Archive for the ‘kesehatan’ Category

Sick Building Syndrome

Posted: March 2, 2009 in kesehatan

Lima puluh persen orang yang bekerja di gedung perkantoran punya keluhan kesehatan.

Diam-diam banyak orang bekerja di gedung perkantoran yang menyimpan setumpuk masalah kesehatan. Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI/Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menunjukkan, mereka mengalami sick building syndrome (SBS).
Secara umum SBS bisa dijelaskan sebagai keluhan atau kumpulan permasalahan kesehatan dan kenyamanan akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, dan juga kualitas udara dalam ruangan ber AC. ”Tapi gejalanya tidak spesifik,” ujar Dr Budi Haryono Phd Msc.
Sekitar enam bulan, Juli-Desember 2008 Budi mengadakan penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 perusahaan. Hasilnya, 50 persen orang yang bekerja dalam gedung perkantoran cenderung mengalami SBS. Biasanya keluhannya berupa sakit kepala, mudah lelah, gejala seperti flu, sesak napas, mata berair, sering bersin, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal. ”Sebenarnya ini semua berawal dari pernapasan dan kualitas udara,” ujar ketua IAKMI ini.

Partikel polusi
Budi menjelaskan, setiap tiga detik, manusia pasti akan menghirup udara untuk bernapas. Sekali tarikan napas sebanyak 500 mililiter udara terhirup. Selama satu menit kita bernapas sekitar 20 kali. Bisa dibayangkan akibatnya jika udara yang masuk ke dalam tubuh sudah terpolusi.
Udara yang tidak sehat dengan partikel-partikel polusi sebesar 10 mikron bisa mengakibatkan berbagai infeksi saluran pernapasan (ISPA). Tetapi bagi partikel polusi yang lebih kecil (2,5 mikron) bakal masuk ke paru-paru dan menjadi asma.
Udara yang tidak sehat itu terjadi karena adanya kontaminasi dengan sumber-sumber polutan seperti, asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, volatile organics compounds (sebuah bahan kimia organik berbentuk gas) yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, kemudian dari debu atau karbon yang menempel.
Bayangkan saja, jika delapan jam berada di ruang tertutup dengan dengan sirkulasi udara yang kurang baik, udara kotor itu akan berputar terus menerus dan menjadi sumber oksigen utama yang kita hirup. ”Bahkan jika ada orang bersin, maka bakteri-bakteri yang dia keluarkan bisa berputar saja di ruangan tertutup itu,” kata Budi.

Penyebab SBS
Radikal bebas bisa diterjemahkan menjadi sebuah senyawa reaktif yang berasal dari dalam tubuh sebagai hasil metabolisme atau terpapar dari lingkungan luar. Senyawa ini memiliki ekstra energi yang banyak sehingga cenderung tidak stabil. Karena elektronnya tidak berpasangan, dia akan terus menerus mencari pasangan.
Saat berada di dalam tubuh dan beraksi pada sel-sel maka hanya ada dua kemungkinan, sel tersebut mati atau berubah karakter menjadi sesuatu yang biasa disebut kanker. ”Jadi, radikal bebas ini saya analogikan sebagai janda kembang cantik yang merusak rumah tangga orang,” ujar dr Handy Purnama, medical marketing manager Bayer Healthcare Consumer Care.
Radikal bebas ini bisa saja berasal dari radiasi sinar ultraviolet, metabolisme dalam tubuh, radiasi ion, asap rokok, asap kendaraan bermotor, dan udara yang tidak sehat. ”Bahkan WHO sudah mencatat bahwa setiap tahun ada tiga juta orang di dunia ini yang meninggal karena polusi udara,” ujar Handy.
Bahan inilah juga yang patut bertanggung jawab timbulnya penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati dan dicurigai berpengaruh pada proses penuaan dini. Saat berada dalam suatu ruangan tertutup (tanpa jendela dan hanya mengandalkan AC) radikal bebas ini ikut terbawa oleh orang-orang yang telah terpapar sebelumnya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Ketika orang tersebut menyibakkan jaketnya yang telah tertempel polusi-polusi kendaraan bermotor atau saat dia bersin, radikal bebas itu akan terus berputar dalam udara yang bakal kita hirup. Kesehatan pun akan cenderung terganggu ketika berlama-lama berada dalam sebuah ruangan.
Faktor lain yang menyebabkan SBS, Dr Budi Haryono menyebutkan adanya partikel ozon dan karbon yang terbentuk dari alat-alat elektronik seperti printer atau alat fotokopi. ”Alat elektronik itu banyak menggunakan sinar dan energi panas sehingga terbentuknya ozon dan karbon menjadi lebih banyak,” ujarnya.
Bahan-bahan ini bisa mengganggu proses pernapasan normal, menyebabkan iritasi mata, untuk kadar 0,3 ppm terjadi iritasi hidung dan tenggorokan, kadar 1,0 sampai 3,0 ppm selama 2 jam pada orang sensitif bisa mengakibatkan pusing dan kehilangan koordinasi, lalu pada kebanyakan orang yang terpapar pada kadar 9,0 ppm akan mengakibatkan edema pulmonari.
Perhatikan pula debu-debu yang menempel pada banyak barang-barang atau kertas-kertas yang tidak tersentuh di kolong-kolong meja kerja. Selain itu debu juga banyak beredar karena saluran udara atau AC yang jarang dibersihkan. Debu-debu ini juga membawa partikel-partikel yang bisa mengganggu kesehatan. n kim

Dampak Menggunakan Suplemen
Hasil penelitian menunjukkan, pengaruh sick building syndrome (SBS) berkurang pada karyawan yang selama tiga bulan rutin meminum suplemen antioksidan. Secara periodik, tim peneliti yang dipimpin Dr Budi Haryono mengamati dan berkomunikasi dengan karyawan tentang kondisi setelah menggunakan suplemen secara rutin.

Sebanyak 49 persen keluhan sakit kepala pada responden berkurang, lalu 45 persen mata perih juga berkurang, begitu pula pada hidung tersumbat yang turun hingga 50 persen, radang tenggorokan juga mengalami penurunan sebanyak 27 persen, dan terakhir pegal-pegal pada tubuh juga menunjukkan pengurangan sebesar 41 persen.

”Jadi secara umum, dengan mengonsumsi suplemen antioksidan, pengaruh SBS bisa turun hingga 65 persen,” ujar Budi tentang penelitian yang dilakukan IAKMI bersama PT Bayer Indonesia itu. Makanan sehat yang kaya vitamin dan mineral juga bisa menggantikan suplemen.

Dr Handy Purnama, dari Bayer, menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena tambahan vitamin dan mineral yang masuk dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan. Secara alami tubuh manusia akan langsung bereaksi terhadap radikal bebas. Sistem imun otomatis akan memerangi bahan tersebut.

”Tapi, kalau radikal bebasnya terlalu banyak maka sistem imun ini yang justru tertekan dan radikal bebas bisa berhasil merusak sel,” ujarnya. Tetapi dengan bantuan antioksidan, radikal bebas itu ditahan agar tidak menempel pada sel dengan memberikan energi penyeimbang (donor elektron).

