Merindu Edinburgh

Posted: February 19, 2012 in Kim's Journey

pojokan cafe The Elephant House

Seolah menjadi sebuah kebiasaan, wanita itu selalu datang ke cafe yang sama dan memilih tempat duduk dengan posisi yang nyaris tidak pernah berubah. Dia selalu memilih meja yang terletak di sudut bagian belakang cafe, tepat disamping jendela besar dengan pemandangan Edinburgh Castle yang megah. Wanita pirang itu selalu tampak menatap istana sekaligus benteng yang telah menjadi saksi sejarah perkembangan kota Edinburgh tersebut.

Malam berganti siang, hari berganti hari, wanita itu selalu datang menghabiskan beberapa jam dari hidupnya untuk duduk di posisi yang sudah menjadi kesukaannya. Pengunjung lain tidak banyak yang memperhatikan sampai kemudian seri-seri awal Harry Potter menjadi best seller di seluruh dunia. Orang-orang kemudian mengenal wanita itu sebagai J.K Rowling, sang pengarang master piece kisah penyihir muda dengan luka di dahinya.

Saat ini, salah satu alasan begitu banyak wisatawan mengunjungi cafe The Elephant House di Jalan George IV Bridge nomor 21, Edinburgh itu adalah untuk mencoba menapak tilas sang pengarang ketika memulai awal-awal goresan kisah para penyihir Hogwarts. Bukti yang paling nyata dari begitu banyaknya penggemar yang mendedikasikan diri untuk datang ke cafe yang dibuka sejak tahun 1995 itu adalah mamento yang mereka tinggalkan di toilet. Tulisan tangan para penggemar yang menyatakan apresiasi dan komentar tentang J.K Rowling dan Harry Potternya tampak menghiasi dinding kuning gading cafe tersebut.

Ungkapan penggemar Harry Potter

Meskipun The Elephant House banyak menarik minat wisatawan untuk datang ke Edinburgh, tapi keindahan ibukota Scotlandia tersebut ternyata tidak berhenti pada cafe itu saja. Begitu banyak landmark lain yang bisa menggambarkan sejarah tua Edinburgh. Arthur seat, jalan Royal Mile, Holyrood Palace (Istana tempat peristirahatan Ratu Inggris jika berkunjung ke kota asal suaminya, Edinburgh), dan masih banyak lagi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Edinburgh adalah kota indah yang tidak cukup satu hari untuk menjelajahi sejarah dan keeleganannya.

Untuk mengunjungi Edinburgh dari London, transportasi yang paling cocok adalah kereta. Perjalanan selama 5 jam itu akan ditemani dengan pemandangan pantai timur dan alam pedesaan Inggris. Jika memesan tiket melalui www.thetrainline.com sejak jauh-jauh hari, tiket perjalanan pulang pergi London – Edinburgh bisa dibeli dengan harga sekitar £60 – £70. Kisaran harga yang tidak sedikit memang. Oleh karena itu, sebaiknya tentukan waktu-waktu yang tepat untuk datang ke Edinburgh. Disarankan untuk datang pada saat festival-festival besar diselenggarakan, seperti Hogmanny yang merupakan pesta tutup tahun di kota itu.

Setelah sampai di Edinburgh, jangan hanya terpesona pada keindahan dan keramahan kota Adam Smith itu. Tapi cobalah jelajahi sisi lain dari Scotlandia, yaitu wisata alamnya yang bakal mampu menguras file kamera. Mengunjungi Highland adalah alternatif terbaik untuk menikmati alam Scotlandia. Setidaknya, jika tidak ada salju di London, maka Highland merupakan tempat yang sesuai untuk merasakan pengalaman bermain es putih itu.

Highland, sesuai dengan namanya merupakan daerah-daerah dataran tinggi yang ada di sekeliling Scotlandia. Salah satunya adalah Fort Williams kota tempat gunung Ben Navis menjulang tinggi. Bagi mereka yang menyukai olahraga musim dingin, maka tempat itu cocok untuk masuk dalam buku referensi wisata alam yang patut dikunjungi. Untuk mencapai For Williams, dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan kereta dari Edinburgh, tiket on the spotnya sekitar £44. Tiket cenderung lebih murah jika dibeli jauh-jauh hari. Tapi, selain dengan kereta, bus sebenarnya jauh lebih disarankan. Karena rute yang diambil justru menawarkan pemandangan alam yang menawan. Tiket dari Glasgow ke Fort Williams bisa dibeli dengan harga sekitar £23 dengan waktu tempuh 3 sampai 4 jam. Tiket bus Edinburgh ke Glasgow hanya sekitar £7 dengan lama perjalanan sekitar 1 jam saja.

