Archive for November, 2011

London Day 75

Posted: November 29, 2011 in Kim's Journey

28 November 2011, tulisan ini juga bisa ditengok di http://ppilondon.wordpress.com/events/piala-atdikbud-2011/meski-kekurangan-pemain-tim-london-berhasil-boyong-piala-atdikbud-2011/

 

Meski Kekurangan Pemain, Tim London Berhasil Boyong Piala Atdikbud 2011

LEEDS – Saat-saat pertandingan Final Piala Atdikbud 2011, Sabtu (26/11), di The Edge Spots Centre Leeds sudah hampir dimulai. Tetapi personel Tim London belum juga lengkap. Hanya ada 5 pemain saja yang sudah berada di lokasi kompetisi dan siap untuk betanding.

“Mereka adalah saya, Boy, Verdo, Miral, dan Ricky,” ujar salah seorang pemain, Fikri. Seharusnya, setiap tim beranggotakan 10 orang, sehingga dapat saling bergantian bermain saat pertandingan berlangsung. Namun, karena kendala transportasi, 5 orang pemain yang lain masih berada di London dan berusaha untuk secepat mungkin menuju Leeds.

Akan tetapi, pertandingan tidak bisa menunggu lagi. Tim London harus berlaga pada pertandingan kedua atau harus menghadapai konsekuensi diskualifikasi jika menolak bertanding karena alasan kekurangan pemain. Untuk mengatasi situasi sulit itu, akhirnya Tim London bersedia untuk tetap bertanding dengan merekrut pemain tambahan, Aurel. Formasi pun lengkap, tapi mereka harus bermain hanya dengan satu pemain pengganti, yang tentunya akan sangat menguras tenaga.

Lawan pertama yang harus dihadapi Tim London adalah tim tuan rumah, Leeds. “Di babak pertama pertandingan berjalan cepat dan tidak terkontrol walaupun penguasaan bola ada di pihak Tim London,” kata Fikri. Saat babak kedua berlangsung, tidak banyak perubahan yang terjadi. Masing-masing tim masih bertahan tanpa gol, hingga akhirnya pluit akhir ditiup. Pemenang pertandingan ini harus ditentukan dengan adu penalti. Hasilnya Tim London berhasil memasukkan 3 gol dari 5 kali kesempatan menembak dan Tim Leeds hanya mampu menjaringkan 2 gol dari 4 kesempatan. Tim London menang dengan point 3-2.

Beranjak ke pertandingan selanjutnya, kali ini Tim London melawan Tim Manchester-2. Kali ini pertandingan berlangsung alot, dengan lebih banyak tackle daripada pertandingan sebelumnya. Akan tetapi, usaha kedua tim tidak ada yang membuahkan hasil hingga menit terakhir pertandingan. Lagi-lagi pemenang harus ditentukan dengan adu penalti. Beruntung, Tim London berhasil menekuk Tim Manchester-2 dengan score 4-3.

Di pertandingan ketiga, situasinya menjadi lebih sulit. Stamina Tim London mulai terkuras karena kekurangan pemain dan mereka harus menghadapi Tim Manchester-1 yang merupakan pemenang Piala Atdikbud tahun 2009. Selain itu, lapangan yang digunakan pada pertandingan final ini berbeda dengan lapangan pada saat penyisihan di Birmingham. Kali ini lapangan yang digunakan bukan lapangan rumput namun seperti lapangan basket dengan lantai kayu. Hal ini tentunya membuat kondisi lapangan lebih licin dan bola sulit dikontrol.

Pertandingan pun dimulai. Kedua tim sama-sama tidak mau memberikan kemenangan untuk lawannya. Perebutan bola yang sengit di sisi tengah lapangan tidak bisa terelakkan. Beberapa kali Tim Manchester-1 menembak dari sudut-sudut sempit, tapi usaha mereka selalu digagalkan oleh pemain Tim London. Hingga menit-menit terakhir babak pertama, kedua tim masih belum berhasil mendapatkan angka. Hingga akhirnya, Miral mendapatkan kesempatan dari sisi luar kotak penalti dan sekuat tenaga menendang bola yang berada di kakinya. Bola itupun melesat menembus ruang kosong di sisi kanan penjaga gawang dan gol pun tercipta. Score sementara 1-0 untuk Tim London.

