnya pada masa kekuasaan Jepang di Indonesia, ketertarikan terhadap tempe justru semakin terbangun.

Selain Jepang, di Amerika tempe justru mendapatkan tempat di antara makanan sehat yang lain. Keempat, bagi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, tempe masih menjadi bahan makanan yang dicari. Di London, salah satu warung penjual penganan Indonesia mengaku menjual ratusan tempe setiap minggunya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kangen terhadap tempe akan terus ada. Bagi mereka, tempe bisa menjadi cara untuk mengingat kampung halaman atau mengingat kembali akar tempat mereka berasal.

Secara tidak sadar, rasa tempe yang khas bisa menjadi penanda identitas bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. Memori mereka terhadap tempe justru mampu mempertahankan rasa nasionalisme mereka, meskipun berada ribuan kilometer dari Nusantara. Selain melalui simbol-simbol negara, identitas juga bisa didapatkan dari ingatan dan memori terhadap kampung halaman, terhadap tempat seseorang berasal. Tempe bisa menjadi penanda identitas melalui rasa yang terbentuk di lidah masyarakat Indonesia.

Mereka boleh saja menetap di belahan dunia yang berbeda dan menikmati hidangan lokal negara setempat, akan tetapi rasa yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu akan tetap ada. Jika rasa itu kembali dikenali oleh lidah, hal tersebut akan mampu memunculkan kembali memori tentang tempat dia berasal. Bagi sebagian besar orang yang berada di luar negeri tempe goreng yang sangat sederhana dengan bumbu bawang putih, merica, dan garam justru mampu mengingatkan masa kecil mereka di Indonesia.

Melihat empat fakta tersebut akankah kita rela jika tempe harus hilang dari pasaran karena harga kedelai yang selangit? Sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk kembali melihat produksi kedelai lokal. Sejarah sudah membuktikan bahwa kita mampu membuat tempe dengan kedelai lokal yang dikembangkan oleh masyarakat.

Selain upaya dari pemerintah, sebagai konsumen harus mulai mengapresiasi dan membeli tempe berasal dari kedelai lokal agar industri ini dapat berkembang dan mandiri. ●

Rosyid Nurul Hakiim  ;    Penerima Beasiswa Chevening 2011-2012 dengan Tesis: Tempe dan Identitas Nasional Indonesia Jurusan Media and Communication, Brunel University, London, Inggris

Published on Jakarta Globe 16 October 2014

IMG_6249

Do we really concern ourselves with how the rice has ended up on our plate and how it began the journey?  Food is not just to satisfy our hunger, it is also a window to consider the situation of food availability and the condition of Indonesian family farmers.

The celebration of World Food Day today is our reminder to give our attention to the farmer. This group plays a significant role in supporting our daily needs.

However, data from the Central Bureau of Statistic (BPS) shows that the numbers of family farmers in Indonesia is decreasing significantly over the past decade. The country lost more than five million family farmers. Since 2003 the number of family farmers has dropped to only 26.13 million. One of the major factors of farmers leaving the industry is reduced return on their labor.

The agricultural census held by BPS in 2013 found that the average family farmer earns only around Rp 1 million ($80) per month. Their earning is not worth to the risk they bear. There is no support provided for any loss of crop due to pests or extreme weather conditions.

Prof. Dr. Dwi Andreas Santoso from the Bogor Agricultural Institute (IPB) has previously said that more than 50 percent of the 28.55 million poor in Indonesia are family farmers.

Families often lose access to land as it is rare for them to own it. Almost 50 percent of farmers in Java do not have land and rent instead.

The agriculture sector is seen as less lucrative than in the past and struggles to replace farmers exiting the workforce.

The future of the industry becomes a concern when considering the projected growth in Indonesia’s population. The BPS suggests the population will grow up to 273 million in 2025.

Fasli Jalal, chairperson of the National Population and Family Planning Board (BKKBN) says 10,000 babies are born each day in Indonesia, which presents serious questions about food security.

It is a tough job ahead to regain the pride of being a farmer, but it’s necessary to increase the amount of family farmers to help food supply to the country.

This is our call to give the group genuine appreciation.

