Sick Building Syndrome

Posted: March 2, 2009 in kesehatan

Lima puluh persen orang yang bekerja di gedung perkantoran punya keluhan kesehatan.

Diam-diam banyak orang bekerja di gedung perkantoran yang menyimpan setumpuk masalah kesehatan. Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI/Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menunjukkan, mereka mengalami sick building syndrome (SBS).
Secara umum SBS bisa dijelaskan sebagai keluhan atau kumpulan permasalahan kesehatan dan kenyamanan akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, dan juga kualitas udara dalam ruangan ber AC. ”Tapi gejalanya tidak spesifik,” ujar Dr Budi Haryono Phd Msc.
Sekitar enam bulan, Juli-Desember 2008 Budi mengadakan penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 perusahaan. Hasilnya, 50 persen orang yang bekerja dalam gedung perkantoran cenderung mengalami SBS. Biasanya keluhannya berupa sakit kepala, mudah lelah, gejala seperti flu, sesak napas, mata berair, sering bersin, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal. ”Sebenarnya ini semua berawal dari pernapasan dan kualitas udara,” ujar ketua IAKMI ini.

Partikel polusi
Budi menjelaskan, setiap tiga detik, manusia pasti akan menghirup udara untuk bernapas. Sekali tarikan napas sebanyak 500 mililiter udara terhirup. Selama satu menit kita bernapas sekitar 20 kali. Bisa dibayangkan akibatnya jika udara yang masuk ke dalam tubuh sudah terpolusi.
Udara yang tidak sehat dengan partikel-partikel polusi sebesar 10 mikron bisa mengakibatkan berbagai infeksi saluran pernapasan (ISPA). Tetapi bagi partikel polusi yang lebih kecil (2,5 mikron) bakal masuk ke paru-paru dan menjadi asma.
Udara yang tidak sehat itu terjadi karena adanya kontaminasi dengan sumber-sumber polutan seperti, asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, volatile organics compounds (sebuah bahan kimia organik berbentuk gas) yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, kemudian dari debu atau karbon yang menempel.
Bayangkan saja, jika delapan jam berada di ruang tertutup dengan dengan sirkulasi udara yang kurang baik, udara kotor itu akan berputar terus menerus dan menjadi sumber oksigen utama yang kita hirup. ”Bahkan jika ada orang bersin, maka bakteri-bakteri yang dia keluarkan bisa berputar saja di ruangan tertutup itu,” kata Budi.

Penyebab SBS
Radikal bebas bisa diterjemahkan menjadi sebuah senyawa reaktif yang berasal dari dalam tubuh sebagai hasil metabolisme atau terpapar dari lingkungan luar. Senyawa ini memiliki ekstra energi yang banyak sehingga cenderung tidak stabil. Karena elektronnya tidak berpasangan, dia akan terus menerus mencari pasangan.
Saat berada di dalam tubuh dan beraksi pada sel-sel maka hanya ada dua kemungkinan, sel tersebut mati atau berubah karakter menjadi sesuatu yang biasa disebut kanker. ”Jadi, radikal bebas ini saya analogikan sebagai janda kembang cantik yang merusak rumah tangga orang,” ujar dr Handy Purnama, medical marketing manager Bayer Healthcare Consumer Care.
Radikal bebas ini bisa saja berasal dari radiasi sinar ultraviolet, metabolisme dalam tubuh, radiasi ion, asap rokok, asap kendaraan bermotor, dan udara yang tidak sehat. ”Bahkan WHO sudah mencatat bahwa setiap tahun ada tiga juta orang di dunia ini yang meninggal karena polusi udara,” ujar Handy.
Bahan inilah juga yang patut bertanggung jawab timbulnya penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati dan dicurigai berpengaruh pada proses penuaan dini. Saat berada dalam suatu ruangan tertutup (tanpa jendela dan hanya mengandalkan AC) radikal bebas ini ikut terbawa oleh orang-orang yang telah terpapar sebelumnya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Ketika orang tersebut menyibakkan jaketnya yang telah tertempel polusi-polusi kendaraan bermotor atau saat dia bersin, radikal bebas itu akan terus berputar dalam udara yang bakal kita hirup. Kesehatan pun akan cenderung terganggu ketika berlama-lama berada dalam sebuah ruangan.
Faktor lain yang menyebabkan SBS, Dr Budi Haryono menyebutkan adanya partikel ozon dan karbon yang terbentuk dari alat-alat elektronik seperti printer atau alat fotokopi. ”Alat elektronik itu banyak menggunakan sinar dan energi panas sehingga terbentuknya ozon dan karbon menjadi lebih banyak,” ujarnya.
Bahan-bahan ini bisa mengganggu proses pernapasan normal, menyebabkan iritasi mata, untuk kadar 0,3 ppm terjadi iritasi hidung dan tenggorokan, kadar 1,0 sampai 3,0 ppm selama 2 jam pada orang sensitif bisa mengakibatkan pusing dan kehilangan koordinasi, lalu pada kebanyakan orang yang terpapar pada kadar 9,0 ppm akan mengakibatkan edema pulmonari.
Perhatikan pula debu-debu yang menempel pada banyak barang-barang atau kertas-kertas yang tidak tersentuh di kolong-kolong meja kerja. Selain itu debu juga banyak beredar karena saluran udara atau AC yang jarang dibersihkan. Debu-debu ini juga membawa partikel-partikel yang bisa mengganggu kesehatan. n kim

