Ketika sedang mencari-cari bahan untuk membuat proposal disertasi, diantara deretan informasi yang muncul ketika tempe diketik di mesin pencari google, muncul judul artikel ‘tempe bukan berasal dari Indonesia’ (seingat saya judulnya seperti ini). Kemudian pernah juga, teman dari seorang teman berkata bahwa tempe sebenarnya bukan berasal dari Indonesia.
Dua hal tersebut membuat saya bertanya-tanya sendiri, apa benar tempe bukan dari Indonesia. Kalau benar, kenapa kita tersinggung ketika ada negara lain yang mengaku bahwa tempe dari negaranya?
Demi mencari jawaban yang menurut akal sehat saya benar, saya kemudian berselancar ria menjelajah dunia internet dan berusaha membuka diskusi dengan beberapa orang tentang tempe ini. Dari pencarian itu, saya menemukan buku lawas berjudul History of Tempeh yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi (ini link bukuny : History of Tempeh). Saya juga bertemu dengan salah seorang pemerhati tempe yang ternyata adalah orang Inggris (seharusnya, orang Indonesia yang jadi ahli tempe ya hehehehe intermezzo).
Dari dua sumber tersebut itulah (plus sumber-sumber lain tentunya) saya kemudian yakin bahwa tempe adalah benar-benar makanan asli Indonesia. Jika ada yang mengatakan bahwa tempe berasal dari China atau Jepang, saya bisa mengatakan itu kurang tepat.
Kenapa?
Alasan pertama, sangat wajar jika kemudian orang mengasosiasikan tempe dengan China atau Jepang. Tradisi dua negara itu dalam mengolah kedelai bisa dikatakan jauh lebih lama dari Indonesia. Bahkan variasi pengolahan dan fermentasi tempe mereka sangat beragam. Seperti misalnya tahu, miso, natto, soy sauce dan banyak yang lain. Dari sejarahnya (mohon saya dikoreksi jika salah) saya bisa katakan, kedua negara inilah yang mengenalkan kedelai kepada masyarakat Indonesia berabad-abad yang lalu, ketika perdagangan internasional terjadi di masa-masa kerjaan. Saat itu banyak pedagang China atau bahkan Jepang yang datang ke wilayah Indonesia dan berdagang. Kedelai mungkin menjadi salah satu barang dagangan yang diperjualbelikan. Oleh karena itulah dalam buku History of Tempeh itu disebutkan bahwa ada masa kacang kedelai itu disebut Kacang Jepun (karena berasal dari Jepang).
Ketika bangsa China berdagang di Indonesia, tidak hanya kedelai saja yang diperdagangkan. Akan tetapi pada saat itu terjadi ‘transfer’ pengetahuan tentang teknik pengolahan kacang kedelai, termasuk teknik fermentasi kedelai. Pengetahuan tersebut kemudian diadaptasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan cara masyarakat Jawa, hingga akhirnya mereka menemukan tempe dengan mengambil ragi dari daun waru. Jadi menurut saya China atau Jepang merupakan negara yang mengenalkan teknik fermentasi kedelai, sedangkan produk tempe sendiri adalah asli Indonesia.
Alasan kedua, untuk menjelaskan alasan saya yang ini, tentunya mereka yang mengerti bioteknologi pangan dan para peneliti yang sebenarnya bisa memberikan penjelasan lebih detail. Namun, dari perspektif saya, tempe menjadi makanan asli Indonesia karena ragi atau jamur rizhopus yang mengikat rebusan kedelai hingga kemudian menjadi satu bagian utuh yang disebut tempe itu hanya bisa tumbuh di Indonesia. Rizhopus Oligosporus, nama lengkap fungi itu, hanya bisa aktif dan membentuk tempe pada suhu ideal 30 atau 31 derajat celcius. Suhu tersebut merupakan suhu tipikal Indonesia. Tempe bisa terbentuk secara alami di Indonesia tanpa harus menggunakan alat khusus. Rebusan kedelai yang sudah dibalur dengan fungi tersebut, dibiarkan saja dalam beberapa hari maka akan terbentuk tempe. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar saya bahwa tempe adalah makanan asli Indonesia, karena jika dikatakan tempe berasal dari China atau Jepang, dua negara tersebut bukan beriklim tropis yang tentunya sulit untuk bisa mendapatkan suhu ideal pembuatan tempe.
Dari pengalaman rekan pemerhati tempe dari Inggris yang saya temui, dia harus membuat alat inkubasi khusus yang memungkikan suhu tetap pada sekitar 30 sampai 31 derajat celcius untuk membuat tempe di Inggris. Perlu usaha lebih untuk membuat tempe di luar Indonesia. Meski memang faktanya sejak Belanda masih menjajah Indonesia, sudah muncul pabrik tempe disana, yang bahkan kemudian menginspirasi negara-negara Eropa yang lain untuk memproduksi tempe. Sampai saat ini masyarakat Indonesia di Inggris kebanyakan membeli tempe yang diimpor dari Belanda itu.
Nah, sampai saat ini dua alasan inilah yang menjadi dasar saya untuk mengatakan bahwa tempe adalah makanan ASLI Indonesia. Pendapat saya ini bisa benar bisa juga salah, tetapi paling tidak jika ada yang mengatakan tempe bukan dari Indonesia, dua hal inilah yang akan saya utarakan.
Jika menurut teman-teman pendapat saya salah, monggo kerso silahkan diluruskan. Terima kasih
Salam Tempe….












