Tren Musik 2009

Posted: February 14, 2009 in musik

GILIRAN BAND INDIE UNJUK GIGI
VOLUME PRODUKSI ALBUM BAKAL TERIMBAS KRISIS GLOBAL. PROMOSI PUN DITEMPUH TERUTAMA LEWAT INTERNET.

Lagu Kepompong milik Sindentosca muncul pada kuartal terakhir 2008. Tidak menawarkan tema cinta, Jalu, sang penyanyi dan pencipta lagu tersebut, justru melantunkan cerita tentang persahabatan yang inspiratif. Pun yang dilakukan grup band The Changcuters. Mereka tampil dengan lagulagu bercorak rock n roll, seakan memberi kesegaran dan pilihan dalam mendengarkan musik.

Moh Tria Ramadhani alias Tria (vokal), Muhammad Iqbal atau Qibil (backing vocal & gitar), Arlanda Ghazali Langitan atau Alda (gitar), Dipa Nandastra Hasibuan atau Dipa (bass), dan Erick Nindyoastomo alias Erick (drum), juga selalu heboh ketika beraksi di atas panggung, dan ini memberikan hiburan tersendiri bagi penonton. Ya, keduanya sanggup mencuat di tengah demam musik pop yang mendayu yang justru lebih ngetren. Sepanjang tahun 2008, jenis musik semacam itu merajai belantika musik, bersama serentetan grup musik yang terus hadir.

Pertanyaannya kemudian, apakah dinamika musik Indonesia yang tergolong minim variasi, akan tetap bertahan di tahun 2009 ini? Deny Sakrie, pengamat musik, memprediksikan tema cinta memang masih mendominasi di tahun 2009, namun dengan cara penyampaian yang berbeda. ‘’Tema cinta itu sebenarnya tidak akan pernah habis,’‘ ujarnya. Tetapi dia mengakui bahwa di kuartal terakhir tahun 2008, jenis musik cinta yang mendayu-dayu sudah mencapai tiik kulminasi walau respons masyarakat sendiri masih besar.

Murni bisnis
Deni melihat, selama dua tahun terakhir, band-band dengan lagu pop Melayu atau cinta yang mendayu, amat dominan sehingga tidak heran jika aransemen dan rasa lagunya menjadi serupa. Dikatakan, saat ini industri musik sudah mulai bergerak ke posisi yang murni untuk berdagang, sehingga kondisi itu terjadi. ‘’Padahal sebenarnya band-band itu idealis, tapi karena harus mendongkrak penjualan, jadi karyanya ya begitu-begitu saja,’‘ ungkapnya.

Namun, lanjut Deny, bakal ada angin segar dan kejutan-kejutan mendekati akhir tahun. Dia memperkirakan pada kuartal pertama tahun 2009, musisi-musisi seperti Sindentosca atau band indie akan memberikan pengaruh. Kemudian dari musikalitasnya, jenis pop masih kuat karena animo masyarakat. Hanya saja, nantinya akan banyak sekali percampuran dan pengaruh dari aliran R&B, jazz, blues maupun groove.

‘’Sementara rock murni juga akan berusaha muncul lagi seperti yang saat ini terjadi di Amerika Serikat,’‘ imbuhnya. Pengamat musik yang lain, Bens Leo, mengatakan, justru di tahun 2009 musisi yang mengumandangkan lagu-lagu mellow masih banyak bermunculan. ‘’Tapi, dunia musik Indonesia memang sulit ditebak,’‘ katanya.

Hal itu dia contohkan dengan kehadiran Kangen Band yang membuat semua orang bereaksi dan memberikan pengaruh pada musik-musik dengan cita rasa Melayunya. ‘’Oleh karena itu di tahun 2009 sebenarnya tergantung pada musisinya sendiri bagaimana mengemas tampilan musiknya,’‘ lanjut dia.

