Archive for September, 2011

London Day 15

Posted: September 30, 2011 in Kim's Journey

Day 15

28 September 2011. Beruntung, jurusan Media and Communication bukan jurusan yang banyak mengandalkan tatap muka di kelas. Jadi selama seminggu, kami para mahasiswa Media and Communication hanya mendapatkan jatah dua hari untuk kelas tatap muka dan seminar. Yaitu pada hari Selasa dan Kamis.

Oleh karena itu, pada hari Rabu, seperti hari ini, biasanya digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar kelas. Termasuk menyelesaikan urusan di luar masalah study, meminjam buku untuk segera dibaca sehingga nantinya di kelas tidak bego-bego banget, atau melakukan hal yang lain. Sebelum saya terbang ke Inggris, banyak yang menyarankan untuk memanfaatkan waktu kosong selama Senin sampai Jumat untuk serius belajar dan membaca buku, dan gunakan waktu week end untuk benar-benar refreshing.

Nah, di hari tanpa kelas ini, saya mencoba mengisinya dengan beberapa hal yang menurut saya penting dilakukan. Pertama adalah vaksinasi meningitis gratis di kampus. Istri saya pernah membaca bahwa penyakit yang disebabkan virus meningitis ini berbahaya. Bahkan pada taraf yang tinggi bisa menyerang otak. Dia lah orang yang menyarankan saya untuk melakukan vaksinasi itu.

Jadi, meskipun agak kurang bersahabat dengan jarum, saya beranikan diri untuk pergi ke Medical Centre. Disana sudah ada beberapa orang mengantri untuk vaksinasi. Sepertinya mereka juga sadar betapa pentingnya proteksi diri terhadap virus yang mungkin saja bisa menyerang.

Beberapa menit menunggu, seorang gadis keluar dari ruangan periksa dengan wajah memerah. Tidak berapa lama dia kemudian menangis. Di susul dengan seorang suster paruh baya. “Saya belum melakukan apa-apa lho,” ujar sang suster mencoba menenangkan peserta vaksinasi yang lain.

“Ga apa-apa kok, saya cuma takut dengan jarum,” kata gadis itu menimpali. Dia kemudian duduk di tangga sambil terus mencoba menenangkan dirinya.

Momen ini membuat saya bertanya-tanya. Di dalam sana jarumnya segede apa, sampai gadis itu menangis. Mungkin pertanyaan ini juga muncul di benak peserta lain yang sedang mengantri.

Akhirnya sampai juga giliran saya. Masuk ke ruangan periksa. Saya tidak menemukan hal yang aneh. Tidak ada jarum besar seperti yang saya bayangkan.

Saya kemudian diminta duduk dengan tenang. Sang suster kemudian mencoba mengajak bicara dengan ramah ketika mengetahui bahwa saya kurang bersahabat dengan jarum. Dia berusaha menanyakan keadaan saya dan juga membuka diri untuk segala macam pertanyaan yang ada di pikiran saya. Tidak lama, dia memberikan selebaran tentang efek yang mungkin terjadi setelah vaksinasi. Konsentrasi saya tertuju pada selebaran itu, dan tidak menyangka bahwa lengan kiri saya sudah disuntik. Waow, hal ini patut mendapatkan acungan jempol.

Sang suster mengalihkan perhatian pasien sambil melakukan pekerjaannya menyuntik. Sehingga pasien pun tidak merasa takut. Saya tidak tahu apakah di Indonesia juga dilakukan prosedur yang sama. Saya justru kurang yakin, jangan-jangan di Indonesia, suster yang akan menyuntik main tusuk aja.  Pas di depan mata pasien lagi. Kalau itu benar-benar terjadi, bagaimana nasib anak-anak kecil yang disuntik. Pasti aka nada trauma di dalam diri mereka. Tapi semoga di Indonesia tidak begitu ya.

Nah, setelah vaksinasi, kegiatan kedua saya mengisi hari tanpa kuliah adalah meminjam buku di perpustakaan. Sepertinya tampak biasa dan sederhana, namun menurut saya, pengalaman meminjam buku ini luar biasa. Bagaimana tidak, saya dibuat kagum dengan system perpustakaan Brunel yang sudah terkomputerisasi dengan baik.

