Archive for October, 2011

London Day 40

Posted: October 23, 2011 in Kim's Journey

Day 40

23 Oktober 2011. Lebih dari sebulan tinggal di London, banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Sebagian besar menyenangkan dan sampai saat ini ada satu hal yang bisa dibilang menjengkelkan.

Apakah itu? Dia adalah FIRE ALARM.

FIRE ALARM adalah pengembangan dari pendeteksi asap yang ditemukan oleh penemu Amerika, Francis Thomas Upton pada tahun 1890. Mulai saat itulah system penanda terjadinya kebakaran mulai digunakan. Pada tahun 1975 dua orang usahawan, Peterson dan Pearsall mulai memproduksi pendeteksi asap itu. FIRE ALARM kemudian menjadi umum dipasang di gedung atau rumah hingga saat ini. Pada dasarnya, cara kerja alat ini sangat sederhana. Jika sensor mendeteksi ada asap pekat di sebuah ruangan, maka system akan menyalakan tanda peringatan. Tanda yang paling umum ada suara sirene.

Ide untuk memasang FIRE ALARM di sebuah gedung adalah ide yang brilliant. Alat tersebut akan memberikan peringatan awal pada para penghuni atau pengguna gedung jika tanda-tanda awal kebakaran terjadi. Tapi bagaimana jadinya jika alarm itu menjadi sangat sensitif?

Jawabannya adalah, kita akan disibukkan dengan aktivitas evakuasi berulang-ulang kali dan suara nyaringnya membuat telinga tidak nyaman. Hal ini bisa menjadi sangat melelahkan. Namun, hal inilah yang sering kami alami di akomodasi kampus Universitas Brunel.

FIRE ALARM di setiap gedung akomodasi sepertinya dibuat sangat sensitif. Pernah alarm tersebut berbunyi hanya karena uap ketika seseorang mandi dengan air panas. Dalam kejadian lain, alarm itu teraktifasi hanya karena parfum. Berjaga-jaga memang penting, tapi ya jangan terlalu sensitive lah, rileks saja hehehe.

Pihak akomodasi memang sudah mengingatkan kami, para penghuni, tentang hal menjengkelkan ini. Tapi dengan temperature udara yang tidak bersahabat dengan kulit Indonesia saya ini, FIRE ALARM justru menjadi hal yang paling tidak menyenangkan. Seperti halnya malam ini, kami harus keluar gedung pada suhu 13 derajat dan angin yang bertiup kencang. Beberapa hari yang lalu, pada pagi-pagi buta, kami harus bergegas keluar gedung karena tiba-tiba suara sirene dari FIRE ALARM mengangum. Padahal di luar suhunya dibawah 9 derajat, belum lagi mata yang masih 5 watt.

Hal ini terjadi, tidak hanya di gedung tempat saya tinggal. Tapi di gedung-gedung akomodasi lain juga. Pernah, FIRE ALARM di Central Hall, gedung yang berada tempat di depan gedung tempat saya tinggal, menyala pada sekitar pukul 3 pagi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi para penghuninya.

Nah, aktivitas tidak menyenangkan itu ternyata, kata seorang teman, tidak berhenti pada masalah alarm yang terlalu sensitive. Katanya, nanti, pada musim dingin, pihak keamanan universitas akan menjalankan program uji coba FIRE ALARM itu secara acak. Jadi bisa saja pada tengah malam, saat suhu minus, kita harus keluar kamar, melakukan prosedur evakuasi, dan itu semua hanya untuk uji coba.

Hmmmmm selamat menikamati aja deh….cheerss..

 

Advertisements

London Day 36

Posted: October 19, 2011 in Kim's Journey

London Day 36

19 Oktober 2011. Tidak terasa sudah lebih dari satu bulan saya menetap dan mengecap rasanya tinggal di London.  Begitu banyak cerita dan pengalaman baru yang saya dapatkan. Saking banyaknya, sampai-sampai tidak sadar kalau waktu berlalu sangat cepat.

Sebulan yang lalu, saya masih deg-degan dengan barang bawaan dari Indonesia. Apakah melebihi kapasitas muatan atau tidak. Lalu saya dibuat menganga sampai gigi-gigi jadi kering, karena transportasi umum di London yang bisa diandalkan. Kemudian menjadi iri dengan budaya antri yang harusnya dicontoh masyarakat Jakarta.

