Secuil Kisah Pria Biasa Saja dan Chevening

Posted: June 23, 2012 in Kim's Journey

Saat itu sekitar pukul 7 malam waktu London, ketika Blackberry hitam saya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Mata masih setengah terlelap ketika membaca pesan tersebut. Ya setengah terlelap, karena musim dingin berarti malam jauh lebih cepat dan saya pun lebih cepat mengantuk. Di bulan Februari matahari masih terbenam pada pukul 16.00.

Kampus Brunel penuh salju (hanya butuh 10 menit berjalan dari asrama menuju kampus ini)

“Salju turun…” tertulis jelas dalam pesan itu. Saya lupa isi lengkap pesan tersebut akan tetapi dua kata itu seakan menjadi pecutan yang membuat saya melompat dari kasur dan membuka tirai jendela. Benar saja, butir-butir putih itu turun selayaknya hujan menutupi tanah dan ranting-ranting pohon. Keajiban alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya, selain bunga-bunga es yang mengendap di kulkas rumah saya di Jogja. Butiran-butiran salju itu menyihir pikiran saya, membawa pada perjalanan hidup seorang pria biasa-biasa saja yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk bersekolah ke luar negeri melalui beasiswa Chevening. Beasiswa yang diberikan langsung oleh pemerintah Inggris.

Ya, saya adalah seorang pria biasa saja, tanpa nilai akademik yang luar biasa. Sejak SMA, saya tidak pernah mendapatkan gelar juara. Kecuali setelah duduk di kelas tiga IPS yang itu juga kaerna tidak ada matematika dan fisika dalam daftar pelajaran yang diujikan. Menghitung sudah menjadi momok paling menakutkan entah sejak kapan. Jika orang bisa dengan cepat menjawab soal-soal perkalian, hingga saat ini saya masih menggunakan cara yang bisa dibilang berbeda. Jika ditanyakan 7 x 8 maka cara saya menjawab adalah dengan menambahkan 49 (hasil dari 7 x 7) dengan 7 lagi. Jadi di dalam otak saya terbayang ada 8 buah angka 7 yang harus ditambahkan. Well, meski mungkin cara ini cenderung lambat, tapi saya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Memasuki perkuliahan, tidak banyak yang ingin saya capai. Cukup hanya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa saja. Jika kemudian saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, itu mungkin karena kesalahan sejarah saja. Dari sisi akademis tidak ada yang mencolok dari transkrip saya. Impian untuk sekolah ke luar negeri pun ketika itu belum terpikir. Kerjaan saya hanya kuliah, duduk di bawah pohon rindang sambil berdiskusi kesana kemari dengan teman-teman hingga saatnya pulang menjelang maghrib. Tidak banyak yang terjadi selama bangku kuliah.

Hingga suatu saat satu persatu saya melihat teman-teman saya mengikuti tes untuk bisa kuliah singkat ke Italia. Salah satu teman sekelas berhasil dan dikirim ke Italia. Waow, tidak terbayang dalam diri saya untuk bisa keluar negeri seperti itu, pasti hanya orang pintar yang bisa melakukannya. Rasa pesimis itu memang muncul, tapi disisi lain ada rasa iri yang mulai menggelitik. Kenapa mereka bisa dan saya tidak. Tapi rasa ingin bisa sekolah ke luar negeri itu hanya berlalu sesaat. Saya kembali menjadi mahasiswa biasa-biasa saja.

Gelora untuk bisa kuliah di luar negeri, kembali muncul ketika Kakak pertama saya berhasil mendapatkan Chevening dan kuliah di St. Andrew yang katanya salah satu universitas terbaik dan tempat Pangeran Williams bersekolah. Cerita yang dibawa oleh kakak serta foto-foto tentang bagaimana eropa melalui sudut pandang kameranya, memberikan semacam semangat bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa Chevening tersebut, kita hanya perlu mencoba saja. Saat itulah status saya sebagai mahasiswa biasa berubah menjadi mahasiswa pemburu beasiswa.

