Kanker

Posted: February 14, 2009 in kesehatan

Benjolan di Payudara, Selalu Kanker?
Banyak wanita tak memerhatikan gejala-gejala awal kanker payudara.

Ada yang mengganggu pikiran Arini akhir-akhir ini. Bukan soal karier atau rumah tangga. Lalu? ”Ini lho, kok ada benjolan di payudaraku,” keluh ibu satu anak ini beberapa waktu lalu.
Arini khawatir, benjolan itu adalah kanker. Karena itu, ia segera memeriksakannya ke rumah sakit. Di sana, dokter meminta Arini menjalani pemeriksaan dengan mamografi dan ultrasonografi (USG). Hasilnya, benjolan merupakan tumor jinak. Arini pun merasa lumayan lega. ”Untunglah bukan tumor ganas,” ucap karyawati perusahaan swasta ini.

Tumor ganas alias kanker pada payudara merupakan momok menakutkan bagi wanita. Data menunjukkan, kanker payudara merupakan jenis kanker terbanyak yang diderita wanita di seluruh dunia dengan jumlah penderita pada 2003 sebanyak 1.150.000 orang. Sementara peningkatan jumlah penderita mencapai 0,5 sampai 3 persen per tahun.

Menurut dr Sutjipto SpB (K) Onk, dari 10 jenis kanker yang kerap menyerang manusia, dua di antaranya merupakan pembunuh terbesar wanita yakni kanker rahim dan kanker payudara. Sementara delapan jenis kanker lainnya adalah kanker kelenjar getah bening/limfoma, kanker nasofaring, kanker kulit, kanker ovarium/indung telur, kanker kelenjar gondok, kanker kolorektal, kanker paru dan kanker jaringan lunak.

Karena itu, dokter spesialis bedah onkologi ini menyarankan setiap wanita untuk memerhatikan payudaranya dan segera mengambil tindakan jika muncul kelainan sekecil apapun, termasuk bila ditemukan benjolan kecil. ”Kadang wanita menganggap benjolan kecil pada payudara hanya sebagai uci-uci atau kelenjar saja, padahal itu bisa jadi tumor,” kata ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta ini.

Tumor, menurut dua, bisa merupakan cikal bakal kanker tergantung dari sifatnya. Tumor memiliki dua karakteristik sifat yaitu ganas dan jinak. ”Tidak semua tumor menjadi kanker, hanya tumor ganas saja yang menjadi kanker.”
Selain tumor, benjolan pada payudara bisa pula merupakan kista. Pada tumor, benjolannya mempunyai struktur yang lebih padat. Lain halnya dengan kista, di mana pada bagian tengah benjolan terdapat cairan. Seperti halnya tumor, kista pun mempunyai dua sifat yakni ganas dan jinak. ”Kista ganas payudara yang menyebabkan kanker hanya lima persen, tapi jika kista ganas terdapat di ovarium maka peluang menjadi kanker sangat besar,” kata salah satu anggota Tim Kerja Kanker Payudara Rumah Sakit Dharmais ini.

Secara umum, lanjut Sutjipto, ada sejumlah tanda yang patut dicurigai sebagai gejala awal munculnya kanker. Tanda-tanda tersebut di antaranya, muncul benjolan di payudara, kista di payudara disertai keluarnya cairan atau darah dari puting, luka yang sulit sembuh di sekitar payudara, saat dilakukan pemeriksaan dengan USG atau mamografi ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kanker. ”Saya juga menyarankan untuk tidak selalu menggunakan bra yang berwarna. Gunakan yang berwarna putih agar mudah diketahui jika terdapat bercak aneh dari carian yang keluar dari payudara,” ucap Sutjipto.

Sayangnya, banyak wanita yang tak memerhatikan gejala-gejala itu. Akibatnya, sebagian besar (70 persen) kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut ketika sel-sel kanker sudah menyebar ke jaringan atau organ tubuh yang lain semisal saluran getah bening, paru-paru, tulang, bahkan otak. ”Jadi sebenarnya banyak orang yang meninggal karena kanker payudara itu bukan berarti disebabkan oleh kanker di payudaranya tetapi karena anak sebar sel tersebut sudah merusak organ-organ vital yang lain,” ungkap bapak tiga anak ini.

Tidak hiraunya para wanita terhadap pertanda kanker payudara, lanjut Sutjipto, lebih disebabkan oleh persepsi yang salah mengenai penyakit kanker. Banyak penderita merasa takut berobat ke dokter apalagi jika mendengar kata operasi. Alhasil, tak sedikit penderita yang memilih pengobatan alternatif, termasuk berobat ke dukun.

Faktor risiko
Pada saat yang sama, kesadaran wanita Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker payudara juga masih rendah. Padahal, caranya tidak sulit lho. Secara berkala, minimal sebulan sekali, rabalah secara seksama payudara Anda untuk mendeteksi adanya kelainan, semisal benjolan atau keluarnya cairan dari puting. Secara berkala pula, lakukanlah pemeriksaan (check up) payudara dengan mamografi.