Sekarang, saya sudah mulai terbiasa dengan transportasi umum itu, sehingga tidak perlu menganga-menganga lagi. Antri sudah menjadi bagian dari perilaku (wuduh gaya pisan). Tapi yang membuat saya pusing adalah uang beasiswa yang telat banget mampir di rekening. Pada tengah-tengah sejak awal bulan Oktober sampai pertengahan, jantung rasanya dipacu terus saat melirik isi rekening lewat internet banking. Tetap saja nihil, tanpa perubahan.

Jurus irit pun mulai dilakukan.  Dari makan seadanya alias cuma kombinasi karbohidrat seperti mie campur nasi atau cuma bergantung pada lauk telur, sampai berusaha datang ke acara KBRI untuk cari makan gratisan. Loh kok sepertinya urusan perut aja nie yang penting. Bagi saya, urusan perut emang penting. Bisa dibilang, urusan ini sama dengan jambulnya Samson yang kalau dipotong jadi klepek-klepek, tidak punya kekuatan.

Tapi Alhamdulillah, pola hidup tidak sehat itu akhirnya berhenti. Karena pasokan dana sudah masuk. Waktu pertama kali uang di rekening yang awalnya hampir nol itu nambah, rasanya melayang. Beda lho, rasanya hidup ga punya uang di negeri sendiri dengan di negeri orang. Disini, kalau udah ga punya uang mau ngemis ama siapa? Mau ke temen, malu. Mau ke dosen, nanti dibilang tidak tahu malu, repot kan. Nah kalau di Negara sendiri, mepet-mepetnya minjem uang saudara dan urusan transfer gampang.

Anyway, sepertinya saya malah kebanyakan curcol daritadi. Padahal sebenarnya episode ini mau nulis yang namanya shock culture kampungan. Sebagai refleksi sebulan hidup jauh dari kampung halaman. Saya menyebut begitu karena sebenarnya bukan shock culture beneran, tapi saya cuma merasa sangat kampungan ketika berada di negaranya Pangeran William ini.

Shock yang pertama adalah urusan kompor. Harusnya saya malu memproklamirkan diri ingin menjadi chef di masa depan, tapi kaget dan terbengong-bengong waktu lihat kompor di dapur flat. Puterannya banyak, indikatornya angka, dan gak ada apinya. Selidik punya selidik, ternyata itu kompor listrik. Kompor ini ternyata agak merepotkan, karena panasnya lama, tapi begitu panas, dia juga butuh waktu kalau mau dikecilkan suhunya. Latihan pake kompor seperti ini, hitung-hitung pengalaman kalau nanti jadi koki papan atas.

Belum lagi, yang namanya microwave. Di Indonesia juga banyak sih yang seperti ini, tapi seperti yang saya bilang, saya ini kampungan jadi tidak pernah memakai yang beginian. Ternyata alas, bungkus, atau wadah yang dipakai tidak boleh sembarangan. Pernah suatu kali, saya mau coba pakai alat ajaib ini, untuk memanaskan masakan India yang saya bungkus malam sebelumnya. Bagian dalam bungkusan makanan India itu berwarna perak, meskipun bagian luarnya mirip seperti kertas biasa. Saya berpikir, ini model lain dari aluminium foil, jadi langsung saja saya masukkan ke dalam microwave itu. Cetrek…cetrek…wooossshhhh api menyambar-menyambar. Saya kaget bukan kepalang, langsung saya putar lagi knopnya ke posisi 0, lalu saya buka dan keluarkan masakan India yang bungkusnya sebagian berubah hitam karena terbakar. Sambil elus-elus dada karena tidak ada yang rusak, saya pindahkan masakan india itu ke wadah tahan panas, dan saya nyalakan lagi microwavenya. Kali ini saya berhasil.

Shock yang kedua adalah soal system belajar mengajar disini. Dulu waktu masih kuliah di Yogya, saya merasa alur kuliah itu Cuma satu arah saja. Yaitu dari dosen ke mahasiswa. Tapi mungkin saja saya salah dengan pandangan ini, tapi setidaknya itulah yang saya rasakan dulu. Soal buku bacaan pun, paling yang dipakai hanya satu dua buku saja.

