dsc04022

Pagi di Pekanbaru berbeda dengan di Jakarta. Hiruk pikuk kendaran absen di Ibukota Provinsi Riau ini. Mungkin karena jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika kami memasuki kota itu setelah menempuh perjalanan 5 jam dari Kota Duri. Tetapi di waktu yang sama, di Jakarta, mobil dan motor sudah saling beradu, berebut jalanan.

Berada tidak jauh dari Masjid Agung Pekanbaru, di seberangnya lebih tepatnya, terpampang spanduk panjang bertuliskan ‘Onen’ dengan jejeran mobil di depannya. Saat itu baru sekitar pukul 07.00 pagi, namun warung yang menjajakan ketupat sayur ini sudah penuh dengan pengunjung. Pak Nova, supir kami yang berdarah Minang, mengantarkan kami ke salah satu kuliner favorit di Pekanbaru.
Memasuki bangunan yang berdinding kayu itu, aroma kari khas masakan Padang langsung tercium. Di sudut lain, beberapa orang wanita sibuk menyiapkan piring-piring pesanan yang sudah penuh dengan ketupat. Dalam satu dua gerakan, seorang wanita menyiramkan dua jenis kuah atau sayur ke atas irisan ketupat itu. Pertama, kuahnya berwarna kuning sedikit oranye dengan beberapa potong nangka dan kacang panjang. Inilah sayur gulai. Kedua, kuahnya kuning sedikit hijau, ciri khas dari sayur paku atau gulai paku. Warna hijau yang muncul berasal dari tanaman paku atau pakis.

Ketupat sayur dengan gulai nangka atau gulai pakis akan dilengkapi dengandsc04018
sebutir telur, kerupuk merah, dan keripik singkong pedas. Agar menambah tonjokan dari hidangan yang sering menjadi sarapan masyarakat Pekanbaru ini, dis
edikan sate kerang dan Sala lauak. Panganan yang disebutkan terakhir bentuknya sekilas seperti perkedel kecil. Akan tetapi, ada yang beda dari teman makan ketupat sayur itu. Dia dibuat dari singkong dan teri, sehingga ketika dimakan langsung atau dicampurkan ke dalam kuah sayur rasa gurihnya akan memberikan rasa laut yang tipis namun tetap terasa.

dsc04016

Sepiring ketupat sayur dengan gulai pakis mungkin biasa bagi sebagian orang. Namun, makanan yang dekat dengan rasa kari dan cubitan pedas pada setiap suapannya ini dapat menjadi petunjuk menjelaskan tentang Pekanbaru.

Daerah yang dahulu bernama “Senapelan” yang sejarahnya tidak lepas dari perdagangan yang jalurnya menggunakan Sungai Siak hingga ke Selat Malaka. Kawasan yang perkembangannya berbagi cerita dengan berdirinya Kerajaan Siak Sri Indra Pura ini memang sudah erat kaitannya dengan perdagangan dan pasar. Namanya berubah menjadi Pekanbaru diawali ketika salah satu garis keturunan Sultan Siak, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah berinisiatif membuat pekan atau pasar di Senapelan. Pekan tersebut kurang berkembang lalu digeser oleh anaknya Raja Muda Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah ke sekitar pelabuhan. Hasilnya pasar tersebut mulai berkembang dan pada tahun 1784 Sultan tersebut menetapkan bahwa daerah Senapelan menjadi Pekanbaru. Nama yang mungkin muncul dari istilah pasar atau pekan.

Sebagai sebuah kesultanan, rumpun melayu adalah yang menjadi mayoritas. Namun, dalam perkembangannya suku melayu ini jumlahnya semakin sedikit. Pekanbaru sebagai lokasi perdagangan menjadi pusat dari banyak etnis. Suku yang kemudian menjadi berkembang lebih banyak adalah mereka yang berasal dari Sumatera Barat. Masyarakat Minang kental dengan tradisi merantaunya. Tradisi yang banyak dilakukan oleh anak laki-laki inilah yang membuat orang-orang Minang berdiaspora di seluruh Indonesia. Karena lokasinya yang berdekatan, banyak orang Minang yang kemudian merantau ke Pekanbaru.

dsc04014

Hal ini tampak dari sepiring ketupat sayur gulai paku yang dihidangkan pagi itu. Khasanah rempah dan rasanya lebih condong pada keterampilan tangan orang Minang daripada mereka yang dari Melayu. Perbedaannya mungkin tidak banyak, akan tetapi kecapan rasa pedas dan hangat dari pilihan rempah yang dipakai pada gulai paku menunjukkan asal makanan tersebut.

Makanan sebagai sebuah identitas kultural mampu menunjukkan migrasi dari sebuah kelompok masyarakat. Biasanya mereka yang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan berusaha mempertahankan tradisi atau rasa yang sudah dikenal lidahnya. Banyaknya masakan Minang yang tersebar di Pekanbaru menunjukan bahwa entitas kelompok tersebut ada dan kuat. Data dari Bappeda Riau tahun 2008 menunjukkan bahwa populasi masyarakat Minangkabau di Pekanbaru mencapai 37% diatas etnis yang lain.

