Tangga

Posted: February 14, 2009 in musik

Rasa Musik Eropa Dari Tangga
DUA HAL MENJADI KEUNGGULAN GRUP MUSIK INI, PERCAMPURAN BERAGAM UNSUR MUSIK DAN KARAKTER VOKAL PARA PERSONELNYA.

Alunan musik Waltz begitu terasa. Tembang O Teganya milik grup musik Tangga dari album OST Lost in Love, yang mengalir dalam tempo sedang, menjadi kian syahdu begitu memasuki bagian reffrain dengan deretan syair yang mendayu.

Kini aku di sini,
Cuma sendiri,
Tiada yang mencari,
Sampai hati,
Sampai begini.

Sejatinya, iringan nada Waltz kurang lazim diterima di Indonesia. Selain memang berasal dari benua Eropa, warna musik jenis ini dianggap kurang mengena jika disandingkan dengan corak pop yang duluan ngetren.

Tapi tidak demikian halnya yang dilakukan Tangga. Mereka berani meramu irama dansa Waltz dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia yang penuh aroma cinta. Dan terbukti, kreasi musik mereka dapat diterima luas. Simak lagu O Teganya tadi. Berkat fusion dua budaya itu, lagu ini jadi punya sentuhan unik. ”Coba saja dengar di radio, setelah beberapa lagu terus ada lagu O Teganya, rasanya pasti beda banget,” ujar Mohammed Kamga, salah satu personel Tangga.

Diakui Kamga, sapaan akrabnya, ini merupakan kali pertama mereka memakai musik Waltz. Nuansa Eropanya amat kental, ada bunyi-bunyi akordeon, ketukan 3/4. Di Indonesia sendiri bukannya tidak pernah ada musik seperti ini, tapi di tahun-tahun belakang, jarang yang memakainya. Maka tak mengherankan, bila O Teganya lantas didapuk menjadi satu dari dua lagu paling spesial milik Tangga. Satunya lagi adalah tembang Hebat, yang terdapat pada album perdana, Tangga (2005).

Harmonis
Lagu Hebat, adalah salah satu single yang tidak termakan oleh waktu. Meski sudah lewat 20 sampai 30 tahun mendatang, lagu tersebut masih tetap bisa dinikmati, karena musiknya yang menyenangkan. Efek seperti itulah yang ingin dimunculkan kembali melalui O Teganya. Keunikan memang menjadi modal dasar Tangga untuk bisa terus berada di hati para penggemarnya. Dan itu didapat dari penggabungan perbedaan rasa lagu serta karakter suara personelnya yang diramu dengan harmonis. Nerra Merlin memberikan nuansa pop yang girly dengan suara mezzo sopran-nya. Kamga yang sangat kuat dengan karakter black music dan R&B memberikan kesan ngebeat melalui vokal bariton yang dimilikinya.

Tahir Hadiwijoyo, atau lebih dikenal dengan panggilan Tata, yang sangat menyukai rock dan musikmusik bernuansa distorsi, mengisi paduan vokal Tangga dengan nada-nada rap dan suaranya yang nge-bass. Terakhir, anggota baru yang bergabung setelah Desty mengundurkan diri tahun 2006, Chevrina Anayang, menambahkan tone suara unik menggantikan jenis suara alto Desty sehingga melengkapi grup vokal tersebut. ”Kita ini grup vokal yang berusaha memaksimalkan kelebihan-kelebihan yang kita punya masingmasing,” ujar Kamga.

Proses itulah yang menjadikan hampir semua lagu di tiga album yang sudah diluncurkan, sangat bervariasi. Masing-masing personel mendapatkan bagian untuk menjadi lead dalam lagu, hingga dalam satu album warna-warni musik Tangga bisa dirasakan melalui karakter personelnya. ”Sejak awal, Tangga memang sudah dikonsepkan tiga vokal dan satu rap, ini tidak akan diubah. Meski nanti misalnya aku menyanyi satu dua lagu tapi selebihnya akan lebih ditonjolkan rap-nya,” ujar Tata yang sangat senang dengan pertunjukan live di atas panggung karena bisa mengubah aransemen sesukanya.

