Rosyidhakiim’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kram

leave a comment »

Saat Kram Mengancam Nyawa

Seorang lelaki tua dibawa ke ruang penanganan gawat darurat di sebuah rumah sakit. Tangan lelaki itu mencengkeram dadanya terlihat menahan rasa sakit yang sangat. Begitu  perawat baju lelaki itu, bagian dada dan punggungnya tampak garis-garis merah, bekas kerikan yang masih baru dan sangat jelas, menutupi bekas kerikan yang lebih lama.

Dokter mendiagnosis, pria tersebut telah terkena serangan jantung atau bisa disebut dengan istilah kram jantung.
Gambaran seperti ini banyak ditemui oleh Arieska Ann Soenarta MD SpJP, saat menjadi dokter ahli jantung wanita pertama di Indonesia. Dan, tentu saja peristiwa itu sudah bertahun-tahun yang lalu terjadi. ”Masih banyak orang mengira kram jantung itu sebagai masuk angin sehingga mereka lebih memilih untuk mengerik bagian yang sakit daripada langsung dibawa ke rumah sakit,” kenangnya. Itulah sebabnya, rasa sakit yang tiba-tiba di dada, oleh masyarakat awam masih dianggap sebagai angin duduk.

Seiring dengan makin banyaknya seminar atau pengetahuan tentang penyakit jantung, gambaran kejadian yang dialami pria tua tadi berangsur memudar. ”Di perkotaan memang sudah banyak yang sadar tapi belum tentu bagi mereka yang ada di pedesaan,” ujar Ann.Ia menjelaskan, sakit di bagian dada yang datangnya tiba-tiba bisa diakibatkan oleh otot-otot jantung yang kejang atau disebut kram jantung. Sirkulasi darah yang berkurang ke bagian jantung.

Otot-otot membutuhkan makanan untuk tetap bekerja sesuai fungsinya. Makanan itu berupa oksigen yang dibawa oleh darah melalui pembuluh darah yang tersebar di seluruh tubuh.
Jika terdapat gangguan pada pembuluh darah tersebut maka aliran menjadi tidak normal dan mengakibatkan otot tidak fleksibel lagi. Gangguan pada pembuluh darah itu dapat berupa penyempitan atau adanya kerak-kerak di dinding-dinding pembuluh. Jika otot yang menegang itu terjadi pada otot jantung maka akan timbul rasa sakit yang sangat tinggi akibat kram jantung.

Segerakan
”Kram di dada taruhannya nyawa,” ujar Ann. Oleh karena itu, waktu, bagi mereka yang tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit adalah hal yang paling penting.Jika langsung dibawa ke rumah sakit dalam jangka kurang dari tiga jam hasilnya jauh lebih memuaskan daripada yang dibawa kurang dari enam jam. ”Dan ini jauh lebih baik dari sembilan jam,” tambahnya. Penundaan bisa menyebabkan kematian karena tanda-tanda kelainan jantung adalah adanya rasa sakit di dada.

Saat menangani kram jantung, hal yang perlu diperhatikan adalah makanan untuk otot jantung itu yang berupa oksigen. Oleh karena itu pada saat seseorang terkena kram jantung sesegera mungkin menyuplai oksigen tambahan pada penderita. Lalu, obat pereda rasa sakit.Saat rasa sakit secara terus-menerus terjadi maka makin banyak sel-sel jaringan yang akan rusak. Obat pereda rasa sakit dapat mengurangi dampak tersebut. Hal yang terakhir dilakukan adalah pemberian obat yang mampu melebarkan pembuluh darah atau menghancurkan kerak-kerak yang menghambat aliran darah.

”Tapi kalau hal ini terjadi di rumah yang biasanya tidak ada tabung oksigen, maka obat pereda rasa sakit digunakan terlebih dahulu lalu secepat mungkin dibawa ke rumah sakit,” kata dokter yang juga sebagai Internasional Affair untuk The Indonesian Society of Hypertension ini.Lebih lanjut, Ann menjelaskan, bahwa pada prinsipnya kram yang terjadi di seluruh bagian tubuh itu akibat dari peredaran darah yang tidak lancar. Bahkan jika terjadi sakit kepala yang sangat hebat karena aliran darah yang tersumbat juga bisa mengakibatkan kram otak. ”Kram otak ini bisa menyebabkan stroke. Tapi, istilah ini tidak lazim digunakan meski sebenarnya kram itu adalah istilah untuk mengungkapkan rasa sakit,” ujarnya.  (kim)

Jangan Pijat!
Saat kram terjadi, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan :

1. Ketahuilah dahulu otot sebelah mana yang terserang kram.
Observasi bagian itu karena belum tentu pada bagian yang sakit hanya karena kram saja. Pada kasus olahraga melakukan tindakan sembarang pada kram dapat berakibat fatal karena mungkin saja pada bagian kram juga terdapat fraktur atau retak tulang akibat cedera di lapangan.

2. Relaksasikan otot yang menegang.
Jangan sekali-kali memijat bagian yang kram karena dapat berpotensi memecah pembuluh darah:
- Kram yang banyak terjadi pada betis, penanganan pertamanya, orang yang kram berada dalam posisi terlentang sambil mengangkat kaki lalu tekan telapak kaki mengarah ke kepala.
- Kram di perut karena olahraga, posisikan orang yang terserang kram dalam keadaan terlentang. Perlahan masukan telapak tangan di bawah punggung yang sejajar dengan perut, lalu angkat perlahan-lahan hingga posisi perut membusur.

3. Pada cuaca dingin, orang lebih sering terkena kram karena pembuluh darah dan otot mengerut.
Hawa dingin juga membuat seseorang lebih sering buang air kecil, yang artinya juga membuang beberapa mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Untuk mengatasi kram pada saat seperti ini, oleskan salep hangat atau balsam pada bagian yang kram dan jangan sekali-kali dipijat.

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:34 am

Posted in kesehatan

Psst, Buang Angin …

leave a comment »

Psst, Buang Angin …

Buang angin terlalu banyak bisa mengganggu kegiatan dan juga pergaulan. Bagaimana normalnya?

Buang angin alias kentut mungkin menjadi masalah sederhana bagi banyak orang. Bahkan beberapa orang sengaja buang angin sembarangan sehingga menebar bau tidak sedap, hanya untuk membuat kekonyolan. Tapi, bagi Adit (13) masalah buang angin membuatnya tersiksa.

Sejak kecil ia sering buang angin dan berbau tidak sedap. Awalnya hal ini tidak menjadi masalah, namun ketika beranjak remaja hal ini menjadi gangguan. Karena intensitas pergaulannya semakin meningkat dia menjadi malu karena selalu buang angin.

Seringnya buang angin, menurut dr Pringgodigdo Nugroho SpPD, sebenarnya hanya merupakan perasaan seseorang saja. Buang angin adalah sebuah proses alamiah tubuh yang memang harus terjadi.

Bahkan, menurut penelitian luar negeri yang dia temukan, buang angin yang normal itu bisa sekitar 14 kali dalam sehari. Baik itu yang terjadi secara sadar atau tidak sadar (ketika sedang tidur). ”Bahkan sampai sebanyak 20 kali sehari masih dianggap normal,” ujarnya.

Sebab, saluran pencernaan pada manusia normal mengandung kurang dari 200 mililiter gas, sedangkan rata-rata sehari gas yang dikeluarkan sekitar 600-700 mililiter gas.Ahli penyakit dalam ini menjelaskan, buang angin itu berasal dari gas terdapat di sepanjang saluran pencernaan mulai kerongkongan, lambung, usus dua belas jari, usus halus, dan usus besar.

Sebagian gas tersebut masuk saat seseorang menelan atau mengisap udara. ”Biasanya saat makan atau minum,” ujarnya.
Udara tersebut kemudian akan berakhir di lambung sebagai gas, dan sebagian yang lain masuk usus halus. Selain itu gas juga terbentuk di usus besar karena adanya bakteri sebagai flora normal usus besar.

Bakteri tersebut mengonsumsi makanan yang tidak tecerna pada proses pencernaan sebelumnya, gas sering kali dihasilkan dalam proses tersebut. Gas yang hanya sampai di lambung bisa menimbulkan sendawa sedangkan pada usus akan dikeluarkan melalui anus.

Tekanan perut
Saat bersama banyak orang, kita sedemikian rupa menahan buang angin atau mengusahakan agar tidak berbunyi saat gas tersebut keluar. Tetapi terkadang masih saja ada bunyi yang terdengar sehingga membuat kita malu.

Pringgodigdo mengatakan bunyi yang terjadi saat buang angin itu tercipta karena proses keluarnya gas itu menggetarkan otot sfingter ani (otot sirkular yang menutup anus). ”Jumlah gas, kekuatan pengeluarannya yang berasal dari tekanan perut dan straining (mengedan) serta resistensi dari otot sfingter ani menentukan volume dan pitch dari flatus (buang angin),” ujarnya.

Selain suaranya keras, buang angin yang berbau busuk bisa membuat kita benar-benar salah tingkah ketika bersama dengan orang lain. Bau busuk ini terbentuk konsentrasi hidrogen sulfida dan gas lain yang mengandung sulfur di dalam perut.

Secara umum gas dalam perut terdiri dari nitrogen, oksigen, karbondioksida, hidrogen, metana dan komposisi gas lain sesuai dengan makanan seseorang. Hidrogen merupakan produksi dari metabolism karbohidrat dan glikoprotein endogen oleh bakteri, lalu karbondioksida berasal dari fermentasi karbohidrat, lemak dan protein. ”Telur, daging dan kembang kol banyak mengandung sulfur sehingga punya peran besar dalam memproduksi bau busuk,” kata Pringgodigdo.