“You are what you eat” adalah istilah yang sangat umum untuk menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi penanda identitas pribadi atau kelompok. Perpindahan kelompok masyarakat yang disebabkan oleh banyak hal, salah satunya tradisi, akan melibatkan kuliner di dalamnya. Kumpulan memori yang tersimpan di sensor-sensor rasa di lidahlah yang membuat makanan khas tidak akan lepas dari seseorang. Rasa rindu terhadap satu jenis makanan tertentu adalah salah satu contoh bahwa bagian dari identitas kita bisa dibangkitkan melalui makanan.

dsc04020Pak Nova yang berdarah Minang ketika merekomendasikan ketupat sayur Onen ini bukan tanpa sengaja. Ikatan yang kuat dengan tradisinya yang kemudian ditunjukan dengan pilihan kuliner sudah membuktikan. Bahkan ketika kami menikmati gurihnya kuah kental dari ketupat sayur itu, pelanggan-pelanggan lain yang kita temui juga sebagian besar dari Sumatera Barat. “Disini tempat orang-orang Padang berkumpul,” kata Nova menjelaskan. (kim)

Advertisements

Social enterprise, terdengar seperti terminologi yang baru. Akan tetapi bagi masyarakat Inggris, sebuah usaha untuk ikut menyelesaikan permasalahan sosial atau lingkungan tersebut sudah ada sejak 1840. Ketika itu, di daerah Rochdale, Manchester, buruh membentuk koperasi untuk menjual makanan berkualitas namun terjangkau bagi buruh-buruh yang lain. Koperasi itu dibentuk sebagai respon terhadap pabrik yang cenderung eksploitatif.

Lalu, gerakan social enterprise ini kembali berkembang pada pertengahan tahun 1990-an. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya beragam institusi termasuk koperasi, usaha komunitas, pengelolaan donasi, dan bentuk bisnis sosial yang lain. Kemunculan itu ditujukan untuk menggunakan bisnis sebagai cara untuk membuat perubahan sosial. Bahkan untuk memberikan dampak yang lebih besar, pemerintah Inggris membentuk badan tersendiri yang khusus menangani bisnis-bisnis sosial tersebut. Social Enterprise UK memberikan pelatihan, sarana untuk berbagi informasi diantara bisnis sosial, konsultansi, dan beberapa hal lain guna mendorong pertumbuhan social enterprise.

Saat ini, di London, sudah muncul beberapa jenis bisnis sosial yang cukup ternama. Seperti Fifteen, restoran yang dibangun oleh Jamie Oliver, celebrity chef dari Inggris. Pada awal tahun 1990-an, koki tersohor itu merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu anak-anak muda pengangguran atau mereka yang putus sekolah untuk mendapatkan kesempatan membuat hidup mereka lebih baik. Dia percaya bahwa melalui kemampuan memasak, anak-anak muda ini bisa memiliki peluang untuk meraih masa depannya. Membutuhkan waktu 10 tahun untuk benar-benar bisa melihat upaya Jamie dan Fifteen memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak muda di Inggris.

Cara yang sama juga dilakukan oleh Hackney City Farm, sebuah perkebunan yang berada di sisi timur kota London. Mereka mempekerjakan manula, mantan narapidana, atau anak-anak muda bermasalah. Disana, orang-orang itu tidak hanya diajarkan berkebun atau memperkirakan musim tanam, tetapi bagi anak-anak yang seharusnya masih dalam umur sekolah, diajarkan juga beberapa pelajaran dasar seperti matematika, bahasa, dan pengetahuan umum. Melalui cara ini, mereka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa diterima kembali oleh masyarakat, sekaligus memiliki kemampuan untuk mandiri.

keramahtamahan pedagang angkringan melayani pelanggannya

keramahtamahan pedagang angkringan melayani pelanggannya

Berbicara tentang social enterprise sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke London, di Indonesia atau khususnya di Solo dan Jogja kita sudah bisa melihat bagaimana sebuah usaha mampu memberikan solusi terhadap permasalahan sosial. Bagi yang sudah berkunjung ke dua kota satu rumpun itu, pasti mengenal usaha kaki lima bernama angkringan (sebutan di wilayah Jogja), hik, atau wedangan (sebutan di wilayah Solo). Berdasarkan catatan sejarah yang masih ada, di Jogja, angkringan berawal dari perjuangan seorang bapak asal Klaten yang menjajakan makanan kecil, minuman, dengan cara dipikul sambil berkeliling. Pada perkembangannya, angkringan yang awalnya nomaden justru menjadi menetap. Salah satu spot angkringan yang cukup terkenal adalah di sekitaran Stasiun Tugu. Angkringan juga bisa ditemukan tersebar di banyak tempat di Jogja.

Di Solo, hik atau wedangan juga tersebar. Bahkan, kalau ingin menghitung, penyebarannya jauh lebih besar dari angkringan di Jogja. Hanya dalam jarak beberapa meter saja, kita sudah bisa menemukan hik atau wedangan lain. Makanan dan minuman yang dijajakan cenderung sama, sebut saja nasi kucing (nasi bungkus dalam porsi kecil), sate usus, sate ampela ati, sate bakso, sate telur puyuh, aneka sate yang lain, aneka gorengan, dan beragam minuman hangat atau dingin.

Hampir 80% makanan yang dijajakan berasal dari masyarakat sekitar

Hampir 80% makanan yang dijajakan berasal dari masyarakat sekitar

Lalu dimana letak bisnis sosialnya? jawabannya terletak pada makanan yang dijajakan. Angkringan, hik atau wedangan, dapat dikatakan sebagai sebuah usaha yang melakukan pemberdayaan masyarakat. Secara sosial usaha informal tersebut mencoba menjadi solusi bagi masyarakat sekitarnya untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Sudah sangat lazim bagi usaha macam angkringan, hik atau wedangan ini untuk menerima titipan-titipan makanan. Bahkan menurut pengakuan salah satu pedagang hik di kawasan Sriwedari, Kota Surakarta, 80% makanan yang dijajakan adalah titipan dari masyarakat sekitar.