Pada babak kedua, Tim Manchester-1 yang sudah ketinggalan satu angka justru semakin menaikkan tempo pertandingan. Serangan demi serangan mereka bangun, hingga tanpa disangka bola bersarang di Tim London. Namun, wasit menganulir gol tersebut karena bola ditendang langsung dari posisi out tanpa menyentuh pemain terlebih dahulu. Kedudukan masih 1-0 untuk Tim London.

Menjelang akhir babak kedua, eja yang berhasil mendapatkan bola dari perebutan sengit dengan pemain dari Tim Manchester, meneruskan bola yang didapatkannya itu kepada Miral. Lagi-lagi tendangan Miral kali ini membuahkan hasil. Bola itu melesat diantara dua pemain dan masuk ke gawang lawan. Tim London akhirnya meraih kemenangan dengan score 2-0. Pertandingan inilah yang mengantar Tim London untuk mendapatkan Piala Atdikbud 2011.

Piala Atdikbud sendiri merupakan kegiatan kompetisi olahraga tahunan yang diselenggarakan oleh PPI UK dengan dukungan dari pihak KBRI. Kompetisi ini diikuti oleh masyarakat dan pelajar Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Inggris. Sampai saat ini, Piala Atdikbud adalah salah satu kompetisi yang bergengsi diantara masyarakat dan pelajar Indonesia di Inggris. (rosyid nurul hakiim)

London Day 74

Posted: November 28, 2011 in Kim's Journey

27 November 2011

Diskusi Perdana PPI London, Hadirkan Profesor di Bidang Kritik Media dan Budaya

LONDON – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London menghadirkan Profesor Mark Hobart dari School of Oriental and African Studies (SOAS) untuk berdiskusi dengan pelajar Indonesia di London. Tema diskusi yang digelar pada Jumat (25/11) malam itu adalah tentang riset sang profesor terhadap Indonesia dari sudut pandang media dan budaya.

Puluhan pelajar Indonesia yang sebagian besar sedang mengambil program master itu tampak serius mendengarkan pemaparan dari pria yang sempat lama tinggal di Bali tersebut. Profesor Mark Hobart pada mulanya adalah seorang antropolog. Pada sekitar tahun 1970an dia datang ke Bali untuk meneliti tentang budaya dan filosofi masyarakat Pulau Dewata itu dari kacamata antropologi. Namun, selama masa penelitiannya, dia justru menemukan bahwa media yang bernama televisi telah mengambil hati hampir seluruh masyarakat Bali yang ditemuinya. Bahkan mungkin sudah membius masyarakat Indonesia pada umumnya.

Televisi menjadi bagian penting dari masyarakat. “Bahkan mereka lebih memperhatikan televisi daripada REPELITA (tahapan rancangan pembangunan yang digagas oleh Presiden Soeharto),” ujar Profesor Hobart dalam pemaparannya. Kotak ajaib bernama televisi itu telah mengubah wajah Indonesia, termasuk wajah dunia.

Berawal dari temuan itulah, akhirnya Profesor Mark Hobart justru tertarik untuk menganalisa dan memahami kondisi yang saat itu terjadi. Sebuah kondisi dimana televisi menjadi bagian integral dari masyarakat. Berangkat dari ketertarikan itulah, profesor yang kemudian menikahi wanita Bali ini mencoba bidang baru yaitu dibidang studi media dan budaya. Penelitiannya tentang media dan masyarakat dimulai sejak tahun 1990 hingga saat ini. Jam terbangnya yang sudah sangat tinggi itulah yang kemudian membuatnya menjadi ahli di bidang Critical Media dan Cultural Studies.