Apa Saja Penyebab Buang Angin
Banyaknya buang angin dapat disebabkan karena banyaknya udara yang masuk (aerophagia). Saat makan tanpa mengunyah dengan baik, minum dengan menggunakan sedotan atau dari mulut botol, mengunyah permen karet, mengecap-ngecap permen dan merokok merupakan hal yang mempengaruhi banyaknya udara yang masuk dalam perut.

Lebih lanjut Pringgodigdo memaparkan, selain banyaknya udara yang masuk meningkatnya produksi gas hasil fermentasi bakteri di usus besar juga menyebabkan seseorang lebih sering buang angin. ”Makanan yang banyak mengandung serat (fiber) dan karbohidrat merupakan makanan yang berperan dalam produksi gas di usus besar,” ujarnya. Nasi merupakan satu-satunya karbohidrat yang tidak menyebabkan gas, karena dicerna secara sempurna di usus halus.

Serat yang larut (soluble fiber) dalam air sulit dicerna di usus halus, sisa-sisa makanan ini harus dicerna di usus besar yang kemudian menghasilkan banyak gas. Contoh serat yang larut ini seperti kacang-kacangan, kulit gandum, dan kebanyakan buah-buahan. Sedangkan serat yang tidak larut dalam air justru menghasilkan sedikit gas karena melewati sepanjang saluran pencernaan secarat utuh dan tidak dicerna. Beberapa sayuran termasuk jenis serat ini begitu pula dengan suplemen makanan yang mengandung serat.

Beberapa obat-obatan seperi antibiotik juga dapat menyebabkan banyak gas. ”Antibiotik kadang kala mengganggu keseimbangan flora normal usus dimana beberapa bakteri mati dan beberapa jenis bakteri lain tumbuh berlebihan sehingga memproduksi gas lebih banyak,” jelas Pringgodigdo.Beberapa obat juga dapat menghambat enzim pencernaan atau mengandung gula yang tidak dapat dicerna. ”Penggunaan pencahar juga dapat meningkatkan produksi gas.”
Kapan Harus Menemui Dokter?
Buang angin yang harus diwaspadai adalah buang angin yang disertai keluhan-keluhan atau gejala-gejala gangguan saluran pencernaan. Sebut saja kembung, diare, mual, muntah, BAB darah, sulit BAB, nyeri perut atau penurunan berat badan yang bermakna.

Selain itu, jika tidak bisa buang angin juga harus diwaspadai. Hal ini bisa jadi merupakan gejala gangguan pada gerakan usus. Penyebabnya, kata dr Pringgodigdo Nugroho SpPD, bisa karena saluran pencernaan atau hilangnya gerakan peristaltik usus akibat beberapa penyakit.

”Pada keadaan-keadaan ini juga timbul nyeri perut,” katanya. Kembung juga perlu mendapat perhatian karena bisa menjadi pertanda banyaknya produksi gas dalam perut.Namun, tutur Pringgodigdo, justru banyak orang yang sering salah kaprah dengan keluhan bahwa seseorang mengalami penyakit tertentu karena sering buang angin.

”Dari penelitian yang ada mengenai hal ini dilaporkan bahwa sebagian besar orang yang merasa sering buang angin sebenarnya mereka buang angin masih dalam frekuensi yang normal sesuai dengan rata-rata orang,” jelasnya.Buang angin terlalu sering secara umum bukan suatu masalah kesehatan yang serius, apalagi tanpa gejala atau keluhan lain. Namun, pada beberapa hal dapat merupakan tanda adanya kondisi yang mendasarinya, salah satunya adalah intoleransi makanan.
Sebuah keadaan saat tubuh tidak dapat mencerna suatu komponen dari makanan. Sehingga komponen makanan ini mencapai usus besar dan terjadi fermentasi oleh bakteri yang menyebabkan terbentuknya gas. (kim)

Tips dari dr Pringgodigdo Nugroho SpPD
Jika terbentuk gas terlalu banyak, hal pertama yang harus diperhatikan adalah makanan yang dimakan. Catatan harian mengenai makanan yang dimakan secara lengkap disertai waktunya lalu dilengkapi dengan waktu munculnya gejala aneh pada perut dapat membantu  mengindentifikasi penyebabnya. Jenis makanan tertentu dapat menyebabkan gas yang berlebihan pada seseorang tetapi tidak pada orang yang lain.
Beberapa tips umum lain yang dapat membantu, di antaranya:
* Kunyahlah makanan secara perlahan dan sempurna
* Hindari makan terlalu banyak
* Hindari minum melalui sedotan atau langsung dari mulut botol
* Hindari mengunyah permen karet atau menghisap permen
* Jangan merokok
* Hindari minuman bersoda dan bir.
* Olahraga teratur, olah raga teratur dapat mempertahankan gerakan usus yang normal
* Hindari makanan yang berlemak
* Kurangi makanan yang mengandung serat yang larut dan beberapa jenis karbohidrat, misalnya Raffinosa.

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:33 am

Posted in kesehatan

Science in Music

leave a comment »

Lantunkan Pesan Siaga Bencana
INDONESIA ADALAH NEGARA PERTAMA YANG MENGEMAS PENYAMPAIAN PESAN SIAGA BENCANA MELALUI MUSIK.

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Ini tembang yang sudah melegenda. Berita Kepada Kawan yang dilantunkan Ebiet G Ade seolah identik dengan perenungan dan pesan, bahwa alam pun bisa tidak bersahabat dengan manusia, dan terus memunculkan bencana. Ebiet sudah menyampaikan itu sejak tahun 80-an lalu. Akan tetapi, jiwa lagu tersebut masih sesuai dengan kondisi saat ini. Bencana datang silih berganti, hampir di seluruh wilayah Tanah Air, dan menimbulkan korban jiwa maupun harta yang cukup besar. Dan jejak Ebiet lantas diteruskan oleh sejumlah musisi yang prihatin terhadap kondisi tersebut, dan menuangkannya dalam karya.

Sebut saja penyanyi senior Iwan Fals pernah mencipta tiga lagu sekaligus antara lain Mencari Yang Dicinta, Saat Minggu Masih Pagi serta Harapan Tak Boleh Mati yang dia persembahkan bagi para korban bencana tsunami Aceh, tahun 2004 lalu. Sementara grup band cadas Jamrud, pernah menggubah lagu Cinta Adalah, menjadi sebuah tembang duka terhadap bencana yang terjadi di Aceh, Nabire, dan wilayah lainnya. Pun penyanyi muda, Tere, ikut mendendangkan lagu Tersenyumlah yang juga sarat pesan tentang kejadian bencana alam yang menimpa.

Album kompilasi
Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, seperti di Indonesia ini, sejatinya, mendapatkan pengetahuan tentang bahaya bencana alam tentu akan sangat membantu untuk lebih mengenal gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi, bagi sebagian orang, cara penyampaian informasi atau pengetahuan melalui sebuah seminar sains, ada kalanya dianggap membosankan, sehingga pesan yang seharusnya sangat penting menjadi tidak tersampaikan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Electrified Record, mencoba untuk mengubah paradigma cara penyampaian bahaya bencana itu. Melalui album kompilasi siaga bencana yang diberi nama Science in Music, mereka mencoba menularkan pengetahuan tentang kewaspadaan terhadap bencana alam, dengan lantunan lagu. Album yang berisi 15 lagu itu ingin menyampaikan pesan bahwa bencana bisa datang kapan saja sehingga harus diwaspadai, dan bukan untuk ditakuti.

Oleh karena itu, lagu yang melantun pun lebih berisi tentang kepedulian, ajakan, himbauan dan informasi tentang bencana. Meski demikian, lirik-lirik lagu tersebut tetap disampaikan secara implisit dan eksplisit. Di antaranya lagu Promises yang merupakan karya orisinal dari grup band Mocca dan belum pernah ada di album komersial mereka. Lagu itu menceritakan tentang janji antara manusia dan bumi yang akhirnya janji itu dikhianati oleh manusia. Selanjutnya ada pula lagu yang secara eksplisit menggambarkan bahwa Indonesia itu rawan bencana seperti lagu yang dibuat dan dibawakan oleh Navicula dengan judul Supermarket Bencana.

Non-komersil
Ke-15 lagu tersebut merupakan hasil sumbangan dari musisi papan atas Indonesia, seperti Franky Sahilatua, NAIF, Samsons, Netral, Saint Loco, Mocca, The Upstairs, White Shoes- &The Couples Company, FrankN’Friends, MGM, Lake of Three, 70’s Orgasm Club, Buset, Efek Rumah Kaca, dan Navicula. Sebelum membuat album tersebut, para musisi itu telah melakukan Workshop bersama LIPI pada bulan April lalu dengan tema Science In Music.

`’Saat workshop mereka tidak hanya ada di dalam ruangan saja tetapi ikut terjun langsung menemui masyarakat di daerah rawan bencana seperti di Biak atau Papua,” ujar Irina Rafliana, penanggung jawab album kompilasi tersebut. Tujuannya selain agar para musisi bisa merasakan pengalaman secara langsung, mereka juga bisa mendapatkan inspirasi dari pertemuan itu. Lebih lanjut Irina menceritakan, album kompilasi itu secara resmi diluncurkan pada tanggal 26 Oktober 2008 pada saat Pameran Nasional Siaga Bencana Nasional di Taman Pintar Yogyakarta.

Kemudian, lagulagu itu juga sudah dipresentasikan dalam International Symposium On Tsunami Warning System di Bali pada pertengahan Nopember lalu. Dalam konferensi internasional itu, Indonesia merupakan negara pertama yang memperkenalkan cara penyampaian pesan siaga bencana melalui musik. `’Sambutan negara lain sangat baik, bahkan delegasi dari Hawaii, Philipina, Thailand dan PBB sendiri ikut membawa album tersebut ke negaranya masing-masing sebagai referensi,” ungkapnya.

