Dwelling on Oxford

Posted: September 18, 2011 in Kim's Journey

Day 4

Kota Oxford, Home of the famous Oxford University

Well, akhirnya sudah sampai juga kita di weekend, Sabtu 17 September 2011. Akhir minggu pertama ku di Brunel ini diisi dengan jalan-jalan ke Oxford. Beruntung, saya dan empat orang teman dari Indonesia bisa ikut ke kota yang katanya Universitasnya termasuk paling ternama di dunia itu.

Sebanyak 3 buah bus disiapkan untuk mengangkut mahasiswa internasional yang sebelumnya mendaftar untuk mengunjungi kota itu. Sebagian mahasiswa yang lain memilih pergi ke Brighton, salah satu kota pantai di UK.

Untuk sampai ke Oxford, hanya dibutuhkan 1 jam 15 menit perjalanan dengan menggunakan bus. Setelah tiba di lokasi, kami tidak dipecah dalam kelompok-kelompok lalu diajak berjalan-jalan seperti layaknya tour. Tetapi kami justru dibebaskan memilih untuk pergi kemanapun yang disukai di kota Oxford dan pada saatnya pulang, kami harus kembali lagi di lokasi titik kami turun dari bus.

Beruntung, ada teman dari Indonesia, Robby namanya. Dia sebenarnya adalah mahasiswa postgraduate hamper lulus namun berhasil menyelinap di dalam rombongan kami yang secara teknis adalah anak-anak tahun pertama. Robi ini sudah 7 kali ke Oxford, jadi kebayangkan bagaimana di hafal tempat-tempat menarik di kota itu. Akhirnya, saya, Robby, dan satu lagi teman dari Indonesia pergi bersama-sama menjelajah kota. Misi kami ada dua. Yaitu mendapatkan objek foto yang menarik dan pergi ke Primart. Kata Robby toko ini menjual baju-baju murah, termasuk baju-baju winter alias musim dingin.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Chirst Church. Nama ini mungkin masih baru bagi banyak orang. Saya juga baru tahu nama tempat itu. Tapi ternyata, bangunan itu menjadi lokasi shooting film Harry Potter yang terkenal itu. Terutama untuk set sekolah sihir Hogwarts. Salah satu tempat spesifik yang menjadi lokasi shooting adalah hall dari gereja itu. Dalam filmnya, hall itu menjadi tempat jamuan makan para penyihir-penyihir muda dan guru-guru mereka. Sayangnya kami tidak bisa mengakses tempat itu karena pada hari Sabtu pihak manajemen memutuskan untuk menutupnya. Jika tidak ditutup, kita harus membayar sekitar 6 Pounds untuk bisa masuk ke dalamnya.

Akhirnya kami memilih untuk berjalan-jalan di sekeliling Chirst Church itu untuk mengambil foto-foto indah dengan latar belakang bangunan tua tersebut. Ternyata lagi (wah sepertinya saya orang katrok ya banyak yang baru tahunya), lokasi shooting film terakhir Harry Potter pada adegan perang antara penyihir hitam, pasukan Voldermort dengan para penyihir putih juga dilakukan di tempat ini. Dalam adegan itu tampak bagian depan dari sekolah Hogwarts, nah gerbang depan itu diambil dari bangunan yang ada di sekitar gereja tua itu. Lalu dipoles lagi dengan computer sehingga seolah-olah di depannya ada jembatan panjang. Padahal kenyataannya tidak ada jembatan.

Puas mengambil foto-foto menarik diantara bangunan yang penuh guratan-guratan simetris itu. Kami melangkahkan kaki menuju pusat pertokoan di Oxford. Tujuannya adalah Primart. Tapi sayangnya, London hari ini tidak terlalu bersahabat dengan pelancong kampong seperti saya ini. Hujan dan matahari silih berganti menyambut kami. Untung saja, saya membawa payung bercorak Mickey Mouse yang dibelikan oleh istri tercinta. Meskipun angin cukup kencang hingga sempat membalikkan payung itu, namun berkatnnya saya bisa berlindung dari hujan.

Primart adalah gudangnya baju-baju murah. Memang bukan yang bermerk sih, tapi kualitasnnya lumayan jugalah untuk kantong Indonesia saya. Satu jaket,  dua celana jeans (untuk mengganti celana jeans saya yang robek karena mematahkan kursi di musholla itu lho, ingat kan), serta satu syal adalah menu yang saya beli hari ini. Sekitar 36 pound total semuanya. Cukup murah untuk ukuran London. Sebenarnya, di tempat ini bisa dibeli baju termal (khusus untuk musim dingin) dengan harga murah, namun sayangnya sudah habis.

Selanjutnya, kami berpindah ke lokasi lain. Dengan 1 Pound per-orang, kami mendaki bukit kecil di dekat Kastil Oxford. Disana kami menyantap makan siang yang hanya berupa sandwhich ayam saja. Ya, hitung-hitung piknik kecil-kecilan.

Dari sekitar 4 jam menjelajah kota, sangat disayangkan jalan-jalan itu ditutup dengan hal yang kurang mengenakkan. Toilet di sini ternyata sangat kotor dan bau. Bahkan saat giliran saya menggunakan toilet di salah satu restoran cepat saji dengan lambing huruf M itu, orang sebelum saya tidak menyiramnya (tidak mem-flush) al hasil baunya yang ga karuan itu merebak, merangsek masuk ke dalam indera penciuman saya. Kontan perut saya langsung seperti diaduk. Saat itu saya sedikit muntah. Benar-benar deh, saya pikir mereka jauh lebih bersih, eh sama aja ternyata.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s