Setiap sebelum masuk kelas, saya usahakan untuk membaca papan pengumuman dekat dengan kantor jurusan Sastra Prancis, sekedar untuk mencari informasi beasiswa. Selain itu, saya kemudian mendaftar sebagai anggota milis beasiswa untuk bisa selalu mendapatkan kabar terbaru soal kesempatan beasiswa. Hal ini terus berlangsung hingga saya lulus dan bekerja menjadi wartawan di salah satu media nasional.

Tapi sebagai pemburu beasiswa, saya mungkin berada pada kasta paling bawah karena kadang masih malas-malasan untuk mencoba. Pemicu malas ini adalah kesibukan bekerja dan saya belum pernah mengambil tes IELTS sebelumnya. Otomatis saya belum punya nilai yang bisa menjadi pengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Padahal nilai itu sering sekali muncul menjadi salah satu syarat utama dari berbagai macam program beasiswa.

Nah, kenapa saya belum pernah tes IELTS, itu karena saya kurang percaya diri dengan bahasa Inggris saya. Bisa dikatakan seumur hidup saya belum pernah mengambil les bahasa Inggris yang benar-benar mengajarkan grammar dan sebagainya. Saya hanya belajar melalui PS (Playstation) terutama dengan game RPG (role playing game). Panjang jika saya harus menjelaskan tentang RPG itu tapi pada dasarnya saya harus mengerti cerita dari game tersebut untuk bisa menikmati, memainkan, dan menyelesaikan game tersebut. Saya masih ingat RPG pertama saya adalah Breath of Fire, cerita game ini menarik sehingga setiap kali memainkannya kamus tebal selalu berada di samping saya. Begitulah cara saya mengerti bahasa Inggris dan menambah kosa kata. Cara yang tidak biasa memang tapi paling tidak saya bisa membuktikan bahwa saya bisa.

Sadar dengan kemalasan saya, Kakak pertama selalu kembali memberi semangat. Menceritakan kembali tentang keuntungan bersekolah ke luar negeri. Kakak pertama saya ini memang menjalankan perannya sebagai sulung dengan sangat baik. Memberikan standar contoh yang tinggi sehingga adik-adiknya bersemangat untuk bisa seperti dia. Dalam soal pendidikan, keluarga (bapak dan ibu) tidak terlalu banyak memberikan masukan. Mereka lebih cenderung membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai, asalkan bertanggung jawab. Coba bayangkan siapa yang tidak bertanya-tanya jika anaknya masuk Sastra Prancis, mau jadi apa anak mereka nanti. Tapi tidak dengan orang tua saya, mereka membebaskan saja asalkan saya suka. Bapak dan Ibu lebih menekankan soal agama, mereka sangat ketat untuk hal ini. Beruntung juga, karena sampai sekarang insya Allah saya tidak pernah bolong sholat lima waktu.

Dengan kondisi orang tua seperti itu, semangat mengejar pendidikan ke luar negeri hanya datang dari Kakak pertama, dan dia melakukannya dengan sangat baik. Mulai lah kuping saya terasa panas ketika mendengar cerita-cerita dia dan mengambil kursus persiapan IELTS, kursus pertama dalam hidup saya. Berharap diajarkan juga tentang berbahasa Inggris yang baik dan benar, ternyata kursus itu hanya mengajarkan trik cara menjawab soal IELTS dan memberikan kesempatan murid-muridnya untuk berlatih. Hasilnya, ketika saya melakukan tes IELTS, hasilnya 6,5 lumayan lah.

Mendapatkan nilai IELTS bukan berarti saya bisa langsung mendapatkan beasiswa. Saya masih harus berusaha untuk mendaftar. Sejak awal, tujuan saya hanya Chevening, ingin mengikuti jejak kakak. Selain itu, proses beasiswa ini cenderung lebih mudah dari yang lain-lainnya. Hanya mengisi aplikasi online dan menunggu panggilan. Berbeda dengan beasiswa lain yang harus mencatumkan surat izin dari perusahaan dan lain sebagainya. Jika ditotal, usaha saya untuk mendaftar Chevening sudah tiga kali, yang artinya tiga tahun. Usaha itu dimulai sejak saya lulus kuliah di tahun 2007. Usaha pertama gagal karena saya tidak memiliki IELTS dan pengalaman kerja yang kurang. Tahun kedua saya mencoba lagi, dengan bekal nilai IELTS saya tadi tapi tetap saja gagal. Tahun ketiga, yaitu di tahun 2010 saya mendaftar kembali sambil berharap tahun ini berhasil karena saya sudah memiliki nilai IELTS (yang bakal expired pada akhir 2010) dan pengalaman kerja yang memadai.