Pengertian
Adalah produser, musisi, arranger, sekaligus vocal director Harry Budiman, yang banyak berperan pada musikalitas Tangga. Seperti dikatakan Tata, Harry terlibat hampir di semua lini pembuatan musik dan lagu mereka. Bersama-sama, mereka membicarakan porsi menyanyi dalam sebuah lagu. Tidak jarang satu persatu personel Tangga diminta untuk mencoba menyanyi dan akhirnya diputuskan salah satu menjadi lead dengan karakter suara paling cocok dengan lagu. ”Jadi, tergantung penentuan bagian. Ada yang kita tentukan, ada yang dari produser. Reff-nya kita ambil siapa yang lebih cocok. Kalau liriknya lebih tentang wanita, maka yang lebih banyak ngambil leadnya wanita,” Chevrina menambahkan.

Selain dibantu Harry Budiman, untuk soal lirik, Tangga masih mendapatkan bantuan dari Johandi Yahya yang juga merangkap sebagai manajer melalui Oxygen Entertainment. Proses kreatif ini memang tidak sepenuhnya bisa mulus, tetapi karena kebersamaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun, saling pengertian pun muncul. ”Kalau kita niatnya menonjolkan diri masing-masing, nanti sebuah lagu bisabisa tidak jadi-jadi,” lanjut Tata.

Sebelum ke Pentas Dunia
Perhatikan ketiga album milik Tangga. Di situ, selalu ada lagu, atau insert berbahasa Inggris. Bahkan di album OST Lost in Love, ada tembang dengan lirik bahasa Prancis. Akan tetapi, meski banyak menempatkan insert berbahasa Inggris, Tangga belum terpikir membuat satu album penuh berbahasa Inggris, dalam waktu dekat. ”Pernah sih ada satu lagu yang penuh berbahasa Inggris, tapi untuk satu album nanti dulu,” kata Kamga.

Menurut dia, Tangga belum akan membuat album berisi lagu-lagu berbahasa Inggris penuh, karena melihat masih banyak orang Indonesia yang belum bisa berbahasa Inggris. Populasi mereka yang bisa mengerti bahasa Inggris jauh lebih sedikit dari pada yang belum mengerti.

”Mendidik orang untuk berbahasa Inggris dengan lagu memang bagus, tetapi kalau satu album semua pakai bahasa itu, maka hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang mengerti saja,” ungkapnya. Tetapi walau begitu, lagu berbahasa asing juga menjadi pemikiran mereka untuk go international kelak. Untuk menuju ke arah itu, saat ini Tangga berusaha agar musik-musik unik garapan mereka dapat disukai oleh publik Indonesia. ”Kalau buat aku, ketika memutuskan go international tapi belum menguasai pasar di Indonesia, itu seperti gerakan putus asa,” tutur Kamga.

Dia berprinsip, jika musik yang diusungnya bersama teman-teman memang jarang didengar di Indonesia karena keunikannya, maka dia akan berusaha membuat orang-orang di negerinya sendiri untuk menyukai jenis musik baru, lalu setelah itu melaju ke dunia internasional. ”Musisi bagus kalau mentalnya menyerah sama pasar ya akhirnya pasar hanya akan mendapatkan itu-itu saja. Tapi kalau ada jenis yang baru maka pasar Indonesia akan semakin kaya,” tegasnya.

Percaya Diri Chevrina
Perjalanan karier Tangga dimulai tahun 2003. Kala itu, inti dari Tangga baru Nerra dan Tata. Mereka lalu mengadakan audisi tertutup yang mempertemukan mereka dengan Kamga dan Desty. Sekian tahun bernyanyi bersama, akhirnya pada 2005, mereka meluncurkan album pertama self title. Single Terbaik Untukmu dan Hebat menjadi perkenalan yang mengesankan bagi masyarakat Indonesia, dan menjadi top request di beberapa stasiun radio.

Masalah sempat muncul ketika Desty memutuskan mundur di tahun 2006, tepat sebelum pengerjaan album kedua. Akan tetapi, kehadiran Chevrina yang mengisi kekosongan personel, sanggup membuat semuanya berjalan normal kembali, dan hadirlah album kedua, Cinta Begini (2007).

”Dia itu satu tempat les vokal aku dan Nerra. Nah saat Desty mengundurkan diri, akhirnya kita minta bantuan sama guru dan akhirnya ketemu dengan Chevrina melalui sebuah audisi,” jelas Tata. Bagi Chevrina sendiri, awalnya dia mengaku agak kesulitan mencocokkan diri dengan personel yang lain. Tapi untuk mengatasinya, dia punya trik jitu. ”Percaya diri, mengerti dan memahami.” (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s