Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Krabat
Misteri Sihir Hitam
Lupakan semua mantra-mantra sihir dalam cerita Harry Potter. Lupakan pula makhluk-makhluk eksotis yang menghuni Hogwarth. Krabat hadir untuk memberikan prespektif berbeda dalam dunia sihir. Lebih khusus lagi pada sihir hitam. Kisah ini berawal dari mimpi yang dialami Krabat (David Kross). Mimpi tentang gagak-gagak yang menghendaki dirinya datang ke sebuah penggilingan gandum di dekat desa Schwarzkollm. Mimpi itu menghantuinya terus, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya.
Krabat adalah pemuda 14 tahun yang telah ditinggal mati orangtuanya. Hidupnya yang terlunta-lunta di tengah kebekuan musim dingin di pegunungan dihadapinya dengan mengemis. Sampai akhirnya dia berada dalam sebuah rumah penggilingan itu dan menjadi salah satu pekerjanya.
Namun, hidup memang tidak pernah mudah. Di tempat itu, Krabat harus menjalani masa percobaan yang sangat berat. Dia juga harus menghadapi teman-teman yang menyebalkan meski akhirnya ia bisa akrab dengan Tonda (Daniel Bruhl), yang seakan sudah menjadi kakaknya. Di rumah penggilingan itu dia hidup bersama 11 orang pekerja yang lain dan satu orang pemimpin yang disebut The Master (Christian Redl).
Setelah selama satu tahun bekerja, kebenaran mulai terungkap. Ternyata, pekerjaan berat itu adalah syarat agar dia bisa bergabung dalam sebuah persaudaraan sihir hitam yang dibuat oleh The Master. Mereka punya keahlian mengubah diri menjadi seekor gagak dan juga melontarkan orang hanya dengan ayunan tongkat.
Pada awalnya Krabat bersemangat untuk menjadi kuat melalui sihir hitam itu, tetapi lama kelamaan tujuan itu berubah ketika dia mulai merasakan cinta dengan seorang gadis desa. Namun, cinta adalah hal yang terlarang dalam persaudaraan itu, dan hukumannya adalah kematian. ”Suatu hal pasti ada harganya,” kata Tonda.
Film berdurasi dua jam lebih ini banyak mengungkap sisi gelap dunia sihir hitam. Seperti adanya tumbal untuk iblis pencabut nyawa atau ruang-ruang gelap tempat mereka berpraktik sihir. Namun, dari waktu penayangan yang panjang itu justru tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sang sutradara Marco Kreuzpaintner untuk lebih membangun cerita.
Hingga setengah perjalanan film, cerita masih belum menunjukkan kejelasan. Penonton seakan tidak diberikan gambaran akan ke mana arah cerita film ini. Waktu terlalu lama hanya untuk mendalami masing-masing tokohnya. Bahkan, hingga akhir film, masih ada beberapa kisah yang tidak tuntas dijelaskan.
Meskipun demikian, bukan berarti film ini tidak menawarkan hal yang menarik. Pemandangan pegunungan Alpen yang berhasil ditangkap oleh kamera menghadirkan kesegaran dan kecantikan tersendiri. Ada pula tawaran setting perkampungan dan rumah penggilingan yang menarik lantaran dibuat gelap sehingga sangat merepresentasikan kemisteriusan cerita.
Dan, yang paling menarik dari cerita sihir adalah trik digital dari komputer. Perubahan dari manusia menjadi gagak atau sebaliknya, dengan efek bulu dan jubah-jubah yang berkelebat, termasuk pula efek saat ulat-ulat cokelat masuk di telapak tangan Krabat yang sudah terluka, bisa menjadi tontonan yang menarik. (kim)
Pemain: David Kross, Christian Redl
Sutradara: Marco Kreuzpaintner
Durasi: 120 menit
Produksi: Centropolis Entertainment
Science in Music
Lantunkan Pesan Siaga Bencana
INDONESIA ADALAH NEGARA PERTAMA YANG MENGEMAS PENYAMPAIAN PESAN SIAGA BENCANA MELALUI MUSIK.
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Ini tembang yang sudah melegenda. Berita Kepada Kawan yang dilantunkan Ebiet G Ade seolah identik dengan perenungan dan pesan, bahwa alam pun bisa tidak bersahabat dengan manusia, dan terus memunculkan bencana. Ebiet sudah menyampaikan itu sejak tahun 80-an lalu. Akan tetapi, jiwa lagu tersebut masih sesuai dengan kondisi saat ini. Bencana datang silih berganti, hampir di seluruh wilayah Tanah Air, dan menimbulkan korban jiwa maupun harta yang cukup besar. Dan jejak Ebiet lantas diteruskan oleh sejumlah musisi yang prihatin terhadap kondisi tersebut, dan menuangkannya dalam karya.
Sebut saja penyanyi senior Iwan Fals pernah mencipta tiga lagu sekaligus antara lain Mencari Yang Dicinta, Saat Minggu Masih Pagi serta Harapan Tak Boleh Mati yang dia persembahkan bagi para korban bencana tsunami Aceh, tahun 2004 lalu. Sementara grup band cadas Jamrud, pernah menggubah lagu Cinta Adalah, menjadi sebuah tembang duka terhadap bencana yang terjadi di Aceh, Nabire, dan wilayah lainnya. Pun penyanyi muda, Tere, ikut mendendangkan lagu Tersenyumlah yang juga sarat pesan tentang kejadian bencana alam yang menimpa.
Album kompilasi
Di negeri yang kerap dilanda bencana alam, seperti di Indonesia ini, sejatinya, mendapatkan pengetahuan tentang bahaya bencana alam tentu akan sangat membantu untuk lebih mengenal gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi, bagi sebagian orang, cara penyampaian informasi atau pengetahuan melalui sebuah seminar sains, ada kalanya dianggap membosankan, sehingga pesan yang seharusnya sangat penting menjadi tidak tersampaikan.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Electrified Record, mencoba untuk mengubah paradigma cara penyampaian bahaya bencana itu. Melalui album kompilasi siaga bencana yang diberi nama Science in Music, mereka mencoba menularkan pengetahuan tentang kewaspadaan terhadap bencana alam, dengan lantunan lagu. Album yang berisi 15 lagu itu ingin menyampaikan pesan bahwa bencana bisa datang kapan saja sehingga harus diwaspadai, dan bukan untuk ditakuti.
Oleh karena itu, lagu yang melantun pun lebih berisi tentang kepedulian, ajakan, himbauan dan informasi tentang bencana. Meski demikian, lirik-lirik lagu tersebut tetap disampaikan secara implisit dan eksplisit. Di antaranya lagu Promises yang merupakan karya orisinal dari grup band Mocca dan belum pernah ada di album komersial mereka. Lagu itu menceritakan tentang janji antara manusia dan bumi yang akhirnya janji itu dikhianati oleh manusia. Selanjutnya ada pula lagu yang secara eksplisit menggambarkan bahwa Indonesia itu rawan bencana seperti lagu yang dibuat dan dibawakan oleh Navicula dengan judul Supermarket Bencana.
