London Day 78

Posted: December 1, 2011 in Kim's Journey

1 Desember 2011, Sisi Lain Kota London yang Megah

Hari semakin sore di Oxford Street, London. Suasana semakin ramai di sekitaran Selfridges, salah satu mall papan atas di kota metropolitan itu. Orang lalu lalang dengan menenteng tas belanjaan bertuliskan merk-merk terkenal sudah lumrah di temui di daerah ini.

Oxfrod street menjadi semacam Malioboronya kota London. Baik wisatawan maupun orang lokal pasti menyempatkan diri untuk berbelanja di kawasan elit tersebut. Tidak hanya Selfridges saja yang bisa ditemui di jalan itu, tetapi beberapa toko-toko yang menjual merek-merek terkenal berjejer di sepanjang jalan. Seperti Adidas, Massimo Dutti, H&M, Disney, dan yang lainnya.

Tapi ditengah hiruk pikuk gemerlapnya pusat perbelanjaan London, tampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya berjalan tertatih dengan bantuan tongkat besinya. Semakin lama, sosok wanita tua itu terlihat jelas. Dia menggunakan jaket kulit imitasi dengan baju dan rok yang sudah lusuh. Kepalanya ditutup kudung yang masih menyisakan bagian depan rambutnya. Tanganya menengadah sambil mulutnya komat kamit mengatakan sederet kata yang tidak jelas pada beberapa pengunjung Coffee Shop yang identik dengan logonya yang dominan warna hijau.

Tidak harus berpikir keras untuk mengetahui bahwa sedang berusaha meminta sepeser uang kepada para pengunjung yang sedang meneguk kopi seharga 3 Pounds itu. Beginilah setidaknya sosok pengemis di kota yang katanya masuk dalam kategori termahal di dunia.

Selain dalam wujud wanita tua, kadang ada yang beroperasi dengan menggunakan keranjang belanja yang justru digunakan untuk menaruh barang-barang dan anak mereka. Permintaan mereka banyak. Tidak hanya meminta uang untuk makan, alasan lain yang diberikan adalah untuk membeli tiket pulang.

“Ticket…..ticket…,” ujar wanita tua itu saat ditanyakan asalnya. Saat diminta menyebutkan nama, jawaban yang sama meluncur dari mulutnya keriput. Sambil disusul dengan rentetan kata yang jelas bukan bahasa Inggris. Pengemis tua itu, akhirnya duduk diam di sekitaran stasiun tube (kereta bawah tanah), sambil terus menengadahkan tangan. Tampak di genggamannya, recehan-recehan yang sudah dikumpulkannya sejak tadi.

Agus Tantang, seorang supervisor sebuah perusahaan catering di London, menyebut mereka ini sebagai kaum gipsy. Mereka adalah kelompok nomaden yang dahulu sebenarnya ingin mencari perlindungan di Inggris karena menjadi korban perang di negaranya. “Si Gipsy ini rata-rata refugee (pengungsi),” kata pria yang sudah 20 tahun tinggal di Inggris tersebut, Senin (26/11).

Mereka sebenarnya sudah disediakan tempat tinggal oleh pemerintah Inggris. Namun, kemungkinan karena kesulitan untuk mencari uang, akhirnya pilihannya adalah menjadi pengemis. Lalu lama kelamaan justru mengemis sudah menjadi pekerjaan tetap mereka.

Selain Gipsy menurut Agus, pengemis di London sebenarnya terdiri dari berbagai macam jenis. Tapi setidaknya bisa dimasukkan dalam dua kategori besar. Yaitu pengemis pendatang seperti kaum Gipsy itu dan pengemis lokal. Pengemis pendatang cenderung memaksa dan terus menempel targetnya hingga akhirnya memberikan sepeser uang. Bahasa Inggris yang digunakan terbata-bata, cukup kata-kata yang langsung merujuk pada permintaan untuk diberi uang.

 

Sedangkan pengemis lokal cukup sopan dalam meminta. “Pengemis lokal mereka cukup sopan dengan hanya bilang ‘spare change please!’ atau hanya duduk di salah satu sudut jalan dengan kertas besar bertuliskan ‘Homeless – I am hungry’, “ jelas Agus.  Jumlah pengemis lokal ini jauh lebih sedikit dari mereka yang pendatang.

Pengemis lokal ini memiliki banyak tujuan dalam melakukan aksinya. Selain ada yang benar-benar membutuhkan uang untuk makan. Ada pula yang menggunakan uang hasil meminta-minta itu untuk mabuk. Seperti yang diungkapkan oleh Robby Salamun, salah seorang mahasiswa Indonesia di London.

Sering pada malam hari, ada pria atau wanita lokal meminta-minta kepada mahasiswa yang kebetulan sedang keluar dari asrama untuk membeli beberapa kebutuhan di toko terdekat. Ada banyak alasan yang dilontarkan agar uang bisa didapatkan. Mulai dari untuk membeli tiket pulang hingga untuk menelepon keluarga karena sedang dia terlibat sebuah masalah.

“Tapi paling untuk mabuk, orang rumahnya Cuma daerah sini,” kata Robby sambil menunjuk ke daerah yang dia maksud. Dia menyarankan untuk tidak memberikan sepeser pun pada peminta-minta model seperti ini.

Pengemis memang menjadi masalah social yang harus dikendalikan. Di Indonesia mungkin menjadi sangat lumrah melihat ada pengemis di perempatan lampu merah atau di kawasan pusat perbelanjaan. Tetapi siapa sangka, ternyata London juga memiliki masalah yang sama. Kondisi dan situasi yang kurang menguntungkan memang bisa mendorong seseorang untuk melakukan apa saja, termasuk menjadi peminta-minta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s