Apa sebenarnya penyebab kanker payudara? Sejauh ini, dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Hanya saja, ada sejumlah faktor risiko yang mempermudah seseorang menderita penyakit ini. Faktor-faktor risiko adalah riwayat keluarga dengan kanker payudara, sudah mempunyai tumor jinak, haid di usia sangat muda, atau menopause saat berusia lebih dari 50 tahun, tidak menikah atau tidak menyusui, melahirkan anak pertama di atas 35 tahun, banyak mengonsumsi makanan berlemak, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres.

Menurut Sutjipto, potensi terkena kanker payudara cenderung lebih tinggi pada wanita yang berusia di atas 35 tahun. Karenanya, di usia rentan ini, kaum wanita dianjurkan memeriksakan payudaranya secara rutin melalui mamografi dan USG. Kanker payudara juga berpotensi menyerang wanita yang menggunakan terapi hormonal dalam jangka panjang seperti kontrasepsi suntik. Jadi, jika usia Anda sudah 35 tahun, sebaiknya hentikan sistem KB hormonal, lalu ganti dengan IUD. ”Atau yang sudah menggunakan KB suntik selama dua tahun sebaiknya ganti dengan spiral (IUD).”
Enyahkan Sumber Karsinogen
Tanpa disadari, di sekitar kita banyak sekali sumber karsinogen (zat-zat yang dapat memicu kanker). Salah satunya pada makanan. Seperti dijelaskan Fatimah Syarief, ahli gizi, makanan dan minuman beralkohol berpotensi menjadi ‘sarang’ zat-zat karsinogenik. ”Bahkan pada tapai ketan atau tapai singkong,” kata wanita kelahiran Jakarta, 25 November 1982 itu. Juga pada makanan-makanan yang dibakar. Bagian dari makanan yang dibakar  terlihat kehitaman karena gosong  memicu munculnya nitrosamin. Ini merupakan bahan karsinogen yang berpotensi menimbulkan kanker di beberapa bagian tubuh.

Jenis makanan lain yang patut dihindari adalah makanan yang menggunakan bahan tambahan seperti amaranth pada makanan ringan, benzpyrene, cyclamates, hydrazines atau saccharin (pemanis buatan). ”Jika hendak mengonsumsi makanan ringan sebaiknya teliti kandungan zat-zat di dalamnya dengan membacanya pada kemasan,” saran ahli gizi dari produsen makanan kesehatan, Sun Hope.

Waspadai pula kemungkinan adanya mycotoxin pada jamur mentah dan aflatoxin pada kacang-kacangan yang berjamur. Mycotoxin maupun aflatoxin merupakan zat karsinogenik. ”Tapi jangan samakan dengan jamur ragi pada tempe,” tambahnya.
Selain itu, masih banyak lagi sumber karsinogen di sekitar kita. Sebut saja di antaranya, sayuran yang mengandung pestisida, obat batuk yang mengandung chlorofom, asap rokok, dan asap dari knalpot kendaraan bermotor.

Walau zat-zat berbahaya itu ada di dekat kita, menurut Fatimah, risiko kanker bisa berkurang jika kita mampu memilih makanan yang baik. Beberapa suplemen tergolong baik untuk mencegah kanker semisal, suplemen yang mengandung omega 3 dari minyak ikan atau minyak hati ikan, kolostrum, juga suplemen yang mengandung klorofil atau antioksidan.  (kim)

Terapkan Gaya Hidup Sehat
Penyakit kanker tidak akan muncul seketika saat kita mengonsumsi makanan berkarsinogenik atau menjalankan pola hidup tidak sehat. Sel-sel kanker akan berkembang dalam tubuh selama bertahun-tahun, paling tidak sekitar 10 sampai 20 tahun, barulah tubuh kita merasakan dampak dari perkembangan kanker tersebut. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa mencegah munculnya sel-sel kanker di dalam tubuh. Untuk itu, terapkan gaya hidup sehat. Bagaimana caranya? Simak tips dari dr
Sutjipto Sp B (K) Onk berikut ini.

Hindari rokok dan minuman beralkohol.
Hindari kegemukan.
Jauhi makanan tinggi lemak dan tinggi protein. Sebaliknya, perbanyak konsumsi sayur dan buah.
Banyak mengasup makanan yang mengandung vitamin A dan C.
Olahraga secara teratur.
Cukup istirahat.
Jauhi stres.
Lakukan pemeriksaan payudara secara teratur.

Advertisements
Comments
  1. indomielezat says:

    akuh teringat ibu sri painah…
    ibunya sarex yang terkena kanker inih..
    so sad for her……

  2. nana says:

    aku juga ada benjolan di payudara kiri setelah aku pergi ke dokter menjalani ultrasound katanya tak ganas kalau di operasi boleh juga tapi akan mbalik lagi katanya.so he said if i grow old akan hilang juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s