Science in Music

Posted: February 14, 2009 in Uncategorized

Lantunkan Pesan Siaga Bencana
INDONESIA ADALAH NEGARA PERTAMA YANG MENGEMAS PENYAMPAIAN PESAN SIAGA BENCANA MELALUI MUSIK.

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Ini tembang yang sudah melegenda. Berita Kepada Kawan yang dilantunkan Ebiet G Ade seolah identik dengan perenungan dan pesan, bahwa alam pun bisa tidak bersahabat dengan manusia, dan terus memunculkan bencana. Ebiet sudah menyampaikan itu sejak tahun 80-an lalu. Akan tetapi, jiwa lagu tersebut masih sesuai dengan kondisi saat ini. Bencana datang silih berganti, hampir di seluruh wilayah Tanah Air, dan menimbulkan korban jiwa maupun harta yang cukup besar. Dan jejak Ebiet lantas diteruskan oleh sejumlah musisi yang prihatin terhadap kondisi tersebut, dan menuangkannya dalam karya.

Sebut saja penyanyi senior Iwan Fals pernah mencipta tiga lagu sekaligus antara lain Mencari Yang Dicinta, Saat Minggu Masih Pagi serta Harapan Tak Boleh Mati yang dia persembahkan bagi para korban bencana tsunami Aceh, tahun 2004 lalu. Sementara grup band cadas Jamrud, pernah menggubah lagu Cinta Adalah, menjadi sebuah tembang duka terhadap bencana yang terjadi di Aceh, Nabire, dan wilayah lainnya. Pun penyanyi muda, Tere, ikut mendendangkan lagu Tersenyumlah yang juga sarat pesan tentang kejadian bencana alam yang menimpa.

Album kompilasi
Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, seperti di Indonesia ini, sejatinya, mendapatkan pengetahuan tentang bahaya bencana alam tentu akan sangat membantu untuk lebih mengenal gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi, bagi sebagian orang, cara penyampaian informasi atau pengetahuan melalui sebuah seminar sains, ada kalanya dianggap membosankan, sehingga pesan yang seharusnya sangat penting menjadi tidak tersampaikan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Electrified Record, mencoba untuk mengubah paradigma cara penyampaian bahaya bencana itu. Melalui album kompilasi siaga bencana yang diberi nama Science in Music, mereka mencoba menularkan pengetahuan tentang kewaspadaan terhadap bencana alam, dengan lantunan lagu. Album yang berisi 15 lagu itu ingin menyampaikan pesan bahwa bencana bisa datang kapan saja sehingga harus diwaspadai, dan bukan untuk ditakuti.

Oleh karena itu, lagu yang melantun pun lebih berisi tentang kepedulian, ajakan, himbauan dan informasi tentang bencana. Meski demikian, lirik-lirik lagu tersebut tetap disampaikan secara implisit dan eksplisit. Di antaranya lagu Promises yang merupakan karya orisinal dari grup band Mocca dan belum pernah ada di album komersial mereka. Lagu itu menceritakan tentang janji antara manusia dan bumi yang akhirnya janji itu dikhianati oleh manusia. Selanjutnya ada pula lagu yang secara eksplisit menggambarkan bahwa Indonesia itu rawan bencana seperti lagu yang dibuat dan dibawakan oleh Navicula dengan judul Supermarket Bencana.

Non-komersil
Ke-15 lagu tersebut merupakan hasil sumbangan dari musisi papan atas Indonesia, seperti Franky Sahilatua, NAIF, Samsons, Netral, Saint Loco, Mocca, The Upstairs, White Shoes- &The Couples Company, FrankN’Friends, MGM, Lake of Three, 70’s Orgasm Club, Buset, Efek Rumah Kaca, dan Navicula. Sebelum membuat album tersebut, para musisi itu telah melakukan Workshop bersama LIPI pada bulan April lalu dengan tema Science In Music.

`’Saat workshop mereka tidak hanya ada di dalam ruangan saja tetapi ikut terjun langsung menemui masyarakat di daerah rawan bencana seperti di Biak atau Papua,” ujar Irina Rafliana, penanggung jawab album kompilasi tersebut. Tujuannya selain agar para musisi bisa merasakan pengalaman secara langsung, mereka juga bisa mendapatkan inspirasi dari pertemuan itu. Lebih lanjut Irina menceritakan, album kompilasi itu secara resmi diluncurkan pada tanggal 26 Oktober 2008 pada saat Pameran Nasional Siaga Bencana Nasional di Taman Pintar Yogyakarta.