Jika sudah sampai di Fort Williams, jangan khawatir tentang penginapan. Sebagai kota yang sepertinya didedikasikan untuk para wisatawan yang hendak pergi ke gunung Ben Navis, ada banyak level penginapan yang dipilih. Level paling murah adalah hostel (hotel untuk para backpacker) dengan harga sekitar £15 sampai £20 per orang. Dalam satu kamar kita bisa berbagi dengan orang lain yang mungkin bisa menjadi teman-teman baru.

hamparan salju puncak Ben Navis

Selesai melepas lelah di hostel, saatnya untuk pergi menuju Ben Navis. Taksi yang banyak tersedia di sekitar pusat perbelanjaan di Fort Williams bisa disewa dengan harga £15 untuk mengantarkan menuju gunung tersebut. Waktu tempuhnya hanya 15 menit saja. Sesampainya di Ben Navis, kita bisa menikmati berbagai macam fasilitas yang disediakan, tentunya dengan harga-harga yang sudah ditetapkan. Mulai dari menyewa sepeda, alat ski, alat snowboarding, les singkat olahraga salju, atau menaiki gondola menuju puncak Ben Navis untuk menikmati hamparan salju yang luas. Tapi sebelum merencanakan untuk pergi ke Ben Navis, sangat disarankan untuk melihat ramalan cuaca. Karena jika angin terlalu kencang, maka gondola tidak akan beroperasi. Selebihnya, jika cuaca mendukung, maka nikmatilah segala daya tarik yang ada.

Cheers

Jakarta adalah kota serba ada. Hampir segala sesuatu yang dibutuhkan bisa didapatkan di ibukota Indonesia itu, mulai dari sesuatu yang legal hingga ilegal. Jika memang serba ada, mengapa harus menggunakan kata ‘hampir’? yak, memang ada yang kurang dari kota tempat bertemua berbagai etnik nusantara tersebut.

Di Jakarta, sepertinya kita kehilangan sesuatu yang berbau alam. Taman kota dapat dihitung jari, fungsinya pun tidak maksimal. Bukan sebagai paru-paru kota tapi sebagai ruang gratis untuk bermesum ria di malam hari. Rencana pemerintah DKI Jakarta untuk mengeruk sungai yang melintas di kawasan Manggarai dan Setiabudi, hanya tinggal buah bibir saja. Kapal-kapal yang tadinya digunakan untuk wisata sungai terpaksa harus diangkat dan dipindahkan karena kedalam sungai sudah tidak memadai lagi untuk perahu. Sungai-sungai menjadi dangkal karena tumpukan sampah yang mengendap di dasarnya. Perlu waktu bertahun-tahun dan kesabaran untuk mengeruk sungai itu dan memperbaiki mental masyarakatnya untuk tidak membuang sampah di sungai. Bahkan, saat kalian membaca tulisan ini, seseorang di sudut kota Jakarta sana sedangkan membuang sekantung plastik sampah keluarga mereka. Silahkan buktikan.

Tidak hanya sungai saja, tetapi Jakarta juga kekurangan ruang terbuka hijau. Tanah menjadi hal yang paling diincar dan diburu di Jakarta. Entah sudah berapa banyak konflik dan sengketa tentang tanah yang terjadi di Jakarta. Orang bisa kaya dengan memiliki tanah. Tetapi, hanya sedikit yang kemudian merelakan sepetak tanahnya untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang menjurus pada pembautan ruang terbuka hijau. Tanah bagi sebagian besar pengeruk untung di Jakarta justru berubah menjadi gedung-gedung megah, yang entah mereka masih memperhatikan perlunya ruang terbuka hijau atau tidak.

Hal yang berbeda dapat dilihat di Uxbridge, sebuah kota kecil di ujung sebelah barat kota London. Memang Jakarta dan Uxbridge tidak bisa dibandingkan secara langsung. Uxbridge sudah menjadi kota sejak berabad-abad yang lalu. Akan tetapi yang perlu di contoh adalah bagaimana pada zaman dahulu pemerintah kota tempat Brunel University itu mendesain kotanya.

Tempat mall dan pusat perbelanjaan di Uxbridge

Hampir seperti kota-kota kecil lain di Inggris, segala hal yang berhubungan dengan bisnis dan perbelanjaan dipusatkan di area-area tertentu. Tidak akan banyak ditemukan mall atau shoping centre yang bertebaran. Semua terpusat di High Street, sebuah jalanan tua yang sengaja di desain untuk tempat berdirinya 2 mall yang cukup besar di Uxbridge, The Chimes dan Pavillions. Selain itu berjejer pula toko-toko yang lain, serta Tesco dan Sainsbury yang bisa disamakan dengan Hypermart atau Carrefour di Indonesia. Hal yang sangat berbeda diterapkan di Jakarta, entah benar atau tidak tetapi sepertinya mall dan pusat perbelanjaan berdiri dan beroperasi sesuka hati. Dimana ada peluang pasar dan lahan maka mall pun berdiri. Akhirnya titik-titik kemacetan pun tidak terkendali, selain itu tingkat konsumerisme semakin tinggi. Kita bisa berbicara panjang tentang Jakarta dan tata kotanya, akan tetapi poin dari tulisan ini sebenarnya lebih mengarah pada konservasi alam yang masih dipertahankan Uxbridge, yang seharusnya di contoh oleh Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah Little Britain Lake, sebuah danau kecil yang sampai saat ini justru masih menjadi habitat dari beberapa jenis burung. Di sekitar danau itu mengalir kanal kecil yang digunakan kapal-kapal kecil untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Beberapa kapal juga tampak tertambat di pinggir kanal, berubah fungsi sebagai tempat tinggal dari sang pemilik.

