London Day 15

Posted: September 30, 2011 in Kim's Journey

Day 15

28 September 2011. Beruntung, jurusan Media and Communication bukan jurusan yang banyak mengandalkan tatap muka di kelas. Jadi selama seminggu, kami para mahasiswa Media and Communication hanya mendapatkan jatah dua hari untuk kelas tatap muka dan seminar. Yaitu pada hari Selasa dan Kamis.

Oleh karena itu, pada hari Rabu, seperti hari ini, biasanya digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar kelas. Termasuk menyelesaikan urusan di luar masalah study, meminjam buku untuk segera dibaca sehingga nantinya di kelas tidak bego-bego banget, atau melakukan hal yang lain. Sebelum saya terbang ke Inggris, banyak yang menyarankan untuk memanfaatkan waktu kosong selama Senin sampai Jumat untuk serius belajar dan membaca buku, dan gunakan waktu week end untuk benar-benar refreshing.

Nah, di hari tanpa kelas ini, saya mencoba mengisinya dengan beberapa hal yang menurut saya penting dilakukan. Pertama adalah vaksinasi meningitis gratis di kampus. Istri saya pernah membaca bahwa penyakit yang disebabkan virus meningitis ini berbahaya. Bahkan pada taraf yang tinggi bisa menyerang otak. Dia lah orang yang menyarankan saya untuk melakukan vaksinasi itu.

Jadi, meskipun agak kurang bersahabat dengan jarum, saya beranikan diri untuk pergi ke Medical Centre. Disana sudah ada beberapa orang mengantri untuk vaksinasi. Sepertinya mereka juga sadar betapa pentingnya proteksi diri terhadap virus yang mungkin saja bisa menyerang.

Beberapa menit menunggu, seorang gadis keluar dari ruangan periksa dengan wajah memerah. Tidak berapa lama dia kemudian menangis. Di susul dengan seorang suster paruh baya. “Saya belum melakukan apa-apa lho,” ujar sang suster mencoba menenangkan peserta vaksinasi yang lain.

“Ga apa-apa kok, saya cuma takut dengan jarum,” kata gadis itu menimpali. Dia kemudian duduk di tangga sambil terus mencoba menenangkan dirinya.

Momen ini membuat saya bertanya-tanya. Di dalam sana jarumnya segede apa, sampai gadis itu menangis. Mungkin pertanyaan ini juga muncul di benak peserta lain yang sedang mengantri.

Akhirnya sampai juga giliran saya. Masuk ke ruangan periksa. Saya tidak menemukan hal yang aneh. Tidak ada jarum besar seperti yang saya bayangkan.

Saya kemudian diminta duduk dengan tenang. Sang suster kemudian mencoba mengajak bicara dengan ramah ketika mengetahui bahwa saya kurang bersahabat dengan jarum. Dia berusaha menanyakan keadaan saya dan juga membuka diri untuk segala macam pertanyaan yang ada di pikiran saya. Tidak lama, dia memberikan selebaran tentang efek yang mungkin terjadi setelah vaksinasi. Konsentrasi saya tertuju pada selebaran itu, dan tidak menyangka bahwa lengan kiri saya sudah disuntik. Waow, hal ini patut mendapatkan acungan jempol.

Sang suster mengalihkan perhatian pasien sambil melakukan pekerjaannya menyuntik. Sehingga pasien pun tidak merasa takut. Saya tidak tahu apakah di Indonesia juga dilakukan prosedur yang sama. Saya justru kurang yakin, jangan-jangan di Indonesia, suster yang akan menyuntik main tusuk aja.  Pas di depan mata pasien lagi. Kalau itu benar-benar terjadi, bagaimana nasib anak-anak kecil yang disuntik. Pasti aka nada trauma di dalam diri mereka. Tapi semoga di Indonesia tidak begitu ya.

Nah, setelah vaksinasi, kegiatan kedua saya mengisi hari tanpa kuliah adalah meminjam buku di perpustakaan. Sepertinya tampak biasa dan sederhana, namun menurut saya, pengalaman meminjam buku ini luar biasa. Bagaimana tidak, saya dibuat kagum dengan system perpustakaan Brunel yang sudah terkomputerisasi dengan baik.

Mulai dari mencari buku hingga meminjamnya, semua dengan dasar kemandirian alias self-service. Kalau yang saya tahu, di Indonesia, meminjam bukudi perpustakaan seperti harus melewati sebuah system birokrasi. Sebagai contoh saja ketika saya masih kuliah di sebuah universitas ternama di Yogyakarta pada tahun 2003 hingga 2007 silam.

Disana untuk meminjam buku, kita diwajibkan mencatat dan mencari kode buku yang dimaksud. Sebelum adanya computer, kita harus rela membalik kertas-kertas kecil yang ada di laci-laci kecil berisi kode-kode buku. Sebuah form disediakan untuk mencatat judul serta kode buku tersebut. Mulai dari sini, petugas perpustakaan yang bekerja. Setelah memberikan form itu, kita hanya bisa menunggu sang petugas mencarikan buku. Bisa jadi proses pencarian itu sebentar, bisa jadi sangat lama.

Nah, kalau di Brunel ini, semua sudah masuk dalam system computer. Sebelumnya, mahasiswa bisa mencari ketersediaan buku melalui situs yang sudah disediakan. Situs ini bisa diakses dengan computer di rumah, laptop, ataupun handphone. Tidak hanya ketersediaan buku yang diinformasikan, tetapi juga lantai tempat buku itu berada dan kode yang mengindikasikan letak rak buku tersebut. Setelah semua informasi itu didapatkan, kita hanya perlu ke perpustakaan lalu mencari buku yang dimaksud.

Untuk meminjam buku, kita tidak perlu meminta tolong petugas. Di salah satu sudut perpustakaan ada mesin khusus yang disediakan. Cukup memasukkan kartu mahasiswa kita di wadah yang ditentukan, dan buku-buku yang dipinjam di wadah yang lain. Mesin itu akan secara otomatis memindai kartu mahasiswa kita dan buku yang dipinjam. Kemudian tampil di layar buku-buku yang akan kita pinjam, dan identitas kita. Jika kita setuju, Klik, klik, klik (padahal ini layar sentuh hehehe) selesai sudah pinjam meminjamnya. Lalu mesin akan mencetak tanda terima berisi tanggal pinjam dan pengembalian. Mudah sekali.

Kalau ingin mengembalikan, ada tempat khusus juga yang disediakan. Cukup memasukkan buku yang ingin dikembalikan. Mesin akan memindai, lalu buku itu masuk ke dalam ruangan pengembalian. Mesin kemudian mengeluarkan tanda bukti bahwa kita sudah mengembalikan buku.

Sistem seperti ini seharusnya bisa menjadi contoh untuk perpustakaan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s