Rencananya album yang sudah dicetak sebanyak 5.000 copy itu akan disebarkan secara gratis. `’Bagi yang mau menggandakan dan disebarkan ke temantemannya, juga dipersilakan asalkan gratis dan bukan dikomersialkan,” kata Irina. Untuk membantu proses penyebaran itu, saat ini baru Majalah Hai yang bersedia mencantumkan album kompilasi itu pada cetakan edisi Desember 2008 mereka.

Dari segi penggarapan album, Franky Indrasmoro selaku Penanggung Jawab Album dari Electrified Records, mengatakan prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima bulan. `’Waktu paling banyak terkuras pada pengumpulan lagu. Kalau respons temanteman musisi untuk ikut gabung justru sangat cepat,” ujar pria yang juga merupakan personel grup band NAIF itu.

Lirik Singkat dari NAIF
Penggunaan musik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan siaga bencana dinilai merupakan cara yang paling efektif karena bisa lebih merata dan menyentuh semua lapisan. Menurut Franky Indrasmoro yang akrab disapa Pepeng, masyarakat urban akan sangat kesulitan atau kebingungan jika pesan itu disampaikan secara ilmiah. Musisi mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan bahasa ilmu pengetahuan yang rumit dan sulit dipahami menjadi sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat awam. `’Katanya kan musik itu bahasa yang universal,” ujarnya sambil tersenyum.

Franky menjelaskan sebenarnya cikal bakal album ini adalah dari keterlibatan NAIF dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh LIPI. Sejak tahun 2003 mereka selalu diundang dalam setiap acara LIPI terkait pengetahuan tentang bencana. LIPI menganggap NAIF sebagi band yang peduli dan memperhatikan alam lewat lagu yang berjudul Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia. Lagu itu bercerita tentang pepohonan yang sudah digantikan oleh gedunggedung bertingkat. “Pertama kali kita ikut kegiatan mereka yaitu tentang selamatkan terumbu karang,” ujarnya.

Mulai dari perkenalan dan undangan-undangan kegiatan itu, Franky dan kawan-kawannya di NAIF merasa mendapatkan banyak pengetahuan tentang bencana yang ternyata sangat rawan untuk terjadi di Indonesia. “Dari mengikuti kegiatan LIPI itu kita jadi banyak belajar,” katanya. Bahkan NAIF sempat membuat lagu yang liriknya berisi tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Lagu tersebut sangat melekat di kepala anak-anak karena liriknya yang singkat. Yaitu, ‘Kalau ada gempa, lindungi kepala, kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa jauhi kaca, kalau ada gempa lari ke lapangan terbuka’.

Karena kepeduliannya dan manfaat dari kegiatan yang sering digelar oleh LIPI, Franky mulai berpikir bahwa dengan sebuah komunikasi yang dikemas dengan baik maka pesanpesan tentang bencana itu bisa disampaikan. Sebuah obrolan ringan antara dirinya dan teman-teman dari LIPI pada tahun 2005 memunculkan ide konsep sosialisasi melalui musik. Namun, ide itu sempat selama satu tahun mengendap.

Lalu pada tahun 2006 gagasan itu muncul kembali dan mulai mendapat tanggapan serius. Franky sebagai produser pun kemudian mencari band-band yang sesuai untuk mengisi album kompilasi tersebut. `’Kita pilih band yang tidak terikat dengan label agar birokrasinya lebih mudah,” ujarnya. Proses penawaran kerja samanya hanya melalui komunikasi berantai antarteman atau bergerilya. Hasilnya, respons dari musisi sangat besar.

Terbukti sekitar 40 band yang menyatakan keinginannya untuk bergabung. Tetapi karena hanya akan ada 15 band saja yang bisa masuk dalam album maka seleksi yang digunakan dengan sistem deadline. Yaitu pada tanggal tertentu band yang belum menyerahkan lagu akan didiskualifikasi. NAIF sendiri membuat sebuah lagu khusus untuk album ini berjudul Alam Semesta. Pembuatan lirik dan lagunya membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan proses rekamannya justru sangat cepat karena hanya menggunakan alat musik piano saja. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:31 am

Posted in Uncategorized

Tangga

leave a comment »

Rasa Musik Eropa Dari Tangga
DUA HAL MENJADI KEUNGGULAN GRUP MUSIK INI, PERCAMPURAN BERAGAM UNSUR MUSIK DAN KARAKTER VOKAL PARA PERSONELNYA.

Alunan musik Waltz begitu terasa. Tembang O Teganya milik grup musik Tangga dari album OST Lost in Love, yang mengalir dalam tempo sedang, menjadi kian syahdu begitu memasuki bagian reffrain dengan deretan syair yang mendayu.

Kini aku di sini,
Cuma sendiri,
Tiada yang mencari,
Sampai hati,
Sampai begini.

Sejatinya, iringan nada Waltz kurang lazim diterima di Indonesia. Selain memang berasal dari benua Eropa, warna musik jenis ini dianggap kurang mengena jika disandingkan dengan corak pop yang duluan ngetren.

Tapi tidak demikian halnya yang dilakukan Tangga. Mereka berani meramu irama dansa Waltz dengan lirik-lirik berbahasa Indonesia yang penuh aroma cinta. Dan terbukti, kreasi musik mereka dapat diterima luas. Simak lagu O Teganya tadi. Berkat fusion dua budaya itu, lagu ini jadi punya sentuhan unik. ”Coba saja dengar di radio, setelah beberapa lagu terus ada lagu O Teganya, rasanya pasti beda banget,” ujar Mohammed Kamga, salah satu personel Tangga.

Diakui Kamga, sapaan akrabnya, ini merupakan kali pertama mereka memakai musik Waltz. Nuansa Eropanya amat kental, ada bunyi-bunyi akordeon, ketukan 3/4. Di Indonesia sendiri bukannya tidak pernah ada musik seperti ini, tapi di tahun-tahun belakang, jarang yang memakainya. Maka tak mengherankan, bila O Teganya lantas didapuk menjadi satu dari dua lagu paling spesial milik Tangga. Satunya lagi adalah tembang Hebat, yang terdapat pada album perdana, Tangga (2005).

Harmonis
Lagu Hebat, adalah salah satu single yang tidak termakan oleh waktu. Meski sudah lewat 20 sampai 30 tahun mendatang, lagu tersebut masih tetap bisa dinikmati, karena musiknya yang menyenangkan. Efek seperti itulah yang ingin dimunculkan kembali melalui O Teganya. Keunikan memang menjadi modal dasar Tangga untuk bisa terus berada di hati para penggemarnya. Dan itu didapat dari penggabungan perbedaan rasa lagu serta karakter suara personelnya yang diramu dengan harmonis. Nerra Merlin memberikan nuansa pop yang girly dengan suara mezzo sopran-nya. Kamga yang sangat kuat dengan karakter black music dan R&B memberikan kesan ngebeat melalui vokal bariton yang dimilikinya.

Tahir Hadiwijoyo, atau lebih dikenal dengan panggilan Tata, yang sangat menyukai rock dan musikmusik bernuansa distorsi, mengisi paduan vokal Tangga dengan nada-nada rap dan suaranya yang nge-bass. Terakhir, anggota baru yang bergabung setelah Desty mengundurkan diri tahun 2006, Chevrina Anayang, menambahkan tone suara unik menggantikan jenis suara alto Desty sehingga melengkapi grup vokal tersebut. ”Kita ini grup vokal yang berusaha memaksimalkan kelebihan-kelebihan yang kita punya masingmasing,” ujar Kamga.

Proses itulah yang menjadikan hampir semua lagu di tiga album yang sudah diluncurkan, sangat bervariasi. Masing-masing personel mendapatkan bagian untuk menjadi lead dalam lagu, hingga dalam satu album warna-warni musik Tangga bisa dirasakan melalui karakter personelnya. ”Sejak awal, Tangga memang sudah dikonsepkan tiga vokal dan satu rap, ini tidak akan diubah. Meski nanti misalnya aku menyanyi satu dua lagu tapi selebihnya akan lebih ditonjolkan rap-nya,” ujar Tata yang sangat senang dengan pertunjukan live di atas panggung karena bisa mengubah aransemen sesukanya.

Pengertian
Adalah produser, musisi, arranger, sekaligus vocal director Harry Budiman, yang banyak berperan pada musikalitas Tangga. Seperti dikatakan Tata, Harry terlibat hampir di semua lini pembuatan musik dan lagu mereka. Bersama-sama, mereka membicarakan porsi menyanyi dalam sebuah lagu. Tidak jarang satu persatu personel Tangga diminta untuk mencoba menyanyi dan akhirnya diputuskan salah satu menjadi lead dengan karakter suara paling cocok dengan lagu. ”Jadi, tergantung penentuan bagian. Ada yang kita tentukan, ada yang dari produser. Reff-nya kita ambil siapa yang lebih cocok. Kalau liriknya lebih tentang wanita, maka yang lebih banyak ngambil leadnya wanita,” Chevrina menambahkan.

Selain dibantu Harry Budiman, untuk soal lirik, Tangga masih mendapatkan bantuan dari Johandi Yahya yang juga merangkap sebagai manajer melalui Oxygen Entertainment. Proses kreatif ini memang tidak sepenuhnya bisa mulus, tetapi karena kebersamaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun, saling pengertian pun muncul. ”Kalau kita niatnya menonjolkan diri masing-masing, nanti sebuah lagu bisabisa tidak jadi-jadi,” lanjut Tata.

Sebelum ke Pentas Dunia
Perhatikan ketiga album milik Tangga. Di situ, selalu ada lagu, atau insert berbahasa Inggris. Bahkan di album OST Lost in Love, ada tembang dengan lirik bahasa Prancis. Akan tetapi, meski banyak menempatkan insert berbahasa Inggris, Tangga belum terpikir membuat satu album penuh berbahasa Inggris, dalam waktu dekat. ”Pernah sih ada satu lagu yang penuh berbahasa Inggris, tapi untuk satu album nanti dulu,” kata Kamga.