Little Britain Lake, habitat para burung

Dari sisi keindangan sebenarnya tidak ada yang spesial dari danau ini. Akan tetapi konsistensi pemerintah kota Uxbridge yang mencoba tetap mempertahankan ruang-ruang alam untuk bisa seperti apa adanya dan tidak kemudian di eksploitasi hingga tetes terakhir untuk kepentingan ekonomi. Tidak dipungut biaya apapun untuk menikmati danau dan puluhan jenis burung yang wira-wiri disana. Disekitarnya dapat dilihat lahan-lahan hijau masih dibiarkan apa adanya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang sekali di dapatkan di Jakarta.

Angsa berenang bebas di Little Britain Lake

Kita mungkin bisa berdalih bahwa Jakarta juga punya hal yang serupa jika menyempatkan diri mengunjungi setu. Tapi tunggu dulu, berapa banyak burung yang menjadikan setu itu sebagai habitatnya? seberapa bersih pinggiran setu itu dari sampah-sampah bungkusan snack dan minuman ringan? Seberapa mudah akses untuk menuju ke setu itu? seberapa banyak tumbuhan yang masih hidup disekitaran setu itu? seberapa besar lahan hijau yang mengelilinginya?

Bukan ingin mengajukan pertanyaan yang menyudutkan, akan tetapi kita masih punya peluang untuk punya ruang terbuka hijau yang indah jika kita sebagai masyarakat ikut berpartisaspi untuk menjaganya.

Cheers

pic 1Internet is an evolution made by human. It plays important role to shape the interaction and communication among humans. Nowadays, Internet merges into our daily life activity. The evolution begins from a system which had been built for academic purpose in 1962 and after that internet evolved into a net that connecting every computer in the world. As Leiner et al (2011) state that ‘the Internet is at once a world-wide broadcasting capability, a mechanism for information dissemination, and a medium for collaboration and interaction between individuals and their computers without regard for geographic location’.

Today, human and internet no longer having distance, we always have internet connection in our pocket through our mobile phone. Due to the invention of web, the use of internet is become massive.  We have to distinguish between web and internet. ‘Web is not the same as internet. Think of the internet as the tracks and signalling, the infrastructure on which everything runs. In a railway network, different kinds of traffic run on the infrastructure — high-speed express trains, slow stopping trains, commuter trains, freight trains and (sometimes) specialist maintenance and repair trains. On the internet, web pages are only one of the many kinds of traffic that run on its virtual tracks’ (John Naughton, 2010).

Because of the birth of web 2.0, the latest type of web, social media are now mushrooming. Facebook, my spaces, twitter, you tube on the one hand is fun and entertaining, it also help people to keep in touch one and another. On the other hand, it has negative potential which need which need to be solved. Based on my interview with some friend, I found interesting case related to identity in social media. A friend told me that she had bad experience with social media, her account on Yahoo Messenger, Google Talk, Twitter, and Facebook had been hijack by someone. The hijacker used her account to chat with my friend’s colleges. The hijacker acted in digital world as if he/she was my friend. For my friend, the identity on digital life is important as if it is her real life identity. She afraid that what the hijacker did in her social media could ruin her image among her colleges.


Nowadays, in my perspective, the boundaries between digital life and real life is become blur. This two world is seems to become one world.  Based on the research of Facebook conducted by Zhao et al (2008), it is wrong to treat online world and offline world as separate world. What the people do in online world can give consequence on the actual world.  So according to that, do we need control or regulation towards digital life? Who will do that? What the parameters? Because in my other observation, social media especially facebook can become the source of harmful activity. For example, in Indonesia, there is news about groups of teenagers who fight each other after teasing each other in facebook.

Reference

Naughton, J. (2010) The internet: Everything you ever need to know. Available from: http://www.guardian.co.uk/technology/2010/jun/20/internet-everything-need-to-know (Accessed 28/12/2011)

Leiner, B. et al. (2011) Brief History of the Internet. Available from: http://www.internetsociety.org/internet/internet-51/history-internet/brief-history-internet (Accessed 28/12/2011)

Zhao, S. et al (2008) Identity construction on Facebook: Digital empowerment in anchored relationships. Computers in Human Behavior, 24, pp. 1816–1836.

Pic 1 can be found at http://cfcedge.exbdblogs.com/files/2011/06/internet.jpg

Video can be found at http://www.youtube.com/watch?v=-e98hxHZiTg&feature=related

Pic 1

Since our first group meeting, we were agreed to do research on twitter and it is my first contribution is to describe why twitter is important to be the subject of our research. Based on my research on internet, according to Akshay Java et al (2007), micro-blogging like Twitter is becomes faster mode of communication. ‘By encouraging shorter posts, it lowers users’ requirement of time and thought investment for content generation. This is also one of its main differentiating factors from blogging in general. The second important difference is the frequency of update. On average, a prolific bloger may update her blog once every few days; on the other hand a microblogger may post several updates in a single day’ (Java, A. et al, 2007).

Pic 2

Nowadays, millions of people are using Twitter as new way to share information, communicate, or doing business. In our research, Group 1 tries to focus the research on how celebrity and politician using twitter as responds to some natural disaster which occurred around the world. My second contribution is to give reason why celebrity and politician become our focus. According to Shaomei Wu et al (2011), celebrity uses Twitter to communicate directly to the fans which is become their followers on that micro-blogging website. The link of communication between celebrity and fans are no longer mediated by traditional mass media. The politicians also share the same situation. Through Twitter they can constantly communicate with their constituents and get the feedback directly. Celebrity or politician know that what they are doing can be the headline of newspaper, forming lifestyle or trend, and shaping the regulation of a government.