Mulai dari mencari buku hingga meminjamnya, semua dengan dasar kemandirian alias self-service. Kalau yang saya tahu, di Indonesia, meminjam bukudi perpustakaan seperti harus melewati sebuah system birokrasi. Sebagai contoh saja ketika saya masih kuliah di sebuah universitas ternama di Yogyakarta pada tahun 2003 hingga 2007 silam.

Disana untuk meminjam buku, kita diwajibkan mencatat dan mencari kode buku yang dimaksud. Sebelum adanya computer, kita harus rela membalik kertas-kertas kecil yang ada di laci-laci kecil berisi kode-kode buku. Sebuah form disediakan untuk mencatat judul serta kode buku tersebut. Mulai dari sini, petugas perpustakaan yang bekerja. Setelah memberikan form itu, kita hanya bisa menunggu sang petugas mencarikan buku. Bisa jadi proses pencarian itu sebentar, bisa jadi sangat lama.

Nah, kalau di Brunel ini, semua sudah masuk dalam system computer. Sebelumnya, mahasiswa bisa mencari ketersediaan buku melalui situs yang sudah disediakan. Situs ini bisa diakses dengan computer di rumah, laptop, ataupun handphone. Tidak hanya ketersediaan buku yang diinformasikan, tetapi juga lantai tempat buku itu berada dan kode yang mengindikasikan letak rak buku tersebut. Setelah semua informasi itu didapatkan, kita hanya perlu ke perpustakaan lalu mencari buku yang dimaksud.

Untuk meminjam buku, kita tidak perlu meminta tolong petugas. Di salah satu sudut perpustakaan ada mesin khusus yang disediakan. Cukup memasukkan kartu mahasiswa kita di wadah yang ditentukan, dan buku-buku yang dipinjam di wadah yang lain. Mesin itu akan secara otomatis memindai kartu mahasiswa kita dan buku yang dipinjam. Kemudian tampil di layar buku-buku yang akan kita pinjam, dan identitas kita. Jika kita setuju, Klik, klik, klik (padahal ini layar sentuh hehehe) selesai sudah pinjam meminjamnya. Lalu mesin akan mencetak tanda terima berisi tanggal pinjam dan pengembalian. Mudah sekali.

Kalau ingin mengembalikan, ada tempat khusus juga yang disediakan. Cukup memasukkan buku yang ingin dikembalikan. Mesin akan memindai, lalu buku itu masuk ke dalam ruangan pengembalian. Mesin kemudian mengeluarkan tanda bukti bahwa kita sudah mengembalikan buku.

Sistem seperti ini seharusnya bisa menjadi contoh untuk perpustakaan di Indonesia.

London Day 14

Posted: September 29, 2011 in Kim's Journey

Day 14

27 September 2012. Hari pertama kuliah. Setelah sekian lama tidak merasakan suasana kelas, akhirnya dimulai juga kuliah MA Media and Communication yang saya pilih di Brunel University. Begitu kelas dimulai, lirik kiri, lirik kanan, ternyata kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas yang saya masuki pada tahun 2003 silam, saat mengambil jurusan Sastra Prancis di UGM.

Bagian mana yang sama? Yaitu tentang populasi laki-lakinya. Di kelas Media and Communication ini 90 persen wanita, populasi laku-laki hanya 4 orang saja dari sekitar 20 orang mahasiswanya. Kelas ini sangat internasional, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Hmmmmm, kemana para laki-laki yang ingin belajar Media and Communication, kenapa hanya ada kami ber-4 saja disini.

Anyway, pada hari pertama kuliah itu, sang dosen cukup baik untuk tidak langsung menjejali murid-muridnya dengan tugas dan segala macam teori yang mungkin saja membuat kepala pusing. Mata kuliah Media Audience kali ini hanya diisi dengan gambaran umum materi kuliah dan aturan-aturan perkuliahan. Terutama soal tugas-tugas dan deadline yang harus benar-benar dipatuhi.

Dari kuliah hari pertama itu, saya langsung menyadari bahwa ada hal yang harus kembali diasah untuk bisa mendapatkan nilai yang baik dari kuliah ini. Yaitu menulis dengan gaya akademis dan bagaimana berargumentasi. Sudah sekian lama saya menulis, tetapi dengan gaya menulis berita, bukan menulis akademis. Segala hal yang berkaitan dengan tata cara mengutip sumber buku harus kembali dipelajari. Di jurusan saya, gaya penulisan akademisnya mengacu pada gaya penulisan di Harvard.

