Letto

Posted: February 14, 2009 in musik

Sayap-sayap Letto
UNTUK MEMBUAT LIRIK, MEREKA MEMILIH KATA-KATA YANG MENGGUGAH.

Sekitar 12 tahun yang lalu, Patub, Arian, dan Noe adalah teman satu sekolah di SMA 7 Yogyakarta. Arian dan Noe banyak terlibat dalam kegiatan kesenian seperti teater dan pantomim. ”Bahkan, saat itu saya belum kepikiran untuk main band,” kata Sabrang Mowo Damar Panuluh atau cukup disapa Noe.

Belakangan, mereka mengejar mimpinya masing-masing. Noe malah terbang ke Kanada untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Matematika dan Fisika. Sementara Patub dan Aris bertemu kembali pada tahun 1999. Saat itu lokasi tempatnya nongkrong di daerah Kasihan, Bantul, Yogyakarta, akan diubah menjadi sebuah studio musik. Mereka kemudian diminta untuk mengerjakannya. ”Pokoke waktu itu bagaimanapun caranya harus jadi studio dan bukan tempat penyimpanan sepatu,” ujar Patub berkelakar.

Meski terpisah oleh jarak, dalam pengelolaan studio baru itu, Patub masih sering berkomunikasi dengan Noe melalui dunia maya. Mereka banyak berdiskusi tentang sound engineering dan berbagai hal tentang audio. Sesekali Noe mengirimkan buku yang berkaitan dengan hal itu. Mulai saat itu juga mereka mulai belajar mengolah suara dengan komputer. ”Wah, dari yang dulu cuma bisa on off aja, sekarang sudah bisa bongkar, tapi nggak bisa masang,” ujar Patub yang langsung mengundang gelak tawa rekan-rekannya yang lain saat berbincang dengan Republika di salah satu pojok ruangan Musica Studio, tempat mereka bernaung.

Dari sekadar belajar, mereka pun mencoba membuat dan mengolah lagu sendiri. ”Daripada merusak lagu orang yang lebih baik belajar pakai lagu sendiri,” kata Patub. Dengan membuat lagu sendiri, mereka lebih bebas untuk mengatur komposisinya karena hanya akan dikonsumsi pribadi. Saat itu mereka hanya ingin belajar dan belum terpikir untuk membuat band. Sekitar empat lagu berhasil mereka ciptakan, yang salah satunya berjudul Sebenarnya Cinta.

Lagu-lagu buatan sendiri itu kemudian diminta oleh teman-teman nongkrong mereka yang memutarnya untuk didengarkan bersama-sama di berbagai tempat. Lagu-lagu yang disebarkan oleh teman-teman mereka itu akhirnya sampai ke salah satu perusahaan rekaman di Jakarta, Musica Studio. Perusahaan itu pun menawarkan rekaman pada pria-pria yang haus belajar tentang musik ini.

Akan tetapi, untuk memasuki jenjang itu, mereka harus mempunyai identitas sebagai sebuah kelompok. Akhirnya, seiring dengan kepulangan Noe dari Kanada, pada tahun 2004 grup band bernama Letto pun muncul dengan formasi Noe sebagai vokalis, Patub (Agus Riyono) memainkan gitar, dan Arian (Ari Prastowo) yang memegang bass. Sedangkan Dhedot (Dedi Riyono) yang didapuk sebagai drummer masuk belakangan.

Mereka pun mengambil nama Letto secara spontan. Kata itu sendiri tidak akan ditemukan maknanya di berbagai kamus. Mereka sengaja mencari sebuah kata tanpa arti dan tidak merujuk pada apa pun. Makna kata Letto adalah perwujudan dari grup band yang mereka bentuk itu. ”Maksudnya, arti kata itu akan diisi dengan apa yang telah kita lakukan, dengan perjalanan serta proses kreatif kita,” ujar Patub.

Talang air
Lirik-lirik Letto yang puitis yang bermakna dalam boleh dibilang membuatnya berbeda dengan grup band kebanyakan. Meski begitu, Noe tidak ingin mendefinisikan Letto sebagai grup band dengan lagu-lagu puitis. ”Tentang definisi lirik puitis saja sampai sekarang kita tidak tahu. Pelabelan itu datang bukan dari kita, tapi dari pendengar atau orang yang memberikan komentar. Kita tidak pernah secara eksplisit mengatakan bahwa kita itu puitis,” ungkapnya.