The United Nations Food and Agriculture Organization (FAO) on World Food Day has chosen the theme Family Farming: “Feeding the World, Caring for the Earth.” The organization invites all elements of society to take serious care of family farmers.

The vulnerable group work hard to contribute to the food supply of the world, yet they are hungry themselves. The FAO noted that over 70 percent of people in rural areas of Asia. Latin America, Africa, and the near East, many of which are family farmers, are still insecure in terms of food.

Therefore, it is our job to support the needs of family farmers. Community development is important to secure their productivity and to transfer simple technology to support their cultivation.

Through that strategy, we hope that it will increase their earnings or at least show them that they are not alone.

For example the Indonesian Biodiversity Foundation (Kehati), in Semau, East Nusa Tenggara, in cooperation with other institutions, taught family farmers the drip irrigation technique.

The farmers had good spirits and keep trying to cultivate even though they are living in very dry area. The community development through learning dripping irrigation technique helped them increase their productivity.

Another example is in Yogyakarta. Kehati encouraged local farmers to again begin cultivating their food source, which is similar to tuber plants.

The foundation developed the program by giving them the capability to add value to their agriculture product through methods such as processing to produce tuber chips or in the packaging aspect.

Through this community development work, it gave the farmer opportunity to earn more.

Rosyid Nurul Hakiim is a communication officer at KEHATI

Published in Jakarta Globe, October 2, 2014

DSC_7094

Before dawn last Friday, Indonesia experienced an incredible shock. The House of Representatives decided to pass a bill abolishing the direct elections of governors, district heads and mayors, and giving local legislatures the power to appoint regional leaders.

The move ignited popular unrest, with citizens taking to Twitter, Facebook and even the streets to demand a judicial review of the bill by the Constitutional Court. Many other reactions responded to the reality that the people has lost their right to vote.

Then a second blow came on Wednesday, when the Constitutional Court rejected a judicial review of the law on legislative bodies, known as the MD3 law, submitted by Indonesian Democratic Party of Struggle, or PDI-P. That means the PDI-P’s attempt to secure the House speaker’s seat remains shaky, because according to the decision of the court the next leader of the House will be elected by legislators, and not appointed by the party that won the most votes at the legislative election, as was the practice previously. This new condition will favor the opposition, which dominates the new House and has the chance to secure the seat.

From that recent development, it shows that politics is purely for the interests of certain group. These developments will tend to jeopardize the incoming administration of President-elect Joko Widodo, nominated by the PDI-P. The maneuvering by the opposition shows clearly that they will go head-to-head against the new president and his party, and that they have enough power to counter all government policies.

However, even though the opposition and the next government will be at loggerheads, thereby stalling the passage of key policies, it is important for the new House, as the legislative branch, and the new government, as the executive branch, to have common ground on the issue of biodiversity conservation. They have to make peace on that issue and walk side by side to support policies for biodiversity conservation and use, because at stake is the country and its people. Any mistakes in passing legislation or regulations will directly affect the people.

We have to realize that biodiversity is very important to human life. The loss of any bit of biodiversity will disrupt the balance of life on Earth.

Endang Sukara, a professor at the Indonesian Institute of Sciences, or LIPI, has noted that 70 million years ago the rate of species extinction was just one every 1,000 years; from 1600 to 1900 it was one every four years; from 1900 to 1980 we lost one species every year; and after the year 2000 the world was losing an entire species every day.

The United Nations Environment Program has similarly estimated that species are disappearing at 50 times the natural rate. Some 34,000 plant and 5,200 animal species currently face extinction.

Facing these disturbing numbers, Indonesia, as a country with immense biodiversity, should take action to prevent biodiversity loss. Moreover, Indonesia will enter the Asean Economic Community next year, with its attendant increase in demand on natural resources, so biodiversity management it will require extra caution.

We have a lot of potential in that aspect, but the wrong strategy will benefit other countries. Therefore, political will and action from the government and the House are urgent. Judicious policies regarding biodiversity preservation and use will lead to our nation prospering. The legislative and executive should get along well to produce proper policies to convert the potential from biodiversity use into something that can benefit the nation.

