D’Masiv

Posted: February 14, 2009 in Uncategorized

D’Masiv Lebih Membumi, Lebih Indonesia
PERJUANGAN MEREKA DIMULAI DENGAN MENJADI PENGAMEN.

Lampu-lampu sorot warna-warni berputar-putar menerangi panggung besar di atas tanah lapangan Boom Panjang, Tarakan, Kalimantan Timur. Soraksorai penonton membahana. Lampu-lampu fosfor berwarna hijau terang mengayun mengikuti irama lagu yang dibawakan grup musik D’Masiv. Para penonton yang sebagian besar remaja mulai mengentakkan badan dan berusaha menirukan lagu yang dibawakan grup musik kesayangan mereka itu.

Malam tanggal 27 Desember 2008 itu, D’Masiv menghibur penggemarnya dalam acara Anniversary 11th Tarakan. Malam itu, mereka menyanyikan koleksi lagulagu di album perdana mereka yang berjudul Perubahan di antaranya Diam Tanpa Kata, Tak Pernah Rela, Aku Percaya Kamu, Cinta Sampai Disini, Merindukanmu, Sebelah Mata, Diantara Kalian, I Feel (Manusia Tak Berharga), Tak Bisa Hidup Tampamu, lalu lagu yang melambungkan nama mereka Cinta Ini Membunuhku.

Sepanjang tahun 2008, memang merupakan tahun keemasan bagi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum). Setahun penuh mereka wara-wiri membawakan lagu-lagu dalam album mereka. Hampir di setiap kota di Indonesia yang disinggahinya terbentuk kelompok penggemar setia mereka yang disebut ‘Masivers’. Jauh sebelum mereka merengkuh ketenaran seperti sekarang, mereka hanya lima anak muda yang hobi bermain musik dan menyalurkannya dengan cara mereka sendiri.

Rian Ekky Pradipta atau akrab disapa Rian, Dwiki Aditya Marsall yang lebih sering dipanggil Kiki, dan Nurul Damar Ramadhan yang lebih dikenal dengan nama Rama pernah membentuk sebuah grup musik kala mereka masih berstatus murid SMP. Sedangkan Wahyu Piadji, sang drummer, justru sejak masih SD gemar bermain drum. ”Awalnya dulu lihat tetangga main drum terus tertarik,” ujarnya. Sebelum memiliki seperangkat drum, Wahyu kecil hanya mengayunayunkan tangannya menepuk udara seolah-olah sedang bermain drum sungguhan.

Waktu berjalan hingga Rian, Kiki, dan Rama memutuskan keluar dari grup musik yang dibentuknya saat SMP. Mereka kemudian mengajak Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata atau Rai yang rumahnya tidak jauh dari kediaman Rian untuk mengisi posisi bassis. Lalu Why yang ternyata adalah teman satu SD dengan Rian direkrut berikutnya untuk mengisi pemain drum. Akhirnya, pada 3 Maret 2003 sebuah grup musik yang saat itu masih bernama Massive terbentuk. ”Mulai dari situ kita serius untuk mengerjakan band ini,” kata Wahyu.

Besar dan berbobot
Nama Massive pada awalnya dipilih karena mengandung arti besar, raksasa, dan berbobot. Seperti harapan mereka terhadap grup musik yang baru dibentuk itu, untuk menjadi besar dan berbobot di kemudian hari. Nama itu juga merupakan pemberian salah satu drummer berbakat Indonesia, Dion Subiakto, saudara laki-laki dari komposer wanita Tya Subiakto. ”Awalnya kita bingung mau kasih nama apa, tapi terus kita ingat sama Mas Dion. Lewat SMS, dibalas kalau Massive gimana, dan kita setuju pakai nama itu,” ujar Rama.

Semenjak menyandang nama tersebut, lima sekawan ini mulai mengikuti berbagai festival musik. ”Sudah lebih dari 50 festival yang kita ikuti,” kata Wahyu. Bukan sekadar jadi peserta saja, Massive hampir selalu mengantongi piala. Seperti saat mengikuti festival musik remaja yang digelar oleh Kementerian Remaja dan Olahraga beberapa tahun lalu. ”Kira-kira antara tahun 2005 sampai 2006. Saat itu yang ikut raja-raja festival semua dengan skill yang tinggi,” kata Rama.

Namun dengan kepercayaan diri, mereka bisa menyabet banyak kemenangan, seperti The Best Vocal, The Best Bass, dan The Best Song dengan lagunya tentang antinarkoba, Jangan Biarkan Makin Menggelap. Penuh pengalaman malang melintang di kancah festival musik, pada tahun 2007 mereka menuai hasilnya.

Dalam ajang A Mild Live Wanted 2007, mereka mendapatkan juara pertama dan berhak merekam satu album penuh berisi lagu-lagu mereka di bawah Musica Studio. Sadar bakal menghadapi masyarakat Indonesia yang lebih luas, mereka kemudian mengubah nama grup musik mereka menjadi lebih membumi. ”Massive kemudian diganti dengan D’Masiv. Makna masih tetap sama, tetapi format lebih Indonesia,” kata Rama.

Keberhasilan mereka bukan tanpa jerih payah. Untuk mengikuti setiap festival atau menyewa studio untuk berlatih mereka harus merelakan uang jajan mereka untuk patungan. Bahkan, mereka sempat mencoba untuk mengamen di atas bus kota.