To conduct our research, we use world cloud as tools to generate the most often used word from our subject’s tweets. My contribution task is to categorize those words. I make table to distinguish the tweets from politician and the tweets from celebrity. From that table, on one hand, we found that politician tend to use supportive and realistic word towards the disaster. On the other hand, celebrity tends to use emotive words which only show their feeling about the disaster. Lastly, my fourth contribution is to search journals or books which can support our findings and arguments. In academic style writing, reference play important role as grounding for our research.

Apart from my contribution, this project group actually give an insight of how we should use the grace of internet to make our work easier. Through Wikispaces every group member can edit the result of our essay and keep it updated according to their specific contribution. Even though we still have to meet every week, but by doing that way (using Wikispaces) we actually reducing our time consumption. However, the challenge is there must be one person who in charge to compile and arrange all the data which being posted on Wikispaces.

Reference

Java, A. et al (2007) ‘Why We Twitter: Understanding Micro-blogging Usage and Communities’, Journal of Computer Mediated Communication, 3( 3).

Wu, S. et al (2011) Who Says What to Whom on Twitter, International World Wide Web Conference 2011, India: International World Wide Web Conference Committee (IW3C2)

Pic 1 can be found at http://www.w3mag.com/wp-content/uploads/2011/06/twitter-art.jpg

Pic 2 can be found at http://www.adrants.com/images/celebtwtiter.jpg

Post 2: Using the Blog

Posted: December 15, 2011 in Web Culture

image 1

As a journalist, writing is part of my job. I was working for Republika, one of Indonesian newspaper, for 4 years. I tackled various issues, start to criminal, politic, economy, until lifestyle. In 2008 my friend introduced me to WordPress blog. He said that a blog with articles in it can be used as portfolio. If someone is interested to some of my article, maybe he/she can over me a job. So come up with that idea, I made my blog, www.rosyidhakiim.wordpress.com.

For the first time, to make my blog looks active, I posted my articles which were published in the newspaper. Surprisingly, I got some feedback for some of my articles. I did not expect a feedback, because in my experiences, if you write on newspaper you do not know what the readers think about your article, but in the blog the readers can directly give their comment. In my blog, the most comment I got is from my health article. The readers sometime asked me more detail about the topic I had wrote or they asked for contact information of medical institution which can help their health problem. That interaction has been encouraging me to keep writing on my blog. ‘Blogging offers a way for individuals to publicly express their own opinions and to affiliate with like-minded individuals’ (Kaye, 2005: 90).

image 2

It has been 3 years for me to maintain my blog and I notice that actually we can post any content we want to our blog. ‘Blog content was equally diverse, ranging from journals of daily activities to serious commentaries on important issues. Blogging is an unusually versatile medium, employed for everything from spontaneous release of emotion to archivable support of group collaboration and community’ (Nardi et al, 2004: 46). So the content of the blog is depends on the users. It can show how the user point of view. As Kaye (2005) argues that the content of the blog is a combination between news, information and self-expression.

From Kaye point of view, I can say that being blogger is almost the same as being journalist. As a blogger we gather information and write it down on our post, so do the journalist. But I said ‘almost’ means that there are differences between those two activities. If one actual event are happened, as a journalist the information you gathered must be based on real fact, while as blogger, it over us freedom to construct our writing. We can be as rigid as journalist in term of journalism code of conduct or we can just write our opinion about the event without worrying whether it based on fact or not. Another issue is as journalist we have newspaper behind us, so when our writing are being published, we don’t have to worry, whether people read it or not, but as a blogger you need to attract people to read your blog post. It’s not an easy task, because in the internet world, people can easily change from one website to another. So as a blogger, it is important to think about the content of the blog post and the design of the web blog.
Reference

Kaye, B. (2005) It’s a Blog, Blog, Blog World: Users and Uses of Weblogs. Atlantic Journal of Communication, 13 (2), pp 73-95.

Nardi, B. et al (2004) Why we blog. Communication of the ACM, 47 (12).

Image 1 was retrieved from http://jasonrenshaw.typepad.com/.a/6a00d83452d45869e2015438246251970c-800wi

Image 2 was retrieved from in http://itc.blogs.com/photos/uncategorized/blogging_by_eddie.jpg

For some technology’s experts, web 2.0 is actually web 1.0. The web 2.0 is re-using the key concept of web 1.0.  The inventor of the Web itself, Tim Berners-Lee, as cited from Paul Anderson (2007) state that:

‘[…] Web 1.0 was all about connecting people. It was an interactive space, and I think Web 2.0 is of course a piece of jargon, nobody even knows what it means. If Web 2.0 for you is blogs and wikis, then that is people to people. But that was what the Web was supposed to be all along. And in fact, you know, this ‘Web 2.0′, it means using the standards which have been produced by all these people working on Web 1.0’. 

If I pull the extract from Berners-Lee argument, the nature of the Web which we are using now is interactive space that everyone can take a part in it. Web 2.0 allows the user to edit or add the content of the web. Rather than one way of communication, the Web 2.0 is open the opportunity to have two way of communication or on the other word is the interaction.