Selain, pengetahuannya yang luas, kedatangannya dalam acara diskusi yang digelar oleh PPI London itu justru memberikan prespektif baru terhadap media di Indonesia dan masyarakat yang mengkonsumsinya. Karena, Profesor Hobart mampu memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi di Inggris dalam kajian tersebut.

Seolah mengerti tentang pemahamannya yang luas, para peserta pun tidak menyia-nyiakan kesempatan mengajukan pertanyaan. Sebagian besar pertanyaan yang muncul adalah bagaimana media-media di Indonesia itu, terutama berita-berita yang disajikan, menangkap realita yang terjadi. Apakah media benar-benar mengungkapkan kebenaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Hobart kembali pada kajian yang selama ini dia lakukan. Yaitu mencoba menjawab atau mengisi celah besar yang ada diantara produsen berita atau konten media dengan masyarakat yang mengkonsumsinya. Sebenarnya, masyarakat sebagai pihak yang mengkonsumsi media tentunya tidak benar-benar mengetahui apa yang diberitakan. Seperti misalnya tentang kejadian Perang Teluk. Masyarakat Indonesia tentu melihat apa yang terjadi di perang itu melalui konten berita yang ditontonnya. Tapi apakah apa yang benar-benar terjadi di lokasi Perang Teluk itu seperti yang digambarkan ? hal itulah yang masih menjadi pertanyaan.

Menurut Profesor Hobart, berita yang ada di media akan sulit untuk mencoba menggambarkan relaitas yang ada. Karena banyak intervensi yang terjadi sebelum berita itu benar-benar disuguhkan pada penontonnya. “Berita itu seolah dimediasi oleh para elit-elit yang berada pada posisi produser,” ungkapnya. Pengaruh inilah yang kemudian mempolarisasi konten-konten media. Oleh karena itu, untuk mencoba mendapatkan kenyataan yang sebenarnya terjadi, penonton harus mempu mengkomparasi konten-konten berita dari berbagai macam media. (rosyid nurul hakiim)

London Day 71

Posted: November 24, 2011 in Kim's Journey

24 November 2011, berikut tulisan saya yang juga bisa dibaca di http://ppilondon.wordpress.com/about-london/

Secuil Tentang London

London merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Inggris. Dahulu, ibukota Inggris ini merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Romawi yang disebut Londinium. Pada awalnya kota London hanya mencakup pinggiran Sungai Thames saja. Lalu setelah kedatangan bangsa Romawi pada abad I, kota itu semakin berkembang. Hingga saat ini menjadi salah satu kota terpadat di Eropa.

Pendudukan London datang dari berbagai suku dan bangsa. Tidak hanya mereka yang berkulit putih saja yang bisa tinggal dan mendapatkan kewarganegaraan Inggris di kota itu. Masyarakat Pakistan, Bangladesh, India, Carribia, China, Taiwan, dan banyak bangsa yang lain juga sudah menetap dan tinggal sangat lama di London. Sebagian besar dari mereka bisa dikatakan sudah menjadi warga negara Inggris.

Sebagai titik temu persilangan berbagai axis budaya di dunia ini, London menjadi kota yang sangat terbuka. Masyarakat kota tersebut cenderung lebih menerima perbedaan. Selain itu, percampuran budaya di London juga dikarenakan kota itu merupakan salah satu tujuan wisata di dunia. Sehingga celah datangnya masyarakat dari bangsa lain, yang tentu saja membawa budaya mereka sendiri-sendiri, semakin terbuka lebar.

Dari gambaran umum itu, sebenarnya tidak sulit untuk hidup di London. Bagi mereka yang beragama Islam, menemukan makanan halal bisa dikatakan mudah. Di beberapa daerah, terutama yang padat dengan penduduk imigran muslim, banyak ditemukan toko-toko daging halal. Bahkan, mereka yang merindukan cita rasa masakan Indonesia atau Melayu, banyak sekali tersebar restoran-restoran yang menyediakan berbagai macam menu khas Indonesia atau Melayu.