Para pedagang angkringan menjadi semacam outlet serba ada yang menerima sate dari ibu A, gorengan dari ibu B, nasi teri dari ibu C, dan beragam makanan lain. Profit yang didapatkan juga dibagi secara adil tanpa memberatkan salah satu pihak. Karena hal inilah, keberadaan angkringan, hik atau wedangan masih ada hingga saat ini, masyarakat ikut mendukung eksistensinya karena mendapatkan manfaat darinya.

Belajar dari bisnis sosial tersebut, Dapoer Bistik Solo, sebuah restoran kecil yang menjajakan menu bistik di kawasan Jl. Kebangkitan Nasional No.62, Penumping, Solo, ikut mencoba mendorong usahanya agar lebih memberikan dampak secara sosial. Dapoer Bistik Solo mengajak anak-anak muda yang ingin belajar memasak atau membangun usaha restoran untuk belajar disini. Dengan tagline food for peace, Dapoer Bistik Solo ingin menjadikan makanan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah sosial yang akhirnya bisa menciptakan perdamaian.

Salam Food for Peace. 

Orang bilang, tidak ada yang kebetulan di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membuka kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Siapa sangka, dari pertemuan itu akan ada kisah menarik yang diceritakan. Seperti yang terjadi di malam itu.

Pada kunjungan keduanya, dua mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi ternama di Solo itu kembali berdiskusi soal kegiatan yang akan dilakukannya di akhir bulan. Menjelang akhir pembicaraan terungkap bahwa salah satunya adalah keturunan dari pedagang sate daging sapi di Lapangan Karang, Kotagede, Jogjakarta. Warga Jogja mengenalnya sebagai Sate Karang. Disebut Sate Karang karena lokasinya di Lapangan Karang, sebenarnya ada nama yang terbubuh di spanduk warung tenda sederhana itu. Tapi sayangnya, saya lupa.

Kenapa pertemuan tersebut menjadi spesial? karena Sate Karang adalah salah satu makanan penuh memori bagi saya dan hal menarik lainnya adalah penyajiannya yang unik tetap dipertahankan.

Masa SMA saya tidak jauh dari menu Sate Karang. Menu spesial yang bisa saya icipi setelah menabung beberapa saat. Wajar, ketika itu masih anak sekolah dan hanya bergantung pada uang jajan.

Dahulu, sekitar 15 tahun yang lalu, Lapangan Karang masih semarak. Pada saat matahari masih bersinar, lapangan tersebut tampak seperti lapangan pada umumnya, digunakan sebagai sarana olahraga oleh sekolah atau masyarakat setempat. Ketika matahari berganti bulan, tempat itu seakan disulap menjadi salah satu sentra kuliner di sudut daerah Kotagede. Deretan pecel lele, pedagang minuman hangat, serta Sate Karang tentunya. Bersama dua sahabat saya, kuliner Lapangan Karang sering menjadi saksi cerita-cerita kami soal gadis yang sedang ditaksir, masa depan, dan mimpi-mimpi kami yang lain.

Selepas SMA, Lapangan Karang menjadi semakin jarang saya kunjungi. Namun, memori itu masih tetap ada, hingga belasan tahun kemudian setelah merantau di Jakarta cukup lama, saya kembali kesana. Usulan sahabat saya yang lain untuk kembali ke tempat itu.

Ketika mobil sudah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, saya kemudian melihat sekeliling. “Lapangan Karang sudah berubah”, gumamku dalam hati. Entah karena hari itu hujan atau alasan lain, lokasi yang pada awalnya ramai dengan penjaja makanan, sudah berkurang cukup signifikan. Hanya tersisa pedagang Sate Karang yang masih konsisten melayani pelanggannya.

Konsisten, kata ini juga yang terbersit saat kami disuguhkan menu pesanan kami. Sate daging yang disajikan masih menggunakan cara yang sama sejak belasan tahun lalu, sejak terakhir saya mampir kesana. Daging sapi yang tampaknya telah diungkep dengan bumbu tertentu, kalau dugaan saya ada sedikit buah asam dan gula Jawa. Hasilnya, daging yang telah dibakar memberikan efek karamel yang khas dan rasa manis yang cukup dominan.

salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti 'cuko'

Salah satu cara penyajian daging satenya adalah dengan memberikan kuah seperti ‘cuko’

Sate yang telah dibakar matang disajikan dengan tiga cara, yaitu dengan bumbu kacang, bumbu kecap, dan bumbu kuah. Untuk yang terakhir inilah yang memberikan nuansa unik pada Sate Karang. Daging dilepaskan dari tusukannya, lalu kemudian disiram dengan kuah pedas manis yang hampir mirip dengan ‘cuko’ pada pempek. Kombinasi ini selain memberikan rasa yang berbeda, juga mampu mengembalikan memori saya ketika SMA. Rasa memang menurut saya adalah satu saklar memori yang efektif. Kita tumbuh dengan rasa yang melekat di lidah, ada beberapa jenis rasa yang kemudian mampu membangkitkan momen tertentu. Oleh karena itulah, orang bisa saja tumbuh besar di negara lain, tetapi pada satu titik mereka akan kangen dengan rasa dari negaranya.

