Archive for the ‘musik’ Category

Pembatalam Konser

Posted: March 2, 2009 in musik

Di Balik Pembatalan Itu Ada tanggung jawab moral untuk segera menuntaskan seluruh masalah. Baliho besar terpampang di jalan-jalan utama. Promo di media elektronik dan cetak tak kalah gencar dilakukan. Rihanna yang semula batal konser bakal tampil pertengahan Februari. Aliran penjualan tiket tidak pernah berhenti. Namun, semuanya menjadi antiklimaks ketika sebuah berita penganiayaan terhadap penyanyi R&B yang melejit dengan single Umbrella ini menyebar. Buntut insiden ini, sang artis pun memutuskan untuk membatalkan konsernya di Jakarta. Sebelumnya, Rihanna juga pernah dijadwalkan untuk tampil di Indonesia pada akhir 2008. Semua persiapan sudah dilakukan. Namun, seiring pelaksanaan hukuman mati terhadap pelaku Bom Bali I, artis tersebut pun memutuskan untuk membatalkan konsernya karena menganggap keadaan di Indonesia bakal kurang stabil. Buat Adrie Subono, promotor dari Java Musikindo, tak ada hal yang luar biasa dari pembatalan konser tersebut. ”Ini normal-normal saja bagi saya. Bayangkan saja, seorang Rihanna yang biasa tampil cantik dan seksi apa mau nyanyi di hadapan ribuan orang dengan lebam-lebam. Tentu saja wajar dia tidak jadi datang,” ujarnya. Sepanjang 15 tahun bergelut di dunia promotor, pria yang hobi berbaju hitam-hitam ini mengaku sudah 12 kali menghadapi pembatalan konser. Bagi dia, pembatalan konser adalah hal yang normal. ”Artis juga manusia, yang bisa terkena penyakit atau musibah lain,” ujar Adrie. Pernah suatu kali dia ingin mendatangkan The Corrs. Akan tetapi, karena salah satu personelnya mendadak menderita sakit telinga sehingga tidak bisa bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, akhirnya konser pun dibatalkan. Belum lagi urusan kondisi keamanan negara yang juga sangat memengaruhi dunia showbiz ini. Sebuah travel warning yang dikeluarkan sebuah negara agar penduduknya tidak datang ke Indonesia karena kondisinya tidak stabil memang sanggup merusak seluruh rencana pementasan musik. Sejak rentetan peristiwa pengeboman yang terjadi di negeri ini, sejumlah artis luar negeri pun enggan datang ke Indonesia. ”Ini yang menjadi kendala utama mendatangkan artis mancanegara selama saya menjadi promotor,” tambahnya. Asuransi internasional Pengalaman pun menjadi guru yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. ”Kalau ada pembatalan seperti itu, saya tidak akan pernah mau menuntut. Biar bagaimana saya menjaga hubungan baik dengan agen-agen artis luar itu,” ujarnya. Untuk urusan keuangan yang pasti muncul setelah pembatalan itu, dia biasanya menggunakan asuransi internasional untuk konser yang akan digelar. Asuransi penting digunakan, karena pada saat pembatalan artis hanya akan mengembalikan uang fee yang telah dibayarkan sebelumnya. Sedangkan untuk biaya-biaya promosi atau segala tetek bengek persiapan konser, bukan tanggung jawab pihak manajemen artis. Dengan adanya asuransi, kerugian tersebut bisa tertutupi. ”Seperti punya mobil, mau diasuransikan atau tidak, terserah. Tapi, kalau kecelakaan dan mobil rusak, maka akan lebih menguntungkan jika punya asuransi,” ujar Adrie. Besar uang asuransi tersebut tergantung pada kebijaksanaan sang promotor untuk membayarkan preminya. ”Misalnya, sebuah event biayanya 10 ribu perak, nanti bakal dikalkulasikan berapa preminya, lalu tinggal di bayar saja,” lanjutnya. Sayangnya, jenis asuransi macam ini memang belum ada di Indonesia, sehingga harus ke luar negeri untuk mengurusnya seperti di Amerika, Inggris, atau Australia. Kendati begitu, masalah pembatalan tidak selesai begitu saja dengan asuransi. Ada sebuah tanggung jawab moral yang harus dilakukan kepada pembeli tiket dan pihak sponsor. Maka, begitu berita pembatalan itu sudah jelas, sesegera mungkin melakukan kontak dengan media untuk melakukan klarifikasi terhadap peristiwa yang terjadi. Uang dari pembelian tiket harus dikembalikan 100 persen kepada calon penonton. Setelah itu pihak sponsor pun perlu diberikan penjelasan serinci mungkin. Bahkan, harus disertai bukti bahwa kejadian tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada. ”Kita kan tidak mau disebut penipu,” ungkap Adrie.

‘Inilah Bisnis’

Ketika Rihanna menyatakan batal konser di Indonesia, pekerjaan panjang itu pun dimulai. Seperti diungkap Troy Reza Warokka, juru bicara Showmaster, perusahaan yang bakal menggelar konser Rihanna, saat terjadi pembatalan maka yang dia lakukan pertama kali adalah merujuk pada kontrak yang telah dibuat sebelumnya. ”Dari situ kita lihat hak dan kewajibannya,” ujarnya. Manajemen artis Rihanna wajib mengembalikan uang pembayaran artis 100 persen sesuai dengan yang sudah dibayarkan.

Setelah permasalahan dengan artis yang batal manggung itu selesai, secepatnya Troy kemudian memberikan informasi secepatnya pada masyarakat. ”Waktu itu kami langsung memberikan keterangan resmi ditambah lagi dengan bukti yang berupa hasil korespondensi dengan manajemen Rihanna,” ungkapnya.

Uang tiket yang telah dibayarkan pun mereka kembalikan 100 persen. Selanjutnya, pihak sponsor juga wajib mendapatkan penjelasan yang rinci terhadap pembatalan konser tersebut. ”Jadi, kuncinya adalah penyebaran informasi yang jelas dan akurat setelah pembatalan yang terjadi,” ujarnya. Bagi Troy, kegagalan ini hanya merupakan sebuah fenomena bisnis yang biasa.

Dia pun tidak akan berhenti mendatangkan artis luar negeri karena  menilai pekerjaan sebagai promotor merupakan sebuah usaha untuk mempromosikan Indonesia. ”Saat artis luar datang ke Indonesia, semua mata dunia bakal melihat ke sini. Nah, inilah saatnya kita menunjukkan Indonesia,” katanya. Seperti kata Adrie Subono, ”Ini bisnis. Semua bisa saja terjadi dan yang namanya bisnis tidak selamanya akan selalu mulus.”

Gurihnya Showbiz

Demi menjadi promotor, Adrie Subono rela meninggalkan bisnis yang semula sukses juga digelutinya. ”Saya lihat ada uang dan peluang bisnis yang besar sekali. Peluang itu saya lihat karena perputaran uang di Amerika itu habisnya pada hiburan,” kata Adrie. Terbukti, intuisi itu tepat. Nama Adrie Subono dan Java Musikindo kini bak ikon untuk dunia promotor Tanah Air. Hingga kini, dia sudah mendatangkan sekitar 100 artis luar negeri ke Indonesia.