Selain tata caranya, bahasa Inggris yang digunakan tentunya berbeda dengan bahasa Inggris percakapan sehari-hari. Sepertinya, harus kembali banyak-banyak membaca artikel akademis, melihat contoh penulisannya, lalu mencoba mempraktekkannya.

Waktu berlalu, akhirnya kuliah pun berakhir. Belum banyak yang bisa diserap dari sisi materi di kuliah hari pertama ini. Saya pun, masih bisa berjalan santai menuju kamar untuk memasak makan siang. Gedung tempat kuliah berlangsung dengan asrama saya tidak begitu jauh, sehingga tidak perlu jajan jika ingin makan. Cukup kembali ke flat dan memakan apa yang ada. Kalau ingin memasak juga bisa.

Tidak terasa, waktu berjalan cepat. Setelah menikmati makan siang, sholat, menulis beberapa artikel, ternyata hari sudah gelap. Saya jadi teringat dengan rencana menarik bersama Robby Salamun, Mas Andi, dan Ulung. Kita sepakat untuk mendatangi tempat penjualan seafood yang katanya murah. Untuk pergi ke tempat itu, kita harus menunggu sampai pukul 10.00 malam. Karena pada saat itulah truk pengangkut ikan dan berbagai hasil tangkapan laut itu tiba.

Jam di tangan sudah mengisyaratkan kami untuk segera pergi. Dalam perjalanan menuju tempat pemberhentian bus, beberapa mahasiswa dari China juga tampak terburu-buru berjalan searah dengan kami. Di tempat pemberhentian bus, sudah menunggu banyak mahasiswa dari China, lengkap dengan tas-tas besar mereka. Robby mengatakan, tempat pembelian seafood ini seperti turun termurun disebarkan diantara mahasiswa China di Brunel. Robby mendapatkan informasi itu juga dari temannya yang berasal dari China.

Untuk menuju ke tempat penjualan ikan dan hasil laut itu, kita hanya perlu naik bus dengan nomor 222 ke arah Hounslow, tepat satu pemberhentian bus setelah Stasiun West Drayton. Tempatnya agak tersembunyi di sebelah Restoran China Go Sing. Ada sebuah lorong besar tepat di samping restoran tersebut.

Ketika kami sampai, puluhan mahasiswa dari China sudah berkumpul di bagian belakang truk yang sedang membongkar muatan mereka yang berupa berbagai macam ikan, cumi, udang, kerang, kepiting, lobster, dan banyak lagi. Para konsumen itu lalu menyerbu hasil laut segar yang melimpah itu. Kantung plastic hijau yang sudah disediakan sekejap penuh dengan belanjaan. Mereka dengan cekatan memilih hasil-hasil laut itu. Tidak ketinggalan saya juga ikut menikmati ajang pilih memilih tersebut. Hasilnya, 3 buah cumi besar, sekotak daging kerang, 10 ekor udang, saya tebus dengan hargg 13 Pounds. Kata Robby, harga itu terbilang murah jika dibandingkan dengan hasil laut di supermarket. Kelebihan berbelanja di tempat ini, semua segar karena baru saja ditangkap.

 

London Day 11

Posted: September 26, 2011 in Kim's Journey

Day 11

24 September 2011. Hari Sabtu adalah hari domestic. Hari ini merupakan hari yang tepat untuk bersih-bersih. Maklum sudah hampir dua minggu hidup di London belum sempat mencuci baju.

Seminggu kemarin, kegiatan sepertinya tidak ada habisnya. Pulang balik West London – Central London ternyata cukup menguras tenaga. Di hari Sabtu ini rasa capek itu terakumulasi dengan sukses. Buktinya, Sholat Subuh hampir saja telat karena mata rasanya makin berat. Sehabis sholat, lanjut tidur, lalu malas bangun. Padahal matahari Inggris yang jarang sekali nongol udah bersinar mengetuk-ngetuk kaca jendela asrama.

Meski  badan rasanya masih malas untuk bangun, tapi karena teringat baju-baju, terutama daleman yang sudah numpuk. Akhirnya ku langkahkan kaki untuk mencuci.