Kembali ke Sate Karang. Keunikan tidak berhenti pada penyajian dagingnya. Karbohidrat yang menemani sate, sebut saja lontong, disajikan dengan sayur tempe yang berkuah santan. Sekilas tampak seperti opor atau ketupat sayur, akan tetapi dari sisi rasa justru lebih dekat pada opor. Sate berkuah seperti ini jarang kita temui. Hal itulah yang menjadikan Sate Karang tetap istimewa di hati.

lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Lontong yang disajikan dengan sayur tempe ini rasanya lebih mirip opor

Nasib Tempe di Negeri Tempe

Posted: October 29, 2014 in Uncategorized

Terbit di Koran Seputar Indonesia (SINDO), 11 September 2013

tempe

Untuk ke sekian kalinya, nasib pengusaha tempe berada di ujung tanduk. Kebangkrutan. Sejak impor besarbesaran kedelai sebagai bahan baku tempe, kabar kebangkrutan ini seolah menjadi trauma tersendiri bagi para pengusaha tempe.

Tahun 2008 silam, ratusan bahkan ribuan pengusaha tempe melakukan demonstrasi di depan Istana Negara. Hasil dari aksi tersebut dikeluarkannya skema subsidi kedelai. Langkah ini bagaikan angin segar dari Pemerintah yang berpihak kepada pengusaha tempe. Empat tahun kemudian (tahun 2012), harga kedelai impor kembali mengalami kenaikan. Para pengusaha tempe kembali mengancam menggeruduk Istana. Nasib serupa terulang lagi di tahun ini. Lemahnya nilai rupiah terhadap dolar, tentunya membuat para pengusaha tempe ketarketir.

Harga dolar beranjak naik, bahkan sempat menembus angka Rp11.000 untuk USD1, berimbas melonjaknya harga kedelai. Miris rasanya berulang kali mengetahui tempe terombang-ambing oleh kondisi ekonomi negara kita. Kebangkrutan para pengusaha tempe tentunya akan mengakibatkan hilangnya produk olahan kedelai di pasaran. Padahal sejak negara ini belum bernama Indonesia, tempe sudah menjadi menu masyarakat sehari-hari, setidaknya di Pulau Jawa. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harusnya berani bersikap. Menggunakan skema subsidi untuk membantu menurunkan harga kedelai impor, rasanya menjadi balsam saja.

Terlihat efektif pada mulanya, namun hilang efeknya pada jangka panjang. Kebergantungan Indonesia terhadap impor kedelai harus dikurangi agar gejolak harga tempe tidak terkait dengan kondisi ekonomi. Selain itu, pemerintah harus mulai mengembangkan kemampuan produksi kedelai lokal. Potensinya sudah ada di depan mata, namun perlu keberanian dari pemerintah untuk melakukannya. Mungkin rasanya aneh jika pemerintah harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah tempe ini.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa panganan fermentasi kedelai ini memiliki peranan penting dalam konteks sosial masyarakat Indonesia. Tempe bisa dikatakan sebagai produk asli Indonesia dan secara tidak langsung menjadi salah satu identitas bagi Indonesia. Mengapa tempe harus tetap ada di pasaran? Pertama, tempe sudah ada sejak zaman pemerintahan Sultan Agung, sang penguasa Kerajaan Mataram, hal ini dibuktikan dengan munculnya kata tempe pada Serat Centini.

Seperti yang diungkapkan dalam buku History of Tempeh yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, tradisi membuat tempe di Indonesia sudah ada sejak abad ke-16 di Pulau Jawa. Jadi tidak mengherankan jika tempe menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Tempe merupakan salah satu bukti kecanggihan bioteknologi yang ditunjukkan oleh orangorang Jawa di masa lalu. Dahulu untuk mendapatkan jamur pengikat tempe, mereka menggunakan punggung daun waru.

Kedelai-kedelai yang telah dibersihkan dan direbus diletakkan di punggung daun waru untuk beberapa lama hingga kedelai-kedelai tersebut saling terikat. Jamur-jamur pengikat yang serupa kapas tersebut kemudian diambil dan digunakan pada kedelai dengan kuantitas yang lebih banyak. Kedua, tempe menjadi sangat Indonesia karena ragi atau jamur Rizhopus oligosporus hanya bisa aktif mengikat kedelai-kedelai menjadi tempe pada suhu sekitar 30 sampai 31 derajat Celsius. Suhu tersebut adalah suhu normal di Indonesia.

Negara lain seperti Jepang dan China (sering dianggap sebagai tempat asal-muasal tempe) akan sulit untuk mencapai suhu tersebut. Di tempat lain, diperlukan inkubator khusus untuk membuat tempe. Sedangkan di Indonesia, tempe bisa dibuat secara alami. Wajar jika China dan Jepang sering diasumsikan sebagai negara asal tempe, karena di dua negara itulah tradisi pengolahan kedelai sangat kental, seperti tahu, miso, dan kecap.

Akan tetapi, tempe sebagai sebuah produk adalah asli Indonesia yang berasal dari local wisdom masyarakat Jawa. Ketiga, seperti diungkapkan oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, tempe sudah menarik perhatian dunia sejak Belanda menguasai tanah Nusantara. Ketika itu, peneliti dari Belanda datang ke Indonesia untuk meneliti tentang tempe. Karena pada masa itu banyak orang Indonesia pergi dan menetap di Belanda, dibangunlah pabrik tempe pertama di sana.