Non-komersil
Ke-15 lagu tersebut merupakan hasil sumbangan dari musisi papan atas Indonesia, seperti Franky Sahilatua, NAIF, Samsons, Netral, Saint Loco, Mocca, The Upstairs, White Shoes- &The Couples Company, FrankN’Friends, MGM, Lake of Three, 70’s Orgasm Club, Buset, Efek Rumah Kaca, dan Navicula. Sebelum membuat album tersebut, para musisi itu telah melakukan Workshop bersama LIPI pada bulan April lalu dengan tema Science In Music.
`’Saat workshop mereka tidak hanya ada di dalam ruangan saja tetapi ikut terjun langsung menemui masyarakat di daerah rawan bencana seperti di Biak atau Papua,” ujar Irina Rafliana, penanggung jawab album kompilasi tersebut. Tujuannya selain agar para musisi bisa merasakan pengalaman secara langsung, mereka juga bisa mendapatkan inspirasi dari pertemuan itu. Lebih lanjut Irina menceritakan, album kompilasi itu secara resmi diluncurkan pada tanggal 26 Oktober 2008 pada saat Pameran Nasional Siaga Bencana Nasional di Taman Pintar Yogyakarta.
Kemudian, lagulagu itu juga sudah dipresentasikan dalam International Symposium On Tsunami Warning System di Bali pada pertengahan Nopember lalu. Dalam konferensi internasional itu, Indonesia merupakan negara pertama yang memperkenalkan cara penyampaian pesan siaga bencana melalui musik. `’Sambutan negara lain sangat baik, bahkan delegasi dari Hawaii, Philipina, Thailand dan PBB sendiri ikut membawa album tersebut ke negaranya masing-masing sebagai referensi,” ungkapnya.
Rencananya album yang sudah dicetak sebanyak 5.000 copy itu akan disebarkan secara gratis. `’Bagi yang mau menggandakan dan disebarkan ke temantemannya, juga dipersilakan asalkan gratis dan bukan dikomersialkan,” kata Irina. Untuk membantu proses penyebaran itu, saat ini baru Majalah Hai yang bersedia mencantumkan album kompilasi itu pada cetakan edisi Desember 2008 mereka.
Dari segi penggarapan album, Franky Indrasmoro selaku Penanggung Jawab Album dari Electrified Records, mengatakan prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima bulan. `’Waktu paling banyak terkuras pada pengumpulan lagu. Kalau respons temanteman musisi untuk ikut gabung justru sangat cepat,” ujar pria yang juga merupakan personel grup band NAIF itu.
Lirik Singkat dari NAIF
Penggunaan musik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan siaga bencana dinilai merupakan cara yang paling efektif karena bisa lebih merata dan menyentuh semua lapisan. Menurut Franky Indrasmoro yang akrab disapa Pepeng, masyarakat urban akan sangat kesulitan atau kebingungan jika pesan itu disampaikan secara ilmiah. Musisi mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan bahasa ilmu pengetahuan yang rumit dan sulit dipahami menjadi sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat awam. `’Katanya kan musik itu bahasa yang universal,” ujarnya sambil tersenyum.
Franky menjelaskan sebenarnya cikal bakal album ini adalah dari keterlibatan NAIF dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh LIPI. Sejak tahun 2003 mereka selalu diundang dalam setiap acara LIPI terkait pengetahuan tentang bencana. LIPI menganggap NAIF sebagi band yang peduli dan memperhatikan alam lewat lagu yang berjudul Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia. Lagu itu bercerita tentang pepohonan yang sudah digantikan oleh gedunggedung bertingkat. “Pertama kali kita ikut kegiatan mereka yaitu tentang selamatkan terumbu karang,” ujarnya.
Mulai dari perkenalan dan undangan-undangan kegiatan itu, Franky dan kawan-kawannya di NAIF merasa mendapatkan banyak pengetahuan tentang bencana yang ternyata sangat rawan untuk terjadi di Indonesia. “Dari mengikuti kegiatan LIPI itu kita jadi banyak belajar,” katanya. Bahkan NAIF sempat membuat lagu yang liriknya berisi tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Lagu tersebut sangat melekat di kepala anak-anak karena liriknya yang singkat. Yaitu, ‘Kalau ada gempa, lindungi kepala, kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa jauhi kaca, kalau ada gempa lari ke lapangan terbuka’.
Karena kepeduliannya dan manfaat dari kegiatan yang sering digelar oleh LIPI, Franky mulai berpikir bahwa dengan sebuah komunikasi yang dikemas dengan baik maka pesanpesan tentang bencana itu bisa disampaikan. Sebuah obrolan ringan antara dirinya dan teman-teman dari LIPI pada tahun 2005 memunculkan ide konsep sosialisasi melalui musik. Namun, ide itu sempat selama satu tahun mengendap.
Lalu pada tahun 2006 gagasan itu muncul kembali dan mulai mendapat tanggapan serius. Franky sebagai produser pun kemudian mencari band-band yang sesuai untuk mengisi album kompilasi tersebut. `’Kita pilih band yang tidak terikat dengan label agar birokrasinya lebih mudah,” ujarnya. Proses penawaran kerja samanya hanya melalui komunikasi berantai antarteman atau bergerilya. Hasilnya, respons dari musisi sangat besar.
Terbukti sekitar 40 band yang menyatakan keinginannya untuk bergabung. Tetapi karena hanya akan ada 15 band saja yang bisa masuk dalam album maka seleksi yang digunakan dengan sistem deadline. Yaitu pada tanggal tertentu band yang belum menyerahkan lagu akan didiskualifikasi. NAIF sendiri membuat sebuah lagu khusus untuk album ini berjudul Alam Semesta. Pembuatan lirik dan lagunya membutuhkan waktu satu bulan. Sedangkan proses rekamannya justru sangat cepat karena hanya menggunakan alat musik piano saja. (kim)
D’Masiv
D’Masiv Lebih Membumi, Lebih Indonesia
PERJUANGAN MEREKA DIMULAI DENGAN MENJADI PENGAMEN.
Lampu-lampu sorot warna-warni berputar-putar menerangi panggung besar di atas tanah lapangan Boom Panjang, Tarakan, Kalimantan Timur. Soraksorai penonton membahana. Lampu-lampu fosfor berwarna hijau terang mengayun mengikuti irama lagu yang dibawakan grup musik D’Masiv. Para penonton yang sebagian besar remaja mulai mengentakkan badan dan berusaha menirukan lagu yang dibawakan grup musik kesayangan mereka itu.
Malam tanggal 27 Desember 2008 itu, D’Masiv menghibur penggemarnya dalam acara Anniversary 11th Tarakan. Malam itu, mereka menyanyikan koleksi lagulagu di album perdana mereka yang berjudul Perubahan di antaranya Diam Tanpa Kata, Tak Pernah Rela, Aku Percaya Kamu, Cinta Sampai Disini, Merindukanmu, Sebelah Mata, Diantara Kalian, I Feel (Manusia Tak Berharga), Tak Bisa Hidup Tampamu, lalu lagu yang melambungkan nama mereka Cinta Ini Membunuhku.
