Alexa

Posted: February 14, 2009 in musik

Alexa Meraih Mimpi
NAMA MEREKA BERMAKNA SEORANG DEWI YUNANI YANG MERUPAKAN PELINDUNG PARA PRIA.

Semuanya bermula dari sambungan telepon. Suatu ketika, Adhika Prabu Aprianto atau akrab disapa Jmono menghubungi Nur Satriatama Moersid alias Satrio, mantan gitaris Maliq & D’essential, kawan lamanya yang bertemu sekitar empat tahun lalu ketika masih membantu grup musik bernama Parkdrive. Mereka pun membicarakan sebuah grup musik yang mampu bertahan lama di belantika musik dan terdiri atas orangorang yang bermain musik untuk musik itu sendiri dan juga untuk orang banyak.

Konsep yang dibicarakan oleh Jmono dan Satrio itu kemudian berkembang hingga dua buah lagu berjudul Jangan Kau Lepas dan Maafkanlah tercipta. Yakin dengan visi yang mereka usung, perburuan personel pun dilanjutkan. Telepon genggam milik Fajar Arifan berdering. Kala itu dia masih bermain dengan grup musik metal bernama Stepforward. Dari sebuah obrolan tentang musik yang mereka inginkan, Fajar kemudian memutuskan untuk bergabung. Berlanjut dengan kesediaan Rizki Syarif untuk bergabung mengisi posisi gitar. Struktur band pun mulai lengkap: Jmono sebagai bassis, Satrio dan Rizki untuk gitar, serta Fajar pada drum. ”Masingmasing kita sebenarnya tidak saling kenal, tapi berawal dari Jmono yang kenal kita semua,” kata Fajar.

Yang masih kosong adalah posisi vokalis. Untuk mengisi posisi tersebut, mereka kemudian mengontak Ananda Riztantio alias Aqi yang saat itu masih sering manggung bersama grup musik akustiknya. Suatu malam empat orang yang sudah tergabung lebih dahulu itu datang dalam salah satu live performance Aqi. Seusai manggung, mereka kemudian membicarakan tentang konsep grup musik itu. ”Malamnya kita ngobrol, besoknya langsung rekaman,” ujar Aqi.

Akhirnya, pada 13 September 2007, Alexa terbentuk. Mereka menyimbolkan diri bak seorang balita di belantika musik. Hal ini kemudian mereka tuangkan dalam sampul album perdana mereka berupa seorang anak kecil dengan sayap kupukupunya sedang menatap ke atas. ”Meski baru, kita ingin meraih mimpi bersama dan terbang tinggi dengan mimpi-mimpi itu,” kata Fajar.

Tentang nama Alexa itu sendiri, menurut Fajar, merupakan hasil dari pencarian yang terus menerus gagal. ”Kita sempat bikin daftar nama band, tapi jelek dan aneh semua. Terus coba pakai nama orang tetap aneh juga, lalu kita putuskan untuk pakai nama perempuan saja. Daftar dibikin dan nama Alexa ini yang paling sreg,” kata Fajar.

Makna nama itu kemudian mereka cari di internet. Ternyata, Alexa adalah seorang dewi Yunani yang merupakan pelindung para pria. Selain itu, tujuan penggunaan nama perempuan adalah sebagai penyeimbang karena personel grup musik itu semuanya lakilaki. ”Kalau kita sudah laki-laki semua terus pakai nama laki-laki malah kesannya tambah sangar. Buat menghargai perempuan juga,” ujar Satrio. c62

Lirik Dulu, Musik Kemudian
Lagu Jangan Kau Lepas tercipta dari lirik lagu yang tuntas dalam waktu kurang dari dua menit. ”Inspirasinya dari Rizki yang nggak pernah mau disentuh sama cowok,” kata Satrio sambil tertawa bersama anggota Alexa yang lain. Setelah lirik jadi, dia kemudian mengisi lagunya. Fajar mengisi drumnya, Jmono untuk bass, kemudian diberikan pada Rizki untuk gitar, dan terakhir pada Aqi yang menyanyikan dengan gaya dia sendiri. ”Hampir semua proses pembuatan lagu seperti itu. Lagu dilempar-lempar untuk diisi musiknya sesuai dengan kesukaan masing-masing,” papar Satrio.

Saat masuk studio, semua melakukan idealismenya masingmasing. Mereka memainkan musik dengan cara mereka sendiri lalu digabungkan. Ternyata, justru dengan cara itu, mereka menyukai lagu-lagu yang dihasilkan.

Dari sisi cerita, lagu tersebut sebenarnya ingin menyampaikan bahwa cinta itu tidak hanya kasih sayang antara dua orang yang sedang berpacaran, tetapi juga pada pasangan kakek nenek yang terus saling mencintai hingga tua. Pun kasih sayang untuk teman dan saudara. ”Hal itu diterjemahkan dengan baik dalam video klip kita,” kata Aqi. c62

Kekuatan Power Pop
Bila mendengar musik Alexa, tak dimungkiri ada cita rasa yang berbeda di sana. Tak pelak, inilah pengaruh perbedaan latar belakang bermusik personelnya. ”Si Jmono agak dance, Satrio agak jazzy, Rizki yang lebih rock n roll, Aqi yang bluesy alternatif dan gue sendiri yang metal,” kata Fajar, sang penggebuk drum.

Dari warna-warni itu, mereka lantas berpadu tanpa menghilangkan ciri masing-masing. ”Kalau musik Alexa ini didengarkan terpisahpisah, maka akan kelihatan kalau drumnya itu keras, bassnya dance, gitarnya dari Rizki yang rock n roll, dan Satrio ada lead jazzy-nya. Semua digabunggabung. Yang ditonjolkan ya gado-gadonya itu,” lanjutnya.

Dari hasil gado-gado itu, pada awalnya mereka belum mengetahui jenis musik yang mereka mainkan. ”Kita bikin musiknya dulu sampai kelar, sampai mau jadi album baru.

Setelah itu mikir, kalau ditanya orang musiknya apa nih?” ungkap Satrio. Setelah mencari referensi, mereka menemukan istilah power pop yang sesuai dengan karakter mereka. ”Musik pop yang berpower karena ada rock, blues, bahkan dance. Pop, tapi ada kekuatan dari masing-masing personelnya.” Meski berbeda-beda, ”Tapi, rumahnya adalah Alexa,” kata Aqi, sang vokalis. (kim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s