Menurut dia, Tangga belum akan membuat album berisi lagu-lagu berbahasa Inggris penuh, karena melihat masih banyak orang Indonesia yang belum bisa berbahasa Inggris. Populasi mereka yang bisa mengerti bahasa Inggris jauh lebih sedikit dari pada yang belum mengerti.

”Mendidik orang untuk berbahasa Inggris dengan lagu memang bagus, tetapi kalau satu album semua pakai bahasa itu, maka hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang mengerti saja,” ungkapnya. Tetapi walau begitu, lagu berbahasa asing juga menjadi pemikiran mereka untuk go international kelak. Untuk menuju ke arah itu, saat ini Tangga berusaha agar musik-musik unik garapan mereka dapat disukai oleh publik Indonesia. ”Kalau buat aku, ketika memutuskan go international tapi belum menguasai pasar di Indonesia, itu seperti gerakan putus asa,” tutur Kamga.

Dia berprinsip, jika musik yang diusungnya bersama teman-teman memang jarang didengar di Indonesia karena keunikannya, maka dia akan berusaha membuat orang-orang di negerinya sendiri untuk menyukai jenis musik baru, lalu setelah itu melaju ke dunia internasional. ”Musisi bagus kalau mentalnya menyerah sama pasar ya akhirnya pasar hanya akan mendapatkan itu-itu saja. Tapi kalau ada jenis yang baru maka pasar Indonesia akan semakin kaya,” tegasnya.

Percaya Diri Chevrina
Perjalanan karier Tangga dimulai tahun 2003. Kala itu, inti dari Tangga baru Nerra dan Tata. Mereka lalu mengadakan audisi tertutup yang mempertemukan mereka dengan Kamga dan Desty. Sekian tahun bernyanyi bersama, akhirnya pada 2005, mereka meluncurkan album pertama self title. Single Terbaik Untukmu dan Hebat menjadi perkenalan yang mengesankan bagi masyarakat Indonesia, dan menjadi top request di beberapa stasiun radio.

Masalah sempat muncul ketika Desty memutuskan mundur di tahun 2006, tepat sebelum pengerjaan album kedua. Akan tetapi, kehadiran Chevrina yang mengisi kekosongan personel, sanggup membuat semuanya berjalan normal kembali, dan hadirlah album kedua, Cinta Begini (2007).

”Dia itu satu tempat les vokal aku dan Nerra. Nah saat Desty mengundurkan diri, akhirnya kita minta bantuan sama guru dan akhirnya ketemu dengan Chevrina melalui sebuah audisi,” jelas Tata. Bagi Chevrina sendiri, awalnya dia mengaku agak kesulitan mencocokkan diri dengan personel yang lain. Tapi untuk mengatasinya, dia punya trik jitu. ”Percaya diri, mengerti dan memahami.” (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:30 am

Posted in musik

Tren Musik 2009

leave a comment »

GILIRAN BAND INDIE UNJUK GIGI
VOLUME PRODUKSI ALBUM BAKAL TERIMBAS KRISIS GLOBAL. PROMOSI PUN DITEMPUH TERUTAMA LEWAT INTERNET.

Lagu Kepompong milik Sindentosca muncul pada kuartal terakhir 2008. Tidak menawarkan tema cinta, Jalu, sang penyanyi dan pencipta lagu tersebut, justru melantunkan cerita tentang persahabatan yang inspiratif. Pun yang dilakukan grup band The Changcuters. Mereka tampil dengan lagulagu bercorak rock n roll, seakan memberi kesegaran dan pilihan dalam mendengarkan musik.

Moh Tria Ramadhani alias Tria (vokal), Muhammad Iqbal atau Qibil (backing vocal & gitar), Arlanda Ghazali Langitan atau Alda (gitar), Dipa Nandastra Hasibuan atau Dipa (bass), dan Erick Nindyoastomo alias Erick (drum), juga selalu heboh ketika beraksi di atas panggung, dan ini memberikan hiburan tersendiri bagi penonton. Ya, keduanya sanggup mencuat di tengah demam musik pop yang mendayu yang justru lebih ngetren. Sepanjang tahun 2008, jenis musik semacam itu merajai belantika musik, bersama serentetan grup musik yang terus hadir.

Pertanyaannya kemudian, apakah dinamika musik Indonesia yang tergolong minim variasi, akan tetap bertahan di tahun 2009 ini? Deny Sakrie, pengamat musik, memprediksikan tema cinta memang masih mendominasi di tahun 2009, namun dengan cara penyampaian yang berbeda. ‘’Tema cinta itu sebenarnya tidak akan pernah habis,’‘ ujarnya. Tetapi dia mengakui bahwa di kuartal terakhir tahun 2008, jenis musik cinta yang mendayu-dayu sudah mencapai tiik kulminasi walau respons masyarakat sendiri masih besar.

Murni bisnis
Deni melihat, selama dua tahun terakhir, band-band dengan lagu pop Melayu atau cinta yang mendayu, amat dominan sehingga tidak heran jika aransemen dan rasa lagunya menjadi serupa. Dikatakan, saat ini industri musik sudah mulai bergerak ke posisi yang murni untuk berdagang, sehingga kondisi itu terjadi. ‘’Padahal sebenarnya band-band itu idealis, tapi karena harus mendongkrak penjualan, jadi karyanya ya begitu-begitu saja,’‘ ungkapnya.

Namun, lanjut Deny, bakal ada angin segar dan kejutan-kejutan mendekati akhir tahun. Dia memperkirakan pada kuartal pertama tahun 2009, musisi-musisi seperti Sindentosca atau band indie akan memberikan pengaruh. Kemudian dari musikalitasnya, jenis pop masih kuat karena animo masyarakat. Hanya saja, nantinya akan banyak sekali percampuran dan pengaruh dari aliran R&B, jazz, blues maupun groove.

‘’Sementara rock murni juga akan berusaha muncul lagi seperti yang saat ini terjadi di Amerika Serikat,’‘ imbuhnya. Pengamat musik yang lain, Bens Leo, mengatakan, justru di tahun 2009 musisi yang mengumandangkan lagu-lagu mellow masih banyak bermunculan. ‘’Tapi, dunia musik Indonesia memang sulit ditebak,’‘ katanya.

Hal itu dia contohkan dengan kehadiran Kangen Band yang membuat semua orang bereaksi dan memberikan pengaruh pada musik-musik dengan cita rasa Melayunya. ‘’Oleh karena itu di tahun 2009 sebenarnya tergantung pada musisinya sendiri bagaimana mengemas tampilan musiknya,’‘ lanjut dia.

Sulit
Ada beberapa hal menjadi catatannya. Sepakat dengan Denny, Bens mengungkapkan, gairah semangat indie akan semakin berkembang di tahun baru ini. Para musisi indie makin sering tampil dalam konser atau bahkan merilis album. Sementara untuk jenis musiknya bisa bermacam-macam. Tampilannya pun lebih banyak berbentuk band karena lebih mudah. ‘’Sifat band itu mandiri karena aransemen dan lirik dibuat sendiri, sehingga cost produksinya lebih rendah. Makanya nanti di tahun 2009 masih akan terus bermunculan,’‘ ungkap Bens.

Tentang pengaruh krisis global terhadap industri musik Indonesia, diakui bakal mengakibatkan banyak label kesulitan memproduksi album. Beberapa label besar saat ini justru sudah ‘kegemukan’ karena membawahi banyak sekali artis musik baru.

Oleh karena kesulitan ekonomi yang melanda saat ini, label harus benar-benar memilih musisi mana yang memang layak untuk diproduksi albumnya. ‘’Hal inilah yang bisa membuat produksi berkurang,’‘ ujar Bens.  Karena situasi itu, Bens menyarankan agar para musisi nantinya bisa membuat master sendiri, lalu mencari investor yang mau menangani produksi, baru melangkah pada label untuk pemasarannya.

Jurus Bertahan di Tengah Badai
Tak bisa dimungkiri, penjualan album dalam bentuk fisik (kaset dan CD), telah menunjukkan tren menukik sejak tiga tahun terakhir. Data terakhir dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) menunjukkan hal itu. Sebagai gambaran, pada tahun 1997 angka penjualan album masih mencapai sekitar 90 juta keping. Sebelumnya, album yang terjual di tahun 2007 mencapai 19 juta, dan 24 juta keping pada 2006. Sementara sampai November 2008, baru sekitar 11 juta keping terjual. Banyak hal menyebabkan terjadinya fenomena itu.

Selain masih maraknya pembajakan, juga munculnya jenis media baru, yakni pemutar musik digital yang semakin mudah diperoleh. Menghadapi tantangan yang masih bakal muncul tahun 2009, Bens Leo menyarankan agar manajemen dalam grup musik, grup vokal atau penyanyi solo, semakin diperkuat. Inovasi-inovasi harus selalu dimunculkan agar pendengar tidak cepat bosan. Tapi meski RBT masih menjadi jalan keluar untuk menghimpun dana, dia tetap yakin bahwa album fisik tidak akan hilang.

‘’Kita tidak boleh memutus tradisi merekam atau mencetak album karena itu adalah salah satu bukti eksistensi seorang musisi. Meski sekarang sudah serba digital, tapi bentuk fisik masih sangat penting,’‘ paparnya. Denny Sakrie justru kian prihatin. Kini, tanpa harus membeli album musik, seseorang sudah bisa menikmati alunan lagu dari pemutar musik MP3 setelah mengunduh di sana-sini atau membeli satu keping CD berisi ratusan lagu dari berbagai jenis musik dalam format MP3.

‘’Musik itu hiburan. Jadi, kalau bisa dapat hiburan dengan harga yang lebih murah, mengapa harus beli yang mahal,’‘ kata Deny memperkirakan perilaku masyarakat Indoensia terhadap musik. ‘’Apalagi saat ini kondisi semakin sulit sehingga orang akan memburu yang paling murah. Tidak semua orang music minded, urusan perut lebih penting.’‘ Karena itulah, hingga tahun 2009 ini, ring back tone(RBT) masih menjadi idola bagi insan musik untuk tetap hidup. ‘’Bisa dibilang RBT itu penyelamat industri musik,’‘ kata Denny.