Untuk mencuci di asrama ini, jarang sekali yang menggunakan system manual. Karena bingung mencari tempat untuk menjemur. Masak ya pasang tali di jendela kamar. Apa ga malu kalau ada yang lihat segitiga pengaman berkibar-kibar hehehehe.

Di asrama ini sudah ada fasilitas mesin cuci umum. Tapi tidak semua gedung yang punya, hanya beberapa saja. Jadi pada waktu-waktu yang rame, kita bisa mengantri untuk menggunakan mesin cuci itu. Kebetulan gedung asrama yang memiliki tempat cuci berada tepat di gedung tempat saya tinggal. Jadi tinggal nyebrang saja.

Di tempat cuci itu, ada sekitar 8 mesin cuci dan 8 mesin pengering. Nah mencuci disini itu tidak murah lho. Sekali menggunakan mesin cuci, kita harus nyemplungin uang 2,20 pounds. Jadi mahasiswa-mahasiswa yang mau irit, cenderung menumpuk baju hingga menggunung-gunung lalu pergi mencuci. Soalnya sedikit atau banyak harganya sama. Belum lagi pengeringnya, kita harus memasukkan 1 pounds untuk bisa mengoperasikan alat tersebut. Jadi total biaya untuk mencuci adalah 3,20 pounds. Coba kalkulasikan saja dengan rupiah.

Tapi memang dengan harga segitu, kita hampir tidak melakukan apa-apa. Hanya perlu menunggu saja. Mesin lah yang bekerja untuk kita. Hasilnya juga lumayan. Tapi tergantung deterjen yang dipakai juga sih. Kita juga tidak perlu menjemur pakaian. Cukup klik tombol di mesin, dalam 50 menit pakaian sudah kering. Mudah tapi mahal, itulah kesan yang saya tangkap dengan cara mencuci disini.

Jadi pelajaran yang musti diambil adalah, mencuci sebaiknya 2 kali dalam sebulan, atau kalau persediaan bajunya memadai, bisa 1 bulan sekali. Lalu, kalau daleman atau yang kecil-kecil mending cuci di kamar terus dikeringin di tempat cuci. Lumayan irit 2,20 pounds, tapi resikonya harus kucek-kucek dan bilas sendiri.

London Day 10

Posted: September 24, 2011 in Kim's Journey

Day 10

23 September 2011. Hari ini adalah hari yang monumental bagi saya. Sebab saya terpilih menjadi Ketua PPI London 2011 -2012. Semua berkat teman-teman yang sangat solid mendukung. Meskipun menang tipis dengan kandidat yang lain, akhirnya bisa juga berada pada posisi ini. Bukan sebuah tujuan yang ambisius sih, tapi saya berharap dengan jabatan ini bisa membantu teman-teman yang akan datang dan belajar di London.

Anyway, tentang pemilihan sepertinya tidak perlu diceritakan ya. Soalnya tipikal banget. Kampanye, sebar surat suara, penghitungan, dan akhirnya hasilnya. Tetapi yang harus diacungi jempol adalah kandidat yang lain. Mereka masih muda tetapi berani maju untuk mendapatkan peluang menjadi pemimpin. Semoga mereka nantinya bisa berguna bagi bangsa dan Negara.

Seusai pemilihan, saya dan beberapa orang teman dari Brunel University bersepakat untuk mencari tempat nongkrong yang enak di sekitaran Oxford Road. Tapi karena muter-muter ga ketemu, kami kemudian naik bus 23 menuju Piccadilly Circus. Daerah itu cukup terkenal karena menjadi salah satu Chinatown di London. Malam itu ramai sekali orang disana, jalan pun harus berdesak-desakan.

Menyusuri Chinatown itu, kami sebenarnya ingin menuju Covent Garden. Tempat ini juga sangat terkenal. Bahkan mungkin menjadi pusatnya London. Karena banyak sekali  orang lalu lalang diatas jalan-jalan yang terbuat dari batu itu. Saking banyaknya orang, rombongan kami yang sekitar bersebelas itu sempat terpisah. Bingung saling mencari satu sama lain. Untung pada kenal sama yang namanya handphone, jadi sekali pencet, terhubung, masalah selesai. Tapi ya tentu saja harus rela jalan lagi menjemput rombongan yang terpisah. Hidup di London itu memang sehat, karena harus selalu jalan dan itu menyenangkan.