For example, in the context of realizing food sovereignty, data from the 2013 agricultural census show a shrinking number of Indonesians employed in farming. Between 2003 and 2013, at least five million households gave up farming, leaving just 26 million farming households as of 2013.

That diminishing number will significantly affect the food supply, and the effect will be amplified by the a projected boom in the total population of the country, from 238 million in 2010 to 305 million in 2035.

If the number of farmers goes into free fall and the population continues to swell, Indonesia will face a food crisis. One of the keys to national prosperity is ensuring a sufficient food supply. Therefore the need to use biodiversity to tackle this challenge is pressing.

One of the important keys to realizing biodiversity use for national prosperity is local communities. They are the element who benefit directly from the proper management of biodiversity use. Strong local communities will lead to a strong nation. Training and mentoring about biodiversity use management will give added value in biodiversity products, and that will have an economic impact.

One example of how local communities are capable of developing a strategy to use biodiversity potential for their needs is the local biodiversity park of Gumi Banten in Renon village in Denpasar, Bali.

The Indonesian Biodiversity Foundation, or Kehati, worked with the Denpasar administration and Udayana University to develop a biodiversity park to conserve a variety of local plants and exotic flowers, including 12 varieties of coconuts, 10 species of bamboo, and 12 varieties of bananas. Those plants and flowers are important to Hindu ceremonies. Thanks to the park, the people in Renon no longer have to import flowers or plants from elsewhere; they have a sustainable solution to meet their needs.

The biodiversity park in Gumi Banten is only a small example, and Indonesia has very big potential for biodiversity use for national prosperity. However, without serious commitment from the legislative and executive it is impossible to turn that potential into reality. Every effort by local communities for biodiversity conservation and use needs support and legal certainty to achieve a significant impact for national prosperity. Therefore, the legislative and the executive should walk together in producing policies that favor biodiversity conservation and use, so that in the long run the nation will prosper.

Rosyid Nurul Hakiim is the communications officer of the Indonesian Biodiversity Foundation

Krabat

Posted: March 2, 2009 in Uncategorized

Misteri Sihir Hitam

Lupakan semua mantra-mantra sihir dalam cerita Harry Potter. Lupakan pula makhluk-makhluk eksotis yang menghuni Hogwarth. Krabat hadir untuk memberikan prespektif berbeda dalam dunia sihir. Lebih khusus lagi pada sihir hitam. Kisah ini berawal dari mimpi yang dialami Krabat (David Kross). Mimpi tentang gagak-gagak yang menghendaki dirinya datang ke sebuah penggilingan gandum di dekat desa Schwarzkollm. Mimpi itu menghantuinya terus, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya.

Krabat adalah pemuda 14 tahun yang telah ditinggal mati orangtuanya. Hidupnya yang terlunta-lunta di tengah kebekuan musim dingin di pegunungan dihadapinya dengan mengemis. Sampai akhirnya dia berada dalam sebuah rumah penggilingan itu dan menjadi salah satu pekerjanya.

Namun, hidup memang tidak pernah mudah. Di tempat itu, Krabat harus menjalani masa percobaan yang sangat berat. Dia juga harus menghadapi teman-teman yang menyebalkan meski akhirnya ia bisa akrab dengan Tonda (Daniel Bruhl), yang seakan sudah menjadi kakaknya. Di rumah penggilingan itu dia hidup bersama 11 orang pekerja yang lain dan satu orang pemimpin yang disebut The Master (Christian Redl).

Setelah selama satu tahun bekerja, kebenaran mulai terungkap. Ternyata, pekerjaan berat itu adalah syarat agar dia bisa bergabung dalam sebuah persaudaraan sihir hitam yang dibuat oleh The Master. Mereka punya keahlian mengubah diri menjadi seekor gagak dan juga melontarkan orang hanya dengan ayunan tongkat.

Pada awalnya Krabat bersemangat untuk menjadi kuat melalui sihir hitam itu, tetapi lama kelamaan tujuan itu berubah ketika dia mulai merasakan cinta dengan seorang gadis desa. Namun, cinta adalah hal yang terlarang dalam persaudaraan itu, dan hukumannya adalah kematian. ”Suatu hal pasti ada harganya,” kata Tonda.