Mimpi itu akhirnya tercapai, saya sekarang bersekolah di Brunel University London dengan beasiswa Chevening

Kalau kata orang determinasi dan will power itu penting, saya bisa katakan itu benar. Paolo Choelo dalam bukunya The Alchemist banyak bercerita tentang determinasi ini, bagaimana keinginan yang kuat itu akan mendapatkan bantuan dari alam semesta. Dalam hal ini saya perlu tambahkan tidak hanya keinginan yang kuat tetapi juga doa dari orang tua dan diri sendiri. Tiga tahun mencoba dan tetap yakin bahwa Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk ke luar negeri, akhirnya mendapatkan titik terang. Di suatu siang, kabar bahwa saya berhasil lolos ke tahap wawancara untuk mendapatkan beasiswa Chevening sampai melalui sambungan telepon. Tidak tahu harus bersikap apa ketika itu, hanya kegembiraan dan rasa tidak percaya saja yang mungkin terbaca dari air muka saya. Ketika itu meski hanya lolos tahap pertama saya sudah sangat senang sekali. Langsung saya telepon Kakak pertama dan segera meminta saran untuk hal-hal yang harus dilakukan selanjutnya. Selama sebulan, baik melalui sambungan telepon atau bertemu langsung (Kakak saya tinggal di Semarang dan saya di Jakarta ketika itu) saya belajar dari dia bagaimana menghadapi wawancara itu. Kerja keras dan latihan itu memang tidak sia-sia, saya merasa lebih percaya diri ketika pada hari wawancara harus menghadapi dua orang pewawancara. Merasa hari itu sudah berusaha, saya serahkan keputusan akhir pada Allah, nothing to lose.

Sampai pada 10 Mei 2010, sehari setelah ulang tahun saya, telepon genggam saya bergetar. Sederet nomor yang tidak saya kenal muncul. Saya angkat telepon tersebut dan Alhamdulillah terderngar kabar baik bahwa saya diterima beasiswa Chevening. Momen tersebut tidak pernah saya lupakan, langsung saya sujud syukur mengucapkan terima kasih pada Allah untuk kesempatan yang diberikannya.

Well tulisan ini mungkin kurang dengan kata-kata inspiratif akan tetapi apa yang bisa saya katakan adalah jangan pernah berhenti bermimpi dan tetap berusaha. Mimpi adalah bukti bahwa kita masih memiliki harapan, mimpi ada untuk diwujudkan. Keinginan yang kuat dan usaha keras adalah kuncinya. Saya mungkin bukan orang terpintar di kelas ketika SMA dan kuliah, saya mungkin bukan reporter terbaik saat bekerja, akan tetapi saya tahu bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia, Allah pasti akan mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan hambanya. Jika dalam berusaha itu terbentur masa-masa sulit maka ingatlah Surah Alam Nasrah, (Q.S: 94). Di dalam surah tersebut Allah berkata bahwa setelah masa sulit pasti akan datang kemudahan. Kata-kata ini diucapkan sebanyak dua kali yang artinya janji tersebut bukan main-main. Percayalah setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Semoga Beruntung.

Advertisements
Comments
  1. Evi Baiturohmah says:

    So inspiring kak Rosyid. ๐Ÿ˜€ Chavening is also my dream!
    Setahu Evi, Chavening mensyaratkan 2tahun pengalaman kerja. Jadi pas aplly ke3 kak Rosyid langsung dapat. Semoga Kak Rosyid berkenan share pengalaman dan tips untuk mendapatkan Chavening. ๐Ÿ˜€
    Salam kenal.