Dahulu Covent Garden ini menjadi pasar tradisional yang menjual sayur dan buah-buahan.  Lalu kemudian berevolusi, menjadi dari wisata. Setiap tahunnya banyak turis-turis yang mampir disini menikmati hidangan di café-café yang jumlahnya tidak sedikit. Street performancenya juga ga main-main. Beda sama kita di Indonesia yang modal kecrekan doing. Disini mereka niat membawa sound system sendiri lalu menyanyikan lagu yang mereka suku. Bahkan pada malam saya dan teman-teman mencari café yang enak untuk nongkrong, ada pria tua yang bermain kecapi. Suaranya merdu sekali. Wajar saja, daerah ini menjadi tempat yang cocok untuk nongkrong dan mengobrol banyak hal bersama teman-teman.

Setelah berputar-putar tak tentu arah. Akhirnya kami makan di sebuah restoran perancis. Restorannya sih biasa saja, tapi harganya itu. Bener-bener deh. Main coursenya tidak ada yang dibawah 10 pounds. Walhasil, saya Cuma pesan jus nanas saja yang harganya menurut saya juga mahal, 2,95 pounds belum termasuk pajak.

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam. Saatnya kami pulang ke Uxbridge. Lagi-lagi perjalanan panjang yang harus kami tempuh. Selain itu, kami juga harus berganti-ganti moda transportasi, menunggu kereta yang tak kunjung datang, hingga akhirnya sampai di asrama. Saya melihat waktu di jam tangan sudah pada angka 00.36 saat saya membuka pintu asrama. Benar-benar perjalanan panjang dan melelahkan. Setelah seminggu berkutat dengan segala hal yang berhubungan dengan kuliah serta pemilihan. Semoga esok hari badan bisa fresh dan siap menyonsong masa depan lebih baik.

London Day 9

Posted: September 24, 2011 in Kim's Journey

Day 9

22 September 2011. Wah perjalanan panjang dari Uxbridge ke Central London memang menguras waktu. Pulang dari sana pukul 21.30, sampai asrama kampus udah tengah malam, jadi udah kecapekan untuk nulis jurnal. Bener-bener deh.

Tapi ga pa-pa lah, resiko. Nah makanya selagi sempat di hari Sabtu (24/09) pagi yang cerah ini, saya sempatkan untuk  menuliskan apa yang terjadi pada hari kesembilan saya di London.  Kisahnya sih tidak terlalu menarik. Saya dan beberapa orang teman hanya mengunjungi Brick Lane, salah satu daerah yang lumayan terkenal di London. Sebenarnya kita ingin menemui seseorang disana, tetapi rencana berubah. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari makanan bernuansa India.

Brick lane adalah jalan yang terletak di East End London. Dahulu, sesuai dengan namanya, jalan tersebut terbuat dari batu bata. Sekarang yang tersisanya hanya bangunan-bangunannya saja yang tampak seragam dengan susunan batu bata merah tanpa tertutup semen. Kawasan ini sangat terkenal dengan masakan karinya, karena menjadi pusat komunitas Bangladesh dan sepertinya juga komunitas India.  Jadi tidak mengherankan jika dimana-mana banyak sekali restaurant yang menawarkan masakan dari daerah itu, terutama karinya.

Cara mereka menarik pengunjung bagi saya cukup unik. Ada satu orang yang berdandan rapi di depan pintu restoran dan menawarkan segala macam makanan yang ada. Termasuk disakon-diskon yang diberikan. Hampir setiap restoran menggunakan metode yang sama. Tapi kami tidak tertarik dengan tawaran mereka, karena kami sudah memiliki tujuan, yaitu ke Restoran Tayyabs.

Restoran ini sepertinya terkenal, karena teman saya sudah sangat tertuju pada restoran itu. Tidak ada yang bisa mengganggu pilihannya. Tayyabs terkenal enak dengan daging panggangnya dan masakan khas India.

Kembali ke Brick Lane, ternyata bukan hanya terkenal dengan restoran bernuansa masakan kari saja. Tetapi pada setiap Minggu pagi, jalan ini ramai dengan orang-orang yang berdagang. Ya, benar. Jalan itu menjadi semacam pasar dadakan yang menjajakan segala macam hal. Mulai dari barang antik, makanan, pakaian, dan yang lain-lain.