Lebih lanjut Handy menjelaskan, makanan yang mengandung vitamin A dan Zinc bisa menurunkan tingkat energi radikal bebas. Lalu asupan zinc, iron dan copper bisa mencegah terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Kemudian vitamin A, C, E, serta selenium bisa memutus rantai reaksi radikal bebas.
”Makanan sehari-hari memang sudah mengandung vitamin dan mineral ini tetapi karena proses metabolisme dalam tubuh penyerapan itu kadang tidak sempurna,” katanya.

Tips Mengurangi Dampak SBS

1. Secara berkala bersihkan karpet, tirai, gorden, boks-boks berkas yang lama tidak tersentuh.
2. Pemasangan karpet sebaiknya tidak terlalu menempel dengan dinding karena, pengisap debu cenderung kurang bisa menggapai daerah terebut.
3. Tempatkan mesin faks, printer, dan alat fotokopi dalam satu ruangan khusus yang terpisah dengan ruangan kerja.
4. Jika perlu gunakan air cleaner. Alat ini memang tidak sepenuhnya bisa membersihkan udara tetapi paling tidak mengurangi partikel jahat dalam udara.
5. Jika bisa menjamin setiap hari bisa mengonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral, maka suplemen tak terlalu dibutuhkan. Tetapi jika tidak, suplemen bisa sangat membantu.
6. Olahraga rutin, atau sesekali bergerak (tidak hanya duduk saja di tempat kerja) bisa memperlancar metabolisme sehingga badan menjadi lebih fit.  (kim)

Caption:
Alat elektronik di kantor yang banyak menggunakan sinar dan energi panas bisa mengganggu proses pernapasan normal, bisa juga menyebabkan iritasi pada mata dan hidung.

Advertisements

Obat

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Obat Gunakan Secara Bijak dan Rasional
Mengonsumsi obat terlalu banyak dan tidak tepat bisa merusak kerja hati (lever).

Hany Soema, ibu rumah tangga, punya pengalaman agak menyebalkan dengan dokter. Itu karena dokter yang ia datangi selalu saja memberinya segepok obat. Pendek kata, di mata Hany, dokter adalah orang yang gemar sekali memberi obat. ”Karena itu dulu saya menganggap dokter seperti tukang obat,” tutur Hany.

Saking banyaknya obat dari dokter, Hany kemudian menyediakan kotak obat yang berderet-deret memanjang di salah satu sudut kediamannya. Pada setiap kotak, dia taruh obat yang spesifik sesuai gejalanya. Misalnya, ada kotak yang khusus berisi aneka obat batuk berdahak, lalu di kotak yang lain untuk obat batuk kering, dan kotak lainnya lagi dihuni obat untuk pusing, mual dan sebagainya.

Hany tak sendirian. Banyak orang Indonesia mengalami hal sepertinya dirinya. Celakanya, mereka menerima hal itu sebagai suatu kewajaran. Bahkan, ada perasaan ‘hambar’ atau sia-sia jika tidak membawa obat setelah periksa ke dokter.
Kebiasaan lain dari masyarakat kita adalah selalu meminta obat untuk setiap gejala penyakit yang timbul. Misalnya, seorang ibu yang anaknya menderita diare, dia akan meminta obat untuk mencretnya, lalu obat untuk mualnya, nafsu makannya, juga obat untuk kepala anaknya yang sering pusing.

Alhasil, saat pulang, ibu itu membawa lebih dari tiga macam obat. ”Padahal untuk penyakit harian seperti diare, batuk, demam, atau radang tenggorokan tidak perlu sampai lebih dari dua obat,” kata dr Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed, duta WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) untuk penggunaan obat secara rasional, dalam sebuah seminar di Kemang Medical Care, Jakarta, belum lama ini.

Ketika Anda atau keluarga Anda menderita penyakit harian, mestinya tak perlu panik. Sebab, kata dokter yang akrab disapa Wati ini, penyakit harian seperti itu akan sembuh sendiri dalam beberapa hari tanpa bantuan obat. Penyakit tersebut merupakan hal alami yang terus terjadi dalam tubuh manusia. Perlu Anda tahu, sakit-sakit ringan itu merupakan cara alami manusia untuk memerangi bakteri atau virus jahat dalam tubuh. Jadi, jangan terlampau tergantung pada obat. Meski obat sangat berguna bagi kesehatan namun jika digunakan sembarangan akan merugikan kesehatan itu sendiri.

Dalam hal ini, sangat penting untuk menggunakan obat secara rasional dan bijaksana, utamanya demi menjaga fungsi hati (lever). Dijelaskan Purnamawati, sebagian besar obat tidak larut dalam air sehingga perlu diproses di hati agar menjadi komponen yang larut dalam air. ”Sehingga jika menggunakan obat terlalu banyak dan tidak tepat akan merusak kerja hati. Selain itu, ginjal juga akan kesulitan mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1978 ini.

Wati kemudian memberi contoh yakni obat batuk pilek yang mengandung dekongestan. Kandungan ini (dekongestan), kata dia, tidak pernah terbukti efektif menangani batuk pilek. Bahkan di beberapa negara, dekongestan sudah dinyatakan tidak aman diberikan pada bayi dan anak kecil. Lalu, saat Anda batuk, jangan pernah meminum obat untuk menekan batuk. Ini karena batuk sebenarnya berfungsi untuk membantu membersihkan jalan napas sehingga tidak boleh ditekan. ”Golongan yang paling rentan terkena efek tidak baik dari penggunaan obat yang kurang tepat adalah anak-anak dan manula,” kata Wati, yang pada 1994-2003 menjadi staf pengajar di Sub Bagian Hepatologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.

Seperti dewa penyelamat
Sejauh ini, masyarakat kita memang masih tergantung pada obat. Obat masih menjadi semacam dewa penyelamat sehingga tanpa obat seolah-olah penyakit tidak akan sembuh. Banyak orang misalnya, masih bergantung kepada antibiotik untuk menyembuhkan penyakit. Padahal, makin banyak mengonsumsi antibiotik, bakteri penyebab penyakit akan bermutasi dan menjadi kebal.

Masyarakat juga masih menganggap segala hal yang berkaitan dengan kesehatan harus diserahkan sepenuhnya kepada dokter. Akibatnya, setiap resep yang diberikan dokter selalu ditebus dan digunakan tanpa pikir panjang. Terkadang, makin mahal resep harus ditebus, pasien merasa senang karena dianggap sebagai sesuatu yang menunjukkan kualitas.

Kondisi ini ‘diperparah’ oleh membanjirnya jumlah obat di pasaran. Untuk satu jenis penyakit, tersedia ratusan jenis obat. Ini masih ditambah dengan makin gencarnya promosi obat, diikuti ketidakberdayaan dokter untuk menolak memberikan obat pada pasien yang sebenarnya tidak perlu minum obat tetapi terus memaksa diberi obat. Akibatnya, obat yang diberikan pun menjadi tidak sesuai atau tidak cocok. ”Sudah saatnya pasien lebih jeli dalam memilih dan menggunakan obat. Saat beli barang elektronik saja kita selalu teliti dan membaca manualnya, apalagi dengan obat yang berpengaruh pada kesehatan,” lanjut ibu empat anak kelahiran Jakarta, 2 Februari 1953 ini.

