London Day 3

Posted: September 16, 2011 in Kim's Journey

Day 3

Hai semua….hari ini, 16 September 2011 judulnya adalah hari pegel-pegel. Dari pagi sampai malam isinya berdiri ngantri dan jalan kesana kemari. Hari ini juga, Brunel University sedang sibuk banget. Karena mahasiswa-mahasiswa baru mereka, terutama yang bukan mahasiswa internasional, baik S1 dan S2 mulai berdatangan untuk pendaftaran ulang atau dalam istilahnya disini disebut enrolment.

Sama halnya dengan kami para mahasiswa internasional, hari ini adalah kami juga harus mendaftar ulang. Setiap kelompok pada saat orientasi pertama mendapatkan jadwal mendaftar yang berbeda-beda. Beruntung saya mendapatkan jam yang tidak terlalu siang, yaitu pukul 10.00 pagi.

Karena saking penuhnya dengan para mahasiswa baru, proses mengantri untuk mendaftar ulang dan mendapatkan kartu mahasiswa bisa dua jam sendiri. Tentu saja semua dilakukan dengan berdiri sambil menunggu giliran. Bagusnya, disini tidak ada yang menyerobot antrian, berbeda dengan budaya mengantri di Indonesia. Merasa kenal sedikit dengan panitiannya, ada saja yang memotong antrian.

Singkat cerita, meskipun melelahkan menunggu tapi pada akhirnya semua berjalan lancar. Begitu juga dengan proses pembuatan kartu kesehatan plus tes urin. Hari ini saya resmi menjadi mahasiswa Brunel. Kartu mahasiswa yang super sakti (bisa untuk mengakses banyak fasilitas dan mendapatkan diskon saat belanja) itu pun sudah ditangan.

Namun, bukan hal itu yang menarik. Tetapi tentang solat Jumat di universitas yang terletak di bagian paling barat London itu. Ini kali pertamanya saya melakukan solat Jumat di luar negeri. Jika di Indonesia, ibadah wajib ini begitu mudah dilakukan. Kita beruntung menjadi Negara dengan penduduk Muslim terbanyak. Masjid tersebar di mana-mana. Hampir di setiap tempat kita bisa melakukan solat Jumat.

Berbeda dengan di Brunel. Beberapa orang dari komunitas muslim harus berusaha mencari tempat yang layak untuk melakukan solat Jumat. Setiap minggu tempat pelaksanaan solat terus menerus berpindah. Belum lagi tentang tempat berwudhunya. Pihak kampus sudah mewanti-wanti untuk tidak menggunakan wastasel di toilet sebagai tempat berwudhu. Alasannya untuk kebersihan dan keamanan. Lantai toilet yang basah akan berbahaya Karena licin dan akan tampak kotor.

Oleh karena itu, pihak kampus membangun tempat wudhu di kompleks asrama yang saya tinggali. Bentuknya seperti peti container yang bagian dalamnya dibagi menjadi dua. Bagian untuk laki-laki dan perempuan. Mereka yang ingin melakukan solat Jumat, sebaiknya mengambil wudhu di fasilitas ini atau di kamar-kamar. Tapi fasilitas ini tidak bisa dibilang dekat dengan tempat solat Jumat biasa dilakukan. Jika sedang berada di pusat kampus Brunel dan solat Jumat dilakukan juga di pusat kampus, maka kita perlu berjalan sekitar 300 meter ke fasilitas wudhu itu, lalu berjalan 300 meter lagi kembali ke pusat kampus.

Pada solat Jumat saya di Brunel ini, dilakukan di sebuah lapangan basket di kompleks olahraga Brunel. Karpet-karpet disusun diagonal menghadap salah satu sudut lapangan.  Kompleks ini berada di ujung paling selatan Brunel, sedangkan tempat wudhu berada di ujung bagian utara. Mungkin perlu berjalan kaki sejauh 500 meter bolak-balik untuk mengambil wudhu dan kembali ke tempat solat Jumat itu. Beruntung, saya bertemu Fayyid, salah seorang pengurus komunitas Muslim.

Disini satu ilmu lagi yang saya dapatkan. Fayyid mengajak saya ke salah satu toilet yang agak jauh dari tempat sholat. Dari ini saya tahu bahwa toilet dilarang dijadikan tempat wudhu. Tapi kali ini kami terpaksa. Agar lantai toilet tidak basah, mahasiswa dengan jenggot lebat ini memberitahu bahwa tidak perlu membuka kaus kaki saat berwudhu. Cukup basahi tangan secukupnya dan diusapkan langsung di kaki yang berbalut kaos kaki. “Ini biasa dilakukan Rasulullah saat sedang dalam perjalan atau dalam kondisi sulit,” ujarnya.  Syaratnya, orang yang akan melakukan hal itu belum terputus wudhunya dari wudhu sebelum nya. Fayyid sebenarnya menyebut nama cara tersebut. Akan tetapi Karena kami terburu-buru saya kurang menyimak perkataannya.

Khotbah Jumat pun dimulai. Tema kali ini adalah ajakan untuk segera bertobat dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah secepat mungkin. Karena tidak ada yang tahu waktu yang dimiliki oleh setiap manusia. “Bertaubatlah selagi sempat, jangan biarkan setan menggoda untuk menunda-nundanya,” kata sang Khotib dengan menggebu-gebu.