Selain itu, Brick Lane yang dekat sekali dengan daerah Whitecapel ini juga menjadi salah satu lokasi pembunuhan Jack Ther Ripper. Sudah pada tahu kan siapa Jack The Ripper ini. Dia adalah pembunuh berantai yang korbannya mencapai 11 orang. Semua yang dibunuhnya adalah wanita. Nah, benda-benda yang terkait dengan Jack The Ripper ini disimpan museum  di Royal Hospital London. Letaknya tidak jauh dari Brick Lane. Di museum itu juga disimpan Joseph Merrick si manusia gajah.

Setelah menyusuri Brick Lane, belok kanan, belok kiri, lurus lagi, belok lagi, akhirnya kami sampai di 83 Fieldgate Street tempatnya Restoran Tayyabs. Dari restoran itu tampak diujung jalan bagian belakang Royal Hospital London yang saya ceritakan tadi. Begitu, sampai rasanya perut ini ingin segera diisi. Tapi malangnya, antrian untuk mendapatkan tempat duduk panjang sekali. Ya namanya juga restoran terkenal. Akhirnya, setelah sekitar 30 menit berjalan untuk mencari restoran itu, kamu urung makan disana. Kami tidak sanggup lagi mengantri.  Rasa lapar kami akhirnya terpuaskan di restoran lain yang juga menyuguhkan masakan India.

London Day 8

Posted: September 21, 2011 in Kim's Journey

Day 8

International Dinner

21 September 2011, sejak pagi hari saya terus berpikir tentang  apa yang akan ditulis malam nanti. Sebab tidak ada jadwal yang menarik dari kegiatan orientasi hari ini. Dari pukul 11.30 hingga 12.30 presentasi tentang berbagai jaringan dunia maya yang digunakan di Brunel. Lalu pukul 13.30 hingga 14.00 adalah asistensi dari staf akademik. Ga banyak yang bisa dilakukan disini.

Universitas yang terletak di Uxbridge ini memiliki setidaknya empat jaringan dunia maya. Pertama adalah webmail atau akun email bagi para mahasiswa dan staf.  Kedua adalah U-Link, tempat segala informasi tentang mata kuliah, jadwal pelajaran, dan tugas-tugas. Ketiga intranet dan keempat terkait dengan perpustakaan.

Segala yang berhubungan dengan perkulihan harus terhubung dengan dunia maya. Oleh karena itu jaringan internet sangat vital dan dibutuhkan disini. Tidak terbayang jika pada suatu waktu ada virus ganas menyerang dan merusak system di Brunel ini, apa yang terjadi dengan nilai, tugas, dan jadwal pelajaran para mahasiswanya. Pasti kisruh banget, lalu ada pemutihan dan semua dapat nilai A atu B (walah malah mengkhayal).

Sampai mendekati waktu sholat dzuhur yang dalam waktu London adalah pukul 13.00, saya masih belum mendapatkan ide akan menulis apa. Sambil berjalan tanpa tujuan, saya melihat ada stand kecil di dekat kantin. Disana berdiri pria muda dengan jenggot tebal dan panjang. Setelah saya dekati ternyata itu Fayyed (masih ingat kan dengan orang ini? Dia ini yang mengantarkan saya wudhu pada sholat Jumat pertama saya di Brunel).

Ternyata stand itu adalah tempat pendaftaran untuk bergabung ke komunitas Muslim di Brunel. Komunitas ini cukup besar dan berpengaruh di Brunel. Kata teman Fayyed, tahun lalu, orang yang mendaftar di komunitas ini kedua terbanyak dari seluruh kegiatan mahasiswa yang lain. Hal ini memang tampak jelas, karena pihak universitas pun menyiapkan satu lantai khusus untuk musholla dan tempat wudhu bagi mahasiswa Muslim.

Bergabung dengan komunitas ini ternyata memberikan banyak keuntungan. Setiap bulan akan mendapatkan jadwal sholat. Biasanya setiap waktu sholat, mereka berjamaah di musholla. Lalu setiap minggu, bisa melalui sms atau email, mereka akan memberi tahu tempat sholat Jumat akan dilakukan. Di Brunel memang tidak ada tempat yang pasti untuk melakukan sholat Jumat, akan tetapi pihak universitas memberikan kesempatan pada kaum Muslim untuk sholat Jumat di ruang-ruang yang masih belum terpakai kegiatan lain pada hari Jumat itu.