Tentang inspirasinya dalam membuat lirik-lirik yang dinilai puitis itu, Noe kemudian bercerita tentang prosesnya dalam membuat lirik. Dia sebagai penulis lirik lebih senang dianalogikan sebagai talang air. ”Kalau inspirasi itu seperti hujan dari langit, kita hanya menangkap air itu kemudian mengalirkannya seperti sebuah talang,” ujarnya.

Dia tidak akan menggunakan kata-kata aneh dalam liriknya. Agar dimengerti, kata-kata sehari-harilah yang menjadi pilihannya. Baginya, yang terpenting adalah pemilihan kata yang menggugah untuk lirik itu. Sebuah kata dipilih karena dinilai mampu mewakili pesan yang hendak dia sampaikan. Sebuah kata yang bisa menunjukkan nuansa yang ingin dia ungkap serta sayap-sayap yang ingin dia kembangkan.

Sayap-sayap itu merupakan makna-makna tersembunyi yang sengaja dihadirkan dalam setiap larik. Noe kemudian memberikan contoh seperti lagu mereka Sandaran Hati yang awalnya orang mengira lagu ini tentang cinta. Namun, beberapa bulan kemudian, mereka memahami maknanya yang tentang Ketuhanan. Atau, lagu Sebelum Cahaya yang setelah delapan bulan sejak peluncurannya baru dimengerti bahwa lagu itu tentang shalat malam. ”Kita memang ingin lagu itu tidak dipandang dari satu sisi saja. Lagu itu bagus kalau bisa diambil maknanya bagi yang mendengar atau membaca,” ujar Noe. kim

Demi Menutup ‘Lubang Di Hati’
Sejak kemunculannya di belantika musik Indonesia, penulisan lirik Letto banyak dikerjakan oleh Noe yang juga merupakan putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu. Lirik, bagi mereka, tidak sekadar kata yang kemudian dinyanyikan, tetapi juga merupakan permainan yang banyak mengandung makna. Simak saja penggalan lagu Lubang Di Hati ini :

‘Ku buka mata dan ku lihat dunia ëtlah ku terima anugerah dunia Tak pernah aku menyesali yang ku punya Tapi ku sadari ada lubang dalam hati…’

”Lagu ini sebenarnya merupakan konsep lama,” ujar Noe. Konsep yang dia maksud bukan merujuk pada komposisi lagu atau lirik-lirik yang dituliskan itu, tetapi lebih mengarah pada sebuah gambaran kehidupan manusia yang selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dalam hal ini dianalogikan sebagai lubang di hati. Lalu berbagai cara dilakukan manusia untuk menutup lubang di hati itu. ”Mereka mencari penutupnya dengan cinta, harta, kekuasaan atau kesenangan duniawi,” lanjutnya. Melalui konsep inilah, lagu ini justru menjadi berkesan bagi Noe dan kawan-kawannya. Tak ayal, lagu ini kemudian dijadikan single pertama untuk memasarkan album ketiga mereka.

Memilih Natural
Jangan tanyakan soal aliran musik pada Letto. Mereka bakal memilih untuk menjawab dengan sederhana, ”Kita sih biarin begitu saja,” ujar Patub. Dalam bermusik, mereka lebih mengutamakan proses yang berjalan hingga album tersebut akhirnya diluncurkan. ”Metode yang kita pakai itu natural,” tambahnya.

Natural yang berarti tidak adanya tekanan bagi setiap personel dalam penggarapan setiap lagu yang bakal mengisi album- album mereka. Semua usaha dibuat mengalir saja seperti air. Bahkan, setelah album itu terpampang di rak-rak setiap toko musik, mereka tidak akan banyak berkomentar tentang hasil akhir yang ingin mereka dapatkan. ”Kita justru berharap hasil akhirnya itu ada kejutan yang kita sendiri pengen tahu,” ungkapnya yang juga disetujui oleh Noe, Arian, dan Dhedot.

Seperti ketika lagu pertama mereka, I’ll Find a Way, yang dipublikasikan secara luas lewat album kompilasi disambut biasa saja oleh pasar. Pun ketika saat album perdana mereka Truth, Cry, and Lie meluncur dan ternyata menuai respons sangat positif.

Maka, falsafah natural pula yang mereka terapkan untuk album ketiga, Lethologica. Secara musikal, album teranyar ini masih tetap simpel dan penuh dengan permainan kata-kata. Komposisi musiknya cenderung tidak jauh berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun, inilah Letto. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s