London Day 2

Posted: September 16, 2011 in Kim's Journey

Day 2

Hari yang melelahkan, tetapi karena sudah berjanji dengan diri sendiri untuk selalu menulis jurnal setiap hari. Maka dengan mata yang sudah 5 watt, kita tuliskan kisah hari ini, tanggal 15 September 2011.

Hari ini adalah hari pertama orientasi. Bukan orientasi seperti di Indonesia lho alias ospek itu. Disini kalian ga bakal ketemu yang namanya tugas diluar nalar manusia (karena panitianya pake nalar makhluk planet lain kali). Orientasi disini adalah full fun alias seneng-seneng aja isinya. Mulai dari liat-liat keliling kampus, dengerin presentasi tentang hidup di brunel, sampi jalan kaki ke Uxbridge (pusat kotanya disini) buat liat-liat barang-barang kebutuhan pokok yang mungkin bakal dibeli nantinya.

Orientasi ini dikhususkan untuk mahasiswa internasional. Ada sekitar 400 orang yang dating, artinya ada 400 mahasiswa baru dari segala belahan dunia. Mulai dari China (yang populasinya paling banyak), diikuti India, Nigeria, Bangladesh, Syiria, Rusia, Amerika, Malaysia (yang juga banyak), Indonesia, dan banyak lagi.

Inilah kesempatan untuk menjadi makhluk internasional alias bergaul sama orang-orang dari belahan dunia yang lain. Ga Cuma Indonesia aja. Dari sekian banyak orang-orang yang aku temui. Setidaknya ada 3 orang yang memiliki kisah menarik.

Pertama adalah Said asal Nigeria. Sudah kebayang kan perawakannya kayak gimana. Saat ketemu dia ini, aku langsung buka percakapan tentang tim bola Nigeria yang bias tembus ke Piala Dunia dan juga tentang pemain bola mereka yang main di Liga Inggris, Kanou misalnya. Tapi kagetnya, dia malah menjawab dengan ketidaksukaannya terhadap para pemain bola Nigeria. Dia bilang bahwa mereka (para pemain bola) tidak pernah bisa bermain bagus untuk negaranya. Tapi mereka akan bermain sangat baik untuk  klub yang berani bayar mahal untuk gocekan dan tendangan keras mereka.

Bahkan kata Said, untuk persiapan ke Piala Dunia, mereka hanya latihan selama dua minggu aja. “Bagaimana mereka bisa kerjasama dan mematuhi petunjuk pelatih, jika hanya latihan dengan waktu yang singkat seperti itu,” ujarnya. Bagaimana dengan sepakbola kita ?

Kedua adalah Nour dari Syiria. Teman berwajah Arab ini ternyata juga penerima Chevening. Hal yang menarik dari percakapan dengan pria yang bekerja di PBB itu adalah tentang media dan konflik di negaranya.

Dia banyak menyoroti tentnag bagaimana media sering kali mempabrikasi berita. Sehingga apa yang tampil di televise atau koran, sangat jauh berbeda dengan yang terjadi sebenarnya ( Hmmmmmm jadi berpikir tentang jurnalisme di Indonesia hehehehehe). Bukan hanya omong kosong aja, dia pernah mengalami itu. Suatu waktu dalam sebuah demonstrasi yang dia ikut di dalamnya. Sekelompok orang bersenjata, yang dia tahu itu kelompok pemberontak, datang dan menembaki warga. Tetapi di berita yang muncul justru polisi dan militer yang menembaki berita. Hal seperti inilah yang membuat dia geram bukan kepalang.

Ketiga adalah Anup dari India. Dari pria yang mengambil Master di bidang Bio Mekanikal ini aku jadi tahu tentang banyaknya orang India di berbagai belahan dunia. Di London ada banyak, Indonesia apalagi, Malaysia, Singapura, Amerika. You name it lah Negara, pasti disana ada orang Indianya.

Ternyata, hanya kelompok-kelompok tertentu saja dari beragai kelompok etnis di India yang gemar merantau ke negeri orang. Setidaknya Anup menyebut dua, yaitu dari daerah Punjab dan Gujarat.  Menurutnya orang-orang itu cenderung membawa kelompoknya untuk datang ke suatu Negara. “Jika satu orang dari mereka datang ke suatu Negara dan berhasil. Maka dia akan mengajak kelompoknya untuk datang,” ujarnya.

Itulah kenapa banyak orang India di seluruh dunia. Alasan mereka sederhana. Jika berdagang di India, competitor seabreg, harga pun ga bisa di dongkrak. Alhasil mereka memilih jualan di luar negeri yang sedikit kompetitornya dan harganya bisa dibandrol tinggi.

Akhirnya Ketemu Musholla

Hal yang paling menggembirakan bersekolah di Brunel adalah komunitas muslim mereka sangat kuat. Mungkin Brunel hanya satu-satunya universitas di London yang punya Musholla (nanti aku cek deh satu-satu hehehe).

Musholla ini letaknya di gedung Student Amenity, di lantai 2 (oh iya disini penamaan untuk lantai itu dimulai dari ground atau 0 lalu naik ke lantai 1, 2, dan seterusnya. Jadi lantai 2 disini sama dengan lantai 3 di Indonesia kalau ga salah).  Ruangan musholla ini bisa dibilang nyaman dan bersih. Ada karpet merah menutupi lantai ruangan itu, tidak bau sepatu, dan sangat bersih. Tapi wudhunya harus di lantai dasar, di sebuah toilet umum yang memang diset untuk wudhu yang cukup nyaman lah.

Nah disini lagi-lagi kebiasaan buruk terjadi. Yaitu kebiasaan ku mematahkan barang-barang yang aku duduki. Setelah sempat kursi patah oleh berat badanku, lalu kasur di rumah Jogja yang ambruk, sekarang kursi kayu di musholla  itu yang jadi korban. Entah karena desainnya yang kurang kuat atau berat badanku yang emang keterlaluan, tapi kursi yang sebenarnya rak sepatu itu ambruk.

“Sudah biarkan saja,” kata salah seorang bapak yang menjadi Imamku di solat Dzuhur tadi. Sambil meminta maaf, cengengesan, dan menutupi celana yang robek, ku tinggalkan kursi itu apa adanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s