Baginya, promotor yang profesional tidak akan pernah kehabisan pekerjaan karena tidak mungkin seorang penyanyi atau grup band besar bakal menjual tiket konsernya sendirian, sehingga mereka membutuhkan orang seperti dirinya. Grup band atau penyanyi luar negeri yang bakal tampil di Indonesia juga tidak mungkin akan membawa promotor dari negara asalnya. Mereka pasti akan menggunakan promotor dari Indonesia. ”Selain itu, pasti akan muncul band-band baru yang tentu butuh promotor juga,” kata Adrie. ”Bisnis ini tidak akan pernah mati.” (kim)

Ekspresi Duo

Posted: February 17, 2009 in musik

Ekspresi Duo
DUO INDONESIA HANYA LEWAT SAJA DAN BOOMING SEBENTAR.

Siapa yang tidak mengenal Roxette? Untuk para penggemar musik era 1980- 1990-an, duo asal Swedia ini menghadirkan kenangan sendiri. Kombinasi Marie Fredriksson dan Per Gessle itu pun menelurkan sejumlah lagu hits seperti The Look, Listen To Your Heart, It Must Have Been Love, dan Joyride. Meski sempat terbentur masalah kesehatan salah satu personelnya, mereka berhasil bertahan hingga 20 tahun.

Di Indonesia, kita lebih dulu mengenal duo unik, Duo Kribo, lewat sosok Ahmad Albar dari God Bless dan Ucok Harahap (AKA). Meski konsep duo itu diambil oleh sang produser lantaran mengacu pada tatanan rambut keduanya yang kribo dan karakter bernyanyi yang nge-rock, lagulagu mereka banyak dinyanyikan ulang. Seperti lagu Panggung Sandiwara karya Ian Antono dan Taufik Ismail yang diambil dari album ketiga Duo Kribo tahun 1978 berjudul sama.

Ada pula duo Franky and Jane yang merupakan kakak beradik Sahilatua yang mencuat dengan lagu Perjalanan atau Bis Kota. Kemudian pada rentang waktu tahun 1980-1990-an, muncul dua format duo lagi seperti 2D yaitu Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra yang sempat menelurkan tiga album, serta Humania dengan personel EQ dan Heru yang justru banyak berkembang di Australia dengan musik reggae dan R&B.

Saat ini format duo mulai banyak bermunculan lagi seperti duo Maia, T2, Tantra, The Sisters, Kingkong, dan Pasto. ”Duo ini merupakan salah satu bentuk ekspresi bermusik,” ujar Denny MR, salah seorang pengamat musik Indonesia. Sayangnya, ”Di Indonesia, format duo belum pernah ada yang menjadi tren. Semua hanya lewat saja dan booming sebentar,” ujar Denny MR, salah seorang pengamat musik Indonesia.

Aneka masalah tak ayal mendera eksistensi si duo. Duo Kribo sulit untuk bersatu lagi karena terpisah oleh jarak. Ahmad Albar berada di Jakarta dan Ucok Harahap di Surabaya. Selain itu, Ahmad Albar justru memilih untuk lebih mementingkan bandnya, God Bless, sehingga meredupkan nama Duo Kribo. Kendati begitu, ”Sebagai sebuah komoditi musik mereka berhasil,” kata Denny.

Franky and Jane pun akhirnya tak lagi terdengar gaungnya. ”Mereka memang sedikit bertahan lama karena satu keluarga,” ujar Denny. Untuk menciptakan sebuah konsep duo yang menarik bukan pekerjaan mudah. Ini harus melibatkan harmonisasi vokal dan interaksi personelnya yang seimbang. Hingga akhirnya, ”Semua kembali kepada materi yang mereka tawarkan apakah bisa memberikan kesegaran atau tidak,” lanjut Denny.

Lebih simpel
Bagi para personelnya, format duo justru terasa lebih mudah dan simpel. Ini pula yang dirasakan Tantra, duo di antara Heriawan Setiyono dan Sarah Imelda Joan Pinontoan. Sebelumnya, mereka aktif dengan band masing-masing. Namun, setelah mereka dipertemukan oleh teman yang sama, keduanya memilih untuk berduet. ”Karena kita berdua cocok dan setuju dengan konsep duo maka kita kerja sama,” ujar Heriawan. Tantra kemudian lahir dengan konsep yang sama seperti Roxette dari Swedia. Bagi Heriawan, bermusik sebagai duo terasa lebih simpel ketimbang dalam format band. ”Kalau duo nggak perlu banyak orang buat mikir. Cuma kita berdua saja,” ujarnya.

Duo Pasto punya pendapat serupa. ”Kalau berdua untuk mengambil keputusan lebih gampang,” ungkap salah seorang personel Pasto. Dulu, ketika terbentuk pada tahun 2002, Pasto memiliki empat personel. Akan tetapi, karena visi yang sudah mulai berbeda, dua orang yang lain memutuskan untuk mundur meski mereka sudah berhasil meluncurkan album perdana, I Need You. Memasuki 2008, personel Pasto hanya menyisakan Rayeen dan Meeltho.

Kendati begitu, tak berarti segalanya berjalan mulus-mulus saja. Personel yang tinggal dua orang membuat mereka kesulitan untuk menggali ide. Selain itu, masalah teknis dan pemikiran konsep juga menjadi kendala. Namun, lambat laun masalah itu bisa teratasi. Bahkan, pembagian suara yang tadinya untuk empat orang kemudian menjadi dua orang pun sudah bisa diakali.

Semua itu bisa dilewati karena mulai terbentuk saling pengertian di antara personelnya. ”Kita sering share dan tukar pikiran,” ujar Rayeen. Soal perbedaan pendapat, bagi dia, ini merupakan suatu yang alamiah. Namun, karena sudah sepaham permasalahan itu bisa dilalui. ”Jadi, istilahnya dari empat orang itu, kita berdua ini yang lulus ujian,” tambahnya. Mereka pun berniat untuk meluncurkan album kedua pada tahun 2009 ini.

T2 alias Tika dan Tiwi pun mengalami pasang surut berduo. ”Apalagi kita sama-sama cewek,” ujar Tiwi. Sifat alamiah perempuan yang lebih sering menggunakan perasaan juga sedikit banyak mempengaruhi mereka. Permasalahan internal masingmasing personelnya bisa mengarah pada mood saat tampil atau berdiskusi. Namun, karena perkenalannya yang sudah lama terjalin lantaran sebelumnya Tika dan Tiwi samasama menjadi finalis di salah satu ajang pencari bakat, masalah itu bisa diatasi secara profesional. ”Apalagi aku dan Tika tinggal serumah, jadi sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ujar Tiwi. kim

Berbalas Lirik
Duo, bagi Bens Leo yang juga pengamat musik, adalah salah satu alternatif untuk menyuguhkan variasi dalam belantika musik negeri ini. ”Duo tentu saja mempunyai harmonisasi yang lebih beda dari solo,” ujarnya. Karena kekuatan harmonisasi itu bisa memperkaya ekspresi musik, kebanyakan penyanyi solo pun menggandeng penyanyi lain untuk berduet sehingga bisa tampil berbeda. Dalam bernyanyi duo, kelebihan lain yang sangat bisa dieksplorasi adalah lirik saling balas. Apalagi, jika personel duo itu laki-laki dan perempuan yang memang memiliki karakter suara yang berbeda.