Selain RBT, pemusik juga masih bergantung pada konser-konser untuk mendapatkan uang. Ditambah lagi dengan keikutsertaan menjadi ikon iklan atau melakukan penjualan merchandise. Bukan hanya itu, para pemusik juga mulai menggunakan berbagai macam media untuk berpromosi melalui internet. ‘’Namun, tetap saja, konser masih menjadi acuan karena di Indonesia ini internet kanbelum menyentuh semua kalangan,’‘ ujar Deny. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:29 am

Posted in musik

D’Masiv

leave a comment »

D’Masiv Lebih Membumi, Lebih Indonesia
PERJUANGAN MEREKA DIMULAI DENGAN MENJADI PENGAMEN.

Lampu-lampu sorot warna-warni berputar-putar menerangi panggung besar di atas tanah lapangan Boom Panjang, Tarakan, Kalimantan Timur. Soraksorai penonton membahana. Lampu-lampu fosfor berwarna hijau terang mengayun mengikuti irama lagu yang dibawakan grup musik D’Masiv. Para penonton yang sebagian besar remaja mulai mengentakkan badan dan berusaha menirukan lagu yang dibawakan grup musik kesayangan mereka itu.

Malam tanggal 27 Desember 2008 itu, D’Masiv menghibur penggemarnya dalam acara Anniversary 11th Tarakan. Malam itu, mereka menyanyikan koleksi lagulagu di album perdana mereka yang berjudul Perubahan di antaranya Diam Tanpa Kata, Tak Pernah Rela, Aku Percaya Kamu, Cinta Sampai Disini, Merindukanmu, Sebelah Mata, Diantara Kalian, I Feel (Manusia Tak Berharga), Tak Bisa Hidup Tampamu, lalu lagu yang melambungkan nama mereka Cinta Ini Membunuhku.

Sepanjang tahun 2008, memang merupakan tahun keemasan bagi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum). Setahun penuh mereka wara-wiri membawakan lagu-lagu dalam album mereka. Hampir di setiap kota di Indonesia yang disinggahinya terbentuk kelompok penggemar setia mereka yang disebut ‘Masivers’. Jauh sebelum mereka merengkuh ketenaran seperti sekarang, mereka hanya lima anak muda yang hobi bermain musik dan menyalurkannya dengan cara mereka sendiri.

Rian Ekky Pradipta atau akrab disapa Rian, Dwiki Aditya Marsall yang lebih sering dipanggil Kiki, dan Nurul Damar Ramadhan yang lebih dikenal dengan nama Rama pernah membentuk sebuah grup musik kala mereka masih berstatus murid SMP. Sedangkan Wahyu Piadji, sang drummer, justru sejak masih SD gemar bermain drum. ”Awalnya dulu lihat tetangga main drum terus tertarik,” ujarnya. Sebelum memiliki seperangkat drum, Wahyu kecil hanya mengayunayunkan tangannya menepuk udara seolah-olah sedang bermain drum sungguhan.

Waktu berjalan hingga Rian, Kiki, dan Rama memutuskan keluar dari grup musik yang dibentuknya saat SMP. Mereka kemudian mengajak Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata atau Rai yang rumahnya tidak jauh dari kediaman Rian untuk mengisi posisi bassis. Lalu Why yang ternyata adalah teman satu SD dengan Rian direkrut berikutnya untuk mengisi pemain drum. Akhirnya, pada 3 Maret 2003 sebuah grup musik yang saat itu masih bernama Massive terbentuk. ”Mulai dari situ kita serius untuk mengerjakan band ini,” kata Wahyu.

Besar dan berbobot
Nama Massive pada awalnya dipilih karena mengandung arti besar, raksasa, dan berbobot. Seperti harapan mereka terhadap grup musik yang baru dibentuk itu, untuk menjadi besar dan berbobot di kemudian hari. Nama itu juga merupakan pemberian salah satu drummer berbakat Indonesia, Dion Subiakto, saudara laki-laki dari komposer wanita Tya Subiakto. ”Awalnya kita bingung mau kasih nama apa, tapi terus kita ingat sama Mas Dion. Lewat SMS, dibalas kalau Massive gimana, dan kita setuju pakai nama itu,” ujar Rama.

Semenjak menyandang nama tersebut, lima sekawan ini mulai mengikuti berbagai festival musik. ”Sudah lebih dari 50 festival yang kita ikuti,” kata Wahyu. Bukan sekadar jadi peserta saja, Massive hampir selalu mengantongi piala. Seperti saat mengikuti festival musik remaja yang digelar oleh Kementerian Remaja dan Olahraga beberapa tahun lalu. ”Kira-kira antara tahun 2005 sampai 2006. Saat itu yang ikut raja-raja festival semua dengan skill yang tinggi,” kata Rama.

Namun dengan kepercayaan diri, mereka bisa menyabet banyak kemenangan, seperti The Best Vocal, The Best Bass, dan The Best Song dengan lagunya tentang antinarkoba, Jangan Biarkan Makin Menggelap. Penuh pengalaman malang melintang di kancah festival musik, pada tahun 2007 mereka menuai hasilnya.

Dalam ajang A Mild Live Wanted 2007, mereka mendapatkan juara pertama dan berhak merekam satu album penuh berisi lagu-lagu mereka di bawah Musica Studio. Sadar bakal menghadapi masyarakat Indonesia yang lebih luas, mereka kemudian mengubah nama grup musik mereka menjadi lebih membumi. ”Massive kemudian diganti dengan D’Masiv. Makna masih tetap sama, tetapi format lebih Indonesia,” kata Rama.

Keberhasilan mereka bukan tanpa jerih payah. Untuk mengikuti setiap festival atau menyewa studio untuk berlatih mereka harus merelakan uang jajan mereka untuk patungan. Bahkan, mereka sempat mencoba untuk mengamen di atas bus kota.

Beberapa bus jurusan Ciledug-Blok M pernah mereka masuki untuk mencoba mengumpulkan dana. Lintas daerah itu yang mereka pilih karena dekat dengan rumah mereka yang berada di wilayah Ciledug. ”Kita cuma ngamen begitu satu kali dan cuma dua jam saja. Dari situ kita dapat Rp 40 ribu yang terus kita pakai buat latihan,” kata Rama. Kini, perjuangan itu pun berbuah manis. Penghargaan platinum untuk album dan RBT terlaris ada dalam genggaman mereka.

Cinta Ditolak, Lagu Meledak
Kau membuatku berantakan,
kau membuatku tak karuan,
kau membuat ku tak berdaya,
kau menolakku acuhkan diriku..

Deretan kata-kata sederhana itu sengaja dipilih oleh Rian yang juga mengarang lagu berjudul Cinta Ini Membunuhku. Bagi dia, kata sehari-hari jarang digunakan dalam lirik lagu yang kebanyakan justru lebih puitis. Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’, untuk Rian, meninggalkan kesan karena proses pembuatannya yang paling cepat di antara lagu-lagu lain yang dibuatnya. ”Lagu ini dibuat dalam waktu kurang dari lima menit,” ungkapnya.

Namun, lagu dengan proses pembuatan tercepat pada tahun 2006 itu justru meledak dan mengantarkan D’Masiv untuk dikenal banyak orang. Padahal sebelumnya, lagu ini tidak masuk dalam perhitungan mereka untuk menjadi single utama. ”Meledaknya lagu ini benar-benar buat saya nggak percaya.”

Lagu tersebut terinspirasi dari pengalaman Rian selama masih duduk di bangku SMU. Saat itu dia menyukai seorang gadis. Tetapi, setiap usahanya untuk menyatakan cinta selalu ditolak tanpa sebab yang jelas. ”Sampai delapan kali nembak, nggak pernah diterima,” ungkapnya.

Karena itulah lagu tersebut terkesan galau sebagai cerminan seseorang yang terus menerus harus menanggung luka akibat patah hati. Meski ‘Cinta Ini Membunuhku’ merupakan lagu yang berkesan sendu, lagu itu sangat mewakili D’Masiv. Penggarapan lagu itu, menurut Rian, sangat tipikal lagu dari grup musik. Nada gitar, bass, drum, dan vokalnya bisa menjadi harmonis saat memainkan lagu tersebut.

Beberapa lagu dalam album perdana D’Masiv memang lebih banyak berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan, ditambah dengan curahan-curahan hati teman-teman mereka yang digubah dalam bentuk lagu. Pada awal penggarapan album, sesaat setelah mendapatkan kesempatan karena menang dalam kompetisi A Mild Live Wanted 2007, D’Masiv harus mengumpulkan sekitar 30 lagu koleksi mereka. Beberapa lagu merupakan hasil ciptaan mereka sejak lama, namun sejumlah lagu yang lain dibuat ketika tenggat waktu pengerjaan album yang semakin dekat.

Akhirnya, sebanyak 12 lagu masuk dalam album Perubahan itu, sebagian besar merupakan ciptaan Rian. Sebagian yang lain merupakan hasil kolaborasi seperti lagu berjudul Tentang Seseorang yang dibuat Rian bersama Rama atau lagu Cinta Sampai Disini yang mendapat bantuan dari Yayang Arisman, teman musisi Rian. c62

Kejutan di Album Kedua
Meski dibalut kepadatan jadwal manggung mereka, saat ini D’Masiv juga disibukkan dengan penggarapan album kedua mereka. ”Untuk konsep lagu-lagunya masih belum ketahuan mau bagaimana,” kata Rama.

Sekarang ini mereka masih berkutat dalam pengumpulan materi lagu. Tentang aliran musik yang bakal diusung di album yang baru, Rama mengisyaratkan tidak akan terlalu berbeda dengan album pertama mereka. ”Tapi, kita pasti punya sesuatu yang fresh untuk kejutan,” ujar Rama.

