Obat

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Obat Gunakan Secara Bijak dan Rasional
Mengonsumsi obat terlalu banyak dan tidak tepat bisa merusak kerja hati (lever).

Hany Soema, ibu rumah tangga, punya pengalaman agak menyebalkan dengan dokter. Itu karena dokter yang ia datangi selalu saja memberinya segepok obat. Pendek kata, di mata Hany, dokter adalah orang yang gemar sekali memberi obat. ”Karena itu dulu saya menganggap dokter seperti tukang obat,” tutur Hany.

Saking banyaknya obat dari dokter, Hany kemudian menyediakan kotak obat yang berderet-deret memanjang di salah satu sudut kediamannya. Pada setiap kotak, dia taruh obat yang spesifik sesuai gejalanya. Misalnya, ada kotak yang khusus berisi aneka obat batuk berdahak, lalu di kotak yang lain untuk obat batuk kering, dan kotak lainnya lagi dihuni obat untuk pusing, mual dan sebagainya.

Hany tak sendirian. Banyak orang Indonesia mengalami hal sepertinya dirinya. Celakanya, mereka menerima hal itu sebagai suatu kewajaran. Bahkan, ada perasaan ‘hambar’ atau sia-sia jika tidak membawa obat setelah periksa ke dokter.
Kebiasaan lain dari masyarakat kita adalah selalu meminta obat untuk setiap gejala penyakit yang timbul. Misalnya, seorang ibu yang anaknya menderita diare, dia akan meminta obat untuk mencretnya, lalu obat untuk mualnya, nafsu makannya, juga obat untuk kepala anaknya yang sering pusing.

Alhasil, saat pulang, ibu itu membawa lebih dari tiga macam obat. ”Padahal untuk penyakit harian seperti diare, batuk, demam, atau radang tenggorokan tidak perlu sampai lebih dari dua obat,” kata dr Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed, duta WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) untuk penggunaan obat secara rasional, dalam sebuah seminar di Kemang Medical Care, Jakarta, belum lama ini.

Ketika Anda atau keluarga Anda menderita penyakit harian, mestinya tak perlu panik. Sebab, kata dokter yang akrab disapa Wati ini, penyakit harian seperti itu akan sembuh sendiri dalam beberapa hari tanpa bantuan obat. Penyakit tersebut merupakan hal alami yang terus terjadi dalam tubuh manusia. Perlu Anda tahu, sakit-sakit ringan itu merupakan cara alami manusia untuk memerangi bakteri atau virus jahat dalam tubuh. Jadi, jangan terlampau tergantung pada obat. Meski obat sangat berguna bagi kesehatan namun jika digunakan sembarangan akan merugikan kesehatan itu sendiri.

Dalam hal ini, sangat penting untuk menggunakan obat secara rasional dan bijaksana, utamanya demi menjaga fungsi hati (lever). Dijelaskan Purnamawati, sebagian besar obat tidak larut dalam air sehingga perlu diproses di hati agar menjadi komponen yang larut dalam air. ”Sehingga jika menggunakan obat terlalu banyak dan tidak tepat akan merusak kerja hati. Selain itu, ginjal juga akan kesulitan mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1978 ini.

Wati kemudian memberi contoh yakni obat batuk pilek yang mengandung dekongestan. Kandungan ini (dekongestan), kata dia, tidak pernah terbukti efektif menangani batuk pilek. Bahkan di beberapa negara, dekongestan sudah dinyatakan tidak aman diberikan pada bayi dan anak kecil. Lalu, saat Anda batuk, jangan pernah meminum obat untuk menekan batuk. Ini karena batuk sebenarnya berfungsi untuk membantu membersihkan jalan napas sehingga tidak boleh ditekan. ”Golongan yang paling rentan terkena efek tidak baik dari penggunaan obat yang kurang tepat adalah anak-anak dan manula,” kata Wati, yang pada 1994-2003 menjadi staf pengajar di Sub Bagian Hepatologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.

Seperti dewa penyelamat
Sejauh ini, masyarakat kita memang masih tergantung pada obat. Obat masih menjadi semacam dewa penyelamat sehingga tanpa obat seolah-olah penyakit tidak akan sembuh. Banyak orang misalnya, masih bergantung kepada antibiotik untuk menyembuhkan penyakit. Padahal, makin banyak mengonsumsi antibiotik, bakteri penyebab penyakit akan bermutasi dan menjadi kebal.

Masyarakat juga masih menganggap segala hal yang berkaitan dengan kesehatan harus diserahkan sepenuhnya kepada dokter. Akibatnya, setiap resep yang diberikan dokter selalu ditebus dan digunakan tanpa pikir panjang. Terkadang, makin mahal resep harus ditebus, pasien merasa senang karena dianggap sebagai sesuatu yang menunjukkan kualitas.