Dengan konsep seperti itu, Bens menjelaskan, dapat membantu personel duo yang tidak kuat secara teknis. Dia kemudian mencontohkan Maia yang lebih kuat pada pembuatan lagu dan arransemen yang terbantu dengan kehadiran Mey Chan untuk vokalnya. Kombinasi inilah yang justru memberikan keunikan tersendiri dari duo tersebut. Sedangkan dari sudut pandang produser, pembentukan duo lebih didasarkan pada proses alamiah. ”Faktor alam saja,” ungkap Rahayu Kertawiguna dari Nagaswara.

Saat menilai dua orang pantas untuk menjadi duo, maka dia langsung mengorbitkannya tanpa terlalu berpusing dengan hal-hal yang muncul setelahnya. ”Dalam berkesenian itu kita seperti air mengalir saja,” lanjutnya. Di bawah bendera perusahaannya, dia berhasil mengorbitkan banyak duo seperti T2, The Sisters, Kingkong, Mahadewi, atau The Virgin.

Namun, untuk mempertahankan duo tersebut tetap berada dalam pasaran, bukan hal yang mudah. Apalagi, bila salah satu personelnya adalah bintang sinetron seperti yang terjadi pada duo The Sisters. Padatnya jadwal shooting Shireen Sungkar cukup mengganggu kegiatan The Sisters, begitu pula jadwal Aldy Taher yang susah untuk disatukan dengan Kingkong. ”Kita sulit cari waktu untuk promosi,” ujarnya. Efek seperti inilah yang biasa muncul karena idealismenya tentang faktor alam tadi. Tapi untuk mengatasi hal tersebut, dia lebih banyak menggeber promosi pada masa-masa cuti mereka. (kim)

Tangga

Posted: February 14, 2009 in musik

Rasa Musik Eropa Dari Tangga
DUA HAL MENJADI KEUNGGULAN GRUP MUSIK INI, PERCAMPURAN BERAGAM UNSUR MUSIK DAN KARAKTER VOKAL PARA PERSONELNYA.

Alunan musik Waltz begitu terasa. Tembang O Teganya milik grup musik Tangga dari album OST Lost in Love, yang mengalir dalam tempo sedang, menjadi kian syahdu begitu memasuki bagian reffrain dengan deretan syair yang mendayu.

Kini aku di sini,
Cuma sendiri,
Tiada yang mencari,
Sampai hati,
Sampai begini.

Sejatinya, iringan nada Waltz kurang lazim diterima di Indonesia. Selain memang berasal dari benua Eropa, warna musik jenis ini dianggap kurang mengena jika disandingkan dengan corak pop yang duluan ngetren.

Tapi tidak demikian halnya yang dilakukan Tangga. Mereka berani meramu irama dansa Waltz dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia yang penuh aroma cinta. Dan terbukti, kreasi musik mereka dapat diterima luas. Simak lagu O Teganya tadi. Berkat fusion dua budaya itu, lagu ini jadi punya sentuhan unik. ”Coba saja dengar di radio, setelah beberapa lagu terus ada lagu O Teganya, rasanya pasti beda banget,” ujar Mohammed Kamga, salah satu personel Tangga.

Diakui Kamga, sapaan akrabnya, ini merupakan kali pertama mereka memakai musik Waltz. Nuansa Eropanya amat kental, ada bunyi-bunyi akordeon, ketukan 3/4. Di Indonesia sendiri bukannya tidak pernah ada musik seperti ini, tapi di tahun-tahun belakang, jarang yang memakainya. Maka tak mengherankan, bila O Teganya lantas didapuk menjadi satu dari dua lagu paling spesial milik Tangga. Satunya lagi adalah tembang Hebat, yang terdapat pada album perdana, Tangga (2005).

Harmonis
Lagu Hebat, adalah salah satu single yang tidak termakan oleh waktu. Meski sudah lewat 20 sampai 30 tahun mendatang, lagu tersebut masih tetap bisa dinikmati, karena musiknya yang menyenangkan. Efek seperti itulah yang ingin dimunculkan kembali melalui O Teganya. Keunikan memang menjadi modal dasar Tangga untuk bisa terus berada di hati para penggemarnya. Dan itu didapat dari penggabungan perbedaan rasa lagu serta karakter suara personelnya yang diramu dengan harmonis. Nerra Merlin memberikan nuansa pop yang girly dengan suara mezzo sopran-nya. Kamga yang sangat kuat dengan karakter black music dan R&B memberikan kesan ngebeat melalui vokal bariton yang dimilikinya.

Tahir Hadiwijoyo, atau lebih dikenal dengan panggilan Tata, yang sangat menyukai rock dan musikmusik bernuansa distorsi, mengisi paduan vokal Tangga dengan nada-nada rap dan suaranya yang nge-bass. Terakhir, anggota baru yang bergabung setelah Desty mengundurkan diri tahun 2006, Chevrina Anayang, menambahkan tone suara unik menggantikan jenis suara alto Desty sehingga melengkapi grup vokal tersebut. ”Kita ini grup vokal yang berusaha memaksimalkan kelebihan-kelebihan yang kita punya masingmasing,” ujar Kamga.

Proses itulah yang menjadikan hampir semua lagu di tiga album yang sudah diluncurkan, sangat bervariasi. Masing-masing personel mendapatkan bagian untuk menjadi lead dalam lagu, hingga dalam satu album warna-warni musik Tangga bisa dirasakan melalui karakter personelnya. ”Sejak awal, Tangga memang sudah dikonsepkan tiga vokal dan satu rap, ini tidak akan diubah. Meski nanti misalnya aku menyanyi satu dua lagu tapi selebihnya akan lebih ditonjolkan rap-nya,” ujar Tata yang sangat senang dengan pertunjukan live di atas panggung karena bisa mengubah aransemen sesukanya.

Pengertian
Adalah produser, musisi, arranger, sekaligus vocal director Harry Budiman, yang banyak berperan pada musikalitas Tangga. Seperti dikatakan Tata, Harry terlibat hampir di semua lini pembuatan musik dan lagu mereka. Bersama-sama, mereka membicarakan porsi menyanyi dalam sebuah lagu. Tidak jarang satu persatu personel Tangga diminta untuk mencoba menyanyi dan akhirnya diputuskan salah satu menjadi lead dengan karakter suara paling cocok dengan lagu. ”Jadi, tergantung penentuan bagian. Ada yang kita tentukan, ada yang dari produser. Reff-nya kita ambil siapa yang lebih cocok. Kalau liriknya lebih tentang wanita, maka yang lebih banyak ngambil leadnya wanita,” Chevrina menambahkan.

