Archive for June, 2012

Saat itu sekitar pukul 7 malam waktu London, ketika Blackberry hitam saya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Mata masih setengah terlelap ketika membaca pesan tersebut. Ya setengah terlelap, karena musim dingin berarti malam jauh lebih cepat dan saya pun lebih cepat mengantuk. Di bulan Februari matahari masih terbenam pada pukul 16.00.

Kampus Brunel penuh salju (hanya butuh 10 menit berjalan dari asrama menuju kampus ini)

“Salju turun…” tertulis jelas dalam pesan itu. Saya lupa isi lengkap pesan tersebut akan tetapi dua kata itu seakan menjadi pecutan yang membuat saya melompat dari kasur dan membuka tirai jendela. Benar saja, butir-butir putih itu turun selayaknya hujan menutupi tanah dan ranting-ranting pohon. Keajiban alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya, selain bunga-bunga es yang mengendap di kulkas rumah saya di Jogja. Butiran-butiran salju itu menyihir pikiran saya, membawa pada perjalanan hidup seorang pria biasa-biasa saja yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk bersekolah ke luar negeri melalui beasiswa Chevening. Beasiswa yang diberikan langsung oleh pemerintah Inggris.

Ya, saya adalah seorang pria biasa saja, tanpa nilai akademik yang luar biasa. Sejak SMA, saya tidak pernah mendapatkan gelar juara. Kecuali setelah duduk di kelas tiga IPS yang itu juga kaerna tidak ada matematika dan fisika dalam daftar pelajaran yang diujikan. Menghitung sudah menjadi momok paling menakutkan entah sejak kapan. Jika orang bisa dengan cepat menjawab soal-soal perkalian, hingga saat ini saya masih menggunakan cara yang bisa dibilang berbeda. Jika ditanyakan 7 x 8 maka cara saya menjawab adalah dengan menambahkan 49 (hasil dari 7 x 7) dengan 7 lagi. Jadi di dalam otak saya terbayang ada 8 buah angka 7 yang harus ditambahkan. Well, meski mungkin cara ini cenderung lambat, tapi saya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Memasuki perkuliahan, tidak banyak yang ingin saya capai. Cukup hanya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa saja. Jika kemudian saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, itu mungkin karena kesalahan sejarah saja. Dari sisi akademis tidak ada yang mencolok dari transkrip saya. Impian untuk sekolah ke luar negeri pun ketika itu belum terpikir. Kerjaan saya hanya kuliah, duduk di bawah pohon rindang sambil berdiskusi kesana kemari dengan teman-teman hingga saatnya pulang menjelang maghrib. Tidak banyak yang terjadi selama bangku kuliah.

Hingga suatu saat satu persatu saya melihat teman-teman saya mengikuti tes untuk bisa kuliah singkat ke Italia. Salah satu teman sekelas berhasil dan dikirim ke Italia. Waow, tidak terbayang dalam diri saya untuk bisa keluar negeri seperti itu, pasti hanya orang pintar yang bisa melakukannya. Rasa pesimis itu memang muncul, tapi disisi lain ada rasa iri yang mulai menggelitik. Kenapa mereka bisa dan saya tidak. Tapi rasa ingin bisa sekolah ke luar negeri itu hanya berlalu sesaat. Saya kembali menjadi mahasiswa biasa-biasa saja.

Gelora untuk bisa kuliah di luar negeri, kembali muncul ketika Kakak pertama saya berhasil mendapatkan Chevening dan kuliah di St. Andrew yang katanya salah satu universitas terbaik dan tempat Pangeran Williams bersekolah. Cerita yang dibawa oleh kakak serta foto-foto tentang bagaimana eropa melalui sudut pandang kameranya, memberikan semacam semangat bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa Chevening tersebut, kita hanya perlu mencoba saja. Saat itulah status saya sebagai mahasiswa biasa berubah menjadi mahasiswa pemburu beasiswa.