Sepanjang tahun 2008, memang merupakan tahun keemasan bagi Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum). Setahun penuh mereka wara-wiri membawakan lagu-lagu dalam album mereka. Hampir di setiap kota di Indonesia yang disinggahinya terbentuk kelompok penggemar setia mereka yang disebut ‘Masivers’. Jauh sebelum mereka merengkuh ketenaran seperti sekarang, mereka hanya lima anak muda yang hobi bermain musik dan menyalurkannya dengan cara mereka sendiri.
Rian Ekky Pradipta atau akrab disapa Rian, Dwiki Aditya Marsall yang lebih sering dipanggil Kiki, dan Nurul Damar Ramadhan yang lebih dikenal dengan nama Rama pernah membentuk sebuah grup musik kala mereka masih berstatus murid SMP. Sedangkan Wahyu Piadji, sang drummer, justru sejak masih SD gemar bermain drum. ”Awalnya dulu lihat tetangga main drum terus tertarik,” ujarnya. Sebelum memiliki seperangkat drum, Wahyu kecil hanya mengayunayunkan tangannya menepuk udara seolah-olah sedang bermain drum sungguhan.
Waktu berjalan hingga Rian, Kiki, dan Rama memutuskan keluar dari grup musik yang dibentuknya saat SMP. Mereka kemudian mengajak Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata atau Rai yang rumahnya tidak jauh dari kediaman Rian untuk mengisi posisi bassis. Lalu Why yang ternyata adalah teman satu SD dengan Rian direkrut berikutnya untuk mengisi pemain drum. Akhirnya, pada 3 Maret 2003 sebuah grup musik yang saat itu masih bernama Massive terbentuk. ”Mulai dari situ kita serius untuk mengerjakan band ini,” kata Wahyu.
Besar dan berbobot
Nama Massive pada awalnya dipilih karena mengandung arti besar, raksasa, dan berbobot. Seperti harapan mereka terhadap grup musik yang baru dibentuk itu, untuk menjadi besar dan berbobot di kemudian hari. Nama itu juga merupakan pemberian salah satu drummer berbakat Indonesia, Dion Subiakto, saudara laki-laki dari komposer wanita Tya Subiakto. ”Awalnya kita bingung mau kasih nama apa, tapi terus kita ingat sama Mas Dion. Lewat SMS, dibalas kalau Massive gimana, dan kita setuju pakai nama itu,” ujar Rama.
Semenjak menyandang nama tersebut, lima sekawan ini mulai mengikuti berbagai festival musik. ”Sudah lebih dari 50 festival yang kita ikuti,” kata Wahyu. Bukan sekadar jadi peserta saja, Massive hampir selalu mengantongi piala. Seperti saat mengikuti festival musik remaja yang digelar oleh Kementerian Remaja dan Olahraga beberapa tahun lalu. ”Kira-kira antara tahun 2005 sampai 2006. Saat itu yang ikut raja-raja festival semua dengan skill yang tinggi,” kata Rama.
Namun dengan kepercayaan diri, mereka bisa menyabet banyak kemenangan, seperti The Best Vocal, The Best Bass, dan The Best Song dengan lagunya tentang antinarkoba, Jangan Biarkan Makin Menggelap. Penuh pengalaman malang melintang di kancah festival musik, pada tahun 2007 mereka menuai hasilnya.
Dalam ajang A Mild Live Wanted 2007, mereka mendapatkan juara pertama dan berhak merekam satu album penuh berisi lagu-lagu mereka di bawah Musica Studio. Sadar bakal menghadapi masyarakat Indonesia yang lebih luas, mereka kemudian mengubah nama grup musik mereka menjadi lebih membumi. ”Massive kemudian diganti dengan D’Masiv. Makna masih tetap sama, tetapi format lebih Indonesia,” kata Rama.
Keberhasilan mereka bukan tanpa jerih payah. Untuk mengikuti setiap festival atau menyewa studio untuk berlatih mereka harus merelakan uang jajan mereka untuk patungan. Bahkan, mereka sempat mencoba untuk mengamen di atas bus kota.
Beberapa bus jurusan Ciledug-Blok M pernah mereka masuki untuk mencoba mengumpulkan dana. Lintas daerah itu yang mereka pilih karena dekat dengan rumah mereka yang berada di wilayah Ciledug. ”Kita cuma ngamen begitu satu kali dan cuma dua jam saja. Dari situ kita dapat Rp 40 ribu yang terus kita pakai buat latihan,” kata Rama. Kini, perjuangan itu pun berbuah manis. Penghargaan platinum untuk album dan RBT terlaris ada dalam genggaman mereka.
Cinta Ditolak, Lagu Meledak
Kau membuatku berantakan,
kau membuatku tak karuan,
kau membuat ku tak berdaya,
kau menolakku acuhkan diriku..
Deretan kata-kata sederhana itu sengaja dipilih oleh Rian yang juga mengarang lagu berjudul Cinta Ini Membunuhku. Bagi dia, kata sehari-hari jarang digunakan dalam lirik lagu yang kebanyakan justru lebih puitis. Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’, untuk Rian, meninggalkan kesan karena proses pembuatannya yang paling cepat di antara lagu-lagu lain yang dibuatnya. ”Lagu ini dibuat dalam waktu kurang dari lima menit,” ungkapnya.
Namun, lagu dengan proses pembuatan tercepat pada tahun 2006 itu justru meledak dan mengantarkan D’Masiv untuk dikenal banyak orang. Padahal sebelumnya, lagu ini tidak masuk dalam perhitungan mereka untuk menjadi single utama. ”Meledaknya lagu ini benar-benar buat saya nggak percaya.”
Lagu tersebut terinspirasi dari pengalaman Rian selama masih duduk di bangku SMU. Saat itu dia menyukai seorang gadis. Tetapi, setiap usahanya untuk menyatakan cinta selalu ditolak tanpa sebab yang jelas. ”Sampai delapan kali nembak, nggak pernah diterima,” ungkapnya.
Karena itulah lagu tersebut terkesan galau sebagai cerminan seseorang yang terus menerus harus menanggung luka akibat patah hati. Meski ‘Cinta Ini Membunuhku’ merupakan lagu yang berkesan sendu, lagu itu sangat mewakili D’Masiv. Penggarapan lagu itu, menurut Rian, sangat tipikal lagu dari grup musik. Nada gitar, bass, drum, dan vokalnya bisa menjadi harmonis saat memainkan lagu tersebut.
Beberapa lagu dalam album perdana D’Masiv memang lebih banyak berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan, ditambah dengan curahan-curahan hati teman-teman mereka yang digubah dalam bentuk lagu. Pada awal penggarapan album, sesaat setelah mendapatkan kesempatan karena menang dalam kompetisi A Mild Live Wanted 2007, D’Masiv harus mengumpulkan sekitar 30 lagu koleksi mereka. Beberapa lagu merupakan hasil ciptaan mereka sejak lama, namun sejumlah lagu yang lain dibuat ketika tenggat waktu pengerjaan album yang semakin dekat.
