Penyakit Kawasaki

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Penyakit Kawasaki
Waspadai bila balita demam tinggi dalam waktu yang lama.

Kematian Jett Travolta (16 tahun) dua pekan silam menyentak publik. Anak aktor kenamaan Hollywood John Travolta ditemukan tewas di bak mandi saat berlibur bersama keluarganya di Bahama. Penyebab pasti kematiannya masih belum bisa ditentukan. Usut punya usut pada usia dua tahun Jett pernah menderita penyakit kawasaki. Tersiar kabar bahwa kematiannya diakibatkan karena serangan jantung akibat dari akumulasi kerusakan pembuluh jantung sejak terkena penyakit tersebut.

”Saya sendiri kurang yakin kalau anak John Travolta itu meninggal karena penyakit kawasaki. Tapi, memang pengaruh paling fatal dari penyakit itu adalah kerusakan pembuluh jantung,” ujar dr Najib Advani SpA (K) M Med, pakar penyakit kawasaki dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh dr Tomisaku Kawasaki pada 1967 di Jepang. Di Negara Matahari Terbit itu penyakit tersebut mengenai 50-100 kasus per tahun.

Di Indonesia, penyakit kawasaki ini, menurut Najib, sudah ditemukan sudah relatif lama. ”Kalau saya pertama kali menemukan kasus penyakit kawasaki pada 1996 tapi sebelum itu pernah ada yang menemukan pada 1980-an,” ujarnya. Najib Advani memprediksi setidaknya ada 5.000 kasus baru penderita kawasaki setiap tahunnya. Namun, hanya sekitar 100 sampai 200 kasus yang terungkap sehingga masih ada ribuan kasus penyakit kawasaki yang masih belum diketahui. Sebagian besar menyerang anak di bawah lima tahun terutama pada umur dua sampai tiga tahun. Sebanyak 65 persen merupakan anak keturunan Tionghoa, Jepang atau Korea.

”Tapi tentang penyebabnya sampai saat ini kami belum bisa memastikannya,” ungkap Najib. Hal tersebut terjadi karena kesadaran medis di kalangan masyarakat masih belum terbangun. Ditambah lagi beberapa kasus penyakit kawasaki justru mengalami kesalahan diagnosis karena adanya kesamaan gejala.
””Sering penyakit ini justru terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong,” ungkap dokter yang pernah mempelajari tentang kardiologi anak di Belanda ini.

Perlu obat khusus
”Tapi sebenarnya yang harus ditakuti dari penyakit ini bukan dari gejalanya tetapi jika tidak tertangani penyakit ini mengakibatkan peradangan pada pembuluh darah, dan yang paling fatal pada pembuluh darah di jantung,” ungkap Najib. Penyakit kawasaki tidak menular, biasanya terjadi pada anak laki-laki.
Menurut Najib, gejala tersebut bersifat self limiting pada beberapa kasus sehingga bisa hilang dengan sendirinya, tetapi justru akibat yang ditinggalkannya bisa mengakibatkan penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah di jantung. ”Sekitar 20 sampai 40 persen anak pembuluh di jantungnya terganggu karena penyakit ini.”

Penyakit tersebut meulai menyerang daerah jantung setelah hari ke-7-8 sejak awal timbulnya demam. Dimulai dengan munculnya pelebaran pembuluh darah sehingga memicu terjadinya penyempitan atau sumbatan. Akibatnya darah yang masuk ke jantung akan terganggu sehingga menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dalam istilah medisnya disebut infark miokard. Kematian dapat terjadi pada 1 sampai 5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15 sampai 45 hari setelah awal timbulnya demam.

Untuk menangani penyakit ini, dibutuhkan obat khusus untuk mengurangi dampak dari penyakit. Obat yang bernama imunoglobulin tersebut harus diberikan selama 10 sampai 12 jam dengan cara melalui infus. Saat ini harga obat tersebut sebesar Rp 1 juta per satu gram. Padahal untuk menangani kasus penyakit yang dinamai sesuai penemunya itu harus dengan perhitungan dua gram obat per berat badan penderita. ”Kalau anak beratnya 10 kg, berarti dia membutuhkan sekitar 20 gram obat yang harganya bisa mencapai Rp 20 juta,” kata pimpinan Kawasaki Center yang berada di RS Omni International Alam Sutera, Serpong Tangerang itu.