Dari pabrik itulah, tempe kemudian menjadi dikenal di Eropa dengan nama tempeh (mereka menambahkan ‘h’ agar tetap terbaca tempe). Di Inggris sempat dibangun pabrik tempe pada 1970-an, begitu pula di Jerman dan di beberapa wilayah lain. Selanjutnya pada masa kekuasaan Jepang di Indonesia, ketertarikan terhadap tempe justru semakin terbangun.

Selain Jepang, di Amerika tempe justru mendapatkan tempat di antara makanan sehat yang lain. Keempat, bagi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, tempe masih menjadi bahan makanan yang dicari. Di London, salah satu warung penjual penganan Indonesia mengaku menjual ratusan tempe setiap minggunya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kangen terhadap tempe akan terus ada. Bagi mereka, tempe bisa menjadi cara untuk mengingat kampung halaman atau mengingat kembali akar tempat mereka berasal.

Secara tidak sadar, rasa tempe yang khas bisa menjadi penanda identitas bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. Memori mereka terhadap tempe justru mampu mempertahankan rasa nasionalisme mereka, meskipun berada ribuan kilometer dari Nusantara. Selain melalui simbol-simbol negara, identitas juga bisa didapatkan dari ingatan dan memori terhadap kampung halaman, terhadap tempat seseorang berasal. Tempe bisa menjadi penanda identitas melalui rasa yang terbentuk di lidah masyarakat Indonesia.

Mereka boleh saja menetap di belahan dunia yang berbeda dan menikmati hidangan lokal negara setempat, akan tetapi rasa yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu akan tetap ada. Jika rasa itu kembali dikenali oleh lidah, hal tersebut akan mampu memunculkan kembali memori tentang tempat dia berasal. Bagi sebagian besar orang yang berada di luar negeri tempe goreng yang sangat sederhana dengan bumbu bawang putih, merica, dan garam justru mampu mengingatkan masa kecil mereka di Indonesia.

Melihat empat fakta tersebut akankah kita rela jika tempe harus hilang dari pasaran karena harga kedelai yang selangit? Sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk kembali melihat produksi kedelai lokal. Sejarah sudah membuktikan bahwa kita mampu membuat tempe dengan kedelai lokal yang dikembangkan oleh masyarakat.

Selain upaya dari pemerintah, sebagai konsumen harus mulai mengapresiasi dan membeli tempe berasal dari kedelai lokal agar industri ini dapat berkembang dan mandiri. ●

Rosyid Nurul Hakiim  ;    Penerima Beasiswa Chevening 2011-2012 dengan Tesis: Tempe dan Identitas Nasional Indonesia Jurusan Media and Communication, Brunel University, London, Inggris

Published on Jakarta Globe 16 October 2014

IMG_6249

Do we really concern ourselves with how the rice has ended up on our plate and how it began the journey?  Food is not just to satisfy our hunger, it is also a window to consider the situation of food availability and the condition of Indonesian family farmers.

The celebration of World Food Day today is our reminder to give our attention to the farmer. This group plays a significant role in supporting our daily needs.

However, data from the Central Bureau of Statistic (BPS) shows that the numbers of family farmers in Indonesia is decreasing significantly over the past decade. The country lost more than five million family farmers. Since 2003 the number of family farmers has dropped to only 26.13 million. One of the major factors of farmers leaving the industry is reduced return on their labor.

The agricultural census held by BPS in 2013 found that the average family farmer earns only around Rp 1 million ($80) per month. Their earning is not worth to the risk they bear. There is no support provided for any loss of crop due to pests or extreme weather conditions.

Prof. Dr. Dwi Andreas Santoso from the Bogor Agricultural Institute (IPB) has previously said that more than 50 percent of the 28.55 million poor in Indonesia are family farmers.

Families often lose access to land as it is rare for them to own it. Almost 50 percent of farmers in Java do not have land and rent instead.

The agriculture sector is seen as less lucrative than in the past and struggles to replace farmers exiting the workforce.

The future of the industry becomes a concern when considering the projected growth in Indonesia’s population. The BPS suggests the population will grow up to 273 million in 2025.

Fasli Jalal, chairperson of the National Population and Family Planning Board (BKKBN) says 10,000 babies are born each day in Indonesia, which presents serious questions about food security.

It is a tough job ahead to regain the pride of being a farmer, but it’s necessary to increase the amount of family farmers to help food supply to the country.

This is our call to give the group genuine appreciation.

The United Nations Food and Agriculture Organization (FAO) on World Food Day has chosen the theme Family Farming: “Feeding the World, Caring for the Earth.” The organization invites all elements of society to take serious care of family farmers.

The vulnerable group work hard to contribute to the food supply of the world, yet they are hungry themselves. The FAO noted that over 70 percent of people in rural areas of Asia. Latin America, Africa, and the near East, many of which are family farmers, are still insecure in terms of food.

Therefore, it is our job to support the needs of family farmers. Community development is important to secure their productivity and to transfer simple technology to support their cultivation.

Through that strategy, we hope that it will increase their earnings or at least show them that they are not alone.

For example the Indonesian Biodiversity Foundation (Kehati), in Semau, East Nusa Tenggara, in cooperation with other institutions, taught family farmers the drip irrigation technique.

The farmers had good spirits and keep trying to cultivate even though they are living in very dry area. The community development through learning dripping irrigation technique helped them increase their productivity.

Another example is in Yogyakarta. Kehati encouraged local farmers to again begin cultivating their food source, which is similar to tuber plants.

The foundation developed the program by giving them the capability to add value to their agriculture product through methods such as processing to produce tuber chips or in the packaging aspect.

Through this community development work, it gave the farmer opportunity to earn more.