Nah, di Brunel atau mungkin di hampir semua institusi pendidikan di UK, soal belajar mengajar ini dipersiapkan dengan jeli. Pada hari pertama masuk, sang dosen sudah memberikan rencana proses belajar mengajar sampai akhir. Dalam rencana itu sudah dicantumkan reading list alias setumpuk buku-buku yang wajib yang harus dibaca dan sederet buku-buku yang disarankan untuk dibaca. Daftar buku itu bisa puluhan jumlahnya.

Kemudian, setiap kali akan mengajar, sehari sebelumnya dosen sudah memasukan bahan kuliah ke intranet. Sehingga para mahasiswa bisa leluasa mengakses bahan tersebut untuk dipelajari. Proses belajar ini sangat penting. Karena di dalam kelas, dosen hanya memberikan inti-inti permasalahan, lalu mahasiswa dibiarkan berargumen satu sama lain. Pakai bahasa Inggris lagi. Sebagai bukan pengguna bahasa asli, saya tentunya harus bekerja dua kali, dari berpikir dengan bahasa Indonesia lalu dikeluarkan dengan bahasa Inggris. Semoga lama-lama otak saya mampu menganalisa dalam bahasa Inggris dan berargumen dengan bahasa yang sama.

Shock yang ketiga adalah soal keuangan. Ternyata disini, yang namanya buku tabungan itu tidak laku sama sekali. Mungkin mereka lagi gerekan penghijauan, karena setiap lembar kertas berarti pohon-pohon yang ditebang. Disini lebih umum dengan istilah Internet Banking, yang merupakan buku tabungan sekaligus tempat kita bertransaksi.

Tidak seperti di Indonesia yang baru mulai merambah belanja online. Di negara tempat saya mencoba menyelesaikan S2 ini, belanja online sudah menjadi kebiasaan. Bahkan segala sesuatu justru dijual secara online. Meskipun cara tradisional alias transaksi nyata (face to face dengan bendanya) juga masih umum dipakai.

Teman saya, Robby, langsung mengenalkan saya dengan website yang disebut Ebay. Disinilah pusat jual beli online untuk barang baru maupun second. Sebenarnya banyak website yang menawarkan hal yang sama, tapi Ebay menjadi yang nomor satu. Kadang, belanja disini, kita bisa mendapatkan harga yang murah. Seperti sepatu Caterpillar saya yang hanya 39 Pounds atau sekitar Rp 450.000, padahal kalau di tempat lain, harganya bisa Rp 1 jutaan.

Selain belanja secara online, disini setiap transaksi, pembayarannya bisa menggunakan kartu debet. Setahu saya, di Indonesia transaksi dengan kartu dibatasi minimal pembelian. Kalau disini, mau beli barang hanya 2 Pounds, lalu dibayar pake kartu debet juga aga masalah. Sistem ini memang memudahkan, tapi ternyata membuat orang kampungan seperti saya ini menjadi berpikir agak konsumtif. Meskipun tidak bawa uang, pikirannya mau beli barang aja, karena bisa dibayar dengan menggunakan kartu.

Wah keliatannya, episode ini ceritanya banyak banget. Kita sudahi dulu, nanti kita sambung lagi ya.

London Day 13

Posted: October 10, 2011 in Kim's Journey
Day 13
Ini kisah saya menjelajah Trafalgar yang masuk ke Koran Republika. Terima kasih teman-teman di Jakarta sana.
Sabtu, 08 Oktober 2011 pukul 14:30:00

AHAD PAGI DI TRAFALGAR

Oleh Rosyid Nurul Hakiim
Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) London

Trafalgar memang layak menjadi titik pertama sebelum menjelajahi London.

Ahad (25/11) itu, matahari sedang bersahabat dengan para wisatawan yang sedang ber -kunjung ke Trafal -gar Square. Sesekali awan mendung menutupi terangnya, tetapi segera hilang tertiup angin yang segera membawa musim gugur di London.

Waktu baru menunjukkan pukul 11.00, tetapi lapangan utama di tengah Kota London itu sudah dipadati orang-orang dengan beragam aktivitasnya. Sebagian besar dari mereka tentu saja wisa -tawan asing. Hal ini dengan cepat bisa dikenali dari bahasa yang mereka gunakan dan wajah-wajah kagum yang terpancar. Bagi warga London, tempat ini juga bisa dijadikan lokasi berkumpul atau bere -kreasi.

