Archive for the ‘Kim’s Journey’ Category

Orang bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membuka kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Siapa sangka, dari pertemuan itu akan ada kisah menarik yang diceritakan. Seperti yang terjadi di malam itu.

Pada kunjungan keduanya, dua mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi ternama di Solo itu kembali berdiskusi soal kegiatan yang akan dilakukannya di akhir bulan. Menjelang akhir pembicaraan terungkap bahwa salah satunya adalah keturunan dari pedagang sate daging sapi di Lapangan Karang, Kotagede, Jogjakarta. Warga Jogja mengenalnya sebagai Sate Karang. Disebut Sate Karang karena lokasinya di Lapangan Karang, sebenarnya ada nama yang terbubuh di spanduk warung tenda sederhana itu. Tapi sayangnya, saya lupa.

Kenapa pertemuan tersebut menjadi spesial? karena Sate Karang adalah salah satu makanan penuh memori bagi saya dan hal menarik lainnya adalah penyajiannya yang unik tetap dipertahankan.

Masa SMA saya tidak jauh dari menu Sate Karang. Menu spesial yang bisa saya icipi setelah menabung beberapa saat. Wajar, ketika itu masih anak sekolah dan hanya bergantung pada uang jajan.

Dahulu, sekitar 15 tahun yang lalu, Lapangan Karang masih semarak. Pada saat matahari masih bersinar, lapangan tersebut tampak seperti lapangan pada umumnya, digunakan sebagai sarana olahraga oleh sekolah atau masyarakat setempat. Ketika matahari berganti bulan, tempat itu seakan disulap menjadi salah satu sentra kuliner di sudut daerah Kotagede. Deretan pecel lele, pedagang minuman hangat, serta Sate Karang tentunya. Bersama dua sahabat saya, kuliner Lapangan Karang sering menjadi saksi cerita-cerita kami soal gadis yang sedang ditaksir, masa depan, dan mimpi-mimpi kami yang lain.

Selepas SMA, Lapangan Karang menjadi semakin jarang saya kunjungi. Namun, memori itu masih tetap ada, hingga belasan tahun kemudian setelah merantau di Jakarta cukup lama, saya kembali kesana. Usulan sahabat saya yang lain untuk kembali ke tempat itu.

Ketika mobil sudah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, saya kemudian melihat sekeliling. “Lapangan Karang sudah berubah”, gumamku dalam hati. Entah karena hari itu hujan atau alasan lain, lokasi yang pada awalnya ramai dengan penjaja makanan, sudah berkurang cukup signifikan. Hanya tersisa pedagang Sate Karang yang masih konsisten melayani pelanggannya.

Konsisten, kata ini juga yang terbersit saat kami disuguhkan menu pesanan kami. Sate daging yang disajikan masih menggunakan cara yang sama sejak belasan tahun lalu, sejak terakhir saya mampir kesana. Daging sapi yang tampaknya telah diungkep dengan bumbu tertentu, kalau dugaan saya ada sedikit buah asam dan gula Jawa. Hasilnya, daging yang telah dibakar memberikan efek karamel yang khas dan rasa manis yang cukup dominan.

salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti 'cuko'

Salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti ‘cuko’

Sate yang telah dibakar matang disajikan dengan tiga cara, yaitu dengan bumbu kacang, bumbu kecap, dan bumbu kuah. Untuk yang terakhir inilah yang memberikan nuansa unik pada Sate Karang. Daging dilepaskan dari tusukannya, lalu kemudian disiram dengan kuah pedas manis yang hampir mirip dengan ‘cuko’ pada pempek. Kombinasi ini selain memberikan rasa yang berbeda, juga mampu mengembalikan memori saya ketika SMA. Rasa memang menurut saya adalah satu saklar memori yang efektif. Kita tumbuh dengan rasa yang melekat di lidah, ada beberapa jenis rasa yang kemudian mampu membangkitkan momen tertentu. Oleh karena itulah, orang bisa saja tumbuh besar di negara lain, tetapi pada satu titik mereka akan kangen dengan rasa dari negaranya.

Kembali ke Sate Karang. Keunikan tidak berhenti pada penyajian dagingnya. Karbohidrat yang menemani sate, sebut saja lontong, disajikan dengan sayur tempe yang berkuah santan. Sekilas tampak seperti opor atau ketupat sayur, akan tetapi dari sisi rasa justru lebih dekat pada opor. Sate berkuah seperti ini jarang kita temui. Hal itulah yang menjadikan Sate Karang tetap istimewa di hati.

lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Advertisements

Saat itu sekitar pukul 7 malam waktu London, ketika Blackberry hitam saya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Mata masih setengah terlelap ketika membaca pesan tersebut. Ya setengah terlelap, karena musim dingin berarti malam jauh lebih cepat dan saya pun lebih cepat mengantuk. Di bulan Februari matahari masih terbenam pada pukul 16.00.

Kampus Brunel penuh salju (hanya butuh 10 menit berjalan dari asrama menuju kampus ini)

“Salju turun…” tertulis jelas dalam pesan itu. Saya lupa isi lengkap pesan tersebut akan tetapi dua kata itu seakan menjadi pecutan yang membuat saya melompat dari kasur dan membuka tirai jendela. Benar saja, butir-butir putih itu turun selayaknya hujan menutupi tanah dan ranting-ranting pohon. Keajiban alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya, selain bunga-bunga es yang mengendap di kulkas rumah saya di Jogja. Butiran-butiran salju itu menyihir pikiran saya, membawa pada perjalanan hidup seorang pria biasa-biasa saja yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk bersekolah ke luar negeri melalui beasiswa Chevening. Beasiswa yang diberikan langsung oleh pemerintah Inggris.