Rosyid Nurul Hakiim is a communication officer at KEHATI

Published in Jakarta Globe, October 2, 2014

DSC_7094

Before dawn last Friday, Indonesia experienced an incredible shock. The House of Representatives decided to pass a bill abolishing the direct elections of governors, district heads and mayors, and giving local legislatures the power to appoint regional leaders.

The move ignited popular unrest, with citizens taking to Twitter, Facebook and even the streets to demand a judicial review of the bill by the Constitutional Court. Many other reactions responded to the reality that the people has lost their right to vote.

Then a second blow came on Wednesday, when the Constitutional Court rejected a judicial review of the law on legislative bodies, known as the MD3 law, submitted by Indonesian Democratic Party of Struggle, or PDI-P. That means the PDI-P’s attempt to secure the House speaker’s seat remains shaky, because according to the decision of the court the next leader of the House will be elected by legislators, and not appointed by the party that won the most votes at the legislative election, as was the practice previously. This new condition will favor the opposition, which dominates the new House and has the chance to secure the seat.

From that recent development, it shows that politics is purely for the interests of certain group. These developments will tend to jeopardize the incoming administration of President-elect Joko Widodo, nominated by the PDI-P. The maneuvering by the opposition shows clearly that they will go head-to-head against the new president and his party, and that they have enough power to counter all government policies.

However, even though the opposition and the next government will be at loggerheads, thereby stalling the passage of key policies, it is important for the new House, as the legislative branch, and the new government, as the executive branch, to have common ground on the issue of biodiversity conservation. They have to make peace on that issue and walk side by side to support policies for biodiversity conservation and use, because at stake is the country and its people. Any mistakes in passing legislation or regulations will directly affect the people.

We have to realize that biodiversity is very important to human life. The loss of any bit of biodiversity will disrupt the balance of life on Earth.

Endang Sukara, a professor at the Indonesian Institute of Sciences, or LIPI, has noted that 70 million years ago the rate of species extinction was just one every 1,000 years; from 1600 to 1900 it was one every four years; from 1900 to 1980 we lost one species every year; and after the year 2000 the world was losing an entire species every day.

The United Nations Environment Program has similarly estimated that species are disappearing at 50 times the natural rate. Some 34,000 plant and 5,200 animal species currently face extinction.

Facing these disturbing numbers, Indonesia, as a country with immense biodiversity, should take action to prevent biodiversity loss. Moreover, Indonesia will enter the Asean Economic Community next year, with its attendant increase in demand on natural resources, so biodiversity management it will require extra caution.

We have a lot of potential in that aspect, but the wrong strategy will benefit other countries. Therefore, political will and action from the government and the House are urgent. Judicious policies regarding biodiversity preservation and use will lead to our nation prospering. The legislative and executive should get along well to produce proper policies to convert the potential from biodiversity use into something that can benefit the nation.

For example, in the context of realizing food sovereignty, data from the 2013 agricultural census show a shrinking number of Indonesians employed in farming. Between 2003 and 2013, at least five million households gave up farming, leaving just 26 million farming households as of 2013.

That diminishing number will significantly affect the food supply, and the effect will be amplified by the a projected boom in the total population of the country, from 238 million in 2010 to 305 million in 2035.

If the number of farmers goes into free fall and the population continues to swell, Indonesia will face a food crisis. One of the keys to national prosperity is ensuring a sufficient food supply. Therefore the need to use biodiversity to tackle this challenge is pressing.

One of the important keys to realizing biodiversity use for national prosperity is local communities. They are the element who benefit directly from the proper management of biodiversity use. Strong local communities will lead to a strong nation. Training and mentoring about biodiversity use management will give added value in biodiversity products, and that will have an economic impact.

One example of how local communities are capable of developing a strategy to use biodiversity potential for their needs is the local biodiversity park of Gumi Banten in Renon village in Denpasar, Bali.

The Indonesian Biodiversity Foundation, or Kehati, worked with the Denpasar administration and Udayana University to develop a biodiversity park to conserve a variety of local plants and exotic flowers, including 12 varieties of coconuts, 10 species of bamboo, and 12 varieties of bananas. Those plants and flowers are important to Hindu ceremonies. Thanks to the park, the people in Renon no longer have to import flowers or plants from elsewhere; they have a sustainable solution to meet their needs.

The biodiversity park in Gumi Banten is only a small example, and Indonesia has very big potential for biodiversity use for national prosperity. However, without serious commitment from the legislative and executive it is impossible to turn that potential into reality. Every effort by local communities for biodiversity conservation and use needs support and legal certainty to achieve a significant impact for national prosperity. Therefore, the legislative and the executive should walk together in producing policies that favor biodiversity conservation and use, so that in the long run the nation will prosper.

Rosyid Nurul Hakiim is the communications officer of the Indonesian Biodiversity Foundation

Saat itu sekitar pukul 7 malam waktu London, ketika Blackberry hitam saya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Mata masih setengah terlelap ketika membaca pesan tersebut. Ya setengah terlelap, karena musim dingin berarti malam jauh lebih cepat dan saya pun lebih cepat mengantuk. Di bulan Februari matahari masih terbenam pada pukul 16.00.