Jalin hubungan baik dengan dokter
Ada sejumlah jurus yang bisa dilakukan untuk mencegah penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satunya dengan membangun hubungan baik antara pasien dan dokter dalam sebuah sesi pengobatan. Seperti apa hubungan yang baik itu? Wati menggambarkan, ketika pasien datang, dokter harus mengumpulkan data perihal permasalahan, perjalanan penyakit dam pengobatan yang pernah diperoleh pasien. Dokter lalu memberikan diagnosis yang tepat dan akurat, dilanjutkan dengan pemilihan obat yang efektif, aman, cocok, terjangkau dan mudah didapat.

Dokter juga harus menjelaskan manfaat dan efek samping obat serta tindakan yang mesti dilakukan jika terjadi efek samping.
Berhadapan dengan dokter, bagaimana sebaiknya pasien bersikap? Sebagai pasien, Anda tak harus selalu menerima atau puas dengan apa yang dilakukan dokter. Anda berhak menanyakan banyak hal seputar penanganan penyakit. Setelah mendapatkan obat, selayaknya pasien dapat bertanya, apakah dirinya memang perlu mendapatkan obat itu, apa kandungan aktif obat tersebut, bagaimana mekanisme kerja obat itu, apa indikasinya, apa kontra indikasinya, dan apa efek sampingnya.

Pendek kata, jadilah pasien yang kritis. ”Ini justru dapat memberikan banyak pengetahuan, sekaligus mengamankan Anda dalam mengonsumsi obat,” kata Wati, penulis buku Q&A Smart Parents for Healthy Children. Pasien juga harus mengerti bahwa tidak selamanya dokter harus memberikan obat. ”Sebuah pelayanan kesehatan yang baik tidak berarti mengeluarkan obat sebagai hasilnya, melainkan sebuah konsultasi dan diskusi antara pasien dan dokter tentang penyakit dan cara penanganannya.”  (kim)

Agar tak Menjadi ‘Tong Sampah’ Obat
Anda dan keluarga tentu tak mau menjadi ‘tong sampah’ obat, bukan? Karena itu, bersikaplah kritis ketika berhadapan dengan dokter, juga ketika menerima resep obat. Bagaimana caranya, simak beberapa tips berikut:

* Saat berkonsultasi mintalah diagnosis penyakit dalam istilah kedokterannya. Tujuannya agar pasein dapat menggunakan layanan internet untuk lebih mengetahui perihal penyakit tersebut. Ingat, batuk atau radang tenggorokan itu bukan diagnosis tetapi hanya gejala.

* Jika tulisan dokter sulit terbaca, mintalah dengan sopan untuk dituliskan kembali menggunakan huruf kapital.

* Setelah mendapat resep, obat jangan langsung ditebus. Pelajari dan gunakan referensi buku atau internet perihal obat tersebut, apakah cocok dengan penyakit atau tidak. Pasien seharusnya lebih ingin tahu jika dalam satu resep, obat yang diberikan sangat banyak.

* Jangan buang resep setelah ditebus. Memiliki kopi resep sangat berguna jika terjadi efek samping atau alergi terhadap obat yang diberikan.

* Orangtua yang memiliki anak kecil, sebaiknya selalu mempelajari perihal batuk, demam, radang tenggorokan, dan diare. Keempat hal tersebut seringkali menjadi sumber kepanikan orangtua sehingga harus menemui dokter dan meminta obat. Padahal, gejala-gejala itu bisa sembuh dengan sendirinya. Orangtua seharusnya lebih lihai dalam menggunakan pendekatan wait and see.

Kanker

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Benjolan di Payudara, Selalu Kanker?
Banyak wanita tak memerhatikan gejala-gejala awal kanker payudara.

Ada yang mengganggu pikiran Arini akhir-akhir ini. Bukan soal karier atau rumah tangga. Lalu? ”Ini lho, kok ada benjolan di payudaraku,” keluh ibu satu anak ini beberapa waktu lalu.
Arini khawatir, benjolan itu adalah kanker. Karena itu, ia segera memeriksakannya ke rumah sakit. Di sana, dokter meminta Arini menjalani pemeriksaan dengan mamografi dan ultrasonografi (USG). Hasilnya, benjolan merupakan tumor jinak. Arini pun merasa lumayan lega. ”Untunglah bukan tumor ganas,” ucap karyawati perusahaan swasta ini.

Tumor ganas alias kanker pada payudara merupakan momok menakutkan bagi wanita. Data menunjukkan, kanker payudara merupakan jenis kanker terbanyak yang diderita wanita di seluruh dunia dengan jumlah penderita pada 2003 sebanyak 1.150.000 orang. Sementara peningkatan jumlah penderita mencapai 0,5 sampai 3 persen per tahun.

Menurut dr Sutjipto SpB (K) Onk, dari 10 jenis kanker yang kerap menyerang manusia, dua di antaranya merupakan pembunuh terbesar wanita yakni kanker rahim dan kanker payudara. Sementara delapan jenis kanker lainnya adalah kanker kelenjar getah bening/limfoma, kanker nasofaring, kanker kulit, kanker ovarium/indung telur, kanker kelenjar gondok, kanker kolorektal, kanker paru dan kanker jaringan lunak.

Karena itu, dokter spesialis bedah onkologi ini menyarankan setiap wanita untuk memerhatikan payudaranya dan segera mengambil tindakan jika muncul kelainan sekecil apapun, termasuk bila ditemukan benjolan kecil. ”Kadang wanita menganggap benjolan kecil pada payudara hanya sebagai uci-uci atau kelenjar saja, padahal itu bisa jadi tumor,” kata ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta ini.

Tumor, menurut dua, bisa merupakan cikal bakal kanker tergantung dari sifatnya. Tumor memiliki dua karakteristik sifat yaitu ganas dan jinak. ”Tidak semua tumor menjadi kanker, hanya tumor ganas saja yang menjadi kanker.”
Selain tumor, benjolan pada payudara bisa pula merupakan kista. Pada tumor, benjolannya mempunyai struktur yang lebih padat. Lain halnya dengan kista, di mana pada bagian tengah benjolan terdapat cairan. Seperti halnya tumor, kista pun mempunyai dua sifat yakni ganas dan jinak. ”Kista ganas payudara yang menyebabkan kanker hanya lima persen, tapi jika kista ganas terdapat di ovarium maka peluang menjadi kanker sangat besar,” kata salah satu anggota Tim Kerja Kanker Payudara Rumah Sakit Dharmais ini.

Secara umum, lanjut Sutjipto, ada sejumlah tanda yang patut dicurigai sebagai gejala awal munculnya kanker. Tanda-tanda tersebut di antaranya, muncul benjolan di payudara, kista di payudara disertai keluarnya cairan atau darah dari puting, luka yang sulit sembuh di sekitar payudara, saat dilakukan pemeriksaan dengan USG atau mamografi ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kanker. ”Saya juga menyarankan untuk tidak selalu menggunakan bra yang berwarna. Gunakan yang berwarna putih agar mudah diketahui jika terdapat bercak aneh dari carian yang keluar dari payudara,” ucap Sutjipto.