Selain dibantu Harry Budiman, untuk soal lirik, Tangga masih mendapatkan bantuan dari Johandi Yahya yang juga merangkap sebagai manajer melalui Oxygen Entertainment. Proses kreatif ini memang tidak sepenuhnya bisa mulus, tetapi karena kebersamaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun, saling pengertian pun muncul. ”Kalau kita niatnya menonjolkan diri masing-masing, nanti sebuah lagu bisabisa tidak jadi-jadi,” lanjut Tata.

Sebelum ke Pentas Dunia
Perhatikan ketiga album milik Tangga. Di situ, selalu ada lagu, atau insert berbahasa Inggris. Bahkan di album OST Lost in Love, ada tembang dengan lirik bahasa Prancis. Akan tetapi, meski banyak menempatkan insert berbahasa Inggris, Tangga belum terpikir membuat satu album penuh berbahasa Inggris, dalam waktu dekat. ”Pernah sih ada satu lagu yang penuh berbahasa Inggris, tapi untuk satu album nanti dulu,” kata Kamga.

Menurut dia, Tangga belum akan membuat album berisi lagu-lagu berbahasa Inggris penuh, karena melihat masih banyak orang Indonesia yang belum bisa berbahasa Inggris. Populasi mereka yang bisa mengerti bahasa Inggris jauh lebih sedikit dari pada yang belum mengerti.

”Mendidik orang untuk berbahasa Inggris dengan lagu memang bagus, tetapi kalau satu album semua pakai bahasa itu, maka hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang mengerti saja,” ungkapnya. Tetapi walau begitu, lagu berbahasa asing juga menjadi pemikiran mereka untuk go international kelak. Untuk menuju ke arah itu, saat ini Tangga berusaha agar musik-musik unik garapan mereka dapat disukai oleh publik Indonesia. ”Kalau buat aku, ketika memutuskan go international tapi belum menguasai pasar di Indonesia, itu seperti gerakan putus asa,” tutur Kamga.

Dia berprinsip, jika musik yang diusungnya bersama teman-teman memang jarang didengar di Indonesia karena keunikannya, maka dia akan berusaha membuat orang-orang di negerinya sendiri untuk menyukai jenis musik baru, lalu setelah itu melaju ke dunia internasional. ”Musisi bagus kalau mentalnya menyerah sama pasar ya akhirnya pasar hanya akan mendapatkan itu-itu saja. Tapi kalau ada jenis yang baru maka pasar Indonesia akan semakin kaya,” tegasnya.

Percaya Diri Chevrina
Perjalanan karier Tangga dimulai tahun 2003. Kala itu, inti dari Tangga baru Nerra dan Tata. Mereka lalu mengadakan audisi tertutup yang mempertemukan mereka dengan Kamga dan Desty. Sekian tahun bernyanyi bersama, akhirnya pada 2005, mereka meluncurkan album pertama self title. Single Terbaik Untukmu dan Hebat menjadi perkenalan yang mengesankan bagi masyarakat Indonesia, dan menjadi top request di beberapa stasiun radio.

Masalah sempat muncul ketika Desty memutuskan mundur di tahun 2006, tepat sebelum pengerjaan album kedua. Akan tetapi, kehadiran Chevrina yang mengisi kekosongan personel, sanggup membuat semuanya berjalan normal kembali, dan hadirlah album kedua, Cinta Begini (2007).

”Dia itu satu tempat les vokal aku dan Nerra. Nah saat Desty mengundurkan diri, akhirnya kita minta bantuan sama guru dan akhirnya ketemu dengan Chevrina melalui sebuah audisi,” jelas Tata. Bagi Chevrina sendiri, awalnya dia mengaku agak kesulitan mencocokkan diri dengan personel yang lain. Tapi untuk mengatasinya, dia punya trik jitu. ”Percaya diri, mengerti dan memahami.” (kim)

Tren Musik 2009

Posted: February 14, 2009 in musik

GILIRAN BAND INDIE UNJUK GIGI
VOLUME PRODUKSI ALBUM BAKAL TERIMBAS KRISIS GLOBAL. PROMOSI PUN DITEMPUH TERUTAMA LEWAT INTERNET.

Lagu Kepompong milik Sindentosca muncul pada kuartal terakhir 2008. Tidak menawarkan tema cinta, Jalu, sang penyanyi dan pencipta lagu tersebut, justru melantunkan cerita tentang persahabatan yang inspiratif. Pun yang dilakukan grup band The Changcuters. Mereka tampil dengan lagulagu bercorak rock n roll, seakan memberi kesegaran dan pilihan dalam mendengarkan musik.

Moh Tria Ramadhani alias Tria (vokal), Muhammad Iqbal atau Qibil (backing vocal & gitar), Arlanda Ghazali Langitan atau Alda (gitar), Dipa Nandastra Hasibuan atau Dipa (bass), dan Erick Nindyoastomo alias Erick (drum), juga selalu heboh ketika beraksi di atas panggung, dan ini memberikan hiburan tersendiri bagi penonton. Ya, keduanya sanggup mencuat di tengah demam musik pop yang mendayu yang justru lebih ngetren. Sepanjang tahun 2008, jenis musik semacam itu merajai belantika musik, bersama serentetan grup musik yang terus hadir.

Pertanyaannya kemudian, apakah dinamika musik Indonesia yang tergolong minim variasi, akan tetap bertahan di tahun 2009 ini? Deny Sakrie, pengamat musik, memprediksikan tema cinta memang masih mendominasi di tahun 2009, namun dengan cara penyampaian yang berbeda. ‘’Tema cinta itu sebenarnya tidak akan pernah habis,’‘ ujarnya. Tetapi dia mengakui bahwa di kuartal terakhir tahun 2008, jenis musik cinta yang mendayu-dayu sudah mencapai tiik kulminasi walau respons masyarakat sendiri masih besar.

Murni bisnis
Deni melihat, selama dua tahun terakhir, band-band dengan lagu pop Melayu atau cinta yang mendayu, amat dominan sehingga tidak heran jika aransemen dan rasa lagunya menjadi serupa. Dikatakan, saat ini industri musik sudah mulai bergerak ke posisi yang murni untuk berdagang, sehingga kondisi itu terjadi. ‘’Padahal sebenarnya band-band itu idealis, tapi karena harus mendongkrak penjualan, jadi karyanya ya begitu-begitu saja,’‘ ungkapnya.

Namun, lanjut Deny, bakal ada angin segar dan kejutan-kejutan mendekati akhir tahun. Dia memperkirakan pada kuartal pertama tahun 2009, musisi-musisi seperti Sindentosca atau band indie akan memberikan pengaruh. Kemudian dari musikalitasnya, jenis pop masih kuat karena animo masyarakat. Hanya saja, nantinya akan banyak sekali percampuran dan pengaruh dari aliran R&B, jazz, blues maupun groove.