Kampus Brunel penuh salju (hanya butuh 10 menit berjalan dari asrama menuju kampus ini)

“Salju turun…” tertulis jelas dalam pesan itu. Saya lupa isi lengkap pesan tersebut akan tetapi dua kata itu seakan menjadi pecutan yang membuat saya melompat dari kasur dan membuka tirai jendela. Benar saja, butir-butir putih itu turun selayaknya hujan menutupi tanah dan ranting-ranting pohon. Keajiban alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya, selain bunga-bunga es yang mengendap di kulkas rumah saya di Jogja. Butiran-butiran salju itu menyihir pikiran saya, membawa pada perjalanan hidup seorang pria biasa-biasa saja yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk bersekolah ke luar negeri melalui beasiswa Chevening. Beasiswa yang diberikan langsung oleh pemerintah Inggris.

Ya, saya adalah seorang pria biasa saja, tanpa nilai akademik yang luar biasa. Sejak SMA, saya tidak pernah mendapatkan gelar juara. Kecuali setelah duduk di kelas tiga IPS yang itu juga kaerna tidak ada matematika dan fisika dalam daftar pelajaran yang diujikan. Menghitung sudah menjadi momok paling menakutkan entah sejak kapan. Jika orang bisa dengan cepat menjawab soal-soal perkalian, hingga saat ini saya masih menggunakan cara yang bisa dibilang berbeda. Jika ditanyakan 7 x 8 maka cara saya menjawab adalah dengan menambahkan 49 (hasil dari 7 x 7) dengan 7 lagi. Jadi di dalam otak saya terbayang ada 8 buah angka 7 yang harus ditambahkan. Well, meski mungkin cara ini cenderung lambat, tapi saya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Memasuki perkuliahan, tidak banyak yang ingin saya capai. Cukup hanya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa saja. Jika kemudian saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, itu mungkin karena kesalahan sejarah saja. Dari sisi akademis tidak ada yang mencolok dari transkrip saya. Impian untuk sekolah ke luar negeri pun ketika itu belum terpikir. Kerjaan saya hanya kuliah, duduk di bawah pohon rindang sambil berdiskusi kesana kemari dengan teman-teman hingga saatnya pulang menjelang maghrib. Tidak banyak yang terjadi selama bangku kuliah.

Hingga suatu saat satu persatu saya melihat teman-teman saya mengikuti tes untuk bisa kuliah singkat ke Italia. Salah satu teman sekelas berhasil dan dikirim ke Italia. Waow, tidak terbayang dalam diri saya untuk bisa keluar negeri seperti itu, pasti hanya orang pintar yang bisa melakukannya. Rasa pesimis itu memang muncul, tapi disisi lain ada rasa iri yang mulai menggelitik. Kenapa mereka bisa dan saya tidak. Tapi rasa ingin bisa sekolah ke luar negeri itu hanya berlalu sesaat. Saya kembali menjadi mahasiswa biasa-biasa saja.

Gelora untuk bisa kuliah di luar negeri, kembali muncul ketika Kakak pertama saya berhasil mendapatkan Chevening dan kuliah di St. Andrew yang katanya salah satu universitas terbaik dan tempat Pangeran Williams bersekolah. Cerita yang dibawa oleh kakak serta foto-foto tentang bagaimana eropa melalui sudut pandang kameranya, memberikan semacam semangat bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa Chevening tersebut, kita hanya perlu mencoba saja. Saat itulah status saya sebagai mahasiswa biasa berubah menjadi mahasiswa pemburu beasiswa.

Setiap sebelum masuk kelas, saya usahakan untuk membaca papan pengumuman dekat dengan kantor jurusan Sastra Prancis, sekedar untuk mencari informasi beasiswa. Selain itu, saya kemudian mendaftar sebagai anggota milis beasiswa untuk bisa selalu mendapatkan kabar terbaru soal kesempatan beasiswa. Hal ini terus berlangsung hingga saya lulus dan bekerja menjadi wartawan di salah satu media nasional.

Tapi sebagai pemburu beasiswa, saya mungkin berada pada kasta paling bawah karena kadang masih malas-malasan untuk mencoba. Pemicu malas ini adalah kesibukan bekerja dan saya belum pernah mengambil tes IELTS sebelumnya. Otomatis saya belum punya nilai yang bisa menjadi pengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Padahal nilai itu sering sekali muncul menjadi salah satu syarat utama dari berbagai macam program beasiswa.

Nah, kenapa saya belum pernah tes IELTS, itu karena saya kurang percaya diri dengan bahasa Inggris saya. Bisa dikatakan seumur hidup saya belum pernah mengambil les bahasa Inggris yang benar-benar mengajarkan grammar dan sebagainya. Saya hanya belajar melalui PS (Playstation) terutama dengan game RPG (role playing game). Panjang jika saya harus menjelaskan tentang RPG itu tapi pada dasarnya saya harus mengerti cerita dari game tersebut untuk bisa menikmati, memainkan, dan menyelesaikan game tersebut. Saya masih ingat RPG pertama saya adalah Breath of Fire, cerita game ini menarik sehingga setiap kali memainkannya kamus tebal selalu berada di samping saya. Begitulah cara saya mengerti bahasa Inggris dan menambah kosa kata. Cara yang tidak biasa memang tapi paling tidak saya bisa membuktikan bahwa saya bisa.