Film berdurasi dua jam lebih ini banyak mengungkap sisi gelap dunia sihir hitam. Seperti adanya tumbal untuk iblis pencabut nyawa atau ruang-ruang gelap tempat mereka berpraktik sihir. Namun, dari waktu penayangan yang panjang itu justru tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sang sutradara Marco Kreuzpaintner untuk lebih membangun cerita.

Hingga setengah perjalanan film, cerita masih belum menunjukkan kejelasan. Penonton seakan tidak diberikan gambaran akan ke mana arah cerita film ini. Waktu terlalu lama hanya untuk mendalami masing-masing tokohnya. Bahkan, hingga akhir film, masih ada beberapa kisah yang tidak tuntas dijelaskan.

Meskipun demikian, bukan berarti film ini tidak menawarkan hal yang menarik. Pemandangan pegunungan Alpen yang berhasil ditangkap oleh kamera menghadirkan kesegaran dan kecantikan tersendiri. Ada pula tawaran setting perkampungan dan rumah penggilingan yang menarik lantaran dibuat gelap sehingga sangat merepresentasikan kemisteriusan cerita.

Dan, yang paling menarik dari cerita sihir adalah trik digital dari komputer. Perubahan dari manusia menjadi gagak atau sebaliknya, dengan efek bulu dan jubah-jubah yang berkelebat, termasuk pula efek saat ulat-ulat cokelat masuk di telapak tangan Krabat yang sudah terluka, bisa menjadi tontonan yang menarik. (kim)

Pemain: David Kross, Christian Redl
Sutradara: Marco Kreuzpaintner
Durasi: 120 menit
Produksi: Centropolis Entertainment

Science in Music

Posted: February 14, 2009 in Uncategorized

Lantunkan Pesan Siaga Bencana
INDONESIA ADALAH NEGARA PERTAMA YANG MENGEMAS PENYAMPAIAN PESAN SIAGA BENCANA MELALUI MUSIK.

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Ini tembang yang sudah melegenda. Berita Kepada Kawan yang dilantunkan Ebiet G Ade seolah identik dengan perenungan dan pesan, bahwa alam pun bisa tidak bersahabat dengan manusia, dan terus memunculkan bencana. Ebiet sudah menyampaikan itu sejak tahun 80-an lalu. Akan tetapi, jiwa lagu tersebut masih sesuai dengan kondisi saat ini. Bencana datang silih berganti, hampir di seluruh wilayah Tanah Air, dan menimbulkan korban jiwa maupun harta yang cukup besar. Dan jejak Ebiet lantas diteruskan oleh sejumlah musisi yang prihatin terhadap kondisi tersebut, dan menuangkannya dalam karya.

Sebut saja penyanyi senior Iwan Fals pernah mencipta tiga lagu sekaligus antara lain Mencari Yang Dicinta, Saat Minggu Masih Pagi serta Harapan Tak Boleh Mati yang dia persembahkan bagi para korban bencana tsunami Aceh, tahun 2004 lalu. Sementara grup band cadas Jamrud, pernah menggubah lagu Cinta Adalah, menjadi sebuah tembang duka terhadap bencana yang terjadi di Aceh, Nabire, dan wilayah lainnya. Pun penyanyi muda, Tere, ikut mendendangkan lagu Tersenyumlah yang juga sarat pesan tentang kejadian bencana alam yang menimpa.

Album kompilasi
Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, seperti di Indonesia ini, sejatinya, mendapatkan pengetahuan tentang bahaya bencana alam tentu akan sangat membantu untuk lebih mengenal gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi, bagi sebagian orang, cara penyampaian informasi atau pengetahuan melalui sebuah seminar sains, ada kalanya dianggap membosankan, sehingga pesan yang seharusnya sangat penting menjadi tidak tersampaikan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Electrified Record, mencoba untuk mengubah paradigma cara penyampaian bahaya bencana itu. Melalui album kompilasi siaga bencana yang diberi nama Science in Music, mereka mencoba menularkan pengetahuan tentang kewaspadaan terhadap bencana alam, dengan lantunan lagu. Album yang berisi 15 lagu itu ingin menyampaikan pesan bahwa bencana bisa datang kapan saja sehingga harus diwaspadai, dan bukan untuk ditakuti.