Sayangnya, banyak wanita yang tak memerhatikan gejala-gejala itu. Akibatnya, sebagian besar (70 persen) kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut ketika sel-sel kanker sudah menyebar ke jaringan atau organ tubuh yang lain semisal saluran getah bening, paru-paru, tulang, bahkan otak. ”Jadi sebenarnya banyak orang yang meninggal karena kanker payudara itu bukan berarti disebabkan oleh kanker di payudaranya tetapi karena anak sebar sel tersebut sudah merusak organ-organ vital yang lain,” ungkap bapak tiga anak ini.

Tidak hiraunya para wanita terhadap pertanda kanker payudara, lanjut Sutjipto, lebih disebabkan oleh persepsi yang salah mengenai penyakit kanker. Banyak penderita merasa takut berobat ke dokter apalagi jika mendengar kata operasi. Alhasil, tak sedikit penderita yang memilih pengobatan alternatif, termasuk berobat ke dukun.

Faktor risiko
Pada saat yang sama, kesadaran wanita Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker payudara juga masih rendah. Padahal, caranya tidak sulit lho. Secara berkala, minimal sebulan sekali, rabalah secara seksama payudara Anda untuk mendeteksi adanya kelainan, semisal benjolan atau keluarnya cairan dari puting. Secara berkala pula, lakukanlah pemeriksaan (check up) payudara dengan mamografi.

Apa sebenarnya penyebab kanker payudara? Sejauh ini, dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Hanya saja, ada sejumlah faktor risiko yang mempermudah seseorang menderita penyakit ini. Faktor-faktor risiko adalah riwayat keluarga dengan kanker payudara, sudah mempunyai tumor jinak, haid di usia sangat muda, atau menopause saat berusia lebih dari 50 tahun, tidak menikah atau tidak menyusui, melahirkan anak pertama di atas 35 tahun, banyak mengonsumsi makanan berlemak, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres.

Menurut Sutjipto, potensi terkena kanker payudara cenderung lebih tinggi pada wanita yang berusia di atas 35 tahun. Karenanya, di usia rentan ini, kaum wanita dianjurkan memeriksakan payudaranya secara rutin melalui mamografi dan USG. Kanker payudara juga berpotensi menyerang wanita yang menggunakan terapi hormonal dalam jangka panjang seperti kontrasepsi suntik. Jadi, jika usia Anda sudah 35 tahun, sebaiknya hentikan sistem KB hormonal, lalu ganti dengan IUD. ”Atau yang sudah menggunakan KB suntik selama dua tahun sebaiknya ganti dengan spiral (IUD).”
Enyahkan Sumber Karsinogen
Tanpa disadari, di sekitar kita banyak sekali sumber karsinogen (zat-zat yang dapat memicu kanker). Salah satunya pada makanan. Seperti dijelaskan Fatimah Syarief, ahli gizi, makanan dan minuman beralkohol berpotensi menjadi ‘sarang’ zat-zat karsinogenik. ”Bahkan pada tapai ketan atau tapai singkong,” kata wanita kelahiran Jakarta, 25 November 1982 itu. Juga pada makanan-makanan yang dibakar. Bagian dari makanan yang dibakar  terlihat kehitaman karena gosong  memicu munculnya nitrosamin. Ini merupakan bahan karsinogen yang berpotensi menimbulkan kanker di beberapa bagian tubuh.

Jenis makanan lain yang patut dihindari adalah makanan yang menggunakan bahan tambahan seperti amaranth pada makanan ringan, benzpyrene, cyclamates, hydrazines atau saccharin (pemanis buatan). ”Jika hendak mengonsumsi makanan ringan sebaiknya teliti kandungan zat-zat di dalamnya dengan membacanya pada kemasan,” saran ahli gizi dari produsen makanan kesehatan, Sun Hope.

Waspadai pula kemungkinan adanya mycotoxin pada jamur mentah dan aflatoxin pada kacang-kacangan yang berjamur. Mycotoxin maupun aflatoxin merupakan zat karsinogenik. ”Tapi jangan samakan dengan jamur ragi pada tempe,” tambahnya.
Selain itu, masih banyak lagi sumber karsinogen di sekitar kita. Sebut saja di antaranya, sayuran yang mengandung pestisida, obat batuk yang mengandung chlorofom, asap rokok, dan asap dari knalpot kendaraan bermotor.

Walau zat-zat berbahaya itu ada di dekat kita, menurut Fatimah, risiko kanker bisa berkurang jika kita mampu memilih makanan yang baik. Beberapa suplemen tergolong baik untuk mencegah kanker semisal, suplemen yang mengandung omega 3 dari minyak ikan atau minyak hati ikan, kolostrum, juga suplemen yang mengandung klorofil atau antioksidan.  (kim)

Terapkan Gaya Hidup Sehat
Penyakit kanker tidak akan muncul seketika saat kita mengonsumsi makanan berkarsinogenik atau menjalankan pola hidup tidak sehat. Sel-sel kanker akan berkembang dalam tubuh selama bertahun-tahun, paling tidak sekitar 10 sampai 20 tahun, barulah tubuh kita merasakan dampak dari perkembangan kanker tersebut. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa mencegah munculnya sel-sel kanker di dalam tubuh. Untuk itu, terapkan gaya hidup sehat. Bagaimana caranya? Simak tips dari dr
Sutjipto Sp B (K) Onk berikut ini.

Hindari rokok dan minuman beralkohol.
Hindari kegemukan.
Jauhi makanan tinggi lemak dan tinggi protein. Sebaliknya, perbanyak konsumsi sayur dan buah.
Banyak mengasup makanan yang mengandung vitamin A dan C.
Olahraga secara teratur.
Cukup istirahat.
Jauhi stres.
Lakukan pemeriksaan payudara secara teratur.

Penyakit Kawasaki

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Penyakit Kawasaki
Waspadai bila balita demam tinggi dalam waktu yang lama.

Kematian Jett Travolta (16 tahun) dua pekan silam menyentak publik. Anak aktor kenamaan Hollywood John Travolta ditemukan tewas di bak mandi saat berlibur bersama keluarganya di Bahama. Penyebab pasti kematiannya masih belum bisa ditentukan. Usut punya usut pada usia dua tahun Jett pernah menderita penyakit kawasaki. Tersiar kabar bahwa kematiannya diakibatkan karena serangan jantung akibat dari akumulasi kerusakan pembuluh jantung sejak terkena penyakit tersebut.

”Saya sendiri kurang yakin kalau anak John Travolta itu meninggal karena penyakit kawasaki. Tapi, memang pengaruh paling fatal dari penyakit itu adalah kerusakan pembuluh jantung,” ujar dr Najib Advani SpA (K) M Med, pakar penyakit kawasaki dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh dr Tomisaku Kawasaki pada 1967 di Jepang. Di Negara Matahari Terbit itu penyakit tersebut mengenai 50-100 kasus per tahun.