Lumrah jika Trafalgar Square menjadi salah satu daya tarik wisata di London. Bahkan, bisa dikatakan, tempat ini harusnya menjadi titik pertama sebelum menjelajahi lokasilokasi lain yang menjadi Kota Metropolitan itu. Karena dari tempat ini, para wisatawan bisa sekilas melihat Big Ben yang terkenal dan London Eye yang berupa bianglala besar. Perja -lanan menuju dua tempat ikonik itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 sampai 15 menit saja.

Berada di satu lokasi dengan Trafalgar Square, wisatawan bisa mengunjungi Mu seum National Gallery. Tidak dibutuhkan biaya sama sekali un -tuk masuk ke museum lukis -an ini. Tapi, jika mengingin -kan bantuan pemandu atau rekaman panduan, harus bersedia membayar.

Secara umum, Trafalgar Square hanya berupa tanah lapang dengan beberapa aksesori yang menghiasinya. Di tengahnya menjulang tinggi Nelson’s Column, sebuah monumen tempat pa tung seorang pejuang. Dia adalah Admiral Horatio Nelson yang meninggal saat perang Trafalgar pada 1805. Di sekeli -ling monumen itu, ditempatkan empat buah patung singa duduk berwarna hitam.

Menengok lebih jauh dekorasi Trafalgar Square, ada dua buah kolam lengkap dengan air mancur. Di sekeliling lapangan juga terdapat patung-patung orang ternama di London. Ke -indahan dekorasi lapangan ini bisa menjadi tempat yang cocok untuk berfoto bersama temanteman dan keluarga. Titik yang paling sering dijadikan tempat berfoto adalah di patungpatung singa gagah yang seolah menjaga monumen.

Dalam kalender tahunan, lapangan ini biasa digunakan untuk perayaan-perayaan besar, seperti perayaan tahun baru atau parade perayaan keme -nangan sekutu melawan Nazi. Selain itu, karena letaknya yang di pusat kota, tempat ini sering juga digunakan sebagai lokasi demonstrasi.

Cukup mudah untuk menjangkau Trafalgar Square ini. Transportasi umum di London bisa sangat diandalkan. Cukup sediakan uang untuk membeli tiket sekali jalan atau bagi yang sudah memiliki Oyster Card, silakan diisi sesuai kebutuhan. Oyster Card adalah kartu transportasi yang bisa digunakan untuk segala moda transportasi. Kartu ini bisa diisi ulang sesuai kebutuhan.

Street performance
Tidak hanya menikmati keindahan bangunan atau isi museum, wisatawan juga bisa menyaksikan para penghibur jalanan yang sedang beraksi. Kebetulan, pada Ahad itu ada dua tontonan yang menarik.

Pertama adalah aksi master yoga. Pria kulit hitam dengan baju kuning ketat dan corak kotak-kotak hitam mencoba menarik penonton dengan lagulagu Michael Jackson sambil dia membentangkan tali merah untuk membuat ruang bagi dirinya beraksi. Mikrofon pun diambil, pria itu kemudian memperkenalkan diri sebagai salah seorang ahli dalam yoga dan sudah mempraktikkan hal itu selama bertahun-tahun.

Sajian kedua adalah Ernest The Magnifico. Pria asal Aus -tralia itu mengibur para penonton dengan candaan-candaan kocaknya. Bahkan, dia sangat agresif untuk menarik penonton. Headset dipasang di kepa -la, lalu dia berjalan dengan be -bas mengajak wisatawan untuk menyaksikan aksinya. “Hei kamu yang di sana, sini-sini, injak tali merah ini di sini,” ajak Ernest kepada pengunjung yang sedang berlalu-lalang.

Selain dua sajian utama itu, di sekitaran lapangan juga tam -pak seorang wanita yang ber -dandan dengan pakaian Inggris zaman dahulu dan seluruh tubuh dan pakaiannya dibalur dengan warna emas. Dia berlagak seperti patung. Tidak jauh dari wanita itu, ada dua orang yang menggambar berbagai macam bendera dengan kapur berwarna. Itulah cara mereka menyebarkan cinta dan perdamaian, atau setidak nya begi -tulah yang tertulis di lokasi tempat mereka menggambar.