Selain mendapatkan kemudahan-kemudahan itu, pengurus komunitas Muslim Brunel akan siap membantu para mahasiswa atau staf yang mengalami kesulitan dalam beribadah atau hal-hal yang lain. Saya melihat mereka adalah orang-orang yang benar-benar mau membantu, paling tidak tawaran mereka membuat saya merasa nyaman di kampus ini.

Jam demi jam terlewati hingga tibalah waktu makan malam. Saat itu saya masih mengutak-atik computer mencari bahan-bahan laporan yang akan saya serahkan pada Pak Fauzi. Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Saya kaget, tidak biasanya ada yang mengetuk pintu kamar saya. Setelah dibuka, ternyata muncul wajah Peter, temen satu flat saya dari China.

Ternyata Peter yang lucu dan mudah bergaul itu mengajak saya untuk makan malam bersama. KEtika itu saya pikir makanan sudah siap sedia dan tinggal santap saja. Tapi ternyata Peter hanya membeli beberapa bahan mentah dan meminta kami untuk memasak. Disebut kami karena di dapur sudah ada Lisa, teman Peter.

Lisa memasak tumis-tumisan dan beberapa yang lain. Dia dan Peter mempersilahkan saya untuk mengolah daging ayam yang memang belum tersentuh. Saya mencoba mengingat kembali tentang resep-resep yang pernah saya buat. Tetapi selalu terbentur dengan bahan-bahan yang tidak saya temukan di London ini. Lalu saya ke kamar untuk mengambil buku resep masakan yang sengaja saya bawa dari Indonesia. Namun, masalah yang sama juga terjadi. Kita kekurangan bahan-bahan yang ada.

Tidak putus asa, saya lalu mengambil botol besar berisi olahan kedelai, mirip-mirip tauco. Nah, di botol itu ternyata ada resep sederhana yang mudah sekali untuk dipraktekkan. Langsung saja saya bergerak memotong bahan-bahan yang dibutuhkan, tumis-tumis, bolak-balik, lalu jadilah ayam bumbu olahan kedelai.

Sementara saya memasak, dua orang gadis kebangsaan Vietnam, yang juga teman Peter datang bergabung. Salah satunya diminta Peter untuk memasak juga. Dia membuat masakan ayam dan sayur yang juga hasil dari kreasi dadakan, karena kita sama-sama tidak mendapatkan bumbu-bumbu yang sesuai.

Meskipun begitu, saat kami semua duduk di meja makan dan menikmati makanan yang tersedia. Tidak ada satupun yang tersisa. Mereka menyukai masakan saya, masakan teman dari Vietnam itu, dan masakan Lisa. Inilah pengalaman pertama saya memasak untuk makan malam internasional. Saya bilang internasional karena ada orang Indonesia, China, dan Vietnam disana.

Dari acara masak-memasak ini saya menyadari bahwa saat ini keluarga dan istri memang jauh disana, dan kadang rasa kangen mendera. Tapi jika kita bisa menemukan teman untuk tertawa bersama dan berbagi, maka seolah rasa rindu kampong halaman itu sedikit terobati.

london day 7

Posted: September 20, 2011 in Kim's Journey

Day 7

Readjust Diri Untuk Iklim Sekolah

20 September 2011. Tidak terasa sudah seminggu meninggalkan Negara kelahiran, Indonesia. Waktu memang sangat cepat berlalu. Kalau istilah kereta, waktu itu seperti kereta ekspres, tahu-tahu kita udah nyampe aja. Rasa kangen ke istri tercinta disana juga tiba-tiba menyeruak, memenuhi dada. Seandainya belahan jiwaku itu ada disini, sepertinya bakal seru sekali. Karena kalau menurut saya, kebahagiaan itu harus dibagi. Apa artinya kebahagiaan kalau yang tertawa senang hanya kita sendiri, bener kan? Malah jadi curcol lagi hehehe

Seperti hari-hari sebelumnya, ada banyak sekalli hal yang harus diselesaikan sebelum benar-benar menjalani hari-hari kuliah. Misi pertama adalah menyelesaikan pembukaan tabungan. Saya memilih Bank Lloyds untuk menabung atas saran teman-teman yang sudah lebih lama di Brunel.  Bank milik pemerintah Inggris (kalau tidak salah seperti Bank Mandiri di Indonesia). Untuk memiliki rekening di bank ini cukup mudah. Beberapa hari yang lalu saya sudah meminta surat pengantar dari kampus dan membuat janji dengan costumer servicenya. Sehingga saat saya datang hari ini, prosesnya jauh lebih cepat. Hanya menunjukan passport dan sang costumer service pun dengan lincah memainkan mouse dan keybord mengisi data-data kita.