The capability of Web 2.0 to build the interaction between people to people or people and the Web is changing the face of communication world. People have another alternative to communicate with one and another through the Web. We are no longer depending on real life meeting or real life talk. Furthermore, the Web 2.0 gave birth to the social network sites, such as Youtube, Twitter, Facebook, and many more. These kinds of websites are connecting people around the world and allow them to spread and share information.

In my perspective, the social network site is not only connecting people, but now it is tends to shape the journalism world. That particular websites allow people to post or share almost everything they want, from the food they want to eat for dinner to photograph of car accident. The information is spread out in the count of second. Realize to the power of social network site, some media companies try to harness it, so they can have the update of certain information or news faster. Mark Deuze (2007) state that the consumer nowadays is getting more involved into the process of making media content including in journalism industry. He calls that consumer as co-creator.

The clear examples of how the media using co-creator through social network site are when The Guardian (online version) published minutes to minutes update of student tuition fees protest, 9 November 2011. To cover that news, reporters gather the information through twitter, email and youtube. The journalists are no longer relying on actual interviews. The content of what people posted in social network sites may become the tip of big news. That is way, nowadays many reporter cannot ignore what the trending topic in social network site.

References

Anderson, P. (2007) What is Web 2.0? Ideas, technologies and implication for education. JISC Technology and Standards Watch.

Deuze, M. (2007) Media Work. Cambridge: Polity.

The news of student tuition fees protest can be seen at http://www.guardian.co.uk/education/blog/2011/nov/09/student-tuition-fees-protests-live-blog#history-link-box

Video 1 retrieved from http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=4vLrsEtyfk0

Video 2 retrieved from http://www.youtube.com/watch?v=copw-W-IfvY

London Day 78

Posted: December 1, 2011 in Kim's Journey

1 Desember 2011, Sisi Lain Kota London yang Megah

Hari semakin sore di Oxford Street, London. Suasana semakin ramai di sekitaran Selfridges, salah satu mall papan atas di kota metropolitan itu. Orang lalu lalang dengan menenteng tas belanjaan bertuliskan merk-merk terkenal sudah lumrah di temui di daerah ini.

Oxfrod street menjadi semacam Malioboronya kota London. Baik wisatawan maupun orang lokal pasti menyempatkan diri untuk berbelanja di kawasan elit tersebut. Tidak hanya Selfridges saja yang bisa ditemui di jalan itu, tetapi beberapa toko-toko yang menjual merek-merek terkenal berjejer di sepanjang jalan. Seperti Adidas, Massimo Dutti, H&M, Disney, dan yang lainnya.

Tapi ditengah hiruk pikuk gemerlapnya pusat perbelanjaan London, tampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya berjalan tertatih dengan bantuan tongkat besinya. Semakin lama, sosok wanita tua itu terlihat jelas. Dia menggunakan jaket kulit imitasi dengan baju dan rok yang sudah lusuh. Kepalanya ditutup kudung yang masih menyisakan bagian depan rambutnya. Tanganya menengadah sambil mulutnya komat kamit mengatakan sederet kata yang tidak jelas pada beberapa pengunjung Coffee Shop yang identik dengan logonya yang dominan warna hijau.

Tidak harus berpikir keras untuk mengetahui bahwa sedang berusaha meminta sepeser uang kepada para pengunjung yang sedang meneguk kopi seharga 3 Pounds itu. Beginilah setidaknya sosok pengemis di kota yang katanya masuk dalam kategori termahal di dunia.

Selain dalam wujud wanita tua, kadang ada yang beroperasi dengan menggunakan keranjang belanja yang justru digunakan untuk menaruh barang-barang dan anak mereka. Permintaan mereka banyak. Tidak hanya meminta uang untuk makan, alasan lain yang diberikan adalah untuk membeli tiket pulang.

“Ticket…..ticket…,” ujar wanita tua itu saat ditanyakan asalnya. Saat diminta menyebutkan nama, jawaban yang sama meluncur dari mulutnya keriput. Sambil disusul dengan rentetan kata yang jelas bukan bahasa Inggris. Pengemis tua itu, akhirnya duduk diam di sekitaran stasiun tube (kereta bawah tanah), sambil terus menengadahkan tangan. Tampak di genggamannya, recehan-recehan yang sudah dikumpulkannya sejak tadi.

Agus Tantang, seorang supervisor sebuah perusahaan catering di London, menyebut mereka ini sebagai kaum gipsy. Mereka adalah kelompok nomaden yang dahulu sebenarnya ingin mencari perlindungan di Inggris karena menjadi korban perang di negaranya. “Si Gipsy ini rata-rata refugee (pengungsi),” kata pria yang sudah 20 tahun tinggal di Inggris tersebut, Senin (26/11).

Mereka sebenarnya sudah disediakan tempat tinggal oleh pemerintah Inggris. Namun, kemungkinan karena kesulitan untuk mencari uang, akhirnya pilihannya adalah menjadi pengemis. Lalu lama kelamaan justru mengemis sudah menjadi pekerjaan tetap mereka.

