Mencari Surga Melalui FPI

Posted: July 30, 2008 in Uncategorized

“Untuk dapat kartu anggota FPI itu susah sekali,” kata Wahyu, salah seorang simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Menurutnya untuk menjadi anggota FPI dan mendapatkan kartu anggota prosesnya panjang dan sulit.

Selama dua bulan terakhir ini, Wahyu bergabung dalam FPI hanya sebagai simpatisan. “Saya merasa terpanggil untuk ikut FPI,” ujarnya. Wahyu yang saat ditemui Republika masih menganggur mengatakan tidak mengharapkan apa-apa untuk bergabung dalam FPI. Wahyu hanya merasa tertarik setelah sering mengikuti pengajian yang diadakan oleh Habib Rizieq Shihab, pimpinan FPI, di Masjid Al Islhah. Masjid tersebut terletak tidak jauh dari rumah pimpinan FPI itu di jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat. “Saya ingin mencari surga,” tambahnya.

Pengajian yang diadakan setiap malam Kamis itu membahas banyak hal, mulai dari Fiqh, Tauhid, atau Aqidah. Dalam pengajian itu pertanyaan-pertanyaan sekecil apapun akan di jawab.

Jamal, salah seroang warga yang sudah dua tahun ikut dalam pengajian itu juga merasa semua unek-unek yang dia punya bisa terjawab. “Habib itu kalau menjelaskan bisa rinci sekali, satu kata saja bisa dijelaskan dengan sangat detail,” katanya. Pada setiap malam kamis itu, hampir semua warga di seputaran jalan Petamburan III, berbondong-bondong datang ke masjid Al Islhah untuk mengikuti pengajian. “Tidak benar jika Habib mengajarkan kekerasan dalam pengajian itu, justru Habib menjawab masalah kami, dari hal seperti cara wudhu hingga memandikan jenazah,” katanya.

Dari pengajian inilah, banyak orang terpanggil untuk menjadi anggota FPI. “tapi tidak mudah untuk masuk menjadi anggota FPI,” kata Suhada, salah seorang simpatisan FPI yang sudah bergabung sejak tahun 1998.

Menurutnya untuk menjadi anggota FPI harus melalui beberapa tahapan. Bahkan, katanya, para anggota baru harus melalui sebuah diklat. Selain harus tahu tentang ilmu agama, orang yang ingin bergabung dengan FPI juga harus mempunyai akhlaq atau perilaku yang baik.

“FPI tidak sama dengan yang dulu,” kata Suhada. Dahulu, pada saat awal-awal terbentuknya FPI semua orang boleh menjadi anggota, tanpa ada penyaringan. Bahkan, katanya, orang-orang yang bisa dibilang preman juga bisa masuk dalam FPI.

Tapi sejak tahun 2004, semua berubah. Para petinggi FPI menarik semua kartu anggota yang telah dimilik anggota-anggotanya. Menurutnya kejadian yang terjadi pada tahun itu memicu adanya perubahan. Pada saat itu, anggota FPI yang sedang melakukan sweeping tempat-tempat maksiat pada bulan puasa, dihadang polisi. Mobil yang ditumpangi anggota FPI malam itu ditembaki polisi.

“Sejak saat itu, untuk menjadi anggota harus diketahui bibit, bebet, dan bobotnya, orang tidak boleh sembarang yang masuk FPI,” kata Suhada. Menurutnya orang harus mengikuti pengajian dulu, lalui setelah itu akan ada semacam ujian untuk mereka. Sebuah tim juga diturunkan oleh FPI untuk menyelidiki latar belakang calon anggota tersebut. Jika anggota itu tidak layak maka tidak boleh menjadi anggota FPI. “Ini bukti kami tidak akan menerima orang yang akhlaknya jelek, atau yang menyukai kekerasan,” tambahnya.

Suhada mengatakan kekerasan yang terjadi saat adanya aksi dari FPI itu karena adanya pihak ketiga yang memprovokasi. Selain itu dia mengatakan anggota FPI itu banyak sehingga terkadang tidak bisa diawasi satu persatu saat aksi sedang berlangsung. Temperamen setiap anggota pun berbeda-beda. “Tidak semua buah masak di pohon,” ujarnya beranalogi.