Ya, saya adalah seorang pria biasa saja, tanpa nilai akademik yang luar biasa. Sejak SMA, saya tidak pernah mendapatkan gelar juara. Kecuali setelah duduk di kelas tiga IPS yang itu juga kaerna tidak ada matematika dan fisika dalam daftar pelajaran yang diujikan. Menghitung sudah menjadi momok paling menakutkan entah sejak kapan. Jika orang bisa dengan cepat menjawab soal-soal perkalian, hingga saat ini saya masih menggunakan cara yang bisa dibilang berbeda. Jika ditanyakan 7 x 8 maka cara saya menjawab adalah dengan menambahkan 49 (hasil dari 7 x 7) dengan 7 lagi. Jadi di dalam otak saya terbayang ada 8 buah angka 7 yang harus ditambahkan. Well, meski mungkin cara ini cenderung lambat, tapi saya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Memasuki perkuliahan, tidak banyak yang ingin saya capai. Cukup hanya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa saja. Jika kemudian saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, itu mungkin karena kesalahan sejarah saja. Dari sisi akademis tidak ada yang mencolok dari transkrip saya. Impian untuk sekolah ke luar negeri pun ketika itu belum terpikir. Kerjaan saya hanya kuliah, duduk di bawah pohon rindang sambil berdiskusi kesana kemari dengan teman-teman hingga saatnya pulang menjelang maghrib. Tidak banyak yang terjadi selama bangku kuliah.

Hingga suatu saat satu persatu saya melihat teman-teman saya mengikuti tes untuk bisa kuliah singkat ke Italia. Salah satu teman sekelas berhasil dan dikirim ke Italia. Waow, tidak terbayang dalam diri saya untuk bisa keluar negeri seperti itu, pasti hanya orang pintar yang bisa melakukannya. Rasa pesimis itu memang muncul, tapi disisi lain ada rasa iri yang mulai menggelitik. Kenapa mereka bisa dan saya tidak. Tapi rasa ingin bisa sekolah ke luar negeri itu hanya berlalu sesaat. Saya kembali menjadi mahasiswa biasa-biasa saja.

Gelora untuk bisa kuliah di luar negeri, kembali muncul ketika Kakak pertama saya berhasil mendapatkan Chevening dan kuliah di St. Andrew yang katanya salah satu universitas terbaik dan tempat Pangeran Williams bersekolah. Cerita yang dibawa oleh kakak serta foto-foto tentang bagaimana eropa melalui sudut pandang kameranya, memberikan semacam semangat bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa Chevening tersebut, kita hanya perlu mencoba saja. Saat itulah status saya sebagai mahasiswa biasa berubah menjadi mahasiswa pemburu beasiswa.

Setiap sebelum masuk kelas, saya usahakan untuk membaca papan pengumuman dekat dengan kantor jurusan Sastra Prancis, sekedar untuk mencari informasi beasiswa. Selain itu, saya kemudian mendaftar sebagai anggota milis beasiswa untuk bisa selalu mendapatkan kabar terbaru soal kesempatan beasiswa. Hal ini terus berlangsung hingga saya lulus dan bekerja menjadi wartawan di salah satu media nasional.

Tapi sebagai pemburu beasiswa, saya mungkin berada pada kasta paling bawah karena kadang masih malas-malasan untuk mencoba. Pemicu malas ini adalah kesibukan bekerja dan saya belum pernah mengambil tes IELTS sebelumnya. Otomatis saya belum punya nilai yang bisa menjadi pengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Padahal nilai itu sering sekali muncul menjadi salah satu syarat utama dari berbagai macam program beasiswa.

Nah, kenapa saya belum pernah tes IELTS, itu karena saya kurang percaya diri dengan bahasa Inggris saya. Bisa dikatakan seumur hidup saya belum pernah mengambil les bahasa Inggris yang benar-benar mengajarkan grammar dan sebagainya. Saya hanya belajar melalui PS (Playstation) terutama dengan game RPG (role playing game). Panjang jika saya harus menjelaskan tentang RPG itu tapi pada dasarnya saya harus mengerti cerita dari game tersebut untuk bisa menikmati, memainkan, dan menyelesaikan game tersebut. Saya masih ingat RPG pertama saya adalah Breath of Fire, cerita game ini menarik sehingga setiap kali memainkannya kamus tebal selalu berada di samping saya. Begitulah cara saya mengerti bahasa Inggris dan menambah kosa kata. Cara yang tidak biasa memang tapi paling tidak saya bisa membuktikan bahwa saya bisa.

Sadar dengan kemalasan saya, Kakak pertama selalu kembali memberi semangat. Menceritakan kembali tentang keuntungan bersekolah ke luar negeri. Kakak pertama saya ini memang menjalankan perannya sebagai sulung dengan sangat baik. Memberikan standar contoh yang tinggi sehingga adik-adiknya bersemangat untuk bisa seperti dia. Dalam soal pendidikan, keluarga (bapak dan ibu) tidak terlalu banyak memberikan masukan. Mereka lebih cenderung membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai, asalkan bertanggung jawab. Coba bayangkan siapa yang tidak bertanya-tanya jika anaknya masuk Sastra Prancis, mau jadi apa anak mereka nanti. Tapi tidak dengan orang tua saya, mereka membebaskan saja asalkan saya suka. Bapak dan Ibu lebih menekankan soal agama, mereka sangat ketat untuk hal ini. Beruntung juga, karena sampai sekarang insya Allah saya tidak pernah bolong sholat lima waktu.

Dengan kondisi orang tua seperti itu, semangat mengejar pendidikan ke luar negeri hanya datang dari Kakak pertama, dan dia melakukannya dengan sangat baik. Mulai lah kuping saya terasa panas ketika mendengar cerita-cerita dia dan mengambil kursus persiapan IELTS, kursus pertama dalam hidup saya. Berharap diajarkan juga tentang berbahasa Inggris yang baik dan benar, ternyata kursus itu hanya mengajarkan trik cara menjawab soal IELTS dan memberikan kesempatan murid-muridnya untuk berlatih. Hasilnya, ketika saya melakukan tes IELTS, hasilnya 6,5 lumayan lah.