Meskipun terkadang gejala penyakit ini hilang dengan sendirinya (dalam beebrapa kasus saja), potensi terkena serangan jantung baru akan terjadi setelah bertahun-tahun. Pembuluh koroner yang sudah mengalami kelainan pada lapisan dalam akan memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa muda kelak. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda ada kemungkinan pada masa kanak-kanaknya orang tersebut pernah terkena penyakit kawasaki.

Konsumen Obat Pengencer Darah Seumur Hidup
Grace Octavia Tanus (10 tahun) tidak tampak berbeda dengan gadis-gadis cilik yang lain. Dia masih beraktivitas dan bersekolah di SD IPEKA Puri, Jakarta, seperti biasa.
Tapi, siapa sangka putri dari Soeyanny Tjahja itu harus mengonsumsi obat pengencer darah seumur hidup dan beberapa vitamin untuk jantung. Bahkan saat gadis mungil ini terlalu lelah, ia akan terus merasa sesak napas sehingga harus mendapatkan bantuan oksigen. `’Pernah kami harus membawa tabung oksigen ke mana pun kami pergi,” ujar sang ibu yang akrab dipanggil Asui itu.
Apa yang terjadi saat ini, ternyata merupakan buntut dari sebuah penyakit yang menyerang Grace saat berusia 6,5 tahun. Bermula dari suhu badannya yang tiba-tiba meningkat hingga mencapai 39 derajat Celsius pada 4 Juli 2005. Selama beberapa hari demam dengan suhu badan tinggi itu tidak kunjung reda, meski sudah menemui dokter dan mendapat obat penurun panas.

Tiga hari kemudian Grace dibawa ke Bandung untuk mendapatkan perawatan dan melakukan serangkaian tes. Saat itu tubuhnya lemah, mata merah, badan merah, bibir merah, dan suhu badannya justru mencapai 40 derajat. ”Hasil dari tes, dokter mengatakan ada infeksi di saluran kencing, keesokan harinya dokter mengatakan ada flek di paru-paru dan diberikan obat-obatan antibiotik dosis tinggi tetapi suhu badan Grace masih belum turun juga yang waktu itu mencapai 41 derajat,” kenang Asui.
Pada hari kelima di rumah sakit, baru Grace dinyatakan menderita penyakit kawasaki, sebuah penyakit yang masih jarang didengar di telinga ibunya, Asui. ”Dia kemudian diberi obat yang sangat mahal harganya yaitu Rp 3.500.000 per botol. Saat itu Grace memerlukan 10 botol dengan cara diinfus,” kata Asui.
Dengan obat itu, suhu badan Grace kembali normal dan beberapa gejala yang lain juga berkurang. Tetapi karena keterlambatan penanganan, penyakit itu sudah menyerang pembuluh koroner di jantung Grace. Terjadi pembengkakan di bagian pembuluh itu beberapa penyumbatan aliran darah ke jantungnya. Agar tidak terjadi penyumbatan maka Grace selalu diberikan obat pengencer darah hingga saat ini. (kim)

Ciri-ciri Penyakit Kawasaki
Kesalahan diagnosis sering terjadi karena ciri-ciri penyakit Kawasaki hampir serupa dengan beberapa penyakit lain. Ciri-ciri atau gejalanya adalah:
–        Demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41 derajat Celsius
–        Suhu badan pada saat demam naik turun selama lima hari tetapi tidak pernah mencapai normal
–        Pada anak yang tidak tertangani, demam bisa berlangsung hingga satu bulan.
–        Dua atau tiga hari setelah demam, mncul bercak merah di tubuh yang mirip penyakit campak.
–        Mata memerah, pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga penyakit gondong (parotitis), lidah, bibir memerah menyerupai stroberi, serta telapak tangan dan kaki merah
dan agak membengkak.
–        Secara psikologis anak akan lebih sering rewel dan mengeluh nyeri pada persendian.

Tiga Langkah Awal

Penyebab pasti penyakit ini belum bisa ditentukan, dr Najib Advani menyarankan orangtua agar segera bertindak jika mulai timbul gejala-gejala penyakit Kawasaki. Langkah berikut bisa diambil sebagai tindakan awal :
1. Waspadai jika anak balita demam dengan panas tinggi hingga 4 sampai 5 hari
2. Cepat dan tepat memilih dokter agar tidak salah diagnosis, minimal langsung pada dokter spesialis anak
3. Pada anak yang sudah terkena penyakit kawasaki usahakan untuk tidak terluka karena pengaruh obta pengencer darah membuat pendarahan menjadi sulit berhenti. Kemudian hindari minuman atau makanan yang mengandung kafein yang dapat mamacu jantung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s