Sementara itu alasan untuk menjadi anggota FPI hampir semua beragam. Yaitu berusaha mencari surga. Hal itu diungkapkan oleh beberapa orang anggota FPI dari Marunda yang ditemui Republika di sekitar kediaman Habib Rizieq Shihab, pada Rabu (04/06) setelah aksi penangkapan anggota FPI oleh Polisi. “Orang lain ada yang mencari surga dengan menyantuni anak yatim, bersedekah, atau beramal soleh, tapi kalau kami memilih mencari surga dengan bergabung dengan FPI,” kata salah seorang pemimpin rombongan itu.

Namun, ada pula alasan lain bagi anak-anak muda untuk masuk dalam organisasi FPI. “Saya masuk FPI karena nge-fans dengan Habib,” ujar Yusuf, salah seorang laskar FPI. Pria yang masih berumur 20an tahun ini sudah tertarik dengan kharisma Habib Rizieq Shihab, pimpinan FPI, sejak masih duduk di bangku sekolah, bahkan saat FPI masih belum terbentuk.

“Dulu waktu masih sekolah saya sering ikut pengajian Habib di masjid di Tambora,” kata Yusuf. Lalu saat FPI terbentuk tahun 1998 dia memutuskan untuk bergabung dalam FPI. Saat itu usianya masih sekitar 17 tahun. Pada waktu itu, untuk bergabung dalam FPI cukup hanya mengisi formulir dan menyerahkan foto. “Tapi semua berubah sejak tahun 2004, semua kartu anggota ditarik, dan kita harus melalui ujian lagi,” tambahnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa dalam organisasi FPI ada yang disebut laskar atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan nyata FPI di lapangan. ” Laskar itu pasukannya FPI,” katanya. Yusuf yang termasuk dalam laskar tersebut mengatakan untuk menjadi laskar harus ada serangkaian tes lagi.

Orang-orang yang ingin menjadi laskar harus menjadi anggota FPI terlebih dahulu. Setelah itu atas rekomendasi dari Dewan Pengurus Cabang di wilayahny masing-masing, mereka mendaftar di markas FPI pusat di jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Selama menjadi laskar, Yusuf yang masuk atas rekomendasi Dewan Pimpinan Cabang Pasar Minggu mengatakan banyak hal menarik yang telah dilaluinya. Dia sempat dikirim ke Aceh dan Jogja saat terjadi bencana gempa. “Hampir sebulan saya di Jogja,” katanya. Selain itu bersama dengan Habib Rizieq Shihab, dia pernah pergi ke Pulau Seribu, Lampung, Medan, dan Riau. “Selama ini kami tidak digaji, bahkan untuk aksi kami patungan, tapi ada hal-hal menarik yang saya dapatkan,” tambahnya.

Namun, selain sisi yang menarik, Yusuf juga sempat mengalami masa-masa yang menegangkan. Pada tahun 2004 saat para anggota FPI sedang melakukan sweeping tempat-tempat maksiat, mobil yang ditumpanginya dikejar-kejar oleh polisi dan ditembaki. “Sudah seperti di film,” katanya. Saat itu mobil kijang bak terbuka yang ditumpanginya bersama 12 orang temannya yang lain melaju di sekitar fly over Grogol saat polisi mulai mengejar. Muntahan peluru polisi berhasil mengenai ban belakang kiri mobil tersebut. Tetapi mobil masih dipacu kencang. Satu peluru lagi membuat ban depan sebelah kanan mobil itu pecah, mobil sedikit oleng tapi masih bisa dipacu hingga mereka lolos di sekitar markas mereka di jalan Petamburan.

Meskipun telah mengalami asam pahit menjadi laskar FPI, Yusuf menolak keras jika FPI dikatakan melakukan kekerasan. “Kami tidak keras tapi tegas,” katanya. Menurutnya FPI sama sekali tidak menyukai kekerasan tetapi karena kemandulan pemerintah, FPI harus bergerak. Dalam setiap gerakannya FPI selalu mengikuti standar. Prosedurnya dimulai dari keluhan warga, lalu FPI datang menghimbau warga tersebut untuk mengikuti jalur hukum dengan mengirimkan surat keberatan beserta tanda tangan seluruh warga. Jika selama tiga kali dalam tiga bulan (Satu surat dalam sebulan) surat peringatan baik dari warga atau dari FPI tidak diindahkan maka FPI akan bertindak. (c62)

Advertisements
Comments
  1. m firdaus says:

    Saya dari SMA pengen sekali jadi anggota FPI……
    mohon aq di palembang… bagaimana caranya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s