Oleh karena itu, lagu yang melantun pun lebih berisi tentang kepedulian, ajakan, himbauan dan informasi tentang bencana. Meski demikian, lirik-lirik lagu tersebut tetap disampaikan secara implisit dan eksplisit. Di antaranya lagu Promises yang merupakan karya orisinal dari grup band Mocca dan belum pernah ada di album komersial mereka. Lagu itu menceritakan tentang janji antara manusia dan bumi yang akhirnya janji itu dikhianati oleh manusia. Selanjutnya ada pula lagu yang secara eksplisit menggambarkan bahwa Indonesia itu rawan bencana seperti lagu yang dibuat dan dibawakan oleh Navicula dengan judul Supermarket Bencana.

Non-komersil
Ke-15 lagu tersebut merupakan hasil sumbangan dari musisi papan atas Indonesia, seperti Franky Sahilatua, NAIF, Samsons, Netral, Saint Loco, Mocca, The Upstairs, White Shoes- &The Couples Company, FrankN’Friends, MGM, Lake of Three, 70’s Orgasm Club, Buset, Efek Rumah Kaca, dan Navicula. Sebelum membuat album tersebut, para musisi itu telah melakukan Workshop bersama LIPI pada bulan April lalu dengan tema Science In Music.

`’Saat workshop mereka tidak hanya ada di dalam ruangan saja tetapi ikut terjun langsung menemui masyarakat di daerah rawan bencana seperti di Biak atau Papua,” ujar Irina Rafliana, penanggung jawab album kompilasi tersebut. Tujuannya selain agar para musisi bisa merasakan pengalaman secara langsung, mereka juga bisa mendapatkan inspirasi dari pertemuan itu. Lebih lanjut Irina menceritakan, album kompilasi itu secara resmi diluncurkan pada tanggal 26 Oktober 2008 pada saat Pameran Nasional Siaga Bencana Nasional di Taman Pintar Yogyakarta.

Kemudian, lagulagu itu juga sudah dipresentasikan dalam International Symposium On Tsunami Warning System di Bali pada pertengahan Nopember lalu. Dalam konferensi internasional itu, Indonesia merupakan negara pertama yang memperkenalkan cara penyampaian pesan siaga bencana melalui musik. `’Sambutan negara lain sangat baik, bahkan delegasi dari Hawaii, Philipina, Thailand dan PBB sendiri ikut membawa album tersebut ke negaranya masing-masing sebagai referensi,” ungkapnya.

Rencananya album yang sudah dicetak sebanyak 5.000 copy itu akan disebarkan secara gratis. `’Bagi yang mau menggandakan dan disebarkan ke temantemannya, juga dipersilakan asalkan gratis dan bukan dikomersialkan,” kata Irina. Untuk membantu proses penyebaran itu, saat ini baru Majalah Hai yang bersedia mencantumkan album kompilasi itu pada cetakan edisi Desember 2008 mereka.

Dari segi penggarapan album, Franky Indrasmoro selaku Penanggung Jawab Album dari Electrified Records, mengatakan prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima bulan. `’Waktu paling banyak terkuras pada pengumpulan lagu. Kalau respons temanteman musisi untuk ikut gabung justru sangat cepat,” ujar pria yang juga merupakan personel grup band NAIF itu.

Lirik Singkat dari NAIF
Penggunaan musik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan siaga bencana dinilai merupakan cara yang paling efektif karena bisa lebih merata dan menyentuh semua lapisan. Menurut Franky Indrasmoro yang akrab disapa Pepeng, masyarakat urban akan sangat kesulitan atau kebingungan jika pesan itu disampaikan secara ilmiah. Musisi mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan bahasa ilmu pengetahuan yang rumit dan sulit dipahami menjadi sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat awam. `’Katanya kan musik itu bahasa yang universal,” ujarnya sambil tersenyum.