Bagi pengunjung yang ingin menggambar bendera, tinggal meminta saja pada mereka. Trafalgar Square memang men jadi pusat ekspresi pendu -duk London. Baik pendatang maupun penduduk lokal, semua bebas melakukan apa saja asal -kan tidak merugikan orang lain. Bagi mereka yang pertama kali mengunjungi tempat itu, tentu saja bisa terhibur dengan berbagai atraksi dan kegiatan yang ada. ed: darmawan sepriyossa

London Day 26

Posted: October 10, 2011 in Kim's Journey

Day 26

9 Oktober 2011. Setiap orang mempunyai cara untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Begitu juga saya, yang sebenarnya masih tenggelam diantara tumpukan reading list yang melambai-lambaikan tangannya untuk minta dibaca.

Hari Ahad ini sebenarnya ingin saya gunakan untuk beristirahat. Entah kenapa selama dua hari yang lalu saya sulit sekali berkompromi dengan kelopak mata kembar yang enggan menutup setiap malam. Kelopak mata yang kompak ngeyelnya ini memaksa saya untuk tidur larut.

Tapi, ketika niat untuk tidur sudah hampir bulat, telepon genggam saya berbunyi. Di ujung sana Robby, yang setelah berbicara panjang lebar tentang permintaan bantuannya soal surat keterangan dari Brunel, mengajak saya untuk pergi ke pasar kaget di Stadion Wembley. Tentang pasar ini tentunya sudah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya.

Itu lho, pasar yang isinya barang-barang aspal (asli tapi palsu). Pasar yang selalu mengingatkan saya dengan Blok M. Kebanyakan yang berjualan di pasar ini adalah imigran, baik dari Jepang, Thailand, China, India, Pakistan, atau Bangladesh. Stand-stand berjejer, para penjual dengan berbagai cara, mulai dari music hingga teriakan nyaring, saling berlomba menarik pembeli.

Nah, di tengah-tengah pasar ini ada stand-stand makanan yang levelnya sangat kaki lima. Tapi rasanya cukup nendang. Tempat inilah yang menjadi sasaran kami, karena Robby dengan baik hati menawarkan diri untuk mentraktir. Pilihan menu saya siang itu adalah Kebab Roll. Makanan ini terdiri dari pita bread besar yang digulung dengan isian daging kebab (bentuk daging ini lebih mirip satu buntel panjang yang dibakar dengan tusukan besi, saat akan disajikan tusukan itu ditarik sehingga meninggalkan daging yang bentuknya mirip sosis), bawang Bombay, dan lettuce. Tidak lupa mereka memberika saos yang banyak. Teman-teman lain memilih Mie goring. Mie dengan taburan daging ayam ini dimasak diatas wajan datar yang sudah gosong-gosong dengan kucuran saos merah yang kental. Hasilnya mie itu tampak merah menyala saat akan dimakan.

Kenyang menyantap makanan porsi besar itu, kami berkeliling pasar kaget. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Beberapa teman langsung menuju ke rumah masing-masing. Tapi saya memiliki agenda tersendiri. Saya sudah berjanji mampir ke rumah salah seorang teman yang tidak sengaja bertemu di KBRI seusai pemilihan KBRI London.

Kaki ini kemudian saya langkahkan menuju Ciswick Park. Cukup mudah untuk menuju tempat ini. Hanya perlu berganti tube sekali. Setelah sampai di Stasiun Ciswick Park, cukup berjalan 2 smapai 5 menit untuk sampai di rumah Mas Wahyu, kawan saya itu. Teman saya ini sangat low profile, berbicara dengan bahasa Jawa yang medhok, dan dia sudah 8 tahun di London.

Melalui kakak sayalah, akhirnya kami bisa berkenalan. Ketika itu saya sedang bingung mencari akomodasi di London, dan Mas Wahyu inilah yang menawarkan diri untuk membantu. Tapi karena saya kemudian memilih akomodasi kampus, komunikasi diantara kami sempat terputus. Hingga kami bertemu lagi di KBRI.