Akhirnya, sebanyak 12 lagu masuk dalam album Perubahan itu, sebagian besar merupakan ciptaan Rian. Sebagian yang lain merupakan hasil kolaborasi seperti lagu berjudul Tentang Seseorang yang dibuat Rian bersama Rama atau lagu Cinta Sampai Disini yang mendapat bantuan dari Yayang Arisman, teman musisi Rian. c62
Kejutan di Album Kedua
Meski dibalut kepadatan jadwal manggung mereka, saat ini D’Masiv juga disibukkan dengan penggarapan album kedua mereka. ”Untuk konsep lagu-lagunya masih belum ketahuan mau bagaimana,” kata Rama.
Sekarang ini mereka masih berkutat dalam pengumpulan materi lagu. Tentang aliran musik yang bakal diusung di album yang baru, Rama mengisyaratkan tidak akan terlalu berbeda dengan album pertama mereka. ”Tapi, kita pasti punya sesuatu yang fresh untuk kejutan,” ujar Rama.
Meski banyak menuai kritik seputar lagu mereka yang dianggap mellow dan menye-menye, Rian menganggap hal tersebut harus dikembalikan pada orang-orang yang mendengarkan lagulagu D’Masiv. Walau dianggap mellow, masih banyak dari lagi mereka yang mendapat apresiasi positif. Proyeksi album mereka ke depan, kata Rian, masih ada kemungkinan lagu-lagu mellow yang diunggulkan. ”Itu tentunya hasil perundingan matang di antara kita, dan pastinya lagu itu sudah memiliki konsep yang kuat,” ujarnya. (kim)
Seven Pounds
Keajaiban Angka Tujuh
LEWAT ALUR KILAS BALIK, SANG SUTRADARA MENYIMPAN JAWABAN TEKA-TEKI ITU.
”In seven days, God created the world. In seven seconds, I shattered mine,” ujar Ben Thomas. Dan, angka tujuh mengungkapkan kedigdayaannya untuk Thomas (Will Smith). Sebuah kecelakan yang terjadi sekitar tujuh detik telah merenggut tujuh nyawa termasuk sang istri. Dari kejadian itu, dia kemudian mendedikasikan dirinya untuk membantu tujuh orang dengan segala yang dia punya ––paru-paru, ginjal, sumsum tulang belakang, hati, mata, rumah pantai miliknya, dan terakhir jantungnya.
Semua dia donasikan kepada tujuh orang yang memang benar-benar layak untuk mendapatkan setiap bagian dari dirinya itu. Dia memilih tujuh orang sesuai dengan jumlah korban kecelakaan yang diakibatkan kelalaiannya membuka pesan singkat di ponselnya ketika berkendara bersama sang istri.
Sebelum memutuskan untuk membantu, terlebih dahulu Ben akan mendatangi dan melakukan riset tentang pribadi setiap orang tersebut. Mereka yang layak adalah orangorang yang sedang benarbenar dalam kesulitan.
Demi penebusan dosa pula, Thomas berpurapura menjadi agen audit pemerintah untuk membantu orang lain. Cara itu dia yakini bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Namun, di detik terakhir, dia memutuskan untuk bunuh diri.
Misteri
Ide menghadirkan cerita magis di balik angka tujuh sebenarnya terbilang menarik. Namun, sutradara Gabrielle Muccino yang terkesan ingin bermain- main dengan mengungkap misteri sesungguhnya di akhir cerita justru bak menjadi bumerang.
Dengan memakai alur kilas balik, Muccino berniat untuk membuat penonton terpaksa menanti hingga ujung kisah untuk mengetahui jawaban teka teki tersebut.
Alur kilas balik bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, penonton dibuat bertanya-tanya sehingga terus menimbulkan rasa penasaran dan tetap mengikuti film hingga akhir untuk mendapat jawaban.
Dalam film hasil kerja sama kali kedua antara Gabrielle Muccino dan Will Smith ini, keduanya terbilang berhasil memuaskan penonton dengan menjelaskan semuanya di akhir cerita.
Namun, di sisi lain, bagi para penonton yang terbiasa menikmati film berdinamika cepat bakal merasa bosan karena jalan cerita yang lamban dan petunjuk-petunjuk untuk menjawab adegan pembuka film belum juga muncul.
Alhasil, selama hampir satu setengah jam penonton seperti dipaksa untuk mencerna penyebab kenapa Ben Thomas ingin melakukan bunuh diri dan apa sebenarnya masa lalu dia yang kelam itu.
Pada bagian lain, seperti sebuah puzzle, dari awal hingga tiga per empat film berjalan, penonton masih dibuat bertanya-tanya mengapa Ben rela membantu tujuh orang tersebut. Jalan cerita film ini tetap dibuat misterius.
Seperti ketika menceritakan membantu tujuh orang, detail-detail cara Ben membantu orangorang tersebut tidak ditunjukkan sepenuhnya. Detail hanya diperlihatkan saat dia membantu Ezra Turner (Woody Harrelson), seorang pianis buta yang bekerja pada toko daging; Connie Tepos (Elpidia Carrillo), seorang ibu tunggal yang terus mendapat kekerasan dari pacarnya, dan Emily Possa (Rosario Dawson), perempuan penderita gagal jantung.
Detail paling menonjol sangat tampak ketika Ben Thomas membantu Emily Possa. Rasa cinta tiba-tiba tumbuh di antara mereka berdua yang sebelumnya sama sekali tidak saling mengenal.
Sang sutradara hanya memberikan cuplikancuplikan kecil di beberapa bagian film sehingga agak sulit untuk menyatukannya. Barulah di akhir kisah, penonton dapat memahami teka teki itu.
Akhirnya, pada pukul 07.00 malam pula, Ben luluh dengan cinta Emily. Semua teka-teki dari seluruh film hampir semua terungkap dengan kedatangan adiknya. Seven Pounds pun menjadi kisah mengharukan yang dapat diartikan sebagai tujuh beban berat yang harus ditanggung Ben Thomas. (kim)
Pemain: Will Smith, Woody Harrelson
Sutradara: Gabrielle Muccino
Durasi: 123 menit
Produksi: Columbia Pictures
They Wait
They Wait
Daya Pikat Hantu Asia
Hantu-hantu Asia tampaknya masih punya daya magnet tersendiri. Setidaknya hantu Asia tetap menarik perhatian para sineas Barat untuk mengangkatnya dalam layar lebar. Sebut saja macam pembuatan ulang film The Ring dengan tokoh Sadako, Ju-On yang digubah menjadi The Grudge atau The Eye yang melibatkan Jessica Alba.
Kali ini Ernie Barbarash, seorang sineas Kanada, mengusung film They Wait dengan kisah mencekam bernuansa Asia. Berbeda dengan film hantu ala Asia lainnya yang merupakan adaptasi ulang, cerita dan skenario film kali ini benarbenar hasil buah kerja keras Trevor Markwart.