‘’Sementara rock murni juga akan berusaha muncul lagi seperti yang saat ini terjadi di Amerika Serikat,’‘ imbuhnya. Pengamat musik yang lain, Bens Leo, mengatakan, justru di tahun 2009 musisi yang mengumandangkan lagu-lagu mellow masih banyak bermunculan. ‘’Tapi, dunia musik Indonesia memang sulit ditebak,’‘ katanya.

Hal itu dia contohkan dengan kehadiran Kangen Band yang membuat semua orang bereaksi dan memberikan pengaruh pada musik-musik dengan cita rasa Melayunya. ‘’Oleh karena itu di tahun 2009 sebenarnya tergantung pada musisinya sendiri bagaimana mengemas tampilan musiknya,’‘ lanjut dia.

Sulit
Ada beberapa hal menjadi catatannya. Sepakat dengan Denny, Bens mengungkapkan, gairah semangat indie akan semakin berkembang di tahun baru ini. Para musisi indie makin sering tampil dalam konser atau bahkan merilis album. Sementara untuk jenis musiknya bisa bermacam-macam. Tampilannya pun lebih banyak berbentuk band karena lebih mudah. ‘’Sifat band itu mandiri karena aransemen dan lirik dibuat sendiri, sehingga cost produksinya lebih rendah. Makanya nanti di tahun 2009 masih akan terus bermunculan,’‘ ungkap Bens.

Tentang pengaruh krisis global terhadap industri musik Indonesia, diakui bakal mengakibatkan banyak label kesulitan memproduksi album. Beberapa label besar saat ini justru sudah ‘kegemukan’ karena membawahi banyak sekali artis musik baru.

Oleh karena kesulitan ekonomi yang melanda saat ini, label harus benar-benar memilih musisi mana yang memang layak untuk diproduksi albumnya. ‘’Hal inilah yang bisa membuat produksi berkurang,’‘ ujar Bens.  Karena situasi itu, Bens menyarankan agar para musisi nantinya bisa membuat master sendiri, lalu mencari investor yang mau menangani produksi, baru melangkah pada label untuk pemasarannya.

Jurus Bertahan di Tengah Badai
Tak bisa dimungkiri, penjualan album dalam bentuk fisik (kaset dan CD), telah menunjukkan tren menukik sejak tiga tahun terakhir. Data terakhir dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) menunjukkan hal itu. Sebagai gambaran, pada tahun 1997 angka penjualan album masih mencapai sekitar 90 juta keping. Sebelumnya, album yang terjual di tahun 2007 mencapai 19 juta, dan 24 juta keping pada 2006. Sementara sampai November 2008, baru sekitar 11 juta keping terjual. Banyak hal menyebabkan terjadinya fenomena itu.

Selain masih maraknya pembajakan, juga munculnya jenis media baru, yakni pemutar musik digital yang semakin mudah diperoleh. Menghadapi tantangan yang masih bakal muncul tahun 2009, Bens Leo menyarankan agar manajemen dalam grup musik, grup vokal atau penyanyi solo, semakin diperkuat. Inovasi-inovasi harus selalu dimunculkan agar pendengar tidak cepat bosan. Tapi meski RBT masih menjadi jalan keluar untuk menghimpun dana, dia tetap yakin bahwa album fisik tidak akan hilang.

‘’Kita tidak boleh memutus tradisi merekam atau mencetak album karena itu adalah salah satu bukti eksistensi seorang musisi. Meski sekarang sudah serba digital, tapi bentuk fisik masih sangat penting,’‘ paparnya. Denny Sakrie justru kian prihatin. Kini, tanpa harus membeli album musik, seseorang sudah bisa menikmati alunan lagu dari pemutar musik MP3 setelah mengunduh di sana-sini atau membeli satu keping CD berisi ratusan lagu dari berbagai jenis musik dalam format MP3.

‘’Musik itu hiburan. Jadi, kalau bisa dapat hiburan dengan harga yang lebih murah, mengapa harus beli yang mahal,’‘ kata Deny memperkirakan perilaku masyarakat Indoensia terhadap musik. ‘’Apalagi saat ini kondisi semakin sulit sehingga orang akan memburu yang paling murah. Tidak semua orang music minded, urusan perut lebih penting.’‘ Karena itulah, hingga tahun 2009 ini, ring back tone(RBT) masih menjadi idola bagi insan musik untuk tetap hidup. ‘’Bisa dibilang RBT itu penyelamat industri musik,’‘ kata Denny.

Selain RBT, pemusik juga masih bergantung pada konser-konser untuk mendapatkan uang. Ditambah lagi dengan keikutsertaan menjadi ikon iklan atau melakukan penjualan merchandise. Bukan hanya itu, para pemusik juga mulai menggunakan berbagai macam media untuk berpromosi melalui internet. ‘’Namun, tetap saja, konser masih menjadi acuan karena di Indonesia ini internet kanbelum menyentuh semua kalangan,’‘ ujar Deny. (kim)

Alexa

Posted: February 14, 2009 in musik

Alexa Meraih Mimpi
NAMA MEREKA BERMAKNA SEORANG DEWI YUNANI YANG MERUPAKAN PELINDUNG PARA PRIA.

Semuanya bermula dari sambungan telepon. Suatu ketika, Adhika Prabu Aprianto atau akrab disapa Jmono menghubungi Nur Satriatama Moersid alias Satrio, mantan gitaris Maliq & D’essential, kawan lamanya yang bertemu sekitar empat tahun lalu ketika masih membantu grup musik bernama Parkdrive. Mereka pun membicarakan sebuah grup musik yang mampu bertahan lama di belantika musik dan terdiri atas orangorang yang bermain musik untuk musik itu sendiri dan juga untuk orang banyak.

Konsep yang dibicarakan oleh Jmono dan Satrio itu kemudian berkembang hingga dua buah lagu berjudul Jangan Kau Lepas dan Maafkanlah tercipta. Yakin dengan visi yang mereka usung, perburuan personel pun dilanjutkan. Telepon genggam milik Fajar Arifan berdering. Kala itu dia masih bermain dengan grup musik metal bernama Stepforward. Dari sebuah obrolan tentang musik yang mereka inginkan, Fajar kemudian memutuskan untuk bergabung. Berlanjut dengan kesediaan Rizki Syarif untuk bergabung mengisi posisi gitar. Struktur band pun mulai lengkap: Jmono sebagai bassis, Satrio dan Rizki untuk gitar, serta Fajar pada drum. ”Masingmasing kita sebenarnya tidak saling kenal, tapi berawal dari Jmono yang kenal kita semua,” kata Fajar.

Yang masih kosong adalah posisi vokalis. Untuk mengisi posisi tersebut, mereka kemudian mengontak Ananda Riztantio alias Aqi yang saat itu masih sering manggung bersama grup musik akustiknya. Suatu malam empat orang yang sudah tergabung lebih dahulu itu datang dalam salah satu live performance Aqi. Seusai manggung, mereka kemudian membicarakan tentang konsep grup musik itu. ”Malamnya kita ngobrol, besoknya langsung rekaman,” ujar Aqi.