Mendapatkan nilai IELTS bukan berarti saya bisa langsung mendapatkan beasiswa. Saya masih harus berusaha untuk mendaftar. Sejak awal, tujuan saya hanya Chevening, ingin mengikuti jejak kakak. Selain itu, proses beasiswa ini cenderung lebih mudah dari yang lain-lainnya. Hanya mengisi aplikasi online dan menunggu panggilan. Berbeda dengan beasiswa lain yang harus mencatumkan surat izin dari perusahaan dan lain sebagainya. Jika ditotal, usaha saya untuk mendaftar Chevening sudah tiga kali, yang artinya tiga tahun. Usaha itu dimulai sejak saya lulus kuliah di tahun 2007. Usaha pertama gagal karena saya tidak memiliki IELTS dan pengalaman kerja yang kurang. Tahun kedua saya mencoba lagi, dengan bekal nilai IELTS saya tadi tapi tetap saja gagal. Tahun ketiga, yaitu di tahun 2010 saya mendaftar kembali sambil berharap tahun ini berhasil karena saya sudah memiliki nilai IELTS (yang bakal expired pada akhir 2010) dan pengalaman kerja yang memadai.

Mimpi itu akhirnya tercapai, saya sekarang bersekolah di Brunel University London dengan beasiswa Chevening

Kalau kata orang determinasi dan will power itu penting, saya bisa katakan itu benar. Paolo Choelo dalam bukunya The Alchemist banyak bercerita tentang determinasi ini, bagaimana keinginan yang kuat itu akan mendapatkan bantuan dari alam semesta. Dalam hal ini saya perlu tambahkan tidak hanya keinginan yang kuat tetapi juga doa dari orang tua dan diri sendiri. Tiga tahun mencoba dan tetap yakin bahwa Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk ke luar negeri, akhirnya mendapatkan titik terang. Di suatu siang, kabar bahwa saya berhasil lolos ke tahap wawancara untuk mendapatkan beasiswa Chevening sampai melalui sambungan telepon. Tidak tahu harus bersikap apa ketika itu, hanya kegembiraan dan rasa tidak percaya saja yang mungkin terbaca dari air muka saya. Ketika itu meski hanya lolos tahap pertama saya sudah sangat senang sekali. Langsung saya telepon Kakak pertama dan segera meminta saran untuk hal-hal yang harus dilakukan selanjutnya. Selama sebulan, baik melalui sambungan telepon atau bertemu langsung (Kakak saya tinggal di Semarang dan saya di Jakarta ketika itu) saya belajar dari dia bagaimana menghadapi wawancara itu. Kerja keras dan latihan itu memang tidak sia-sia, saya merasa lebih percaya diri ketika pada hari wawancara harus menghadapi dua orang pewawancara. Merasa hari itu sudah berusaha, saya serahkan keputusan akhir pada Allah, nothing to lose.

Sampai pada 10 Mei 2010, sehari setelah ulang tahun saya, telepon genggam saya bergetar. Sederet nomor yang tidak saya kenal muncul. Saya angkat telepon tersebut dan Alhamdulillah terderngar kabar baik bahwa saya diterima beasiswa Chevening. Momen tersebut tidak pernah saya lupakan, langsung saya sujud syukur mengucapkan terima kasih pada Allah untuk kesempatan yang diberikannya.

Well tulisan ini mungkin kurang dengan kata-kata inspiratif akan tetapi apa yang bisa saya katakan adalah jangan pernah berhenti bermimpi dan tetap berusaha. Mimpi adalah bukti bahwa kita masih memiliki harapan, mimpi ada untuk diwujudkan. Keinginan yang kuat dan usaha keras adalah kuncinya. Saya mungkin bukan orang terpintar di kelas ketika SMA dan kuliah, saya mungkin bukan reporter terbaik saat bekerja, akan tetapi saya tahu bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia, Allah pasti akan mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan hambanya. Jika dalam berusaha itu terbentur masa-masa sulit maka ingatlah Surah Alam Nasrah, (Q.S: 94). Di dalam surah tersebut Allah berkata bahwa setelah masa sulit pasti akan datang kemudahan. Kata-kata ini diucapkan sebanyak dua kali yang artinya janji tersebut bukan main-main. Percayalah setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Semoga Beruntung.

Ketika sedang mencari-cari bahan untuk membuat proposal disertasi, diantara deretan informasi yang muncul ketika tempe diketik di mesin pencari google, muncul judul artikel ‘tempe bukan berasal dari Indonesia’ (seingat saya judulnya seperti ini). Kemudian pernah juga, teman dari seorang teman berkata bahwa tempe sebenarnya bukan berasal dari Indonesia.

Dua hal tersebut membuat saya bertanya-tanya sendiri, apa benar tempe bukan dari Indonesia. Kalau benar, kenapa kita tersinggung ketika ada negara lain yang mengaku bahwa tempe dari negaranya?

Demi mencari jawaban yang menurut akal sehat saya benar, saya kemudian berselancar ria menjelajah dunia internet dan berusaha membuka diskusi dengan beberapa orang tentang tempe ini. Dari pencarian itu, saya menemukan buku lawas berjudul History of Tempeh yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi (ini link bukuny : History of Tempeh). Saya juga bertemu dengan salah seorang pemerhati tempe yang ternyata adalah orang Inggris (seharusnya, orang Indonesia yang jadi ahli tempe ya hehehehe intermezzo).

Dari dua sumber tersebut itulah (plus sumber-sumber lain tentunya) saya kemudian yakin bahwa tempe adalah benar-benar makanan asli Indonesia. Jika ada yang mengatakan bahwa tempe berasal dari China atau Jepang, saya bisa mengatakan itu kurang tepat.

Kenapa?

Alasan pertama, sangat wajar jika kemudian orang mengasosiasikan tempe dengan China atau Jepang. Tradisi dua negara itu dalam mengolah kedelai bisa dikatakan jauh lebih lama dari Indonesia. Bahkan variasi pengolahan dan fermentasi tempe mereka sangat beragam. Seperti misalnya tahu, miso, natto, soy sauce dan banyak yang lain. Dari sejarahnya (mohon saya dikoreksi jika salah) saya bisa katakan, kedua negara inilah yang mengenalkan kedelai kepada masyarakat Indonesia berabad-abad yang lalu, ketika perdagangan internasional terjadi di masa-masa kerjaan. Saat itu banyak pedagang China atau bahkan Jepang yang datang ke wilayah Indonesia dan berdagang. Kedelai mungkin menjadi salah satu barang dagangan yang diperjualbelikan. Oleh karena itulah dalam buku History of Tempeh itu disebutkan bahwa ada masa kacang kedelai itu disebut Kacang Jepun (karena berasal dari Jepang).