Di Indonesia, penyakit kawasaki ini, menurut Najib, sudah ditemukan sudah relatif lama. ”Kalau saya pertama kali menemukan kasus penyakit kawasaki pada 1996 tapi sebelum itu pernah ada yang menemukan pada 1980-an,” ujarnya. Najib Advani memprediksi setidaknya ada 5.000 kasus baru penderita kawasaki setiap tahunnya. Namun, hanya sekitar 100 sampai 200 kasus yang terungkap sehingga masih ada ribuan kasus penyakit kawasaki yang masih belum diketahui. Sebagian besar menyerang anak di bawah lima tahun terutama pada umur dua sampai tiga tahun. Sebanyak 65 persen merupakan anak keturunan Tionghoa, Jepang atau Korea.

”Tapi tentang penyebabnya sampai saat ini kami belum bisa memastikannya,” ungkap Najib. Hal tersebut terjadi karena kesadaran medis di kalangan masyarakat masih belum terbangun. Ditambah lagi beberapa kasus penyakit kawasaki justru mengalami kesalahan diagnosis karena adanya kesamaan gejala.
””Sering penyakit ini justru terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong,” ungkap dokter yang pernah mempelajari tentang kardiologi anak di Belanda ini.

Perlu obat khusus
”Tapi sebenarnya yang harus ditakuti dari penyakit ini bukan dari gejalanya tetapi jika tidak tertangani penyakit ini mengakibatkan peradangan pada pembuluh darah, dan yang paling fatal pada pembuluh darah di jantung,” ungkap Najib. Penyakit kawasaki tidak menular, biasanya terjadi pada anak laki-laki.
Menurut Najib, gejala tersebut bersifat self limiting pada beberapa kasus sehingga bisa hilang dengan sendirinya, tetapi justru akibat yang ditinggalkannya bisa mengakibatkan penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah di jantung. ”Sekitar 20 sampai 40 persen anak pembuluh di jantungnya terganggu karena penyakit ini.”

Penyakit tersebut meulai menyerang daerah jantung setelah hari ke-7-8 sejak awal timbulnya demam. Dimulai dengan munculnya pelebaran pembuluh darah sehingga memicu terjadinya penyempitan atau sumbatan. Akibatnya darah yang masuk ke jantung akan terganggu sehingga menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dalam istilah medisnya disebut infark miokard. Kematian dapat terjadi pada 1 sampai 5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15 sampai 45 hari setelah awal timbulnya demam.

Untuk menangani penyakit ini, dibutuhkan obat khusus untuk mengurangi dampak dari penyakit. Obat yang bernama imunoglobulin tersebut harus diberikan selama 10 sampai 12 jam dengan cara melalui infus. Saat ini harga obat tersebut sebesar Rp 1 juta per satu gram. Padahal untuk menangani kasus penyakit yang dinamai sesuai penemunya itu harus dengan perhitungan dua gram obat per berat badan penderita. ”Kalau anak beratnya 10 kg, berarti dia membutuhkan sekitar 20 gram obat yang harganya bisa mencapai Rp 20 juta,” kata pimpinan Kawasaki Center yang berada di RS Omni International Alam Sutera, Serpong Tangerang itu.

Meskipun terkadang gejala penyakit ini hilang dengan sendirinya (dalam beebrapa kasus saja), potensi terkena serangan jantung baru akan terjadi setelah bertahun-tahun. Pembuluh koroner yang sudah mengalami kelainan pada lapisan dalam akan memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa muda kelak. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda ada kemungkinan pada masa kanak-kanaknya orang tersebut pernah terkena penyakit kawasaki.

Konsumen Obat Pengencer Darah Seumur Hidup
Grace Octavia Tanus (10 tahun) tidak tampak berbeda dengan gadis-gadis cilik yang lain. Dia masih beraktivitas dan bersekolah di SD IPEKA Puri, Jakarta, seperti biasa.
Tapi, siapa sangka putri dari Soeyanny Tjahja itu harus mengonsumsi obat pengencer darah seumur hidup dan beberapa vitamin untuk jantung. Bahkan saat gadis mungil ini terlalu lelah, ia akan terus merasa sesak napas sehingga harus mendapatkan bantuan oksigen. `’Pernah kami harus membawa tabung oksigen ke mana pun kami pergi,” ujar sang ibu yang akrab dipanggil Asui itu.
Apa yang terjadi saat ini, ternyata merupakan buntut dari sebuah penyakit yang menyerang Grace saat berusia 6,5 tahun. Bermula dari suhu badannya yang tiba-tiba meningkat hingga mencapai 39 derajat Celsius pada 4 Juli 2005. Selama beberapa hari demam dengan suhu badan tinggi itu tidak kunjung reda, meski sudah menemui dokter dan mendapat obat penurun panas.

Tiga hari kemudian Grace dibawa ke Bandung untuk mendapatkan perawatan dan melakukan serangkaian tes. Saat itu tubuhnya lemah, mata merah, badan merah, bibir merah, dan suhu badannya justru mencapai 40 derajat. ”Hasil dari tes, dokter mengatakan ada infeksi di saluran kencing, keesokan harinya dokter mengatakan ada flek di paru-paru dan diberikan obat-obatan antibiotik dosis tinggi tetapi suhu badan Grace masih belum turun juga yang waktu itu mencapai 41 derajat,” kenang Asui.
Pada hari kelima di rumah sakit, baru Grace dinyatakan menderita penyakit kawasaki, sebuah penyakit yang masih jarang didengar di telinga ibunya, Asui. ”Dia kemudian diberi obat yang sangat mahal harganya yaitu Rp 3.500.000 per botol. Saat itu Grace memerlukan 10 botol dengan cara diinfus,” kata Asui.
Dengan obat itu, suhu badan Grace kembali normal dan beberapa gejala yang lain juga berkurang. Tetapi karena keterlambatan penanganan, penyakit itu sudah menyerang pembuluh koroner di jantung Grace. Terjadi pembengkakan di bagian pembuluh itu beberapa penyumbatan aliran darah ke jantungnya. Agar tidak terjadi penyumbatan maka Grace selalu diberikan obat pengencer darah hingga saat ini. (kim)

Ciri-ciri Penyakit Kawasaki
Kesalahan diagnosis sering terjadi karena ciri-ciri penyakit Kawasaki hampir serupa dengan beberapa penyakit lain. Ciri-ciri atau gejalanya adalah:
–        Demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41 derajat Celsius
–        Suhu badan pada saat demam naik turun selama lima hari tetapi tidak pernah mencapai normal
–        Pada anak yang tidak tertangani, demam bisa berlangsung hingga satu bulan.
–        Dua atau tiga hari setelah demam, mncul bercak merah di tubuh yang mirip penyakit campak.
–        Mata memerah, pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga penyakit gondong (parotitis), lidah, bibir memerah menyerupai stroberi, serta telapak tangan dan kaki merah
dan agak membengkak.
–        Secara psikologis anak akan lebih sering rewel dan mengeluh nyeri pada persendian.