Akhirnya, pada 13 September 2007, Alexa terbentuk. Mereka menyimbolkan diri bak seorang balita di belantika musik. Hal ini kemudian mereka tuangkan dalam sampul album perdana mereka berupa seorang anak kecil dengan sayap kupukupunya sedang menatap ke atas. ”Meski baru, kita ingin meraih mimpi bersama dan terbang tinggi dengan mimpi-mimpi itu,” kata Fajar.

Tentang nama Alexa itu sendiri, menurut Fajar, merupakan hasil dari pencarian yang terus menerus gagal. ”Kita sempat bikin daftar nama band, tapi jelek dan aneh semua. Terus coba pakai nama orang tetap aneh juga, lalu kita putuskan untuk pakai nama perempuan saja. Daftar dibikin dan nama Alexa ini yang paling sreg,” kata Fajar.

Makna nama itu kemudian mereka cari di internet. Ternyata, Alexa adalah seorang dewi Yunani yang merupakan pelindung para pria. Selain itu, tujuan penggunaan nama perempuan adalah sebagai penyeimbang karena personel grup musik itu semuanya lakilaki. ”Kalau kita sudah laki-laki semua terus pakai nama laki-laki malah kesannya tambah sangar. Buat menghargai perempuan juga,” ujar Satrio. c62

Lirik Dulu, Musik Kemudian
Lagu Jangan Kau Lepas tercipta dari lirik lagu yang tuntas dalam waktu kurang dari dua menit. ”Inspirasinya dari Rizki yang nggak pernah mau disentuh sama cowok,” kata Satrio sambil tertawa bersama anggota Alexa yang lain. Setelah lirik jadi, dia kemudian mengisi lagunya. Fajar mengisi drumnya, Jmono untuk bass, kemudian diberikan pada Rizki untuk gitar, dan terakhir pada Aqi yang menyanyikan dengan gaya dia sendiri. ”Hampir semua proses pembuatan lagu seperti itu. Lagu dilempar-lempar untuk diisi musiknya sesuai dengan kesukaan masing-masing,” papar Satrio.

Saat masuk studio, semua melakukan idealismenya masingmasing. Mereka memainkan musik dengan cara mereka sendiri lalu digabungkan. Ternyata, justru dengan cara itu, mereka menyukai lagu-lagu yang dihasilkan.

Dari sisi cerita, lagu tersebut sebenarnya ingin menyampaikan bahwa cinta itu tidak hanya kasih sayang antara dua orang yang sedang berpacaran, tetapi juga pada pasangan kakek nenek yang terus saling mencintai hingga tua. Pun kasih sayang untuk teman dan saudara. ”Hal itu diterjemahkan dengan baik dalam video klip kita,” kata Aqi. c62

Kekuatan Power Pop
Bila mendengar musik Alexa, tak dimungkiri ada cita rasa yang berbeda di sana. Tak pelak, inilah pengaruh perbedaan latar belakang bermusik personelnya. ”Si Jmono agak dance, Satrio agak jazzy, Rizki yang lebih rock n roll, Aqi yang bluesy alternatif dan gue sendiri yang metal,” kata Fajar, sang penggebuk drum.

Dari warna-warni itu, mereka lantas berpadu tanpa menghilangkan ciri masing-masing. ”Kalau musik Alexa ini didengarkan terpisahpisah, maka akan kelihatan kalau drumnya itu keras, bassnya dance, gitarnya dari Rizki yang rock n roll, dan Satrio ada lead jazzy-nya. Semua digabunggabung. Yang ditonjolkan ya gado-gadonya itu,” lanjutnya.

Dari hasil gado-gado itu, pada awalnya mereka belum mengetahui jenis musik yang mereka mainkan. ”Kita bikin musiknya dulu sampai kelar, sampai mau jadi album baru.

Setelah itu mikir, kalau ditanya orang musiknya apa nih?” ungkap Satrio. Setelah mencari referensi, mereka menemukan istilah power pop yang sesuai dengan karakter mereka. ”Musik pop yang berpower karena ada rock, blues, bahkan dance. Pop, tapi ada kekuatan dari masing-masing personelnya.” Meski berbeda-beda, ”Tapi, rumahnya adalah Alexa,” kata Aqi, sang vokalis. (kim)

Minerva

Posted: February 14, 2009 in musik

Gesekan Rock Minerva
MEREKA DIBENTUK UNTUK MENGHADIRKAN WARNA BARU DALAM INDUSTRI MUSIK INDONESIA.

Lampu panggung belum sepenuhnya menyala ketika empat orang gadis mulai menapaki tangga menuju panggung. Seketika lampu menyala menyorot empat orang gadis yang masingmasing membawa alat musik gesek. Seorang penonton berteriak, ”Ngapain Mbak, main campur sari?”

Yang lain, meneriakkan sederet namanama gadis mencoba memanggil string quartet itu. Teriakan dan siulan yang membahana itu mendadak meredup dan terhenti ketika dentuman suara musik berpadu dengan gesekan biola mereka mengisi lokasi konser LA Light Indiefest 2008 itu. Para penonton yang semula masih berpencar ke sana sini, langsung berkumpul di depan panggung menikmati permainan biola dengan nada-nada cepat itu. Satu gesekan terakhir dimainkan, tepukan tangan penonton pun membahana.

Minerva dibentuk memang karena adanya ajang pergelaran musik independen tahunan itu. Pada pertengahan tahun 2008 itu, Aminoto Kosin, seorang musisi, arranger, produser sekaligus konduktor dalam Aminonto Kosin Orchstra, bersama dengan kawannya, Irwan Edianto, ingin memberikan warna baru dalam perkembangan musik Indonesia.

Menjelang pementasan, mereka kemudian melakukan audisi untuk membentuk sebuah string quartet yang nantinya akan berkolaborasi dengan bandband independen seperti Koil, BurgerKill, Seringai dan Mocca yang merupakan pengisi acara pula dalam ajang itu. ”Waktu itu pemberitahuan audisinya hanya dari mulut ke mulut saja,” kata Cindy Clementine.

Setelah proses audisi yang panjang, akhirnya berhasil terkumpul Achdinanti Victoria Achjuman (Ava) yang bertugas memainkan violin, Cindy Clementine (Cindy) yang memegang instrumen violin, serta Sanjung Prima Cahaya Dewi (Sanjung) dan Ayu Gayatri (Gaya) pada posisi viola.

Mereka bukannya tidak mengenal satu sama lain. Sebelumnya, mereka sering bertemu saat bermain dalam ‘Rockestra’ garapan Erwin Gutawa atau pada pergelaran orkestra yang lain. Dari pengalamannya itu juga, mereka tidak terlalu kesulitan untuk memainkan musik-musik cadas dalam ajang band independen tersebut.