Bagi mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di London. Hal yang perlu dipahami adalah London ini terbagai menjadi beberapa zona yang penentuannya didasarkan pada sistem transportasi dan pola pembayarannya. Karena terbagai-bagi dari zona-zona tertentu itulah, istilah Greater London muncul. Sebuah kota yang lingkupnya sangat luas.

Pemerintah membagi London menjadi 9 zona. Jika diasosiasikan dengan Jakarta, Zona 1 adalah kawasan Monas dan sekitarnya. ZOna 1 ini merupakan Central London, atau zona pusat dari kota London. Karena posisinya itulah, maka harga-harga di daerah ini cenderung lebih mahal. Terutama dari sisi akomodasinya. Dalam beberapa kasus, makanan di daerah ini juga cenderung lebih mahal.

Dimulai dari zona 1 lalu zona-zona itu melebar hingga ke zona 9. Semakin tinggi zona-nya, maka akan harga-harga cenderung lebih murah. Seperti contohnya jika di Indonesia, harga-harga di Depok akan cenderung lebih murah daripada di pusat kota Jakarta. Namun, konsekuensi dari semakin besarnya angka zona itu, adalah biaya transportasi. Semakin jauh lokasinya, tentu akan semakin banyak biaya transportasi yang dikeluarkan. Biasanya untuk mengakali kondisi ini, banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di zona 1, memilih untuk tinggal di zona 3 atau 4. Karena, jaraknya tidak terlalu jauh, dan harga-harga di zona 3 atau 4 masih cukup terjangkau.

Jika sudah memahami kondisi ini, maka akan sangat mudah untuk menentukan akomodasi mana yang dipilih dan bagaimana pola transportasi yang akan diambil.

London Day 62

Posted: November 15, 2011 in Kim's Journey

Berikut tulisan saya yang masuk republika online…

Kisah Mahasiswi Indonesia yang Was-Was Berjilbab di London

Kamis, 27 Oktober 2011 10:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON–Belajar ke luar negeri sepertinya masih menjadi mimpi anak-anak muda di Indonesia. Sebagian mencoba menggapainya melalui jalur dana pribadi, dan banyak yang merengkuhnya dengan beasiswa. Tidak ketinggalan diantara mereka, wanita-wanita Muslimah yang juga ingin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru memberanikan diri untuk terbang seorang diri, menjelajah jarak ratusan kilometer, menuju Inggris.

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi keinginan mereka untuk pergi ke Inggris. Tapi bagi wanita Muslim yang berkerudung, mereka memiliki kekhawatiran yang sama. Apakah mereka benar-benar bisa diterima oleh masyarakat barat.

Semenjak kejadian 11 September 2001 di New York dan dimunculkannya gerakan Perang Terhadap Teroris oleh Amerika Serikat, pandangan terhadap Islam sepertinya semakin sinis. Meskipun tidak secara langsung saling berpengaruh, tapi setidaknya, keadaan inilah yang kemudian memicu kekhawatiran pelajar Indonesia berjilbab untuk bersekolah di luar negeri.

Seperti yang dirasakan oleh Nabilla Sabban yang saat ini sedang menempuh program Master di Universitas Bradford. Sebulan sebelum berangkat menuju Inggris, gadis asal Ambon ini sempat merasa khawatir dengan identitas keIslaman yang dipakainya, jilbab. Isu-isu miring tentang keadaan kaum Muslim di Eropa serta kerusuhan London yang baru saja terjadi beberapa bulan lalu, membuatnya semakin khawatir.

“Apalagi saya memakai jilbab. Orang-orang yang saya temui sebelum berangkat selalu berpesan untuk berhati-hati karena saya wanita Asia dan kebetulan sekali berjilbab,” ujar dia pada koresponden Republika, Rosyid Nurul Hakim, di London.

