London Day 36

Posted: October 19, 2011 in Kim's Journey

London Day 36

19 Oktober 2011. Tidak terasa sudah lebih dari satu bulan saya menetap dan mengecap rasanya tinggal di London.  Begitu banyak cerita dan pengalaman baru yang saya dapatkan. Saking banyaknya, sampai-sampai tidak sadar kalau waktu berlalu sangat cepat.

Sebulan yang lalu, saya masih deg-degan dengan barang bawaan dari Indonesia. Apakah melebihi kapasitas muatan atau tidak. Lalu saya dibuat menganga sampai gigi-gigi jadi kering, karena transportasi umum di London yang bisa diandalkan. Kemudian menjadi iri dengan budaya antri yang harusnya dicontoh masyarakat Jakarta.

Sekarang, saya sudah mulai terbiasa dengan transportasi umum itu, sehingga tidak perlu menganga-menganga lagi. Antri sudah menjadi bagian dari perilaku (wuduh gaya pisan). Tapi yang membuat saya pusing adalah uang beasiswa yang telat banget mampir di rekening. Pada tengah-tengah sejak awal bulan Oktober sampai pertengahan, jantung rasanya dipacu terus saat melirik isi rekening lewat internet banking. Tetap saja nihil, tanpa perubahan.

Jurus irit pun mulai dilakukan.  Dari makan seadanya alias cuma kombinasi karbohidrat seperti mie campur nasi atau cuma bergantung pada lauk telur, sampai berusaha datang ke acara KBRI untuk cari makan gratisan. Loh kok sepertinya urusan perut aja nie yang penting. Bagi saya, urusan perut emang penting. Bisa dibilang, urusan ini sama dengan jambulnya Samson yang kalau dipotong jadi klepek-klepek, tidak punya kekuatan.

Tapi Alhamdulillah, pola hidup tidak sehat itu akhirnya berhenti. Karena pasokan dana sudah masuk. Waktu pertama kali uang di rekening yang awalnya hampir nol itu nambah, rasanya melayang. Beda lho, rasanya hidup ga punya uang di negeri sendiri dengan di negeri orang. Disini, kalau udah ga punya uang mau ngemis ama siapa? Mau ke temen, malu. Mau ke dosen, nanti dibilang tidak tahu malu, repot kan. Nah kalau di Negara sendiri, mepet-mepetnya minjem uang saudara dan urusan transfer gampang.

Anyway, sepertinya saya malah kebanyakan curcol daritadi. Padahal sebenarnya episode ini mau nulis yang namanya shock culture kampungan. Sebagai refleksi sebulan hidup jauh dari kampung halaman. Saya menyebut begitu karena sebenarnya bukan shock culture beneran, tapi saya cuma merasa sangat kampungan ketika berada di negaranya Pangeran William ini.

Shock yang pertama adalah urusan kompor. Harusnya saya malu memproklamirkan diri ingin menjadi chef di masa depan, tapi kaget dan terbengong-bengong waktu lihat kompor di dapur flat. Puterannya banyak, indikatornya angka, dan gak ada apinya. Selidik punya selidik, ternyata itu kompor listrik. Kompor ini ternyata agak merepotkan, karena panasnya lama, tapi begitu panas, dia juga butuh waktu kalau mau dikecilkan suhunya. Latihan pake kompor seperti ini, hitung-hitung pengalaman kalau nanti jadi koki papan atas.

Belum lagi, yang namanya microwave. Di Indonesia juga banyak sih yang seperti ini, tapi seperti yang saya bilang, saya ini kampungan jadi tidak pernah memakai yang beginian. Ternyata alas, bungkus, atau wadah yang dipakai tidak boleh sembarangan. Pernah suatu kali, saya mau coba pakai alat ajaib ini, untuk memanaskan masakan India yang saya bungkus malam sebelumnya. Bagian dalam bungkusan makanan India itu berwarna perak, meskipun bagian luarnya mirip seperti kertas biasa. Saya berpikir, ini model lain dari aluminium foil, jadi langsung saja saya masukkan ke dalam microwave itu. Cetrek…cetrek…wooossshhhh api menyambar-menyambar. Saya kaget bukan kepalang, langsung saya putar lagi knopnya ke posisi 0, lalu saya buka dan keluarkan masakan India yang bungkusnya sebagian berubah hitam karena terbakar. Sambil elus-elus dada karena tidak ada yang rusak, saya pindahkan masakan india itu ke wadah tahan panas, dan saya nyalakan lagi microwavenya. Kali ini saya berhasil.

