London Day 14

Posted: September 29, 2011 in Kim's Journey

Day 14

27 September 2012. Hari pertama kuliah. Setelah sekian lama tidak merasakan suasana kelas, akhirnya dimulai juga kuliah MA Media and Communication yang saya pilih di Brunel University. Begitu kelas dimulai, lirik kiri, lirik kanan, ternyata kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas yang saya masuki pada tahun 2003 silam, saat mengambil jurusan Sastra Prancis di UGM.

Bagian mana yang sama? Yaitu tentang populasi laki-lakinya. Di kelas Media and Communication ini 90 persen wanita, populasi laku-laki hanya 4 orang saja dari sekitar 20 orang mahasiswanya. Kelas ini sangat internasional, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Hmmmmm, kemana para laki-laki yang ingin belajar Media and Communication, kenapa hanya ada kami ber-4 saja disini.

Anyway, pada hari pertama kuliah itu, sang dosen cukup baik untuk tidak langsung menjejali murid-muridnya dengan tugas dan segala macam teori yang mungkin saja membuat kepala pusing. Mata kuliah Media Audience kali ini hanya diisi dengan gambaran umum materi kuliah dan aturan-aturan perkuliahan. Terutama soal tugas-tugas dan deadline yang harus benar-benar dipatuhi.

Dari kuliah hari pertama itu, saya langsung menyadari bahwa ada hal yang harus kembali diasah untuk bisa mendapatkan nilai yang baik dari kuliah ini. Yaitu menulis dengan gaya akademis dan bagaimana berargumentasi. Sudah sekian lama saya menulis, tetapi dengan gaya menulis berita, bukan menulis akademis. Segala hal yang berkaitan dengan tata cara mengutip sumber buku harus kembali dipelajari. Di jurusan saya, gaya penulisan akademisnya mengacu pada gaya penulisan di Harvard.

Selain tata caranya, bahasa Inggris yang digunakan tentunya berbeda dengan bahasa Inggris percakapan sehari-hari. Sepertinya, harus kembali banyak-banyak membaca artikel akademis, melihat contoh penulisannya, lalu mencoba mempraktekkannya.

Waktu berlalu, akhirnya kuliah pun berakhir. Belum banyak yang bisa diserap dari sisi materi di kuliah hari pertama ini. Saya pun, masih bisa berjalan santai menuju kamar untuk memasak makan siang. Gedung tempat kuliah berlangsung dengan asrama saya tidak begitu jauh, sehingga tidak perlu jajan jika ingin makan. Cukup kembali ke flat dan memakan apa yang ada. Kalau ingin memasak juga bisa.

Tidak terasa, waktu berjalan cepat. Setelah menikmati makan siang, sholat, menulis beberapa artikel, ternyata hari sudah gelap. Saya jadi teringat dengan rencana menarik bersama Robby Salamun, Mas Andi, dan Ulung. Kita sepakat untuk mendatangi tempat penjualan seafood yang katanya murah. Untuk pergi ke tempat itu, kita harus menunggu sampai pukul 10.00 malam. Karena pada saat itulah truk pengangkut ikan dan berbagai hasil tangkapan laut itu tiba.

Jam di tangan sudah mengisyaratkan kami untuk segera pergi. Dalam perjalanan menuju tempat pemberhentian bus, beberapa mahasiswa dari China juga tampak terburu-buru berjalan searah dengan kami. Di tempat pemberhentian bus, sudah menunggu banyak mahasiswa dari China, lengkap dengan tas-tas besar mereka. Robby mengatakan, tempat pembelian seafood ini seperti turun termurun disebarkan diantara mahasiswa China di Brunel. Robby mendapatkan informasi itu juga dari temannya yang berasal dari China.

Untuk menuju ke tempat penjualan ikan dan hasil laut itu, kita hanya perlu naik bus dengan nomor 222 ke arah Hounslow, tepat satu pemberhentian bus setelah Stasiun West Drayton. Tempatnya agak tersembunyi di sebelah Restoran China Go Sing. Ada sebuah lorong besar tepat di samping restoran tersebut.

Ketika kami sampai, puluhan mahasiswa dari China sudah berkumpul di bagian belakang truk yang sedang membongkar muatan mereka yang berupa berbagai macam ikan, cumi, udang, kerang, kepiting, lobster, dan banyak lagi. Para konsumen itu lalu menyerbu hasil laut segar yang melimpah itu. Kantung plastic hijau yang sudah disediakan sekejap penuh dengan belanjaan. Mereka dengan cekatan memilih hasil-hasil laut itu. Tidak ketinggalan saya juga ikut menikmati ajang pilih memilih tersebut. Hasilnya, 3 buah cumi besar, sekotak daging kerang, 10 ekor udang, saya tebus dengan hargg 13 Pounds. Kata Robby, harga itu terbilang murah jika dibandingkan dengan hasil laut di supermarket. Kelebihan berbelanja di tempat ini, semua segar karena baru saja ditangkap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s