London Day 8

Posted: September 21, 2011 in Kim's Journey

Day 8

International Dinner

21 September 2011, sejak pagi hari saya terus berpikir tentang  apa yang akan ditulis malam nanti. Sebab tidak ada jadwal yang menarik dari kegiatan orientasi hari ini. Dari pukul 11.30 hingga 12.30 presentasi tentang berbagai jaringan dunia maya yang digunakan di Brunel. Lalu pukul 13.30 hingga 14.00 adalah asistensi dari staf akademik. Ga banyak yang bisa dilakukan disini.

Universitas yang terletak di Uxbridge ini memiliki setidaknya empat jaringan dunia maya. Pertama adalah webmail atau akun email bagi para mahasiswa dan staf.  Kedua adalah U-Link, tempat segala informasi tentang mata kuliah, jadwal pelajaran, dan tugas-tugas. Ketiga intranet dan keempat terkait dengan perpustakaan.

Segala yang berhubungan dengan perkulihan harus terhubung dengan dunia maya. Oleh karena itu jaringan internet sangat vital dan dibutuhkan disini. Tidak terbayang jika pada suatu waktu ada virus ganas menyerang dan merusak system di Brunel ini, apa yang terjadi dengan nilai, tugas, dan jadwal pelajaran para mahasiswanya. Pasti kisruh banget, lalu ada pemutihan dan semua dapat nilai A atu B (walah malah mengkhayal).

Sampai mendekati waktu sholat dzuhur yang dalam waktu London adalah pukul 13.00, saya masih belum mendapatkan ide akan menulis apa. Sambil berjalan tanpa tujuan, saya melihat ada stand kecil di dekat kantin. Disana berdiri pria muda dengan jenggot tebal dan panjang. Setelah saya dekati ternyata itu Fayyed (masih ingat kan dengan orang ini? Dia ini yang mengantarkan saya wudhu pada sholat Jumat pertama saya di Brunel).

Ternyata stand itu adalah tempat pendaftaran untuk bergabung ke komunitas Muslim di Brunel. Komunitas ini cukup besar dan berpengaruh di Brunel. Kata teman Fayyed, tahun lalu, orang yang mendaftar di komunitas ini kedua terbanyak dari seluruh kegiatan mahasiswa yang lain. Hal ini memang tampak jelas, karena pihak universitas pun menyiapkan satu lantai khusus untuk musholla dan tempat wudhu bagi mahasiswa Muslim.

Bergabung dengan komunitas ini ternyata memberikan banyak keuntungan. Setiap bulan akan mendapatkan jadwal sholat. Biasanya setiap waktu sholat, mereka berjamaah di musholla. Lalu setiap minggu, bisa melalui sms atau email, mereka akan memberi tahu tempat sholat Jumat akan dilakukan. Di Brunel memang tidak ada tempat yang pasti untuk melakukan sholat Jumat, akan tetapi pihak universitas memberikan kesempatan pada kaum Muslim untuk sholat Jumat di ruang-ruang yang masih belum terpakai kegiatan lain pada hari Jumat itu.

Selain mendapatkan kemudahan-kemudahan itu, pengurus komunitas Muslim Brunel akan siap membantu para mahasiswa atau staf yang mengalami kesulitan dalam beribadah atau hal-hal yang lain. Saya melihat mereka adalah orang-orang yang benar-benar mau membantu, paling tidak tawaran mereka membuat saya merasa nyaman di kampus ini.

Jam demi jam terlewati hingga tibalah waktu makan malam. Saat itu saya masih mengutak-atik computer mencari bahan-bahan laporan yang akan saya serahkan pada Pak Fauzi. Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Saya kaget, tidak biasanya ada yang mengetuk pintu kamar saya. Setelah dibuka, ternyata muncul wajah Peter, temen satu flat saya dari China.

Ternyata Peter yang lucu dan mudah bergaul itu mengajak saya untuk makan malam bersama. KEtika itu saya pikir makanan sudah siap sedia dan tinggal santap saja. Tapi ternyata Peter hanya membeli beberapa bahan mentah dan meminta kami untuk memasak. Disebut kami karena di dapur sudah ada Lisa, teman Peter.

Lisa memasak tumis-tumisan dan beberapa yang lain. Dia dan Peter mempersilahkan saya untuk mengolah daging ayam yang memang belum tersentuh. Saya mencoba mengingat kembali tentang resep-resep yang pernah saya buat. Tetapi selalu terbentur dengan bahan-bahan yang tidak saya temukan di London ini. Lalu saya ke kamar untuk mengambil buku resep masakan yang sengaja saya bawa dari Indonesia. Namun, masalah yang sama juga terjadi. Kita kekurangan bahan-bahan yang ada.

Tidak putus asa, saya lalu mengambil botol besar berisi olahan kedelai, mirip-mirip tauco. Nah, di botol itu ternyata ada resep sederhana yang mudah sekali untuk dipraktekkan. Langsung saja saya bergerak memotong bahan-bahan yang dibutuhkan, tumis-tumis, bolak-balik, lalu jadilah ayam bumbu olahan kedelai.

Sementara saya memasak, dua orang gadis kebangsaan Vietnam, yang juga teman Peter datang bergabung. Salah satunya diminta Peter untuk memasak juga. Dia membuat masakan ayam dan sayur yang juga hasil dari kreasi dadakan, karena kita sama-sama tidak mendapatkan bumbu-bumbu yang sesuai.

Meskipun begitu, saat kami semua duduk di meja makan dan menikmati makanan yang tersedia. Tidak ada satupun yang tersisa. Mereka menyukai masakan saya, masakan teman dari Vietnam itu, dan masakan Lisa. Inilah pengalaman pertama saya memasak untuk makan malam internasional. Saya bilang internasional karena ada orang Indonesia, China, dan Vietnam disana.

Dari acara masak-memasak ini saya menyadari bahwa saat ini keluarga dan istri memang jauh disana, dan kadang rasa kangen mendera. Tapi jika kita bisa menemukan teman untuk tertawa bersama dan berbagi, maka seolah rasa rindu kampong halaman itu sedikit terobati.

Advertisements
Comments
  1. ZiE says:

    btw itu yang makan masakanmu , sampean tanya ga besoknya kim?? hehe… normal ga perutnya :b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s