Minerva

Posted: February 14, 2009 in musik

Gesekan Rock Minerva
MEREKA DIBENTUK UNTUK MENGHADIRKAN WARNA BARU DALAM INDUSTRI MUSIK INDONESIA.

Lampu panggung belum sepenuhnya menyala ketika empat orang gadis mulai menapaki tangga menuju panggung. Seketika lampu menyala menyorot empat orang gadis yang masingmasing membawa alat musik gesek. Seorang penonton berteriak, ”Ngapain Mbak, main campur sari?”

Yang lain, meneriakkan sederet namanama gadis mencoba memanggil string quartet itu. Teriakan dan siulan yang membahana itu mendadak meredup dan terhenti ketika dentuman suara musik berpadu dengan gesekan biola mereka mengisi lokasi konser LA Light Indiefest 2008 itu. Para penonton yang semula masih berpencar ke sana sini, langsung berkumpul di depan panggung menikmati permainan biola dengan nada-nada cepat itu. Satu gesekan terakhir dimainkan, tepukan tangan penonton pun membahana.

Minerva dibentuk memang karena adanya ajang pergelaran musik independen tahunan itu. Pada pertengahan tahun 2008 itu, Aminoto Kosin, seorang musisi, arranger, produser sekaligus konduktor dalam Aminonto Kosin Orchstra, bersama dengan kawannya, Irwan Edianto, ingin memberikan warna baru dalam perkembangan musik Indonesia.

Menjelang pementasan, mereka kemudian melakukan audisi untuk membentuk sebuah string quartet yang nantinya akan berkolaborasi dengan bandband independen seperti Koil, BurgerKill, Seringai dan Mocca yang merupakan pengisi acara pula dalam ajang itu. ”Waktu itu pemberitahuan audisinya hanya dari mulut ke mulut saja,” kata Cindy Clementine.

Setelah proses audisi yang panjang, akhirnya berhasil terkumpul Achdinanti Victoria Achjuman (Ava) yang bertugas memainkan violin, Cindy Clementine (Cindy) yang memegang instrumen violin, serta Sanjung Prima Cahaya Dewi (Sanjung) dan Ayu Gayatri (Gaya) pada posisi viola.

Mereka bukannya tidak mengenal satu sama lain. Sebelumnya, mereka sering bertemu saat bermain dalam ‘Rockestra’ garapan Erwin Gutawa atau pada pergelaran orkestra yang lain. Dari pengalamannya itu juga, mereka tidak terlalu kesulitan untuk memainkan musik-musik cadas dalam ajang band independen tersebut.

Setelah terbentuk mereka kemudian terus menerus berlatih selama satu bulan. ”Sebenarnya, yang kita latih itu penguasaan penggunaan efeknya,” kata Cindy yang lebih sering didaulat sebagai juru bicara Minerva. Tujuannya, agar biola yang identik dengan musik klasik bisa menyatu dengan tipe-tipe musik rock dan metal. Berbagai macam distorsi dan permainan efek pun masuk dalam kamus mereka.

Konsep menggabungkan aliran musik cadas dengan musik klasik ini memang bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Metallica pernah menampilkan kolaborasi ini bersama dengan San Fransisco Symphony Orchestra dalam arahan Michael Kamen pada 1999. Erwin Gutawa juga pernah mengusung konsep ini dalam Rockestra tempat keempat personel Minerva itu pernah tergabung di dalamnya. Bedanya, tidak satu orkestra penuh yang bermain bersama band beraliran keras. Hanya ada empat orang gadis dengan menggunakan alat musik gesek berada dalam satu panggung bersama dengan band-band cadas.