    Evi- Solo

    • rosyidhakiim says:

      Dear Evi,

      Yup benar sekali, Chevening sejauh yang saya tahu atau setidaknya tahun saya, mereka masih mensyaratkan dua tahun kerja. Kenapa saya bisa keterima di percobaan ketiga, hanya Allah yang tahu dan para penguji itu, tapi saya yakin bisa karena saya punya IELTS dan sudah bekerja lebih dari 2 tahun, yang saya rasa modalnya cukup. Tapi bukan berarti dua hal itu yang jadi tiket langsungan untuk dapat chevening, dua hal itu hanya sekedar syarat saja.

      Menurut saya, ketika ingin mendaftar chevening, selain mematuhi syarat-syaratnya, penting untuk memberikan impresi yang luar biasa melalui statement of purpose kita. Bagaimana statement of purpose itu memberikan gambaran pada mereka bahwa penting bagi kita untuk dapat beasiswa ini agak nanti ketika pulang kita bisa berkontribusi pada negara kita (idealnya hehehehe).

      Cheers,

      Rosyid

      • Evi says:

        ๐Ÿ™‚ Statement of purpose itu seperti cover letter bukan ya Kak? Oh iya dulu Kak Rosyid sudah apply university di UK apa dicarikan setelah officially accepted as Chavening recipient?
        Maaf pertanyannya banyak ( I also add your fb account :D)

      • rosyidhakiim says:

        Statement of purpose ya semacam cover letter gitu deh (ada kolomnya kok kalau apply online chevening). Dulu saya belum tahu mau sekolah dimana ketika diterima chevening alias belum diterima di universitas di UK. Tapi sebetulnya penting untuk bisa kasih gambaran ke mereka universitas mana yang mau dimasuki, agar mereka juga tahu bahwa orang yang mau dikasih beasiswa ini arahnya udah jelas.

        Nah, untuk universitasnya, kita cari sendiri atau kalau mau pake agen pendidikan (biasanya mereka ini suka bikin pameran pendidikan tentang universitas di Inggris) bisa juga.

  2. Donny says:

    wah.. sangat menginspirasi. kak, sya mau tanya untuk bidang study yang akan diambil, itu sesuai keinginan kita sendiri (sesuai bidang yang kita minati) atau ditentukan oleh pemberi beasiswanya??

    • rosyidhakiim says:

      Sejauh pengalaman saya, bidang study yang dipilih terserah kita. Tapi pada saat wawancara, kita harus bisa menjelaskan kenapa mengambil bidang study itu dan apa implikasinya ke depan

  3. Mas Rosyid, memang diterimanya chevening atas kehendak Alloh. Tapi menurut saya, semua keberuntungan itu tidak dibangun dalam waktu yang singkat tapi dibangun sedikit demi sedikit dan hari demi hariโ€ฆ. (kayak lagu aja yaโ€ฆ heheheโ€ฆ)

    Menurut aku, sebenarnya ada yang eye catching dari statement of purpose yang mas sampaikan tadi. Mungkin bisa mas kasih tips tentang statement purpose, wawancara, dll ? Makasih banyak ya masโ€ฆ.

    • rosyidhakiim says:

      Statement of Purpose memang menjadi salah satu cara untuk bisa menarik perhatian si pemberi beasiswa, oleh karena itu sebaiknya dibuat sebagus mungkin dan tentunya bukan mengungkapkan hal yang ‘manis-manis’ dan ‘tinggi-tinggi’ tapi sesuatu yang logis dan realistis. Dalam membuat statement of purpose itu kita harus bisa memberikan gambaran kepada si pemberi mahasiswa kontribusi apa yang sudah kita lakukan terhadap masyarakat dan apa yang bisa kita tingkatkan ketika mendapatkan beasiswa itu. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting realistis dan logis, karena diharapkan ketika menyelesaikan study, kita bisa pulang kembali ke negara kita dan berbuat sesuatu.

      Kalau untuk wawancara, persiapan tentu menjadi hal yang paling penting. Persiapan tidak hanya dari sisi mental tetapi juga poin-poin apa saja yang ingin kita sampaikan kepada pewawancara. Tapi pada saat wawancara berlangsung, usahakan untuk tetap santai.

      Tips-tips yang lain….menurut saya yang penting ada langkah untuk mencoba…kalau gagal sekali coba lagi, pelajari kesalahannya, lalu coba lagi. Tidak ada yang rugi dari sebuah usaha, meskipun usaha itu gagal.