Film horor ini bercerita tentang sebuah keluarga campuran, Cina-Amerika, yang sudah tiga tahun tinggal di Shanghai. Namun, sebuah kejadian misterius membunuh Raymond, orang yang membesarkan Jason (Terry Chen), sang suami. Mendengar kabar tersebut, Sarah (Jaime King), sang istri yang orang Amerika dan anaknya Sammy (Regan Oey) pun ikut dengan Jason pergi ke Amerika Utara untuk menghadiri pemakaman pria tua tersebut.
Namun, sejak kedatangan mereka itu, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Sammy ternyata mempunyai kemampuan melihat arwah. Sebuah bakat yang diturunkan dari Sarah, ibunya. Kejadian aneh itu terjadi juga karena pada saat kematian Raymond bertepatan dengan berlangsungnya Bulan Hantu Lapar –masa yang oleh masyarakat Cina dipercaya sebagai saat dunia hantu dan manusia menjadi satu. Hantu-hantu dan iblis jahat menjadi bebas berkeliaran. Momen itulah yang membuat jiwa Sammy terancam oleh keberadaan seorang hantu gadis bernama Shen Lu yang penasaran mencari tulang belulangnya.
Dahulu ketika Raymond masih muda, dia menjalankan usaha bersama kawan dan istrinya untuk mengirim kerangka imigran Cina di Amerika kembali ke tanah leluhurnya. Ada sebuah kepercayaan bahwa mereka yang tidak dikuburkan di dekat leluhurnya akan selalu penasaran dan menghantui mereka yang masih hidup. Sesuai tagline film tersebut, ‘Mereka akan selalu menunggu untuk memastikan agar masa lalu tidak pernah dilupakan’.
Seperti layaknya film-film horor, untuk membangun suasana mencekam diperlukan efek suara dan tata rias pendukung yang luar biasa. Dari segi suara, film They Wait sudah mampu membuat jantung penonton berdetak kencang. Mulai dari nyanyian-nyanyian sendu sang hantu hingga suarasuara latar yang mengundang suasana tegang. Kemudian dari segi tata rias, meski tidak terlalu mengekspos hantu yang berlumuran darah, justru kehadiran Shen Lu dengan bekas lukanya membuat kita terperanjat. Sayang, yang justru mengurangi ketegangan film ini adalah beberapa bagian film yang menggunakan efek komputer untuk membuat tokoh iblis pemakan manusia. (kim)
Pemain: Terry Chen, Jaime King
Sutradara: Ernie Barbarash
Durasi: 89 menit
Produksi: Brightlight Pictures
Food File #1 – Jangan Tertipu Nama di Daftar Menu
Hmmmmmmmm…..merasakan lezatnya makanan dari warteg hingga restoran bintang lima pasti memberikan pengalaman tersendiri. Banyak diantara kita mungkin enggan untuk berbagi pengalaman tersebut.
Ok…..kalau begitu saya coba untuk membagi pengalaman saya. Sebelumnya pernahkah anda merasa bahwa makanan yang dihidangkan oleh pelayan tidak sesuai dengan yang tertera di menu. Maksud saya anda sudah merasa terlena dengan kelezatan deretan huruf di daftar menu.
Ya……saya pastikn beberapa diantara kita pasti pernah mengalami hal itu. Tercengang dengan nama menu yang tertera di daftar, berharap dapat mencicipi sajian yang unik dan lezat, namun saat disuguhkan ternyata hanya sebuah hidangan yang anda nikmati sehari-hari.
“Saya pesan batavia salad dong” seru salah seorang teman saya. Wow….”batavia salad” kupikir hidangan yang satu ini harus dicoba. Dalam benak saya, piring yang terhidang akan berisi daun-daun salad, irisan timun, wortel, kubis, dan sayuran lain yang ditaburi saos thousand island atau guacamole (maaf kalau salah tulis).
Tapi siapa sangka, “Batavia salad” yang dimaksud adalah irisan kubis, timun, lontong, tahu, sedikit tauge, lalu disiram dengan saos kacang. Hmmmm tebak jenis makanan apa itu…..????pastinya kita tahu semua.
Pengalaman saya yang lain tentang jebakan nama menu, terjadi beberapa waktu yang lalu. Malam itu saya bertemu dengan kakak saya dan beberapa orang teman saya untuk berdiskusi masalah pekerjaan di Mall Plaza Indonesia.
Waktu berlalu, kakak beranjak karena ada pertemuan lain. Perbincangan masih terus terjadi. Lalu saat semua sepakat untuk mengisi perut, kami pun beranjak dari salah satu cafe di Mall itu. Rencana awal, kami yang pergi berempat itu ingin makan sate. Namun, seorang teman mengusulkan untuk mencoba mie unik di lantai tiga, namanya Mie Item.
Semua sepakat kami pun mendatangi tempat tersebut. Singkat cerita, daftar menu diberikan pada kami. Saya terkejut dengan sebaris nama menu di daftar itu. “Mie Item With Fermented Prawn” tulisan itu berbunyi. Wow….dalam benak saya, bagaimana rasanya udang besar (prawn) yang difermentasi.
Mencoba mencari penjelasan, saya memanggil pelayan dan menanyakan tentang menu itu. “Ini udang dengan bumbu terasi,” kata pelayan itu. Hmmmmm sebagai penggemar terasi penjelasan itu cukup membuat saya bergairah mencoba makanan itu, meski jenis makanan itu tidak sepenuhnya seperti dalam benak saya.
Tidak berapa lama, hidangan tersaji. Mie Item With Fermented Prawn yang terhidang sama sekali berbeda dengan yang saya bayangkan. mie itupun langsung saya cicipi. Hmmmm rasa yang sudah saya kenal menyentuh lidah saya. “Ini rasa terasi,” kata saya. Saya kemudian mencoba mengaduk-aduk mie itu berharap mendapatkan daging udang (prawn). Nihil, yang saya dapatkan hanya dua potong daging ayam. Lalu dimana prawnnya, dalam benak saya.
Setelah saya pikir-pikir, ternyata nama menu yang dimaksud adalah mie item dengan bumbu terasi. Dan terasi itu sendiri terbuat dari udang-udang yang di fermentasi. O la la…….seharusnya mereka tidak menyebut kata Prawn karena kata itu bermaksud udang yang berukuran besar (bukan udang yang biasa dipakai untuk terasi). Silahkan beri komentar atau berbagi pengalaman……
Tips – jangan ragu untuk meminta penjelasan sejelas-jelasnya kepada pelayan tentang nama menu yang asing bagi anda. Semua demi kenyamanan anda menikmati hidangan.
Kota Tua Yang Semakin Usang
Siang itu Hamdani berjalan perlahan sembari menarik gerobak yang berisi barang-barang bekas yang telah ia kumpulkan sedari pagi. Jalan Roa Malaka Utara yang dilaluinya terlihat lengang dan sepi. Angin tidak begitu kencang tetapi tiba-tiba grudukgrudukgruduk, tembok di samping Hamdani runtuh.