Kondisi ini ‘diperparah’ oleh membanjirnya jumlah obat di pasaran. Untuk satu jenis penyakit, tersedia ratusan jenis obat. Ini masih ditambah dengan makin gencarnya promosi obat, diikuti ketidakberdayaan dokter untuk menolak memberikan obat pada pasien yang sebenarnya tidak perlu minum obat tetapi terus memaksa diberi obat. Akibatnya, obat yang diberikan pun menjadi tidak sesuai atau tidak cocok. ”Sudah saatnya pasien lebih jeli dalam memilih dan menggunakan obat. Saat beli barang elektronik saja kita selalu teliti dan membaca manualnya, apalagi dengan obat yang berpengaruh pada kesehatan,” lanjut ibu empat anak kelahiran Jakarta, 2 Februari 1953 ini.

Jalin hubungan baik dengan dokter
Ada sejumlah jurus yang bisa dilakukan untuk mencegah penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satunya dengan membangun hubungan baik antara pasien dan dokter dalam sebuah sesi pengobatan. Seperti apa hubungan yang baik itu? Wati menggambarkan, ketika pasien datang, dokter harus mengumpulkan data perihal permasalahan, perjalanan penyakit dam pengobatan yang pernah diperoleh pasien. Dokter lalu memberikan diagnosis yang tepat dan akurat, dilanjutkan dengan pemilihan obat yang efektif, aman, cocok, terjangkau dan mudah didapat.

Dokter juga harus menjelaskan manfaat dan efek samping obat serta tindakan yang mesti dilakukan jika terjadi efek samping.
Berhadapan dengan dokter, bagaimana sebaiknya pasien bersikap? Sebagai pasien, Anda tak harus selalu menerima atau puas dengan apa yang dilakukan dokter. Anda berhak menanyakan banyak hal seputar penanganan penyakit. Setelah mendapatkan obat, selayaknya pasien dapat bertanya, apakah dirinya memang perlu mendapatkan obat itu, apa kandungan aktif obat tersebut, bagaimana mekanisme kerja obat itu, apa indikasinya, apa kontra indikasinya, dan apa efek sampingnya.

Pendek kata, jadilah pasien yang kritis. ”Ini justru dapat memberikan banyak pengetahuan, sekaligus mengamankan Anda dalam mengonsumsi obat,” kata Wati, penulis buku Q&A Smart Parents for Healthy Children. Pasien juga harus mengerti bahwa tidak selamanya dokter harus memberikan obat. ”Sebuah pelayanan kesehatan yang baik tidak berarti mengeluarkan obat sebagai hasilnya, melainkan sebuah konsultasi dan diskusi antara pasien dan dokter tentang penyakit dan cara penanganannya.”  (kim)

Agar tak Menjadi ‘Tong Sampah’ Obat
Anda dan keluarga tentu tak mau menjadi ‘tong sampah’ obat, bukan? Karena itu, bersikaplah kritis ketika berhadapan dengan dokter, juga ketika menerima resep obat. Bagaimana caranya, simak beberapa tips berikut:

* Saat berkonsultasi mintalah diagnosis penyakit dalam istilah kedokterannya. Tujuannya agar pasein dapat menggunakan layanan internet untuk lebih mengetahui perihal penyakit tersebut. Ingat, batuk atau radang tenggorokan itu bukan diagnosis tetapi hanya gejala.

* Jika tulisan dokter sulit terbaca, mintalah dengan sopan untuk dituliskan kembali menggunakan huruf kapital.

* Setelah mendapat resep, obat jangan langsung ditebus. Pelajari dan gunakan referensi buku atau internet perihal obat tersebut, apakah cocok dengan penyakit atau tidak. Pasien seharusnya lebih ingin tahu jika dalam satu resep, obat yang diberikan sangat banyak.

* Jangan buang resep setelah ditebus. Memiliki kopi resep sangat berguna jika terjadi efek samping atau alergi terhadap obat yang diberikan.

* Orangtua yang memiliki anak kecil, sebaiknya selalu mempelajari perihal batuk, demam, radang tenggorokan, dan diare. Keempat hal tersebut seringkali menjadi sumber kepanikan orangtua sehingga harus menemui dokter dan meminta obat. Padahal, gejala-gejala itu bisa sembuh dengan sendirinya. Orangtua seharusnya lebih lihai dalam menggunakan pendekatan wait and see.

Advertisements
Comments
  1. nana says:

    ahahaha… aku sudah cek blog kamu..
    beruntung gue tidak pernah sering minum obat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s