Sadar dengan kemalasan saya, Kakak pertama selalu kembali memberi semangat. Menceritakan kembali tentang keuntungan bersekolah ke luar negeri. Kakak pertama saya ini memang menjalankan perannya sebagai sulung dengan sangat baik. Memberikan standar contoh yang tinggi sehingga adik-adiknya bersemangat untuk bisa seperti dia. Dalam soal pendidikan, keluarga (bapak dan ibu) tidak terlalu banyak memberikan masukan. Mereka lebih cenderung membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai, asalkan bertanggung jawab. Coba bayangkan siapa yang tidak bertanya-tanya jika anaknya masuk Sastra Prancis, mau jadi apa anak mereka nanti. Tapi tidak dengan orang tua saya, mereka membebaskan saja asalkan saya suka. Bapak dan Ibu lebih menekankan soal agama, mereka sangat ketat untuk hal ini. Beruntung juga, karena sampai sekarang insya Allah saya tidak pernah bolong sholat lima waktu.

Dengan kondisi orang tua seperti itu, semangat mengejar pendidikan ke luar negeri hanya datang dari Kakak pertama, dan dia melakukannya dengan sangat baik. Mulai lah kuping saya terasa panas ketika mendengar cerita-cerita dia dan mengambil kursus persiapan IELTS, kursus pertama dalam hidup saya. Berharap diajarkan juga tentang berbahasa Inggris yang baik dan benar, ternyata kursus itu hanya mengajarkan trik cara menjawab soal IELTS dan memberikan kesempatan murid-muridnya untuk berlatih. Hasilnya, ketika saya melakukan tes IELTS, hasilnya 6,5 lumayan lah.

Mendapatkan nilai IELTS bukan berarti saya bisa langsung mendapatkan beasiswa. Saya masih harus berusaha untuk mendaftar. Sejak awal, tujuan saya hanya Chevening, ingin mengikuti jejak kakak. Selain itu, proses beasiswa ini cenderung lebih mudah dari yang lain-lainnya. Hanya mengisi aplikasi online dan menunggu panggilan. Berbeda dengan beasiswa lain yang harus mencatumkan surat izin dari perusahaan dan lain sebagainya. Jika ditotal, usaha saya untuk mendaftar Chevening sudah tiga kali, yang artinya tiga tahun. Usaha itu dimulai sejak saya lulus kuliah di tahun 2007. Usaha pertama gagal karena saya tidak memiliki IELTS dan pengalaman kerja yang kurang. Tahun kedua saya mencoba lagi, dengan bekal nilai IELTS saya tadi tapi tetap saja gagal. Tahun ketiga, yaitu di tahun 2010 saya mendaftar kembali sambil berharap tahun ini berhasil karena saya sudah memiliki nilai IELTS (yang bakal expired pada akhir 2010) dan pengalaman kerja yang memadai.

Mimpi itu akhirnya tercapai, saya sekarang bersekolah di Brunel University London dengan beasiswa Chevening

Kalau kata orang determinasi dan will power itu penting, saya bisa katakan itu benar. Paolo Choelo dalam bukunya The Alchemist banyak bercerita tentang determinasi ini, bagaimana keinginan yang kuat itu akan mendapatkan bantuan dari alam semesta. Dalam hal ini saya perlu tambahkan tidak hanya keinginan yang kuat tetapi juga doa dari orang tua dan diri sendiri. Tiga tahun mencoba dan tetap yakin bahwa Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk ke luar negeri, akhirnya mendapatkan titik terang. Di suatu siang, kabar bahwa saya berhasil lolos ke tahap wawancara untuk mendapatkan beasiswa Chevening sampai melalui sambungan telepon. Tidak tahu harus bersikap apa ketika itu, hanya kegembiraan dan rasa tidak percaya saja yang mungkin terbaca dari air muka saya. Ketika itu meski hanya lolos tahap pertama saya sudah sangat senang sekali. Langsung saya telepon Kakak pertama dan segera meminta saran untuk hal-hal yang harus dilakukan selanjutnya. Selama sebulan, baik melalui sambungan telepon atau bertemu langsung (Kakak saya tinggal di Semarang dan saya di Jakarta ketika itu) saya belajar dari dia bagaimana menghadapi wawancara itu. Kerja keras dan latihan itu memang tidak sia-sia, saya merasa lebih percaya diri ketika pada hari wawancara harus menghadapi dua orang pewawancara. Merasa hari itu sudah berusaha, saya serahkan keputusan akhir pada Allah, nothing to lose.

Sampai pada 10 Mei 2010, sehari setelah ulang tahun saya, telepon genggam saya bergetar. Sederet nomor yang tidak saya kenal muncul. Saya angkat telepon tersebut dan Alhamdulillah terderngar kabar baik bahwa saya diterima beasiswa Chevening. Momen tersebut tidak pernah saya lupakan, langsung saya sujud syukur mengucapkan terima kasih pada Allah untuk kesempatan yang diberikannya.

Well tulisan ini mungkin kurang dengan kata-kata inspiratif akan tetapi apa yang bisa saya katakan adalah jangan pernah berhenti bermimpi dan tetap berusaha. Mimpi adalah bukti bahwa kita masih memiliki harapan, mimpi ada untuk diwujudkan. Keinginan yang kuat dan usaha keras adalah kuncinya. Saya mungkin bukan orang terpintar di kelas ketika SMA dan kuliah, saya mungkin bukan reporter terbaik saat bekerja, akan tetapi saya tahu bahwa setiap usaha tidak akan pernah sia-sia, Allah pasti akan mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan hambanya. Jika dalam berusaha itu terbentur masa-masa sulit maka ingatlah Surah Alam Nasrah, (Q.S: 94). Di dalam surah tersebut Allah berkata bahwa setelah masa sulit pasti akan datang kemudahan. Kata-kata ini diucapkan sebanyak dua kali yang artinya janji tersebut bukan main-main. Percayalah setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Semoga Beruntung.