Keuntungan bank ini, saat kita membuka rekening mereka tidak meminta biaya apapun, setoran pertama pun tidak ada. Setiap bulannya mereka tidak akan memotong tabungan kita. Lalu kita tidak hanya diberikan satu rekening saja, mereka menyediakan dua buah rekening sekaligus. Rekening pertama adalah rekening biasa yang dilengkapi dengan kartu kredit dan rekening kedua adalah rekening untuk uang-uang yang tidak ingin kita ganggu gugat, mereka menyebutnya saving account. Fitur itu sangat memudahkan nasabah untuk mengatur keuangannya. Rekening biasa dapat digunakan utnuk transaksi sehari-hari, dan saving account bisa digunakan untuk benar-benar menabung.

Selain mengurus buku tabungan, saya juga membeli beberapa perlengkapan memasak. Di London, kalau tidak masak sendiri sepertinya budget makan bisa membengkak dua kali lipat. Keuntungan memasak sendiri, kita masih bisa menyimpang bahan makanan yang tersisa untuk memasak di lain waktu. Nah, di Uxbridge, atau di banyak tempat di London, ada supermarket yang namanya Wilkinson. Kalau di Indonesia seperti Carrefour atau Hypermart, tapi Wilkinson ini terkenal sebagai tempat untuk mencari perkakas rumah tangga. Mulai dari urusan dapur, kamar tidur, atau alat bersih-bersih.  Toko tersebut memiliki produk-produk buatan mereka sendiri yang harganya jauh lebih murah dari produk serupa dengan merk yang lain. Karena harganya yang terjangkau itulah, maka produk itu paling dicari oleh mahasiswa. Termasuk saya.

Kalau yang berhubungan dengan kampus, hari ini adalah bagian dari tiap-tiap jurusan untuk memberikan pemaparan mereka. Minggu lalu orientasi dilakukan secara general, minggu ini orientasi sudah spesifik di setiap jurusan. Setelah seminggu mengira-ngira siapa yang bakal menjadi teman sekelas, akhirnya rasa penasaran itu terobati. Untuk setahun kemudian, saya bakal belajar bersama setidaknya 20 orang. Sayangnya hari ini tidak semua mahasiswa media and communication datang.

Kesan yang saya tangkap, kelas saya ini benar-benar internasional. Meskipun sebagian besar didomindasi oleh mereka yang berkebangsaan China, tetapi saya bisa bertemu dengan orang Rumania, Cyprus, Indonesia, Jerman, Inggris, dan beberapa yang lain. Dosen-dosen yang mengajar pun multi etnis. Saya membayangkan kelas ini akan menjadi sangat menarik.

Nah, setelah mendengarkan presentasi tentang tata tertib kuliah, penilian, tesis, cara belajar, jadwal, dan beberapa tetek bengek perkuliahan yang lain. Kepala saya justru melayang-layang entah kemana. Sudah hampir 4 tahun saya meninggalkan bangku kuliah dan masuk ke iklim kerja. Sekarang harus kembali lagi ke suasana kuliah. Rasanya seperti membuka brankas tua yang kuncinya udah karatan. Ada banyak hal yang harus disesuaikan kembali.

Tantangan ini bukan untuk diratapi, namun harus dihadapi. Anup, teman saya dari India yang mengambil jurusan Bio Mekanikal, langsung memberikan semangat ketika saya ceritakan kondisi saya itu. Dia yakin, dalam waktu singkat saya bisa segera menyesuaikan diri.

Dengan usaha dan doa pasti segala sesuatu bisa dihadapi dengan baik. Sampai di London itu bukan hal yang mudah, masak beradaptasi kembali dengan iklim mahasiswa tidak bisa. Ayo pasti bisa.