Selama sebulan Nabilla berusaha mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. “Sempat ada rasa takut, apakah saya akan aman disana nanti,” kata gadis yang memenangkan salah satu beasiswa bergengsi dari pemerintah Inggris itu. Orang tuanya juga sempat cemas dengan bayangan-bayangan keadaan di Eropa.

Berbeda dengan Indrawati Kusuma Widhiastuti, yang saat ini mengambil Master di Universitas Birmingham. Wanita yang juga berangkat ke Inggris karena beasiswa ini menanggapi keadaan yang mungkin saja terjadi Inggris dengan percaya diri. Meskipun ada cerita-cerita yang tidak mengenakan tentang wanita berjilbab, tetapi sudah menjadi niat Indrawati untuk tetap maju bersekolah.  “Take it or leave it,” ujarnya.

Jika memang nantinyanya masyarakat di tempatnya kuliah tidak menerima dengan baik wanita berjilbab, dia tetap akan menggunakan jilbab. Karena niatnya ke negara yang terkenal dengan Big Ben-nya itu bukan untuk membuat masalah, tetapi belajar.

Walaupun menanggapi bayangan-bayangan situasi di Inggris dengan cara yang berbeda. Tetapi Indrawati dan Nabilla sama-sama terkejut ketika mereka benar-benar berada di Inggris, di lingkungan tempat mereka akan bersekolah. Nabilla di Kota Bradford yang letaknya dekat dengan Kota Liverpool, sedangkan Indrawati di Kota Birmingham yang berada di sebelah utara London.

Kekhawatiran mereka seolah sirna. Birmingham, kota yang menjadi tempat belajar Indrawati, ternyata merupakan kota yang sangat majemuk. Banyak sekali orang-orang yang datang dari negara-negara Islam. Sehingga menggunakan jilbab di kota ini relatif tidak ada masalah.

Bahkan di kampusnya disediakan tempat khusus untuk sholat dan layanan konsultasi agama. “Paling disini saya disangka orang Pakistan aja karena pakai jilbab,” katanya.

Sedangkan Nabilla, kota tempatnya tinggal, Bradford, ternyata dijuluki sebagai Kota Perdamaian. Julukan ini datang bukan tanpa sebab, di Bradford, keberagaman sudah menjadi hal yang biasa. Meskipun warganya berasal dari latar belakang agama yang berbeda, tapi mereka bisa hidup berdampingan dengan damai.

Ketika pertama kali sampai di Bradford pada 10 September 2011 lalu, Nabilla banyak sekali melihat perempuan-perempuan Muslim berjilbab di daerah tersebut. Bahkan sebagian dari mereka menggunakan burqa. “Saya senang sekali karena saya tidak merasa sendiri dan mulai merasa aman sejak pertama kali datang,” ungkapnya.

Dia menceritakan bahwa komunitas muslim di Bradford cukup besar. Hal ini tampak dari masjid-masjid yang menurutnya banyak tersebar di kota itu. “Setelah beberapa hari berkeliling Bradford, saya dibuat kaget oleh masjid di kota ini. Sangat mudah untuk menemukan masjid,” ujarnya.

Sepanjang perjalanan dari rumah tempatnya tinggal ke kampusnya di Universitas Bradford, ada dua sampai tiga masjid yang ditemuinya. Bentuknya mirip mushola di Indonesia lengkap dengan kubah melengkungnya.

Tapi pertanyaan-pertanyaan tentang alasan Nabilla menggunakan jilbab masih saja muncul. “Saya pernah ditanya oleh temen-teman sekelas saya yang berasal dari berbagai Negara yang berbeda seperti US, Russia dan Kenya tentang alasan saya menutup kepala saya,” ungkapnya.

Pertanyaan ini muncul karena ada juga wanita muslim yang memilih untuk tidak memakai jilbab. Dia hanya menjawab bahwa alasannya memakai jilbab berasal dari dalam hatinya, bukan paksaan dari pihak manapun.

