Little Britain Lake, Mamento untuk Jakarta

Posted: February 18, 2012 in Kim's Journey

Jakarta adalah kota serba ada. Hampir segala sesuatu yang dibutuhkan bisa didapatkan di ibukota Indonesia itu, mulai dari sesuatu yang legal hingga ilegal. Jika memang serba ada, mengapa harus menggunakan kata ‘hampir’? yak, memang ada yang kurang dari kota tempat bertemua berbagai etnik nusantara tersebut.

Di Jakarta, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berbau alam. Taman kota dapat dihitung jari, fungsinya pun tidak maksimal. Bukan sebagai paru-paru kota tapi sebagai ruang gratis untuk bermesum ria di malam hari. Rencana pemerintah DKI Jakarta untuk mengeruk sungai yang melintas di kawasan Manggarai dan Setiabudi, hanya tinggal buah bibir saja. Kapal-kapal yang tadinya digunakan untuk wisata sungai terpaksa harus diangkat dan dipindahkan karena kedalam sungai sudah tidak memadai lagi untuk perahu. Sungai-sungai menjadi dangkal karena tumpukan sampah yang mengendap di dasarnya. Perlu waktu bertahun-tahun dan kesabaran untuk mengeruk sungai itu dan memperbaiki mental masyarakatnya untuk tidak membuang sampah di sungai. Bahkan, saat kalian membaca tulisan ini, seseorang di sudut kota Jakarta sana sedangkan membuang sekantung plastik sampah keluarga mereka. Silahkan buktikan.

Tidak hanya sungai saja, tetapi Jakarta juga kekurangan ruang terbuka hijau. Tanah menjadi hal yang paling diincar dan diburu di Jakarta. Entah sudah berapa banyak konflik dan sengketa tentang tanah yang terjadi di Jakarta. Orang bisa kaya dengan memiliki tanah. Tetapi, hanya sedikit yang kemudian merelakan sepetak tanahnya untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang menjurus pada pembautan ruang terbuka hijau. Tanah bagi sebagian besar pengeruk untung di Jakarta justru berubah menjadi gedung-gedung megah, yang entah mereka masih memperhatikan perlunya ruang terbuka hijau atau tidak.

Hal yang berbeda dapat dilihat di Uxbridge, sebuah kota kecil di ujung sebelah barat kota London. Memang Jakarta dan Uxbridge tidak bisa dibandingkan secara langsung. Uxbridge sudah menjadi kota sejak berabad-abad yang lalu. Akan tetapi yang perlu di contoh adalah bagaimana pada zaman dahulu pemerintah kota tempat Brunel University itu mendesain kotanya.

Tempat mall dan pusat perbelanjaan di Uxbridge

Hampir seperti kota-kota kecil lain di Inggris, segala hal yang berhubungan dengan bisnis dan perbelanjaan dipusatkan di area-area tertentu. Tidak akan banyak ditemukan mall atau shoping centre yang bertebaran. Semua terpusat di High Street, sebuah jalanan tua yang sengaja di desain untuk tempat berdirinya 2 mall yang cukup besar di Uxbridge, The Chimes dan Pavillions. Selain itu berjejer pula toko-toko yang lain, serta Tesco dan Sainsbury yang bisa disamakan dengan Hypermart atau Carrefour di Indonesia. Hal yang sangat berbeda diterapkan di Jakarta, entah benar atau tidak tetapi sepertinya mall dan pusat perbelanjaan berdiri dan beroperasi sesuka hati. Dimana ada peluang pasar dan lahan maka mall pun berdiri. Akhirnya titik-titik kemacetan pun tidak terkendali, selain itu tingkat konsumerisme semakin tinggi. Kita bisa berbicara panjang tentang Jakarta dan tata kotanya, akan tetapi poin dari tulisan ini sebenarnya lebih mengarah pada konservasi alam yang masih dipertahankan Uxbridge, yang seharusnya di contoh oleh Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah Little Britain Lake, sebuah danau kecil yang sampai saat ini justru masih menjadi habitat dari beberapa jenis burung. Di sekitar danau itu mengalir kanal kecil yang digunakan kapal-kapal kecil untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Beberapa kapal juga tampak tertambat di pinggir kanal, berubah fungsi sebagai tempat tinggal dari sang pemilik.

Little Britain Lake, habitat para burung

Dari sisi keindangan sebenarnya tidak ada yang spesial dari danau ini. Akan tetapi konsistensi pemerintah kota Uxbridge yang mencoba tetap mempertahankan ruang-ruang alam untuk bisa seperti apa adanya dan tidak kemudian di eksploitasi hingga tetes terakhir untuk kepentingan ekonomi. Tidak dipungut biaya apapun untuk menikmati danau dan puluhan jenis burung yang wira-wiri disana. Disekitarnya dapat dilihat lahan-lahan hijau masih dibiarkan apa adanya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang sekali di dapatkan di Jakarta.

Angsa berenang bebas di Little Britain Lake

Kita mungkin bisa berdalih bahwa Jakarta juga punya hal yang serupa jika menyempatkan diri mengunjungi setu. Tapi tunggu dulu, berapa banyak burung yang menjadikan setu itu sebagai habitatnya? seberapa bersih pinggiran setu itu dari sampah-sampah bungkusan snack dan minuman ringan? Seberapa mudah akses untuk menuju ke setu itu? seberapa banyak tumbuhan yang masih hidup disekitaran setu itu? seberapa besar lahan hijau yang mengelilinginya?

Bukan ingin mengajukan pertanyaan yang menyudutkan, akan tetapi kita masih punya peluang untuk punya ruang terbuka hijau yang indah jika kita sebagai masyarakat ikut berpartisaspi untuk menjaganya.

Cheers

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s