London Day 6

Posted: September 19, 2011 in Kim's Journey

Day 6

Visit to Central London

19 September 2011 bisa dibilang sebagai hari melelahkan. Sejak pukul 09.00 pagi, saya dan dua orang teman dari Indonesia sudah melakukan perjalanan ke Central London. Kami di daerah Uxbridge ini masuk dalam zona 6 dan Central masuk zona 1. Perjalanan ke Central dari tempat kami tinggal sekitar 45 sampai 60 menit, dan harus berganti moda transportasi.

Robi menyarankan kami untuk menggunakan bus 222 yang langsung menuju stasiun West Drayton. Bus ini jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan bus U3 yang juga mengarah ke tempat yang sama namun harus berputar-putar dahulu. Sesampainya di stasiun yang dimaksud, kami menggunakan kereta over ground. Kereta ini sangat cepat karena tidak berhenti di setiap stasiun.

Dengan kereta cepat itu kami berhenti di stasiun Ealing Broadway dan berganti ke tube (atau kereta underground) untuk menuju Stasiun Queensway. Meskipun harus berganti-ganti moda transportasi, kami merasa nyaman-nyaman saja. Karena pengorganisasian setiap moda yang ada di London ini sangat baik. Petunjuk – petunjuk yang dipasang sangat jelas sehingga memudahkan perjalanan. Tapi satu hal yang selalu membuat kami bingung adalah tentang penggunaan Oyster Card.

Oyster Card ini adalah semcam kartu debit yang khusus untuk setiap moda transportasi di London. Kita bisa mengisinya dengan berbagai nominal dimulai dari 5 Pounds dan kelipatannya. Menggunakan kartu ini sebenarnya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membayar langsung. Biaya sekali perjalanan dengan bus hanya 1,30 Pounds jika menggunakan kartu ini dan 2,20 Pounds jika membayar langsung. Cukup besar kan perbedaannya.

Nah, masalahanya, sebagai orang kampong yang belum pernah tahu soal hal-hal macam ini, saya masih saja kebingungan saat menggunakannya. Untuk bus cukup mudah, tetapi yang bikin pusing adalah saat memakai tube. Saya tidak tahu kapan harus menempelkan kartu mesin khusus yang disediakan, terutama saat pergantian tube. Hasil dari kebingungan ini, saya pernah di denda sekitar 5 Pounds. Ketika itu, seharusnya saya tidak perlu menempelkan kartu tersebut pada mesin saat berganti kereta. Tetapi saya justru menempelkannya, sehingga oleh mesin saya dianggap telah keluar stasiun.  Padahal saya masih di dalam stasiun dan berganti kereta.

Akhirnya, saat sampai di stasiun yang saya tuju. Saya justru tidak bisa keluar. Mesin menganggap saya sudah keluar di stasiun sebelumnya dan tidak masuk lagi. Pelanggaran sepertinya ini harus dibayar mahal. Seharusnya saya tidak perlu menempelkan kartu tersebut. Hal-hal semacam ini yang masih memusingkan saya saat berganti tube atau kereta over ground.

Anyway, kembali ke cerita awal. Sesampainya di Queensway, kami langsung bertemu Robby dan menikmati sebentar hijaunya Kensington Park. Setelah itu makan siang bersama Rendika. Dia ini adalah Wakil Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) UK. Dia adalah salah satu orang penting untuk ditemui.

Secara keseluruhan, Rendika adalah orang yang sangat baik dan informative. Dia berbagi banyak hal tentang UK dan London. Kebetulan dia bersekolah di Central London. Orangnya pun mudah bergaul, sehingga kami cepat sekali akrab.

Bersama dia, kami bertemu dengan Atase Pendidikan, Pak Fauzi, di KBRI. Sebelumnya kita memang sudah membuat janji untuk bertemu. Sekalian melaporkan diri ke kedutaan.

Pembicaraan dengan Pak Fauzi berjalan sangat ringan dan santai. Beliau menanyakan banyak hal tentang beasiswa Chevening yang membiayai saya belajar di London ini. Termasuk cara mendapatkannya. Rencananya, beliau akan membuat buku tentang tips mendapatkan beasiswa dan bertahan hidup di London atau UK pada umumnya. Ide ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah saya rencanakan, sehingga pembicaraan kami tidak berasa satu arah saja.

Saya dan Pak Fauzi sama-sama merasa perlu untuk membagikan informasi pada mereka yang akan datang ke UK untuk bersekolah atau apapun itu. Sebab, seperti yang saya alami sendiri, saya sangat repot dan bingung tentang apa yang harus dibawa dan ditinggalkan di Indonesia. Saya benar-benar buta tentang transportasi disana, hokum disana, keuangan disana, dan banyak hal yang saya yakin juga dirasakan oleh teman-teman yang akan ke UK.  Pembicaraan ini berlangsung hampir satu jam, dan konklusinya, saya diminta untuk tetap menulis dan membantunya untuk membuat laporan tentang beberapa isu spesifik di UK terkait dengan pendidikan. Ini adalah kesempatan saya untuk mengeksplorasi diri.

Hari ini, selain bertemu dengan Pak Fauzi dan Rendika, saya juga dikenalkan dengan tiga orang pelajar Indonesia yang lain. Yaitu, Aziz (yang ternyata adalah anak dari Pak Fauzi), Aulia, dan Nina. Oh iya satu orang lagi adalah dedengkot di London ini, Mas Agus namanya. Dia sudah bekerja di London sekitar 20 tahun.

Senang rasanya bisa bertemu banyak orang hari ini. Mendapatkan inspirasi dari banyak tempat. Mulai dari urusan tulis menulis sampai cita-cita untuk bisa mencari duit dari memasak. Kita tidak sendiri di dunia ini kawan. Tetaplah bermimpi dan jangan menyerah karena pasti akan orang-orang yang akan membantu dan tetaplah mengingat Allah.

Advertisements
Comments
  1. ZiE says:

    kim belum bisa membayangkan dan merasakan hasil olahan masakanmu kim wkwkw… iso masak pow? ternyata pak hakim punya mimpi jadi tukang masak hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s