Meskipun Inggris cenderung menerima perbedaan agama dengan cukup baik. Tapi ternyata ada wanita muslimah asal Indonesia, yang kebetulan menggunakan jilbab, mendapatkan sedikit tantangan. Afrina Karenina Rizal yang sedang mengambil program Master di Kota London ini merasa mempertahankan identitasnya sebagai Muslim, dalam hal ini berjilbab, merupakan tantangan tersendiri.

“Saya pernah diterima kerja disini untuk mengisi waktu luang tapi syaratnya saya harus membuka kerudung saya,” ungkapnya. Pekerjaan itu akhirnya dia tolak.

Dalam kondisi yang berbeda, saat mulai bekerja di tempat lain, tekanan untuk membuka jilbab kembali muncul. Teman-teman Afrina sesama pekerja di sebuah Coffee Shop sering memintanya membuka identitas Muslimnya itu. “Kamu kelihatan tidak bagus dengan jilbab itu,” katanya menirukan alasan yang sering dilontarkan teman-teman kerjanya. Padahal atasannya sudah memperbolehkan dirinya untuk menggunakan kerudung.

Selain dalam hal berkerudung, memilih makanan juga menjadi tantangan yang lain lagi. Afrina harus teliti melihat label halal dalam setiap makanan yang dibelinya.  Sebab tidak semua daging atau ayam yang dijual di London ini disembelih dengan nama Allah SWT. Namun, diantara tantangan-tantangan itu, dia tetap berusaha untuk menjalani kehidupannya sebagai Muslim. Dia percaya Inggris juga merupakan bumi Allah SWT sehingga perlindungan dan kemudahan pasti akan datang.

Redaktur: Stevy Maradona
Reporter: Rosyid Nurul Hakim

London Day 54

Posted: November 6, 2011 in Kim's Journey

London Day 54

6 Oktober 2011, Idul Adha. Inilah hari pertama saya melakukan solat Id di negara orang. Sebelumnya, jika ada kesempatan ritual tahunan ini saya lakukan di Jogjakarta, kampung halaman tercinta. Hari ini juga, seharusnya menjadi momen Idul Adha pertama saya dengan istri tercinta, tapi jarak dan mahalnya ongkos pulang memisahkan kita untuk sementara waktu. Anyway Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1432 para pembaca sekalian.

Sejak seminggu sebelum 10 Zulhidjah 1432 atau 6 Oktober 2011 dalam kalender yang tergantung di dinding rumah dan kamar kita, hari besar ini sudah dibicarakan dalam khutbah Sholat Jumat yang saya hadiri. 10 hari menjelang Idul Adha adalah termasuk hari-hari yang diutamakan untuk melakukan ibadah. Bahkan dalam beberapa paham, kita di sunahkan berpuasa pada dua hari terakhir menjelang Idul Adha. Terutama pada hari Arafah atau satu hari sebelum Idul Adha (mohon dikoreksi jika salah).

Puasa pada saat memasuki musim dingin di London bisa dikatakan tidak berat. Karena jangka waktunya realtif singkat. Sahur dilakukan sebelum subuh di sekitar pukul 05.30 pagi, dan berbuka pada saat maghrib di pukul 16.30. Waktu yang singkat kan, tapi jika berpuasa di musim panas, waktunya akan jauh lebih lama. Bahkan lebih lama dari waktu di Indonesia.

Sedikit menyinggung masalah waktu ini. Karena selama musim dingin ini, malam jadi lebih cepat, saya merasakan ada yang berubah dengan jam tubuh saya. Biasanya pada pukul 19.00 mata saya masih tegar, sangar, dan menyala-nyala untuk membaca buku atau beraktivitas. Sekarang ini, dua kelopak mata saya sudah mulai tidak kooperatif. Bawaannya pengen tidur aja. Ditambah lagi badan yang terasa lebih lelah. Sampai-sampai seorang teman pada sebuah perjalanan pulang dari pusat kota London mengira sudah pukul 23.00 padahal di jam tangan yang dia jarum jam masih menunjukan pukul 19.30. Hmmmmm waktu memang kadang menjadi sangat aneh. Itulah kenapa ada istilah Jetlag.