Franky menjelaskan sebenarnya cikal bakal album ini adalah dari keterlibatan NAIF dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh LIPI. Sejak tahun 2003 mereka selalu diundang dalam setiap acara LIPI terkait pengetahuan tentang bencana. LIPI menganggap NAIF sebagi band yang peduli dan memperhatikan alam lewat lagu yang berjudul Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia. Lagu itu bercerita tentang pepohonan yang sudah digantikan oleh gedunggedung bertingkat. “Pertama kali kita ikut kegiatan mereka yaitu tentang selamatkan terumbu karang,” ujarnya.

Mulai dari perkenalan dan undangan-undangan kegiatan itu, Franky dan kawan-kawannya di NAIF merasa mendapatkan banyak pengetahuan tentang bencana yang ternyata sangat rawan untuk terjadi di Indonesia. “Dari mengikuti kegiatan LIPI itu kita jadi banyak belajar,” katanya. Bahkan NAIF sempat membuat lagu yang liriknya berisi tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Lagu tersebut sangat melekat di kepala anak-anak karena liriknya yang singkat. Yaitu, ‘Kalau ada gempa, lindungi kepala, kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa jauhi kaca, kalau ada gempa lari ke lapangan terbuka’.

Karena kepeduliannya dan manfaat dari kegiatan yang sering digelar oleh LIPI, Franky mulai berpikir bahwa dengan sebuah komunikasi yang dikemas dengan baik maka pesanpesan tentang bencana itu bisa disampaikan. Sebuah obrolan ringan antara dirinya dan teman-teman dari LIPI pada tahun 2005 memunculkan ide konsep sosialisasi melalui musik. Namun, ide itu sempat selama satu tahun mengendap.

Lalu pada tahun 2006 gagasan itu muncul kembali dan mulai mendapat tanggapan serius. Franky sebagai produser pun kemudian mencari band-band yang sesuai untuk mengisi album kompilasi tersebut. `’Kita pilih band yang tidak terikat dengan label agar birokrasinya lebih mudah,” ujarnya. Proses penawaran kerja samanya hanya melalui komunikasi berantai antarteman atau bergerilya. Hasilnya, respons dari musisi sangat besar.

Terbukti sekitar 40 band yang menyatakan keinginannya untuk bergabung. Tetapi karena hanya akan ada 15 band saja yang bisa masuk dalam album maka seleksi yang digunakan dengan sistem deadline. Yaitu pada tanggal tertentu band yang belum menyerahkan lagu akan didiskualifikasi. NAIF sendiri membuat sebuah lagu khusus untuk album ini berjudul Alam Semesta. Pembuatan lirik dan lagunya membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan proses rekamannya justru sangat cepat karena hanya menggunakan alat musik piano saja. (kim)

D’Masiv

Posted: February 14, 2009 in Uncategorized

D’Masiv Lebih Membumi, Lebih Indonesia
PERJUANGAN MEREKA DIMULAI DENGAN MENJADI PENGAMEN.

Lampu-lampu sorot warna-warni berputar-putar menerangi panggung besar di atas tanah lapangan Boom Panjang, Tarakan, Kalimantan Timur. Soraksorai penonton membahana. Lampu-lampu fosfor berwarna hijau terang mengayun mengikuti irama lagu yang dibawakan grup musik D’Masiv. Para penonton yang sebagian besar remaja mulai mengentakkan badan dan berusaha menirukan lagu yang dibawakan grup musik kesayangan mereka itu.

Malam tanggal 27 Desember 2008 itu, D’Masiv menghibur penggemarnya dalam acara Anniversary 11th Tarakan. Malam itu, mereka menyanyikan koleksi lagulagu di album perdana mereka yang berjudul Perubahan di antaranya Diam Tanpa Kata, Tak Pernah Rela, Aku Percaya Kamu, Cinta Sampai Disini, Merindukanmu, Sebelah Mata, Diantara Kalian, I Feel (Manusia Tak Berharga), Tak Bisa Hidup Tampamu, lalu lagu yang melambungkan nama mereka Cinta Ini Membunuhku.

Sepanjang tahun 2008, memang merupakan tahun keemasan bagi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum). Setahun penuh mereka wara-wiri membawakan lagu-lagu dalam album mereka. Hampir di setiap kota di Indonesia yang disinggahinya terbentuk kelompok penggemar setia mereka yang disebut ‘Masivers’. Jauh sebelum mereka merengkuh ketenaran seperti sekarang, mereka hanya lima anak muda yang hobi bermain musik dan menyalurkannya dengan cara mereka sendiri.

