London Day 54

Posted: November 6, 2011 in Kim's Journey

London Day 54

6 Oktober 2011, Idul Adha. Inilah hari pertama saya melakukan solat Id di negara orang. Sebelumnya, jika ada kesempatan ritual tahunan ini saya lakukan di Jogjakarta, kampung halaman tercinta. Hari ini juga, seharusnya menjadi momen Idul Adha pertama saya dengan istri tercinta, tapi jarak dan mahalnya ongkos pulang memisahkan kita untuk sementara waktu. Anyway Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1432 para pembaca sekalian.

Sejak seminggu sebelum 10 Zulhidjah 1432 atau 6 Oktober 2011 dalam kalender yang tergantung di dinding rumah dan kamar kita, hari besar ini sudah dibicarakan dalam khutbah Sholat Jumat yang saya hadiri. 10 hari menjelang Idul Adha adalah termasuk hari-hari yang diutamakan untuk melakukan ibadah. Bahkan dalam beberapa paham, kita di sunahkan berpuasa pada dua hari terakhir menjelang Idul Adha. Terutama pada hari Arafah atau satu hari sebelum Idul Adha (mohon dikoreksi jika salah).

Puasa pada saat memasuki musim dingin di London bisa dikatakan tidak berat. Karena jangka waktunya realtif singkat. Sahur dilakukan sebelum subuh di sekitar pukul 05.30 pagi, dan berbuka pada saat maghrib di pukul 16.30. Waktu yang singkat kan, tapi jika berpuasa di musim panas, waktunya akan jauh lebih lama. Bahkan lebih lama dari waktu di Indonesia.

Sedikit menyinggung masalah waktu ini. Karena selama musim dingin ini, malam jadi lebih cepat, saya merasakan ada yang berubah dengan jam tubuh saya. Biasanya pada pukul 19.00 mata saya masih tegar, sangar, dan menyala-nyala untuk membaca buku atau beraktivitas. Sekarang ini, dua kelopak mata saya sudah mulai tidak kooperatif. Bawaannya pengen tidur aja. Ditambah lagi badan yang terasa lebih lelah. Sampai-sampai seorang teman pada sebuah perjalanan pulang dari pusat kota London mengira sudah pukul 23.00 padahal di jam tangan yang dia jarum jam masih menunjukan pukul 19.30. Hmmmmm waktu memang kadang menjadi sangat aneh. Itulah kenapa ada istilah Jetlag.

Nah, kembali ke topik puasa, bukan karena singkatnya waktu itu, saya kemudian memutuskan untuk berpuasa dua hari sebelum Idul Adha. Tapi sekedar berusaha untuk menjalankan apa yang sudah disunahkan. Alhamdulillah semua bisa terlalui dengan lancar atau dalam istilah lainnya ‘aman terkendali’. Dari pengalaman puasa pertama di London pada saat memasuki musim dingin, musuh terberatnya adalah cuaca dingin itu sendiri. Karena suhu yang dingin justru merangsang perut untuk lebih cepat lapar.  Berbeda ya kalau dengan di Indonesia, gerah dan panasnya itu membuat haus gak ketulungan. Apalagi jika jenis pekerjaan yang dipilih untuk penghidupan sehari-hari menuntut wira-wiri dibawah terik matahari.

Akhirnya, sampai juga pada saat Sholat Id. Ada banyak sekali perbedaan dari sisi waktu dan pelaksanaan sholat tersebut di London ini. Seperti yang pernah saya ceritakan tentang Sholat Jumat, ternyata pelaksanaan Sholat Id disini juga dilakukan dalam shift. Saya sendiri tidak merasakan shift ini, tapi informasi ini saya dapatkan dari cerita teman-teman Indonesia yang lain, atau dari website. Seperti di Central Mosque London, sholat shift pertama dimulai pukul 07.30 dan setiap 45 menit kemudian dilakukan sholat shift selanjutnya hingga pukul 10.30, jadi total di sana ada 4 kali Sholat Idula Adha.

Kalau saya sendiri Sholat Id pada pukul 09.00 di kampus Brunel. Setiap tahun, tiga lantai Amenity Building digunakan seluruhnya untuk Sholat Id (baik Idul Fitri ataupun Idul Adha) bagi pelajar yang tinggal di akomodasi kampus atau disekitaran kampus. Pada khusus lantai 3 Amenity Building ini, pernah saya ceritakan sebagai musholla bagi pelajar muslim untuk melakukan sholat 5 waktu.

Meski tiga lantai itu penuh dengan jamaah, tapi suasana Idul Adha di Brunel cenderung sepi. Kalau berkaca dengan Indonesia, setiap Sholat Id, lokasi tempat sholat itu macet dengan kendaraan. Lalu orang-orang beriringan berjalan membawa koran dan sajadah menuju ke lapangan besar atau masjid besar. Disini, hanya segelintir orang saja yang melakukan Sholat Id. Kebanyakan wajah-wajah yang saya lihat adalah wajah Arab dan Afrika. Jika menemukan wajah Asia Tenggara maka mereka adalah pelajar dari Indonesia dan Malaysia. Sholat berlangsung singkat, khutbah juga tidak memakan waktu lama. Kami sholat dan mendengarkan khutbah selama 30 menit saja. Berbeda dengan Indonesia, yang khutbahnya bisa 45 menit sendiri.

Seusai sholat, kami bersalam-salaman dan mengudap makanan kecil yang disediakan. Bukan gulai atau ketupat opor yang biasanya terhidang di meja makan keluarga saya disana. Tapi mesikpun sederhana, keakraban antar jamaah justru. Untuk urusan kurban, juga tidak dilakukan di tempat sholat. Memotong hewan tidak di tempat pemotongan hewan adalah perbuatan illegal disini. Jadi solusinya adalah, panitia kurban akan mengumpulkan uang lalu meminta tempat pemotongan hewan untuk memotong sesuai dengan harga dan jumlah yang disepakati, atau mengirimkan uang yang terkumpul ke negara-negara yang membutuhkan. Seperti Somalia, Kenya, Irak, Palestina atau negara yang lain.

Sebuah perayaan Idul Adha yang sangat sederhana namun mampu menggores ingatan saya, sehingga akan selalu terkenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s