Rumah Mas Wahyu ini dari sisi fisik tidak ada yang berbeda. Sama seperti tipikal rumah-rumah Inggris lainnya. Tapi suasana di dalam rumah yang beralamat di Arlington Garden No 9 itulah yang menarik. Sudah bertahun-tahun rumah itu disewa oleh orang-orang Indonesia. Entah sudah berapa generasi yang tinggal di rumah bertingkat itu.

Ketika saya datang, hampir semua penghuni rumah berasal dari etnis Jawa. Baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur. “Jadi disini itu malah jadi tambah fasih bahasa Jawa daripada Bahasa Inggris,” kata Istri Mas Wahyu berkelakar.

Memang benar, hampir setiap pembicaraan dan diskusi yang terjadi di rumah ini, selalu saja menggunakan bahasa Jawa. Suasana inilah yang kemudian seakan mengorek-ngorek rasa kangen saya dengan Indonesia. Berada di rumah tersebut membuat saya merasa tidak berada jauh dari Indonesia. Rasa kekeluargaan dan kekhasan bahasa dan logat yang dilontarkan para penghuni rumah itu sejenak mengantarkan saya meninggalkan London.

Tidak hanya suasana yang menarik. Ketika saya datang berkunjung itu, Mas Wahyu sengaja memasak special. Yaitu bebek bakar. Sebuah sajian yang lagi-lagi melontarkan saya dari London menuju Yogyakarta. Rasa-rasanya Bebek Cak Koting yang sering ramai dengan pengunjung kalah dengan masakan Mas Wahyu. Bukan karena sambal atau tekniknya, tetapi karena rasa kangen yang kemudian sedikit terobatilah yang membuat bebek tersebut terasa nikmat.

London Day 23

Posted: October 6, 2011 in Kim's Journey

Day 23

6 Oktober 2011. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Di London, harus selalu siap sedia terhadap segala perubahan cuaca. Jika di ada fasilitas ramalan cuaca di handphone, maka selalu aktifkan lah. Karena bisa saja mendung di pagi hari, cerah di siang hari, tetapi hujan lebat di sore hari. Cuaca menjadi semakin tidak menentu disini.

Sedikit berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi. Saat ini (pukul 10.22 malam) indicator suhu yang ada di laptop saya menunjukan temperature 11 derajat celcius. Belum pernah dalam hidup saya merasakan suhu serendah ini. Kalaupun menggunakan AC, paling mentok suhunya sampai 15 derajat.

Saat ini London memang sedang memasuki musim gugur. Bisa dibilang ancang-ancang sebelum musim dingin tiba. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana rendahnya temperature udara saat musim dingin nanti. Beberapa persiapan sih sudah dilakukan. Termasuk membeli jaket tebal dan beberapa aksesoris pelindung tubuh saat cuaca ekstrim nanti.

Kembali ke topic. Suhu 11 derajat celcius. Meski berada di dalam kamar, rasa dingin tetap saja menusuk-nusuk kaki. Pihak universitas pernah bilang akan menyalakan penghangat ruangan pada bulan Oktober. Tapi sepertinya janji tinggal janji saja. Sampai saat ini benda mirip AC tapi lebih pipih yang terpasang di dekat pintu masuk kamar saya itu belum juga menyala. Hasilnya, pertahanan terhadap dingin hanya bisa dilakukan dengan selimut yang tebal.

Selain suhu udara yang dingin. London ini juga terkenal dengan anginnya yang kencang. Seperti yang terjadi saat saya menuliskan blog ini. Di luar terdengar suara angina mendesis melewati rongga-rongga kecil yang ada di gedung asrama. Desisan bisa terdengar sangat jelas, yang artinya angin sedang bertiup kencang. Karena kondisi seperti ini, disarankan bagi mereka yang akan ke London untuk menyiapkan payung yang kuat. Jika tidak, payung itu hanya akan patah atau terbalik.

Ngomong-ngomong soal angin, saya jadi rindu dengan Jakarta. Ibu kota Indonesia itu kalau sudah masuk musim hujan, rajin banget disamperin angina kencang. Sampai-sampai berita pohon roboh menimpa mobil sering sekali muncul menghiasi kolom-kolom berita di koran atau penyedia berita online. Bahkan pernah suatu sore, ada angina puting beliung mampir di daerah dekat kantor saya dulu di Jalan Warung Buncit. Saking kencangnya angin itu, seng-seng penutup proyek mall di depan kantor saya berterbangan. Saat itu Pejaten Village Mall belum sepenuhnya rampung.

