Drama Penangkapan Anggota FPI

Posted: July 30, 2008 in Uncategorized

“Kok kayak perang ya,” kata Anas, salah seorang siswa SD. Anas kebetulan melewati jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat, saat ratusan polisi berperalatan lengkap datang untuk menangkap anggota FPI, Rabu (04/06) pagi. Para anggota FPI itu akan ditangkap terkait kasus kerusuhan Monas, minggu (01/06).

Pagi itu sekitar sekitar pukul 06.00 ratusan polisi mulai berdatangan di jalan Petamburan III. Meskipun sebelumnya polisi telah memblokir jalan K.S Tubun sejak dari perempatan Slipi untuk menjaga lokasi penangkapan agar tidak ada mobil yang bisa masuk.

Di sepanjang ruas jalan (jalan K.S Tubun) menuju jalan Petamburan III, tempat kantor FPI berada, polisi anti huru hara tampak berjaga-jaga. Sebanyak tiga buah mobil tahanan tampak terparkir tidak jauh dari polisi yang berjaga-jaga itu. polisi juga sibuk menghalau warga agar lokasi penangkapan tetap steril. Namun, ratusan warga yang didomiasi oleh ibu-ibu dan anak-anak tumpah ruah ke jalan.

“Suasananya kok perang sih, memangnya ada apa?,” kata Marni, salah seorang warga kepada temannya. Suasana pagi itu memang mencekam. Beberapa truk polisi yang berisi ratusan Brimob terparkir di sepanjang jalan K.S Tubun. Jalan tersebut merupakan jalan utama sedangkan jalan Petamburan III tempat markas FPI, merupakan jalan kecil yang lebih menjorok ke dalam.

Suasana di jalan tersebut justru jauh lebih mencekam. Mulya Astuti sangat resah dengan kondisi tersebut. Dia takut kalau aksi penangkap itu mendapat perlawanan dari FPI dan terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di Monas pada Minggu (01/06). “Saya takutnya kalau rusuh,” katanya.

Hiruk pikuk warga semakin memuncak saat beberapa orang yang bukan anggota FPI ikut ditangkap polisi. Ahmad Badawi, berulangkali berteriak mengatakan dirinya bukan anggota FPI tetapi polisi tetap saja membawanya. “Masya Allah, masa saya dibawa? saya bukan anggota FPI, saya cuma tukang service di SMP An-nur,” ujarnya.

Keributan juga terjadi di Jalan Petamburan III, Rt 03/03, No 40, tempat kediaman Rizky. Polisi tiba-tiba masuk kedalam rumah itu dan membawa paksa Rizky yang baru berumur 16 tahun itu. Ayah Rizky, Luthfi mengaku sangat kaget dengan penangkapan anaknya itu.

“Dia lagi ngobrol sama temannya di kamar, tapi kenapa cuma anak saya saja di tangkap” ujarnya. Menurutnya, jika Rizky ditangkap hanya karena celurit yang terpampang di kamar tidurnya itu, maka aksi polisi tidak tepat. Menurutnya Rizky membeli celurit itu untuk pajangan saja. “Saya minta dia segera dibebaskan, Dia masih kelas 1 SMA di Said Naum,” tambahnya.

Pada pukul 07.30 tiga buah mobil tahanan sudah mulai penuh dengan orang-orang yang ditangkap polisi. Beberapa Anggota FPI yang sudah berada di dalam mobil tahanan saling saut menyahut berteriak Allah Akbar. Sautan anggota FPI dimobil pertama menular ke mobil tahanan yang lainnya. Teriakan semakin kencang.

Tidak berapa lama tiga mobil tahanan yang mengangkut 56 orang hasil tangkapan polisi itu pun diberangkatkan. Menyusul dibelakangnya mobil Nissan Terano yang membawa pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab. Rombongan itu melaju menuju Polda Metro Jaya. Sekitar pukul 08.00, sebagian besar polisi mulai meninggalkan lokasi penangkapan. Setelah itu, sekitar pukul 08.15, jalan raya kembali dibuka sehingga kendaraan sudah mulai melintas kembali di jalan tersebut.