Tiga Langkah Awal

Penyebab pasti penyakit ini belum bisa ditentukan, dr Najib Advani menyarankan orangtua agar segera bertindak jika mulai timbul gejala-gejala penyakit Kawasaki. Langkah berikut bisa diambil sebagai tindakan awal :
1. Waspadai jika anak balita demam dengan panas tinggi hingga 4 sampai 5 hari
2. Cepat dan tepat memilih dokter agar tidak salah diagnosis, minimal langsung pada dokter spesialis anak
3. Pada anak yang sudah terkena penyakit kawasaki usahakan untuk tidak terluka karena pengaruh obta pengencer darah membuat pendarahan menjadi sulit berhenti. Kemudian hindari minuman atau makanan yang mengandung kafein yang dapat mamacu jantung.

Kaki Gajah

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Mencegah Kaki Gajah
Sebagian orang ragu minum obat massal pencegah kaki gajah. Bagaimana sebenarnya?

Evi ragu meminum obat itu. Suaminya baru mengambilkan untuk seisi rumah di rumah Pak RW. Seluruh di pemukiman Megapolitan Cinere mendapat jatah obat yang sama, obat pencegah penyakit kaki gajah.Mendengar tetangganya yang baru keluar rumah sakit lantaran serangan jantung tidak meminum obat itu, keputusan Evi menjadi bulat. Ia memasukkan lima butir tablet itu ke dalam laci.

`’Saya takut nanti kalau ada apa-apa,” katanya.Meski filariasis dan obat pencegahnya telah disosialisasikan, cukup banyak orang seperti Evi. Takut, bingung, dan sejatinya tidak paham benar tentang kedua hal itu.Padahal hanya beberapa kilometer dari rumah Evi, di Krukut, Depok, sejumlah orang sudah menjadi penderita pembengkakan bagian tubuh akibat cacing-cacing filaria.

Secara umum, aman
Dalam rentang tahun 2000 hingga 2001 masyarakat Depok, Jawa Barat dikejutkan dengan sebuah penemuan. Di salah satu daerah di kota tersebut telah ditemukan satu orang penderita kaki gajah. Dinas Kesehatan Depok bahkan Departemen Kesehatan langsung turun tangan. Tes pun dilakukan dan hasilnya positif.
Untuk lebih memastikan survei kemudian dilakukan, diambil sampel sebanyak 500 orang dari beberapa kelurahan sepeti Kelurahan Grogol dan Krukut.

”Hasilnya di atas satu persen dari sampel terkena kaki gajah dan dari perhitungan itu bisa dikatakan Depok endemis,” kata dr Ani Rubiani MKes, kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Penyehatan Lingkungan (P2PPL).Sejak saat itu program penanggulangan pun dilaksanakan di kota Depok seperti juga di kota-kota satelit lainnya seperti Bekasi atau Bogor. Setiap tahun Pemerintah Kota Depok menggelar pengobatan massal. Obat khusus yang diberikan adalah Diethylcarbamazine (DEC) dan Albendazole. ”Obat ini merupakan paket langsung dari Departemen Kesehatan,” ujar Ani.

Menurut Ani, obat ini merupakan obat khusus untuk membunuh cacing filaria yang menyebabkan kaki gajah. Meski obat ini aman dikonsumsi semua orang, namun dalam setiap pengobatan massal obat ini tidak sembarangan diberikan. Pada ibu hamil, anak usia dua tahun ke bawah dan orang-orang dengan penyakit berat tak mendapatkan obat ini. ”Walaupun tidak ada indikasi negatif pada beberapa orang itu tetapi hal ini dilakukan untuk jaga-jaga saja,” kata Ani.

Ahli penyakit tropik dan infeksi, dr Widayat Djoko Santoso, menyatakan yang serupa. Hanya pada kasus-kasus tertentu pada orang yang alergi obat saja yang tidak bisa diberikan obat ini. ”Seperti pada udang, semua orang bisa makan kecuali yang sudah ada bakat alergi,” katanya beranalogi.Tidak diberikan nya obat pada penderita penyakit jantung atau daha tinggi hanya dimaksudkan untuk mengurangi risiko saja.

Selain itu, perlu menggunakan dosis tertentu pada orang-orang yang menderita kerusakan hati atau ginjal. Pemberian dosis yang tepat tidak akan menganggu fungsi dua organ yang sangat sensitif terhadap obat itu. ”Dosis bisa diberikan setengahnya atau dengan dosis tetap tetapi jangka waktu pemberian selanjutnya dibuat lebih lama dua kali lipat,” jelas dia.

Operasi plastik
Obat cacing, menurut Widayat, juga bisa mengurangi risiko terkena penyakit ini. Bahkan, selain obat-obat tertentu seperti DEC atau Abendazole,  obat cacing biasa,  katanya ,  dapat membunuh cacing filaria dalam tubuh. Semakin cepat cacing itu mati maka risiko pembengkakan akan semakin berkurang.

Benarkah bila pembengkakan sudah terjadi penyakit kaki gajah tak dapat disembuhkan? ”Saat sudah terjadi pembengkakan bahkan, cacing masih tetap bisa dibunuh dengan obat cacing,” ujar Widayat, `’tetapi efeknya yang berupa gelambir itu yang tidak dapat disembuhkan kecuali mau operasi plastik.”
Namun, perlu dicatat, pada penderita kaki gajah yang sudah akut, keefektifan obat cacing juga semakin berkurang.

Bukan tidak dapat lagi membunuh cacing, tetapi karena banyaknya sumbatan pada jaringan getah bening yang kecil dan menyebar ke mana-mana sehingga obat tersebut tidak dapat masuk. Akibatnya, meski obat cacing itu termasuk jenis dosis tunggal, pemberian bisa dilakukan berulang-ulang pada penderita yang sangat akut. ”Tujuannya agar obat tersebut bisa menembus melalui celah-celah sumbatan itu dan membunuh cacing yang berada di balik sumbatan,” ujar Widayat.

Untuk lebih memastikan masih ada tidaknya cacing filaria dalam tubuh (untuk upaya pencegahan atau terapi pada penderia yang sudah akut) bisa dilakukan tes pengecekan darah. Dengan melihat hingga ke bagian-bagian yang ukurannya mikroskopis diperiksa keberadaan cacing filaria.Cara yang lain adalah dengan melakukan tes antibodi. Dengan sebuah preparat khusus seseorang dapat ditentukan memiliki cacing filaria dalam tubuhnya atau tidak.

”Pada setiap orang yang tubuhnya masuk benda asing yang dalam hal ini parasit cacing, antibodi akan terbentuk dengan sendirinya,” jelas Widayat.Jika produksi antibodi yang tipikal dengan cacing filaria banyak maka bisa dikatakan pada tubuh orang tersebut terdapat cacing filaria.

Semua Berpeluang Sama
Sebahaya apakah penyakit kaki gajah? Satu hal yang sedikit melegakan. ”Penyakit kaki gajah atau filariasis tidak menyebabkan kematian,” kata dr Widayat Djoko Santoso SpPD KPTI, ahli penyakit tropik dan infeksi.Namun, sebagian besar keluhan tentang filariasis datang seputar masalah estetika. Penyakit ini mengakibatkan suatu bagian tubuh membengkak sangat besar. Dan, kondisi ini tidak dapat kembali seperti semula lagi.