Kemudian, lagulagu itu juga sudah dipresentasikan dalam International Symposium On Tsunami Warning System di Bali pada pertengahan Nopember lalu. Dalam konferensi internasional itu, Indonesia merupakan negara pertama yang memperkenalkan cara penyampaian pesan siaga bencana melalui musik. `’Sambutan negara lain sangat baik, bahkan delegasi dari Hawaii, Philipina, Thailand dan PBB sendiri ikut membawa album tersebut ke negaranya masing-masing sebagai referensi,” ungkapnya.

Rencananya album yang sudah dicetak sebanyak 5.000 copy itu akan disebarkan secara gratis. `’Bagi yang mau menggandakan dan disebarkan ke temantemannya, juga dipersilakan asalkan gratis dan bukan dikomersialkan,” kata Irina. Untuk membantu proses penyebaran itu, saat ini baru Majalah Hai yang bersedia mencantumkan album kompilasi itu pada cetakan edisi Desember 2008 mereka.

Dari segi penggarapan album, Franky Indrasmoro selaku Penanggung Jawab Album dari Electrified Records, mengatakan prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima bulan. `’Waktu paling banyak terkuras pada pengumpulan lagu. Kalau respons temanteman musisi untuk ikut gabung justru sangat cepat,” ujar pria yang juga merupakan personel grup band NAIF itu.

Lirik Singkat dari NAIF
Penggunaan musik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan siaga bencana dinilai merupakan cara yang paling efektif karena bisa lebih merata dan menyentuh semua lapisan. Menurut Franky Indrasmoro yang akrab disapa Pepeng, masyarakat urban akan sangat kesulitan atau kebingungan jika pesan itu disampaikan secara ilmiah. Musisi mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan bahasa ilmu pengetahuan yang rumit dan sulit dipahami menjadi sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat awam. `’Katanya kan musik itu bahasa yang universal,” ujarnya sambil tersenyum.

Franky menjelaskan sebenarnya cikal bakal album ini adalah dari keterlibatan NAIF dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh LIPI. Sejak tahun 2003 mereka selalu diundang dalam setiap acara LIPI terkait pengetahuan tentang bencana. LIPI menganggap NAIF sebagi band yang peduli dan memperhatikan alam lewat lagu yang berjudul Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia. Lagu itu bercerita tentang pepohonan yang sudah digantikan oleh gedunggedung bertingkat. “Pertama kali kita ikut kegiatan mereka yaitu tentang selamatkan terumbu karang,” ujarnya.

Mulai dari perkenalan dan undangan-undangan kegiatan itu, Franky dan kawan-kawannya di NAIF merasa mendapatkan banyak pengetahuan tentang bencana yang ternyata sangat rawan untuk terjadi di Indonesia. “Dari mengikuti kegiatan LIPI itu kita jadi banyak belajar,” katanya. Bahkan NAIF sempat membuat lagu yang liriknya berisi tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Lagu tersebut sangat melekat di kepala anak-anak karena liriknya yang singkat. Yaitu, ‘Kalau ada gempa, lindungi kepala, kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa jauhi kaca, kalau ada gempa lari ke lapangan terbuka’.

Karena kepeduliannya dan manfaat dari kegiatan yang sering digelar oleh LIPI, Franky mulai berpikir bahwa dengan sebuah komunikasi yang dikemas dengan baik maka pesanpesan tentang bencana itu bisa disampaikan. Sebuah obrolan ringan antara dirinya dan teman-teman dari LIPI pada tahun 2005 memunculkan ide konsep sosialisasi melalui musik. Namun, ide itu sempat selama satu tahun mengendap.

Lalu pada tahun 2006 gagasan itu muncul kembali dan mulai mendapat tanggapan serius. Franky sebagai produser pun kemudian mencari band-band yang sesuai untuk mengisi album kompilasi tersebut. `’Kita pilih band yang tidak terikat dengan label agar birokrasinya lebih mudah,” ujarnya. Proses penawaran kerja samanya hanya melalui komunikasi berantai antarteman atau bergerilya. Hasilnya, respons dari musisi sangat besar.

Terbukti sekitar 40 band yang menyatakan keinginannya untuk bergabung. Tetapi karena hanya akan ada 15 band saja yang bisa masuk dalam album maka seleksi yang digunakan dengan sistem deadline. Yaitu pada tanggal tertentu band yang belum menyerahkan lagu akan didiskualifikasi. NAIF sendiri membuat sebuah lagu khusus untuk album ini berjudul Alam Semesta. Pembuatan lirik dan lagunya membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan proses rekamannya justru sangat cepat karena hanya menggunakan alat musik piano saja. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s