Beberapa bus jurusan Ciledug-Blok M pernah mereka masuki untuk mencoba mengumpulkan dana. Lintas daerah itu yang mereka pilih karena dekat dengan rumah mereka yang berada di wilayah Ciledug. ”Kita cuma ngamen begitu satu kali dan cuma dua jam saja. Dari situ kita dapat Rp 40 ribu yang terus kita pakai buat latihan,” kata Rama. Kini, perjuangan itu pun berbuah manis. Penghargaan platinum untuk album dan RBT terlaris ada dalam genggaman mereka.

Cinta Ditolak, Lagu Meledak
Kau membuatku berantakan,
kau membuatku tak karuan,
kau membuat ku tak berdaya,
kau menolakku acuhkan diriku..

Deretan kata-kata sederhana itu sengaja dipilih oleh Rian yang juga mengarang lagu berjudul Cinta Ini Membunuhku. Bagi dia, kata sehari-hari jarang digunakan dalam lirik lagu yang kebanyakan justru lebih puitis. Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’, untuk Rian, meninggalkan kesan karena proses pembuatannya yang paling cepat di antara lagu-lagu lain yang dibuatnya. ”Lagu ini dibuat dalam waktu kurang dari lima menit,” ungkapnya.

Namun, lagu dengan proses pembuatan tercepat pada tahun 2006 itu justru meledak dan mengantarkan D’Masiv untuk dikenal banyak orang. Padahal sebelumnya, lagu ini tidak masuk dalam perhitungan mereka untuk menjadi single utama. ”Meledaknya lagu ini benar-benar buat saya nggak percaya.”

Lagu tersebut terinspirasi dari pengalaman Rian selama masih duduk di bangku SMU. Saat itu dia menyukai seorang gadis. Tetapi, setiap usahanya untuk menyatakan cinta selalu ditolak tanpa sebab yang jelas. ”Sampai delapan kali nembak, nggak pernah diterima,” ungkapnya.

Karena itulah lagu tersebut terkesan galau sebagai cerminan seseorang yang terus menerus harus menanggung luka akibat patah hati. Meski ‘Cinta Ini Membunuhku’ merupakan lagu yang berkesan sendu, lagu itu sangat mewakili D’Masiv. Penggarapan lagu itu, menurut Rian, sangat tipikal lagu dari grup musik. Nada gitar, bass, drum, dan vokalnya bisa menjadi harmonis saat memainkan lagu tersebut.

Beberapa lagu dalam album perdana D’Masiv memang lebih banyak berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan, ditambah dengan curahan-curahan hati teman-teman mereka yang digubah dalam bentuk lagu. Pada awal penggarapan album, sesaat setelah mendapatkan kesempatan karena menang dalam kompetisi A Mild Live Wanted 2007, D’Masiv harus mengumpulkan sekitar 30 lagu koleksi mereka. Beberapa lagu merupakan hasil ciptaan mereka sejak lama, namun sejumlah lagu yang lain dibuat ketika tenggat waktu pengerjaan album yang semakin dekat.

Akhirnya, sebanyak 12 lagu masuk dalam album Perubahan itu, sebagian besar merupakan ciptaan Rian. Sebagian yang lain merupakan hasil kolaborasi seperti lagu berjudul Tentang Seseorang yang dibuat Rian bersama Rama atau lagu Cinta Sampai Disini yang mendapat bantuan dari Yayang Arisman, teman musisi Rian. c62

Kejutan di Album Kedua
Meski dibalut kepadatan jadwal manggung mereka, saat ini D’Masiv juga disibukkan dengan penggarapan album kedua mereka. ”Untuk konsep lagu-lagunya masih belum ketahuan mau bagaimana,” kata Rama.

Sekarang ini mereka masih berkutat dalam pengumpulan materi lagu. Tentang aliran musik yang bakal diusung di album yang baru, Rama mengisyaratkan tidak akan terlalu berbeda dengan album pertama mereka. ”Tapi, kita pasti punya sesuatu yang fresh untuk kejutan,” ujar Rama.

Meski banyak menuai kritik seputar lagu mereka yang dianggap mellow dan menye-menye, Rian menganggap hal tersebut harus dikembalikan pada orang-orang yang mendengarkan lagulagu D’Masiv. Walau dianggap mellow, masih banyak dari lagi mereka yang mendapat apresiasi positif. Proyeksi album mereka ke depan, kata Rian, masih ada kemungkinan lagu-lagu mellow yang diunggulkan. ”Itu tentunya hasil perundingan matang di antara kita, dan pastinya lagu itu sudah memiliki konsep yang kuat,” ujarnya. (kim)

Advertisements
Comments
  1. mira says:

    moga suskses y bwt d’masiv…………..

  2. perjuangannya sangat sempurna….
    mmbwt aku selali pantang menyerah…….
    ovie chayanx d’Masiv 4ever

  3. jjjjjj says:

    haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii………………….

    d’massive……………….
    aq tu ngefans bgt ma qm………….
    kpan sie klian konser d sumut…
    tpat nya di b.tagi……………
    tlg donk,,,,,,
    please……..
    ya..ya..ya………….

  4. syifa masivers wapers says:

    hy kakak-kakak d’Masiv pha kBaR????
    nih aku Masivers dari bekasi mwu ngucapin met ya bwt d’Masiv atas keberhasilannya dalam bidang bermusik….!!!!
    keren..keren..benar-benar keren d’Masiv!!!!
    aku do’ain smoga makin beken,eksis,sukses,makin 1st lah..!
    Amiiin Ya Allah..!!!

  5. widhie_masivers cilacap barat says:

    bener2 ajib abang2 d’masiv..ngfans sma d’masiv udah dari kelas 3 SMP..lagunya itu lho bisa sama persis sma pengalamanku..lagu manapun…pokoke d’masiv TOP deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s