Hal itu terjadi karena, ”Cacing filaria ini masuk di jaringan getah bening. Kalau kelenjar getah beningnya ini buntu maka akan jadi bengkak,” kata Widayat. Penyumbatan kelenjar getah bening itu diakibatkan dari cacing yang memakan jaringan di sekitarnya sehingga timbul kerusakan dan luka.Saat luka itu sembuh, jaringan tidak akan berbentuk seperti semula lagi.

Ada semacam codetan yang tidak rata sehingga jaringan-jaringan kelenjar getah bening yang kecil dan ruwet itu menjadi tersumbat.Proses itu berlangsung selama bertahun-tahun. Dari pengalamannya, Widayat belum pernah menemukan adanya keluhan klinis seperti demam, panas atau nyeri pada saat proses itu berlangsung.

Cegah dini
Gejala filariasis tak terdeteksi. Karena itu, tak heran penyakit ini sering tidak disadari keberadaannya. Akibatnya bengkak-bengkak karena sumbatan itu lama kelamaan semakin besar sehingga menjadi seperti bergelambir. Bagian tubuh terutama kaki menjadi sangat besar dari ukuran yang normal. Itulah sebabnya penyakit ini disebut penyakit kaki gajah.

Penyebaran penyakit ini, jelas pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, asalnya dari nyamuk yang membawa larva cacing filaria dalam perutnya. ”Biasanya jenis culex yang banyak terdapat di rumah-rumah,” ujar dia.Saat nyamuk menggigit larva akan berpindah ke saluran getah bening dan berkembang biak di dalamnya.

Ketika ada nyamuk lain yang menggigit orang yang sudah terdapat cacing filaria dalam tubuhnya, maka nyamuk itu akan membawa larva lagi. Larva itu akan tersebar jika dia menggigit orang yang lain. ”Tidak ada kondisi fisik tertentu yang menyebabkan orang mudah terkena penyakit kaki gajah. Semua orang berpeluang sama,” kata Widayat.

Alhasil, siapa pun orangnya, lanjutnya, jika tidak ingin terkena penyakit kaki gajah harus melakukan pencegahan sejak dini. Pola hidup sehat dan rajin memberantas sarang nyamuk bisa menjadi langkah awal yang baik. ”Pemberantasan vektor yang berupa nyamuk itu sangat penting agar penyakit ini tidak menyebar.”

Ingat Nyamuk, Obat Cacing, dan Benjolan
1. Nyamuk memiliki andil yang sangat besar dalam penyebaran penyakit kaki gajah, sehingga pemberantasan sarang nyamuk menjadi hal yang wajib dilakukan. Terutama pada daerah-daerah endemis atau bagian-bagian rumah yang gelap dan lembab.

2. Memakan obat cacing secara teratur dapat mengurangi risiko. Biasanya meminum obat pembasmi cacing filaria dilakukan setiap satu tahun sekali atau enam bulan sekali.

3. Cacing filaria dalam tubuh dapat dibunuh namun pembengkakan pada bagian tubuh tidak dapat diobati kecuali dengan operasi plastik. Oleh karena itu jika mendapati ada benjolan aneh pada kelenjar getah bening maka segera periksakan.

Jika nyamuk menggigit pada daerah seputar kaki maka kelenjar getah bening pada pangkal paha yang lebih dulu bengkak, jika digigit pada tangan maka kelenjar di bawah ketiak yang akan bengkak, lalu jika digigit pada kepala maka kelenjar pada bagian leher yang menunjukkan pembengkakan. ”Meski bukan berarti benjolan aneh pada kelenjar getah bening adalah penyakit kaki gajah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri karena siapa tahu bengkak itu karena infeksi lain atau tumor,” kata Widayat Djoko Santoso. (kim)

Kram 2

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Sakitnya Terserang Kram
Bila kram terjadi, apa yang penting diwaspadai?

Andika (15 tahun) kerap terjaga di malam hari. Sesaat ia tak sadar apa yang terjadi. Berteriak-teriak kesakitan sambil menggerak-gerakkan kakinya ke kiri dan kanan.Dalam beberapa detik ia sadar sedang terserang kram. Pada saat ibunya sudah masuk kamar, sigap membalur balsam di betisnya. Ia pernah beberapa kali kram kaki saat berenang.Kram amat umum terjadi. Hampir setiap orang pernah mengalami kram. Kram umum terjadi pada orang dewasa, bertambah sering sesuai peningkatan umur. Kendati begitu, anak-anak pun bisa mengalami kram.

Pada prinsipnya, ahli jantung dan pembuluh darah Arieska Ann Soenarta MD SpJP menjelaskan, kram yang terjadi di seluruh bagian tubuh itu akibat dari peredaran darah yang tidak lancar.Kram terasa sangat sakit. Biasanya penderita terpaksa harus berhenti dulu dari kegiatannya bila terserang kram. Ia harus menyembuhkan dulu kramnya. Sebab, ia tak bisa melanjutkan aktivitasnya saat kram.

Kram bisa berlangsung hanya beberapa detik bahkan ada yang hingga 15 menit. Sering kali kram terjadi berulang beberapa detik hingga betul-betul hilang.Rasa sakit saat kram, yang biasanya terjadi pada betis dan kaki, bisa sangat mengganggu aktivitas yang sedang dikerjakan. Otot yang terserang keram umumnya adalah otot rangka. Yakni, otot yang kontraksinya kita sadari seperti pada otot kaki dan tangan. Tapi, kram bisa juga menyerang pada otot yang kontraksinya tidak kita sadari seperti pada kram jantung atau kram perut.

Menurut Ann, jika terjadi sakit kepala yang sangat hebat karena aliran darah yang tersumbat juga bisa mengakibatkan kram otak. ”Kram otak ini bisa menyebabkan stroke. Tapi, istilah ini tidak lazim digunakan meski sebenarnya kram itu adalah istilah untuk mengungkapkan rasa sakit,” ujar dia.
Kram jantung ataupun kram otak memang sangat berbahaya karena bisa berakibat langsung pada nyawa. Tetapi, kram-kram yang lain juga tidak boleh dikesampingkan.

Organ gerak tubuh
Kram kerap terjadi saat kita berolahraga. Dosen kesehatan olahraga Drs Joko Pekik Irianto MKes menjelaskan kram tersebut terjadi karena kondisi otot yang kontraksi secara terus-menerus. Konsultan kebugaran ini mengategorikan tiga penyebab kram pada organ-organ gerak tubuh. Pertama, karena otot tidak bisa bekerja akibat kehabisan energi. Agar otot bisa memanjang dan memendek sesuai fungsinya dibutuhkan energi. Namun, apabila energi dalam tubuh itu terlalu terforsis penggunaannya maka elastisitas otot akan berkurang.