  4. greatpersie says:

    MasyAllah.. it is very inspiring mas. Hope I can follow your path through my own self-determination ๐Ÿ™‚

    • rosyidhakiim says:

      If you want it, you must will it. If you will it, eventually it will be yours. So don’t worry, just set up you determination and pursue your dream

      • afan says:

        Aamiin… ya Allah… aamiin… saya juga sangat berharap. apalagi mengingat SMA saya tidak jauh berbeda dengan cerita ini. Kuliah pun masuk jurusan Sastra

      • rosyidhakiim says:

        Tetap semangat ya. Determinasi yang kuat dan doa ibu bisa jadi kunci untuk meraih mimpi

  5. Marcell says:

    Mas Rosyid, kalo boleh tau wawancara dilakukan dalam bahasa inggris apa indonesia ya??

  6. wisnupramana28@gmail.com says:

    wahh yang kaya gini nih yang harus di jadiin kebiasaan. Setelah sukses meraih sesuatu terus gak setengah setengah sharing ke adik2 di bawahnya. Saya juga jadi tertarik ikutan daftar.

  7. namina says:

    Hi Mr.Rosyid! It’s lucky to find your website =) I want to apply for chevening this year. I’m currently struggling on personal statement. I dont have any social activities ever since I graduated from bachelor degree. I’m too busy with my job so i dont have any chance to do social activities. Please kindly advise…=) Many thanks sir!

    • rosyidhakiim says:

      Hi Namina, allow me to write in Bahasa.
      Mohon maaf agak lama membalasnya.
      Menurut saya, kunci untuk membuat personal statement adalah mampu membahasakan dengan logis bahwa kita adalah orang yang sangat significant dalam pekerjaan yang kita jalani atau dengan tema yang kita pilih untuk sekolah. Lalu menunjukkan kontribusi kita kepada orang banyak. Kita harus menganggap diri kita penting bagi keberlangsungan Indonesia, sehingga perlu mendapatkan chevening. Sedangkan untuk social activities adalah nilai plus yang dapat membuktikan kontribusi kita. Namun, jika belum ada menurut saya ya tergantung bagaimana kita membahasakan personal statement itu.

      Semoga masukan saya bermanfaat.

      Cheers,

      Rosyid

  8. deesis says:

    Hallo Mas Rosyid, salam kenal, saya ingin sekali mengikuti jejak kesuksesan Mas Rosyid menerima beasiswa Chevening. Jika boleh, bolehkah saya minta alamat email Mas Rosyid, untuk bertanya lebih lanjut? Thanks.

  9. Yeni S Filan says:

    so inspiring bgt mas rosyid…ak boleh kah krm email..utk tanya more detail..!! itu slh satu impianku bgt buat dptn chevening….thx before….

  10. eko raharto says:

    “man jadda wajadda”. sangat inspiratif.

  11. fatma fatma says:

    Mas Rosyid.. salam kenal yaa… tulisannya sangat menggugah hati.. cocok seperti saya yang punya keinginan ingin mendapatkan beasiswa chevening. Nanti diriku boleh yah, e-mail dirimu mas, untuk tanya-tanya. Makasiiiy ๐Ÿ™‚

  12. Fajar says:

    Assalamualaikum Mas Rosyid, saya mau nanya2 ttg chevening, boleh liwat email ya Mas? Makasie sebelumnya.. ^_^

  13. Ismail says:

    Salam,

    Pertama-tama saya ucapkan selamat, saya turut senang dan bangga dengan Mas Rosyid. Tulisannya sangat menginspirasi.

    Berkaitan dengan beasiswa, bolehkah saya berkonsultasi japri? jika tidak mengganggu dan ada waktu, mohon saya dapat di beri masukan dan saran tentang isian dalam form aplikasi chevening.

    Terimakasih.

    Salam,
    Ismail

  14. Fitri says:

    Mas Rosyid salam kenal yah..beruntung banget bisa nemuin tulisan ini ^^. sangat menginspirasi dan membuat saya makin bersemangat ngejar chevening. nanti boleh ya mas saya tanya2 via email mas..Makasiiihh.. ๐Ÿ™‚

    • rosyidhakiim says:

      Wah terima kasih sudah sudi berkunjung. Silahkan lempar ke email saya saja untuk lebih detailnya.