Selain Gipsy menurut Agus, pengemis di London sebenarnya terdiri dari berbagai macam jenis. Tapi setidaknya bisa dimasukkan dalam dua kategori besar. Yaitu pengemis pendatang seperti kaum Gipsy itu dan pengemis lokal. Pengemis pendatang cenderung memaksa dan terus menempel targetnya hingga akhirnya memberikan sepeser uang. Bahasa Inggris yang digunakan terbata-bata, cukup kata-kata yang langsung merujuk pada permintaan untuk diberi uang.

 

Sedangkan pengemis lokal cukup sopan dalam meminta. “Pengemis lokal mereka cukup sopan dengan hanya bilang ‘spare change please!’ atau hanya duduk di salah satu sudut jalan dengan kertas besar bertuliskan ‘Homeless – I am hungry’, “ jelas Agus.  Jumlah pengemis lokal ini jauh lebih sedikit dari mereka yang pendatang.

Pengemis lokal ini memiliki banyak tujuan dalam melakukan aksinya. Selain ada yang benar-benar membutuhkan uang untuk makan. Ada pula yang menggunakan uang hasil meminta-minta itu untuk mabuk. Seperti yang diungkapkan oleh Robby Salamun, salah seorang mahasiswa Indonesia di London.

Sering pada malam hari, ada pria atau wanita lokal meminta-minta kepada mahasiswa yang kebetulan sedang keluar dari asrama untuk membeli beberapa kebutuhan di toko terdekat. Ada banyak alasan yang dilontarkan agar uang bisa didapatkan. Mulai dari untuk membeli tiket pulang hingga untuk menelepon keluarga karena sedang dia terlibat sebuah masalah.

“Tapi paling untuk mabuk, orang rumahnya Cuma daerah sini,” kata Robby sambil menunjuk ke daerah yang dia maksud. Dia menyarankan untuk tidak memberikan sepeser pun pada peminta-minta model seperti ini.

Pengemis memang menjadi masalah social yang harus dikendalikan. Di Indonesia mungkin menjadi sangat lumrah melihat ada pengemis di perempatan lampu merah atau di kawasan pusat perbelanjaan. Tetapi siapa sangka, ternyata London juga memiliki masalah yang sama. Kondisi dan situasi yang kurang menguntungkan memang bisa mendorong seseorang untuk melakukan apa saja, termasuk menjadi peminta-minta.

London Day 75

Posted: November 29, 2011 in Kim's Journey

28 November 2011, tulisan ini juga bisa ditengok di http://ppilondon.wordpress.com/events/piala-atdikbud-2011/meski-kekurangan-pemain-tim-london-berhasil-boyong-piala-atdikbud-2011/

 

Meski Kekurangan Pemain, Tim London Berhasil Boyong Piala Atdikbud 2011

LEEDS – Saat-saat pertandingan Final Piala Atdikbud 2011, Sabtu (26/11), di The Edge Spots Centre Leeds sudah hampir dimulai. Tetapi personel Tim London belum juga lengkap. Hanya ada 5 pemain saja yang sudah berada di lokasi kompetisi dan siap untuk betanding.

“Mereka adalah saya, Boy, Verdo, Miral, dan Ricky,” ujar salah seorang pemain, Fikri. Seharusnya, setiap tim beranggotakan 10 orang, sehingga dapat saling bergantian bermain saat pertandingan berlangsung. Namun, karena kendala transportasi, 5 orang pemain yang lain masih berada di London dan berusaha untuk secepat mungkin menuju Leeds.

Akan tetapi, pertandingan tidak bisa menunggu lagi. Tim London harus berlaga pada pertandingan kedua atau harus menghadapai konsekuensi diskualifikasi jika menolak bertanding karena alasan kekurangan pemain. Untuk mengatasi situasi sulit itu, akhirnya Tim London bersedia untuk tetap bertanding dengan merekrut pemain tambahan, Aurel. Formasi pun lengkap, tapi mereka harus bermain hanya dengan satu pemain pengganti, yang tentunya akan sangat menguras tenaga.

Lawan pertama yang harus dihadapi Tim London adalah tim tuan rumah, Leeds. “Di babak pertama pertandingan berjalan cepat dan tidak terkontrol walaupun penguasaan bola ada di pihak Tim London,” kata Fikri. Saat babak kedua berlangsung, tidak banyak perubahan yang terjadi. Masing-masing tim masih bertahan tanpa gol, hingga akhirnya pluit akhir ditiup. Pemenang pertandingan ini harus ditentukan dengan adu penalti. Hasilnya Tim London berhasil memasukkan 3 gol dari 5 kali kesempatan menembak dan Tim Leeds hanya mampu menjaringkan 2 gol dari 4 kesempatan. Tim London menang dengan point 3-2.

Beranjak ke pertandingan selanjutnya, kali ini Tim London melawan Tim Manchester-2. Kali ini pertandingan berlangsung alot, dengan lebih banyak tackle daripada pertandingan sebelumnya. Akan tetapi, usaha kedua tim tidak ada yang membuahkan hasil hingga menit terakhir pertandingan. Lagi-lagi pemenang harus ditentukan dengan adu penalti. Beruntung, Tim London berhasil menekuk Tim Manchester-2 dengan score 4-3.