Meski banyak menuai kritik seputar lagu mereka yang dianggap mellow dan menye-menye, Rian menganggap hal tersebut harus dikembalikan pada orang-orang yang mendengarkan lagulagu D’Masiv. Walau dianggap mellow, masih banyak dari lagi mereka yang mendapat apresiasi positif. Proyeksi album mereka ke depan, kata Rian, masih ada kemungkinan lagu-lagu mellow yang diunggulkan. ”Itu tentunya hasil perundingan matang di antara kita, dan pastinya lagu itu sudah memiliki konsep yang kuat,” ujarnya. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:29 am

Posted in Uncategorized

Alexa

leave a comment »

Alexa Meraih Mimpi
NAMA MEREKA BERMAKNA SEORANG DEWI YUNANI YANG MERUPAKAN PELINDUNG PARA PRIA.

Semuanya bermula dari sambungan telepon. Suatu ketika, Adhika Prabu Aprianto atau akrab disapa Jmono menghubungi Nur Satriatama Moersid alias Satrio, mantan gitaris Maliq & D’essential, kawan lamanya yang bertemu sekitar empat tahun lalu ketika masih membantu grup musik bernama Parkdrive. Mereka pun membicarakan sebuah grup musik yang mampu bertahan lama di belantika musik dan terdiri atas orangorang yang bermain musik untuk musik itu sendiri dan juga untuk orang banyak.

Konsep yang dibicarakan oleh Jmono dan Satrio itu kemudian berkembang hingga dua buah lagu berjudul Jangan Kau Lepas dan Maafkanlah tercipta. Yakin dengan visi yang mereka usung, perburuan personel pun dilanjutkan. Telepon genggam milik Fajar Arifan berdering. Kala itu dia masih bermain dengan grup musik metal bernama Stepforward. Dari sebuah obrolan tentang musik yang mereka inginkan, Fajar kemudian memutuskan untuk bergabung. Berlanjut dengan kesediaan Rizki Syarif untuk bergabung mengisi posisi gitar. Struktur band pun mulai lengkap: Jmono sebagai bassis, Satrio dan Rizki untuk gitar, serta Fajar pada drum. ”Masingmasing kita sebenarnya tidak saling kenal, tapi berawal dari Jmono yang kenal kita semua,” kata Fajar.

Yang masih kosong adalah posisi vokalis. Untuk mengisi posisi tersebut, mereka kemudian mengontak Ananda Riztantio alias Aqi yang saat itu masih sering manggung bersama grup musik akustiknya. Suatu malam empat orang yang sudah tergabung lebih dahulu itu datang dalam salah satu live performance Aqi. Seusai manggung, mereka kemudian membicarakan tentang konsep grup musik itu. ”Malamnya kita ngobrol, besoknya langsung rekaman,” ujar Aqi.

Akhirnya, pada 13 September 2007, Alexa terbentuk. Mereka menyimbolkan diri bak seorang balita di belantika musik. Hal ini kemudian mereka tuangkan dalam sampul album perdana mereka berupa seorang anak kecil dengan sayap kupukupunya sedang menatap ke atas. ”Meski baru, kita ingin meraih mimpi bersama dan terbang tinggi dengan mimpi-mimpi itu,” kata Fajar.

Tentang nama Alexa itu sendiri, menurut Fajar, merupakan hasil dari pencarian yang terus menerus gagal. ”Kita sempat bikin daftar nama band, tapi jelek dan aneh semua. Terus coba pakai nama orang tetap aneh juga, lalu kita putuskan untuk pakai nama perempuan saja. Daftar dibikin dan nama Alexa ini yang paling sreg,” kata Fajar.

Makna nama itu kemudian mereka cari di internet. Ternyata, Alexa adalah seorang dewi Yunani yang merupakan pelindung para pria. Selain itu, tujuan penggunaan nama perempuan adalah sebagai penyeimbang karena personel grup musik itu semuanya lakilaki. ”Kalau kita sudah laki-laki semua terus pakai nama laki-laki malah kesannya tambah sangar. Buat menghargai perempuan juga,” ujar Satrio. c62

Lirik Dulu, Musik Kemudian
Lagu Jangan Kau Lepas tercipta dari lirik lagu yang tuntas dalam waktu kurang dari dua menit. ”Inspirasinya dari Rizki yang nggak pernah mau disentuh sama cowok,” kata Satrio sambil tertawa bersama anggota Alexa yang lain. Setelah lirik jadi, dia kemudian mengisi lagunya. Fajar mengisi drumnya, Jmono untuk bass, kemudian diberikan pada Rizki untuk gitar, dan terakhir pada Aqi yang menyanyikan dengan gaya dia sendiri. ”Hampir semua proses pembuatan lagu seperti itu. Lagu dilempar-lempar untuk diisi musiknya sesuai dengan kesukaan masing-masing,” papar Satrio.

Saat masuk studio, semua melakukan idealismenya masingmasing. Mereka memainkan musik dengan cara mereka sendiri lalu digabungkan. Ternyata, justru dengan cara itu, mereka menyukai lagu-lagu yang dihasilkan.

Dari sisi cerita, lagu tersebut sebenarnya ingin menyampaikan bahwa cinta itu tidak hanya kasih sayang antara dua orang yang sedang berpacaran, tetapi juga pada pasangan kakek nenek yang terus saling mencintai hingga tua. Pun kasih sayang untuk teman dan saudara. ”Hal itu diterjemahkan dengan baik dalam video klip kita,” kata Aqi. c62

Kekuatan Power Pop
Bila mendengar musik Alexa, tak dimungkiri ada cita rasa yang berbeda di sana. Tak pelak, inilah pengaruh perbedaan latar belakang bermusik personelnya. ”Si Jmono agak dance, Satrio agak jazzy, Rizki yang lebih rock n roll, Aqi yang bluesy alternatif dan gue sendiri yang metal,” kata Fajar, sang penggebuk drum.

Dari warna-warni itu, mereka lantas berpadu tanpa menghilangkan ciri masing-masing. ”Kalau musik Alexa ini didengarkan terpisahpisah, maka akan kelihatan kalau drumnya itu keras, bassnya dance, gitarnya dari Rizki yang rock n roll, dan Satrio ada lead jazzy-nya. Semua digabunggabung. Yang ditonjolkan ya gado-gadonya itu,” lanjutnya.

Dari hasil gado-gado itu, pada awalnya mereka belum mengetahui jenis musik yang mereka mainkan. ”Kita bikin musiknya dulu sampai kelar, sampai mau jadi album baru.

Setelah itu mikir, kalau ditanya orang musiknya apa nih?” ungkap Satrio. Setelah mencari referensi, mereka menemukan istilah power pop yang sesuai dengan karakter mereka. ”Musik pop yang berpower karena ada rock, blues, bahkan dance. Pop, tapi ada kekuatan dari masing-masing personelnya.” Meski berbeda-beda, ”Tapi, rumahnya adalah Alexa,” kata Aqi, sang vokalis. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:28 am

Posted in musik

Minerva

leave a comment »

Gesekan Rock Minerva
MEREKA DIBENTUK UNTUK MENGHADIRKAN WARNA BARU DALAM INDUSTRI MUSIK INDONESIA.

Lampu panggung belum sepenuhnya menyala ketika empat orang gadis mulai menapaki tangga menuju panggung. Seketika lampu menyala menyorot empat orang gadis yang masingmasing membawa alat musik gesek. Seorang penonton berteriak, ”Ngapain Mbak, main campur sari?”

Yang lain, meneriakkan sederet namanama gadis mencoba memanggil string quartet itu. Teriakan dan siulan yang membahana itu mendadak meredup dan terhenti ketika dentuman suara musik berpadu dengan gesekan biola mereka mengisi lokasi konser LA Light Indiefest 2008 itu. Para penonton yang semula masih berpencar ke sana sini, langsung berkumpul di depan panggung menikmati permainan biola dengan nada-nada cepat itu. Satu gesekan terakhir dimainkan, tepukan tangan penonton pun membahana.

Minerva dibentuk memang karena adanya ajang pergelaran musik independen tahunan itu. Pada pertengahan tahun 2008 itu, Aminoto Kosin, seorang musisi, arranger, produser sekaligus konduktor dalam Aminonto Kosin Orchstra, bersama dengan kawannya, Irwan Edianto, ingin memberikan warna baru dalam perkembangan musik Indonesia.

Menjelang pementasan, mereka kemudian melakukan audisi untuk membentuk sebuah string quartet yang nantinya akan berkolaborasi dengan bandband independen seperti Koil, BurgerKill, Seringai dan Mocca yang merupakan pengisi acara pula dalam ajang itu. ”Waktu itu pemberitahuan audisinya hanya dari mulut ke mulut saja,” kata Cindy Clementine.

Setelah proses audisi yang panjang, akhirnya berhasil terkumpul Achdinanti Victoria Achjuman (Ava) yang bertugas memainkan violin, Cindy Clementine (Cindy) yang memegang instrumen violin, serta Sanjung Prima Cahaya Dewi (Sanjung) dan Ayu Gayatri (Gaya) pada posisi viola.

Mereka bukannya tidak mengenal satu sama lain. Sebelumnya, mereka sering bertemu saat bermain dalam ‘Rockestra’ garapan Erwin Gutawa atau pada pergelaran orkestra yang lain. Dari pengalamannya itu juga, mereka tidak terlalu kesulitan untuk memainkan musik-musik cadas dalam ajang band independen tersebut.

Setelah terbentuk mereka kemudian terus menerus berlatih selama satu bulan. ”Sebenarnya, yang kita latih itu penguasaan penggunaan efeknya,” kata Cindy yang lebih sering didaulat sebagai juru bicara Minerva. Tujuannya, agar biola yang identik dengan musik klasik bisa menyatu dengan tipe-tipe musik rock dan metal. Berbagai macam distorsi dan permainan efek pun masuk dalam kamus mereka.

