Archive for May, 2015

Orang bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membuka kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Siapa sangka, dari pertemuan itu akan ada kisah menarik yang diceritakan. Seperti yang terjadi di malam itu.

Pada kunjungan keduanya, dua mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi ternama di Solo itu kembali berdiskusi soal kegiatan yang akan dilakukannya di akhir bulan. Menjelang akhir pembicaraan terungkap bahwa salah satunya adalah keturunan dari pedagang sate daging sapi di Lapangan Karang, Kotagede, Jogjakarta. Warga Jogja mengenalnya sebagai Sate Karang. Disebut Sate Karang karena lokasinya di Lapangan Karang, sebenarnya ada nama yang terbubuh di spanduk warung tenda sederhana itu. Tapi sayangnya, saya lupa.

Kenapa pertemuan tersebut menjadi spesial? karena Sate Karang adalah salah satu makanan penuh memori bagi saya dan hal menarik lainnya adalah penyajiannya yang unik tetap dipertahankan.

Masa SMA saya tidak jauh dari menu Sate Karang. Menu spesial yang bisa saya icipi setelah menabung beberapa saat. Wajar, ketika itu masih anak sekolah dan hanya bergantung pada uang jajan.

Dahulu, sekitar 15 tahun yang lalu, Lapangan Karang masih semarak. Pada saat matahari masih bersinar, lapangan tersebut tampak seperti lapangan pada umumnya, digunakan sebagai sarana olahraga oleh sekolah atau masyarakat setempat. Ketika matahari berganti bulan, tempat itu seakan disulap menjadi salah satu sentra kuliner di sudut daerah Kotagede. Deretan pecel lele, pedagang minuman hangat, serta Sate Karang tentunya. Bersama dua sahabat saya, kuliner Lapangan Karang sering menjadi saksi cerita-cerita kami soal gadis yang sedang ditaksir, masa depan, dan mimpi-mimpi kami yang lain.

Selepas SMA, Lapangan Karang menjadi semakin jarang saya kunjungi. Namun, memori itu masih tetap ada, hingga belasan tahun kemudian setelah merantau di Jakarta cukup lama, saya kembali kesana. Usulan sahabat saya yang lain untuk kembali ke tempat itu.

Ketika mobil sudah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, saya kemudian melihat sekeliling. “Lapangan Karang sudah berubah”, gumamku dalam hati. Entah karena hari itu hujan atau alasan lain, lokasi yang pada awalnya ramai dengan penjaja makanan, sudah berkurang cukup signifikan. Hanya tersisa pedagang Sate Karang yang masih konsisten melayani pelanggannya.

Konsisten, kata ini juga yang terbersit saat kami disuguhkan menu pesanan kami. Sate daging yang disajikan masih menggunakan cara yang sama sejak belasan tahun lalu, sejak terakhir saya mampir kesana. Daging sapi yang tampaknya telah diungkep dengan bumbu tertentu, kalau dugaan saya ada sedikit buah asam dan gula Jawa. Hasilnya, daging yang telah dibakar memberikan efek karamel yang khas dan rasa manis yang cukup dominan.

salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti 'cuko'

Salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti ‘cuko’

Sate yang telah dibakar matang disajikan dengan tiga cara, yaitu dengan bumbu kacang, bumbu kecap, dan bumbu kuah. Untuk yang terakhir inilah yang memberikan nuansa unik pada Sate Karang. Daging dilepaskan dari tusukannya, lalu kemudian disiram dengan kuah pedas manis yang hampir mirip dengan ‘cuko’ pada pempek. Kombinasi ini selain memberikan rasa yang berbeda, juga mampu mengembalikan memori saya ketika SMA. Rasa memang menurut saya adalah satu saklar memori yang efektif. Kita tumbuh dengan rasa yang melekat di lidah, ada beberapa jenis rasa yang kemudian mampu membangkitkan momen tertentu. Oleh karena itulah, orang bisa saja tumbuh besar di negara lain, tetapi pada satu titik mereka akan kangen dengan rasa dari negaranya.

Kembali ke Sate Karang. Keunikan tidak berhenti pada penyajian dagingnya. Karbohidrat yang menemani sate, sebut saja lontong, disajikan dengan sayur tempe yang berkuah santan. Sekilas tampak seperti opor atau ketupat sayur, akan tetapi dari sisi rasa justru lebih dekat pada opor. Sate berkuah seperti ini jarang kita temui. Hal itulah yang menjadikan Sate Karang tetap istimewa di hati.

lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Advertisements