Di pertandingan ketiga, situasinya menjadi lebih sulit. Stamina Tim London mulai terkuras karena kekurangan pemain dan mereka harus menghadapi Tim Manchester-1 yang merupakan pemenang Piala Atdikbud tahun 2009. Selain itu, lapangan yang digunakan pada pertandingan final ini berbeda dengan lapangan pada saat penyisihan di Birmingham. Kali ini lapangan yang digunakan bukan lapangan rumput namun seperti lapangan basket dengan lantai kayu. Hal ini tentunya membuat kondisi lapangan lebih licin dan bola sulit dikontrol.

Pertandingan pun dimulai. Kedua tim sama-sama tidak mau memberikan kemenangan untuk lawannya. Perebutan bola yang sengit di sisi tengah lapangan tidak bisa terelakkan. Beberapa kali Tim Manchester-1 menembak dari sudut-sudut sempit, tapi usaha mereka selalu digagalkan oleh pemain Tim London. Hingga menit-menit terakhir babak pertama, kedua tim masih belum berhasil mendapatkan angka. Hingga akhirnya, Miral mendapatkan kesempatan dari sisi luar kotak penalti dan sekuat tenaga menendang bola yang berada di kakinya. Bola itupun melesat menembus ruang kosong di sisi kanan penjaga gawang dan gol pun tercipta. Score sementara 1-0 untuk Tim London.

Pada babak kedua, Tim Manchester-1 yang sudah ketinggalan satu angka justru semakin menaikkan tempo pertandingan. Serangan demi serangan mereka bangun, hingga tanpa disangka bola bersarang di Tim London. Namun, wasit menganulir gol tersebut karena bola ditendang langsung dari posisi out tanpa menyentuh pemain terlebih dahulu. Kedudukan masih 1-0 untuk Tim London.

Menjelang akhir babak kedua, eja yang berhasil mendapatkan bola dari perebutan sengit dengan pemain dari Tim Manchester, meneruskan bola yang didapatkannya itu kepada Miral. Lagi-lagi tendangan Miral kali ini membuahkan hasil. Bola itu melesat diantara dua pemain dan masuk ke gawang lawan. Tim London akhirnya meraih kemenangan dengan score 2-0. Pertandingan inilah yang mengantar Tim London untuk mendapatkan Piala Atdikbud 2011.

Piala Atdikbud sendiri merupakan kegiatan kompetisi olahraga tahunan yang diselenggarakan oleh PPI UK dengan dukungan dari pihak KBRI. Kompetisi ini diikuti oleh masyarakat dan pelajar Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Inggris. Sampai saat ini, Piala Atdikbud adalah salah satu kompetisi yang bergengsi diantara masyarakat dan pelajar Indonesia di Inggris. (rosyid nurul hakiim)

London Day 74

Posted: November 28, 2011 in Kim's Journey

27 November 2011

Diskusi Perdana PPI London, Hadirkan Profesor di Bidang Kritik Media dan Budaya

LONDON – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London menghadirkan Profesor Mark Hobart dari School of Oriental and African Studies (SOAS) untuk berdiskusi dengan pelajar Indonesia di London. Tema diskusi yang digelar pada Jumat (25/11) malam itu adalah tentang riset sang profesor terhadap Indonesia dari sudut pandang media dan budaya.

Puluhan pelajar Indonesia yang sebagian besar sedang mengambil program master itu tampak serius mendengarkan pemaparan dari pria yang sempat lama tinggal di Bali tersebut. Profesor Mark Hobart pada mulanya adalah seorang antropolog. Pada sekitar tahun 1970an dia datang ke Bali untuk meneliti tentang budaya dan filosofi masyarakat Pulau Dewata itu dari kacamata antropologi. Namun, selama masa penelitiannya, dia justru menemukan bahwa media yang bernama televisi telah mengambil hati hampir seluruh masyarakat Bali yang ditemuinya. Bahkan mungkin sudah membius masyarakat Indonesia pada umumnya.

Televisi menjadi bagian penting dari masyarakat. “Bahkan mereka lebih memperhatikan televisi daripada REPELITA (tahapan rancangan pembangunan yang digagas oleh Presiden Soeharto),” ujar Profesor Hobart dalam pemaparannya. Kotak ajaib bernama televisi itu telah mengubah wajah Indonesia, termasuk wajah dunia.

Berawal dari temuan itulah, akhirnya Profesor Mark Hobart justru tertarik untuk menganalisa dan memahami kondisi yang saat itu terjadi. Sebuah kondisi dimana televisi menjadi bagian integral dari masyarakat. Berangkat dari ketertarikan itulah, profesor yang kemudian menikahi wanita Bali ini mencoba bidang baru yaitu dibidang studi media dan budaya. Penelitiannya tentang media dan masyarakat dimulai sejak tahun 1990 hingga saat ini. Jam terbangnya yang sudah sangat tinggi itulah yang kemudian membuatnya menjadi ahli di bidang Critical Media dan Cultural Studies.

Selain, pengetahuannya yang luas, kedatangannya dalam acara diskusi yang digelar oleh PPI London itu justru memberikan prespektif baru terhadap media di Indonesia dan masyarakat yang mengkonsumsinya. Karena, Profesor Hobart mampu memberikan perbandingan dengan apa yang terjadi di Inggris dalam kajian tersebut.