Konsep menggabungkan aliran musik cadas dengan musik klasik ini memang bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Metallica pernah menampilkan kolaborasi ini bersama dengan San Fransisco Symphony Orchestra dalam arahan Michael Kamen pada 1999. Erwin Gutawa juga pernah mengusung konsep ini dalam Rockestra tempat keempat personel Minerva itu pernah tergabung di dalamnya. Bedanya, tidak satu orkestra penuh yang bermain bersama band beraliran keras. Hanya ada empat orang gadis dengan menggunakan alat musik gesek berada dalam satu panggung bersama dengan band-band cadas.

Namun, justru semenjak tampil dalam pentas bersama-sama dengan band-band cadas, Minerva pun dibawa ke ranah rock yang lebih variatif dan tidak melulu klasik. ”Memang biar beda aja,” kata Ava menimpali. Menurutnya, dari segi teknik permainan tidak ada yang berubah. Namun, untuk lebih membawa nuansa efek, mereka kemudian lebih mengeksplorasi efek-efek suara. ”Sebenarnya seperti main gitar saja,” tambahnya. c62

Bermain dengan Feeling
Sekilas tidak ada yang berbeda dalam komposisi personel Minerva dengan string quartet yang lain. Bahkan, ada pula yang menyamakan mereka dengan kelompok serupa, Bond, yang berasal dari luar negeri. Tapi tunggu dulu, mereka memang sama-sama terdiri atas empat orang gadis, tetapi komposisi alat musik gesek yang dipakai sedikit berbeda.

Ava menjelaskan, pada string quartet biasanya terdiri dari dua violin, satu viola, dan satu cello. Dua violin pertama digunakan untuk mengisi suara sopran lalu viola untuk nadanada alto sedangkan cello untuk bass. Pada Minerva, posisi cello digantikan dengan viola. Tantangan untuk mengisi suara register rendah dengan menggunakan viola ini diletakkan di pundak Sanjung. Untuk menghasilkan suara-suara yang lebih nge-bass, efek pun menjadi tumpuan.

Untuk Sanjung sendiri, viola merupakan alat musik gesek yang dipelajarinya secara otodidak. Sebelumnya, dia lebih banyak memainkan violin selama masih bersekolah di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Viola baru dipelajarinya ketika semester tiga di bangku kuliah. Bodi viola yang lebih besar dan senar-senarnya yang lebih tebal membuatnya harus meregangkan jari lebih lebar dari biasanya untuk menekan garis-garis senar saat akan digesek.

Tentang alat musik biola ini, keempat personel Minerva serempak menyebutnya sebagai alat musik yang sulit untuk dipelajari. Cindy mengatakan bahwa bermain biola itu lebih banyak menggunakan feeling. ”Sehingga kalau ada salah sedikit saja seterusnya bisa salah,” ujarnya.

Oleh karena itu posisi jari juga harus benar, karena biola itu termasuk alat musik yang fretless atau tidak ada garis-garis bantu seperti pada gitar yang tersusun vertikal di bawah senar.

Pendapat ini bukan asal-asalan dari mereka karena keempat personel itu sudah bersentuhan dengan alat musik biola sejak mereka masih kecil. Cindy sejak masih duduk di sekolah dasar sudah belajar main biola dari ibu dan kakaknya. Bahkan, Ava yang mengikuti sekolah musik di Indonesian Youth Orchestra sejak kecil sudah bermain di sebuah hotel sebagai pengisi musik saat masih SMA. Indonesian Youth Orchestra adalah milik ibunda Gaya, sehingga dia juga ikut belajar di dalamnya.

Sanjung sendiri memang berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah pengajar musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan ibunya mengajar di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta. Meski awalnya dipaksa bermain musik, Sanjung akhirnya bisa menikmati permainan biola. c62

Bumble B, Bukan Bumble Bee
Saat akan mengisi pentas LA Light IndieFest, Aminoto Kosin telah menyiapkan lagu khusus untuk Minerva. Lagu klasik Bumble Bee karya Nikolai Rimskykorsakov itu digubah menjadi lagu dengan nada-nada cepat yang lebih keras dipadu dengan dentuman perkusi yang mengajak tubuh bergoyang. Untuk Minerva, lagu itu kemudian berjudul Bumble B. ”Soalnya kita mainnya di tangga lagu B minor,” ujar Cindy. Lagu ini kemudian menjadi lagu hits yang selalu dimainkan setiap kali pentas diatas panggung.

Dari lagu ini, memang sangat tampak sentuhan Aminoto Kosin dalam lagu-lagu Minerva. Musisi yang satu ini lebih berperan sebagai music director mereka. Dia yang mengatur harmonisasi empat alat gesek tersebut, meski setiap personel dari string quartet itu bisa juga melontarkan masukan-masukan untuk memberikan warna dalam musik mereka. ”Sesekali Koh Amin (panggilan akrab Aminoto Kosin) kasih nada dasarnya saja, kita kemudian yang mengisi,” kata Cindy. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:26 am

Posted in musik

Letto

leave a comment »

Sayap-sayap Letto
UNTUK MEMBUAT LIRIK, MEREKA MEMILIH KATA-KATA YANG MENGGUGAH.

Sekitar 12 tahun yang lalu, Patub, Arian, dan Noe adalah teman satu sekolah di SMA 7 Yogyakarta. Arian dan Noe banyak terlibat dalam kegiatan kesenian seperti teater dan pantomim. ”Bahkan, saat itu saya belum kepikiran untuk main band,” kata Sabrang Mowo Damar Panuluh atau cukup disapa Noe.

Belakangan, mereka mengejar mimpinya masing-masing. Noe malah terbang ke Kanada untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Matematika dan Fisika. Sementara Patub dan Aris bertemu kembali pada tahun 1999. Saat itu lokasi tempatnya nongkrong di daerah Kasihan, Bantul, Yogyakarta, akan diubah menjadi sebuah studio musik. Mereka kemudian diminta untuk mengerjakannya. ”Pokoke waktu itu bagaimanapun caranya harus jadi studio dan bukan tempat penyimpanan sepatu,” ujar Patub berkelakar.

Meski terpisah oleh jarak, dalam pengelolaan studio baru itu, Patub masih sering berkomunikasi dengan Noe melalui dunia maya. Mereka banyak berdiskusi tentang sound engineering dan berbagai hal tentang audio. Sesekali Noe mengirimkan buku yang berkaitan dengan hal itu. Mulai saat itu juga mereka mulai belajar mengolah suara dengan komputer. ”Wah, dari yang dulu cuma bisa on off aja, sekarang sudah bisa bongkar, tapi nggak bisa masang,” ujar Patub yang langsung mengundang gelak tawa rekan-rekannya yang lain saat berbincang dengan Republika di salah satu pojok ruangan Musica Studio, tempat mereka bernaung.

Dari sekadar belajar, mereka pun mencoba membuat dan mengolah lagu sendiri. ”Daripada merusak lagu orang yang lebih baik belajar pakai lagu sendiri,” kata Patub. Dengan membuat lagu sendiri, mereka lebih bebas untuk mengatur komposisinya karena hanya akan dikonsumsi pribadi. Saat itu mereka hanya ingin belajar dan belum terpikir untuk membuat band. Sekitar empat lagu berhasil mereka ciptakan, yang salah satunya berjudul Sebenarnya Cinta.

Lagu-lagu buatan sendiri itu kemudian diminta oleh teman-teman nongkrong mereka yang memutarnya untuk didengarkan bersama-sama di berbagai tempat. Lagu-lagu yang disebarkan oleh teman-teman mereka itu akhirnya sampai ke salah satu perusahaan rekaman di Jakarta, Musica Studio. Perusahaan itu pun menawarkan rekaman pada pria-pria yang haus belajar tentang musik ini.

Akan tetapi, untuk memasuki jenjang itu, mereka harus mempunyai identitas sebagai sebuah kelompok. Akhirnya, seiring dengan kepulangan Noe dari Kanada, pada tahun 2004 grup band bernama Letto pun muncul dengan formasi Noe sebagai vokalis, Patub (Agus Riyono) memainkan gitar, dan Arian (Ari Prastowo) yang memegang bass. Sedangkan Dhedot (Dedi Riyono) yang didapuk sebagai drummer masuk belakangan.

Mereka pun mengambil nama Letto secara spontan. Kata itu sendiri tidak akan ditemukan maknanya di berbagai kamus. Mereka sengaja mencari sebuah kata tanpa arti dan tidak merujuk pada apa pun. Makna kata Letto adalah perwujudan dari grup band yang mereka bentuk itu. ”Maksudnya, arti kata itu akan diisi dengan apa yang telah kita lakukan, dengan perjalanan serta proses kreatif kita,” ujar Patub.

Talang air
Lirik-lirik Letto yang puitis yang bermakna dalam boleh dibilang membuatnya berbeda dengan grup band kebanyakan. Meski begitu, Noe tidak ingin mendefinisikan Letto sebagai grup band dengan lagu-lagu puitis. ”Tentang definisi lirik puitis saja sampai sekarang kita tidak tahu. Pelabelan itu datang bukan dari kita, tapi dari pendengar atau orang yang memberikan komentar. Kita tidak pernah secara eksplisit mengatakan bahwa kita itu puitis,” ungkapnya.

Tentang inspirasinya dalam membuat lirik-lirik yang dinilai puitis itu, Noe kemudian bercerita tentang prosesnya dalam membuat lirik. Dia sebagai penulis lirik lebih senang dianalogikan sebagai talang air. ”Kalau inspirasi itu seperti hujan dari langit, kita hanya menangkap air itu kemudian mengalirkannya seperti sebuah talang,” ujarnya.