Hamdani berhasil berlari menghindar tetapi naas sisi lain dari tembok itu yang justru menimpanya. Hamdani tewas dalam posisi tertelungkup tertimbun bongkahan bata besar. Gerobaknya juga hancur. Barang barang bekas seperti komponen mobil dan buku bekas berserakan. “Tembok runtuh itu sudah yang kelima di tahun ini. Jadi setiap bulan ada satu bangunan yang runtuh,” kata Candrian Attahiyyat, kepala Unit Pelaksana Tugas Kota Tua.
Dari pendataan yang dia lakukan hingga Juni 2008 sudah lima bangunan tua yang runtuh. Dua bangunan diantaranya, masing-masing mengakibatkan satu orang tewas. Melihat kondisi gedung-gedung di Kota Tua, tidak heran lagi jika bangunan itu sewaktu-waktu roboh. “Banyak atap atap gedung tua yang sudah jebol sehingga mempercepat kerusakan,” kata Candrian.
Menurut pengamatannya atap gedung yang rusak membuat air hujan merembes masuk dan membuat komponen-komponen gedung itu cepat busuk dan rawan ambruk. Lihat saja gedung Dasaad di sebelah utara Taman Fatahilah, atap gedung itu sudah tidak ada. Akibatnya lantai tiga di gedung itu ditumbuhi lumut dan jamur. Beberapa bagian juga sudah hancur dan meninggalkan lubang yang menganga. Saat ini dari data Unit Pelaksana Teknis Kota Tua tercatat lebih dari 20 bangunan di Kota Tua rawan rubuh. Meskipun demikian pihak Unit Pelaksana Teknis, tidak akan memasang tanda bahaya agar tidak mengurangi minat pengunjung untuk datang.
Tidak hanya faktor alam yang membuat gedung-gedung tua itu ambruk. Ternyata komponen-komponen bangunan di gedung-gedung tua banyak yang sudah raib diambil orang sehingga gedung itu sudah tidak punya kekuatan lagi dan rawan rubuh. Kuda-kuda atap gedung PT Kertaniaga di jalan Kalibesar Timur yang terbuat dari besi dan kayu, misalnya. Beberapa bagiannya sudah hilang. Di beberapa bagian komponen kuda-kuda yang terbuat dari kayu tampak jelas bekas digergaji. Besi-besi pegangan tangga yang terbuat dari kuningan atau tembaga juga sudah hilang. Bekas-bekas tembok yang dijebol untuk mengambil pegangan tangga itu pun masih ada. Akibat pencurian di gedung PT Kertaniaga itu, beberapa bagian atapnya sudah ambruk. Sementara sisa-sisa bagian kuda-kuda sepertinya tidak dapat bertahan lama dan akan ikut ambruk.
Candrian, berharap ada investor yang datang dan bekerja sama dengan pemilik gedung untuk membenahi gedung-gedung tua itu. “Tapi kalau ada investor baru yang datang harus berkordinasi dengan Dinas Permuseuman dan Kebudayaan,” ujarnya. Hal ini perlu dilakukan agar ada kordinasi dalam upaya konservasi.
Sementara itu, pengelola gedung PT Kertaniaga, Robert Tambunan, mengatakan, pihak agak kesulitan menarik investor karena proses perizinan yang rumit. Selain itu lahan parkir yang kurang tersedia dan jalur akses ke Kota Tua yang susah seperti adanya aturan 3 in 1 juga menyulitkannya. “Seharusnya Kota Tua itu diurus dalam satu atap sehingga semua lebih mudah,” katanya. Dia berharap semua pihak dapat bekerja dalam satu naungan. Di dalam naungan itu terdapat pihak keamanan agar tidak ada pencurian lagi, izin yang satu pintu, dan manajemen pariwisata yang baik. “Kalau bisa dibentuk seperti otorita tersendiri,” ujar Robert.
Meskipun beberapa gedung rawan runtuh, ternyata Kota Tua juga menyimpan potensi. Rohim, penjaga gedung PT Kertaniaga, mengatakan, banyak artis-artis yang menyewa gedung yang dia jaga untuk video klip. “Slank, Ungu, Dhani, Titi DJ semua sudah pernah bikin video disini,” katanya. Biaya sewa gedung itu dia patok seharga Rp 3,5 juta per hari. “Kalau mau nge-dekor tambah Rp 2 juta lagi,” kata Rohim. Sebagai wujud tanggung jawab, para penyewa diwajibkan mengembalikan kondisi gedung seperti semula jika merubah cat atau bentuknya. Selain gedung PT Kertaniaga, gedung tua milik Bank Mandiri juga pernah dijadikan lokasi pembuatan film Ayat-Ayat Cinta. “Yang dipakai cuma tangganya aja,” kata Roni, salah seorang warga di sekitar Kota Tua. Selain itu hingga saat ini gedung-gedung tua di Kota Tua masih sering dimanfaatkan untuk sesi foto pra pernikahan.(c62)
Mencari Surga Melalui FPI
“Untuk dapat kartu anggota FPI itu susah sekali,” kata Wahyu, salah seorang simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Menurutnya untuk menjadi anggota FPI dan mendapatkan kartu anggota prosesnya panjang dan sulit.
Selama dua bulan terakhir ini, Wahyu bergabung dalam FPI hanya sebagai simpatisan. “Saya merasa terpanggil untuk ikut FPI,” ujarnya. Wahyu yang saat ditemui Republika masih menganggur mengatakan tidak mengharapkan apa-apa untuk bergabung dalam FPI. Wahyu hanya merasa tertarik setelah sering mengikuti pengajian yang diadakan oleh Habib Rizieq Shihab, pimpinan FPI, di Masjid Al Islhah. Masjid tersebut terletak tidak jauh dari rumah pimpinan FPI itu di jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat. “Saya ingin mencari surga,” tambahnya.
Pengajian yang diadakan setiap malam Kamis itu membahas banyak hal, mulai dari Fiqh, Tauhid, atau Aqidah. Dalam pengajian itu pertanyaan-pertanyaan sekecil apapun akan di jawab.
Jamal, salah seroang warga yang sudah dua tahun ikut dalam pengajian itu juga merasa semua unek-unek yang dia punya bisa terjawab. “Habib itu kalau menjelaskan bisa rinci sekali, satu kata saja bisa dijelaskan dengan sangat detail,” katanya. Pada setiap malam kamis itu, hampir semua warga di seputaran jalan Petamburan III, berbondong-bondong datang ke masjid Al Islhah untuk mengikuti pengajian. “Tidak benar jika Habib mengajarkan kekerasan dalam pengajian itu, justru Habib menjawab masalah kami, dari hal seperti cara wudhu hingga memandikan jenazah,” katanya.
Dari pengajian inilah, banyak orang terpanggil untuk menjadi anggota FPI. “tapi tidak mudah untuk masuk menjadi anggota FPI,” kata Suhada, salah seorang simpatisan FPI yang sudah bergabung sejak tahun 1998.
Menurutnya untuk menjadi anggota FPI harus melalui beberapa tahapan. Bahkan, katanya, para anggota baru harus melalui sebuah diklat. Selain harus tahu tentang ilmu agama, orang yang ingin bergabung dengan FPI juga harus mempunyai akhlaq atau perilaku yang baik.