Sulit
Ada beberapa hal menjadi catatannya. Sepakat dengan Denny, Bens mengungkapkan, gairah semangat indie akan semakin berkembang di tahun baru ini. Para musisi indie makin sering tampil dalam konser atau bahkan merilis album. Sementara untuk jenis musiknya bisa bermacam-macam. Tampilannya pun lebih banyak berbentuk band karena lebih mudah. ‘’Sifat band itu mandiri karena aransemen dan lirik dibuat sendiri, sehingga cost produksinya lebih rendah. Makanya nanti di tahun 2009 masih akan terus bermunculan,’‘ ungkap Bens.

Tentang pengaruh krisis global terhadap industri musik Indonesia, diakui bakal mengakibatkan banyak label kesulitan memproduksi album. Beberapa label besar saat ini justru sudah ‘kegemukan’ karena membawahi banyak sekali artis musik baru.

Oleh karena kesulitan ekonomi yang melanda saat ini, label harus benar-benar memilih musisi mana yang memang layak untuk diproduksi albumnya. ‘’Hal inilah yang bisa membuat produksi berkurang,’‘ ujar Bens.  Karena situasi itu, Bens menyarankan agar para musisi nantinya bisa membuat master sendiri, lalu mencari investor yang mau menangani produksi, baru melangkah pada label untuk pemasarannya.

Jurus Bertahan di Tengah Badai
Tak bisa dimungkiri, penjualan album dalam bentuk fisik (kaset dan CD), telah menunjukkan tren menukik sejak tiga tahun terakhir. Data terakhir dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) menunjukkan hal itu. Sebagai gambaran, pada tahun 1997 angka penjualan album masih mencapai sekitar 90 juta keping. Sebelumnya, album yang terjual di tahun 2007 mencapai 19 juta, dan 24 juta keping pada 2006. Sementara sampai November 2008, baru sekitar 11 juta keping terjual. Banyak hal menyebabkan terjadinya fenomena itu.

Selain masih maraknya pembajakan, juga munculnya jenis media baru, yakni pemutar musik digital yang semakin mudah diperoleh. Menghadapi tantangan yang masih bakal muncul tahun 2009, Bens Leo menyarankan agar manajemen dalam grup musik, grup vokal atau penyanyi solo, semakin diperkuat. Inovasi-inovasi harus selalu dimunculkan agar pendengar tidak cepat bosan. Tapi meski RBT masih menjadi jalan keluar untuk menghimpun dana, dia tetap yakin bahwa album fisik tidak akan hilang.

‘’Kita tidak boleh memutus tradisi merekam atau mencetak album karena itu adalah salah satu bukti eksistensi seorang musisi. Meski sekarang sudah serba digital, tapi bentuk fisik masih sangat penting,’‘ paparnya. Denny Sakrie justru kian prihatin. Kini, tanpa harus membeli album musik, seseorang sudah bisa menikmati alunan lagu dari pemutar musik MP3 setelah mengunduh di sana-sini atau membeli satu keping CD berisi ratusan lagu dari berbagai jenis musik dalam format MP3.

‘’Musik itu hiburan. Jadi, kalau bisa dapat hiburan dengan harga yang lebih murah, mengapa harus beli yang mahal,’‘ kata Deny memperkirakan perilaku masyarakat Indoensia terhadap musik. ‘’Apalagi saat ini kondisi semakin sulit sehingga orang akan memburu yang paling murah. Tidak semua orang music minded, urusan perut lebih penting.’‘ Karena itulah, hingga tahun 2009 ini, ring back tone(RBT) masih menjadi idola bagi insan musik untuk tetap hidup. ‘’Bisa dibilang RBT itu penyelamat industri musik,’‘ kata Denny.

Selain RBT, pemusik juga masih bergantung pada konser-konser untuk mendapatkan uang. Ditambah lagi dengan keikutsertaan menjadi ikon iklan atau melakukan penjualan merchandise. Bukan hanya itu, para pemusik juga mulai menggunakan berbagai macam media untuk berpromosi melalui internet. ‘’Namun, tetap saja, konser masih menjadi acuan karena di Indonesia ini internet kanbelum menyentuh semua kalangan,’‘ ujar Deny. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s