London Day 1

Posted: September 16, 2011 in Kim's Journey

Day 1

Segala yang tidak terduga pasti terjadi dalam kehidupan. Di saat akan terbang ke London tanggal 13 September 2011 lalu, tiba-tiba saja aku melihat wajah yang aku kenal. Biasanya aku bertemu dengan teman dari Sastra Prancis ini setiap kali mampir di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta. Saat itu dia masih sibuk bekerja untuk universitas tempat kami belajar dulu, dan aku masih menjadi reporter di salah satu koran nasional. Tapi kali ini nasib dan usaha keras mempertemukan kami di Bandara Soekarno Hatta. Dia akan terbang ke Roma untuk mengambil program master disana, dan aku terbang ke London untuk bersekolah serta menggapai mimpi.

Begitulah kehidupan, selalu saja ada kejutan-kejutan. Berbicara tentang kejutan, kesempatanku untuk bersekolah ke London ini juga merupakan kejutan yang luar biasa. Di tengah kesibukan mempersiapkan pernikahan dengan istriku yang paling sabar dan pengertian, telepon genggamku berbunyi.  Suara wanita di ujung sana mengatakan dengan jelas bahwa aku diterima menjadi kandidat penerima beasiswa Chevening dari Pemerintah Inggris. Kaget yang bukan main dan rasa senang yang luar biasa, bercampur aduk dalam diriku. “Itulah rezeki orang menikah,” ujar sahabat karibku semasa SMA. Tapi jujur saja, ibadah yang satu itu memang mendatangkan banyak kemudahan dalam kehidupanku dan istri.

Singkat cerita (detail untuk cerita ketika menerima chevening ini akan dituliskan pada bagian lain), hari keberangkatan pun tiba. Sebelumnya, aku dan istri sempat deg-degan kalau-kalau barang yang ku bawa dalam koper melebihi batasan berat yang ditentukan. Wajar saja jika kami was-was, pada saat briefing terakhir di British Council, ibu dengan rambut di sasak tinggi dari British Airways sudah mewanti-wanti untuk tidak melebihi batas berat yang ditentukan. “Kalau kelebihan ya buang saja,” katanya ketus sambil menekuk-nekuk bibir.

Perjalanan ke London terbagi menjadi dua bagian. Pertama, diriku dan 2 orang penerima Chevening yang lain terbang dengan Singapore Airlines ke Changi. Penerbangan ini ditempuh dengan waktu 1 jam saja, tetapi karena perbedaan waktu (Singapura lebih cepat 1 jam dari Jakarta), rasanya kami terbang selama 2 jam.

Setibanya di Changi, kami harus berpindah ke Terminal 1 untuk pindah pesawat ke British Airways. Sekitar 3 jam kami menunggu keberangkatan, yang dijadwalkan pada pukul 22.50 waktu Singapura. Dengan British Airways, kami menempuh perjalanan udara sekitar 14 jam lamanya. Untung saja, kursi di sebelahku kosong, sehingga aku bebas-bebas saja untuk wara-wiri ke toilet atau berubah-ubah posisi tidur.

Selama penerbangan, pilihan film-film baru yang disediakan jasa penerbangan Pemerintah Inggris itu cukup memuaskan kegemaranku menonton. X-Men First Class, Pirates of The Carribien 4, Fast and Fourious 5, Thor, dan Rango sempat menemaniku melewati wilayah udara Turki, Jerman, dan Prancis. Tidak ada yang terlalu menarik dalam penerbangan ini. Karena lebih banyak diisi dengan kegiatan tidur dan tidur dan menonton.

Setibanya d Heathrow tepat pada pukul 05.00 pagi waktu London, sesuai dengan jam yang tertulis di tiket, salah seorang penerima Chevening buru-buru pamit karena harus mengejar penerbangan ke Glassgow. Sedangkan diriku dan seorang teman lagi, berjalan santi menuju bagian imigrasi.

“Untuk urusan apa kamu kesini,” kata petugas imigrasi yang melayaniku. Sekilas memandang suasana gerbang imigrasi di beberapa negara yang pernah aku kunjungi, tidak ada satupun dari petugas-petugasnya yang tersenyum. Semua berwajah kaku dan terkesan ketus.

“Sekolah,” jawabku singkat.

“Siapa yang memdanaimu untuk sekolah disini,” kata sang petugas

“Chevening,” jawabku lagi sambil memberikan surat sakti dari British Council bahwa diriku ada penerima sah dari Beasiswa Cheveing.

Wajah petugas itu justru berkernyit. “Apa yang membuatmu bisa diterima di beasiswa ini” tanyanya merendahkan.

“Setelah beberapa tes dan wawancara mereka menganggap saya layak,” jawabku dongkol. Meskipun begitu, aku justru  sedikit menertawai diri sendiri. Apakah memang tampangku kurang pas untuk seseorang yang pantas menerima beasiswa.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga ke kompleks akomodasi kampus Universitas Brunel tempatku akan tinggal. Pemandangan hijau menghampar, jalan-jalan sempit mengular, mengubungkan setiap sudut kota Uxbridge. Harus diakui, pepohonan dapat tumbuh subur dan rindang disini. Tidak seperti di Jakarta sana, pohon-pohon ditebang hanya untuk melebarkan jalan, yang kemudian tetap saja macet. Soal jalanan, meskipun hanya dua jalur saja, tetapi jarang terjadi kemacetan disini.

Pemandangan lain yang cukup membuat ku dan teman seperjuanganku di Brunel ini tertawa adalah para mahasiswanya. “Kayak di Mangga Dua (kawasan pertokoan di Jakarta) ya,” ujar temanku itu. Mangga Dua sangat dominan dengan etnis China, begitu juga di Brunel ini. Hampir setiap sudut kampus pasti ketemu orang-orang China yang asik mengobrol dengan bahasanya Jet Li.

Nah sekian dulu untuk cerita hari pertama ini. Kalau kurang menarik mohon dipahami, karena masih jetlek hehehehe

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s