Setiap sebelum masuk kelas, saya usahakan untuk membaca papan pengumuman dekat dengan kantor jurusan Sastra Prancis, sekedar untuk mencari informasi beasiswa. Selain itu, saya kemudian mendaftar sebagai anggota milis beasiswa untuk bisa selalu mendapatkan kabar terbaru soal kesempatan beasiswa. Hal ini terus berlangsung hingga saya lulus dan bekerja menjadi wartawan di salah satu media nasional.

Tapi sebagai pemburu beasiswa, saya mungkin berada pada kasta paling bawah karena kadang masih malas-malasan untuk mencoba. Pemicu malas ini adalah kesibukan bekerja dan saya belum pernah mengambil tes IELTS sebelumnya. Otomatis saya belum punya nilai yang bisa menjadi pengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Padahal nilai itu sering sekali muncul menjadi salah satu syarat utama dari berbagai macam program beasiswa.

Nah, kenapa saya belum pernah tes IELTS, itu karena saya kurang percaya diri dengan bahasa Inggris saya. Bisa dikatakan seumur hidup saya belum pernah mengambil les bahasa Inggris yang benar-benar mengajarkan grammar dan sebagainya. Saya hanya belajar melalui PS (Playstation) terutama dengan game RPG (role playing game). Panjang jika saya harus menjelaskan tentang RPG itu tapi pada dasarnya saya harus mengerti cerita dari game tersebut untuk bisa menikmati, memainkan, dan menyelesaikan game tersebut. Saya masih ingat RPG pertama saya adalah Breath of Fire, cerita game ini menarik sehingga setiap kali memainkannya kamus tebal selalu berada di samping saya. Begitulah cara saya mengerti bahasa Inggris dan menambah kosa kata. Cara yang tidak biasa memang tapi paling tidak saya bisa membuktikan bahwa saya bisa.

Sadar dengan kemalasan saya, Kakak pertama selalu kembali memberi semangat. Menceritakan kembali tentang keuntungan bersekolah ke luar negeri. Kakak pertama saya ini memang menjalankan perannya sebagai sulung dengan sangat baik. Memberikan standar contoh yang tinggi sehingga adik-adiknya bersemangat untuk bisa seperti dia. Dalam soal pendidikan, keluarga (bapak dan ibu) tidak terlalu banyak memberikan masukan. Mereka lebih cenderung membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai, asalkan bertanggung jawab. Coba bayangkan siapa yang tidak bertanya-tanya jika anaknya masuk Sastra Prancis, mau jadi apa anak mereka nanti. Tapi tidak dengan orang tua saya, mereka membebaskan saja asalkan saya suka. Bapak dan Ibu lebih menekankan soal agama, mereka sangat ketat untuk hal ini. Beruntung juga, karena sampai sekarang insya Allah saya tidak pernah bolong sholat lima waktu.

Dengan kondisi orang tua seperti itu, semangat mengejar pendidikan ke luar negeri hanya datang dari Kakak pertama, dan dia melakukannya dengan sangat baik. Mulai lah kuping saya terasa panas ketika mendengar cerita-cerita dia dan mengambil kursus persiapan IELTS, kursus pertama dalam hidup saya. Berharap diajarkan juga tentang berbahasa Inggris yang baik dan benar, ternyata kursus itu hanya mengajarkan trik cara menjawab soal IELTS dan memberikan kesempatan murid-muridnya untuk berlatih. Hasilnya, ketika saya melakukan tes IELTS, hasilnya 6,5 lumayan lah.

