Pink Panther 2

Posted: March 2, 2009 in Resensi Film

Kisah Cinta Detektif Konyol
Gelak tawa masih lebih banyak berasal dari adegan slapstick.

Benda-benda bersejarah di seluruh dunia yang hilang satu per satu seperti kain kafan Turin, Magna Charta, pedang bersejarah Jepang, hingga berlian kebanggaan Prancis, Pink Panther, membuat Jacques Clouseau (Steve Martin) kembali dipanggil untuk memimpin sebuah kelompok elite detektif yang didatangkan dari seluruh dunia.

Maka, hadirlah Pepperidge (Alfred Molina) dari Inggris yang merupakan seorang detektif andal untuk urusan observasi; detektif asal Italia bernama Vincenzo (Andy Garcia); gadget freak dari Jepang, Kenji Mazuto (Yuki Matsuzaki), dan seorang psikolog kriminal cantik asal India, Sonia (Aishwarya Rai). Mereka bertugas menangkap sang pencuri bernama Tornado. Nama itu diketahui melalui kartu nama bertuliskan Tornado yang selalu ditinggalkan di tempat kejadian.

Namun, aksi tim impian itu tak berjalan mulus. Mereka menganggap Clouseau adalah orang yang tidak kompeten, bodoh, dan serampangan. Ditambah lagi dengan upaya Vincenzo untuk mendekati Nicole (Emily Mortimer), sekretaris Clouseau. Padahal, Nicole dan Clouseau sudah mempunyai ‘hubungan spesial’ yang tidak mereka ungkapkan.

Meski tidak sepanjang adegan dapat mengundang tawa, usaha sutradara Harald Zwart menghadirkan atmosfer komedi pantas diapresiasi. Kendati ada kelucuan yang sempat hadir lewat rangkaian dialog, gelak tawa itu masih saja lebih banyak berasal dari beragam adegan slapstick.

Sebut saja seperti orang yang terlempar jauh, tangan terjepit wiper, terempas semprotan pemadam kebakaran, atau yang paling klasik adalah saat Vicenzo, Pepperidge, dan Kenzo terpeleset lalu wajah mereka menimpa kue bergambar wajah mereka masing-masing.

Ringan
Dari segi penceritaan, film berdurasi 92 menit ini justru terasa sangat ringan dan mengalir walaupun ada tambahan-tambahan yang sebenarnya tidak penting. Seperti saat Clouseau harus bertarung dengan anak-anak dari Ponton (Jean Reno) atau ketika Clouseau keramas dengan bantuan Ponton.

Namun, alur cerita yang lebih banyak menyorot Jacques Clouseau menjadikan film ini bak one man show bagi Steve Martin untuk mengeksplorasi gelagat sang detektif yang sejak tahun 1960-an sudah hadir di layar kaca ini. Yang terasa mengganjal pula adalah aksen dari beberapa pemerannya. Kendati ber-setting di Prancis, logat negeri ini hanya terdengar lewat celoteh Clouseau dan Nicole saja. Inspektur Dreyfus justru terdengar seperti orang Inggris, bahkan Jean Reno tidak menunjukkan sengau khas Prancis. Padahal, salah satu daya tarik film ini adalah aksen Prancis yang bila didengarkan juga bisa membuat geli.

Beruntung, urusan aksen ini diselamatkan oleh Andy Garcia. Dengan piawai, Andy Garcia bertutur dengan logat Italianya yang apik, yang bisa membuat wanita jatuh cinta padanya. Apalagi, dengan sikapnya yang elegan. Meski berkisah soal perburuan ala detektif, jangan mengira bahwa cerita ini bakal menyuguhkan misteri.

Bagi mereka yang jeli, hal-hal yang terkait penyelidikan hilangnya benda bersejarah dunia sudah terlalu gamblang terlihat. Pink Panther 2 lebih berkutat pada romansa tersembunyi antara Clouseau dan Nicole yang dibumbui rasa cemburu dari keduanya. Jadi, tak perlu terlalu berpikir tentang cerita. Nikmati saja kekonyolan detektif kocak itu. (kim)

Pemain: Steve Martin, Andy Garcia, Aishwarya Rai
Sutradara: Harald Zwart
Durasi: 92 menit
Produksi: Sony Pictures

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s