“FPI tidak sama dengan yang dulu,” kata Suhada. Dahulu, pada saat awal-awal terbentuknya FPI semua orang boleh menjadi anggota, tanpa ada penyaringan. Bahkan, katanya, orang-orang yang bisa dibilang preman juga bisa masuk dalam FPI.
Tapi sejak tahun 2004, semua berubah. Para petinggi FPI menarik semua kartu anggota yang telah dimilik anggota-anggotanya. Menurutnya kejadian yang terjadi pada tahun itu memicu adanya perubahan. Pada saat itu, anggota FPI yang sedang melakukan sweeping tempat-tempat maksiat pada bulan puasa, dihadang polisi. Mobil yang ditumpangi anggota FPI malam itu ditembaki polisi.
“Sejak saat itu, untuk menjadi anggota harus diketahui bibit, bebet, dan bobotnya, orang tidak boleh sembarang yang masuk FPI,” kata Suhada. Menurutnya orang harus mengikuti pengajian dulu, lalui setelah itu akan ada semacam ujian untuk mereka. Sebuah tim juga diturunkan oleh FPI untuk menyelidiki latar belakang calon anggota tersebut. Jika anggota itu tidak layak maka tidak boleh menjadi anggota FPI. “Ini bukti kami tidak akan menerima orang yang akhlaknya jelek, atau yang menyukai kekerasan,” tambahnya.
Suhada mengatakan kekerasan yang terjadi saat adanya aksi dari FPI itu karena adanya pihak ketiga yang memprovokasi. Selain itu dia mengatakan anggota FPI itu banyak sehingga terkadang tidak bisa diawasi satu persatu saat aksi sedang berlangsung. Temperamen setiap anggota pun berbeda-beda. “Tidak semua buah masak di pohon,” ujarnya beranalogi.
Sementara itu alasan untuk menjadi anggota FPI hampir semua beragam. Yaitu berusaha mencari surga. Hal itu diungkapkan oleh beberapa orang anggota FPI dari Marunda yang ditemui Republika di sekitar kediaman Habib Rizieq Shihab, pada Rabu (04/06) setelah aksi penangkapan anggota FPI oleh Polisi. “Orang lain ada yang mencari surga dengan menyantuni anak yatim, bersedekah, atau beramal soleh, tapi kalau kami memilih mencari surga dengan bergabung dengan FPI,” kata salah seorang pemimpin rombongan itu.
Namun, ada pula alasan lain bagi anak-anak muda untuk masuk dalam organisasi FPI. “Saya masuk FPI karena nge-fans dengan Habib,” ujar Yusuf, salah seorang laskar FPI. Pria yang masih berumur 20an tahun ini sudah tertarik dengan kharisma Habib Rizieq Shihab, pimpinan FPI, sejak masih duduk di bangku sekolah, bahkan saat FPI masih belum terbentuk.
“Dulu waktu masih sekolah saya sering ikut pengajian Habib di masjid di Tambora,” kata Yusuf. Lalu saat FPI terbentuk tahun 1998 dia memutuskan untuk bergabung dalam FPI. Saat itu usianya masih sekitar 17 tahun. Pada waktu itu, untuk bergabung dalam FPI cukup hanya mengisi formulir dan menyerahkan foto. “Tapi semua berubah sejak tahun 2004, semua kartu anggota ditarik, dan kita harus melalui ujian lagi,” tambahnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa dalam organisasi FPI ada yang disebut laskar atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan nyata FPI di lapangan. ” Laskar itu pasukannya FPI,” katanya. Yusuf yang termasuk dalam laskar tersebut mengatakan untuk menjadi laskar harus ada serangkaian tes lagi.
Orang-orang yang ingin menjadi laskar harus menjadi anggota FPI terlebih dahulu. Setelah itu atas rekomendasi dari Dewan Pengurus Cabang di wilayahny masing-masing, mereka mendaftar di markas FPI pusat di jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Selama menjadi laskar, Yusuf yang masuk atas rekomendasi Dewan Pimpinan Cabang Pasar Minggu mengatakan banyak hal menarik yang telah dilaluinya. Dia sempat dikirim ke Aceh dan Jogja saat terjadi bencana gempa. “Hampir sebulan saya di Jogja,” katanya. Selain itu bersama dengan Habib Rizieq Shihab, dia pernah pergi ke Pulau Seribu, Lampung, Medan, dan Riau. “Selama ini kami tidak digaji, bahkan untuk aksi kami patungan, tapi ada hal-hal menarik yang saya dapatkan,” tambahnya.
Namun, selain sisi yang menarik, Yusuf juga sempat mengalami masa-masa yang menegangkan. Pada tahun 2004 saat para anggota FPI sedang melakukan sweeping tempat-tempat maksiat, mobil yang ditumpanginya dikejar-kejar oleh polisi dan ditembaki. “Sudah seperti di film,” katanya. Saat itu mobil kijang bak terbuka yang ditumpanginya bersama 12 orang temannya yang lain melaju di sekitar fly over Grogol saat polisi mulai mengejar. Muntahan peluru polisi berhasil mengenai ban belakang kiri mobil tersebut. Tetapi mobil masih dipacu kencang. Satu peluru lagi membuat ban depan sebelah kanan mobil itu pecah, mobil sedikit oleng tapi masih bisa dipacu hingga mereka lolos di sekitar markas mereka di jalan Petamburan.
Meskipun telah mengalami asam pahit menjadi laskar FPI, Yusuf menolak keras jika FPI dikatakan melakukan kekerasan. “Kami tidak keras tapi tegas,” katanya. Menurutnya FPI sama sekali tidak menyukai kekerasan tetapi karena kemandulan pemerintah, FPI harus bergerak. Dalam setiap gerakannya FPI selalu mengikuti standar. Prosedurnya dimulai dari keluhan warga, lalu FPI datang menghimbau warga tersebut untuk mengikuti jalur hukum dengan mengirimkan surat keberatan beserta tanda tangan seluruh warga. Jika selama tiga kali dalam tiga bulan (Satu surat dalam sebulan) surat peringatan baik dari warga atau dari FPI tidak diindahkan maka FPI akan bertindak. (c62)
Drama Penangkapan Anggota FPI
“Kok kayak perang ya,” kata Anas, salah seorang siswa SD. Anas kebetulan melewati jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat, saat ratusan polisi berperalatan lengkap datang untuk menangkap anggota FPI, Rabu (04/06) pagi. Para anggota FPI itu akan ditangkap terkait kasus kerusuhan Monas, minggu (01/06).
Pagi itu sekitar sekitar pukul 06.00 ratusan polisi mulai berdatangan di jalan Petamburan III. Meskipun sebelumnya polisi telah memblokir jalan K.S Tubun sejak dari perempatan Slipi untuk menjaga lokasi penangkapan agar tidak ada mobil yang bisa masuk.