Dua jam setelah aksi penangkapan, suasana di kantor pusat FPI masih ramai. Kantor tersebut terletak tepat di pinggir jalan Petamburan III. Beberapa orang tampak masih berjaga-jaga di depan kantor tersebut. Kantor FPI itu sendiri hanya merupakan bangunan kecil dua lantai dengan luas sekitar 4×10 meter.

Tampaknya kantor tersebut akan melakukan renovasi. Pasalnya di depan kantor tersebut tampak tumpukan karung-karung semen dan gundukan pasir serta beberapa cangkul. Sepertinya kegiatan mengaduk semen sempat terhenti akibat adanya aksi penangkapan tersebut.

Dari dalam kantor tersebut tampak berantakan. Lantai dasar yang tidak ada kamar satu pun melainkan hanya toilet, dapur, dan tempat mencuci tampak berantakan. beranjak ke lantai dua yang terdapat empat buah kamar keadaanya juga tidak jauh berbeda. Di atas pagar-pagar yang mengelilingi tangga tampak baju-baju berserakan. Salah satu kamar di kantor itu pun terlihat menjadi seperti gudang. Barang-barang seperti televisi, kursi, atau lemari ditumpuk di dalam ruangan tersebut.

“Sebenarnya, masalah ini karena ketidaktegasan pemerintah terhadap Ahmadiyah,” kata Jamal, salah seorang warga. Menurutnya, kalau saja pemerintah sejak lama menutup kegiatan Ahmadiyah, aksi di Monas tidak akan terjadi. Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa media selalu tidak berimbang dalam pemberitaan. “FPI selalu disorot yang pas rusuh-rusuhnya saja,” tamabhnya. Hari itu Jamal yang mendapat informasi bahwa akan ada penangkapan pada dini hari, berusaha untuk ikut berjaga-jaga. Namun, karean polisi tidak kunjung datang di pun tertidur. Dia kembali terbangun saat ternyat polisi datang menagkpa pada pukul 06.00 pagi.

Setelah aksi penangkapan, rumah kediaman Habib Rizieq Shihab langsung di jaga oleh beberapa anggota FPI. Hampir semua media tidak mendapatkan akses untuk bisa masuk ke dalam markas sekaligus rumah pimpinan FPI itu. Dari kantor FPI yang berada tepat di pinggir jalan, untuk menuju ke rumah Habib Rizieq Shihab, kita harus masuk melalui jalan sempit yang hanya selebar satu meter.

Saat masuk ke jalan sempit itu, kita tidak akan langsung melihat rumah itu. Kita harus masuk lagi ke sebuah gang kecil yang lebarnya tidak lebih dari 50 centimeter. Sebuah kursi hijau diletakan di depan gang tersebut yang dipergunakan bagi anggota FPI untuk menjaga rumah itu.

Pada siang harinya, sejumlah polisi datang ke rumah sekaligus markas tersebut. Para wartawan kontan berdatangan dan membuat jalan kecil itu sesak. Namun, nihil wartawan tidak diperbolehkan masuk.

Tidak berapa lama, tim bantuan hukum FPI datang ke markas FPI. Jalan kecil itu kembali penuh sesak dengan wartawan. Sugito Admoprawiro, ketua Lembaga Bantuan Hukum FPI, mengatakan, maksud kedatangannya saat itu karena diminta oleh Dewan Pengurus Pusat FPI. “Mereka ingin mengkomunikasikan sesuatu,” katanya.

Tentang adanya korban salah tangkap, Sugito yang baru saja dari Markas Polda DKI Jakarta, membenarkan hal tersebut. ‘Yang salah tangkap itu banyak, tapi untuk angkanya kami tidak bisa memastikan karena tidak bisa menghitung satu-satu,” katanya.

Bagi mereka, lanjut Sugito, pihak bantuan hukum FPI akan bertanggungjawab untuk terus membantu mereka. “Siapapun yang ditangkap hari ini akan kita bantu,” ujarnya. (c62)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s