Ketika bangsa China berdagang di Indonesia, tidak hanya kedelai saja yang diperdagangkan. Akan tetapi pada saat itu terjadi ‘transfer’ pengetahuan tentang teknik pengolahan kacang kedelai, termasuk teknik fermentasi kedelai. Pengetahuan tersebut kemudian diadaptasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan cara masyarakat Jawa, hingga akhirnya mereka menemukan tempe dengan mengambil ragi dari daun waru. Jadi menurut saya China atau Jepang merupakan negara yang mengenalkan teknik fermentasi kedelai, sedangkan produk tempe sendiri adalah asli Indonesia.

Alasan kedua, untuk menjelaskan alasan saya yang ini, tentunya mereka yang mengerti bioteknologi pangan dan para peneliti yang sebenarnya bisa memberikan penjelasan lebih detail. Namun, dari perspektif saya, tempe menjadi makanan asli Indonesia karena ragi atau jamur rizhopus yang mengikat rebusan kedelai hingga kemudian menjadi satu bagian utuh yang disebut tempe itu hanya bisa tumbuh di Indonesia. Rizhopus Oligosporus, nama lengkap fungi itu, hanya bisa aktif dan membentuk tempe pada suhu ideal 30 atau 31 derajat celcius. Suhu tersebut merupakan suhu tipikal Indonesia. Tempe bisa terbentuk secara alami di Indonesia tanpa harus menggunakan alat khusus. Rebusan kedelai yang sudah dibalur dengan fungi tersebut, dibiarkan saja dalam beberapa hari maka akan terbentuk tempe. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar saya bahwa tempe adalah makanan asli Indonesia, karena jika dikatakan tempe berasal dari China atau Jepang, dua negara tersebut bukan beriklim tropis yang tentunya sulit untuk bisa mendapatkan suhu ideal pembuatan tempe.

Dari pengalaman rekan pemerhati tempe dari Inggris yang saya temui, dia harus membuat alat inkubasi khusus yang memungkikan suhu tetap pada sekitar 30 sampai 31 derajat celcius untuk membuat tempe di Inggris. Perlu usaha lebih untuk membuat tempe di luar Indonesia. Meski memang faktanya sejak Belanda masih menjajah Indonesia, sudah muncul pabrik tempe disana, yang bahkan kemudian menginspirasi negara-negara Eropa yang lain untuk memproduksi tempe. Sampai saat ini masyarakat Indonesia di Inggris kebanyakan membeli tempe yang diimpor dari Belanda itu.

Nah, sampai saat ini dua alasan inilah yang menjadi dasar saya untuk mengatakan bahwa tempe adalah makanan ASLI Indonesia. Pendapat saya ini bisa benar bisa juga salah, tetapi paling tidak jika ada yang mengatakan tempe bukan dari Indonesia, dua hal inilah yang akan saya utarakan.

Jika menurut teman-teman pendapat saya salah, monggo kerso silahkan diluruskan. Terima kasih

Salam Tempe….

Respon yang paling sering muncul ketika saya mengatakan bahwa akan membuat disertasi tentang tempe adalah senyum manis atau tertawa kecil.

“Kenapa tempe?” tanya mereka selanjutnya. Nah tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan itu.

Kata ‘tempe’ bagi mereka mungkin menjadi hal yang menggelitik. Bukan hal yang salah memang, karena selama ini tempe menjadi menjadi makanan yang ‘taken for granted’ (maaf jika menggunakan istilah asing, karena menurut saya idiom inilah yang paling tepat).

Saya yakin sebagian besar masyarakat Indonesia tentu mengenal makanan yang satu ini. Makanan dari fermentasi kedelai ini bukan barang yang mahal (jika dibandingkan daging), dan bagi banyak orang, tempe harus selalu terhidang di meja makan. Warung-warung Tegal pun pasti menyediakan tempe disela-sela deretan lauk-lauk menggoda yang lain. Karena terlalu terbiasa masyarakat Indonesia dengan tempe (terutama yang berada di Pulau Jawa) mereka sepertinya melihat tempe menjadi sesuatu yang sudah biasa, sesuatu yang kecil, sesuatu yang remeh.

Masih segar diingatan saya, semasa SMA dulu, berada di bawah sengatan matahari, bersama 29 teman yang lain, berbaris rapi menunggu perintah dari komandan.

“Mental tempe!!!!,” teriak lantang kakak kelas kepada kami yang tampak sudah mulai kelelahan.

Ya, dulu saya tergabung di dalam pasukan baris berbaris sekolah. Bagi mereka yang masuk di ekstrakurikuler tersebut, saya rasa mereka familiar dengan bentakkan itu. Ketika dulu Soekarno masih memimpin Indonesia, Bapak Pendiri Bangsa itu juga pernah berkata “Jangan jadi negara tempe”. Nah, kesan apa yang muncul dari si tempe? Tempe dalam konteks ini menjadi makanan yang memiliki konotasi negatif. Yak, jika anda menebak sebagai makanan yang remeh, loyo, lembek, kurang membanggakan, kurang bernilai, dan konotasi negatif lainnya, anda mungkin saja benar.

