Ekspresi Duo

Posted: February 17, 2009 in musik

Ekspresi Duo
DUO INDONESIA HANYA LEWAT SAJA DAN BOOMING SEBENTAR.

Siapa yang tidak mengenal Roxette? Untuk para penggemar musik era 1980- 1990-an, duo asal Swedia ini menghadirkan kenangan sendiri. Kombinasi Marie Fredriksson dan Per Gessle itu pun menelurkan sejumlah lagu hits seperti The Look, Listen To Your Heart, It Must Have Been Love, dan Joyride. Meski sempat terbentur masalah kesehatan salah satu personelnya, mereka berhasil bertahan hingga 20 tahun.

Di Indonesia, kita lebih dulu mengenal duo unik, Duo Kribo, lewat sosok Ahmad Albar dari God Bless dan Ucok Harahap (AKA). Meski konsep duo itu diambil oleh sang produser lantaran mengacu pada tatanan rambut keduanya yang kribo dan karakter bernyanyi yang nge-rock, lagulagu mereka banyak dinyanyikan ulang. Seperti lagu Panggung Sandiwara karya Ian Antono dan Taufik Ismail yang diambil dari album ketiga Duo Kribo tahun 1978 berjudul sama.

Ada pula duo Franky and Jane yang merupakan kakak beradik Sahilatua yang mencuat dengan lagu Perjalanan atau Bis Kota. Kemudian pada rentang waktu tahun 1980-1990-an, muncul dua format duo lagi seperti 2D yaitu Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra yang sempat menelurkan tiga album, serta Humania dengan personel EQ dan Heru yang justru banyak berkembang di Australia dengan musik reggae dan R&B.

Saat ini format duo mulai banyak bermunculan lagi seperti duo Maia, T2, Tantra, The Sisters, Kingkong, dan Pasto. ”Duo ini merupakan salah satu bentuk ekspresi bermusik,” ujar Denny MR, salah seorang pengamat musik Indonesia. Sayangnya, ”Di Indonesia, format duo belum pernah ada yang menjadi tren. Semua hanya lewat saja dan booming sebentar,” ujar Denny MR, salah seorang pengamat musik Indonesia.

Aneka masalah tak ayal mendera eksistensi si duo. Duo Kribo sulit untuk bersatu lagi karena terpisah oleh jarak. Ahmad Albar berada di Jakarta dan Ucok Harahap di Surabaya. Selain itu, Ahmad Albar justru memilih untuk lebih mementingkan bandnya, God Bless, sehingga meredupkan nama Duo Kribo. Kendati begitu, ”Sebagai sebuah komoditi musik mereka berhasil,” kata Denny.

Franky and Jane pun akhirnya tak lagi terdengar gaungnya. ”Mereka memang sedikit bertahan lama karena satu keluarga,” ujar Denny. Untuk menciptakan sebuah konsep duo yang menarik bukan pekerjaan mudah. Ini harus melibatkan harmonisasi vokal dan interaksi personelnya yang seimbang. Hingga akhirnya, ”Semua kembali kepada materi yang mereka tawarkan apakah bisa memberikan kesegaran atau tidak,” lanjut Denny.

Lebih simpel
Bagi para personelnya, format duo justru terasa lebih mudah dan simpel. Ini pula yang dirasakan Tantra, duo di antara Heriawan Setiyono dan Sarah Imelda Joan Pinontoan. Sebelumnya, mereka aktif dengan band masing-masing. Namun, setelah mereka dipertemukan oleh teman yang sama, keduanya memilih untuk berduet. ”Karena kita berdua cocok dan setuju dengan konsep duo maka kita kerja sama,” ujar Heriawan. Tantra kemudian lahir dengan konsep yang sama seperti Roxette dari Swedia. Bagi Heriawan, bermusik sebagai duo terasa lebih simpel ketimbang dalam format band. ”Kalau duo nggak perlu banyak orang buat mikir. Cuma kita berdua saja,” ujarnya.

Duo Pasto punya pendapat serupa. ”Kalau berdua untuk mengambil keputusan lebih gampang,” ungkap salah seorang personel Pasto. Dulu, ketika terbentuk pada tahun 2002, Pasto memiliki empat personel. Akan tetapi, karena visi yang sudah mulai berbeda, dua orang yang lain memutuskan untuk mundur meski mereka sudah berhasil meluncurkan album perdana, I Need You. Memasuki 2008, personel Pasto hanya menyisakan Rayeen dan Meeltho.