Setengah jam berlalu, kami semua kemudian berdiri untuk melakukan solat. Saat Surah Al Fatihah berdengung di lapangan basket yang tertutup dengan atap lengkung itu, mendadak bulu kuduk saya berdiri. Saya teringat perkataan istri sebelum saya bertolak ke Inggris. “Tenang saja, Inggris masih bumi Allah, mudah baginya untuk melindungi hambanya,” pesannya.

Meskipun kita berada di lingkungan yang dominan dengan masyarkat non-Muslim, tetapi Allah masih saja memberikan kemudahan untuk beribadah. Solat Jumat yang diikuti oleh sekitar 8 shaff jamaah itu benar-benar menorehkan kesan mendalam.

Saya membayangkan, betapa mudahnya kita menjalankan ibadah di Indonesia. Akan tetapi masih saja banyak yang melalaikan. Sementara di Brunel ini, 8 shaf jamaah berjuang untuk bisa dekat dengan Sang Penciptanya. Sang Penciptanya. Bukannya mau sok suci, tetapi selama diberi kemudahan untuk beribadah maka manfaatkan dengan baik.

 

Touchdown di Pusat Kota Uxbridge

Usai solat Jumat, saya dan Andy (kawan dari Indonesia) meluncur ke pusat kota Uxbridge. Kami ingin membuka buku tabungan disana. Dari Brunel, dibutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit berjalan kaki untuk sampai ke pusat kota. Kami bisa saja menggunakan bus U3 akan tetapi berjalan ternyata sangat menyenangkan disini. Lalu lintas yang sepi serta udara yang segar sangat mendukung para pejalan kaki. Ga ada itu yang namanya pedagang kaki lima dipinggir jalan sehingga pajalan kaki yang harus mengalah atau motor-motor kurang asem yang naik ke trotoar lalu seenaknya mengklakson pejalan kaki di tempat yang seharunya diperuntukan untuk pedestrian.

Pusat kota ini ramai dengan banyak toko-toko berjajar yang menjajakan berbagai macam hal. Mulai dari makanan, pakaian, perlengkapan sehari-hari dan banyak lagi. Jalan utama di pusat pertokoan itu terbuat dari batu-batu yang disusun rapi. Di beberapa bagian sudah berupa aspal. Mall terbesar disana adalah Chimes, tapi kalai dilihat malah lebih mirip dengan Mall Ambasador di Jakarta sana.

Nah, ternyata salah satu jalan di pusat kota itu, yaitu jalan Windsor merupakan jalan bersejarah di Inggris. Ratusan tahun yang lalu di samping kiri dan kanan jalan itu banyak dibangun toko-toko. Inilah pasar Inggris bagian barat di masa lalu. Bangunan disana masih dibiarkan apa adanya. Namun yang dijajakan tentu sudah berkembang sesuai dengan masa sekarang. Hal lain yang menarik dari tata kota Uxbridge ini adalah segala pusat perbelanjaan dan toko di pusatkan di satu tempat. Sehingga kemacetan dapat dikendalikan (walaupun sebenarnya jarang sekali ada kemacetan disini). Berbeda dengan Indonesia yang pusat perbelanjaan menjamur dan terpisah-pisah. Di satu sisi jalan ada Mall besar, lalu tidak jauh dari mall itu ada Carrefour atau tempat belanja yang lain. Desain kota seperti itu menurut saya justru menambah titik-titik kemacetan.

Pilihan tempat belanja yang beragam di pusat kota Uxbridge itu tentu membuat bingung. Ini ada beberapa tips menarik yang bisa digunakan.

  1. Jika ingin berbelanja snack, odol, sabun cukur jenggot, sikat gigi, deodorant, bisa dilakukan di Poundland. Toko ini menawarkan harga 1 pound untuk setiap produk yang dijual. Jika beruntung dengan 1 pound bisa mendapatkan banyak item.
  2. Lalu jika ingin membeli perlengkapan masak, keset, dan hal-hal yang berhubungan itu, kita bisa pergi ke Wilkinson. Harganya memang bersaing tetapi kualitasnya bisa dibilang bagus.
  3. Bagi yang seneng masak, sayur-sayur, daging, bumbu-bumbu dan bahan-bahan lain sebaiknya dibeli di Tesco. Harganya murah dan tidak jarang ada diskon menarik
  4. Untuk yang ingin membeli jumper, jas hujan, jeans, sepatu olahraga, kaos bola, bisa ke Sport Direct. Kata seorang teman, kalau beruntung, kita bisa mendapatkan jeans Lee Cooper hanya dengan 7 pound saja. Murah kan.

 

 

Advertisements
Comments
  1. Nieken Adjie says:

    Felicitations Hakimm…
    Saya harap bisa segera menyusul Anda, to studying abroad. 🙂

  2. Enie says:

    wah sedang melanjutkan di brunel ya S2 atau S3 nih, boleh informasinya tuk S3 disana…

    • rosyidhakiim says:

      Saat ini saya sedang kuliah S2 mba di Brunel. Tentang kuliah S3 informasi apa yang dibutuhkan? saya kurang paham, tapi mungkin bisa saya cari informasinya mumpung masih disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s