Kota Tua Yang Semakin Usang

Posted: July 30, 2008 in Uncategorized

Siang itu Hamdani berjalan perlahan sembari menarik gerobak yang berisi barang-barang bekas yang telah ia kumpulkan sedari pagi. Jalan Roa Malaka Utara yang dilaluinya terlihat lengang dan sepi. Angin tidak begitu kencang tetapi tiba-tiba grudukgrudukgruduk, tembok di samping Hamdani runtuh.

Hamdani berhasil berlari menghindar tetapi naas sisi lain dari tembok itu yang justru menimpanya. Hamdani tewas dalam posisi tertelungkup tertimbun bongkahan bata besar. Gerobaknya juga hancur. Barang barang bekas seperti komponen mobil dan buku bekas berserakan. “Tembok runtuh itu sudah yang kelima di tahun ini. Jadi setiap bulan ada satu bangunan yang runtuh,” kata Candrian Attahiyyat, kepala Unit Pelaksana Tugas Kota Tua.

Dari pendataan yang dia lakukan hingga Juni 2008 sudah lima bangunan tua yang runtuh. Dua bangunan diantaranya, masing-masing mengakibatkan satu orang tewas. Melihat kondisi gedung-gedung di Kota Tua, tidak heran lagi jika bangunan itu sewaktu-waktu roboh. “Banyak atap atap gedung tua yang sudah jebol sehingga mempercepat kerusakan,” kata Candrian.

Menurut pengamatannya atap gedung yang rusak membuat air hujan merembes masuk dan membuat komponen-komponen gedung itu cepat busuk dan rawan ambruk. Lihat saja gedung Dasaad di sebelah utara Taman Fatahilah, atap gedung itu sudah tidak ada. Akibatnya lantai tiga di gedung itu ditumbuhi lumut dan jamur. Beberapa bagian juga sudah hancur dan meninggalkan lubang yang menganga. Saat ini dari data Unit Pelaksana Teknis Kota Tua tercatat lebih dari 20 bangunan di Kota Tua rawan rubuh. Meskipun demikian pihak Unit Pelaksana Teknis, tidak akan memasang tanda bahaya agar tidak mengurangi minat pengunjung untuk datang.

Tidak hanya faktor alam yang membuat gedung-gedung tua itu ambruk. Ternyata komponen-komponen bangunan di gedung-gedung tua banyak yang sudah raib diambil orang sehingga gedung itu sudah tidak punya kekuatan lagi dan rawan rubuh. Kuda-kuda atap gedung PT Kertaniaga di jalan Kalibesar Timur yang terbuat dari besi dan kayu, misalnya. Beberapa bagiannya sudah hilang. Di beberapa bagian komponen kuda-kuda yang terbuat dari kayu tampak jelas bekas digergaji. Besi-besi pegangan tangga yang terbuat dari kuningan atau tembaga juga sudah hilang. Bekas-bekas tembok yang dijebol untuk mengambil pegangan tangga itu pun masih ada. Akibat pencurian di gedung PT Kertaniaga itu, beberapa bagian atapnya sudah ambruk. Sementara sisa-sisa bagian kuda-kuda sepertinya tidak dapat bertahan lama dan akan ikut ambruk.

Candrian, berharap ada investor yang datang dan bekerja sama dengan pemilik gedung untuk membenahi gedung-gedung tua itu. “Tapi kalau ada investor baru yang datang harus berkordinasi dengan Dinas Permuseuman dan Kebudayaan,” ujarnya. Hal ini perlu dilakukan agar ada kordinasi dalam upaya konservasi.

Sementara itu, pengelola gedung PT Kertaniaga, Robert Tambunan, mengatakan, pihak agak kesulitan menarik investor karena proses perizinan yang rumit. Selain itu lahan parkir yang kurang tersedia dan jalur akses ke Kota Tua yang susah seperti adanya aturan 3 in 1 juga menyulitkannya. “Seharusnya Kota Tua itu diurus dalam satu atap sehingga semua lebih mudah,” katanya. Dia berharap semua pihak dapat bekerja dalam satu naungan. Di dalam naungan itu terdapat pihak keamanan agar tidak ada pencurian lagi, izin yang satu pintu, dan manajemen pariwisata yang baik. “Kalau bisa dibentuk seperti otorita tersendiri,” ujar Robert.

Meskipun beberapa gedung rawan runtuh, ternyata Kota Tua juga menyimpan potensi. Rohim, penjaga gedung PT Kertaniaga, mengatakan, banyak artis-artis yang menyewa gedung yang dia jaga untuk video klip. “Slank, Ungu, Dhani, Titi DJ semua sudah pernah bikin video disini,” katanya. Biaya sewa gedung itu dia patok seharga Rp 3,5 juta per hari. “Kalau mau nge-dekor tambah Rp 2 juta lagi,” kata Rohim. Sebagai wujud tanggung jawab, para penyewa diwajibkan mengembalikan kondisi gedung seperti semula jika merubah cat atau bentuknya. Selain gedung PT Kertaniaga, gedung tua milik Bank Mandiri juga pernah dijadikan lokasi pembuatan film Ayat-Ayat Cinta. “Yang dipakai cuma tangganya aja,” kata Roni, salah seorang warga di sekitar Kota Tua. Selain itu hingga saat ini gedung-gedung tua di Kota Tua masih sering dimanfaatkan untuk sesi foto pra pernikahan.(c62)

Advertisements
Comments
  1. fernan says:

    namanya juga kota tua…kl ntar diperbaiki n mengkilap seperti baru lagi, ya namanya nggak jadi kota tua lagi…hehehe

    tulisanmu mnrtku dah bagus kim, runtut n ngambil angle-nya juga bagus..

    tp mnrtku msh ada yg kurang…ak sbg pembaca ga tau maksud dr artikel ini..maksudnya spy kota ini diperbaiki atau malah supaya dibiarkan saja nih?

    sbg jurnalis kita terkadang jg dituntut spy mengambil sikap terhadap apa yang kita lihat di lapangan..apalagi ini tulisan feature, bentuk tulisan yang ditujukan supaya pembaca merasakan apa yang dituliskan sang jurnalis…

    begitu pendapatku pak hakiim, piss…

  2. GiTa says:

    Trims bgt, tema2 yg anda buat sangat beragam & cukup berbobot. kebetulan saya sdg mencari info yg salah satunya anda tulis.

    btw, kira2 bagaimana saya bisa menghubungi Candrian Attahiyyat; kepala Unit Pelaksana Tugas Kota Tua ? Saya ingin berbincang2 dgn Beliau.

    Makasih sblmnya…

    • rosyidhakiim says:

      bisa langsung saja ke kawasan kota tua minta ke kantor UPT nya ketemu pak candrian atau telepon aja ke 0818165204, itu juga kalu dia belum ganti nomor lho…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s