Shock yang kedua adalah soal system belajar mengajar disini. Dulu waktu masih kuliah di Yogya, saya merasa alur kuliah itu Cuma satu arah saja. Yaitu dari dosen ke mahasiswa. Tapi mungkin saja saya salah dengan pandangan ini, tapi setidaknya itulah yang saya rasakan dulu. Soal buku bacaan pun, paling yang dipakai hanya satu dua buku saja.

Nah, di Brunel atau mungkin di hampir semua institusi pendidikan di UK, soal belajar mengajar ini dipersiapkan dengan jeli. Pada hari pertama masuk, sang dosen sudah memberikan rencana proses belajar mengajar sampai akhir. Dalam rencana itu sudah dicantumkan reading list alias setumpuk buku-buku yang wajib yang harus dibaca dan sederet buku-buku yang disarankan untuk dibaca. Daftar buku itu bisa puluhan jumlahnya.

Kemudian, setiap kali akan mengajar, sehari sebelumnya dosen sudah memasukan bahan kuliah ke intranet. Sehingga para mahasiswa bisa leluasa mengakses bahan tersebut untuk dipelajari. Proses belajar ini sangat penting. Karena di dalam kelas, dosen hanya memberikan inti-inti permasalahan, lalu mahasiswa dibiarkan berargumen satu sama lain. Pakai bahasa Inggris lagi. Sebagai bukan pengguna bahasa asli, saya tentunya harus bekerja dua kali, dari berpikir dengan bahasa Indonesia lalu dikeluarkan dengan bahasa Inggris. Semoga lama-lama otak saya mampu menganalisa dalam bahasa Inggris dan berargumen dengan bahasa yang sama.

Shock yang ketiga adalah soal keuangan. Ternyata disini, yang namanya buku tabungan itu tidak laku sama sekali. Mungkin mereka lagi gerekan penghijauan, karena setiap lembar kertas berarti pohon-pohon yang ditebang. Disini lebih umum dengan istilah Internet Banking, yang merupakan buku tabungan sekaligus tempat kita bertransaksi.

Tidak seperti di Indonesia yang baru mulai merambah belanja online. Di negara tempat saya mencoba menyelesaikan S2 ini, belanja online sudah menjadi kebiasaan. Bahkan segala sesuatu justru dijual secara online. Meskipun cara tradisional alias transaksi nyata (face to face dengan bendanya) juga masih umum dipakai.

Teman saya, Robby, langsung mengenalkan saya dengan website yang disebut Ebay. Disinilah pusat jual beli online untuk barang baru maupun second. Sebenarnya banyak website yang menawarkan hal yang sama, tapi Ebay menjadi yang nomor satu. Kadang, belanja disini, kita bisa mendapatkan harga yang murah. Seperti sepatu Caterpillar saya yang hanya 39 Pounds atau sekitar Rp 450.000, padahal kalau di tempat lain, harganya bisa Rp 1 jutaan.

Selain belanja secara online, disini setiap transaksi, pembayarannya bisa menggunakan kartu debet. Setahu saya, di Indonesia transaksi dengan kartu dibatasi minimal pembelian. Kalau disini, mau beli barang hanya 2 Pounds, lalu dibayar pake kartu debet juga aga masalah. Sistem ini memang memudahkan, tapi ternyata membuat orang kampungan seperti saya ini menjadi berpikir agak konsumtif. Meskipun tidak bawa uang, pikirannya mau beli barang aja, karena bisa dibayar dengan menggunakan kartu.

Wah keliatannya, episode ini ceritanya banyak banget. Kita sudahi dulu, nanti kita sambung lagi ya.

Advertisements
Comments
  1. selain ebay ada gumtree, amazon, play dot com ….:D lam kena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s