Mengingat hal itu, semoga angin kencang yang sedang terjadi sekarang di sekitara kampus Brunel ini tidak melukai atau mencelakakan orang. Anggap saja desisan angina kencang ini sebagai melodi yang menemani saya menghabiskan waktu membaca setumpuk buku-buku tebal yang ada adalam reading list dua mata kuliah yang saya ambil.

Tetap semangat, meski suhu mulai dingin.

London Day 21

Posted: October 4, 2011 in Kim's Journey

Day 21

4 Oktober 2011. Satu informasi lagi yang patut dipertimbangkan saat memilih sekolah atau tinggal di London adalah sering-sering memantau ramalan cuaca. Karena yang namanya temperature dan kondisi cuaca disini sudah seperti roller coster.

Bagi orang Indonesia, seperti saya yang kampungan ini, hanya mengenal dua iklim. Panas dan panas banget, terutama yang tinggal Jakarta, hehehehe. Sejak awal tahun 2011 sampai saya terbang ke Inggris, hujan jarang sekali terjadi. Hanya ketika saya sudah berada di Inggris, istri mengabari bahwa Jakarta sudah mulai hujan deras. Intinya, orang-orang seperti saya ini sudah sangat terbiasa dengan kondisi panas dan gerah.

Berbeda dengan di London. Pada awal-awal menjejakkan kaki di negerinya Queen Elizabeth ini, temperaturnya cukup rendah menurut ukuran saya. Berikisar 15 sampai 16 derajat. Padahal ketika itu masih musim panas. Karena tubuh yang berusaha beradaptasi, bibir saya sangat kering dan pecah-pecah.

Lama-kelamaan tubuh sudah mulai terbiasa dengan suhu dingin. Namun, di minggu terakhir bulan September kemarin, terjadi fenomena yang bagi orang Inggris sendiri aneh. Seharusnya pada masa-masa itu suhu bertambah dingin karena akan memasuki musim gugur. Tapi ternyata, justru matahari semangat banget bersinar. Langit London yang biasanya mendung, saat itu terang benderang. Bahkan pada Sabtu, 1 Oktober 2011, yang suhunya mencapai 29 derajat celcius, dianggap sebagai hari paling panas di bulan Oktober dalam beberapa tahun terakhir.

Jadi tidak heran jika mereka memanfaatkan hari cerah tersebut untuk keluar rumah. Pusat kota London seakan penuh dengan manusia. Taman, tempat tujuan wisata, pusat perbelanjaan semua dipadati manusia. “Mereka sedang menikmati surga, karena minggu depan suhu pasti akan dingin,” kata George, teman satu flat saya yang berasal dari Yunani pada malam harinya.

Benar saja, setelah matahari tetap terik pada hari Senin, 3 Oktober 2011. Hari Selasa ini cuaca seakan diputar balik. Sejak pagi langit London sudah mendung. Ketika itu, saya merasa mendung ini hanya sementara. Jadi saya memutuskan untuk mencuci celana jeans. Celana ini sengaja saya cuci manual karena warnanya yang luntur.

Tapi bodohnya, saya tidak memperhatikan perkiraan cuaca hari ini. Dari yang saya pikir akan terik seperti hari-hari sebelumnya. Ternyata hari ini full mendung, disertai hujan rintik-rintik. Nasib-nasib, celana yang sudah diperas akhirnya hanya bisa dijemur di kamar mandi.

Keanehan cuaca ini tidak hanya dirasakan oleh saya sendiri. Beberapa teman kuliah juga heran dengan cuaca yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Beberapa ada yang kemudian berganti kostum. Dari awalnya yang agak terbuka, menjadi tertutup dan berjaket. Karena suhu yang dingin, ditambah lagi angin yang kencang.

Pengalaman memang sesuatu yang sangat berharga. Mulai saat ini, rajin-rajinlah memantau ramalan cuaca di London.