Namun, justru semenjak tampil dalam pentas bersama-sama dengan band-band cadas, Minerva pun dibawa ke ranah rock yang lebih variatif dan tidak melulu klasik. ”Memang biar beda aja,” kata Ava menimpali. Menurutnya, dari segi teknik permainan tidak ada yang berubah. Namun, untuk lebih membawa nuansa efek, mereka kemudian lebih mengeksplorasi efek-efek suara. ”Sebenarnya seperti main gitar saja,” tambahnya. c62

Bermain dengan Feeling
Sekilas tidak ada yang berbeda dalam komposisi personel Minerva dengan string quartet yang lain. Bahkan, ada pula yang menyamakan mereka dengan kelompok serupa, Bond, yang berasal dari luar negeri. Tapi tunggu dulu, mereka memang sama-sama terdiri atas empat orang gadis, tetapi komposisi alat musik gesek yang dipakai sedikit berbeda.

Ava menjelaskan, pada string quartet biasanya terdiri dari dua violin, satu viola, dan satu cello. Dua violin pertama digunakan untuk mengisi suara sopran lalu viola untuk nadanada alto sedangkan cello untuk bass. Pada Minerva, posisi cello digantikan dengan viola. Tantangan untuk mengisi suara register rendah dengan menggunakan viola ini diletakkan di pundak Sanjung. Untuk menghasilkan suara-suara yang lebih nge-bass, efek pun menjadi tumpuan.

Untuk Sanjung sendiri, viola merupakan alat musik gesek yang dipelajarinya secara otodidak. Sebelumnya, dia lebih banyak memainkan violin selama masih bersekolah di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Viola baru dipelajarinya ketika semester tiga di bangku kuliah. Bodi viola yang lebih besar dan senar-senarnya yang lebih tebal membuatnya harus meregangkan jari lebih lebar dari biasanya untuk menekan garis-garis senar saat akan digesek.

Tentang alat musik biola ini, keempat personel Minerva serempak menyebutnya sebagai alat musik yang sulit untuk dipelajari. Cindy mengatakan bahwa bermain biola itu lebih banyak menggunakan feeling. ”Sehingga kalau ada salah sedikit saja seterusnya bisa salah,” ujarnya.

Oleh karena itu posisi jari juga harus benar, karena biola itu termasuk alat musik yang fretless atau tidak ada garis-garis bantu seperti pada gitar yang tersusun vertikal di bawah senar.

Pendapat ini bukan asal-asalan dari mereka karena keempat personel itu sudah bersentuhan dengan alat musik biola sejak mereka masih kecil. Cindy sejak masih duduk di sekolah dasar sudah belajar main biola dari ibu dan kakaknya. Bahkan, Ava yang mengikuti sekolah musik di Indonesian Youth Orchestra sejak kecil sudah bermain di sebuah hotel sebagai pengisi musik saat masih SMA. Indonesian Youth Orchestra adalah milik ibunda Gaya, sehingga dia juga ikut belajar di dalamnya.

Sanjung sendiri memang berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah pengajar musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan ibunya mengajar di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Meski awalnya dipaksa bermain musik, Sanjung akhirnya bisa menikmati permainan biola. c62

Bumble B, Bukan Bumble Bee
Saat akan mengisi pentas LA Light IndieFest, Aminoto Kosin telah menyiapkan lagu khusus untuk Minerva. Lagu klasik Bumble Bee karya Nikolai Rimskykorsakov itu digubah menjadi lagu dengan nada-nada cepat yang lebih keras dipadu dengan dentuman perkusi yang mengajak tubuh bergoyang. Untuk Minerva, lagu itu kemudian berjudul Bumble B. ”Soalnya kita mainnya di tangga lagu B minor,” ujar Cindy. Lagu ini kemudian menjadi lagu hits yang selalu dimainkan setiap kali pentas diatas panggung.

Dari lagu ini, memang sangat tampak sentuhan Aminoto Kosin dalam lagu-lagu Minerva. Musisi yang satu ini lebih berperan sebagai music director mereka. Dia yang mengatur harmonisasi empat alat gesek tersebut, meski setiap personel dari string quartet itu bisa juga melontarkan masukan-masukan untuk memberikan warna dalam musik mereka. ”Sesekali Koh Amin (panggilan akrab Aminoto Kosin) kasih nada dasarnya saja, kita kemudian yang mengisi,” kata Cindy. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s