Pembatalam Konser

Posted: March 2, 2009 in musik

Di Balik Pembatalan Itu Ada tanggung jawab moral untuk segera menuntaskan seluruh masalah. Baliho besar terpampang di jalan-jalan utama. Promo di media elektronik dan cetak tak kalah gencar dilakukan. Rihanna yang semula batal konser bakal tampil pertengahan Februari. Aliran penjualan tiket tidak pernah berhenti. Namun, semuanya menjadi antiklimaks ketika sebuah berita penganiayaan terhadap penyanyi R&B yang melejit dengan single Umbrella ini menyebar. Buntut insiden ini, sang artis pun memutuskan untuk membatalkan konsernya di Jakarta. Sebelumnya, Rihanna juga pernah dijadwalkan untuk tampil di Indonesia pada akhir 2008. Semua persiapan sudah dilakukan. Namun, seiring pelaksanaan hukuman mati terhadap pelaku Bom Bali I, artis tersebut pun memutuskan untuk membatalkan konsernya karena menganggap keadaan di Indonesia bakal kurang stabil. Buat Adrie Subono, promotor dari Java Musikindo, tak ada hal yang luar biasa dari pembatalan konser tersebut. ”Ini normal-normal saja bagi saya. Bayangkan saja, seorang Rihanna yang biasa tampil cantik dan seksi apa mau nyanyi di hadapan ribuan orang dengan lebam-lebam. Tentu saja wajar dia tidak jadi datang,” ujarnya. Sepanjang 15 tahun bergelut di dunia promotor, pria yang hobi berbaju hitam-hitam ini mengaku sudah 12 kali menghadapi pembatalan konser. Bagi dia, pembatalan konser adalah hal yang normal. ”Artis juga manusia, yang bisa terkena penyakit atau musibah lain,” ujar Adrie. Pernah suatu kali dia ingin mendatangkan The Corrs. Akan tetapi, karena salah satu personelnya mendadak menderita sakit telinga sehingga tidak bisa bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, akhirnya konser pun dibatalkan. Belum lagi urusan kondisi keamanan negara yang juga sangat memengaruhi dunia showbiz ini. Sebuah travel warning yang dikeluarkan sebuah negara agar penduduknya tidak datang ke Indonesia karena kondisinya tidak stabil memang sanggup merusak seluruh rencana pementasan musik. Sejak rentetan peristiwa pengeboman yang terjadi di negeri ini, sejumlah artis luar negeri pun enggan datang ke Indonesia. ”Ini yang menjadi kendala utama mendatangkan artis mancanegara selama saya menjadi promotor,” tambahnya. Asuransi internasional Pengalaman pun menjadi guru yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. ”Kalau ada pembatalan seperti itu, saya tidak akan pernah mau menuntut. Biar bagaimana saya menjaga hubungan baik dengan agen-agen artis luar itu,” ujarnya. Untuk urusan keuangan yang pasti muncul setelah pembatalan itu, dia biasanya menggunakan asuransi internasional untuk konser yang akan digelar. Asuransi penting digunakan, karena pada saat pembatalan artis hanya akan mengembalikan uang fee yang telah dibayarkan sebelumnya. Sedangkan untuk biaya-biaya promosi atau segala tetek bengek persiapan konser, bukan tanggung jawab pihak manajemen artis. Dengan adanya asuransi, kerugian tersebut bisa tertutupi. ”Seperti punya mobil, mau diasuransikan atau tidak, terserah. Tapi, kalau kecelakaan dan mobil rusak, maka akan lebih menguntungkan jika punya asuransi,” ujar Adrie. Besar uang asuransi tersebut tergantung pada kebijaksanaan sang promotor untuk membayarkan preminya. ”Misalnya, sebuah event biayanya 10 ribu perak, nanti bakal dikalkulasikan berapa preminya, lalu tinggal di bayar saja,” lanjutnya. Sayangnya, jenis asuransi macam ini memang belum ada di Indonesia, sehingga harus ke luar negeri untuk mengurusnya seperti di Amerika, Inggris, atau Australia. Kendati begitu, masalah pembatalan tidak selesai begitu saja dengan asuransi. Ada sebuah tanggung jawab moral yang harus dilakukan kepada pembeli tiket dan pihak sponsor. Maka, begitu berita pembatalan itu sudah jelas, sesegera mungkin melakukan kontak dengan media untuk melakukan klarifikasi terhadap peristiwa yang terjadi. Uang dari pembelian tiket harus dikembalikan 100 persen kepada calon penonton. Setelah itu pihak sponsor pun perlu diberikan penjelasan serinci mungkin. Bahkan, harus disertai bukti bahwa kejadian tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada. ”Kita kan tidak mau disebut penipu,” ungkap Adrie.