Rian Ekky Pradipta atau akrab disapa Rian, Dwiki Aditya Marsall yang lebih sering dipanggil Kiki, dan Nurul Damar Ramadhan yang lebih dikenal dengan nama Rama pernah membentuk sebuah grup musik kala mereka masih berstatus murid SMP. Sedangkan Wahyu Piadji, sang drummer, justru sejak masih SD gemar bermain drum. ”Awalnya dulu lihat tetangga main drum terus tertarik,” ujarnya. Sebelum memiliki seperangkat drum, Wahyu kecil hanya mengayunayunkan tangannya menepuk udara seolah-olah sedang bermain drum sungguhan.

Waktu berjalan hingga Rian, Kiki, dan Rama memutuskan keluar dari grup musik yang dibentuknya saat SMP. Mereka kemudian mengajak Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata atau Rai yang rumahnya tidak jauh dari kediaman Rian untuk mengisi posisi bassis. Lalu Why yang ternyata adalah teman satu SD dengan Rian direkrut berikutnya untuk mengisi pemain drum. Akhirnya, pada 3 Maret 2003 sebuah grup musik yang saat itu masih bernama Massive terbentuk. ”Mulai dari situ kita serius untuk mengerjakan band ini,” kata Wahyu.

Besar dan berbobot
Nama Massive pada awalnya dipilih karena mengandung arti besar, raksasa, dan berbobot. Seperti harapan mereka terhadap grup musik yang baru dibentuk itu, untuk menjadi besar dan berbobot di kemudian hari. Nama itu juga merupakan pemberian salah satu drummer berbakat Indonesia, Dion Subiakto, saudara laki-laki dari komposer wanita Tya Subiakto. ”Awalnya kita bingung mau kasih nama apa, tapi terus kita ingat sama Mas Dion. Lewat SMS, dibalas kalau Massive gimana, dan kita setuju pakai nama itu,” ujar Rama.

Semenjak menyandang nama tersebut, lima sekawan ini mulai mengikuti berbagai festival musik. ”Sudah lebih dari 50 festival yang kita ikuti,” kata Wahyu. Bukan sekadar jadi peserta saja, Massive hampir selalu mengantongi piala. Seperti saat mengikuti festival musik remaja yang digelar oleh Kementerian Remaja dan Olahraga beberapa tahun lalu. ”Kira-kira antara tahun 2005 sampai 2006. Saat itu yang ikut raja-raja festival semua dengan skill yang tinggi,” kata Rama.

Namun dengan kepercayaan diri, mereka bisa menyabet banyak kemenangan, seperti The Best Vocal, The Best Bass, dan The Best Song dengan lagunya tentang antinarkoba, Jangan Biarkan Makin Menggelap. Penuh pengalaman malang melintang di kancah festival musik, pada tahun 2007 mereka menuai hasilnya.

Dalam ajang A Mild Live Wanted 2007, mereka mendapatkan juara pertama dan berhak merekam satu album penuh berisi lagu-lagu mereka di bawah Musica Studio. Sadar bakal menghadapi masyarakat Indonesia yang lebih luas, mereka kemudian mengubah nama grup musik mereka menjadi lebih membumi. ”Massive kemudian diganti dengan D’Masiv. Makna masih tetap sama, tetapi format lebih Indonesia,” kata Rama.

Keberhasilan mereka bukan tanpa jerih payah. Untuk mengikuti setiap festival atau menyewa studio untuk berlatih mereka harus merelakan uang jajan mereka untuk patungan. Bahkan, mereka sempat mencoba untuk mengamen di atas bus kota.

Beberapa bus jurusan Ciledug-Blok M pernah mereka masuki untuk mencoba mengumpulkan dana. Lintas daerah itu yang mereka pilih karena dekat dengan rumah mereka yang berada di wilayah Ciledug. ”Kita cuma ngamen begitu satu kali dan cuma dua jam saja. Dari situ kita dapat Rp 40 ribu yang terus kita pakai buat latihan,” kata Rama. Kini, perjuangan itu pun berbuah manis. Penghargaan platinum untuk album dan RBT terlaris ada dalam genggaman mereka.