Kedua, energi pada otot masih tersedia tetapi elektrolitnya berkurang atau kebutuhan antara intrasel dengan intersel tidak seimbang. Setiap seseorang berolahraga pasti mengeluarkan keringat. ”Keringat itu keluar bersama mineral atau elektrolit yang dibutuhkan oleh tubuh,” ujar Joko. Semakin berkurang elektrolit dalam tubuh maka semakin besar peluang terkena kram.

Pengebab ketiga, energi dalam otot masih tersedia, elektrolit juga masih ada akan tetapi suplainya ke otot terbendung oleh produksi asam laktat. Asam ini secara natural diporduksi oleh tubuh saat kita terlalu memaksakan diri saat olahraga atau melakukan aktivitas fisik. Saat elektrolit dan nutrisi untuk otot berkurang maka kram akan terjadi.

”Pada orang yang berolahraga anggota gerak bagian bawah seperti otot paha dan betis yang sering terserang kram,” ungkap pengajar kesehatan olahraga di Universitas Negeri Yogyakarta ini. Meski dengan prinsip yang hampir sama, organ gerak tubuh yang lain bisa terjadi kram.Tak ada uji khusus untuk kram. Umumnya orang tahu yang dimaksud dengan kram saat mereka mengalaminya. Orang yang tak mengalaminya pun tahu dengan meraba bagian tubuh yang kena kram. Terasa tegang, otot teraba sangat kaku. (kim)

Kram

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Saat Kram Mengancam Nyawa

Seorang lelaki tua dibawa ke ruang penanganan gawat darurat di sebuah rumah sakit. Tangan lelaki itu mencengkeram dadanya terlihat menahan rasa sakit yang sangat. Begitu  perawat baju lelaki itu, bagian dada dan punggungnya tampak garis-garis merah, bekas kerikan yang masih baru dan sangat jelas, menutupi bekas kerikan yang lebih lama.

Dokter mendiagnosis, pria tersebut telah terkena serangan jantung atau bisa disebut dengan istilah kram jantung.
Gambaran seperti ini banyak ditemui oleh Arieska Ann Soenarta MD SpJP, saat menjadi dokter ahli jantung wanita pertama di Indonesia. Dan, tentu saja peristiwa itu sudah bertahun-tahun yang lalu terjadi. ”Masih banyak orang mengira kram jantung itu sebagai masuk angin sehingga mereka lebih memilih untuk mengerik bagian yang sakit daripada langsung dibawa ke rumah sakit,” kenangnya. Itulah sebabnya, rasa sakit yang tiba-tiba di dada, oleh masyarakat awam masih dianggap sebagai angin duduk.

Seiring dengan makin banyaknya seminar atau pengetahuan tentang penyakit jantung, gambaran kejadian yang dialami pria tua tadi berangsur memudar. ”Di perkotaan memang sudah banyak yang sadar tapi belum tentu bagi mereka yang ada di pedesaan,” ujar Ann.Ia menjelaskan, sakit di bagian dada yang datangnya tiba-tiba bisa diakibatkan oleh otot-otot jantung yang kejang atau disebut kram jantung. Sirkulasi darah yang berkurang ke bagian jantung.

Otot-otot membutuhkan makanan untuk tetap bekerja sesuai fungsinya. Makanan itu berupa oksigen yang dibawa oleh darah melalui pembuluh darah yang tersebar di seluruh tubuh.
Jika terdapat gangguan pada pembuluh darah tersebut maka aliran menjadi tidak normal dan mengakibatkan otot tidak fleksibel lagi. Gangguan pada pembuluh darah itu dapat berupa penyempitan atau adanya kerak-kerak di dinding-dinding pembuluh. Jika otot yang menegang itu terjadi pada otot jantung maka akan timbul rasa sakit yang sangat tinggi akibat kram jantung.

Segerakan
”Kram di dada taruhannya nyawa,” ujar Ann. Oleh karena itu, waktu, bagi mereka yang tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit adalah hal yang paling penting.Jika langsung dibawa ke rumah sakit dalam jangka kurang dari tiga jam hasilnya jauh lebih memuaskan daripada yang dibawa kurang dari enam jam. ”Dan ini jauh lebih baik dari sembilan jam,” tambahnya. Penundaan bisa menyebabkan kematian karena tanda-tanda kelainan jantung adalah adanya rasa sakit di dada.

Saat menangani kram jantung, hal yang perlu diperhatikan adalah makanan untuk otot jantung itu yang berupa oksigen. Oleh karena itu pada saat seseorang terkena kram jantung sesegera mungkin menyuplai oksigen tambahan pada penderita. Lalu, obat pereda rasa sakit.Saat rasa sakit secara terus-menerus terjadi maka makin banyak sel-sel jaringan yang akan rusak. Obat pereda rasa sakit dapat mengurangi dampak tersebut. Hal yang terakhir dilakukan adalah pemberian obat yang mampu melebarkan pembuluh darah atau menghancurkan kerak-kerak yang menghambat aliran darah.

”Tapi kalau hal ini terjadi di rumah yang biasanya tidak ada tabung oksigen, maka obat pereda rasa sakit digunakan terlebih dahulu lalu secepat mungkin dibawa ke rumah sakit,” kata dokter yang juga sebagai Internasional Affair untuk The Indonesian Society of Hypertension ini.Lebih lanjut, Ann menjelaskan, bahwa pada prinsipnya kram yang terjadi di seluruh bagian tubuh itu akibat dari peredaran darah yang tidak lancar. Bahkan jika terjadi sakit kepala yang sangat hebat karena aliran darah yang tersumbat juga bisa mengakibatkan kram otak. ”Kram otak ini bisa menyebabkan stroke. Tapi, istilah ini tidak lazim digunakan meski sebenarnya kram itu adalah istilah untuk mengungkapkan rasa sakit,” ujarnya.  (kim)

Jangan Pijat!
Saat kram terjadi, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan :

1. Ketahuilah dahulu otot sebelah mana yang terserang kram.
Observasi bagian itu karena belum tentu pada bagian yang sakit hanya karena kram saja. Pada kasus olahraga melakukan tindakan sembarang pada kram dapat berakibat fatal karena mungkin saja pada bagian kram juga terdapat fraktur atau retak tulang akibat cedera di lapangan.

2. Relaksasikan otot yang menegang.
Jangan sekali-kali memijat bagian yang kram karena dapat berpotensi memecah pembuluh darah:
– Kram yang banyak terjadi pada betis, penanganan pertamanya, orang yang kram berada dalam posisi terlentang sambil mengangkat kaki lalu tekan telapak kaki mengarah ke kepala.
– Kram di perut karena olahraga, posisikan orang yang terserang kram dalam keadaan terlentang. Perlahan masukan telapak tangan di bawah punggung yang sejajar dengan perut, lalu angkat perlahan-lahan hingga posisi perut membusur.

3. Pada cuaca dingin, orang lebih sering terkena kram karena pembuluh darah dan otot mengerut.
Hawa dingin juga membuat seseorang lebih sering buang air kecil, yang artinya juga membuang beberapa mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Untuk mengatasi kram pada saat seperti ini, oleskan salep hangat atau balsam pada bagian yang kram dan jangan sekali-kali dipijat.