Setelah terbentuk mereka kemudian terus menerus berlatih selama satu bulan. ”Sebenarnya, yang kita latih itu penguasaan penggunaan efeknya,” kata Cindy yang lebih sering didaulat sebagai juru bicara Minerva. Tujuannya, agar biola yang identik dengan musik klasik bisa menyatu dengan tipe-tipe musik rock dan metal. Berbagai macam distorsi dan permainan efek pun masuk dalam kamus mereka.

Konsep menggabungkan aliran musik cadas dengan musik klasik ini memang bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Metallica pernah menampilkan kolaborasi ini bersama dengan San Fransisco Symphony Orchestra dalam arahan Michael Kamen pada 1999. Erwin Gutawa juga pernah mengusung konsep ini dalam Rockestra tempat keempat personel Minerva itu pernah tergabung di dalamnya. Bedanya, tidak satu orkestra penuh yang bermain bersama band beraliran keras. Hanya ada empat orang gadis dengan menggunakan alat musik gesek berada dalam satu panggung bersama dengan band-band cadas.

Namun, justru semenjak tampil dalam pentas bersama-sama dengan band-band cadas, Minerva pun dibawa ke ranah rock yang lebih variatif dan tidak melulu klasik. ”Memang biar beda aja,” kata Ava menimpali. Menurutnya, dari segi teknik permainan tidak ada yang berubah. Namun, untuk lebih membawa nuansa efek, mereka kemudian lebih mengeksplorasi efek-efek suara. ”Sebenarnya seperti main gitar saja,” tambahnya. c62

Bermain dengan Feeling
Sekilas tidak ada yang berbeda dalam komposisi personel Minerva dengan string quartet yang lain. Bahkan, ada pula yang menyamakan mereka dengan kelompok serupa, Bond, yang berasal dari luar negeri. Tapi tunggu dulu, mereka memang sama-sama terdiri atas empat orang gadis, tetapi komposisi alat musik gesek yang dipakai sedikit berbeda.

Ava menjelaskan, pada string quartet biasanya terdiri dari dua violin, satu viola, dan satu cello. Dua violin pertama digunakan untuk mengisi suara sopran lalu viola untuk nadanada alto sedangkan cello untuk bass. Pada Minerva, posisi cello digantikan dengan viola. Tantangan untuk mengisi suara register rendah dengan menggunakan viola ini diletakkan di pundak Sanjung. Untuk menghasilkan suara-suara yang lebih nge-bass, efek pun menjadi tumpuan.

Untuk Sanjung sendiri, viola merupakan alat musik gesek yang dipelajarinya secara otodidak. Sebelumnya, dia lebih banyak memainkan violin selama masih bersekolah di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Viola baru dipelajarinya ketika semester tiga di bangku kuliah. Bodi viola yang lebih besar dan senar-senarnya yang lebih tebal membuatnya harus meregangkan jari lebih lebar dari biasanya untuk menekan garis-garis senar saat akan digesek.

Tentang alat musik biola ini, keempat personel Minerva serempak menyebutnya sebagai alat musik yang sulit untuk dipelajari. Cindy mengatakan bahwa bermain biola itu lebih banyak menggunakan feeling. ”Sehingga kalau ada salah sedikit saja seterusnya bisa salah,” ujarnya.

Oleh karena itu posisi jari juga harus benar, karena biola itu termasuk alat musik yang fretless atau tidak ada garis-garis bantu seperti pada gitar yang tersusun vertikal di bawah senar.

Pendapat ini bukan asal-asalan dari mereka karena keempat personel itu sudah bersentuhan dengan alat musik biola sejak mereka masih kecil. Cindy sejak masih duduk di sekolah dasar sudah belajar main biola dari ibu dan kakaknya. Bahkan, Ava yang mengikuti sekolah musik di Indonesian Youth Orchestra sejak kecil sudah bermain di sebuah hotel sebagai pengisi musik saat masih SMA. Indonesian Youth Orchestra adalah milik ibunda Gaya, sehingga dia juga ikut belajar di dalamnya.

Sanjung sendiri memang berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah pengajar musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan ibunya mengajar di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Meski awalnya dipaksa bermain musik, Sanjung akhirnya bisa menikmati permainan biola. c62

Bumble B, Bukan Bumble Bee
Saat akan mengisi pentas LA Light IndieFest, Aminoto Kosin telah menyiapkan lagu khusus untuk Minerva. Lagu klasik Bumble Bee karya Nikolai Rimskykorsakov itu digubah menjadi lagu dengan nada-nada cepat yang lebih keras dipadu dengan dentuman perkusi yang mengajak tubuh bergoyang. Untuk Minerva, lagu itu kemudian berjudul Bumble B. ”Soalnya kita mainnya di tangga lagu B minor,” ujar Cindy. Lagu ini kemudian menjadi lagu hits yang selalu dimainkan setiap kali pentas diatas panggung.

Dari lagu ini, memang sangat tampak sentuhan Aminoto Kosin dalam lagu-lagu Minerva. Musisi yang satu ini lebih berperan sebagai music director mereka. Dia yang mengatur harmonisasi empat alat gesek tersebut, meski setiap personel dari string quartet itu bisa juga melontarkan masukan-masukan untuk memberikan warna dalam musik mereka. ”Sesekali Koh Amin (panggilan akrab Aminoto Kosin) kasih nada dasarnya saja, kita kemudian yang mengisi,” kata Cindy. (kim)

Letto

Posted: February 14, 2009 in musik

Sayap-sayap Letto
UNTUK MEMBUAT LIRIK, MEREKA MEMILIH KATA-KATA YANG MENGGUGAH.

Sekitar 12 tahun yang lalu, Patub, Arian, dan Noe adalah teman satu sekolah di SMA 7 Yogyakarta. Arian dan Noe banyak terlibat dalam kegiatan kesenian seperti teater dan pantomim. ”Bahkan, saat itu saya belum kepikiran untuk main band,” kata Sabrang Mowo Damar Panuluh atau cukup disapa Noe.

Belakangan, mereka mengejar mimpinya masing-masing. Noe malah terbang ke Kanada untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Matematika dan Fisika. Sementara Patub dan Aris bertemu kembali pada tahun 1999. Saat itu lokasi tempatnya nongkrong di daerah Kasihan, Bantul, Yogyakarta, akan diubah menjadi sebuah studio musik. Mereka kemudian diminta untuk mengerjakannya. ”Pokoke waktu itu bagaimanapun caranya harus jadi studio dan bukan tempat penyimpanan sepatu,” ujar Patub berkelakar.

Meski terpisah oleh jarak, dalam pengelolaan studio baru itu, Patub masih sering berkomunikasi dengan Noe melalui dunia maya. Mereka banyak berdiskusi tentang sound engineering dan berbagai hal tentang audio. Sesekali Noe mengirimkan buku yang berkaitan dengan hal itu. Mulai saat itu juga mereka mulai belajar mengolah suara dengan komputer. ”Wah, dari yang dulu cuma bisa on off aja, sekarang sudah bisa bongkar, tapi nggak bisa masang,” ujar Patub yang langsung mengundang gelak tawa rekan-rekannya yang lain saat berbincang dengan Republika di salah satu pojok ruangan Musica Studio, tempat mereka bernaung.