Di sepanjang ruas jalan (jalan K.S Tubun) menuju jalan Petamburan III, tempat kantor FPI berada, polisi anti huru hara tampak berjaga-jaga. Sebanyak tiga buah mobil tahanan tampak terparkir tidak jauh dari polisi yang berjaga-jaga itu. polisi juga sibuk menghalau warga agar lokasi penangkapan tetap steril. Namun, ratusan warga yang didomiasi oleh ibu-ibu dan anak-anak tumpah ruah ke jalan.
“Suasananya kok perang sih, memangnya ada apa?,” kata Marni, salah seorang warga kepada temannya. Suasana pagi itu memang mencekam. Beberapa truk polisi yang berisi ratusan Brimob terparkir di sepanjang jalan K.S Tubun. Jalan tersebut merupakan jalan utama sedangkan jalan Petamburan III tempat markas FPI, merupakan jalan kecil yang lebih menjorok ke dalam.
Suasana di jalan tersebut justru jauh lebih mencekam. Mulya Astuti sangat resah dengan kondisi tersebut. Dia takut kalau aksi penangkap itu mendapat perlawanan dari FPI dan terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di Monas pada Minggu (01/06). “Saya takutnya kalau rusuh,” katanya.
Hiruk pikuk warga semakin memuncak saat beberapa orang yang bukan anggota FPI ikut ditangkap polisi. Ahmad Badawi, berulangkali berteriak mengatakan dirinya bukan anggota FPI tetapi polisi tetap saja membawanya. “Masya Allah, masa saya dibawa? saya bukan anggota FPI, saya cuma tukang service di SMP An-nur,” ujarnya.
Keributan juga terjadi di Jalan Petamburan III, Rt 03/03, No 40, tempat kediaman Rizky. Polisi tiba-tiba masuk kedalam rumah itu dan membawa paksa Rizky yang baru berumur 16 tahun itu. Ayah Rizky, Luthfi mengaku sangat kaget dengan penangkapan anaknya itu.
“Dia lagi ngobrol sama temannya di kamar, tapi kenapa cuma anak saya saja di tangkap” ujarnya. Menurutnya, jika Rizky ditangkap hanya karena celurit yang terpampang di kamar tidurnya itu, maka aksi polisi tidak tepat. Menurutnya Rizky membeli celurit itu untuk pajangan saja. “Saya minta dia segera dibebaskan, Dia masih kelas 1 SMA di Said Naum,” tambahnya.
Pada pukul 07.30 tiga buah mobil tahanan sudah mulai penuh dengan orang-orang yang ditangkap polisi. Beberapa Anggota FPI yang sudah berada di dalam mobil tahanan saling saut menyahut berteriak Allah Akbar. Sautan anggota FPI dimobil pertama menular ke mobil tahanan yang lainnya. Teriakan semakin kencang.
Tidak berapa lama tiga mobil tahanan yang mengangkut 56 orang hasil tangkapan polisi itu pun diberangkatkan. Menyusul dibelakangnya mobil Nissan Terano yang membawa pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab. Rombongan itu melaju menuju Polda Metro Jaya. Sekitar pukul 08.00, sebagian besar polisi mulai meninggalkan lokasi penangkapan. Setelah itu, sekitar pukul 08.15, jalan raya kembali dibuka sehingga kendaraan sudah mulai melintas kembali di jalan tersebut.
Dua jam setelah aksi penangkapan, suasana di kantor pusat FPI masih ramai. Kantor tersebut terletak tepat di pinggir jalan Petamburan III. Beberapa orang tampak masih berjaga-jaga di depan kantor tersebut. Kantor FPI itu sendiri hanya merupakan bangunan kecil dua lantai dengan luas sekitar 4×10 meter.
Tampaknya kantor tersebut akan melakukan renovasi. Pasalnya di depan kantor tersebut tampak tumpukan karung-karung semen dan gundukan pasir serta beberapa cangkul. Sepertinya kegiatan mengaduk semen sempat terhenti akibat adanya aksi penangkapan tersebut.
Dari dalam kantor tersebut tampak berantakan. Lantai dasar yang tidak ada kamar satu pun melainkan hanya toilet, dapur, dan tempat mencuci tampak berantakan. beranjak ke lantai dua yang terdapat empat buah kamar keadaanya juga tidak jauh berbeda. Di atas pagar-pagar yang mengelilingi tangga tampak baju-baju berserakan. Salah satu kamar di kantor itu pun terlihat menjadi seperti gudang. Barang-barang seperti televisi, kursi, atau lemari ditumpuk di dalam ruangan tersebut.
“Sebenarnya, masalah ini karena ketidaktegasan pemerintah terhadap Ahmadiyah,” kata Jamal, salah seorang warga. Menurutnya, kalau saja pemerintah sejak lama menutup kegiatan Ahmadiyah, aksi di Monas tidak akan terjadi. Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa media selalu tidak berimbang dalam pemberitaan. “FPI selalu disorot yang pas rusuh-rusuhnya saja,” tamabhnya. Hari itu Jamal yang mendapat informasi bahwa akan ada penangkapan pada dini hari, berusaha untuk ikut berjaga-jaga. Namun, karean polisi tidak kunjung datang di pun tertidur. Dia kembali terbangun saat ternyat polisi datang menagkpa pada pukul 06.00 pagi.
Setelah aksi penangkapan, rumah kediaman Habib Rizieq Shihab langsung di jaga oleh beberapa anggota FPI. Hampir semua media tidak mendapatkan akses untuk bisa masuk ke dalam markas sekaligus rumah pimpinan FPI itu. Dari kantor FPI yang berada tepat di pinggir jalan, untuk menuju ke rumah Habib Rizieq Shihab, kita harus masuk melalui jalan sempit yang hanya selebar satu meter.
Saat masuk ke jalan sempit itu, kita tidak akan langsung melihat rumah itu. Kita harus masuk lagi ke sebuah gang kecil yang lebarnya tidak lebih dari 50 centimeter. Sebuah kursi hijau diletakan di depan gang tersebut yang dipergunakan bagi anggota FPI untuk menjaga rumah itu.
Pada siang harinya, sejumlah polisi datang ke rumah sekaligus markas tersebut. Para wartawan kontan berdatangan dan membuat jalan kecil itu sesak. Namun, nihil wartawan tidak diperbolehkan masuk.
Tidak berapa lama, tim bantuan hukum FPI datang ke markas FPI. Jalan kecil itu kembali penuh sesak dengan wartawan. Sugito Admoprawiro, ketua Lembaga Bantuan Hukum FPI, mengatakan, maksud kedatangannya saat itu karena diminta oleh Dewan Pengurus Pusat FPI. “Mereka ingin mengkomunikasikan sesuatu,” katanya.
Tentang adanya korban salah tangkap, Sugito yang baru saja dari Markas Polda DKI Jakarta, membenarkan hal tersebut. ‘Yang salah tangkap itu banyak, tapi untuk angkanya kami tidak bisa memastikan karena tidak bisa menghitung satu-satu,” katanya.
Bagi mereka, lanjut Sugito, pihak bantuan hukum FPI akan bertanggungjawab untuk terus membantu mereka. “Siapapun yang ditangkap hari ini akan kita bantu,” ujarnya. (c62)