Kendati begitu, tak berarti segalanya berjalan mulus-mulus saja. Personel yang tinggal dua orang membuat mereka kesulitan untuk menggali ide. Selain itu, masalah teknis dan pemikiran konsep juga menjadi kendala. Namun, lambat laun masalah itu bisa teratasi. Bahkan, pembagian suara yang tadinya untuk empat orang kemudian menjadi dua orang pun sudah bisa diakali.

Semua itu bisa dilewati karena mulai terbentuk saling pengertian di antara personelnya. ”Kita sering share dan tukar pikiran,” ujar Rayeen. Soal perbedaan pendapat, bagi dia, ini merupakan suatu yang alamiah. Namun, karena sudah sepaham permasalahan itu bisa dilalui. ”Jadi, istilahnya dari empat orang itu, kita berdua ini yang lulus ujian,” tambahnya. Mereka pun berniat untuk meluncurkan album kedua pada tahun 2009 ini.

T2 alias Tika dan Tiwi pun mengalami pasang surut berduo. ”Apalagi kita sama-sama cewek,” ujar Tiwi. Sifat alamiah perempuan yang lebih sering menggunakan perasaan juga sedikit banyak mempengaruhi mereka. Permasalahan internal masingmasing personelnya bisa mengarah pada mood saat tampil atau berdiskusi. Namun, karena perkenalannya yang sudah lama terjalin lantaran sebelumnya Tika dan Tiwi samasama menjadi finalis di salah satu ajang pencari bakat, masalah itu bisa diatasi secara profesional. ”Apalagi aku dan Tika tinggal serumah, jadi sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ujar Tiwi. kim

Berbalas Lirik
Duo, bagi Bens Leo yang juga pengamat musik, adalah salah satu alternatif untuk menyuguhkan variasi dalam belantika musik negeri ini. ”Duo tentu saja mempunyai harmonisasi yang lebih beda dari solo,” ujarnya. Karena kekuatan harmonisasi itu bisa memperkaya ekspresi musik, kebanyakan penyanyi solo pun menggandeng penyanyi lain untuk berduet sehingga bisa tampil berbeda. Dalam bernyanyi duo, kelebihan lain yang sangat bisa dieksplorasi adalah lirik saling balas. Apalagi, jika personel duo itu laki-laki dan perempuan yang memang memiliki karakter suara yang berbeda.

Dengan konsep seperti itu, Bens menjelaskan, dapat membantu personel duo yang tidak kuat secara teknis. Dia kemudian mencontohkan Maia yang lebih kuat pada pembuatan lagu dan arransemen yang terbantu dengan kehadiran Mey Chan untuk vokalnya. Kombinasi inilah yang justru memberikan keunikan tersendiri dari duo tersebut. Sedangkan dari sudut pandang produser, pembentukan duo lebih didasarkan pada proses alamiah. ”Faktor alam saja,” ungkap Rahayu Kertawiguna dari Nagaswara.

Saat menilai dua orang pantas untuk menjadi duo, maka dia langsung mengorbitkannya tanpa terlalu berpusing dengan hal-hal yang muncul setelahnya. ”Dalam berkesenian itu kita seperti air mengalir saja,” lanjutnya. Di bawah bendera perusahaannya, dia berhasil mengorbitkan banyak duo seperti T2, The Sisters, Kingkong, Mahadewi, atau The Virgin.

Namun, untuk mempertahankan duo tersebut tetap berada dalam pasaran, bukan hal yang mudah. Apalagi, bila salah satu personelnya adalah bintang sinetron seperti yang terjadi pada duo The Sisters. Padatnya jadwal shooting Shireen Sungkar cukup mengganggu kegiatan The Sisters, begitu pula jadwal Aldy Taher yang susah untuk disatukan dengan Kingkong. ”Kita sulit cari waktu untuk promosi,” ujarnya. Efek seperti inilah yang biasa muncul karena idealismenya tentang faktor alam tadi. Tapi untuk mengatasi hal tersebut, dia lebih banyak menggeber promosi pada masa-masa cuti mereka. (kim)

Advertisements
Comments
  1. muhamaze says:

    aku pertamo…
    hayo siapa keduo..

    salam kenal aja,
    pemerhati musik ya??
    salut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s