Dia tidak akan menggunakan kata-kata aneh dalam liriknya. Agar dimengerti, kata-kata sehari-harilah yang menjadi pilihannya. Baginya, yang terpenting adalah pemilihan kata yang menggugah untuk lirik itu. Sebuah kata dipilih karena dinilai mampu mewakili pesan yang hendak dia sampaikan. Sebuah kata yang bisa menunjukkan nuansa yang ingin dia ungkap serta sayap-sayap yang ingin dia kembangkan.

Sayap-sayap itu merupakan makna-makna tersembunyi yang sengaja dihadirkan dalam setiap larik. Noe kemudian memberikan contoh seperti lagu mereka Sandaran Hati yang awalnya orang mengira lagu ini tentang cinta. Namun, beberapa bulan kemudian, mereka memahami maknanya yang tentang Ketuhanan. Atau, lagu Sebelum Cahaya yang setelah delapan bulan sejak peluncurannya baru dimengerti bahwa lagu itu tentang shalat malam. ”Kita memang ingin lagu itu tidak dipandang dari satu sisi saja. Lagu itu bagus kalau bisa diambil maknanya bagi yang mendengar atau membaca,” ujar Noe. kim

Demi Menutup ‘Lubang Di Hati’
Sejak kemunculannya di belantika musik Indonesia, penulisan lirik Letto banyak dikerjakan oleh Noe yang juga merupakan putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu. Lirik, bagi mereka, tidak sekadar kata yang kemudian dinyanyikan, tetapi juga merupakan permainan yang banyak mengandung makna. Simak saja penggalan lagu Lubang Di Hati ini :

‘Ku buka mata dan ku lihat dunia ëtlah ku terima anugerah dunia Tak pernah aku menyesali yang ku punya Tapi ku sadari ada lubang dalam hati…’

”Lagu ini sebenarnya merupakan konsep lama,” ujar Noe. Konsep yang dia maksud bukan merujuk pada komposisi lagu atau lirik-lirik yang dituliskan itu, tetapi lebih mengarah pada sebuah gambaran kehidupan manusia yang selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Dalam hal ini dianalogikan sebagai lubang di hati. Lalu berbagai cara dilakukan manusia untuk menutup lubang di hati itu. ”Mereka mencari penutupnya dengan cinta, harta, kekuasaan atau kesenangan duniawi,” lanjutnya. Melalui konsep inilah, lagu ini justru menjadi berkesan bagi Noe dan kawan-kawannya. Tak ayal, lagu ini kemudian dijadikan single pertama untuk memasarkan album ketiga mereka.

Memilih Natural
Jangan tanyakan soal aliran musik pada Letto. Mereka bakal memilih untuk menjawab dengan sederhana, ”Kita sih biarin begitu saja,” ujar Patub. Dalam bermusik, mereka lebih mengutamakan proses yang berjalan hingga album tersebut akhirnya diluncurkan. ”Metode yang kita pakai itu natural,” tambahnya.

Natural yang berarti tidak adanya tekanan bagi setiap personel dalam penggarapan setiap lagu yang bakal mengisi album- album mereka. Semua usaha dibuat mengalir saja seperti air. Bahkan, setelah album itu terpampang di rak-rak setiap toko musik, mereka tidak akan banyak berkomentar tentang hasil akhir yang ingin mereka dapatkan. ”Kita justru berharap hasil akhirnya itu ada kejutan yang kita sendiri pengen tahu,” ungkapnya yang juga disetujui oleh Noe, Arian, dan Dhedot.

Seperti ketika lagu pertama mereka, I’ll Find a Way, yang dipublikasikan secara luas lewat album kompilasi disambut biasa saja oleh pasar. Pun ketika saat album perdana mereka Truth, Cry, and Lie meluncur dan ternyata menuai respons sangat positif.

Maka, falsafah natural pula yang mereka terapkan untuk album ketiga, Lethologica. Secara musikal, album teranyar ini masih tetap simpel dan penuh dengan permainan kata-kata. Komposisi musiknya cenderung tidak jauh berbeda dengan album-album sebelumnya. Namun, inilah Letto. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:25 am

Posted in musik

Shine A Light

leave a comment »

Semangat Di Masa Tua Rolling Stone
“Gitar” ujar Martin Scorsese kepada salah satu krunya. Sayatan gitar dari Keith Richard pun mulai menyetrum ribuan penonton yang memadati Beacon Theater, New York, diikuti dengan kamera yang langsung menyorot permainan gitarnya.

“I was born in a cross-fire hurricane
And I howled at my ma in the driving rain
But it’s all right now, in fact it’s a gas
But it’s all right, I’m Jumpin’ Jack Flash
It’s a gas, gas, gas..”

Lagu ‘Jumping Jack Flash’ pun melantun melalui bibir ikonik sang vokalis, Mick Jagger. Konser amal Rolling Stone di New York tahun 2006 dari rangkaian tur keliling dunianya ini pun dimulai dengan gemuruh permainan musik band gaek ini. Tidak seperti konser biasa, kali ini melalui mata kamera arahan, Martin Scorsese, gejolak bermusik itu diabadikan dalam film dokumenter berjudul Shine A Light (juga merupakan judul lagu milik Rolling Stone).

Seperti hal nya sebuah dokumenter, film dengan durasi sekitar dua jam ini juga merekam hal-hal di luar pertunjukan musik dari grup band kontroversial itu. Pada 10 menit pembukaan film ini, ditunjukan bagaimana sibuknya Marty, panggilan akrab Martin Scorsese, mengkordinasikan sebuah konser yang layak untuk direkam dalam melalui kamera. Kejadian-kejadian selama persiapan itu juga terkadang membuat penonton secara cuma-cuma menyunggingkan senyum. Seperti saat Mick Jagger mengomentari miniatur konsep panggung yang menurutnya seperti panggung boneka. Atau saat Mick dan Marty yang terpisah oleh jarak (Marty di New York dan Mick serta Roliing Stonenya sedang tur keliling dunia) berdebat alot soal 18 kamera yang dipasang untuk mengabadikan konser amal itu. Melalui telepon Mick menganggap kamera terlalu banyak dan untuk kamera Jimmy Jip baginya bisa merusak kenyamanan penonton serta berbahaya, namun hanya ditanggapi dingin oleh Marty.

Melalui dokumenter ini pun para penggemar Marty diajak untuk melihat bagaimana sutradara film-film hebat seperti Mean Streets, Raging Bull, Casino, dan The Departed ini merencanakan sebuah tontonan yang menarik. Seperti saat dia mengeluh karena list lagu yang bakal dimainkan belum juga dipastikan padahal hari-hari menjelang konser semakin dekat. List tersebut sangat membantunya untuk merencanakan bagaimana pengambilan gambar selama pertunjukan berlangsung. “Tenang malam ini list itu bakal sudah ada,” ujar Mick menanggapi kepanikan Marty karena hari itu sudah memasuki hari pertunjukan.

Selama lebih 40 tahun Rolling Stone berkarir di dunia musik dunia, para personelnya memang terkenal dengan sikap cuek dan perilaku yang kontroversial. Tapi justru band asal London ini bisa bertahan sangat lama meski Mick Jagger dan gitaris Keith Richards sudah berumur 64, lalu Ronnie Wood yang juga memainkan gitar sudah menginjak umur 60 tahun, serta sang drummer Charlie Watts sudah berusia 66 tahun. Dalam film ini semangat Rock n Roll mereka tampak tidak pernah padam. Mick masih saja lincah menguasai panggung walau Charlie sudah tampak kepayahan dengan permainan drumnya.

Cuplikan-cuplikan hitam putih wawancara band yang terbentuk tahun 1962 ini dalam masa-masa gemilang karirnya juga dikemas apik untuk merekam semangat yang enggan untuk padam itu. Seperti saat seorang wartawan yang bertanya pada Mick Jagger yang saat itu masih sangat muda tentang bayangan apa yang bakal dia lakukan ketika sudah berumur 60 tahun. “Mudah” kata Mick sambil tersenyum.

Untuk menggarap rangkaian dokumenter ini, sutradara pemenang Academy Award ini tidak sendiri. Dia mendapat bantuan Robert Richardson yang pernah memenangkan piala Oscar untuk memegang kendali atas 18 kamera yang digunakan. Film ini juga mendapat sentuhan editing dari David Tedeschi yang sudah bekerjasama dengan Marty dalam film musik dokumenter tentang Bob Dylan, No Direction Home: Bob Dylan. Potongan-potongan editing terasa mengalir selama pertunjukan berlangsung, David seakan tahu bagaimana mengalihkan satu momen dengan momen yang lain dari 150.000 meter pita seluloid yang digunakan untuk merekam konser itu. Perpotongan yang pas terlihat ketika kamera langsung beralih pada permainan jari-jari Buddy Guy saat memetik gitar ketika berduet dengan Keith Richard.

Film Shine A Light ini memang ditujukan bagi para penggemar setia musik-musik Rolling Stone. Bagaimana tidak karena 90 persen tontonan berupa pertunjukan musik mereka di New York itu. Pertunjukan yang menyuguhkan kolaborasi luar biasa dengan Jack White III, lalu legenda blues Buddy Guy, serta si sensual Christina Aguilera. Sebuah kombinasi yang membuat film ini sangat cocok untuk diputar di gedung bioskop lengkap dengan sistem Dolby atau THX agar permainan musik mereka bisa ditangkap dengan sempurna. Tetapi bagi mereka yang awam dengan legenda Rock and Roll ini akan sulit mengikuti isi film selain hanya menikmati seluruh lagu-lagunya. Karena cuplikan-cuplikan tentang band ini sangat sedikit porsinya. Film ini sepertinya direkam untuk menunjukan siapa Rolling Stone melalui performa panggung dan lagu-lagu mereka. (kim)

Written by rosyidhakiim

February 14, 2009 at 7:24 am

Posted in Resensi Film, musik