Nah, kembali ke topik puasa, bukan karena singkatnya waktu itu, saya kemudian memutuskan untuk berpuasa dua hari sebelum Idul Adha. Tapi sekedar berusaha untuk menjalankan apa yang sudah disunahkan. Alhamdulillah semua bisa terlalui dengan lancar atau dalam istilah lainnya ‘aman terkendali’. Dari pengalaman puasa pertama di London pada saat memasuki musim dingin, musuh terberatnya adalah cuaca dingin itu sendiri. Karena suhu yang dingin justru merangsang perut untuk lebih cepat lapar.  Berbeda ya kalau dengan di Indonesia, gerah dan panasnya itu membuat haus gak ketulungan. Apalagi jika jenis pekerjaan yang dipilih untuk penghidupan sehari-hari menuntut wira-wiri dibawah terik matahari.

Akhirnya, sampai juga pada saat Sholat Id. Ada banyak sekali perbedaan dari sisi waktu dan pelaksanaan sholat tersebut di London ini. Seperti yang pernah saya ceritakan tentang Sholat Jumat, ternyata pelaksanaan Sholat Id disini juga dilakukan dalam shift. Saya sendiri tidak merasakan shift ini, tapi informasi ini saya dapatkan dari cerita teman-teman Indonesia yang lain, atau dari website. Seperti di Central Mosque London, sholat shift pertama dimulai pukul 07.30 dan setiap 45 menit kemudian dilakukan sholat shift selanjutnya hingga pukul 10.30, jadi total di sana ada 4 kali Sholat Idula Adha.

Kalau saya sendiri Sholat Id pada pukul 09.00 di kampus Brunel. Setiap tahun, tiga lantai Amenity Building digunakan seluruhnya untuk Sholat Id (baik Idul Fitri ataupun Idul Adha) bagi pelajar yang tinggal di akomodasi kampus atau disekitaran kampus. Pada khusus lantai 3 Amenity Building ini, pernah saya ceritakan sebagai musholla bagi pelajar muslim untuk melakukan sholat 5 waktu.

Meski tiga lantai itu penuh dengan jamaah, tapi suasana Idul Adha di Brunel cenderung sepi. Kalau berkaca dengan Indonesia, setiap Sholat Id, lokasi tempat sholat itu macet dengan kendaraan. Lalu orang-orang beriringan berjalan membawa koran dan sajadah menuju ke lapangan besar atau masjid besar. Disini, hanya segelintir orang saja yang melakukan Sholat Id. Kebanyakan wajah-wajah yang saya lihat adalah wajah Arab dan Afrika. Jika menemukan wajah Asia Tenggara maka mereka adalah pelajar dari Indonesia dan Malaysia. Sholat berlangsung singkat, khutbah juga tidak memakan waktu lama. Kami sholat dan mendengarkan khutbah selama 30 menit saja. Berbeda dengan Indonesia, yang khutbahnya bisa 45 menit sendiri.

Seusai sholat, kami bersalam-salaman dan mengudap makanan kecil yang disediakan. Bukan gulai atau ketupat opor yang biasanya terhidang di meja makan keluarga saya disana. Tapi mesikpun sederhana, keakraban antar jamaah justru. Untuk urusan kurban, juga tidak dilakukan di tempat sholat. Memotong hewan tidak di tempat pemotongan hewan adalah perbuatan illegal disini. Jadi solusinya adalah, panitia kurban akan mengumpulkan uang lalu meminta tempat pemotongan hewan untuk memotong sesuai dengan harga dan jumlah yang disepakati, atau mengirimkan uang yang terkumpul ke negara-negara yang membutuhkan. Seperti Somalia, Kenya, Irak, Palestina atau negara yang lain.

Sebuah perayaan Idul Adha yang sangat sederhana namun mampu menggores ingatan saya, sehingga akan selalu terkenang.