Dari sekadar belajar, mereka pun mencoba membuat dan mengolah lagu sendiri. ”Daripada merusak lagu orang yang lebih baik belajar pakai lagu sendiri,” kata Patub. Dengan membuat lagu sendiri, mereka lebih bebas untuk mengatur komposisinya karena hanya akan dikonsumsi pribadi. Saat itu mereka hanya ingin belajar dan belum terpikir untuk membuat band. Sekitar empat lagu berhasil mereka ciptakan, yang salah satunya berjudul Sebenarnya Cinta.

Lagu-lagu buatan sendiri itu kemudian diminta oleh teman-teman nongkrong mereka yang memutarnya untuk didengarkan bersama-sama di berbagai tempat. Lagu-lagu yang disebarkan oleh teman-teman mereka itu akhirnya sampai ke salah satu perusahaan rekaman di Jakarta, Musica Studio. Perusahaan itu pun menawarkan rekaman pada pria-pria yang haus belajar tentang musik ini.

Akan tetapi, untuk memasuki jenjang itu, mereka harus mempunyai identitas sebagai sebuah kelompok. Akhirnya, seiring dengan kepulangan Noe dari Kanada, pada tahun 2004 grup band bernama Letto pun muncul dengan formasi Noe sebagai vokalis, Patub (Agus Riyono) memainkan gitar, dan Arian (Ari Prastowo) yang memegang bass. Sedangkan Dhedot (Dedi Riyono) yang didapuk sebagai drummer masuk belakangan.

Mereka pun mengambil nama Letto secara spontan. Kata itu sendiri tidak akan ditemukan maknanya di berbagai kamus. Mereka sengaja mencari sebuah kata tanpa arti dan tidak merujuk pada apa pun. Makna kata Letto adalah perwujudan dari grup band yang mereka bentuk itu. ”Maksudnya, arti kata itu akan diisi dengan apa yang telah kita lakukan, dengan perjalanan serta proses kreatif kita,” ujar Patub.

Talang air
Lirik-lirik Letto yang puitis yang bermakna dalam boleh dibilang membuatnya berbeda dengan grup band kebanyakan. Meski begitu, Noe tidak ingin mendefinisikan Letto sebagai grup band dengan lagu-lagu puitis. ”Tentang definisi lirik puitis saja sampai sekarang kita tidak tahu. Pelabelan itu datang bukan dari kita, tapi dari pendengar atau orang yang memberikan komentar. Kita tidak pernah secara eksplisit mengatakan bahwa kita itu puitis,” ungkapnya.

Tentang inspirasinya dalam membuat lirik-lirik yang dinilai puitis itu, Noe kemudian bercerita tentang prosesnya dalam membuat lirik. Dia sebagai penulis lirik lebih senang dianalogikan sebagai talang air. ”Kalau inspirasi itu seperti hujan dari langit, kita hanya menangkap air itu kemudian mengalirkannya seperti sebuah talang,” ujarnya.

Dia tidak akan menggunakan kata-kata aneh dalam liriknya. Agar dimengerti, kata-kata sehari-harilah yang menjadi pilihannya. Baginya, yang terpenting adalah pemilihan kata yang menggugah untuk lirik itu. Sebuah kata dipilih karena dinilai mampu mewakili pesan yang hendak dia sampaikan. Sebuah kata yang bisa menunjukkan nuansa yang ingin dia ungkap serta sayap-sayap yang ingin dia kembangkan.

Sayap-sayap itu merupakan makna-makna tersembunyi yang sengaja dihadirkan dalam setiap larik. Noe kemudian memberikan contoh seperti lagu mereka Sandaran Hati yang awalnya orang mengira lagu ini tentang cinta. Namun, beberapa bulan kemudian, mereka memahami maknanya yang tentang Ketuhanan. Atau, lagu Sebelum Cahaya yang setelah delapan bulan sejak peluncurannya baru dimengerti bahwa lagu itu tentang shalat malam. ”Kita memang ingin lagu itu tidak dipandang dari satu sisi saja. Lagu itu bagus kalau bisa diambil maknanya bagi yang mendengar atau membaca,” ujar Noe. kim

Demi Menutup ‘Lubang Di Hati’
Sejak kemunculannya di belantika musik Indonesia, penulisan lirik Letto banyak dikerjakan oleh Noe yang juga merupakan putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu. Lirik, bagi mereka, tidak sekadar kata yang kemudian dinyanyikan, tetapi juga merupakan permainan yang banyak mengandung makna. Simak saja penggalan lagu Lubang Di Hati ini :

‘Ku buka mata dan ku lihat dunia ëtlah ku terima anugerah dunia Tak pernah aku menyesali yang ku punya Tapi ku sadari ada lubang dalam hati…’

”Lagu ini sebenarnya merupakan konsep lama,” ujar Noe. Konsep yang dia maksud bukan merujuk pada komposisi lagu atau lirik-lirik yang dituliskan itu, tetapi lebih mengarah pada sebuah gambaran kehidupan manusia yang selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dalam hal ini dianalogikan sebagai lubang di hati. Lalu berbagai cara dilakukan manusia untuk menutup lubang di hati itu. ”Mereka mencari penutupnya dengan cinta, harta, kekuasaan atau kesenangan duniawi,” lanjutnya. Melalui konsep inilah, lagu ini justru menjadi berkesan bagi Noe dan kawan-kawannya. Tak ayal, lagu ini kemudian dijadikan single pertama untuk memasarkan album ketiga mereka.

Memilih Natural
Jangan tanyakan soal aliran musik pada Letto. Mereka bakal memilih untuk menjawab dengan sederhana, ”Kita sih biarin begitu saja,” ujar Patub. Dalam bermusik, mereka lebih mengutamakan proses yang berjalan hingga album tersebut akhirnya diluncurkan. ”Metode yang kita pakai itu natural,” tambahnya.

Natural yang berarti tidak adanya tekanan bagi setiap personel dalam penggarapan setiap lagu yang bakal mengisi album- album mereka. Semua usaha dibuat mengalir saja seperti air. Bahkan, setelah album itu terpampang di rak-rak setiap toko musik, mereka tidak akan banyak berkomentar tentang hasil akhir yang ingin mereka dapatkan. ”Kita justru berharap hasil akhirnya itu ada kejutan yang kita sendiri pengen tahu,” ungkapnya yang juga disetujui oleh Noe, Arian, dan Dhedot.

Seperti ketika lagu pertama mereka, I’ll Find a Way, yang dipublikasikan secara luas lewat album kompilasi disambut biasa saja oleh pasar. Pun ketika saat album perdana mereka Truth, Cry, and Lie meluncur dan ternyata menuai respons sangat positif.

Maka, falsafah natural pula yang mereka terapkan untuk album ketiga, Lethologica. Secara musikal, album teranyar ini masih tetap simpel dan penuh dengan permainan kata-kata. Komposisi musiknya cenderung tidak jauh berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun, inilah Letto. (kim)