London Day 26

Posted: October 10, 2011 in Kim's Journey

Day 26

9 Oktober 2011. Setiap orang mempunyai cara untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Begitu juga saya, yang sebenarnya masih tenggelam diantara tumpukan reading list yang melambai-lambaikan tangannya untuk minta dibaca.

Hari Ahad ini sebenarnya ingin saya gunakan untuk beristirahat. Entah kenapa selama dua hari yang lalu saya sulit sekali berkompromi dengan kelopak mata kembar yang enggan menutup setiap malam. Kelopak mata yang kompak ngeyelnya ini memaksa saya untuk tidur larut.

Tapi, ketika niat untuk tidur sudah hampir bulat, telepon genggam saya berbunyi. Di ujung sana Robby, yang setelah berbicara panjang lebar tentang permintaan bantuannya soal surat keterangan dari Brunel, mengajak saya untuk pergi ke pasar kaget di Stadion Wembley. Tentang pasar ini tentunya sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya.

Itu lho, pasar yang isinya barang-barang aspal (asli tapi palsu). Pasar yang selalu mengingatkan saya dengan Blok M. Kebanyakan yang berjualan di pasar ini adalah imigran, baik dari Jepang, Thailand, China, India, Pakistan, atau Bangladesh. Stand-stand berjejer, para penjual dengan berbagai cara, mulai dari music hingga teriakan nyaring, saling berlomba menarik pembeli.

Nah, di tengah-tengah pasar ini ada stand-stand makanan yang levelnya sangat kaki lima. Tapi rasanya cukup nendang. Tempat inilah yang menjadi sasaran kami, karena Robby dengan baik hati menawarkan diri untuk mentraktir. Pilihan menu saya siang itu adalah Kebab Roll. Makanan ini terdiri dari pita bread besar yang digulung dengan isian daging kebab (bentuk daging ini lebih mirip satu buntel panjang yang dibakar dengan tusukan besi, saat akan disajikan tusukan itu ditarik sehingga meninggalkan daging yang bentuknya mirip sosis), bawang Bombay, dan lettuce. Tidak lupa mereka memberika saos yang banyak. Teman-teman lain memilih Mie goring. Mie dengan taburan daging ayam ini dimasak diatas wajan datar yang sudah gosong-gosong dengan kucuran saos merah yang kental. Hasilnya mie itu tampak merah menyala saat akan dimakan.

Kenyang menyantap makanan porsi besar itu, kami berkeliling pasar kaget. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Beberapa teman langsung menuju ke rumah masing-masing. Tapi saya memiliki agenda tersendiri. Saya sudah berjanji mampir ke rumah salah seorang teman yang tidak sengaja bertemu di KBRI seusai pemilihan KBRI London.

Kaki ini kemudian saya langkahkan menuju Ciswick Park. Cukup mudah untuk menuju tempat ini. Hanya perlu berganti tube sekali. Setelah sampai di Stasiun Ciswick Park, cukup berjalan 2 smapai 5 menit untuk sampai di rumah Mas Wahyu, kawan saya itu. Teman saya ini sangat low profile, berbicara dengan bahasa Jawa yang medhok, dan dia sudah 8 tahun di London.

Melalui kakak sayalah, akhirnya kami bisa berkenalan. Ketika itu saya sedang bingung mencari akomodasi di London, dan Mas Wahyu inilah yang menawarkan diri untuk membantu. Tapi karena saya kemudian memilih akomodasi kampus, komunikasi diantara kami sempat terputus. Hingga kami bertemu lagi di KBRI.

Rumah Mas Wahyu ini dari sisi fisik tidak ada yang berbeda. Sama seperti tipikal rumah-rumah Inggris lainnya. Tapi suasana di dalam rumah yang beralamat di Arlington Garden No 9 itulah yang menarik. Sudah bertahun-tahun rumah itu disewa oleh orang-orang Indonesia. Entah sudah berapa generasi yang tinggal di rumah bertingkat itu.

Ketika saya datang, hampir semua penghuni rumah berasal dari etnis Jawa. Baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur. “Jadi disini itu malah jadi tambah fasih bahasa Jawa daripada Bahasa Inggris,” kata Istri Mas Wahyu berkelakar.

Memang benar, hampir setiap pembicaraan dan diskusi yang terjadi di rumah ini, selalu saja menggunakan bahasa Jawa. Suasana inilah yang kemudian seakan mengorek-ngorek rasa kangen saya dengan Indonesia. Berada di rumah tersebut membuat saya merasa tidak berada jauh dari Indonesia. Rasa kekeluargaan dan kekhasan bahasa dan logat yang dilontarkan para penghuni rumah itu sejenak mengantarkan saya meninggalkan London.

Tidak hanya suasana yang menarik. Ketika saya datang berkunjung itu, Mas Wahyu sengaja memasak special. Yaitu bebek bakar. Sebuah sajian yang lagi-lagi melontarkan saya dari London menuju Yogyakarta. Rasa-rasanya Bebek Cak Koting yang sering ramai dengan pengunjung kalah dengan masakan Mas Wahyu. Bukan karena sambal atau tekniknya, tetapi karena rasa kangen yang kemudian sedikit terobatilah yang membuat bebek tersebut terasa nikmat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s