Shine A Light

Posted: February 14, 2009 in musik, Resensi Film

Semangat Di Masa Tua Rolling Stone
“Gitar” ujar Martin Scorsese kepada salah satu krunya. Sayatan gitar dari Keith Richard pun mulai menyetrum ribuan penonton yang memadati Beacon Theater, New York, diikuti dengan kamera yang langsung menyorot permainan gitarnya.

“I was born in a cross-fire hurricane
And I howled at my ma in the driving rain
But it’s all right now, in fact it’s a gas
But it’s all right, I’m Jumpin’ Jack Flash
It’s a gas, gas, gas..”

Lagu ‘Jumping Jack Flash’ pun melantun melalui bibir ikonik sang vokalis, Mick Jagger. Konser amal Rolling Stone di New York tahun 2006 dari rangkaian tur keliling dunianya ini pun dimulai dengan gemuruh permainan musik band gaek ini. Tidak seperti konser biasa, kali ini melalui mata kamera arahan, Martin Scorsese, gejolak bermusik itu diabadikan dalam film dokumenter berjudul Shine A Light (juga merupakan judul lagu milik Rolling Stone).

Seperti hal nya sebuah dokumenter, film dengan durasi sekitar dua jam ini juga merekam hal-hal di luar pertunjukan musik dari grup band kontroversial itu. Pada 10 menit pembukaan film ini, ditunjukan bagaimana sibuknya Marty, panggilan akrab Martin Scorsese, mengkordinasikan sebuah konser yang layak untuk direkam dalam melalui kamera. Kejadian-kejadian selama persiapan itu juga terkadang membuat penonton secara cuma-cuma menyunggingkan senyum. Seperti saat Mick Jagger mengomentari miniatur konsep panggung yang menurutnya seperti panggung boneka. Atau saat Mick dan Marty yang terpisah oleh jarak (Marty di New York dan Mick serta Roliing Stonenya sedang tur keliling dunia) berdebat alot soal 18 kamera yang dipasang untuk mengabadikan konser amal itu. Melalui telepon Mick menganggap kamera terlalu banyak dan untuk kamera Jimmy Jip baginya bisa merusak kenyamanan penonton serta berbahaya, namun hanya ditanggapi dingin oleh Marty.

Melalui dokumenter ini pun para penggemar Marty diajak untuk melihat bagaimana sutradara film-film hebat seperti Mean Streets, Raging Bull, Casino, dan The Departed ini merencanakan sebuah tontonan yang menarik. Seperti saat dia mengeluh karena list lagu yang bakal dimainkan belum juga dipastikan padahal hari-hari menjelang konser semakin dekat. List tersebut sangat membantunya untuk merencanakan bagaimana pengambilan gambar selama pertunjukan berlangsung. “Tenang malam ini list itu bakal sudah ada,” ujar Mick menanggapi kepanikan Marty karena hari itu sudah memasuki hari pertunjukan.

Selama lebih 40 tahun Rolling Stone berkarir di dunia musik dunia, para personelnya memang terkenal dengan sikap cuek dan perilaku yang kontroversial. Tapi justru band asal London ini bisa bertahan sangat lama meski Mick Jagger dan gitaris Keith Richards sudah berumur 64, lalu Ronnie Wood yang juga memainkan gitar sudah menginjak umur 60 tahun, serta sang drummer Charlie Watts sudah berusia 66 tahun. Dalam film ini semangat Rock n Roll mereka tampak tidak pernah padam. Mick masih saja lincah menguasai panggung walau Charlie sudah tampak kepayahan dengan permainan drumnya.

Cuplikan-cuplikan hitam putih wawancara band yang terbentuk tahun 1962 ini dalam masa-masa gemilang karirnya juga dikemas apik untuk merekam semangat yang enggan untuk padam itu. Seperti saat seorang wartawan yang bertanya pada Mick Jagger yang saat itu masih sangat muda tentang bayangan apa yang bakal dia lakukan ketika sudah berumur 60 tahun. “Mudah” kata Mick sambil tersenyum.

Untuk menggarap rangkaian dokumenter ini, sutradara pemenang Academy Award ini tidak sendiri. Dia mendapat bantuan Robert Richardson yang pernah memenangkan piala Oscar untuk memegang kendali atas 18 kamera yang digunakan. Film ini juga mendapat sentuhan editing dari David Tedeschi yang sudah bekerjasama dengan Marty dalam film musik dokumenter tentang Bob Dylan, No Direction Home: Bob Dylan. Potongan-potongan editing terasa mengalir selama pertunjukan berlangsung, David seakan tahu bagaimana mengalihkan satu momen dengan momen yang lain dari 150.000 meter pita seluloid yang digunakan untuk merekam konser itu. Perpotongan yang pas terlihat ketika kamera langsung beralih pada permainan jari-jari Buddy Guy saat memetik gitar ketika berduet dengan Keith Richard.

Film Shine A Light ini memang ditujukan bagi para penggemar setia musik-musik Rolling Stone. Bagaimana tidak karena 90 persen tontonan berupa pertunjukan musik mereka di New York itu. Pertunjukan yang menyuguhkan kolaborasi luar biasa dengan Jack White III, lalu legenda blues Buddy Guy, serta si sensual Christina Aguilera. Sebuah kombinasi yang membuat film ini sangat cocok untuk diputar di gedung bioskop lengkap dengan sistem Dolby atau THX agar permainan musik mereka bisa ditangkap dengan sempurna. Tetapi bagi mereka yang awam dengan legenda Rock and Roll ini akan sulit mengikuti isi film selain hanya menikmati seluruh lagu-lagunya. Karena cuplikan-cuplikan tentang band ini sangat sedikit porsinya. Film ini sepertinya direkam untuk menunjukan siapa Rolling Stone melalui performa panggung dan lagu-lagu mereka. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s