Tapi bagi saya, tempe bukan hal yang kecil dan tidak berharga. Menurut saya tempe adalah bagian dari sejarah Indonesia dan menjadi bagian dari budaya Indonesia, terutama masyarakat Jawa tempat tempe mulai dikembangkan. Masyarakat Indonesia dan tempe sebenarnya memiliki romansa yang unik. Di satu sisi, mereka menganggap tempe sebagai hal yang remeh tetapi disisi lain mereka marah ketika bangsa lain mengaku-aku bahwa tempe berasal dari negaranya. Romansa inilah yang kemudian memberikan ide bagi saya untuk membuat disertasi tentang tempe yang sebenarnya mampu menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Saya selalu percaya bahwa hal kecil juga memiliki kemampuan untuk bisa mengungkap hal yang lebih besar. Seperti halnya tempe. Jika melihat Indonesia dengan kacamata tempe, kita akan bisa melihat secara panjang tentang bioteknologi tradisional yang sudah mengakar di masyarakat Jawa.

Dalam sebuah percakapan telepon dengan ibu di Jogja ketika saya mengungkapkan niat untuk membuat disertasi tentang tempe, beliau dengan semangat menceritakan bahwa fermentasi kedelai itu dulu dibuat sangat tradisional di kampungnya.

“Kacang kedelai bersihkan kulitnya, direbus, lalu sebagian diusap-usapkan ke punggung daun waru,” beliau mulai bercerita dengan suaranya yang selalu membuat kangen.

“Lalu kedelai yang ada di daun waru itu ditumpuk dan dibiarkan sehari. Keesokan harinya akan muncul benang-benang putih yang menjadi ragi untuk kedelai-kedelai yang lain,” lanjutnya.

“Ragi tersebut dicampurkan ke rebusan kedelai lain dan kemudian dibiarkan dalam jangka waktu tertentu, maka jadilah tempe,” ungkapnya dalam percakapan telepon tersebut. Inilah bioteknologi sederhana yang sudah diaplikasikan masyarakat Indonesia sejak dulu.

Tradisi membuat tempe ini sudah turun temurun sejak zaman Sultan Agung masih memerintah Kerajaan Mataram, yang saat ini salah satu daerahnya menjadi Jogjakarta. Menurut catatan sejarah, dalam Serat Centini, tempe memang sudah ada berabad-abad yang lalu di tanah Jawa. Mereka sudah mengenal dan memakan tempe sejak negara yang bernama Indonesia ini belum ada.

Abad demi abad berlalu, tempe masih tetap terhidang di meja makan atau warung-warung Tegal. Hal ini membuktikan bahwa tempe telah berkembang bersama dengan masyarakat Indonesia hingga saat ini. Makanan yang bisa diolah menjadi beragam masakan ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama yang berada di Pulau Jawa.

Mungkin beberapa dari teman-teman masih ingat tentang demonstrasi ribuan petani kedelai dan pengrajin tahu tempe di depan Istana Negara tahun 2008 silam. Ketika itu, tempe menghilang dari pasaran, yang saya alami ketika itu di Jakarta tidak ada tempe, karena pengrajin tempe mogok membuat tempe. Saat itu beberapa warga masyarakat sempat bertanya-tanya, mereka sangat tergantung pada tempe sebagai sumber protein yang murah.

Harga kedelai yang mahal membuat mereka tidak sanggup lagi membeli bahan baku tempe tersebut. Pemerintah Indonesia yang masih mengandalkan impor kedelai terjebak dengan kenaikan harga bea masuk kedelai yang berakibat pada kenaikan harga kedelai di pasaran.

Kondisi itu yang kemudian mendorong para petani kedelai dan pengrajin tahu tempe melakukan demonstrasi menuntut penurun harga kedelai atau tempe akan benar-benar hilang dari pasaran. Tidak disangka, pemerintah memberikan respon yang cepat dari teriakan ribuan demonstran tersebut. Pemerintah berusaha menstabilkan harga kedelai, selain itu mereka mencoba memberikan subsidi pembelian kedelai bagi pengrajin tahu tempe. Setahu saya, sepanjang masa reformasi hanya ada dua hal yang mendapatkan subsidi yaitu, BBM dan kedelai.

Harga kedelai masih tetap tinggi setelah demonstrasi, meskipun kadang stabil tapi cenderung merangkak naik. Para pengrajin tempe masih mencoba bertahan dengan subsidi dari pemerintah tersebut. Harga kedelai yang tinggi ini kemudian juga mempengaruhi harga tempe. Efeknya, warung-warung Tegal yang sebelumnya sangat royal ketika menyuguhkan tempe (tempe digoreng dengan irisan yang tebal dan besar), berubah menjadi irisan-irisan tipis. Itulah cara mereka bertahan demi tetap menyediakan tempe sebagai pilihan lauk di warung mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tempe memiliki ikatan yang kuat di masyarakat.

Selain cerita-cerita di atas, tempe sebenarnya juga bisa menjadi jalan untuk melihat lebih jauh tentang perpolitikan dagang kedelai di Indonesia. Menurut salah seorang pemerhati tempe yang saya temui di Inggris, kedelai lokal sebenarnya memiliki kualitas yang jauh lebih bagus dari kedelai impor. Namun, pertanyaannya sekarang, kenapa Indonesia selalu mengandalkan impor kedelai dari Amerika? Ada yang berkomentar bahwa kondisi iklim Indonesia tidak cocok untuk kedelai sehingga produksinya tidak akan pernah mencukupi konsumsi nasional. Tapi menurut sang pemerhati tempe itu, kedelai lokal bisa tumbuh subur dan kualitasnya tidak kalah. Lalu sebenarnya apa yang terjadi?

Konspirasi teori sempat muncul tentang bagaimana dulu ketika Indonesia sedang masa krisis ekonomi melakukan kesepakatan dengan IMF. Tentu masih ingat donk dengan lembaga keungan internasional ini, namanya sangat tenar pada akhir-akhir tahun 90an. Ketika itu, Amerika melihat Indonesia adalah pasar kedelai yang sangat potensial. Wajar saja karena hampir 70 persen kedelai diubah menjadi tempe dan tempe dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Lalu kesepakatan pun dibuat agar Indonesia selalu mengimpor tempe dari Amerika dan uang untuk rekonstrusi ekonomi pun dikucurkan. Konspirasi teori ini memang perlu dibuktikan, akan tetap dari hal ini kita bisa melihat bagaimana tempe bisa menceritakan hal-hal yang penting.