Dampak Menggunakan Suplemen
Hasil penelitian menunjukkan, pengaruh sick building syndrome (SBS) berkurang pada karyawan yang selama tiga bulan rutin meminum suplemen antioksidan. Secara periodik, tim peneliti yang dipimpin Dr Budi Haryono mengamati dan berkomunikasi dengan karyawan tentang kondisi setelah menggunakan suplemen secara rutin.

Sebanyak 49 persen keluhan sakit kepala pada responden berkurang, lalu 45 persen mata perih juga berkurang, begitu pula pada hidung tersumbat yang turun hingga 50 persen, radang tenggorokan juga mengalami penurunan sebanyak 27 persen, dan terakhir pegal-pegal pada tubuh juga menunjukkan pengurangan sebesar 41 persen.

”Jadi secara umum, dengan mengonsumsi suplemen antioksidan, pengaruh SBS bisa turun hingga 65 persen,” ujar Budi tentang penelitian yang dilakukan IAKMI bersama PT Bayer Indonesia itu. Makanan sehat yang kaya vitamin dan mineral juga bisa menggantikan suplemen.

Dr Handy Purnama, dari Bayer, menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena tambahan vitamin dan mineral yang masuk dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan. Secara alami tubuh manusia akan langsung bereaksi terhadap radikal bebas. Sistem imun otomatis akan memerangi bahan tersebut.

”Tapi, kalau radikal bebasnya terlalu banyak maka sistem imun ini yang justru tertekan dan radikal bebas bisa berhasil merusak sel,” ujarnya. Tetapi dengan bantuan antioksidan, radikal bebas itu ditahan agar tidak menempel pada sel dengan memberikan energi penyeimbang (donor elektron).

Lebih lanjut Handy menjelaskan, makanan yang mengandung vitamin A dan Zinc bisa menurunkan tingkat energi radikal bebas. Lalu asupan zinc, iron dan copper bisa mencegah terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Kemudian vitamin A, C, E, serta selenium bisa memutus rantai reaksi radikal bebas.
”Makanan sehari-hari memang sudah mengandung vitamin dan mineral ini tetapi karena proses metabolisme dalam tubuh penyerapan itu kadang tidak sempurna,” katanya.

Tips Mengurangi Dampak SBS

1. Secara berkala bersihkan karpet, tirai, gorden, boks-boks berkas yang lama tidak tersentuh.
2. Pemasangan karpet sebaiknya tidak terlalu menempel dengan dinding karena, pengisap debu cenderung kurang bisa menggapai daerah terebut.
3. Tempatkan mesin faks, printer, dan alat fotokopi dalam satu ruangan khusus yang terpisah dengan ruangan kerja.
4. Jika perlu gunakan air cleaner. Alat ini memang tidak sepenuhnya bisa membersihkan udara tetapi paling tidak mengurangi partikel jahat dalam udara.
5. Jika bisa menjamin setiap hari bisa mengonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral, maka suplemen tak terlalu dibutuhkan. Tetapi jika tidak, suplemen bisa sangat membantu.
6. Olahraga rutin, atau sesekali bergerak (tidak hanya duduk saja di tempat kerja) bisa memperlancar metabolisme sehingga badan menjadi lebih fit.  (kim)

Caption:
Alat elektronik di kantor yang banyak menggunakan sinar dan energi panas bisa mengganggu proses pernapasan normal, bisa juga menyebabkan iritasi pada mata dan hidung.

Advertisements
Comments
  1. ikhsan says:

    inilah alasannya mengapa petani yang hidup di desa tubuhnya kuat, tak pernah kena penyakit, dan anaknya banyak. pagi-pagi dia sudah menghirup oksigen yang langsung keluar dari pori-pori dedaunan ketika dia menuju ke ladang, karbohidrat dicerna optimal ketika dia mencangkul, dan protein termanfaatkan dengan baik ketika dia bercinta.hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s