Cinta Ditolak, Lagu Meledak
Kau membuatku berantakan,
kau membuatku tak karuan,
kau membuat ku tak berdaya,
kau menolakku acuhkan diriku..

Deretan kata-kata sederhana itu sengaja dipilih oleh Rian yang juga mengarang lagu berjudul Cinta Ini Membunuhku. Bagi dia, kata sehari-hari jarang digunakan dalam lirik lagu yang kebanyakan justru lebih puitis. Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’, untuk Rian, meninggalkan kesan karena proses pembuatannya yang paling cepat di antara lagu-lagu lain yang dibuatnya. ”Lagu ini dibuat dalam waktu kurang dari lima menit,” ungkapnya.

Namun, lagu dengan proses pembuatan tercepat pada tahun 2006 itu justru meledak dan mengantarkan D’Masiv untuk dikenal banyak orang. Padahal sebelumnya, lagu ini tidak masuk dalam perhitungan mereka untuk menjadi single utama. ”Meledaknya lagu ini benar-benar buat saya nggak percaya.”

Lagu tersebut terinspirasi dari pengalaman Rian selama masih duduk di bangku SMU. Saat itu dia menyukai seorang gadis. Tetapi, setiap usahanya untuk menyatakan cinta selalu ditolak tanpa sebab yang jelas. ”Sampai delapan kali nembak, nggak pernah diterima,” ungkapnya.

Karena itulah lagu tersebut terkesan galau sebagai cerminan seseorang yang terus menerus harus menanggung luka akibat patah hati. Meski ‘Cinta Ini Membunuhku’ merupakan lagu yang berkesan sendu, lagu itu sangat mewakili D’Masiv. Penggarapan lagu itu, menurut Rian, sangat tipikal lagu dari grup musik. Nada gitar, bass, drum, dan vokalnya bisa menjadi harmonis saat memainkan lagu tersebut.

Beberapa lagu dalam album perdana D’Masiv memang lebih banyak berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan, ditambah dengan curahan-curahan hati teman-teman mereka yang digubah dalam bentuk lagu. Pada awal penggarapan album, sesaat setelah mendapatkan kesempatan karena menang dalam kompetisi A Mild Live Wanted 2007, D’Masiv harus mengumpulkan sekitar 30 lagu koleksi mereka. Beberapa lagu merupakan hasil ciptaan mereka sejak lama, namun sejumlah lagu yang lain dibuat ketika tenggat waktu pengerjaan album yang semakin dekat.

Akhirnya, sebanyak 12 lagu masuk dalam album Perubahan itu, sebagian besar merupakan ciptaan Rian. Sebagian yang lain merupakan hasil kolaborasi seperti lagu berjudul Tentang Seseorang yang dibuat Rian bersama Rama atau lagu Cinta Sampai Disini yang mendapat bantuan dari Yayang Arisman, teman musisi Rian. c62

Kejutan di Album Kedua
Meski dibalut kepadatan jadwal manggung mereka, saat ini D’Masiv juga disibukkan dengan penggarapan album kedua mereka. ”Untuk konsep lagu-lagunya masih belum ketahuan mau bagaimana,” kata Rama.

Sekarang ini mereka masih berkutat dalam pengumpulan materi lagu. Tentang aliran musik yang bakal diusung di album yang baru, Rama mengisyaratkan tidak akan terlalu berbeda dengan album pertama mereka. ”Tapi, kita pasti punya sesuatu yang fresh untuk kejutan,” ujar Rama.

Meski banyak menuai kritik seputar lagu mereka yang dianggap mellow dan menye-menye, Rian menganggap hal tersebut harus dikembalikan pada orang-orang yang mendengarkan lagulagu D’Masiv. Walau dianggap mellow, masih banyak dari lagi mereka yang mendapat apresiasi positif. Proyeksi album mereka ke depan, kata Rian, masih ada kemungkinan lagu-lagu mellow yang diunggulkan. ”Itu tentunya hasil perundingan matang di antara kita, dan pastinya lagu itu sudah memiliki konsep yang kuat,” ujarnya. (kim)