Mendapatkan nilai IELTS bukan berarti saya bisa langsung mendapatkan beasiswa. Saya masih harus berusaha untuk mendaftar. Sejak awal, tujuan saya hanya Chevening, ingin mengikuti jejak kakak. Selain itu, proses beasiswa ini cenderung lebih mudah dari yang lain-lainnya. Hanya mengisi aplikasi online dan menunggu panggilan. Berbeda dengan beasiswa lain yang harus mencatumkan surat izin dari perusahaan dan lain sebagainya. Jika ditotal, usaha saya untuk mendaftar Chevening sudah tiga kali, yang artinya tiga tahun. Usaha itu dimulai sejak saya lulus kuliah di tahun 2007. Usaha pertama gagal karena saya tidak memiliki IELTS dan pengalaman kerja yang kurang. Tahun kedua saya mencoba lagi, dengan bekal nilai IELTS saya tadi tapi tetap saja gagal. Tahun ketiga, yaitu di tahun 2010 saya mendaftar kembali sambil berharap tahun ini berhasil karena saya sudah memiliki nilai IELTS (yang bakal expired pada akhir 2010) dan pengalaman kerja yang memadai.

Mimpi itu akhirnya tercapai, saya sekarang bersekolah di Brunel University London dengan beasiswa Chevening

Kalau kata orang determinasi dan will power itu penting, saya bisa katakan itu benar. Paolo Choelo dalam bukunya The Alchemist banyak bercerita tentang determinasi ini, bagaimana keinginan yang kuat itu akan mendapatkan bantuan dari alam semesta. Dalam hal ini saya perlu tambahkan tidak hanya keinginan yang kuat tetapi juga doa dari orang tua dan diri sendiri. Tiga tahun mencoba dan tetap yakin bahwa Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk ke luar negeri, akhirnya mendapatkan titik terang. Di suatu siang, kabar bahwa saya berhasil lolos ke tahap wawancara untuk mendapatkan beasiswa Chevening sampai melalui sambungan telepon. Tidak tahu harus bersikap apa ketika itu, hanya kegembiraan dan rasa tidak percaya saja yang mungkin terbaca dari air muka saya. Ketika itu meski hanya lolos tahap pertama saya sudah sangat senang sekali. Langsung saya telepon Kakak pertama dan segera meminta saran untuk hal-hal yang harus dilakukan selanjutnya. Selama sebulan, baik melalui sambungan telepon atau bertemu langsung (Kakak saya tinggal di Semarang dan saya di Jakarta ketika itu) saya belajar dari dia bagaimana menghadapi wawancara itu. Kerja keras dan latihan itu memang tidak sia-sia, saya merasa lebih percaya diri ketika pada hari wawancara harus menghadapi dua orang pewawancara. Merasa hari itu sudah berusaha, saya serahkan keputusan akhir pada Allah, nothing to lose.

Sampai pada 10 Mei 2010, sehari setelah ulang tahun saya, telepon genggam saya bergetar. Sederet nomor yang tidak saya kenal muncul. Saya angkat telepon tersebut dan Alhamdulillah terderngar kabar baik bahwa saya diterima beasiswa Chevening. Momen tersebut tidak pernah saya lupakan, langsung saya sujud syukur mengucapkan terima kasih pada Allah untuk kesempatan yang diberikannya.

Well tulisan ini mungkin kurang dengan kata-kata inspiratif akan tetapi apa yang bisa saya katakan adalah jangan pernah berhenti bermimpi dan tetap berusaha. Mimpi adalah bukti bahwa kita masih memiliki harapan, mimpi ada untuk diwujudkan. Keinginan yang kuat dan usaha keras adalah kuncinya. Saya mungkin bukan orang terpintar di kelas ketika SMA dan kuliah, saya mungkin bukan reporter terbaik saat bekerja, akan tetapi saya tahu bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia, Allah pasti akan mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan hambanya. Jika dalam berusaha itu terbentur masa-masa sulit maka ingatlah Surah Alam Nasrah, (Q.S: 94). Di dalam surah tersebut Allah berkata bahwa setelah masa sulit pasti akan datang kemudahan. Kata-kata ini diucapkan sebanyak dua kali yang artinya janji tersebut bukan main-main. Percayalah setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Semoga Beruntung.

Advertisements