Oleh karena itu, pesan dari tulisan ini, marilah kita jangan meremehkan hal yang kecil. Karena siapa yang tahu ternyata hal kecil tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang besar, dan kita bisa belajar darinya.

Semoga saat ini tempe tidak mendapatkan konotasi negatif dan bisa menjadi makanan dunia seperti kimchi dari Korea, sushi dari Jepang, atau Baquette dari Perancis. Indonesia sudah ditunjuk sebagai negara yang menetapkan standardisasi untuk tempe secara internasional. Semoga hal ini bisa membawa perubahan.

Hidup tempe, semoga disertasi saya sukses…amin amin amin

Merindu Edinburgh

Posted: February 19, 2012 in Kim's Journey

pojokan cafe The Elephant House

Seolah menjadi sebuah kebiasaan, wanita itu selalu datang ke cafe yang sama dan memilih tempat duduk dengan posisi yang nyaris tidak pernah berubah. Dia selalu memilih meja yang terletak di sudut bagian belakang cafe, tepat disamping jendela besar dengan pemandangan Edinburgh Castle yang megah. Wanita pirang itu selalu tampak menatap istana sekaligus benteng yang telah menjadi saksi sejarah perkembangan kota Edinburgh tersebut.

Malam berganti siang, hari berganti hari, wanita itu selalu datang menghabiskan beberapa jam dari hidupnya untuk duduk di posisi yang sudah menjadi kesukaannya. Pengunjung lain tidak banyak yang memperhatikan sampai kemudian seri-seri awal Harry Potter menjadi best seller di seluruh dunia. Orang-orang kemudian mengenal wanita itu sebagai J.K Rowling, sang pengarang master piece kisah penyihir muda dengan luka di dahinya.

Saat ini, salah satu alasan begitu banyak wisatawan mengunjungi cafe The Elephant House di Jalan George IV Bridge nomor 21, Edinburgh itu adalah untuk mencoba menapak tilas sang pengarang ketika memulai awal-awal goresan kisah para penyihir Hogwarts. Bukti yang paling nyata dari begitu banyaknya penggemar yang mendedikasikan diri untuk datang ke cafe yang dibuka sejak tahun 1995 itu adalah mamento yang mereka tinggalkan di toilet. Tulisan tangan para penggemar yang menyatakan apresiasi dan komentar tentang J.K Rowling dan Harry Potternya tampak menghiasi dinding kuning gading cafe tersebut.

Ungkapan penggemar Harry Potter

Meskipun The Elephant House banyak menarik minat wisatawan untuk datang ke Edinburgh, tapi keindahan ibukota Scotlandia tersebut ternyata tidak berhenti pada cafe itu saja. Begitu banyak landmark lain yang bisa menggambarkan sejarah tua Edinburgh. Arthur seat, jalan Royal Mile, Holyrood Palace (Istana tempat peristirahatan Ratu Inggris jika berkunjung ke kota asal suaminya, Edinburgh), dan masih banyak lagi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Edinburgh adalah kota indah yang tidak cukup satu hari untuk menjelajahi sejarah dan keeleganannya.

Untuk mengunjungi Edinburgh dari London, transportasi yang paling cocok adalah kereta. Perjalanan selama 5 jam itu akan ditemani dengan pemandangan pantai timur dan alam pedesaan Inggris. Jika memesan tiket melalui http://www.thetrainline.com sejak jauh-jauh hari, tiket perjalanan pulang pergi London – Edinburgh bisa dibeli dengan harga sekitar £60 – £70. Kisaran harga yang tidak sedikit memang. Oleh karena itu, sebaiknya tentukan waktu-waktu yang tepat untuk datang ke Edinburgh. Disarankan untuk datang pada saat festival-festival besar diselenggarakan, seperti Hogmanny yang merupakan pesta tutup tahun di kota itu.

Setelah sampai di Edinburgh, jangan hanya terpesona pada keindahan dan keramahan kota Adam Smith itu. Tapi cobalah jelajahi sisi lain dari Scotlandia, yaitu wisata alamnya yang bakal mampu menguras file kamera. Mengunjungi Highland adalah alternatif terbaik untuk menikmati alam Scotlandia. Setidaknya, jika tidak ada salju di London, maka Highland merupakan tempat yang sesuai untuk merasakan pengalaman bermain es putih itu.

Highland, sesuai dengan namanya merupakan daerah-daerah dataran tinggi yang ada di sekeliling Scotlandia. Salah satunya adalah Fort Williams kota tempat gunung Ben Navis menjulang tinggi. Bagi mereka yang menyukai olahraga musim dingin, maka tempat itu cocok untuk masuk dalam buku referensi wisata alam yang patut dikunjungi. Untuk mencapai For Williams, dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan kereta dari Edinburgh, tiket on the spotnya sekitar £44. Tiket cenderung lebih murah jika dibeli jauh-jauh hari. Tapi, selain dengan kereta, bus sebenarnya jauh lebih disarankan. Karena rute yang diambil justru menawarkan pemandangan alam yang menawan. Tiket dari Glasgow ke Fort Williams bisa dibeli dengan harga sekitar £23 dengan waktu tempuh 3 sampai 4 jam. Tiket bus Edinburgh ke Glasgow hanya sekitar £7 dengan lama perjalanan sekitar 1 jam saja.