‘Inilah Bisnis’

Ketika Rihanna menyatakan batal konser di Indonesia, pekerjaan panjang itu pun dimulai. Seperti diungkap Troy Reza Warokka, juru bicara Showmaster, perusahaan yang bakal menggelar konser Rihanna, saat terjadi pembatalan maka yang dia lakukan pertama kali adalah merujuk pada kontrak yang telah dibuat sebelumnya. ”Dari situ kita lihat hak dan kewajibannya,” ujarnya. Manajemen artis Rihanna wajib mengembalikan uang pembayaran artis 100 persen sesuai dengan yang sudah dibayarkan.

Setelah permasalahan dengan artis yang batal manggung itu selesai, secepatnya Troy kemudian memberikan informasi secepatnya pada masyarakat. ”Waktu itu kami langsung memberikan keterangan resmi ditambah lagi dengan bukti yang berupa hasil korespondensi dengan manajemen Rihanna,” ungkapnya.

Uang tiket yang telah dibayarkan pun mereka kembalikan 100 persen. Selanjutnya, pihak sponsor juga wajib mendapatkan penjelasan yang rinci terhadap pembatalan konser tersebut. ”Jadi, kuncinya adalah penyebaran informasi yang jelas dan akurat setelah pembatalan yang terjadi,” ujarnya. Bagi Troy, kegagalan ini hanya merupakan sebuah fenomena bisnis yang biasa.

Dia pun tidak akan berhenti mendatangkan artis luar negeri karena¬† menilai pekerjaan sebagai promotor merupakan sebuah usaha untuk mempromosikan Indonesia. ”Saat artis luar datang ke Indonesia, semua mata dunia bakal melihat ke sini. Nah, inilah saatnya kita menunjukkan Indonesia,” katanya. Seperti kata Adrie Subono, ”Ini bisnis. Semua bisa saja terjadi dan yang namanya bisnis tidak selamanya akan selalu mulus.”

Gurihnya Showbiz

Demi menjadi promotor, Adrie Subono rela meninggalkan bisnis yang semula sukses juga digelutinya. ”Saya lihat ada uang dan peluang bisnis yang besar sekali. Peluang itu saya lihat karena perputaran uang di Amerika itu habisnya pada hiburan,” kata Adrie. Terbukti, intuisi itu tepat. Nama Adrie Subono dan Java Musikindo kini bak ikon untuk dunia promotor Tanah Air. Hingga kini, dia sudah mendatangkan sekitar 100 artis luar negeri ke Indonesia.

Baginya, promotor yang profesional tidak akan pernah kehabisan pekerjaan karena tidak mungkin seorang penyanyi atau grup band besar bakal menjual tiket konsernya sendirian, sehingga mereka membutuhkan orang seperti dirinya. Grup band atau penyanyi luar negeri yang bakal tampil di Indonesia juga tidak mungkin akan membawa promotor dari negara asalnya. Mereka pasti akan menggunakan promotor dari Indonesia. ”Selain itu, pasti akan muncul band-band baru yang tentu butuh promotor juga,” kata Adrie. ”Bisnis ini tidak akan pernah mati.” (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s