London Day 18-19

Posted: October 3, 2011 in Kim's Journey

Day 18 to 19

Blackout day, 1 Oktober 2011 – 2 Oktober 2011. Blackout yang saya tulis disini bukan berarti mati lampu yang sudah jadi langganan di Indonesia lho. Tapi lebih pada terputusnya komunikasi karena menghilangnya koneksi internet di kamar asrama saya.

Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bagaimana internet sepertinya merenggut separuh jiwa manusia. Dulu, siapa yang kenal diinternet. 10 tahun lalu, hal yang satu ini masih dianggap mewah, karena biaya yang mahal dan harus adanya suatu alat khusus yang dipakai untuk menerima sinyal internet. 5 tahun yang lalu, meski sudah mulai dikenal dan menjadi umum dikalangan masyarakat, tapi akses ke internet masih terbatas. Orang-orang masih harus pergi ke warung internet (warnet) untuk menikmati dunia melalui layar 15 inchi dan ruangan sempit.

Teknologi kemudian berkembang. Mulai bermunculanlah telepon genggam yang memiliki fasilitas koneksi internet. Setiap perusahan jaringan telekomunikasi berlomba menawarkan koneksi internet murah. Hingga akhirnya promosi itu sampai pada pemasangan koneksi internet di rumah-rumah dengan model langganan yang bervariasi.

Waktu berlalu, tahun berganti, sekarang orang-orang sepertinya susah lepas dengan internet. Transaksi bisnis, pengiriman dokumen, kegiatan perbankkan, pertemanan, sampai kegiatan paling narsis sekalipun menggunakan internet. Wabah inilah yang juga menginfeksi saya ketika berada di London. Sebelumnya di Indonesia juga sudah terjangkit sih hehehehe

Kenapa di London infeksinya lebih kronis, karena secara praktis disini saya sendiri di ruangan yang hanya 2,5 x 4 meter, jauh dari keluarga tercinta, dan tidak ada TV. Nah, jadi sudah terbayangkan bagaiman internet ini bisa menghubungkan saya dengan segala hal yang ingin saya tahu di dunia, termasuk di Indonesi. Satu hal lagi yang paling penting adalah internet mengaktifkan Skype saya, dan itu artinya komunikasi dengan istri tercinta di Indonesia.

Ketika internet ini mati mendadak, semua seakan hilang, hening, tidak ada apa-apa. Saya Cuma bisa bengong dan manyun saja. Disini atau lebih tepatnya di Brunel masalah internet ini gampang-gampang susah. Pertama kali untuk mendapatkan koneksi, kita hanya perlu mendaftarkan laptop kita melalui jaringan internet yang sudah disediakan di setiap kamar. Pada dasarnya untuk melakukan ini tinggal klik, klik, klik dan semua sudah secara otomatis berjalan.

Tapi masalahnya, ketika terjadi masalah seperti yang saya alami selama dua hari ini, hal yang otomatis itu tiba-tiba tidak berfungsi. Jurus klik, klik, klik itu tidak membuahkan hasil. Kalau sudah begini tentu harus dibawa ke ahlinya, yaitu orang-orang IT Brunel. Tapi mereka tidak ada pada saat weekend. Akhirnya, saya hanya kembali bengong dan manyun saja, melihat laptop yang selalu gagal terkoneksi internet.

Beruntung saya memiliki telepon genggam yang kebetulan masih mendapatkan koneksi internet gratis dari penyedia jaringan teleponnya. Berita-berita di Indonesia pun masih terpantau, email-email sebagian masih terbaca. Tapi Skype hanya bisa sesekali dan terputus-putus. Masalahnya lagi, jaringan dari kartu GSM yang terpasang di telepn saya itu agak menyebalkan. Di dalam kamar, susah sekali mendapatkan sinyal. Jadi, jika saya ingin terhubung dengan internet, saya harus keluar dan bertahan dengan udara London yang semakin dingin diwaktu malam.

Pelajaran buat saya untuk bisa mengalihkan perhatian dari internet. Sehingga jika hal seperti ini terjadi, kondisi stress bisa dihindarkan. Tapi bagaimana mungkin, jadwal kuliah, bahan kuliah dari dosen, dan semua hal disebarkan melalui internet.  Hmmmm, apakah ini pertanda kita sudah jadi budak internet…hehehehehe