london day 7

Posted: September 20, 2011 in Kim's Journey

Day 7

Readjust Diri Untuk Iklim Sekolah

20 September 2011. Tidak terasa sudah seminggu meninggalkan Negara kelahiran, Indonesia. Waktu memang sangat cepat berlalu. Kalau istilah kereta, waktu itu seperti kereta ekspres, tahu-tahu kita udah nyampe aja. Rasa kangen ke istri tercinta disana juga tiba-tiba menyeruak, memenuhi dada. Seandainya belahan jiwaku itu ada disini, sepertinya bakal seru sekali. Karena kalau menurut saya, kebahagiaan itu harus dibagi. Apa artinya kebahagiaan kalau yang tertawa senang hanya kita sendiri, bener kan? Malah jadi curcol lagi hehehe

Seperti hari-hari sebelumnya, ada banyak sekalli hal yang harus diselesaikan sebelum benar-benar menjalani hari-hari kuliah. Misi pertama adalah menyelesaikan pembukaan tabungan. Saya memilih Bank Lloyds untuk menabung atas saran teman-teman yang sudah lebih lama di Brunel.  Bank milik pemerintah Inggris (kalau tidak salah seperti Bank Mandiri di Indonesia). Untuk memiliki rekening di bank ini cukup mudah. Beberapa hari yang lalu saya sudah meminta surat pengantar dari kampus dan membuat janji dengan costumer servicenya. Sehingga saat saya datang hari ini, prosesnya jauh lebih cepat. Hanya menunjukan passport dan sang costumer service pun dengan lincah memainkan mouse dan keybord mengisi data-data kita.

Keuntungan bank ini, saat kita membuka rekening mereka tidak meminta biaya apapun, setoran pertama pun tidak ada. Setiap bulannya mereka tidak akan memotong tabungan kita. Lalu kita tidak hanya diberikan satu rekening saja, mereka menyediakan dua buah rekening sekaligus. Rekening pertama adalah rekening biasa yang dilengkapi dengan kartu kredit dan rekening kedua adalah rekening untuk uang-uang yang tidak ingin kita ganggu gugat, mereka menyebutnya saving account. Fitur itu sangat memudahkan nasabah untuk mengatur keuangannya. Rekening biasa dapat digunakan utnuk transaksi sehari-hari, dan saving account bisa digunakan untuk benar-benar menabung.

Selain mengurus buku tabungan, saya juga membeli beberapa perlengkapan memasak. Di London, kalau tidak masak sendiri sepertinya budget makan bisa membengkak dua kali lipat. Keuntungan memasak sendiri, kita masih bisa menyimpang bahan makanan yang tersisa untuk memasak di lain waktu. Nah, di Uxbridge, atau di banyak tempat di London, ada supermarket yang namanya Wilkinson. Kalau di Indonesia seperti Carrefour atau Hypermart, tapi Wilkinson ini terkenal sebagai tempat untuk mencari perkakas rumah tangga. Mulai dari urusan dapur, kamar tidur, atau alat bersih-bersih.  Toko tersebut memiliki produk-produk buatan mereka sendiri yang harganya jauh lebih murah dari produk serupa dengan merk yang lain. Karena harganya yang terjangkau itulah, maka produk itu paling dicari oleh mahasiswa. Termasuk saya.

Kalau yang berhubungan dengan kampus, hari ini adalah bagian dari tiap-tiap jurusan untuk memberikan pemaparan mereka. Minggu lalu orientasi dilakukan secara general, minggu ini orientasi sudah spesifik di setiap jurusan. Setelah seminggu mengira-ngira siapa yang bakal menjadi teman sekelas, akhirnya rasa penasaran itu terobati. Untuk setahun kemudian, saya bakal belajar bersama setidaknya 20 orang. Sayangnya hari ini tidak semua mahasiswa media and communication datang.

Kesan yang saya tangkap, kelas saya ini benar-benar internasional. Meskipun sebagian besar didomindasi oleh mereka yang berkebangsaan China, tetapi saya bisa bertemu dengan orang Rumania, Cyprus, Indonesia, Jerman, Inggris, dan beberapa yang lain. Dosen-dosen yang mengajar pun multi etnis. Saya membayangkan kelas ini akan menjadi sangat menarik.

Nah, setelah mendengarkan presentasi tentang tata tertib kuliah, penilian, tesis, cara belajar, jadwal, dan beberapa tetek bengek perkuliahan yang lain. Kepala saya justru melayang-layang entah kemana. Sudah hampir 4 tahun saya meninggalkan bangku kuliah dan masuk ke iklim kerja. Sekarang harus kembali lagi ke suasana kuliah. Rasanya seperti membuka brankas tua yang kuncinya udah karatan. Ada banyak hal yang harus disesuaikan kembali.

Tantangan ini bukan untuk diratapi, namun harus dihadapi. Anup, teman saya dari India yang mengambil jurusan Bio Mekanikal, langsung memberikan semangat ketika saya ceritakan kondisi saya itu. Dia yakin, dalam waktu singkat saya bisa segera menyesuaikan diri.

Dengan usaha dan doa pasti segala sesuatu bisa dihadapi dengan baik. Sampai di London itu bukan hal yang mudah, masak beradaptasi kembali dengan iklim mahasiswa tidak bisa. Ayo pasti bisa.

Advertisements
Comments
  1. ZiE says:

    seneng kim baca tulisanmu, tulisanmu mungkin cara berbagimu kim bagi teman-temanmu di sini 🙂 , majoo terusss!

    • rosyidhakiim says:

      terima kasih banyak. tetap kasih kritikan atau saran ya…..

      • rizman says:

        kim..
        saya dpt mail dr lloyds bank group london mrk suruh krm prsyaratn kyak rkening bank m swift dr bank saya di indo krm dr lloyds mau transfr ke rekening saya.stlh aku krm prsyaratn lloyds krm mail lg kl ga slh isinya mrk sruh sya krm uang pajak gt skitar us290 ato pnya prwakilan lawyers gt.kok saya jd bingung ya kim.tolong donk ksh pnjelasan krn aku awam mslh trnsfer antr negara.kl bs dkrm lgsg ke email ku donk…
        rasya73gmail.com

      • rosyidhakiim says:

        Kebetulan saya belum pernah punya pengalaman mengirimkan uang antar negara. Akan tetapi biasanya jika internasional transfer memang ada biaya tambahan. Tapi untuk detailnya saya kurang paham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s