Jika sudah sampai di Fort Williams, jangan khawatir tentang penginapan. Sebagai kota yang sepertinya didedikasikan untuk para wisatawan yang hendak pergi ke gunung Ben Navis, ada banyak level penginapan yang dipilih. Level paling murah adalah hostel (hotel untuk para backpacker) dengan harga sekitar £15 sampai £20 per orang. Dalam satu kamar kita bisa berbagi dengan orang lain yang mungkin bisa menjadi teman-teman baru.

hamparan salju puncak Ben Navis

Selesai melepas lelah di hostel, saatnya untuk pergi menuju Ben Navis. Taksi yang banyak tersedia di sekitar pusat perbelanjaan di Fort Williams bisa disewa dengan harga £15 untuk mengantarkan menuju gunung tersebut. Waktu tempuhnya hanya 15 menit saja. Sesampainya di Ben Navis, kita bisa menikmati berbagai macam fasilitas yang disediakan, tentunya dengan harga-harga yang sudah ditetapkan. Mulai dari menyewa sepeda, alat ski, alat snowboarding, les singkat olahraga salju, atau menaiki gondola menuju puncak Ben Navis untuk menikmati hamparan salju yang luas. Tapi sebelum merencanakan untuk pergi ke Ben Navis, sangat disarankan untuk melihat ramalan cuaca. Karena jika angin terlalu kencang, maka gondola tidak akan beroperasi. Selebihnya, jika cuaca mendukung, maka nikmatilah segala daya tarik yang ada.

Cheers

Jakarta adalah kota serba ada. Hampir segala sesuatu yang dibutuhkan bisa didapatkan di ibukota Indonesia itu, mulai dari sesuatu yang legal hingga ilegal. Jika memang serba ada, mengapa harus menggunakan kata ‘hampir’? yak, memang ada yang kurang dari kota tempat bertemua berbagai etnik nusantara tersebut.

Di Jakarta, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berbau alam. Taman kota dapat dihitung jari, fungsinya pun tidak maksimal. Bukan sebagai paru-paru kota tapi sebagai ruang gratis untuk bermesum ria di malam hari. Rencana pemerintah DKI Jakarta untuk mengeruk sungai yang melintas di kawasan Manggarai dan Setiabudi, hanya tinggal buah bibir saja. Kapal-kapal yang tadinya digunakan untuk wisata sungai terpaksa harus diangkat dan dipindahkan karena kedalam sungai sudah tidak memadai lagi untuk perahu. Sungai-sungai menjadi dangkal karena tumpukan sampah yang mengendap di dasarnya. Perlu waktu bertahun-tahun dan kesabaran untuk mengeruk sungai itu dan memperbaiki mental masyarakatnya untuk tidak membuang sampah di sungai. Bahkan, saat kalian membaca tulisan ini, seseorang di sudut kota Jakarta sana sedangkan membuang sekantung plastik sampah keluarga mereka. Silahkan buktikan.

Tidak hanya sungai saja, tetapi Jakarta juga kekurangan ruang terbuka hijau. Tanah menjadi hal yang paling diincar dan diburu di Jakarta. Entah sudah berapa banyak konflik dan sengketa tentang tanah yang terjadi di Jakarta. Orang bisa kaya dengan memiliki tanah. Tetapi, hanya sedikit yang kemudian merelakan sepetak tanahnya untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang menjurus pada pembautan ruang terbuka hijau. Tanah bagi sebagian besar pengeruk untung di Jakarta justru berubah menjadi gedung-gedung megah, yang entah mereka masih memperhatikan perlunya ruang terbuka hijau atau tidak.

Hal yang berbeda dapat dilihat di Uxbridge, sebuah kota kecil di ujung sebelah barat kota London. Memang Jakarta dan Uxbridge tidak bisa dibandingkan secara langsung. Uxbridge sudah menjadi kota sejak berabad-abad yang lalu. Akan tetapi yang perlu di contoh adalah bagaimana pada zaman dahulu pemerintah kota tempat Brunel University itu mendesain kotanya.

Tempat mall dan pusat perbelanjaan di Uxbridge

Hampir seperti kota-kota kecil lain di Inggris, segala hal yang berhubungan dengan bisnis dan perbelanjaan dipusatkan di area-area tertentu. Tidak akan banyak ditemukan mall atau shoping centre yang bertebaran. Semua terpusat di High Street, sebuah jalanan tua yang sengaja di desain untuk tempat berdirinya 2 mall yang cukup besar di Uxbridge, The Chimes dan Pavillions. Selain itu berjejer pula toko-toko yang lain, serta Tesco dan Sainsbury yang bisa disamakan dengan Hypermart atau Carrefour di Indonesia. Hal yang sangat berbeda diterapkan di Jakarta, entah benar atau tidak tetapi sepertinya mall dan pusat perbelanjaan berdiri dan beroperasi sesuka hati. Dimana ada peluang pasar dan lahan maka mall pun berdiri. Akhirnya titik-titik kemacetan pun tidak terkendali, selain itu tingkat konsumerisme semakin tinggi. Kita bisa berbicara panjang tentang Jakarta dan tata kotanya, akan tetapi poin dari tulisan ini sebenarnya lebih mengarah pada konservasi alam yang masih dipertahankan Uxbridge, yang seharusnya di contoh oleh Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah Little Britain Lake, sebuah danau kecil yang sampai saat ini justru masih menjadi habitat dari beberapa jenis burung. Di sekitar danau itu mengalir kanal kecil yang digunakan kapal-kapal kecil untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Beberapa kapal juga tampak tertambat di pinggir kanal, berubah fungsi sebagai tempat tinggal dari sang pemilik.

Little Britain Lake, habitat para burung

Dari sisi keindangan sebenarnya tidak ada yang spesial dari danau ini. Akan tetapi konsistensi pemerintah kota Uxbridge yang mencoba tetap mempertahankan ruang-ruang alam untuk bisa seperti apa adanya dan tidak kemudian di eksploitasi hingga tetes terakhir untuk kepentingan ekonomi. Tidak dipungut biaya apapun untuk menikmati danau dan puluhan jenis burung yang wira-wiri disana. Disekitarnya dapat dilihat lahan-lahan hijau masih dibiarkan apa adanya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang sekali di dapatkan di Jakarta.

Angsa berenang bebas di Little Britain Lake

Kita mungkin bisa berdalih bahwa Jakarta juga punya hal yang serupa jika menyempatkan diri mengunjungi setu. Tapi tunggu dulu, berapa banyak burung yang menjadikan setu itu sebagai habitatnya? seberapa bersih pinggiran setu itu dari sampah-sampah bungkusan snack dan minuman ringan? Seberapa mudah akses untuk menuju ke setu itu? seberapa banyak tumbuhan yang masih hidup disekitaran setu itu? seberapa besar lahan hijau yang mengelilinginya?