      • maryarifin says:

        Mas rosyid, salam kenal.
        Saya sgt antusias ketika membaca tulisan mas ttg chevening ini, krn saya tertarik untuk mengambil s2 di UK. Yg saya ingin tanyakan, beasiswa chevening ini mengcover biaya apa saja? Apakah juga biaya hidup untuk keluarga (suami/istri/anak) jika ikut ke sana? Terima kasih ๐Ÿ™‚

      • rosyidhakiim says:

        Chevening membiayai semuanya (biaya hidup setiap bulan, uang kuliah, tunjangan tesis, uang buku, tiekt pesawat, dll), jadi kita tinggal bawa diri saja. Tapi, mereka tidak membiayai keluarga yang ikut kita. Kalau akan membawa keluarga, berarti biaya sendiri. Untuk lebih lengkapnya bisa cek di chevening.org

  15. amaliah Nur Rezki says:

    assalam, salam kenal mas..feeling blessed to find ur website..
    tulisan mas sangat menginspirasi dan saya juga ingin sekali mendapatkan beasiswa ini sesegera mgkn :). saya bolehkan konsultasi ke mas via email. makasih atas bantuannya:)

  16. Tora says:

    Mas rosyid, untuk chavening, setelah kita menyelesaikan studi dengan beasiswa chavenging (1 tahun) kita masih bisa extend untuk tinggal atau coba magang di sana nggak ya mas? Kalau bisa kira-kira berapa lama?

    • rosyidhakiim says:

      Hi Tora,

      Di dalam kontrak dengan Chevening, kita diharuskan untuk kembali ke Indonesia. Namun, ada beberapa kasus khusus, teman-teman yang langsung lanjut Phd. Meskipun demikian, visa kita ada tambahan sekitar 4 bulan kok, jadi total kita di UK sekitar 1 tahun 4 bulan. Nah, yang 4 bulan itu bisa untuk magang.

  17. ardi says:

    Scholarship awardee always has such an inspirational story behind his or her struggle. Salute !!!
    Anyway Bang, bisa minta contact nya ngak buat konsultasi. Butuh Guide nih buat nge-apply bulan ini soalnya bener2 hampir close pendaftarannya. Deadline bngt. Thanks in advance

  18. Aat Eska says:

    Assalamualikum, mas Rosyid, slam kenal sya Aat Dari semarang, sungguh note yang sangat bermanaat buat kami para pengerjar beasiswa, jika diperkenankan saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan lewat emai, suwun

  19. irhamullah says:

    Mas, kemarin wakt wawancara… pertanyaanya apa aja ?

    • rosyidhakiim says:

      Dear Irhamullah,

      Maaf respon yang sangat lama. Pada saat wawancara yang akan ditanyakan akan seputar motivasi, latar belakang, kenapa Inggris dan jurusan yang dipilih, dan apa yang akan dilakukan setelah pulang nanti.

      Terima kasih,

      Rosyid

  20. Kang Asep says:

    assalamualaikum mas, subahanalloh ya mas teringat saya sebuah kta bahwa “Hasil tidak akan mengkhianati proses”… jdi hanya satu kalimat yaitu terus berusaha..
    saya mau nanya mas …apakah beasiswa chevening ada tunjangan untuk keluarga juga? trs biaya pengurusan visa dependant dan tiket PP indo-inggris apakah ditanggung juga?

    • rosyidhakiim says:

      Dear Kang Asep,

      Sejauh yang saya tahu Chevening tidak memberikan tunjangan untuk keluarga ataupun hal-hal yang berkaitan dengannya (visa dan tiket). Chevening hanya menanggung segala biaya bagi penerima beasiswanya.

      Terima kasih,

      Rosyid

  21. adnyanabimata says:

    Terima kasih sharenya mas Rosyid. Saya mau bertanya hal yg agak personal sekaligus konsultasi soal IPK. Apakah bisa mengontak mas via email? Terima kasih Mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s