Seolah mengerti tentang pemahamannya yang luas, para peserta pun tidak menyia-nyiakan kesempatan mengajukan pertanyaan. Sebagian besar pertanyaan yang muncul adalah bagaimana media-media di Indonesia itu, terutama berita-berita yang disajikan, menangkap realita yang terjadi. Apakah media benar-benar mengungkapkan kebenaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Hobart kembali pada kajian yang selama ini dia lakukan. Yaitu mencoba menjawab atau mengisi celah besar yang ada diantara produsen berita atau konten media dengan masyarakat yang mengkonsumsinya. Sebenarnya, masyarakat sebagai pihak yang mengkonsumsi media tentunya tidak benar-benar mengetahui apa yang diberitakan. Seperti misalnya tentang kejadian Perang Teluk. Masyarakat Indonesia tentu melihat apa yang terjadi di perang itu melalui konten berita yang ditontonnya. Tapi apakah apa yang benar-benar terjadi di lokasi Perang Teluk itu seperti yang digambarkan ? hal itulah yang masih menjadi pertanyaan.

Menurut Profesor Hobart, berita yang ada di media akan sulit untuk mencoba menggambarkan relaitas yang ada. Karena banyak intervensi yang terjadi sebelum berita itu benar-benar disuguhkan pada penontonnya. “Berita itu seolah dimediasi oleh para elit-elit yang berada pada posisi produser,” ungkapnya. Pengaruh inilah yang kemudian mempolarisasi konten-konten media. Oleh karena itu, untuk mencoba mendapatkan kenyataan yang sebenarnya terjadi, penonton harus mempu mengkomparasi konten-konten berita dari berbagai macam media. (rosyid nurul hakiim)

London Day 71

Posted: November 24, 2011 in Kim's Journey

24 November 2011, berikut tulisan saya yang juga bisa dibaca di http://ppilondon.wordpress.com/about-london/

Secuil Tentang London

London merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Inggris. Dahulu, ibukota Inggris ini merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Romawi yang disebut Londinium. Pada awalnya kota London hanya mencakup pinggiran Sungai Thames saja. Lalu setelah kedatangan bangsa Romawi pada abad I, kota itu semakin berkembang. Hingga saat ini menjadi salah satu kota terpadat di Eropa.

Pendudukan London datang dari berbagai suku dan bangsa. Tidak hanya mereka yang berkulit putih saja yang bisa tinggal dan mendapatkan kewarganegaraan Inggris di kota itu. Masyarakat Pakistan, Bangladesh, India, Carribia, China, Taiwan, dan banyak bangsa yang lain juga sudah menetap dan tinggal sangat lama di London. Sebagian besar dari mereka bisa dikatakan sudah menjadi warga negara Inggris.

Sebagai titik temu persilangan berbagai axis budaya di dunia ini, London menjadi kota yang sangat terbuka. Masyarakat kota tersebut cenderung lebih menerima perbedaan. Selain itu, percampuran budaya di London juga dikarenakan kota itu merupakan salah satu tujuan wisata di dunia. Sehingga celah datangnya masyarakat dari bangsa lain, yang tentu saja membawa budaya mereka sendiri-sendiri, semakin terbuka lebar.

Dari gambaran umum itu, sebenarnya tidak sulit untuk hidup di London. Bagi mereka yang beragama Islam, menemukan makanan halal bisa dikatakan mudah. Di beberapa daerah, terutama yang padat dengan penduduk imigran muslim, banyak ditemukan toko-toko daging halal. Bahkan, mereka yang merindukan cita rasa masakan Indonesia atau Melayu, banyak sekali tersebar restoran-restoran yang menyediakan berbagai macam menu khas Indonesia atau Melayu.

Bagi mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di London. Hal yang perlu dipahami adalah London ini terbagai menjadi beberapa zona yang penentuannya didasarkan pada sistem transportasi dan pola pembayarannya. Karena terbagai-bagi dari zona-zona tertentu itulah, istilah Greater London muncul. Sebuah kota yang lingkupnya sangat luas.

Pemerintah membagi London menjadi 9 zona. Jika diasosiasikan dengan Jakarta, Zona 1 adalah kawasan Monas dan sekitarnya. ZOna 1 ini merupakan Central London, atau zona pusat dari kota London. Karena posisinya itulah, maka harga-harga di daerah ini cenderung lebih mahal. Terutama dari sisi akomodasinya. Dalam beberapa kasus, makanan di daerah ini juga cenderung lebih mahal.

Dimulai dari zona 1 lalu zona-zona itu melebar hingga ke zona 9. Semakin tinggi zona-nya, maka akan harga-harga cenderung lebih murah. Seperti contohnya jika di Indonesia, harga-harga di Depok akan cenderung lebih murah daripada di pusat kota Jakarta. Namun, konsekuensi dari semakin besarnya angka zona itu, adalah biaya transportasi. Semakin jauh lokasinya, tentu akan semakin banyak biaya transportasi yang dikeluarkan. Biasanya untuk mengakali kondisi ini, banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di zona 1, memilih untuk tinggal di zona 3 atau 4. Karena, jaraknya tidak terlalu jauh, dan harga-harga di zona 3 atau 4 masih cukup terjangkau.

Jika sudah memahami kondisi ini, maka akan sangat mudah untuk menentukan akomodasi mana yang dipilih dan bagaimana pola transportasi yang akan diambil.