Bukan ingin mengajukan pertanyaan yang menyudutkan, akan tetapi kita masih punya peluang untuk punya ruang terbuka hijau yang indah jika kita sebagai masyarakat ikut berpartisaspi untuk menjaganya.

Cheers

London Day 78

Posted: December 1, 2011 in Kim's Journey

1 Desember 2011, Sisi Lain Kota London yang Megah

Hari semakin sore di Oxford Street, London. Suasana semakin ramai di sekitaran Selfridges, salah satu mall papan atas di kota metropolitan itu. Orang lalu lalang dengan menenteng tas belanjaan bertuliskan merk-merk terkenal sudah lumrah di temui di daerah ini.

Oxfrod street menjadi semacam Malioboronya kota London. Baik wisatawan maupun orang lokal pasti menyempatkan diri untuk berbelanja di kawasan elit tersebut. Tidak hanya Selfridges saja yang bisa ditemui di jalan itu, tetapi beberapa toko-toko yang menjual merek-merek terkenal berjejer di sepanjang jalan. Seperti Adidas, Massimo Dutti, H&M, Disney, dan yang lainnya.

Tapi ditengah hiruk pikuk gemerlapnya pusat perbelanjaan London, tampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya berjalan tertatih dengan bantuan tongkat besinya. Semakin lama, sosok wanita tua itu terlihat jelas. Dia menggunakan jaket kulit imitasi dengan baju dan rok yang sudah lusuh. Kepalanya ditutup kudung yang masih menyisakan bagian depan rambutnya. Tanganya menengadah sambil mulutnya komat kamit mengatakan sederet kata yang tidak jelas pada beberapa pengunjung Coffee Shop yang identik dengan logonya yang dominan warna hijau.

Tidak harus berpikir keras untuk mengetahui bahwa sedang berusaha meminta sepeser uang kepada para pengunjung yang sedang meneguk kopi seharga 3 Pounds itu. Beginilah setidaknya sosok pengemis di kota yang katanya masuk dalam kategori termahal di dunia.

Selain dalam wujud wanita tua, kadang ada yang beroperasi dengan menggunakan keranjang belanja yang justru digunakan untuk menaruh barang-barang dan anak mereka. Permintaan mereka banyak. Tidak hanya meminta uang untuk makan, alasan lain yang diberikan adalah untuk membeli tiket pulang.

“Ticket…..ticket…,” ujar wanita tua itu saat ditanyakan asalnya. Saat diminta menyebutkan nama, jawaban yang sama meluncur dari mulutnya keriput. Sambil disusul dengan rentetan kata yang jelas bukan bahasa Inggris. Pengemis tua itu, akhirnya duduk diam di sekitaran stasiun tube (kereta bawah tanah), sambil terus menengadahkan tangan. Tampak di genggamannya, recehan-recehan yang sudah dikumpulkannya sejak tadi.

Agus Tantang, seorang supervisor sebuah perusahaan catering di London, menyebut mereka ini sebagai kaum gipsy. Mereka adalah kelompok nomaden yang dahulu sebenarnya ingin mencari perlindungan di Inggris karena menjadi korban perang di negaranya. “Si Gipsy ini rata-rata refugee (pengungsi),” kata pria yang sudah 20 tahun tinggal di Inggris tersebut, Senin (26/11).

Mereka sebenarnya sudah disediakan tempat tinggal oleh pemerintah Inggris. Namun, kemungkinan karena kesulitan untuk mencari uang, akhirnya pilihannya adalah menjadi pengemis. Lalu lama kelamaan justru mengemis sudah menjadi pekerjaan tetap mereka.

Selain Gipsy menurut Agus, pengemis di London sebenarnya terdiri dari berbagai macam jenis. Tapi setidaknya bisa dimasukkan dalam dua kategori besar. Yaitu pengemis pendatang seperti kaum Gipsy itu dan pengemis lokal. Pengemis pendatang cenderung memaksa dan terus menempel targetnya hingga akhirnya memberikan sepeser uang. Bahasa Inggris yang digunakan terbata-bata, cukup kata-kata yang langsung merujuk pada permintaan untuk diberi uang.

 

Sedangkan pengemis lokal cukup sopan dalam meminta. “Pengemis lokal mereka cukup sopan dengan hanya bilang ‘spare change please!’ atau hanya duduk di salah satu sudut jalan dengan kertas besar bertuliskan ‘Homeless – I am hungry’, “ jelas Agus.  Jumlah pengemis lokal ini jauh lebih sedikit dari mereka yang pendatang.

Pengemis lokal ini memiliki banyak tujuan dalam melakukan aksinya. Selain ada yang benar-benar membutuhkan uang untuk makan. Ada pula yang menggunakan uang hasil meminta-minta itu untuk mabuk. Seperti yang diungkapkan oleh Robby Salamun, salah seorang mahasiswa Indonesia di London.

Sering pada malam hari, ada pria atau wanita lokal meminta-minta kepada mahasiswa yang kebetulan sedang keluar dari asrama untuk membeli beberapa kebutuhan di toko terdekat. Ada banyak alasan yang dilontarkan agar uang bisa didapatkan. Mulai dari untuk membeli tiket pulang hingga untuk menelepon keluarga karena sedang dia terlibat sebuah masalah.

“Tapi paling untuk mabuk, orang rumahnya Cuma daerah sini,” kata Robby sambil menunjuk ke daerah yang dia maksud. Dia menyarankan untuk tidak memberikan sepeser pun pada peminta-minta model seperti ini.

Pengemis memang menjadi masalah social yang harus dikendalikan. Di Indonesia mungkin menjadi sangat lumrah melihat ada pengemis di perempatan lampu merah atau di kawasan pusat perbelanjaan. Tetapi siapa sangka, ternyata London juga memiliki masalah yang sama. Kondisi dan situasi yang kurang menguntungkan memang bisa mendorong seseorang untuk melakukan apa saja, termasuk menjadi peminta-minta.